
Di sela kesibukannya tak lupa Rayyan mengecek rekaman Cctv di butik Anna yang terhubung ke ponselnya. Rayyan ingin tau apa saja yang di lakukan istrinya itu di butik.
Dan lagi dari tadi Rayyan selalu memikirkan anak dan istrinya itu, dia sangat merindukannya. Andai saja keberangkatannya tadi tidak mendadak, mungkin dia akan memboyong serta anak dan istrinya sekalian menikmati bulan madu mereka di sana.
Rayyan tersenyum melihat Anna yang sedang fokus dengan pekerjaannya. Wajahnya terlihat begitu serius, memainkan jari jemarinya di keyboard laptop yang ada di depannya. Lama Rayyan menatap wajah itu, dengan senyuman yang masih terukir di wajahnya. Kemudian Rayyan mengarahkan kamera Cctv ke bagian depan, terlihat begitu ramai pengunjung yang datang kesana. Butik Anna memang tak pernah sepi pembeli. Para karyawan pun tampak sibuk melayani mereka dengan sangat ramah.
Tak lama kemudian Rayyan melihat dua orang yang tak asing baginya memasuki butik itu. Rayyan sangat terkejut, apalagi terlihat seorang karyawan mengantarkan dua orang itu keruangan Anna.
"Dio, siapkan pesawat kita pulang sekarang...!"
Rayyan memang selalu bepergian keluar daerah dengan menggunakan pesawat jet pribadi miliknya.
"Tapi pak, sebentar lagi kita akan kembali meeting dengan Mr. X..."
"Tunda...! jadwalkan ulang pertemuannya..."
"Oke pak..."
Rayyan keluar dari ruangan meeting dengan terburu-buru. Dia harus segera sampai secepatnya. Rayyan takkan rela jika sampai papa dan adiknya menyakiti istrinya lagi.
Tak kurang dari tiga jam Rayyan akhirnya sampai di butik Anna. Dia langsung bergegas menuju ruangan Anna. Terlihat Anna sedang berbicara dengan asistennya.
Tanpa menghiraukan Siska, Rayyan langsung memeluk Anna dari belakang. Dia sangat lega melihat istrinya tampak baik-baik aja.
"Mas...." Anna terkejut melihat perlakuan suaminya itu. Dan lagi dia merasa malu karna ada Siska di sana. Tampak Siska menundukkan wajahnya.
Rayyan semakin mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajahnya di ceruk leher Anna.
"Ma'af bu, aku ke gudang dulu buat ngecek persediaan kita..." ujar Siska. Dia mencari alasan agar tak menganggu ibu bosnya.
__ADS_1
"Mas, kamu kenapa sih..? kan aku jadi malu sama Siska..."
"Ngapain papa dan Elsa datang kesini? apa dia menyakitimu..?" Rayyan menatap wajah Anna lekat.
'Dari mana mas Rayyan tau jika papanya dan Elsa datang kesini?'
"Apa dia mengancammu..?"
"Nggak kok..."
"Lalu apa yang mereka lakukan di sini..?" Rayyan sudah tak sabar ingin tau apa yang terjadi. Jika sampai papa dan Elsa menyakiti istrinya, dia tidak akan segan-segan membuat perhitungan dengan keluarganya itu.
"Mereka datang meminta ma'af...."
"Minta ma'af...?" Rayyan mengerutkan keningnya. Dia tidak yakin papanya yang arogan itu mau meminta ma'af pada Anna.
"Mereka sepertinya juga tau jika kita sudah menikah lagi. Aku nggak tau mas apa aku bisa mema'afkan mereka atau tidak. Namun aku bisa melihat jika papamu benar-benar tulus meminta ma'af padaku dan menyesali perbuatannya selama ini. Apalagi Elsa, dia sampai bersujud di kakiku.." Anna mengingat kembali kejadian tadi.
Rayyan berjalan menghampiri Anna. "Aku tidak bisa memaksamu untuk mema'afkan mereka dan menerima mereka sebagai bagian dari keluargamu. Pasti itu takkan mudah bagimu..."
"Lalu bagaimana dengan Rayna mas...?" Anna membalikkan badannya menatap Rayyan lekat. Air mata tampak jatuh di sudut pipinya. "Rayna langsung menyukai papamu dan memanggilnya grandpa. Rayna bahkan memeluk papamu erat, seakan-akan mereka sudah sangat dekat. Padahal mereka baru pertama kali bertemu. Selain kasih sayang seorang ayah, Rayna juga pasti membutuhkan kasih sayang seorang kakek. Dan dia sudah menemukan itu. Tapi aku takut mas, aku takut mereka akan mengambil Rayna dariku..." Anna terisak.
Seketika Rayyan langsung memeluk Anna erat. Dia mengerti perasaan Anna saat ini.
"Itu nggak akan terjadi sayang, kamu nggak usah takut ya...." Rayyan mengelus punggung Anna berusaha menenangkannya.
Berada dalam pelukan Rayyan membuat Anna sedikit lebih tenang.
"Ya udah sekarang kita pulang ya, aku sangat lelah..."
__ADS_1
Anna mengangguk.
Rayyan kemudian langsung membawa Anna pulang. Sepanjang perjalanan hanya diam tanpa suara, namun Rayyan tak pernah lepas menggenggam tangan Anna.
Sesampainya di rumah mereka langsung disambut hangat oleh Rayna.
"Mommy..., daddy..." Rayna berlari ke arah mereka. Senyum kebahagiaan terpancar dari wajahnya.
"Sayang..." Rayyan langsung menggendong Rayna dan berputar-putar.
Rayna tampak tertawa kegirangan.
Anna ikut bahagia melihat pemandangan yang ada di depan matanya itu. Memang seperti inilah yang dia inginkannya dari dulu.
Kemudian mata Anna tertuju pada setumpuk kardus besar yang memenuhi sudut ruangan itu. Dia merasa tidak membeli barang apapun.
"Itu apa Fit...?" tanya Anna pada Fitri.
"Oohh itu sih kiriman dari grandpanya Rayna bu. Dia mengirimkan banyak hadiah..." jawab Fitri.
"Daddy, buluan buka paket dari glenpa. Nana udah nggak sabal pengen liat isinya..."
"Iya sayang..., kita buka sama-sama ya..." Rayyan menurunkan Rayna dari gendongannya.
'Papa mas Rayyan mengirimkan banyak hadiah untuk Rayna. Sepertinya dia memang sangat menyayangi cucunya'
'Terima kasih pa sudah menerima Anna dan juga Rayna. Aku bangga pada papa' Rayyan tersenyum.
***
__ADS_1