
Nay masih penasaran dengan hubungan kakaknya dan Danisha. Apa mungkin mereka sudah berpisah ? Nay bergumam menerka-nerka yang sesungguhnya terjadi antara Danisha dan kakaknya. Apa benar cowok tadi kekasih baru Danisha ? gumamnya lagi. " Ck ! Aku penasaran, besok Mas Rendra harus aku interogasi lagi, " ucapnya dalam hati.
Sementara itu, setelah pertemuan yang tidak disengaja dengan Mas Rendra dan Nay tadi, membuat Danisha banyak terdiam. Ia tampak tak berselera makan. Padahal menu yang dipesan Prasta dan Distha adalah menu kesukaan Danisha. Saka memperhatikan sikap Danisha. Ia hela napasnya.
" Makanannya ga enak ? Mau pesan yang lain ? " tanya Saka pada Danisha yang menyudahi makannya.
Danisha menggeleng, lalu menyesap pelan teh manis hangatnya.
Distha dan Prasta juga menyadari perubahan sikap Danisha. Distha melihat Saka yang sepertinya sedang menahan kekesalannya.
" Sedikit banget kamu makan, sist. Kamu harus minum obat, harus banyak makan. Ga usah dihabisin ga apa-apa, tapi makanlah beberapa sendok lagi, " tutur Distha perlahan.
" Aku udah kenyang, Dis, " sahut Danisha. Lalu ia mengambil obat dari dalam tasnya untuk segera diminumnya.
Saka memperhatikan gadis di sampingnya. Ia tahu jika gadis yang dicintainya masih mencintai sang mantan, cinta pertamanya. Ia harus bersabar kembali untuk menanti gadis berlesung pipi di sampingnya benar-benar memilih dirinya sepenuhnya.
" Kemana, Ka ? " tanya Prasta saat melihat sahabatnya berdiri dari tempat duduknya.
" Toilet, " jawab Saka singkat, lalu beranjak pergi.
" Kamu kenapa, Danish ? " tanya Prasta.
" Aku ga apa-apa. Emang kenapa ? " tanya balik Danisha.
Distha mengedipkan matanya dengan satu jari di bibirnya, menyuruh Prasta diam. Prasta pun menurut.
" Aku ke toilet dulu, " ujar Prasta kemudian.
Danisha menghela napas panjang. Ia sibuk dengan ponselnya. Tanpa sengaja ia melihat postingan Mas Rendra di akun media sosialnya.
Sebuah foto Mas Rendra saat hiking dengan caption, " Kamu tahu apa itu rindu ? Dekatnya bagaikan jantung yang berdetak, namun sejauh langit yang tak tergapai. "
Danisha menghela napas sekali lagi, tiba-tiba ia merasakan sesak di rongga dadanya. Segera ia menutup aplikasi media sosial itu, kembali menyesap teh hangatnya yang tersisa setengah gelas.
Saka dan Prasta telah kembali dari toilet.
" Udah selesai, kan ? Kita pulang, " ujar Saka dengan nada datar dan berjalan meninggalkan tempat itu.
Distha dan Prasta saling memandang melihat sikap Saka yang datar. Danisha pun berjalan menyusul Saka.
*******
Sesampainya di villa, Danisha dan Distha memasuki kamar mereka. Distha pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara Danisha sedang menata pakaian ke dalam travelling bag nya.
" Aku udah selesai, sist. Buruan kamu mandi, udah malam, " ujar Distha sembari duduk di pinggir ranjang.
" Iya, ini baru kelar juga, " sahut Danisha. Ia pun beranjak mengambil pakaian tidurnya dan masuk ke kamar mandi.
Ketika Danisha selesai dari membersihkan dirinya, dilihatnya Distha sudah tertidur lelap. Danisha tersenyum geli melihat begitu lelapnya sahabatnya itu tidur.
Danisha membaringkan tubuhnya di samping Distha. Namun matanya tidak mau terpejam. Ia bangun dari tidurnya, memakai jilbab instannya, lalu berjalan ke arah balkon. Berdiri di dekat pagar balkon, ia menangkupkan kedua tangannya bersedekap di dadanya. Kedua matanya memandang langit yang berbintang.
Masih teringat di benaknya postingan Mas Rendra di akun media sosial lelaki itu. Rasa bersalah menghampirinya. Pertemuan yang benar-benar tak disangkanya beberapa jam lalu tanpa ia sadari telah mengembalikan memorinya pada lelaki yang pernah singgah di hatinya.
" Jika kamu masih mencintainya, kenapa kamu lepaskan ? "
Danisha tersentak dari lamunannya. Pandangannya beralih ke arah suara yang sangat dikenalnya.
" Jika bahagiamu bersamanya, kenapa kamu pergi darinya ? "
Danisha menggelengkan kepalanya menatap Saka yang berdiri di balkon kamar lelaki itu. Saka menundukkan kepalanya dengan kedua tangan bertumpu memegang pagar balkon.
" Ada apa, Ka ? Kamu kenapa ? " tanya Danisha ingin tahu maksud dari ucapan Saka.
Saka menghadap Danisha, berdiri tegak menatap wajah gadis yang sangat dicintainya.
" Katakanlah kamu masih mencintainya, Danish, " ujar Saka berjalan mendekati Danisha.
" Men..cintai, siapa ? " tanya Danisha sedikit terbata.
" Mas Rendra ! " sahut Saka singkat.
" Ka, kami udah selesai. Tolong jangan salah paham, " jelas Danisha.
Saka tersenyum tipis, masih menatap Danisha intens.
" Hatimu masih bersamanya, aku bisa merasakannya. Kenapa kamu melepaskannya ? "
" Ka, please... aku dan dia udah berakhir. "
" Dan kamu tidak bahagia, sweet girl. Kenapa kamu mengakhirinya ? "
Danisha menggelengkan kepalanya.
" Please, Ka.... " tenggorokan Danisha tercekat. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia tak ingin melanjutkan pembicaraan.
" Jangan pernah mengakhiri kebahagiaan yang kamu miliki, sweet girl. Aku tak sanggup melihatmu tak bahagia, " tutur Saka menatap sendu Danisha yang berdiri di hadapannya terhalang pagar balkon.
Danisha terus saja menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingin Saka salah paham.
" Aku bahagia, sangat bahagia. Karena aku memiliki kamu, " tutur Danisha meyakinkan Saka.
Tiba-tiba Saka melompat melewati pagar balkon yang menjadi pembatas kamar keduanya.
" Saka ! " pekik Danisha kaget. Begitu terkejutnya Danisha, hingga ia menghambur memeluk laki-laki yang telah memberikan segalanya untuknya.
__ADS_1
Saka tersentak dengan sikap Danisha yang tiba-tiba memeluknya. Ia pun merengkuh gadis kesayangannya ke dalam dekapannya. Ia merasakan dadanya hangat dan basah. Danisha menangis di dadanya.
Saka mendorong perlahan bahu Danisha agar ia dapat melihat wajah gadis itu. Dihapusnya air mata yang telah luruh membasahi wajah berlesung pipi itu dengan kedua tangannya lembut.
" Please, don't cry. Aku tak sanggup melihatmu menangis. Maafkan aku, " ucap Saka lembut.
Danisha masih terisak pelan. Ia tatap manik hitam di hadapannya. Ia selalu menemukan ketenangan di kedua manik hitam itu. Ia selalu menemukan cinta dan ketulusan di sana. Ia menemukan kebahagiaannya.
Danisha mengangkat sebelah tangannya, mengusap pipi Saka.
" Terima kasih tetap menjagaku dan bersamaku hingga detik ini. Aku bahagia memiliki kamu. Kamu sempurnaku. Kamu menjadikan semua kekurangan dan kelemahan menjadi cinta. Ajari aku untuk bisa menjadi sepertimu. "
Saka meraih kedua tangan Danisha, meletakkannya di dadanya.
" Jika aku tidak baik dan tidak memberi kebahagiaan untukmu, kamu boleh tinggalkan aku. Aku tidak memaksamu untuk selalu bersamaku. Yang harus kamu tau, aku mencintaimu tanpa alasan apapun. Hanya mencintaimu dan akan aku perjuangkan itu untuk selalu membuatmu bahagia. You're my big priority. "
" I love you. Aku percaya kamu. Aku ingin kita berjuang bersama mencari dan menjaga kebahagiaan itu, " ucap Danisha menatap penuh cinta lelaki bermata tajam di hadapannya.
" I love you more, my Bee, " balas Saka tersenyum sumringah, mencium jemari tangan Danisha penuh kelembutan.
Sementara Danisha mengernyitkan dahi hingga kedua matanya menyipit mendengar kata terakhir yang diucapkan kekasihnya.
" Bee ? " tanya Danisha.
Saka terkekeh dan mengangguk membalas pertanyaan gadisnya.
" Lebah ? " tanya Danisha lagi.
" Panggilan sayangku buat kamu, Bee, " jelas Saka mencubit pipi sang kekasih hati.
" Auw ! Sakit, sayang, " Danisha meringis memegang pipinya.
" Maaf maaf ! Sini aku cium biar ga sakit, " Saka menggoda Danisha dengan senyum usilnya.
" Widih, maunya ! " sungut Danisha mencebikkan bibir tipisnya.
Sepasang kekasih yang sedang mereguk kebahagiaan itu pun menikmati indah nya malam yang berhias bintang-bintang. Udara yang semakin dingin tidak sedikitpun membuat mereka terganggu. Duduk berdampingan dengan saling menggenggam erat jemari tangan. Danisha menyandarkan kepalanya di bahu kokoh sang kekasih.
*******
Setengah berlari, Danisha menyusuri lorong kampus setelah dari perpustakaan untuk mencari referensi bahan skripsi nya. Ia harus segera menemui dosen pembimbingnya sebelum sang dosen pergi dari kampus untuk mengajar di kampus lainnya.
Ketika sampai di persimpangan taman kampus dan gedung fakultas ekonomi, tanpa sengaja ia mendengar pembicaraan beberapa orang mahasiswi. Ia pun berjalan perlahan melewati mereka.
" Kasian si Audy, di PHP in Saka. "
" Lah emang Audy masih ngarep jadian ma Saka ? Bukannya Saka dah jadian ama sahabatnya sendiri yang suka pingsan itu ya ! "
" Iya, sama si Danisha yang penyiar radio itu, kan ? "
Danisha mendengar semua perkataan beberapa mahasiswi yang bergerombol di samping gedung fakultas ekonomi itu. Ia menghela napasnya panjang. Ia sungguh tak menyangka mendengar semua obrolan tentang dirinya, Saka dan Audy.
Audy, gadis yang pernah dekat dengan Saka. Jadi benar, Audy mencintai Saka dan sekarang masih mengharapkan lelaki yang sudah menjadi kekasihnya ? tanya Danisha dalam hati.
" Keknya Saka cuman kasian ma tuh cewek ya ! Secara ceweknya sakit-sakitan... trus keluarganya jg biasa aja gitu. Tau sendiri lah, Saka kan dari keluarga berduit. "
Danisha yang tadinya mulai tidak mempedulikan semua obrolan mereka, tiba-tiba menghentikan langkahnya saat mendengar perkataan terakhir dari salah satu mahasiswi itu yang sangat tidak enak didengar di telinga. Ia ingin berbalik dan menghampiri mereka, tapi ia teringat akan tujuannya menemui dosen pembimbingnya. Segera ia berjalan menuju ruangan dosen yang tak jauh dari tempat itu.
Namun tak dipungkiri, hatinya masih teringat dengan semua obrolan yang didengarnya tadi. Konsentrasinya sedikit buyar saat menemui sang dosen untuk mengajukan judul skripsi yang akan diambilnya. Syukurnya, konseling dengan sang dosen masih berjalan lancar dan bisa dikatakan berhasil. Danisha bisa melanjutkan penyusunan skripsinya, meskipun ada sedikit mata kuliah yang memerlukan perbaikan karena kondisi kesehatannya pada saat itu yang tidak memungkinkannya untuk mengikuti mata kuliah.
Jam di tangan kiri Danisha menunjukkan angka 11 tepat. Ia duduk di bangku di depan ruang dosen sembari menata lembar demi lembar kertas presentasinya ke dalam sebuah filing pouch berwarna biru miliknya.
Danisha menghela napasnya pelan. Masih teringat jelas obrolan beberapa mahasiswi tadi tentang dirinya. Entah kenapa hatinya mulai gamang memikirkan semua perkataan mereka.
Saat baru beberapa langkah meninggalkan ruangan dosen, ponsel yang sedang digenggamnya berbunyi.
Saka memanggil. Danisha tersenyum tipis dan menggeser tombol hijau ponselnya sambil terus berjalan perlahan.
" Hallo. "
" Hai, Bee. Udah kelar konseling nya ? "
" Udah, " singkat Danisha menjawab pertanyaan sang kekasih.
" Kenapa ? Semua lancar dan beres, kan ? "
" Iya. "
" Kamu dimana ? Masih di ruangan dosen ? "
" Barusan keluar. Kamu masih di kantor ?
" Lagi di jalan. Mau jemput my Bee, " Saka terkekeh di seberang sana.
" Udah dibilang kalo lagi nyetir jangan nelpon. Udah tutup dulu, " sungut Danisha.
" Bee, Bee... wait ! Aku kan pake headset bluetooth. "
" Sama aja, bahaya ! Udahan dulu. "
" Wait me, my Bee. Love you.... "
Danisha mematikan tombol merah ponselnya. Ia pun bergegas menuju pintu gerbang kampus menunggu Saka yang akan menjemputnya.
Sudah hampir 9 bulan ia dan Saka menjadi sepasang kekasih, bukan lagi sebagai sahabat. Ia kini telah benar-benar yakin, dirinya mencintai lelaki itu. Dan hari ini, tiba-tiba hatinya menjadi gamang setelah mendengar obrolan beberapa mahasiswi tadi.
__ADS_1
Hari ini, Distha dan Prasta tidak ke kampus karena memang mereka tidak ada jam kuliah. Saka pun demikian. Dia diminta sang Papa untuk membantu di kantor orang tuanya. Sejak 3 bulan lalu, jika tidak ada kegiatan di kampus dan pekerjaan dari Kak Sandra, Saka diminta orang tuanya untuk membantu pekerjaan sang Papa di kantornya. Saka pun juga sedang mempersiapkan penyusunan skripsi. Hanya saja, mereka berbeda dosen pembimbing.
Danisha duduk di bangku yang tersedia di depan pos security. Menunggu Saka datang menjemputnya.
Tin... Tin....
Danisha mendongakkan kepalanya saat mendengar bunyi klakson mobil. Ia melihat mobil sang kekasih sudah berada di depan pintu gerbang kampus. Ia pun beranjak berjalan menghampiri mobil Honda CRV kekasihnya dan bergegas masuk ke dalamnya.
Saka tersenyum manis menyambut Danisha yang telah duduk di sampingnya.
" Sorry ya, Bee. Macet tadi, " ucap Saka.
" Hu um, ga apa-apa, " ujar Danisha tersenyum kecil.
Saka pun melajukan mobilnya setelah Danisha memasang sabuk pengaman.
" Mama tadi nelpon kamu ? " tanya Saka.
" Ga tuh ! Kenapa ? " tanya balik Danisha.
" Tadi Mama bilang minta ditemani ke butik temannya. Aku bilang kamu ke kampus, setelah itu ke studio ada jadwal siaran, " cerita Saka.
Ya, Danisha sudah mulai aktif siaran di Radio DG FM sejak 6 bulan lalu. Pak Andre dan Kak Ella memintanya untuk kembali menjadi penyiar di sana. Awalnya kedua orang tua dan kekasihnya tidak memperbolehkannya untuk kembali bekerja sebagai part time announcer mengingat kondisi kesehatannya. Namun, Danisha berhasil meyakinkan semuanya bahwa dirinya akan baik-baik saja. Terlebih Dokter Aldi juga mengijinkannya asalkan Danisha mampu menjaga kondisi tubuhnya dengan baik, mengkonsumsi makanan sehat, berolahraga dan tidak lupa untuk mengkonsumsi vitamin yang diresepkan oleh Dokter Aldi.
" Trus Tante Dinda bilang apa ? " tanya Danisha kemudian.
" Ya, aku bilang supaya nelpon kamu langsung aja, " ujar Saka.
Danisha tersenyum mengingat Tante Dinda, Mama dari kekasihnya yang sangat perhatian dan menyayanginya.
" Ya udah, bilang aja besok aku off. Besok aja perginya, " ujar Danisha.
Saka tersenyum menatap Danisha. Ia berdehem pelan sebelum memulai bicaranya lagi.
" Bee, selesai siaran jam 4 sore kan ? " tanya Saka.
" Insya Allah. Kenapa ? "
" Uummm... kalo aku ajak pergi, capek ga ? " tanya Saka ragu.
" Kemana ? " Danisha bertanya balik.
Saka sedikit menegakkan tubuhnya, matanya masih tetap fokus ke jalanan.
" Uummm... acara ulang tahun Audy, " ucapnya diikuti deheman kecil.
Danisha terdiam. Pikirannya pun melayang pada kejadian di kampus tadi. Audy ulang tahun dan ia tidak tahu. Tapi Saka mengajaknya datang ke acara ulang tahun Audy.
" Bee ? Kalau kamu capek, kita ga usah datang ga apa-apa, " ujar Saka kemudian.
" Aku ga datang ga apa-apa, kan ? Kamu kalo mau datang, ya ga apa-apa. Kan undangannya buat kamu, " kata Danisha tersenyum tipis.
Saka terdiam sesaat.
" Mau makan dimana, Bee ? " tanya Saka, ingin mengalihkan pembicaraan.
" Aku ga lapar. Langsung ke studio aja, " sahut Danisha datar.
" Ga lapar gimana ? Ini udah waktu makan siang lho ! "
" Aku masih ada roti kok. Cukup buat makan siang, " ujar Danisha.
Saka kembali terdiam. Ia melirik sekilas kekasihnya. Lalu menghela napasnya pelan.
Sesampainya di studio DG FM, Danisha hendak turun dari mobil. Namun, Saka menahannya. Dipegangnya pergelangan tangan Danisha.
" Kamu marah ? " tanya Saka menatap Danisha lekat.
Danisha menggeleng, tersenyum lembut pada Saka.
" Aku turun, ya. Makasih udah diantar. Buruan balik ke kantor, salam buat Papa. Hati-hati di jalan, " pamit Danisha, kemudian turun dari mobil Saka.
Saka kembali menghela napasnya, melajukan mobilnya meninggalkan studio Radio DG FM. Ia tahu jika gadisnya itu sedang tidak enak hati. Ada rasa sesal di hatinya, kenapa ia tadi membicarakan masalah undangan acara ulang tahun Audy.
Tbc
**Hellooww LOTA Lovers 💞💞
Udah eps 50 aja yak 🤧
Thank you buat LOTA Lovers yg slalu setia nungguin up tiap harinya
So sorry ya kalo belum bisa up tiap harinya, RL membuatku mati gaya 😌
Smg tetap slalu setia di lapak ini
Danisha dah kembali siaran lho, ada yg mo request lagu, boleh donk ditulis di kolom komen yak 🤗
Tetap slalu jaga kesehatan LOTA Lovers 💞💞
__ADS_1
Salam sayang n cinta 🤗😘💞💞**