
**Happy reading you all 🤗**
Setelah menurunkan semua barang dari mobil dan menatanya di tempat masing-masing, Saka mengajak Danisha naik ke lantai dua rumah mereka. Sebelumnya, Danisha sudah berkeliling di lantai satu, melihat ruangan demi ruangan yang ada di rumah barunya. Ada dua kamar tidur yang tidak terlalu besar ukuran ruangannya. Satu kamar tidur di dekat dapur untuk kamar asisten rumah tangga. Sementara dapur, ruang makan dan ruang keluarga merupakan satu area. Saka mendesainnya menjadi satu ruangan yang terbuka dengan taman kecil di sana. Ada kamar mandi dan tempat untuk laundry yang berhadapan dengan taman kecil yang diisi dengan beberapa tanaman hias dalam pot-pot kecil. Sangat asri dan nyaman.
Saat ini sepasang suami istri itu sudah berada di lantai dua rumah mereka. Ada ruang tengah di sana lengkap dengan sofa dan meja. Di sudut ruangan ada lemari kaca berisi buku-buku, juga ada rak yang tidak terlalu tinggi dengan beberapa pigura berukuran kecil dan sedang yang membingkai foto-foto mereka. Danisha tersenyum semringah menyaksikan desain yang diciptakan Saka. Ia sangat menyukainya. Saka menautkan jemari tangannya dengan jemari tangan Danisha.
"Kamu suka, Bee? Maaf, kalau hanya begini. Aku mendesain sebisaku. Kalau kamu ingin mengubahnya, ubahlah. Aku akan lebih puas bila kamu mau menata ulang interior rumah ini. Karena rumah ini milikmu." Saka mengecup jemari tangan Danisha dengan senyum bahagia.
Danisha balas tersenyum. Dengan cepat ia mendaratkan bibirnya di pipi kanan Saka. "Thank you, Suamiku. Already perfect! I love these all, as I love you just the way you are!" ucap Danisha lugas dengan senyum dan wajah yang berbinar bahagia.
Saka pun menangkup wajah Danisha dan mengecup bibir istrinya sekilas. "Yakin?" tanya Saka ragu.
"Absolutely, Hubby!" jawab Danisha tegas, masih dengan wajah berbinar bahagia.
Kemudian Saka menggandeng tangan Danisha dan menggiringnya ke sebuah pintu ruangan dari kayu bercat putih tulang. Saka meraih gagang pintu dan membukanya pelahan.
"Selamat datang di singgasana dan peraduan kita, Sayang," ujar Saka dengan senyum miringnya.
"Eh? Singgasana dan peraduan?" Danisha memicingkan matanya dan menatap heran Saka. "Apa coba?" Cubitan tangan Danisha mendarat di pinggang Saka, membuat laki-laki itu mengerang sakit.
"Sakit, Bee! Kok dicubit, sih?" Erang Saka dengan wajah meringis.
"Habisnya ngomong kek begitu!" protes Danisha.
"Kek begitu gimana, Bee? Kan bener, ini singgasana dan peraduan kita. Ruang privasi kita. Tempat kita beristirahat. Tempat kita bersantai dan juga tempat kita menyelesaikan tugas kita. Tempat kita menyelesaikan semua permasalahan rumah tangga kita," terang Saka dengan senyum lebarnya, deretan giginya terlihat rapi.
" Menyelesaikan tugas?" Danisha semakin memicingkan matanya.
Saka menutup pintu kamar, lalu mendekat pada Danisha yang berdiri mematung di samping ranjang.
"Ish!" Danisha kembali mencubit Saka, kali ini perut suaminya yang menjadi sasaran.
Saka kembali meringis, tapi sesaat kemudian, ia tergelak tawa. Diraihnya pinggang Danisha dan seketika itu juga tubuh Danisha sudah berada dalam dekapannya.
"Mas, ini rumah udah siap huni. Kapan belinya, kapan membangunnya, kapan mendesain dan mendekornya, lalu kapan beli perabotannya. Kenapa aku ga tau sama sekali? Bisa dijelaskan, Sayang?" cecar Danisha meminta penjelasan pada Saka.
Kedua sudut bibir Saka tertarik ke atas membentuk seulas senyuman.
"Harus, ya?" tanya Saka.
Danisha menatap Saka dengan kerutan di dahinya. "Aku ingin tau, Mas. Jujur, aku terkejut. I'm surprised! Ini ... Ini semua ...."
Saka meletakkan kedua jarinya di bibir Danisha. "Ssstttt ... Ini semua buat kamu. Milikmu, Bee! Sengaja aku persiapkan untuk kamu. Karena kamu kembali dan bersedia bertahan di atas semua kesakitan dan perjuanganmu. Kamu adalah rumahku, tempatku untuk pulang." Saka melayangkan tatapan sendu penuh cinta pada Danisha.
Danisha pun membalas tatapan Saka dan menelisik kedua manik teduh milik suaminya itu dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
"Sesungguhnya, kamulah rumahku, Mas. Kamulah tempatku kembali. Kesabaran, cinta dan perjuanganmu yang membuatku bertahan. Membuatku tak sanggup pergi dan menjauh darimu. Setiamu yang membuatku bertahan untuk selalu di sisimu hingga saat ini dan selamanya. Kamulah rumahku, surgaku. Aku bahagia memilikimu," ungkap Danisha dengan suara bergetar, bulir bening di kedua matanya pun jatuh membasahi pipinya.
Dengan cepat Saka merengkuh tubuh Danisha, mendekapnya dalam pelukan hangat. Dikecupnya puncak kepala istrinya pelahan. Ia merasakan dadanya basah karena air mata Danisha.
********
"Iya, Ma. Iya, besok sore Saka pulang. Ya pasti sama Danisha, dong! Mana bisa Saka pisah dari Danisha, ck!" Saka berdecak, dengan ponsel menempel di telinga kirinya. Sementara tangan kanannya mengusap lembut punggung Danisha yang terlihat nyaman berbaring dalam dekapannya.
"Wa'alaikumsalam," ucap Saka kemudian, ia meletakkan ponselnya di samping bantal.
"Mama udah pulang, ya?" tanya Danisha dengan suara malasnya.
"Huum ...." sahut Saka dengan malas pula. Ia semakin mengeratkan pelukannya dan memejamkan matanya kembali. Sebelumnya, ia meraih remote CD Player dan menambah volume suara musik yang tadi sempat dikecilkannya karena telepon dari sang Mama. Suara Virgoun yang mendayu dengan lirik yang romantis membuat suasana di dalam kamar yang bernuansa pastel siang itu semakin menyejukkan hati keduanya. Seolah mereka baru saja merasakan jatuh cinta kembali.
Danisha membuka matanya dan mendongak agar bisa melihat wajah Saka. Ia tersenyum. Kemudian ia berbalik posisi memunggungi Saka. Namun, Saka tak melepaskan pelukannya. Lelaki itu semakin mengeratkan pelukannya. Tangannya mengusap lembut perut Danisha yang tertutup gamis tidurnya, membuat wanita itu tersenyum tipis karena merasakan sedikit geli di bagian perutnya.
"Semoga di sini segera ada kehidupan dari cinta kita ya, Bee," ucapnya pelan sembari mengecup bahu Danisha.
Seketika Danisha terdiam. Senyum yang sedari tadi membingkai wajahnya tiba-tiba hilang. Kalimat yang baru saja didengarnya terdengar sangat menakutkan baginya. Ia menggigit bibir bawahnya. Kedua matanya terbuka menatap kosong jendela kamarnya yang menampakkan sedikit cahaya matahari siang itu.
Aamiin ... Semoga, Mas. Walaupun aku sendiri tak yakin. Maafkan aku. Danisha bergumam dalam hatinya.
Pikirannya melanglang pada kejadian saat Dokter Aldi menerangkan padanya mengenai efek samping dari pengobatan yang dijalaninya selama sakit. Kembali ia menggigit bibirnya, kedua matanya masih menatap kosong jendela kamarnya. Tangan Saka sudah berhenti mengusap perutnya. Napasnya teratur. Ia bisa merasakan hembusan hangatnya melewati leher dan bahunya. Digenggamnya jemari Saka erat.
Terima kasih karena mencintaiku. Kumohon tetaplah seperti ini dengan cintamu, jangan pernah berubah. Apalagi meninggalkanku.
__ADS_1
Lirih Danisha dalam hati.
🎶🎶🎶
Teringat lagi hal yang buat hatiku
Jatuh cinta dengan hebatnya padamu
Hingga kini ku belum mampu percaya
Kau milikku s'lamanya
Ku temukan arti cinta
Di waktu hidup denganmu yang tak terduga
Seperti nadimu yang s'lalu denyutkan setia
Aku bahagia menjadi pemiliknya
Bagaimana bisa aku jatuh cinta
Berulang kali, berulang kali pada orang yang sama?
Terima kasih kau tetap di sampingku
Di tengah kencang badai hidup menerpa
Saat dunia memaksamu 'tuk pergi
Kau tetap setia
Ku temukan arti cinta
Di waktu hidup denganmu yang tak terduga
Bila waktu izinkan kita menua bersama
Di mataku indahmu tetaplah sama
Bagaimana bisa aku jatuh cinta
Berulang kali, berulang kali pada orang yang sama?
Ku temukan arti cinta
Di waktu hidup denganmu…
🎶🎶🎶
- Orang Yang Sama by Virgoun -
*******
Enam bulan berlalu. Kondisi Danisha semakin membaik. Namun, Danisha masih diharuskan melakukan general check up untuk memantau kondisi kesehatannya terutama perkembangan fungsi otaknya.
Saat ini Saka dan Danisha telah menempati rumah barunya, tepatnya satu bulan setelah mereka menginap semalam di rumah baru mereka waktu itu. Tentu saja dengan perdebatan kecil antara mereka dengan kedua orang tua Saka. Ya, sebenarnya Bu Dinda tidak memperbolehkan mereka untuk pindah rumah karena wanita paruh baya itu masih mencemaskan kondisi Danisha. Namun, pada akhirnya Bu Dinda mengizinkan putra dan menantunya itu untuk pindah rumah dan menempatinya tetapi dengan beberapa syarat, salah satunya adalah mereka harus memakai jasa asisten rumah tangga dan melarang Danisha untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Saka dan Danisha pun menyetujui syarat tersebut.
Kemudian Saka meminta Pak Bondan yang selama ini dipercaya untuk menjaga dan membersihkan rumah mereka untuk mencarikan asisten rumah tangga. Pak Bondan adalah salah satu karyawan cleaning service di perusahaan Pak Rahmat. Kedekatannya dengan Saka karena putra majikannya itu seringkali memintanya untuk dibuatkan kopi dan membersihkan meja kerjanya. Seringkali keduanya menghabiskan waktu istirahat di pantry kantor untuk menikmati makan siang atau sekedar minum kopi bersama. Pria paruh baya itu hidup hanya berdua dengan istrinya. Anak laki-laki mereka satu-satunya telah meninggal ketika masih berusia 10 tahun karena sakit.
Mengetahui jika Pak Bondan hanya hidup berdua dengan istrinya, Danisha meminta kepada pria yang usianya tidak jauh berbeda dengan ayahnya itu untuk mengizinkan istrinya bekerja di rumah barunya sebagai asisten rumah tangga. Beruntung, Pak Bondan dan istrinya, Bu Erni, menyambut dengan senang hati permintaan Danisha. Bu Erni diminta bekerja mulai pukul 05.00 pagi hingga Saka pulang dari kantor, sekitar pukul 19.00 atau lebih. Terkadang Danisha meminta Bu Erni untuk menginap jika Saka sedang bertugas ke luar kota atau bekerja lembur hingga larut malam.
Seperti yang terjadi hari ini, Danisha meminta Bu Erni untuk menginap karena bisa dipastikan Saka akan pulang malam karena bekerja lembur seperti kemarin. Ini dikarenakan Papa mertuanya sedang ada perjalanan bisnis ke luar kota selama tiga hari.
Saka baru saja memarkirkan mobilnya di garasi, tepat pukul 21.00. Perlahan ia keluar dari mobil dan berjalan gontai memasuki rumahnya. Pintu belum terkunci. Sepi. Lampu di ruang tamu sudah dimatikan. Dilihatnya lampu dapur masih menyala. Lalu, Bu Erni muncul dari arah dapur saat Saka hendak melangkah menaiki tangga.
"Bu, Pak Bondan ga ikut menginap?" tanya Saka pada Bu Erni.
"Maaf, Pak. Bapaknya ada keperluan di rumah, jadi ga bisa ikut menginap di sini," jawab Bu Erni sopan.
Saka balas tersenyum dan mengangguk. "Danisha udah makan, Bu?" tanya Saka lagi, memastikan jika istrinya itu tidak menunggunya untuk makan malam seperti kemarin.
"Sudah, Pak," sahut Bu Erni. "Permisi, Pak. Saya kunci pintu pagar dulu," pamit Bu Erni dengan sopan.
"Ya, Bu. Saya juga mau ke atas. Tolong kunci semua pintu ya, Bu. Setelah itu, Bu Erni langsung istirahat, saya juga mau istirahat," titah Saka, ia pun melangkah naik ke lantai dua menuju kamarnya setelah Bu Erni menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Saka membuka gagang pintu kamar berwarna putih tulang secara perlahan. Ia yakin Danisha pasti sudah terlelap saat ini dan ia tidak ingin mengganggu tidur istrinya.
Perlahan ia memasuki kamar dengan lampu yang masih menyala terang. Meletakkan tas kerjanya di atas meja sofa, lalu menghempaskan tubuh letihnya di atas sofa berwarna biru pastel. Matanya menatap sayu ke arah ranjang tidur dimana Danisha telah terlelap dalam mimpinya.
Maaf ya, Bee. Batinnya bergumam, lalu dihelanya napas panjang. Diambilnya ponsel yang sedari tadi bergetar tanda beberapa pesan masuk. Ia sengaja memasang mode silent pada ponselnya sejak meninggalkan kantor. Melihat sekilas tampilan pop up di layar ponselnya sebelum diletakkan di meja.
Kepalanya terasa berat, pikirannya pun penat. Ia memijat pangkal hidungnya dengan tubuh dan kepala bersandar di sofa. Kepala menengadah, menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan nanar.
Siang tadi, ia dihubungi Pak Renaldi, dosen pembimbing skripsinya yang mengabarkan bahwa pihak kampus menawarkan bea siswa S-2 untuknya. Kesempatan emas buatnya untuk melanjutkan studi S-2 nya ke Australia.
Sekali lagi Saka menghela napasnya berat. Kebimbangan menderanya. Antara menerima tawaran emas itu atau melepaskannya dengan ikhlas. Tubuh dan pikirannya lelah. Pelahan matanya terpejam hingga ia benar-benar terlelap dengan segala kebimbangannya.
Saka menggerakkan kepalanya pelan saat merasakan sebuah usapan dan kecupan hangat di pipinya. Sebuah senyuman membingkai wajah ayu menyambutnya begitu ia membuka mata.
Danisha duduk di samping Saka sembari memeluk tubuh suaminya itu.
Cup!
Saka balas mengecup kening Danisha sambil mengeratkan pelukannya.
"Aku siapkan air hangat dulu, ya. Maaf, aku ketiduran," ucap Danisha, mengurai pelukan suaminya dan beranjak ke kamar mandi.
Saka menghela napas dalam dan kembali memijat pangkal hidungnya. Lalu meraup wajahnya untuk mengusir kantuk. Beberapa saat kemudian, ia bangkit dari duduknya dan berjalan ke kamar mandi.
Danisha tersenyum saat berpapasan dengan Saka di depan pintu kamar mandi.
"Mas udah makan?" tanyanya.
"Udah," sahut Saka singkat. Ia kembali memeluk tubuh Danisha. Mengecup dan menghirup wangi white musk kesukaannya.
Danisha membalas pelukan Saka dengan tangan mengusap punggung suaminya penuh kelembutan.
"Capek, ya? Mandi dulu, gih! Biar capeknya hilang," ucap Danisha lembut.
Saka melepas pelukannya, mencium bibir Danisha sekilas dan tersenyum. Kemudian ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
*******
Danisha sudah mulai aktif ke kampus untuk melanjutkan skripsinya yang tinggal sedikit lagi selesai. Bab terakhir sedang ia kerjakan saat ini di perpustakaan kampus sebelum ia menemui Distha dan Prasta di kantin. Raut wajahnya serius menatap layar laptop dengan beberapa buku di meja. Sementara earphone terpasang di telinganya, terhubung dengan aplikasi musik di ponselnya. Terlihat sekali ia sangat menikmati yang dikerjakannya saat ini. Hingga tak disadarinya, seseorang telah duduk di hadapannya.
"Serius amat, sih!"
Danisha berjengit kaget saat sebuah tangan mengambil buku yang sedang dibacanya.
"Ish! Apaan coba!" sungut Danisha kesal. Ia mematikan aplikasi musik ponselnya dan mencabut earphone dari telinganya. Lalu menghela napasnya panjang sembari menatap kesal laki-laki berkaos hitam dengan rambut gondrong terurai di hadapannya. Siapa lagi kalau bukan Prasta.
"Pras! Balikin!" sungutnya lagi dengan wajah merengut.
Prasta terkekeh pelan. Lalu tangannya menyodorkan buku yang diambilnya tadi.
Disambarnya buku itu dari tangan Prasta. Masih dengan wajah yang merengut.
"Widih! Jelek banget tau!" kelakar Prasta.
"Belum selesai? Jangan memaksa terlalu keras, Sist," tegur Prasta, melembutkan suaranya.
"Sedikit lagi. Aku juga ingin segera lulus seperti kalian. Harus kejar sidang dan wisuda semester ini," tegas Danisha, matanya kembali menatap laptop dan jemarinya mulai mengetik lagi.
"Masih cukup waktu, Sist. Jangan diporsir tenaga dan pikiranmu. Ingat yang dikatakan Dokter Aldi. Semua demi kebaikanmu juga," tutur Prasta.
"Lebih cepat selesai lebih baik, kan? Kesempatanku lebih banyak di kampus untuk menyelesaikan skripsi, Pras," sahut Danisha tanpa melihat Prasta yang duduk di hadapannya.
"Pastinya! Saka ga akan biarin kamu terlalu keras bekerja dan berpikir," celetuk Prasta.
"Nah! Itu kamu tau!" Danisha mengarahkan telunjuknya ke arah Prasta sambil mengulum senyuman.
Prasta menghela napasnya panjang dan menggelengkan kepalanya, bergumam dalam hatinya.
Kukira keras kepalamu akan hilang setelah operasi. Ternyata tidak, malah makin parah!
Tbc
Ada yang kangen sama cowok kece n tengil ini?
__ADS_1