
Flash back beberapa jam yang lalu.
Rayyan sedang memeriksa laporan keuangan di bagian audit. Rayyan memang di tempatkan di bagian itu oleh pak Fahri sebagai staf. Saat ini pak Fahri hanya mengikuti kemauan Rayyan, yang terpenting baginya putranya itu sudah mau bergabung dengan perusahaannya. Semua rencana sudah di tersusun dengan apik olehnya, hanya tinggal menjalankannya satu persatu.
Dret...drett... ponsel Rayyan tiba-tiba berdering. Dan di sana tertulis pak Fahri yang memanggilnya. Dan Rayyan pun segera mengangkatnya.
"Iya pak..." jawab Rayyan. Di kantor dia memang memanggil pak Fahri dengan panggilan pak agar tak ada yang mencurigainya. Terlebih sebagian besar karyawan di sana merupakan karyawan RH group. Walaupun perusahaan RH group sudah berganti nama dan kepemilikan, namun karyawannya masih tetap kerja di sana.
"Ray, satu jam lagi papa ada pertemuan penting dengan klien. Tapi tiba-tiba aja papa nggak enak badan. Jadi tolong kamu wakilin papa ke sana ya... uhuk.. uhuk..." pak Fahri terdengar batuk-batuk di ujung sana.
Rayyan melirik kiri kanan, ternyata rekan-rekannya pada sibuk bekerja. "Kenapa bukan pak Angga aja pak..?" tanya Rayyan dengan suara pelan. Angga adalah orang kepercayaan pak Fahri di perusahaan itu, dan nggak mungkin juga seorang staf sepertinya mewakili Ceo menemui klien penting.
"Angga sudah papa tugaskan keluar kota. Jadi hanya kamu yang papa percayakan menemui klien itu. Nanti papa kirimkan alamatnya. Jangan sampai terlambat...!" pak Fahri kemudian memutuskan sambungan telponnya.
Rayyan akhirnya langsung berangkat ke alamat yang di kirimkan pak Fahri yaitu restoran V. Rayyan akan menemui Mr. Alex yang datang dari Singapura. Dengan menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit, Rayyan pun sampai di restoran V. Ketika memasuki restoran, Rayyan tidak sengaja bertemu Hazel.
"Rayyan...?" Hazel tampak senang. "Kamu kok bisa ada di sini...?" tanyanya.
"Aku ada urusan di sini.." jawab Rayyan singkat.
"Pasti mau ketemu klien..."
"Iya..."
"Sama dong... Jangan-jangan tujuan kita juga sama.."
Bukannya menjawab, Rayyan pun langsung pergi. "Aku duluan.."
'Iiihhh Rayyan cuek banget sih?'
__ADS_1
Hazel kemudian mengikuti Rayyan dari belakang, dia yakin mereka punya tujuan yang sama. Dan ternyata dugaannya benar, Rayyan juga menemui Mr. Alex, orang yang akan di temuinya juga.
"Hallo Mr. Alex saya Rayyan.." Rayyan bersalaman dengan Mr. Alex. "Ma'af membuat anda menunggu lama..."
"Tidak apa-apa. Saya pun baru sampai.." ucap Mr. Alex dengan senyumnya. "Silahkan duduk.."
"Terima kasih..." Rayyan pun langsung duduk.
"Hai Mr. Alex..." sapa Hazel dan kemudian langsung duduk di samping Rayyan.
"Kalian sangat kompak. Bener-bener pasangan serasi..." ucap Mr. Alex dengan senyumnya.
"Ma'af Mr. Alex, kami bukan pasangan..." sahut Rayyan dengan wajah dinginnya. Mungkin papanya yang sudah mengarang cerita kepada Mr. Alex. Dan Rayyan juga tau ini semua sudah di rencanakan oleh papanya.
"Tapi akan menjadi pasangan..." ucap Mr. Alex lagi.
Rayyan pun tak membahasnya lagi. Dia langsung memulai pembahasan tentang kerja sama yang akan mereka jalin. Rayyan menerangkannya dengan sangat jelas dan terperinci sehingga membuat Mr. Alex manggut-manggut tanda setuju. Hingga akhirnya dia pun menyetujui kerja sama itu.
"Terima kasih Mr. Alex..." ucap Rayyan dan juga Hazel.
Setelah itu Mr. Alex pun langsung meninggalkan tempat itu.
"Ray..." panggil Hazel ketika Rayyan ingin beranjak pergi.
"Ada apa...?"
"Bisa anterin aku nggak..? soalnya aku nggak bawa mobil tadi..." Hazel berbohong, padahal jelas-jelas dia bawa mobil sendiri.
"Ma'af Zel, aku sedang buru-buru..." tolak Rayyan.
__ADS_1
"Rayyan please..." Wajah Hazel tampak memohon.
"Ya udah.." Rayyan pun terpaksa menyetujuinya, lagian kantor Hazel juga tidak terlalu jauh dari perusahaannya.
"Makasih Ray..." ucap Hazel senang.
Di dalam perjalanan hanya hening tanpa suara. Rayyan hanya bicara sekali-sekali itupun hanya menjawab pertanyaan Hazel terutama masalah pekerjaan.
"Oh ya Ray, aku lupa. Hari ini aku ada janji buat ambil gaun di butiknya kak Intan. Mampir bentar ya, nggak lama kok..." lagi-lagi Hazel memohon.
"Oke..." sebenarnya Rayyan sangat kesal, tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa.
Sesampainya di depan butiknya Intan, Rayyan menghentikan pun mobilnya.
"Kamu nggak turun..?" tanya Hazel.
"Aku tunggu di mobil aja..."
"Oke..." Sebenarnya Hazel agak kecewa, karna dia akan meminta Rayyan untuk memilih gaun yang cocok dengannya.
Sambil menunggu, Rayyan pun berencana ingin menelpon Anna. Namun dia tidak sengaja melihat sebuah gaun berwarna hitam yang sangat indah terpajang di depan butik itu. Dan Rayyan pun sangat tertarik untuk membelinya untuk Anna.
'Anna pasti sangat cantik mengenakan gaun itu'
Rayyan pun langsung turun dari mobil dan memasuki butik itu. Dia akan memberi kejutan untuk Anna.
Flash back off.
"Mas, aku pikir kamu begitu sibuk di kantor. Tapi ternyata aku salah, kamu bahkan mempunyai banyak waktu untuk menemani Hazel belanja.." gumam Anna dalam hati.
__ADS_1
Dan yang paling menyedihkan lagi, Anna berpikir jika gaun yang dipilihkan Rayyan adalah untuk Hazel. Sampai akhir Anna tetap bersembunyi bersama Icha, dengan air mata yang tertahankan.