Love On The Air

Love On The Air
Eps 42 Masih Kamu Di Hatiku


__ADS_3

Distha dan Prasta pun terdiam mendengar pertanyaan Saka. Mereka sendiri pun tak paham sakit apa sebenarnya Danisha. Mereka hanya tahu Danisha menderita anemia. Sejauh ini Danisha tidak mau melakukan pemeriksaan kesehatan lanjutan untuk mengetahui kepastian diagnosa penyakitnya.


" Kami pun tak tau, Ka. Kamu ga nanya ke Dokter Ardhy ? " tanya balik Prasta.


" Dokter Ardhy saudara kamu ya ? " tanya Distha.


" Sepupu aku. Anak dari kakaknya Mama. Bang Ardhy ga mau kasih tau karena bukan haknya. Kalo mau tanya soal Danisha sama Dokter Aldi katanya, " jelas Saka.


Danisha mengerang lirih. Tangannya mulai bergerak. Perlahan kepalanya pun bergerak.


" Ha...us.... " ucap Danisha lirih


" Danish ! " ketiga sahabatnya berseru bersamaan manggil nama Danisha. Mereka pun mendekat ke sisi ranjang.


Kedua mata Danisha mengerjap, berusaha mengumpulkan penglihatannya penuh.


" My Sweet Girl ! Alhamdulillah... akhirnya kamu sadar, " ucap Saka.


" A...ku ha...us...." lirih bibir Danisha berucap.


Distha segera mengambilkan air mineral dalam tumbler yang ada di dalam tas Danisha. Gadis itu pun segera menyesapnya perlahan dengan tubuh yang masih sangat lemah.


" Aku panggilkan perawat dulu ya.... " cetus Prasta yang beranjak pergi memberitahu perawat kalo Danisha sudah sadar.


" Aku kok ada di sini ? tanya Danisha dengan suara parau dan menahan rasa sakit di kepalanya.


" Kamu pingsan di kampus tadi. Maafkan aku ya.... " Saka mengusap lembut punggung tangan Danisha.


" Kenapa ? Aku ga apa-apa, " ujar Danisha, ia menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit di kepalanya.


Saka tidak kuasa melihat kondisi Danisha yang lemah. Ia mengusap lembut lengan dan kepala Danisha, ingin mengurangi rasa sakit yang Danisha rasakan.


" Danish ! " seru Bunda yang baru saja datang. Bunda menangkup wajah putrinya dan memberikan ciuman sayang di kedua pipi putrinya.


" Bunda... Danish ga apa-apa kok, " cetus Danisha lirih.


" Bunda, maafkan Saka. Harusnya.... " belum selesai Saka bicara, Bunda menyelanya.


" Eeehhhh...! Udah, Danish pingsan bukan karena kalian atau apapun. Bunda berterima kasih kalian udah menjaga Danish dengan baik. "


" Bun, Saka yang seharusnya lebih bisa jaga Danish. Maafkan Saka, " sesal Saka.


Bunda tersenyum pada Saka, lalu mengusap lengan Saka.


" Iya... Saka udah jaga Danish dengan sangat baik. Ya udah, yang penting sekarang Danish udah ditangani dokter. Terima kasih ya, Ka. Juga Distha dan Prasta, terima kasih udah menjaga Danisha. Kalian yang terbaik, " tutur Bunda lembut penuh sayang.


Prasta datang bersama Dokter Ardhy dan seorang perawat. Setelah memeriksa keadaan Danisha, Dokter Ardhy memberi instruksi untuk memindahkan Danisha ke kamar perawatan.


" Dok, saya tidak apa-apa, kenapa harus rawat inap ? " Danisha menolak untuk dipindahkan ke kamar perawatan.


" Danish, ga apa-apa sayang. Ikuti apa kata dokter ya, Nak, " ujar Bunda memberi pengertian pada Danisha.


" Tapi Bun, Danish tidak apa-apa kok. Danish cuma kecapekan. Danish harus selesaikan tugas kuliah Danish, Bun... Belum kelar, " rengek Danisha.


" Sist, kamu harus sehat dulu. Gimana mau selesaikan tugas kuliah kalo kondisi kamu kek gini, " Distha pun ikut membujuk Danisha.


Saka merasakan ponsel di dalam saku celananya bergetar sedari tadi. Diambilnya ponsel dan dilihatnya panggilan telepon dari Audy. Ya, ia lupa kalau ada janji dengan Audy selepas kuliah.


" Permisi sebentar, " ucap Saka, ia pun keluar ruangan untuk menerima panggilan telepon dari Audy.


" Ya hallo. "


" Kamu dimana, Ka ? Aku udah nunggu di tempat biasa, tapi aku ga liat mobil kamu, " suara Audy di seberang sana.


" Ah, sorry. Maaf, aku lupa kasih tau kamu. Aku harus mengantar Danisha ke rumah sakit. Maaf ya, Dy... hari ini aku batalin rencana kita. Next time, kita buat rencana lagi. Aku minta maaf, " jelas Saka dengan nada menyesal.


" Danisha kenapa ? Bukannya dia tadi baik-baik saja aku liat di perpustakaan ? "


" Danisha pingsan di depan perpustakaan. Ini aku, Distha dan Prasta sedang di rumah sakit. Maaf ya, Dy. "


" Ya Allah ! Gimana kondisinya sekarang, Ka ? " tanya Audy.


" Udah siuman barusan. Sekarang lagi nunggu mau dipindahkan ke kamar perawatan, " tutur Saka.


" Syukurlah ! Baiklah, Ka. Tolong info kamar dan rumah sakit tempat Danisha dirawat ya... "


" Iya, nanti aku WA. Tapi lebih baik besok aja, Dy. Sekarang dia butuh istirahat. "


" Ok, sampai ketemu ya, Ka. Titip salam buat Danisha. Bye, Ka. "


" Ok, bye.... " Saka menutup panggilan teleponnya dan kembali menemui Danisha di ruangan UGD.


Saka yang baru saja masuk ke ruang UGD mendengar perdebatan antara Danisha, Bunda, Distha dan Prasta. Danisha masih keukeuh tidak mau rawat inap di rumah sakit.


Danisha yang melihat Saka baru saja masuk langsung merengek pada sahabat terdekatnya, jika ia ingin pulang saja, tidak perlu dirawat inap.


" Ka, aku mau pulang aja. Aku ga apa-apa, cuma kecapekan aja. Aku janji, di rumah aku akan istirahat dan minum obat sesuai petunjuk dokter, " rengeknya pada Saka.


Saka tersenyum menghampiri gadis kesayangannya. Bunda menatap Saka memberikan isyarat dengan gelengan kepala. Bunda tahu jika Saka tidak akan tega menolak permintaan Danisha.


Saka paham akan isyarat Bunda. Ia pun tersenyum, mengusap lembut lengan Bunda.


Semua yang ada di tempat itu memandang Saka dengan tatapan meminta supaya Saka dapat membujuk Danisha untuk dirawat di rumah sakit.


" Hey ! Jeyeg banget kalo cemberut gitu ! " kelakar Saka sambil menyentil hidung mancung gadis berlesung pipi kesayangannya. Ia duduk di pinggir brankar tempat Danisha berbaring.


Danisha mendengus pelan.


Saka terkekeh melihat sikap sahabat dekatnya.


" Semua tau kamu ga apa-apa, kamu kuat. Kamu cuma kecapekan. Alangkah baiknya kalo kamu istirahat di sini, supaya kamu lebih kuat dan lebih sehat. Kalo kamu lebih kuat dan lebih sehat, kamu bisa cepat selesaikan tugas kuliah, " jelas Saka berusaha membujuk Danisha.


" Istirahat di rumah kan sama aja, Ka.... "


" Kalo kamu di rumah, ga ada perawat dan ga ada dokter yang menjagamu. "


" Tapi Ka... a...aku.... " Danisha tidak meneruskan ucapannya. Ia menatap Saka dengan puppy eyes nya.


Saka tersenyum, ia tahu apa yang dirasakan gadis di hadapannya. Ia melihat ada rasa takut di mata gadis kesayangannya itu.

__ADS_1


Saka menggenggam tangan Danisha, tersenyum menatap puppy eyes gadis itu.


" Masa iya, Danisha Almanita takut ? Ga banget deh ! " Saka terkekeh, diikuti kedua sahabatnya, Distha dan Prasta.


" Hilih ! Kek gini aja kamu takut ? Cuma tiduran, istirahat. Kok takut sih ! " celetuk Prasta.


" Nah ! dikejar-kejar oknum satpol kamu malah nantangin, ga ada takutnya ! " kelakar Distha.


Mereka pun terbahak. Danisha hanya terkekeh mendengar celotehan sahabat-sahabatnya. Ia teringat ketika dikejar oknum satpol karena menolong anak-anak jalanan.


" Masih takut ? Dokter dan perawat di sini menjaga dan merawat kamu, bukan mencelakaimu kek oknum satpol itu, " cetus Saka.


" Kita bakal sering ke sini temani kamu. Aku akan jaga kamu 24 jam kalo perlu. Katanya kamu ingin liat lampion ? Mau main sama adik-adik dibawah jembatan itu. Kamu udah janji kan, kamu harus sehat. Baru aku mau mengajakmu ke tempat-tempat itu. Gimana ? " tutur Saka tersenyum pada Danisha, ingin sekali ia memeluk gadis itu. Menghilangkan rasa takutnya.


" Bener ya, kalian bertiga bakal sering temani aku, " ucap Danisha masih dengan raut wajah cemberut.


" Siaaaappp Tuan Putri.... " ketiga sahabatnya pun serentak menjawab.


Danisha pun terkekeh, " Aku sayang kalian.... " ucapnya senang.


Ketiga sahabatnya pun tersenyum, akhirnya mereka berhasil membujuk Danisha untuk dirawat di rumah sakit.


******


Saka dan Prasta sedang berada di kantin rumah sakit setelah Danisha dipindahkan ke kamar perawatan. Mereka berdua sedang menikmati kopi hitam dan beberapa camilan.


" Kamu ga jemput Renata, Pras ? " tanya Saka sebelum mulutnya menggigit wafer roll coklat.


" Setengah jam lagi. Sebenarnya Renata mau ke sini naik ojol tapi aku larang. Udah sore juga, biar Danisha istirahat, " ujar Prasta.


" Iya, lebih baik besok aja. Audy juga tadi mau ke sini, tapi aku larang. Aku bilang besok aja, " cetus Saka.


" Audy ? "


Saka mengangguk.


" Aku boleh tanya, Ka ? "


" Tanya apa ? "


" Kamu dan Audy.... " Prasta tak melanjutkan ucapannya, karena Saka buru-buru menjawabnya.


" Kami hanya berteman, " singkat Saka menjawabnya.


" Audy cantik lho, pintar dan baik, " ucap Prasta.


Saka menatap Prasta.


" Berani kamu ngomong begitu bila ada Renata ? " celetuk Saka dengan seringai di wajahnya.


" Hey ! Apa-apaan, Bro ! Aku ngomongin kamu dan Audy, ga ada hubungan sama Renata, " tukas Prasta.


" Kamu memuji cewek lain, Brader ! " Saka terkekeh.


" Iya tapi kan maksudku, itu buat kamu lah, bukan buatku. Ish ! " gerutu Prasta.


" Aku udah bilang, kami hanya berteman. Udah jelas, kan ? Ga perlu ada embel-embel lain, " jelas Saka.


Saka menatap Prasta sembari menghela napasnya dalam.


" Kamu cinta Renata, kan ? " tanya Saka pada Prasta.


" Sure, aku sangat mencintainya, " jawab Prasta.


" Ok. Kalo aku menyuruhmu mencintai cewek lain, gimana ? " tanya Saka pada Prasta dengan raut wajah serius.


" Apaan coba ? " Lagi Prasta menggerutu.


" Udah ngerti kan alasanku, " ucap Saka serius.


" Tapi kasihan Audy, Ka. Dia berharap sama kamu. Dia suka sama kamu, " sahut Prasta.


" Darimana kamu bisa menyimpulkan Audy suka sama aku ? " tanya Saka kemudian, dahinya mengernyit.


" Terlihat jelas, Ka. Distha pun punya pemikiran yang sama denganku, " tutur Prasta.


Lagi-lagi Saka menghela napas dalam.


" Udahlah, Renata menunggumu. Buruan berangkat ! " ujar Saka mengingatkan sahabatnya akan tugasnya menjemput sang kekasih.


Saka dan Prasta bangkit dari duduknya, berjalan kembali menuju ke kamar Danisha dirawat.


" Kamu pulang sekalian ? " tanya Prasta.


" Iya, mandi dulu dan kembali ke sini lagi, " jawab Saka.


" Jadi menginap di sini ? " tanya Prasta.


Saka menganggukkan kepalanya.


" Sorry, aku ga bisa menemani, " ucap Prasta sambil menepuk bahu sahabatnya.


" It's ok, " sahut Saka singkat, tersenyum simpul.


Keduanya telah sampai di depan kamar Danisha. Perlahan, Saka membuka pintu kamar. Terlihat Ayah Danisha duduk di sisi ranjang putrinya. Sementara Bunda duduk di sisi ranjang satunya. Saka melihat Danisha sudah tertidur.


Dengan suara setengah berbisik, Saka menyapa dan mencium punggung tangan Ayah Danisha. Demikian pula Prasta.


Lalu, keduanya pamit untuk pulang.


" Saka pulang dulu Ayah, Bunda. Mau mandi dulu. Insya Allah, segera kembali ke sini, " pamit Saka dengan suara perlahan.


" Saka ga usah balik ke sini ga apa-apa kok. Ada Ayah yang menemani Bunda, " Bunda berkata dengan senyum lembutnya.


" Saka udah janji sama Danisha, Bun. Nanti Saka kembali ke sini, " ucap Saka.


" Ayah, Bunda. Prasta pamit pulang. Besok siang ke sini lagi, " pamit Prasta.


" Maafkan kami ya, udah merepotkan kalian, " kata Ayah.

__ADS_1


" Sama sekali tidak merepotkan, kok, " sahut Saka tersenyum.


" Kalian hati-hati di jalan, ya.... " pesan Bunda.


" Salam buat orang tua kalian, " lanjut Bunda.


Saka dan Prasta menganggukkan kepala, lalu beranjak pergi dari kamar rawat Danisha.


*******


Danisha terbangun dari tidurnya saat menjelang adzan Maghrib. Pandangan matanya kabur dan sedikit berputar. Ia mengerjapkan matanya berulangkali, penglihatannya masih saja kabur. Kepalanya pun terasa nyeri sekali.


" Bunda... Bunda... " Danisha memanggil sang Bunda. Danisha terus saja mengerjapkan matanya, menggosok matanya dengan jemarinya agar penglihatannya kembali normal dan tidak kabur seperti saat ini.


" Bundaaaaa...! " Kali ini Danisha berteriak sambil menangis.


Bunda sedang berada di kamar mandi, sedang berwudhu'. Karena itu Bunda tidak mendengar panggilan Danisha. Namun, samar Bunda mendengar suara teriakan Danisha dengan menangis. Begitu selesai berwudhu', Bunda segera keluar. Mendapati putrinya sedang menangis dengan kedua telapak tangan menutupi wajahnya, Bunda pun segera menghampiri.


" Danish ada apa, sayang ? Istighfar, Nak, " ucap Bunda sambil memeluk putrinya.


" Bun, kenapa mata Danisha tidak jelas melihat ? " tanya Danisha seraya terisak.


" Mungkin karena Danish baru bangun tidur. Udah, ga apa-apa. Bunda sholat dulu ya.... " kata Bunda mencoba menenangkan putri sulungnya. Namun, ada perasaan khawatir menghampirinya ketika mendengar perkataan Danisha.


Semoga semuanya baik-baik saja, batinnya.


Bunda menggelar sajadah dan mengenakan mukenah untuk sholat Maghrib.


Beberapa saat kemudian, Bunda telah selesai melaksanakan kewajibannya. Pintu kamar terbuka, Ayah muncul dibalik pintu yang terbuka dan tersenyum lebar pada Danisha yang masih sesenggukan.


" Putri Ayah, kenapa nangis ? " tanya Ayah menghampiri Danisha.


" Ayah ! Ayah baru datang ? " manja Danisha.


" Udah dari tadi Ayah datang. Putri Ayah tidurnya nyenyak banget tadi, jadi Ayah ga tega bangunin, " seulas senyum membingkai wajah Ayah.


Bunda tersenyum memandang ayah dan anak itu. Dua orang yang berharga dalam hidupnya. Kurang seorang saat ini, putri bungsunya, Kirana. Ya, Kirana tidak datang ke rumah sakit karena harus belajar untuk ujian besok.


" Saka kemana, Bun ? " tanya Danisha mencari-cari Saka, penglihatannya masih kabur.


" Saka pulang sebentar, " jawab Bunda.


" Kok ga pamit kalo pulang, " Danish cemberut.


" Tadi kamu tidur, sayang... ga mungkin bangunin kamu yang pulas banget. Iya kan, Yah ? " ujar Bunda yang diikuti anggukan dari Ayah.


" Yah, Bun. Tolong jangan kasih tau Mas Rendra kalo Danish di rumah sakit, " cetus Danisha.


Ayah dan Bunda memandang Danisha dengan dahi mengernyit.


" Kenapa ? " tanya Ayah penasaran.


" Pokoknya jangan. Danisha ga mau ganggu, dia pasti sibuk, " jawab Danisha.


Bunda pun mengangguk dan tersenyum. Diusapnya kepala putri sulungnya. Ada rasa getir di hatinya. Merasakan firasat tidak baik pada putrinya. Namun, semua ia pasrahkan pada Zat pemberi segalanya.


" Assalamualaikum.... "


Pintu terbuka, Saka muncul dengan wajah sumringah dan segar.


" Waalaikumsalam, " jawab Ayah, Bunda dan Danisha.


Saka mencium punggung tangan Ayah dan Bunda. Kemudian menghampiri Danisha.


Diusapnya kepala gadis manisnya, memberikan seulas senyuman menawan miliknya. Danisha tersenyum balik.


" Kamu ke sini sendiri ? " tanya Danisha.


" Iya lah sendiri. Prasta sedang ada acara sama keluarga Renata. Distha seperti biasa sibuk mengantar Mamanya, " jelas Saka, duduk di sisi ranjang Danisha. Jantungnya berdegup dengan keras bila berdekatan dengan gadis penghuni seluruh ruang hatinya.


" Audy ? " tanya Danisha menyebut gadis cantik yang akhir-akhir ini sangat dekat dengan Saka.


" Audy ya di rumahnya mungkin, aku ga tau juga sih. Hehehehe...." Saka terkekeh, lalu bibirnya mencebik.


" Audy cantik lho... pintar dan baik, " ucap Danisha kemudian.


Ayah berbisik pada Bunda, sejurus kemudian mereka berdiri.


" Ayah dan Bunda ke kantin dulu ya... pengen banget minum yang hangat-hangat, " ujar Ayah.


" Titip Danish ya, Saka, " ujar Bunda.


" Iya, Bunda, " jawab Saka singkat dan tegas.


Ayah dan Bunda keluar kamar.


" Audy tau kamu di sini, Ka ? " Danisha bertanya sambil memainkan jilbabnya yang menjuntai hingga menutupi dada.


" Emang aku harus kasih tau dia ya ? Ga ada hubungan juga sama dia lho ! Udah ah ! Kamu mau buah melon ? Ini Mama bawain buah melon dan apel buat kamu. Mama bilang, besok aja dibikinkan salad, " celoteh Saka, tangannya meraih paper bag yang berisi box dengan potongan buah melon didalamnya.


Walaupun matanya masih terlihat kabur, Danisha memandangi wajah Saka. Ada desir aneh di hatinya. Ia bahagia Saka menemaninya. Bahagia melihat wajah sumringah Saka. Bahagia dekat dengan laki-laki rupawan itu.


Saka mengambil sepotong buah melon dengan garpu dan diberikannya pada Danisha.


" Aaaa... mulutnya buka dong ! "


Danisha membuka mulutnya dan menerima buah melon yang disuapkan Saka ke mulutnya. Saka terkekeh menatap Danisha yang tersipu dengan pipi merona.


Kamu....


Sungguh aku tidak tahu kapan perasaan ini akan berakhir. Setiap aku berharap untuk segera mengakhirinya, harapan itu sirna saat aku bersamamu dan menatapmu. Dan aku sendiri tidak tahu bagaimana aku mengendalikan perasaanku....


Tbc


***Hellowww LOTA Lovers πŸ’žπŸ’ž


Senangnya bisa up lagi ☺️ Maafkan author yang sok sibuk yaa... RL benar2 buat author mati gaya 🀧


Semoga suka... πŸ€—

__ADS_1


Tinggalkan jejak kalian ya... jempol dan komennya ditunggu always lho ! πŸ˜‰


Banyak terima kasih cinta dan sayang buat LOTA Lovers πŸ€—πŸ˜˜πŸ’žπŸ’ž***


__ADS_2