
Sudah satu jam lebih Rayyan berada di butik itu tanpa berniat untuk pergi. Dari tadi dia sibuk dengan ponselnya. Dan itu membuat Anna kesal dan tak bisa fokus dengan pekerjaannya. Bagaimana tidak, daritadi dia terus mendengar notifikasi pesan masuk ke ponsel Rayyan, sedangkan jari tangan Rayyan juga tampak sibuk membalas pesan itu.
'Mas Rayyan lagi chattan ama siapa sih? sibuk banget dari tadi'
Anna menghela nafasnya kasar, dia merasakan hawa diruangan itu terasa panas walaupun ACnya sudah di stel dengan suhu terendah sekalipun. Bukan hanya ruangan itu yang terasa panas, tapi juga hatinya. Anna merasa dikhianati, padahal baru saja Rayyan mengutarakan perasaannya seakan tak bisa hidup tanpanya.
"Kok gerah banget ya disini? jangan-jangan ACnya rusak lagi. Benar-benar nggak berfungsi sama sekali..." ujar Anna sambil mengipasi dirinya dengan kedua tangannya.
Seketika Rayyan menghentikan aktifitasnya, dan dia tidak merasakan apa yang dikatakan Anna. Dan lagi semua barang yang dibelinya tentu saja dengan kualitas terbaik dan nggak mungkin rusak.
"Nggak gerah kok sayang, adem banget malahan.." jawab Rayyan tanpa berdosa.
'Dasar nggak peka sama sekali' teriak Anna dalam hati.
"Oh ya..? pantasan dari tadi betah amat disini. Sibuk berbalas chattan, udah kayak ABG yang lagi puber aja.." sindir Anna sambil membuang mukanya.
Rayyan tersenyum senang, karna berhasil membuat Anna cemburu walau secara tidak sengaja. Sebenarnya chat itu berasal dari grup rekan sesama bisnisnya. Di grup itu mereka tidak hanya membahas masalah bisnis, tapi juga membahas tentang wanita. Apalagi grup itu hanya beranggotakan pebisnis muda yang rata-rata masih lajang. Dan selama ini Rayyan termasuk orang yang paling tidak aktif di dalamnya. Namun entah kenapa tiba-tiba saja dia tertarik dengan pembahasan rekan-rekannya itu sehingga rekan-rekannya menjadi heboh dan bersemangat.
Rayyan kemudian berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Anna.
"Jadi ceritanya ada yang terbakar cemburu ni..?" ujarnya sambil memeluk Anna dari belakang.
"Apaan sih, siapa juga yang cemburu.." Anna memberengut kesal.
__ADS_1
"Aku senang jika kamu benar-benar cemburu. Itu berarti kamu sayang sama aku..." Rayyan menenggelamkan wajahnya di tengkuk leher Anna sehingga Anna bisa merasakan hangat nafasnya menyentuh kulitnya.
"Kepedean banget sih. Udah temuin sana..."
"Nemuin siapa sayang..?"
"Itu yang tadi chattan sama kamu..."
Lagi-lagi Rayyan tersenyum, kemudian muncul ide buat ngerjain Anna.
"Ooo... Kalau itu sih ntar malam aja. Sekarang mau nemenin kamu kerja dulu..."
Seketika Anna membalikkan badannya dan menatap Rayyan dengan tatapan marah.
"Heiii.., kamu kan nggak nanya sayang siapa yang akan aku temui..?" Rayyan menangkup kedua pipi Anna. "Mereka itu rekan bisnisku, dan semuanya laki-laki..."
"Bohong..."
"Beneran sayang..."
"Ya udah kalau gitu aku juga mau ikut kamu nanti malam.."
'Kok jadi gini sih..? aku nggak mau para laki-laki hidung belang itu bertemu Anna, bisa-bisa mereka akan menyukainya. Apalagi disana ada Haikal. Sampai sekarang aja Haikal masih penasaran dengan wanita yang ditemuinya di Bali waktu itu'
__ADS_1
"Lain kali aja ya sayang. Aku janji nanti setelah kita nikah lagi aku akan memperkenalkan kamu dengan semua teman-temanku.."
"Ya udah deh, terserah kamu aja..."
"Kamu masih lama nggak kerjanya..? soalnya aku udah laper banget nih..."
"Jadi kamu belum sarapan ya...?"
Rayyan menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum. Tadi dia belum sempat makan apa-apa karna harus buru-buru kekantor. Dan setelah itu dia juga langsung kebutik.
"Ya udah kalau gitu kita makan dulu. Tapi aku pengen makan di restoran kamu ya..."
"Siap ratuku.. Sekalian nanti untuk karyawan kamu..."
"Makasih mas..."
Setelah itu mereka pun Anna langsung meninggalkan butik dan menuju restorannya Rayyan.
**
Sorry ya upnya cma dikit, soalny author lgi sakit..
"
__ADS_1