
Di tempat yang sama ternyata Alfahri juga sedang makan siang bersama rekan bisnisnya. Ada asistennya juga. Walau pak Fahri tidak mengenal Anna, tapi asistennya sudah mengenal wajah Anna dengan jelas. Bahkan dia yang mencari tahu semua tentang Anna tentu saja atas perintah pak Fahri. Ketika melihat Anna datang bersama laki-laki lain, dia pun memanfaatkan momen itu untuk di sampaikannya kepada bosnya.
Kini Fahri sedang dalam perjalanan menuju ke kantornya bersama asistennya.
"Tuan.., tadi saya melihat nona Anna bersama teman laki-lakinya di restoran itu.." ujar asistennya yang bernama Roy.
"Oh ya..? kenapa tidak memberitahu saya tadi..?"
"Tadi saya tidak enak menganggu tuan. Tapi saya sempat mengambil foto..." Roy memperlihatkan foto Anna dan Jerry pada Fahri.
Fahri menyeringai. "Bagus... Kamu memang sangat bisa di andalkan Roy. Cari tau terus tentang gadis itu.." titah Fahri.
"Baik tuan..."
Sesampainya di kantor, Fahri langsung menghubungi Rayyan untuk datang ke kantornya. Rencananya untuk memisahkan Rayyan dan Anna sepertinya berjalan dengan sangat lancar. Dan dia yakin tinggal menunggu hari Anna pasti akan meninggalkan putranya itu. Terlebih ada rencana besar yang telah di rencanakannya saat pesta pertunangan Elsa nanti.
Tak menunggu lama Rayyan pun sampai di kantornya.
"Duduk Ray..." Fahri mengajak Rayyan duduk di sofa ruangannya.
"Gimana hasil pertemuan dengan Mr. Alex kemaren, apa dia setuju bekerja sama dengan kita..?" tanya Fahri memulai percakapan kemudian duduk di depan Rayyan.
"Iya, dia setuju..." jawab Rayyan singkat. Kemudian Rayyan menunjukkan berkas kerjasama mereka ke pak Fahri.
__ADS_1
Fahri tersenyum senang. "Kerja bagus Ray. Papa juga sudah yakin, Mr. Alex pasti tidak akan ragu-ragu bekerjasama dengan kita. Itu semua karna kamu dan Hazel..."
Rayyan tersenyum singkat. Dugaannya ternyata benar waktu itu Fahri hanya pura-pura sakit agar dia bisa bertemu Hazel dan menjalin kerjasama dengannya.
"Untuk selanjutnya papa juga ingin kamu dan Hazel selalu bisa bekerjasama. Papa sama om Ferdi sudah tua, saatnya kalian yang muda-muda menggantikan kami.."
Lagi-lagi Rayyan menaggapinya dengan senyum singkat. "Apa ada yang lain pak...? soalnya saya akan kembali ke kantor. Rayyan malas jika harus membahas tentang Hazel.
"Oh iya, gimana hubungan kamu dengan putrinya Rama..?"
Rayyan langsung menatap Fahri heran. Tidak biasanya laki-laki itu bertanya tentang dirinya dan Anna.
"Tadi papa tidak sengaja bertemu dengannya di restoran. Papa liat dia datang bersama seorang laki-laki. Mereka terlihat sangat dekat. Papa pikir sebelumnya kamu sudah menikah dengannya karna kalian tinggal serumah. Tapi papa salah..." Fahri menyunggingkan senyumnya. Dia pura-pura tidak tau jika sebenarnya Rayyan sudah menikah dengan Anna.
Tanpa menjawab Rayyan langsung berdiri dari duduknya. "Aku pergi dulu.."
Namun baru beberapa langkah, Rayyan tiba-tiba menghentikan langkahnya dan berbalik badan. "Kenapa mama nggak bisa di hubungi..?" tanyanya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Mamamu nggak bisa di hubungi...?" Fahri mengerutkan keningnya. "Masa sih..? papa juga udah lama nggak ngubungi mama kamu.." Fahri langsung meraih ponselnya dan menekan nomor mama Ratih di sana.
"Iya benar. Nomor mamamu nggak bisa di hubungi. Apa perlu papa menghubungi nomor lain..?" tanya Fahri.
"Nggak perlu..."
__ADS_1
Rayyan kemudian langsung meninggalkan tempat itu. Dia sudah tak sabar ingin bertemu Anna dan membawanya pulang ke apartement. Rayyan juga ingin tau siapa laki-laki yang dekat dengan istrinya itu. Hal pertama yang dia lakukan adalah menghubungi Ica, karna nomor Anna sama sekali nggak bisa dihubungi dari kemaren.
"Hallo mas..." sahut Ica di ujung sana.
"Lagi dimana Ca..? apa Anna bersamamu..?" tanya Rayyan.
"Aku lagi di kampus mas.. Kalau Anna..." Ica menghentikan ucapannya, dia bingung harus menjawab apa.
"Anna mana..?" Rayyan tak sabaran.
"Anna di butik Intan..." akhirnya Ica terpaksa berkata jujur.
'Butik Intan? itukan butik yang aku datangi bersama Hazel kemaren. Anna ngapain di sana?'
"Oke Ca, makasih ya.." Rayyan menutup sambungan telponnya kemudian melajukan mobilnya menuju butik Intan.
Sementara Anna kini sedang berada di depan rumahnya yang lama. Tadi dia meminta Jerry untuk mengantarkannya kesana. Entah kenapa Anna tiba-tiba sangat merindukan rumahnya yang sudah hampir lima bulan ini dia tinggalkan.
Anna berdiri mematung di depan pagar yang sudah di beri gembok sambil matanya menatap lurus rumah itu. Rumah megah dengan gaya Eropa itu terlihat tak berpenghuni. Seketika air mata Anna langsung menetes di sudut pipinya. Begitu banyak kenangan yang tersimpan di sana. Terutama tentang masa kecilnya bersama mamanya. Anna tak rela jika rumah itu jatuh ke tangan orang lain.
"Ma, pa.., Anna ingin pulang ke rumah kita. Anna ingin kembali seperti dulu lagi.." Anna terisak.
Sementara Jerry juga ikutan sedih. Dia tidak tau harus berbuat apa.
__ADS_1