
Pagi-pagi sekali Anna terbangun, dan dia tidak melihat Rayyan di ranjang itu. Hanya ada Rayna yang masih memeluknya erat.
'Ternyata mas Rayyan udah pergi..'
Entah kenapa Anna merasa sangat kecewa. Harusnya Rayyan membangunkannya jika memang dia ada urusan penting. Apa mungkin Rayyan marah, karna malam pertama mereka tidak seperti rencananya.
Perlahan Anna memindahkan kaki dan tangan Rayna dari tubuhnya. Kemudian dia turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi. Setelah membersihkan dirinya, Anna lalu turun ke bawah.
"Ehh non Anna juga udah bangun ternyata..." ujar bik Nur dengan senyumnya. Wanita paruh baya itu tampak sibuk menyiapkan sarapan di dapur.
Anna hanya menyunggingkan senyumnya, kemudian berjalan menghampiri bik Nur.
"Ummp.. bik, apa tadi bibik ngeliat mas Rayyan pergi..?" tanya Anna.
"Iya non... Palingan sekitar setengah jam yang lalu, saat bibik baru mulai masak. Emangnya non Anna nggak tau..?"
Anna tersenyum singkat, "Nggak bik, mungkin tadi aku masih tidur..."
"Ooo gitu..., Mungkin pak Rayyan nggak enak ngebangunin non. Tadi juga bibik liat dia buru-buru gitu. Terus bibik juga denger mas Dio bilangnya langsung ke bandara. Kan tadi mas Dio yang jemput kesini..."
"Bandara...?" Anna mengerutkan keningnya.
"Iya non..."
'Kok mas Rayyan nggak bilang-bilang sih kalau mau pergi jauh..? sepertinya dia lupa kalau sekarang aku istrinya. Lalu untuk apa dia menikahiku semalam..?' Anna kesal.
__ADS_1
"Ya udah bik, aku mau bangunin Rayna dulu..." Anna lalu naik ke lantai atas kembali ke kamarnya.
Anna meraih ponselnya, kemudian menekan nomor Rayyan di sana, dia harus tau kemana laki-laki itu pergi dan kenapa tidak memberitahunya. Apa Rayyan sengaja mempermainkan perasaannya, dan menyakiti hatinya kembali seperti dulu.
Berulang kali Anna menghubunginya, namun sama sekali tak terhubung.
"Huuhh,, dasar laki-laki jahat..!" Anna menaruh kembali ponselnya dengan kasar.
"Mommih..., daddy mana...?" tanya Rayna yang tiba-tiba bangun.
"Eehh anak cantik mommy udah bangun ternyata.." Anna lalu duduk di samping Rayna dan mengelus rambut putrinya itu lembut. "Daddynya udah berangkat kerja sayang.."
"Udah pelgi yah mih..?" Rayna terlihat kecewa.
"Oke mom...." Rayna kemudian turun dari tempat tidur dan menuju kamarnya untuk bersiap-siap. Fitri juga sudah menunggunya di sana.
Setelah mengantarkan Rayna kesekolahnya, Anna langsung menuju ke butiknya. Sepanjang perjalanan dia terlihat gelisah dan selalu kepikiran Rayyan. Tak bisa di pungkiri Anna sangat merindukan Rayyan. Rindu sentuhannya seperti yang mereka lakukan semalam.
Sesampainya di butik, Anna langsung di sambut Siska dengan banyaknya laporan. Pesanan dari costumer membludak dan harus segera di proses secepatnya. Semua baju rancangan Anna benar-benar laris manis dan memiliki banyak peminat. Terutama di kalangan anak muda. Dia harus memproduksi lebih banyak lagi, dan mencari ide sebanyaknya untuk model lainnya.
Anna mengusap wajahnya dengan kasar, sungguh saat ini dia belum siap bekerja. Dan lagi badannya terasa sakit-sakit semua karna kegiatan mereka semalam.
Ting... satu notifikasi pesan masuk ke ponselnya. Dan Anna langsung buru-buru membuka pesan itu.
"Ma'af ya sayang, tadi aku pergi tanpa memberitahumu. Tiba-tiba aku harus berangkat ke Bali karna ada pekerjaan penting yang harus segera di selesaikan. Kamu tenang aja, setelah pekerjaan ini selesai aku aku akan segera pulang. Jadi, persiapkan tubuhmu untuk nanti malam, karna aku takkan bisa menahannya lagi.."
__ADS_1
Dug... jantung Anna berdegup kencang, seketika pipinya memerah seperti kepiting rebus. "Mas Rayyan apaan sih..., dasar otak mesum...!" Anna tersenyum malu-malu.
Tok...tok... terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Masuk..." sahut Anna.
Seketika pintu terbuka, dan terlihat Siska muncul dari balik pintu itu.
"Ma'af bu, diluar ada yang ingin bertemu dengan ibu..."
"Siapa...?" Anna tak merasa membuat janji dengan klien hari ini.
"Saya juga nggak tau bu. Mereka ada dua orang Yang satu bapak-bapak, dan terlihat sangat berkelas, dan juga seorang wanita cantik yang seumuran ibu..."
'Siapa sih..?' Anna memutar otaknya.
"Oke, suruh mereka masuk aja..." Anna penasaran.
Tak lama kemudian terlihat dua orang yang di maksud Siska masuk keruangannya. Anna sangat terkejut, seketika tubuhnya bergetar hebat. Ada perlu apa laki-laki itu datang menemuinya secara langsung. Bertahun-tahun Anna tak pernah berbicara dengan orang itu walau dia sangat membencinya. Sedangkan wanita muda yang ada di samping laki-laki itu, Anna sama sekali tak gentar melihatnya.
"Ada perlu apa kalian datang kemari..?" tanya Anna dengan penuh kebencian. Tangannya dia lipatkan ke dada dan berdiri dengan angkuhnya.
"ANNA...., menantuku..."
***
__ADS_1