
Sore itu, Saka baru saja selesai membersihkan tubuhnya setelah berolahraga ringan di teras belakang rumah. Berdiri di balkon mengamati pemandangan di halaman depan rumahnya yang sedari pagi sudah sibuk mempersiapkan keperluan untuk acara resepsi pernikahannya dengan Danisha, gadis pemilik seluruh hatinya.
Akad nikah besok pagi akan dilaksanakan di rumah Danisha. Ia yakin, di rumah kekasihnya itu juga pasti sudah sibuk sedari pagi. Malam ini akan diadakan pengajian, baik di rumah Saka maupun Danisha.
Dari kemarin hingga sore ini, mereka belum sekali pun bertemu. Jangankan bertemu, berhubungan melalui telepon pun tidak. Jangan tanya bagaimana rindunya Saka pada Danisha yang besok akan sah menjadi kekasih halalnya, satu-satunya teman hidupnya.
Saka kembali masuk ke dalam kamarnya. Belum lama ia duduk di ranjangnya, tiba-tiba suara sang Mama terdengar memanggilnya, diikuti pintu kamar yang terbuka. Saka memang sengaja tidak mengunci pintu kamarnya seharian ini.
" Ka, tadi Ardhy nelpon Mama. Katanya ponsel kamu ga bisa dihubungi, " kata Bu Dinda memberitahu Saka.
" Barusan selesai ngisi baterai, Ma. Ada apa Bang Ardhy nelpon ? Ga bisa datang malam ini ? " tanya balik Saka.
" Katanya tadi sih, datang ! " jawab Bu Dinda.
" Trus ada apa nelpon, Ma ? " tanya Saka lagi.
" Mama juga ga ngerti, tuh ! " jawab Bu Dinda sembari mengangkat kedua bahunya.
" Ka, nanti orangnya Kakakmu mau dekor kamar kamu. Jangan dikunci pintunya, trus kamu amankan dulu barang-barang berharga kamu. Letakkan di kamar Mama aja, " ujar Bu Dinda memberitahu Saka.
" Iya, Ma. Kan kemarin udah Saka ungsikan di kamar Mama. Yang lain barang-barang kecil udah Saka masukkan ke lemari itu, " terang Saka, tangannya menunjuk lemari besar pakaiannya yang ada di sudut kamarnya.
" Ya, udah. Mama turun dulu, ya. Lepas maghrib segera turun, " titah Bu Dinda sebelum keluar dari kamar putranya.
" Ma ! " panggil Saka saat tangan sang Mama memegang gagang pintu.
Bu Dinda menghentikan gerakannya dan berbalik.
Saka menghampiri wanita paruh baya yang telah melahirkannya.
" Boleh ya, Saka nelpon Danisha ?" tanya Saka dengan wajah memelas.
" No ! " tegas Bu Dinda dengan menggoyang jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri.
" Ayolah, Ma... Sebentar aja, kok ! Ya ? " rengek Saka.
" Tidak boleh, ya, tidak boleh ! Besok pagi kan, kalian ketemu, sabar dikit lah... ! " tukas Bu Dinda.
" Lima menit aja, deh ! Ya, Ma ? " rayu Saka masih dengan wajah memelas.
Bu Dinda menggelengkan kepala dengan wajah yang serius.
" Mama kan tau kalau Saka ga bisa jauh-jauh dari Danish. Please, deh ! Ya, Ma ?? " imbuh Saka mengiba, masih berusaha merayu sang Mama.
Bu Dinda menatap putra satu-satunya. Ia tahu benar jika putranya benar-benar merindukan Danisha, calon istrinya. Lama-lama hatinya tidak tega melihat putra satu-satunya itu memendam rindu pada calon istrinya. Pasti sangat membuatnya tertekan.
" Baiklah, 5 menit aja. Mama tungguin di sini, " ucap Bu Dinda akhirnya luluh juga.
" Hah ? Ngapain Mama nungguin Saka nelpon Danisha ? " tanya Saka kaget.
" Udah... Jadi nelpon, ga ? "
" Tapi.... "
" Tapi apa ? Pokoknya Mama tungguin ! Kalau ga mau, ga usah nelpon ! " galak Bu Dinda.
Saka langsung memasang wajah cemberut. Mau tidak mau ia akan ikuti apa kata Mamanya daripada tidak diperbolehkan menelpon sama sekali.
" Iya... Iya ! " sahutnya dengan helaan napas panjang.
Bu Dinda tersenyum geli melihat putranya yang langsung menelpon Danisha.
" Assalamualaikum, Bee. "
" Waalaikumsalam, calon imamku. "
Bu Dinda mengerutkan dahinya melihat perubahan wajah Saka yang tadinya cemberut sekarang berubah berbinar tersenyum lebar.
" Kamu baik kan, Sayang ? " tanya Saka dengan perasaan yang membuncah bahagia mendengar suara indah calon istrinya yang memanggilnya 'calon imamku'.
" Alhamdulillah... Tapi aku kangen. "
Suara manja Danisha membuat perasaan Saka semakin merindu. Ia melirik sang Mama yang mencuri pandang padanya.
Saka berjalan keluar menuju balkon kamarnya. Bu Dinda pun mengikutinya.
" Udah hampir 5 menit, " ucap Bu Dinda, yang sontak membuat Saka berbalik badan.
" Ish ! Mama ngapain sih, ngikutin Saka ! Ck ! " sungut Saka.
" Biar kamu ga ngomong yang macem-macem sama Danish ! Udah 5 menit ! " omel Bu Dinda, tangannya langsung merebut ponsel Saka. Membuat Saka semakin geregetan dengan sikap Mamanya. Ia menggeram kesal.
" Danisha anak cantik Mama, udah dulu bicaranya ya, Sayang. Sabar ya, besok pagi kan kalian ketemu, " ujar Bu Dinda lembut.
__ADS_1
Saka merotasikan bola matanya malas sambil menahan kekesalannya.
" Udah, ya... Masih banyak yang Mama urusin. Hampir maghrib, kamu juga harus siap-siap, " cetus Bu Dinda, lalu beranjak pergi.
" Mama, ih ! Beneran ga asik ! " gerutu Saka.
Bu Dinda tersenyum tipis sembari membuka pintu kamar Saka.
" Eh ! Ponsel Saka jangan dibawa, dong ! Ma ! Balikin ponsel Saka ! " seru Saka sembari berlari mengejar wanita paruh baya yang masih juga enerjik itu.
" Ga ada ! Mama yang bawa ! " tegas Bu Dinda dengan galaknya, matanya menatap tajam putranya.
Saka menautkan kedua alis tebalnya, berdecak kesal. Sangat kesal. Namun ia bisa apa, wanita super yang sudah melahirkannya itu tidak akan bisa dibantah bila sudah begitu.
Dengan gontai, Saka kembali masuk ke kamarnya dan mulai mempersiapkan diri untuk pengajian yang akan dimulai setelah Isya.
Bee, aku rinduuuuuuu... ! teriaknya dalam hati.
Sementara itu, hal yang sama sedang terjadi di rumah Danisha. Semua sibuk mempersiapkan acara pengajian. Orang-orang dari WO Kak Sandra juga sedang mendekor rumah Danisha untuk acara akad nikah besok pagi.
Danisha berada di kamarnya, baru saja selesai membereskan kamarnya yang sesaat lagi akan didekor oleh orang-orang dari WO Kak Sandra.
Setelah tadi menerima telpon dari Saka, ia segera membereskan kamarnya. Merapikan semua barang-barang yang ada di kamarnya. Menyimpan barang-barang yang penting dan berharga di dalam lemari dan menguncinya. Sebagian barangnya juga ada yang ia simpan di kamar sang Bunda.
Danisha menghela panjang napasnya. Ia berdiri di dekat jendela kamarnya mengamati suasana di halaman rumahnya yang tidak terlalu luas. Tenda sudah berdiri sejak pagi tadi. Beberapa orang sibuk menata kursi dan tempat untuk acara akad nikahnya besok pagi.
Bersyukur, cuaca hari ini sangat cerah. Semoga pengajian malam ini, akad nikah besok pagi dan semuanya berjalan lancar.
Ka, aku kangen. Maafkan aku, bisiknya di dalam hati.
Siang tadi, ia mendapat pesan dari Dokter Aldi yang mengingatkannya mengenai operasinya.
Sesungguhnya ia ingin mengatakan kepada kedua orang tuanya mengenai kondisinya. Namun, entah kenapa lidahnya kelu. Ia tak sanggup mengatakan sedikit saja mengenai kondisinya saat ini. Tak terkecuali pada Saka, calon suaminya.
Aku hanya menanti keajaiban dan mukjizat Mu, Ya Allah. Berikan aku waktu lebih banyak untuk membahagiakan mereka. Doanya dalam hati.
Ponselnya berbunyi saat ia akan beranjak ke ranjang tidurnya. Segera ia meraih benda pipih yang diletakkannya di atas meja kecil di sebelah ranjangnya.
Dibukanya layar kunci ponselnya. Ia terkejut melihat pesan yang baru saja masuk. Mas Rendra. Ia memang sengaja tidak mengundang lelaki yang sempat mengisi hatinya itu. Lalu, ada apa dia mengirim pesan? tanyanya dalam hati.
Mas Rendra
" Hai ! Selamat, ya ! Aku yakin kamu bahagia bersama Saka hingga melupakan tidak mengirimiku undangan pernikahan kalian. It's ok, ga masalah. Terlalu banyak kesalahanku padamu, wajar bila aku dilupakan. Again, congratulation ! "
Me
" Maafkan aku. Ada hati yang harus kujaga saat ini. Terima kasih masih mengingatku. Tetapi aku akan sangat berterima kasih bila kita bisa saling melupakan dan menjaga hati kita dan hati pasangan kita masing-masing. Maaf dan selamat berbahagia 🙂🙏. "
********
Keesokan paginya, selepas sholat Subuh, Danisha sudah mulai dirias oleh MUA rekomendasi Kak Sandra selaku WO. Demikian pula Bunda dan Kirana, juga beberapa anggota keluarga.
Ada dua orang MUA yang meriasnya, sementara tiga orang lainnya merias Bunda dan beberapa anggota keluarga. Sementara Distha menolak untuk dirias oleh MUA di rumah Danisha. Dia memilih untuk merias dirinya di rumah dengan bantuan Kak Mitha dan Mamanya.
Sejak bangun dari tidur, hatinya berdebar tak menentu. Hari ini adalah hari terpenting dan teristimewa untuknya dan Saka. Hari ini, segera mereka akan sah menjadi pasangan suami istri.
Danisha telah selesai dirias dan mengenakan gaun pengantinnya. Para MUA yang meriasnya menatap kagum pada Danisha yang saat ini sedang mematut dirinya di depan cermin. Danisha sendiri seolah tidak percaya dengan tampilan dirinya.
" Mbak Danisha sangat cantik dan menawan, sempurna sekali, " puji Bu Lely, yang merias Danisha, tersenyum puas.
" Bu Lely bisa aja. Ini semua karena sentuhan tangan Ibu yang luar biasa. Saya sangat suka dan puas dengan make up nya, Bu. Terima kasih banyak, " ucap Danisha tersenyum sumringah.
Dengan balutan kebaya brokat lace berwarna off white dengan aksen silver bros di dada dan hijab flower serta roncean melati yang menjuntai dari atas kepalanya, Danisha terlihat begitu mempesona. Riasan minimalis pada wajah ayunya yang tidak terlalu tebal, apalagi jika tersenyum dengan lesung di kedua sisi pipinya. Menambah semakin cantik dan mempesona penampilannya.
Pintu kamar Danisha dibuka seseorang. Ayah dan Bunda serta Kirana masuk ke dalam kamar Danisha yang harum dan indah dengan dekorasi yang telah dibuat.
" Kakak cantik pake banget-banget ! Pangeran kodokmu pasti nanti makin terpesona, " kelakar Kirana.
" Hush ! Kiran, jangan biasakan panggil kakak iparmu begitu ! Ga sopan ! " tegur Bunda.
Kirana terkekeh sambil menutup mulutnya dan meminta maaf.
" Maaf ! Keceplosan, udah kebiasaan, sih ! " ucap Kirana menyesal.
" Makanya, mulai sekarang biasakan memanggil kakak iparmu dengan sebutan yang benar dan sopan, " nasehat Bunda pada Kirana.
" Putri Ayah udah siap ? " tanya Ayah tersenyum. Matanya berbinar bahagia dengan tatapan sendu kepada putri sulungnya yang sebentar lagi akan pergi darinya bersama lelaki pilihannya.
" Ayah... ! " Danisha menghambur memeluk sang Ayah.
" Sudah, jangan begini, Sayang. Nanti riasannya rusak lho ! " hibur Ayah sembari melerai pelukan putrinya dengan perlahan.
Mulut Danisha mencebik.
__ADS_1
Bunda menghampiri Danisha, merangkul putrinya sambil mengusap lembut punggung sang putri.
" Udah mau jadi istri orang ga boleh cengeng. Harus kuat dan mandiri, apapun yang terjadi. Ga boleh manja. Harus menghormati suami dan melayani suami dengan baik. Ya ? Ingat itu, Sayang, " tutur Bunda penuh kasih sayang.
" Satu lagi, ga boleh membantah suami. Dan harus jujur ! " nasehat Ayah penuh kelembutan tetapi terdengar tegas.
Danisha menganggukkan kepalanya.
" Iya, Ayah, Bunda. Terima kasih untuk nasehatnya. Insya Allah akan Danish laksanakan, " ucap Danisha.
" Kakak jangan lupain Kiran, lho ! Mentang-mentang udah punya Kak Saka trus Kiran dilupakan. Kita masih bisa jalan bareng kan, Kak ? " celetuk Kirana dengan tawa kecilnya.
" Ish ! Mana mungkin Kakak lupa sama adik Kakak yang bandel ini ! " sahut Danisha, tangannya mencubit dan menarik ujung hidung adiknya hingga gadis itu meringis kesakitan.
" Assalamualaikum ! "
" Waalaikumsalam ! Distha ! " seru Danisha senang.
Distha menghambur memeluk Danisha.
" Kamu cantik banget, Sist ! Perfecto ! " puji Distha sembari menatap sahabatnya penuh kebahagiaan.
" Thank you ! Kamu juga cantik banget, deh ! Pasti Kak Mitha, kan, yang bikin kamu jadi bidadari begini...? " cetus Danisha tersenyum menggoda sahabatnya.
" Gimana, ya ? Emang bener, sih ! " sahut Distha diikuti kekehan semua orang yang ada di kamar Danisha.
" Kak Distha nanti pasti bikin Kak Dokter tidak berdaya alias klepek-klepek, deh ! " celetuk Kirana, yang spontan mendapat tatapan tajam dari Distha, kakaknya dan tentu saja kedua orang tuanya.
" Ups ! Salah lagi, ya ! Maaf ! " ucapnya dengan kedua tangan menutup mulutnya.
Danisha menggelengkan kepalanya, adik satu-satunya itu memang tengil dan sedikit bar-bar. Bicaranya ceplas-ceplos apa adanya.
" Eh iya, Ayah ! Sampai lupa kasih tau. Rombongan Saka sebentar lagi datang. Mobil mereka tadi ada di belakang mobil Distha, " ujar Distha memberitahu bahwa sebentar lagi rombongan Saka akan segera datang.
" Baiklah, ayo Bun, kita bersiap ke depan menyebut mereka. Danish, kami tinggal dulu, ya. Distha dan Kirana temani pengantin wanitanya dulu. Nanti kalau sudah tiba saatnya, antar Danisha ke depan, " terang Ayah yang diikuti anggukan kepala semua yang ada di tempat itu.
Jangan ditanya bagaimana perasaan Danisha saat ini. Jantungnya berdebar kencang. Perasaannya deg-degan dan sangat gugup. Kedua telapak tangannya sangat dingin. Ia duduk di kursi di depan meja riasnya. Sesekali Bu Lely dan asistennya membetulkan riasan Danisha supaya tampil sempurna.
Tak berapa lama terdengar ramai dan riuh di depan rumah Danisha. Kirana berjalan mendekati jendela kamar dan menyibak tirai sedikit untuk melihat yang terjadi di depan rumah.
" Kakaak... Pangeran Kodokmu sangat tampan ! Eh, lupa ! Kakak ipar maksudku ! " ujar Kirana sembari terkekeh menggoda sang Kakak.
Jantung Danisha semakin berdegup kencang. Ia beranjak dari duduknya hendak melihat rombongan calon suaminya lewat jendela kamarnya. Namun, langkahnya ditahan oleh Bu Lely dan Distha. Keduanya menatap Danisha dengan gelengan kepala.
" Duduk di sini aja, Mbak Danish. Sebentar lagi pasti ketemu, kok ! " cetus Bu Lely.
Danisha mendengus lirih, bibirnya mencebik lagi. Ia sungguh ingin melihat Saka, calon suaminya. Perasaannya sudah di ambang batas kerinduan yang mendalam. Memang benar, ia harus sabar. Sesaat lagi, ia akan bertemu Saka sebagai kekasih halalnya, teman hidupnya. Bukan lagi sekedar pacar atau calon suami. Ia menghela napasnya panjang untuk menghalau kegugupannya.
********
" SAH ? "
" SAH ! "
Terdengar seruan sah dari beberapa orang yang menjadi saksi akad nikah setelah Ayah mengucapkan ijab kabul menikahkan putri sulungnya dan diterima oleh Saka dengan sekali ucapan dan tarikan napas.
" Alhamdulillah... Barakallah lakuma wal barakah.... "
Semua orang pun mengucapkan syukur dan penghulu memanjatkan doa untuk pasangan pengantin yang telah sah dan halal menjadi sepasang suami istri untuk membina keluarga sakinah, mawadah dan warahmah.
Di dalam kamar, Danisha turut mengucap syukur, mengaminkan doa yang dipanjatkan oleh penghulu. Ia menyeka bulir bening yang siap jatuh dari matanya menggunakan tisu yang dipegangnya sedari tadi secara perlahan dan hati-hati supaya tidak merusak riasan di wajahnya. Sedikit terisak, ia memeluk Distha yang duduk di sampingnya. Kirana pun ikut memberikan pelukan sembari mengucapkan selamat pada sang Kakak tersayang.
" Selamat, Kak ! " ucap Kirana ikut terisak.
Distha pun terisak, tetapi dengan senyuman terukir di bibirnya.
" Selamat, My Sista. Doa in aku segera menyusul, ya.... " Distha berucap sembari menyeka air matanya dengan jari telunjuknya. Danisha menganggukkan kepalanya tanpa berucap apapun.
" Selamat, Mbak Danisha. " Bu Lely dan asistennya pun tak ketinggalan mengucapkan selamat pada mempelai wanita.
Kemudian terdengar pembawa acara yang tak lain adalah Kak Ella, memanggil mempelai wanita untuk hadir di tempat acara akad nikah untuk menemui mempelai pria untuk menyerahkan mas kawin dan menyematkan cincin pernikahan di jari masing-masing mempelai.
Distha, Kirana, Bu Lely dan asistennya mendampingi Danisha menuju tempat acara menemui Saka yang sudah sah menjadi suaminya setelah sebelumnya membetulkan riasan dan penampilan Danisha.
Berjalan perlahan, Danisha tersenyum bahagia menatap ke depan. Mencari sosok yang sangat dirindukannya selama dua hari kemarin. Kedua matanya memancarkan binar bahagia, meskipun jantungnya seakan ingin melompat keluar karena bahagia yang membuncah.
Tbc
**Hellooww LOTA Lovers 💞💞
Ihiiiiyyy... Sah ! Halal ! Finally... Bahagia ga sih kalian... Nantikan terus yaa... Next acara resepsinya. Persiapkan diri kalian ke acara resepsi mereka ya LOTA Lovers, dandan yg cantik yaa 🤭😘💞💞
Stay safe n healthy 🤗😘💞💞**
__ADS_1