Love On The Air

Love On The Air
Eps 21 Menanti Jawaban


__ADS_3

Sesaat Danisha tertegun membaca pesan dari Saka, sedetik kemudian ia pun tersenyum memperlihatkan lesung pipinya yang dalam.


Kamu memang selalu ada untukku kapanpun Ka.. gumam Danisha.


Lalu jari jemari nya mulai mengetik pesan balasan untuk Saka.


Me


" Thank you for all, Ka.. Aku tau, kamu selalu bersamaku πŸ€— "


Kemudian Danisha beralih membuka pesan dari Mas Rendra dan membalasnya.


Me


" Hai, Mas.. makasih untuk perhatiannya. Insya Allah aku pasti baik-baik saja. Besok aku ijin ga siaran dulu ya.. aku ga mau menentang Boss, takut gajiku ga dikasih ☺️✌️"


Danisha tersenyum lebar setelah mengirim balasan pesan ke Mas Rendra. Lalu ia meletakkan ponselnya sembarang di ranjang. Ia mencoba memejamkan matanya, mengistirahatkan tubuh dan pikirannya. Hingga perlahan ia terlelap juga.


Sementara itu, Saka dan Prasta masih di cafe menikmati sajian kopi dan snack serta live music.


Pukul 21.25 saat ini, ponsel Saka yang ia letakkan di atas meja berbunyi tanda ada pesan masuk. Saka yang sedang asyik menikmati sajian live music segera membuka pesan yang masuk yang ternyata dari Danisha, gadis berlesung pipi yang telah bertahta di hatinya. Ia senyum-senyum sumringah membaca pesan dari gadis kesayangannya. Lalu ia mulai mengetik pesan balasan untuk gadis itu.


Me


" No need to thank you, sweet girl. Everything for you as long as it makes you happy πŸ€—πŸ’ž "


Prasta memperhatikan sikap sahabatnya yang terlihat lebih bersemangat dan bahagia.


" Danisha ? " tanya Prasta sedikit berteriak karena adanya live music.


" Iyaa.. " jawab Saka singkat dengan senyum yang begitu sumringah.


Prasta terkekeh, lalu ia meraih gelas kopinya dan menyeruputnya perlahan.


" Gimana Renata ? " tanya Saka sambil menyeruput kopinya.


" Dia lagi ada acara sama keluarganya. Belum balas pesanku lagi. Mungkin acaranya masih belum selesai, " jawab Prasta.


Saka manggut-manggut mendengar jawaban Prasta.


" Setengah jam lagi kita cabut ya.. " ujar Saka kemudian.


" Ok bro..! " sahut Prasta dengan mengacungkan jempolnya.


******


Keesokan paginya di rumah Saka. Bu Dinda sudah sibuk di dapur sejak jam 6 pagi, membuatkan salad buah untuk Danisha.


Saka baru saja selesai jogging di halaman rumah nya. Ia langsung menuju ke dapur untuk mengambil air minum.


" Pagi Ma.. " sapa Saka pada Bu Dinda yang sibuk memotong-motong buah.


Saka meneguk air minumnya hingga tandas.


" Mau aku bantuin apa Ma ? " tanya Saka setelah meletakkan gelas di atas meja dapur.


" Ga ada, ini udah kelar tinggal dicampur saus nya dan masukin kulkas, beres dah, " jawab Bu Dinda tersenyum sumringah.


" Jam berapa kamu berangkat ? " tanya Bu Dinda kemudian sambil berdiri menghadap anak lelaki nya.


" Jam 8 an, kenapa Ma ? "


" Mama nebeng ya.. mau ke supermarket. Bahan dapur dan kulkas kosong tuh, " kata Bu Dinda.


" Trus, Mama pulangnya gimana ? " tanya Saka


" Itu gampang lah.. tinggal pesan taksi online, hehehe..." jawab Bu Dinda tersenyum lebar.


" Belanjanya ga nunggu Saka aja nanti sore ? " tanya Saka lagi meyakinkan sang Mama.


" Kelamaan kalo nunggu sore. Ya udah, mandi sana gih.. keringatmu bau asem tuh.." kata Bu Dinda sambil mengibaskan salah satu tangannya sementara tangan yang lain menutup hidungnya.


" Widih, Mama lebay ! Mana ada bau asem.. " gerutu Saka sambil berlalu menuju ke kamarnya di lantai dua rumahnya.


Sesampainya di dalam kamar, Saka membuka kaos nya yang basah oleh keringat dan diletakkannya ke dalam keranjang baju kotor. Ia berjalan menuju balkon kamarnya sambil membawa ponsel nya, tak ketinggalan botol air mineral dingin yang ia ambil dari kulkas sebelum naik ke kamarnya.


Ia duduk di kursi teras balkon mencari udara segar. Ia membuka ponselnya, wallpaper nya memperlihatkan foto nya bersama Danisha yang berada di dekat jembatan tempat para anak jalanan berkumpul dengan latar belakang sungai. Ia tersenyum, lalu dibukanya aplikasi whatsapp. Ada pesan masuk dari Danisha subuh tadi yang belum sempat ia baca.


Danisha


" I'm happy, very happy, brader. No worries about me, coz you are always beside me ☺️ "


Saka menghela napasnya panjang. Sungguh ia merindukan senyuman manis dengan lesung pipi milik gadis berhijab itu.


Kemudian ia membalas pesan Danisha.


Me


" Sure, I will stand by you πŸ˜‰. Tunggu kita yaa.. Uummm.. salad nya belum dibikin Mama, gimana donk..? "


Saka tersenyum jahil, ia sengaja menggoda Danisha mengatakan bila salad buatan Mamanya belum dibuat.


Aku tak pernah peduli kau jodohku atau bukan,


Tapi dibalik itu, kau harus tau bahwa kau lah yang akan selalu aku perjuangkan


*******


Sementara itu pada waktu yang sama di rumah Danisha.

__ADS_1


Bunda mengetuk pintu kamar Danisha. Biasanya setelah sholat Subuh, Danisha selalu membantunya di dapur. Tetapi pagi ini, Danisha tidak muncul di dapur sejak Subuh tadi.


" Tok tok tok... Danish.. sayang.. " panggil Bunda.


Tak ada jawaban dari dalam kamar. Bunda mulai khawatir, dipegangnya handle pintu kamar Danisha dan perlahan membukanya. Tidak dikunci. Ketika pintu sudah terbuka, Bunda melihat anak gadisnya sedang tertidur dengan ponsel yang masih digenggamnya.


Bunda duduk di tepi ranjang dan mengambil ponsel di genggaman Danisha. Bunda sedikit kaget, tangan Danisha hangat. Setelah meletakkan ponsel putrinya di atas meja rias di samping ranjang, Bunda meletakkan punggung tangannya ke dahi Danisha.


" Ya Allah, Danish.. badanmu panas sayang.. Danish.. " Bunda membangunkan Danisha sambil menggoyang lengan putrinya perlahan.


Dengan terburu-buru Bunda keluar kamar menuju dapur mengambil baskom yang diisi air dan handuk kecil untuk mengompres kepala Danisha.


Kirana heran melihat Bundanya berjalan terburu-buru dengan membawa baskom.


" Bun, ada apa ? " tanya Kirana bingung


" Kakakmu badannya panas, dia tertidur pulas sekali. Sudah Bunda bangunkan untuk sarapan tapi kakakmu ga bangun juga, " jelas Bunda.


Kirana pun mengikuti Bunda masuk ke dalam kamar Danisha. Danisha masih dengan posisi semula. Bunda menempelkan handuk basah ke dahi Danisha sebagai kompres suhu badannya yang panas.


" Kak.. Kak Danish.. " Kirana mencoba membangunkan Kakak satu-satunya. Masih tak bergeming. Kirana juga mulai khawatir.


" Kakak kamu kenapa sih Kiran.. Danish.. sayang.. bangun Nak.. " Bunda benar-benar khawatir dan mulai terlihat panik.


" Sebentar, Bunda panggil Ayah dulu ya Kiran, tolong jaga kakak kamu, " ujar Bunda.


" Iya, Bunda.." jawab Kirana.


Kirana masih berusaha untuk membangunkan kakaknya dengan menepuk-nepuk pipi sang kakak. Ia pun memijat kaki kakaknya pelan.


Tak berapa lama, tangan Danisha bergerak memegang kepalanya.


" Auuwww... aduh ! " rintih Danisha dengan tangan memegang dahi nya yang dikompres.


" Alhamdulillah.. kakak kenapa ? Mana yang sakit Kak ? " tanya Kirana sambil mengelus lengan kakaknya dengan sayang.


" Ah Kiran, kenapa kepalaku dikompres ? " tanya balik Danisha yang sudah terkumpul kesadarannya.


" Badan kakak panas tadi, Bunda yang kompres biar turun panasnya, " jelas Kirana.


" Bunda kemana, Dek ? " tanya Danisha lagi.


" Lagi ke depan panggil Ayah, habisnya kakak dari tadi dibangunkan ga bangun juga, " tutur Kirana.


Beberapa saat kemudian, Ayah dan Bunda datang.


Ayah tersenyum melihat putri sulungnya telah bangun meskipun dengan wajah pucat.


" Ayah, Bunda.. Danisha ga papa kok. Cuma sakit kepala aja, " kata Danisha lirih, mencoba tak membuat khawatir kedua orang tuanya.


Kedua orang tuanya pun mengangguk dan tersenyum.


Kirana pun mengambilkan ponsel Danisha dan diberikannya pada kakaknya.


" Bunda ambilkan sarapan dulu ya, atau Danish mau Bunda masakin bubur ? " tanya Bunda


" Ga usah Bun, Danish makan yang ada aja, " jawab Danisha dengan suara yang masih lemas.


Ia tak tahu kenapa dengan dirinya, ia merasakan tubuhnya lemas sekali. Kepalanya pun masih nyeri, padahal semalam ia sudah meminum obatnya.


" Danish, ga usah pergi siaran dulu ya.. minta ijin sama manager Danish dulu kalo Danish ga bisa siaran hari ini karena sakit, " saran Ayah.


" Iya Yah, Danish udah minta ijin kok hari ini Danish off, " jawab Danish dengan senyum tipisnya.


" Ya udah, Ayah beresin depan dulu ya.. ga papa kan ditinggal ? " kata Ayah sambil mengelus kepala putri sulungnya itu.


" Iya Ayah.. ish Ayah, Danish udah besar lho.. bukan bayi lagi.. hehehe.. masa sakit gini aja harus ditungguin semua, " sahut Danisha dengan wajah sedikit cemberut.


Ayah dan Kirana tertawa melihat raut wajah yang ditunjukkan Danisha.


" Kak, Kiran juga pergi dulu ya.. mau latihan dulu. Tapi nanti Kiran langsung pulang kok, ga pergi kemana-mana lagi, " ujar Kiran berpamitan.


" Ok adikku sayang.. hati-hati ya.. yang semangat latihan taekwondo nya, " ujar Danisha menyemangati adiknya yang hobi sekali dengan olah raga beladiri itu sejak di bangku SMP. Kirana sekarang sudah memegang sabuk coklat dan sering ikut pertandingan mewakili sekolahnya.


Lalu Ayah dan Kirana keluar dari kamar Danisha.


Danisha pun membuka ponselnya, ada pesan masuk dari Saka dan Mas Rendra. Ia menarik napas nya panjang dan menghelanya perlahan.


Ia mulai mengetik balasan pesan dari Saka dan mengirimnya. Senyumnya mengembang di bibir mungilnya.


Me


" Ga percaya kalo salad buahnya belum dibikinin Mama kamu 😜 buruan ke sini kalian bertiga.. aku kangen candaan kalian.. πŸ€—πŸ€— "


Lalu ia beralih membaca pesan dari Mas Rendra.


Mas Rendra


" Hey..! udah bisa bercanda ya.. ☺️ aku ingin melihatmu tersenyum pagi ini agar hatiku menghangat dan diriku menjadi bersemangat. Bolehkah aku video call ? "


Danisha terkekeh, lalu ia membalas pesan Mas Rendra.


Me


" Haaiisshh... jangan ah ! Ngapain coba video call pagi-pagi gini πŸ˜… "


Sangking asyiknya membaca dan membalas pesan dari Saka dan Mas Rendra, Danisha sampai tidak menyadari keberadaan Bunda yang sudah duduk di samping ranjangnya.


" Asyik bener sih..! Sampai Bunda dicuekin, " goda Bunda.

__ADS_1


" Eh, maaf Bun.. hehehe... " ujar Danisha sambil terkekeh.


" Udah Bun, sini biar Danish makan sendiri, " lanjut Danisha. Ia pun membetulkan posisi nya menjadi duduk tegak bersandar di kepala ranjang.


Bunda memberikan piring berisi nasi, sayur dan lauknya pada Danisha, selanjutnya Danisha segera melahapnya. Meskipun mulutnya terasa pahit tapi ia harus memaksa tubuhnya diisi banyak asupan makanan agar bisa segera pulih kondisinya. Tak butuh waktu lama bagi Danisha menghabiskan sarapan paginya, karena menu sarapan pagi ini adalah makanan kesukaannya, sayur sop dan telur dadar.


Bunda tersenyum melihat putri sulungnya yang sudah menghabiskan sarapannya dengan cepat. Diambilnya piring yang sudah kosong dari tangan putrinya dan disodorkannya gelas berisi air putih hangat kepada putrinya.


" Makasih banyak, Bunda, " jawab Danisha dengan senyum sumringah.


" Sama-sama sayang.. ya udah kamu istirahat, " kata Bunda yang kemudian beranjak dari duduknya.


" Bundaaa... " panggil Danisha manja.


Bunda yang baru saja akan keluar kamar, seketika menoleh ke arah Danisha yang memanggilnya. Lalu ia pun tersenyum melihat putrinya yang memasang wajah sendu. Ia pun menghampirinya dan duduk di tepi ranjang putri cantiknya. Dielusnya pipi putrinya dengan sayang.


" Kenapa ? " tanya Bunda.


Danisha memeluk sang Bunda manja. Bunda mengelus kepala putrinya sambil tersenyum. Ia paham dengan sikap putrinya saat ini. Pasti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.


" Mau cerita sekarang atau nanti ? " tanya Bunda lagi.


Danisha menghela napas nya perlahan, masih di pelukan sang Bunda. Ia selalu ingin menikmati saat-saat seperti ini, berada di pelukan hangat sang Bunda.


" Bagaimana Bunda dulu memilih Ayah sebagai pendamping hidup Bunda ? " tanya Danisha, masih memeluk Bundanya.


Dahi Bunda mengernyit. Ia sedikit melonggarkan pelukan sang putri, sambil memandang wajah sendu dan pucat putri sulungnya.


" Putri Bunda lagi kasmaran ? "


" Huh ? kok Bunda nanya begitu ? " tanya Danisha malu.


" Pertanyaan putri Bunda juga begitu, kan ? " Bunda terkekeh.


" Sayang, jika kamu tak yakin dengan hatimu. Mintalah petunjuk pada Allah, pilihan Nya pasti yang terbaik buat hidupmu, " tutur Bunda sambil mengecup kening putrinya.


" Iya, makasih Bunda. Danish sayang Bunda, " lalu Danisha mencium pipi Bunda dan kembali memeluk wanita yang sudah melahirkannya itu erat.


" Ya udah, Bunda mau siap-siap ke toko nih. Kamu ga papa di rumah sendiri ? Ayah ikut ke toko soalnya, " Bunda melepaskan pelukannya setelah sebelumnya mencium puncak kepala putrinya.


" Ya ga papa lah Bun, Danish udah gede bukan balita lho.. masa iya ga berani di rumah sendiri. Lagian nanti gerombolan si jahil mau kesini kok Bun, " ujar Danisha tertawa pelan.


" Maksud kamu, Distha, Saka dan Prasta ? " tanya Bunda heran karena Danisha menyebut sahabatnya gerombolan si jahil.


" Hehehe.. iya Bunda.. " terkekeh Danisha melihat raut wajah sang Bunda yang heran saat ia menyebut gerombolan si jahil untuk sahabatnya.


" Ish, kamu tuh ya.. mereka sahabat baik kamu lho ! " tukas Bunda.


" Iya Bunda, habis mereka suka jahil sih.. " jawab Danisha cemberut.


" Ya udah, Bunda tinggal ya.. " kata Bunda tertawa dan bergegas keluar dari kamar Danisha.


Danisha meraih ponselnya, ia melihat pesan yang masuk. Saka membalas pesannya, ia pun membuka dan membaca nya.


Saka


" Ga percaya ya udah 😜 Aku otw nih, ngantar Mama dulu. Si Prasta juga udah otw katanya. Distha masih di rumah, katanya mgkn agak telat datang "


Tuh kan nyebelin si Saka, gumam Danisha. Tapi itulah kamu Saka, sahabat yang selalu mengerti aku, gumamnya lagi.


Tiba-tiba ponsel Danisha berdering, dilihatnya panggilan video masuk, Mas Rendra.


Huh ?? Mata Danisha melotot, ish ini orang dibilang jangan malah dilakuin. Mau tak dijawab ga enak, kalo dijawab keadaan aku kek begini, ga banget.. gerutu Danisha.


Buru-buru ia merapikan dirinya, memakai bedak tipis di wajah manisnya lalu ia kenakan jilbab instannya. Dan berikutnya ia pun menjawab panggilan video dari manager sekaligus laki-laki yang perlahan sudah menempati ruang hatinya.


" Hai sayang.. " sapa Mas Rendra dengan senyum simpatik dan lambaian tangan.


Hati Danisha bergetar mendengar sapaan sayang dari laki-laki di layar ponselnya itu.


Ah senyum itu.. aku rindu.. batin Danisha.


Gugup Danisha menjawab sapaan Mas Rendra.


" Hai Mas.. " Danisha tersenyum, lesung pipinya yang dalam terlihat jelas.


Mas Rendra tersenyum sumringah di layar ponsel Danisha.


" Lega banget lihat senyum kamu. Tapi wajah kamu pucat banget sih.. aku antar ke dokter ya.. biar aku tenang sayang.. "


Lagi-lagi Danisha dibuat berbunga hatinya oleh laki-laki penuh simpatik itu.


" Ah masa.. aku baik kok, mungkin kebanyakan tidur jadi terlihat pucat, hehehe.. Mas Rendra ga ke studio ? "


" Belum tau nih, ke studio atau tidak. Janji yaa.. kamu baik-baik aja.. Kamu mau aku bawain bubur ayam atau tauwa kesukaan kamu ? "


" Eh ga usah repot Mas, aku udah sarapan kok. "


" Ga repot lah buat kamu sayang.. uummm.. Danish, aku sungguh ingin bersamamu, dan aku menanti jawabanmu.. " Mas Rendra berkata dengan wajah yang serius.


Di layar ponsel, Danisha dapat melihat mata Mas Rendra yang menatap sendu ke arah Danisha. Tak ada kebohongan di sana, begitu yang Danisha lihat pada kedua mata bening itu.


Deg ! Jantung Danisha berdegup, keras sekali. Ya Allah, apa sekarang saatnya aku menentukan pilihanku ? Semalam aku sudah meminta petunjuk Mu, dan mimpiku sama dengan apa yang hatiku rasakan. Tapi...


Tbc


**Kira-kira Danisha kasih jawaban apa ya.. ato Danisha masih ingin memastikan hatinya lagi ? πŸ€”


Moga LOTA Lovers masih bisa bersabar dan setia menanti lanjutan kisah mereka πŸ€—πŸ€—

__ADS_1


Stay safe & healthy always.. love u more & more my LOTA Lovers πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ’žπŸ’ž **


__ADS_2