Love On The Air

Love On The Air
Eps 49 I'm Yours And You're Mine


__ADS_3

Danisha terpaku menatap Saka yang juga sedang menatapnya penuh cinta. Untuk yang kesekian kali, Saka mengungkapkan seluruh isi hatinya. Namun baru kali ini, ucapan Saka membuatnya melayang dan menghangat di antara dinginnya udara di villa saat itu.


Saka membawa kedua telapak tangan Danisha ke wajahnya. Menciumnya sekilas.


" Aku mencintaimu, sweet girl, " ucap Saka kembali setengah berbisik. Ia tak mau berpaling dari tatapan sendu Danisha. Gemuruh di dadanya semakin keras.


" Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang jika memang masih meragu. Aku tau, cinta yang kamu miliki bukan untuk aku. Tapi ijinkan aku untuk selalu mencintaimu, karena kamu adalah bahagiaku. Mencintaimu adalah kebahagiaanku dan kebahagiaanku adalah membuatmu selalu bahagia. "


Danisha masih tak bergeming di hadapan Saka. Ia masih menelaah hatinya. Laki-laki dengan mata tajam di hadapannya selalu menemaninya, tak pernah pergi meninggalkannya. Ya, Saka Abimanyu, selalu membuatnya bahagia. Apapun dilakukan laki-laki yang telah dikenalnya sejak masih sekolah dengan seragam putih abu-abu untuk membuatnya bahagia. Lelaki di hadapannya adalah teman segalanya buat dirinya.


Masih menatap wajah rupawan di hadapannya, bibir tipis Danisha menyunggingkan senyuman diantara wajah sendunya.


" Aku ingin kamu menjadi teman ceritaku, teman marahku, teman bercandaku, teman mainku, teman berjuangku dan, please jadilah satu-satunya teman hidupku. "


Kedua mata tajam Saka melebar, ia tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya dari suara sedikit parau yang keluar dari bibir tipis gadis berlesung pipi sumber kebahagiaannya.


Saka menatap wajah Danisha intens, menelisik kedua manik mata gadis kesayangannya. Mencari kebenaran dari mata indah gadis itu.


Danisha pun melakukan hal yang sama. Sejurus kemudian, Danisha memeluk tubuh Saka.


" Jangan pernah meninggalkan aku. Jadilah satu-satunya teman hidupku. Please be mine, " ucap Danisha di sela isak tangisnya yang sudah tak bisa ditahannya.


Saka tersenyum bahagia. Kedua tangannya merengkuh tubuh Danisha, didekapnya hangat. Ia bahagia, penantian panjangnya berakhir malam ini. Gadis di hadapannya akhirnya membalas perasaannya.


" Thank you. I'm yours and you're mine, sweet girl. "


Pada akhirnya hatimu akan dibuat sembuh oleh seseorang yang mengerti dengan benar bagaimana caranya menyembuhkan.


Mungkin pada awalnya engkau terlalu enggan untuk menoleh ke arahnya. Namun karena keinginannya untuk membuatmu sembuh meskipun sempat terabaikan. Ikhlasnya dalam menyembuhkanmu mampu membuatmu penuh mencintainya.


******


Mata indah gadis berhijab soft blue itu berbinar indah menatap deretan lampion berbagai bentuk di hadapannya. Warna warni indah lampion selalu membuatnya takjub.


" Suka ? " tanya lelaki muda di sampingnya yang menggenggam erat tangannya.


Gadis itu mengangguk dengan senyum bahagianya.


" Thank you, " ucapnya menatap wajah rupawan di sampingnya.


" Everything for you, my sweet girl, " jawab lelaki itu mengecup sekilas puncak kepala gadis berhijab itu.


" Danish, sini ! Foto, yuk ! " seru Distha yang duduk di atas kereta kencana yang dihias dengan lampu warna warni.


Danisha tersenyum lebar, menarik tangan Saka untuk menghampiri Distha dan Prasta.


Saka tersenyum sembari menggelengkan kepala melihat tingkah polah gadis yang sudah memiliki hatinya.


Mereka berempat pun mengambil beberapa spot foto untuk diabadikan menggunakan kamera milik Prasta.


Setelah puas berfoto dengan warna warni lampion berbagai bentuk dan ornamen, mereka pun beralih ke wahana permainan yang ada di Batu Night Spektakuler.


" Kita naik bianglala ya, " ajak Danisha.


" Sayang, ga usah naik bianglala dulu, ya. Kita coba wahana permainan lainnya aja, " ujar Saka pada Danisha. Ia tidak ingin terjadi sesuatu pada Danisha dengan menurutinya naik bianglala.


" Ish ! Kemarin udah janji lho, kita mau naik bianglala, " rengek Danisha.


" Setelah aku pikir-pikir, lebih baik ga usah aja, ya... Bahaya, sweet girl. Liat itu, tinggi banget lho ! Nanti kamu pusing. Ga usah ya, kita cari permainan lainnya yuk ! " jelas Saka.


" Tapi.... "


" Saka benar, Danish. Kita cari permainan lainnya aja. Aku pengen main lempar bola, hadiah bonekanya bagus lho ! " timpal Distha.


Bibir Danisha mencebik. Saka meraih tangan gadisnya.


" Maaf, ya. Kali ini aku ga bisa turuti keinginanmu. Terlalu berbahaya, sayang. Jangan marah, ya, " ucap Saka mencoba membujuk gadisnya.


Danisha menarik tangan Distha dan beranjak pergi meninggalkan Saka yang berdiri mematung dengan wajah sedih dan merasa bersalah. Ia menatap kepergian Danisha dan Distha diantara keramaian pengunjung wahana wisata yang semakin malam semakin ramai.


Saka melihat Prasta yang sedang asyik dengan kameranya dan sesekali menghisap rokoknya. Saka mendengus kesal melihat sahabatnya yang entah sejak kapan menjadi perokok.


Mengusap kasar wajahnya, Saka menghampiri Prasta.


" Bantuin bujuk Danisha dong, Pras ! Jangan sibuk sama rokok mulu. Heran deh ! sejak kapan sih, kamu jadi perokok kek gini ! " sungut Saka.


" Ish ! Situ yang punya pacar, kan ? Kok aku yang ribet ! " sahut Prasta tidak mau kalah.


Saka mendengus menatap tajam Prasta. Lalu ia bergegas pergi meninggalkan Prasta, mencari keberadaan Danisha dan Distha.


Distha sangat girang saat beberapa lemparan bolanya mengenai sasaran dan ia berhasil mendapatkan boneka Teddy Bear yang lumayan besar. Sementara Danisha terlihat tidak bersemangat dengan permainan itu. Ia telah mencoba permainan itu, tapi tak satu pun lemparannya mengenai sasaran.


Distha mendekap boneka Teddy Bear nya erat. Ia menyaksikan sahabatnya terlihat murung.


" Kamu capek ? Kita istirahat di situ ya, " ujar Distha, jari telunjuknya menunjuk sebuah kedai makanan dan minuman ringan.


Danisha mengangguk. Mereka berjalan beriringan menuju kedai itu.


Distha memesan kentang goreng dan coklat panas setelah mereka mendapatkan tempat duduk.


" Kalo kamu capek, kita pulang aja, " ucap Distha sembari mengambil ponselnya yang berdering dari saku celananya.


" Di kedai minuman dekat permainan lempar bola, " kata Distha berbicara di ponselnya.


Mata Danisha tak lepas dari wahana bianglala yang menjulang tinggi. Kedua tangannya menopang dagunya dengan bibir sedikit mengerucut. Hingga ia tak sadar ada seseorang yang memperhatikannya dengan wajah dan perasaan yang bersalah.

__ADS_1


" Maaf. "


Sebuah tangan kokoh merangkul pinggang Danisha. Seketika Danisha menengok ke samping tempat duduknya.


Wajah rupawan dengan senyuman penuh cinta menyambutnya. Hati Danisha berdesir indah, seketika hatinya menghangat. Entah sejak kapan, ia tak kuasa melawan segala pesona laki-laki bermata tajam di sampingnya.


" Masih marah ? " tanya Saka lembut.


" Distha kemana ? " tanya balik Danisha, matanya berkeliling mencari keberadaan Distha yang tadi duduk di sampingnya.


" Tuh ! " Saka menunjuk suatu tempat dimana Distha dan Prasta duduk sembari melahap kentang goreng.


Danisha menggelengkan kepala dengan bibir ditarik ke samping.


" Dasar ! Kok aku ga tau sih, dia pindah tempat, ck ! " gerutu Danisha.


Saka terkekeh.


" Kamu terlalu fokus melamun dengan hati marah, sih ! " sahut Saka meledek sang kekasih hati.


Danisha mencebikkan bibirnya.


" Masih marah ? " Saka menggenggam jemari sebelah tangan Danisha.


Danisha menggelengkan kepalanya, masih dengan bibir mencebik.


Saka terkekeh gemas melihat mimik wajah kekasihnya.


" Masih mau main ? Atau pulang ? Kita cari makan dulu, obatnya belum diminum kan ? " tanya Saka lembut.


" Masih pengen main, sih ! Tapi kalo kamu ngajak pulang sekarang, ya udah kita pulang aja, " ujar Danisha.


" Mau main apa ? Uummm... kita main gokart ? Boom boom car ? atau naik Rockin' tug ? " Saka menawarkan beberapa wahana permainan yang sekiranya aman untuk Danisha.


Danisha tiba-tiba berdiri membuat Saka terkejut dan seketika ikut berdiri.


" Ayo ! " Danisha menarik tangan Saka dan berjalan cepat setengah berlari meninggalkan kedai itu.


" Sayang ! Eh, ini mau kemana ? Aduh, sayang ! Main tarik aja, sih ! " seru Saka.


Distha dan Prasta yang menyaksikan keduanya pergi terburu-buru pun mengikuti mereka dengan pandangan bingung.


" Mau kemana tuh orang ! " kata Prasta sedikit berteriak.


" Ngapain sih, Danish pakai tarik-tarik Saka begitu ! Ish, dua orang itu bikin riweh deh ! " sungut Distha.


Danisha dan Saka berhenti di wahana Rockin' Tug. Sedikit tersengal, Danisha tersenyum pada Saka.


" Mau naik ini ! " kata Danisha cengar-cengir


Gadis berlesung pipi ini sungguh membuatnya gemas dan makin cinta.


" Ya udah, ayo naik. Beli tiketnya dulu lah ! " kata Saka, menarik tangan Danisha menuju ke loket pembelian tiket.


Prasta dan Distha pun mengekori sepasang kekasih itu membeli tiket untuk naik Rockin' Tug yakni sebuah wahana berbentuk kapal laut kayu dengan ayunannya yang kencang, yang bisa memicu adrenalin.


Para pengunjung yang naik wahana Rockin' Tug tak terkecuali Danisha, Saka, Prasta dan Distha, menjerit keras ketika ayunan rockin' tug semakin kencang. Berayun seolah tersapu ombak besar di lautan.


Danisha tertawa senang. Ia begitu menikmati permainan itu. Begitu pula dengan Saka, Prasta dan Distha. Keempatnya berteriak dan tertawa senang. Saka tak pernah lepas memandang gadis yang duduk di sampingnya. Gadis yang dulu adalah sahabatnya dan saat ini resmi menjadi kekasihnya, penghuni seluruh ruang hati dan hidupnya. Ia bahagia melihat kekasihnya yang sangat menikmati permainan itu dengan tawa bahagianya.


Malam semakin larut, hawa dingin semakin menyergap tubuh.


Saka, Danisha, Distha dan Prasta pun sudah meninggalkan wahana wisata Batu Night Spektakuler setelah puas bermain beberapa wahana permainan.


******


Saka menghentikan mobilnya dan memarkirkannya di halaman sebuah rumah makan.


" Ka, Danish tertidur, " ucap Distha.


" Kalian turun dulu aja, cari tempat duduk dan pesan makanan dulu, " ujar Saka.


Mereka bertiga pun turun dari mobil. Distha dan Prasta masuk ke dalam rumah makan terlebih dulu. Sementara Saka masuk ke dalam mobil di bangku belakang hendak membangunkan Danisha yang tertidur.


Saka tersenyum simpul menatap wajah gadisnya yang tenang tertidur dengan kepala bersandar di kaca jendela mobil.


" Sayang... bangun dong. Kita udah sampai nih ! " Saka mengusap pelan lengan Danisha. Meraih jemari gadis yang sangat dicintainya. Dikecupnya sekilas.


" I love you, " bisik Saka di telinga Danisha.


Danisha menggerakkan kepalanya, matanya mengerjap beberapa kali. Ia sedikit kaget menemukan Saka duduk di sampingnya dan tersenyum manis padanya.


" Saka... eh di mana kita ? Distha dan Prasta ke mana ? " tanya Danisha, matanya berkeliling mencari keberadaan kedua sahabatnya.


Saka menatap gemas sang kekasih hati


" Sayang, kita udah sampai di tempat makan. Ayo turun. Distha dan Prasta udah turun duluan. Aku lapar banget, " tutur Saka, mengajak gadis itu untuk turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah makan.


Danisha tersenyum menatap lelaki yang telah mencuri hatinya. Diusapnya pipi lelaki rupawan itu lembut.


" Ayo, " ajak Danisha.


" Tunggu, " seru Saka pelan. Tangannya menahan tangan Danisha yang mengusap pipinya.


Danisha mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


" Cinta kamu, " ucap Saka sembari mencium punggung tangan Danisha.


" Boleh peluk sebentar ? " tanya Saka kemudian.


Belum juga Danisha menjawab pertanyaan Saka, tangan kokoh lelaki itu telah menghambur memeluk pinggangnya dari samping. Kepalanya bersandar di bahunya.


Danisha merasakan tubuhnya menghangat. Ia merasa nyaman dipeluk Saka seperti ini. Tanpa ia sadari, sebelah tangannya mengusap kepala Saka.


Saka memejamkan kedua matanya menikmati sentuhan tangan Danisha di kepalanya.


" Ayo, katanya lapar. Kasian Distha ama Prasta udah nungguin, " ujar Danisha.


Saka melepaskan pelukannya dan tersenyum, sejurus kemudian mereka pun keluar dari mobil. Berjalan beriringan, Saka menggenggam erat jemari tangan Danisha masuk ke dalam rumah makan.


" Danisha. "


Danisha dan Saka sontak menoleh pada sumber suara yang memanggil namanya.


" Nay ! Hai, apa kabar ? " Danisha menghampiri Nay, memeluk gadis itu.


" Uummm... baik, " jawab singkat Nay. Pandangan matanya tertuju pada Saka, lalu menatap Danisha penuh tanya.


" Sendirian ? "


Nay terdiam.


" Nay ? " panggil Danisha pelan.


" Nay, ayo ! Eh, ini anak kok malah bengong ! " panggil seorang wanita paruh baya menghampiri Nay.


Danisha menyunggingkan senyuman pada wanita paruh baya itu.


" Danisha ! " sebuah suara yang tak asing di telinga Danisha.


Saka pun mendongakkan kepalanya, mengalihkan pandangannya dari ponselnya.


Danisha terdiam menatap laki-laki yang pernah ada di hatinya. Saka menghampiri kedua orang yang saling menatap.


" Apa kabar, Mas ? " tanya Saka mengulurkan tangannya.


Rendra sedikit terkejut, lalu ia menoleh ke arah Saka dengan kikuk. Segera ia mengulurkan tangannya membalas dengan menjabat tangan Saka.


" Oh, baik. Kalian apa kabar ? " tanya balik Rendra canggung. Kembali ia menatap Danisha sekilas.


" Kami baik, alhamdulillah, " sahut Saka.


" Rendra ! Kok malah ngobrol, " panggil wanita paruh baya yang masih berdiri bersama Nay tak jauh dari tempat mereka berdiri.


" Iya, Bu. Sebentar ! Uummm... baiklah, aku permisi dulu. Selamat berlibur, " pamit Rendra dengan senyuman tipis di wajahnya.


" Ya, terima kasih, " jawab Saka singkat.


Danisha menatap kepergian Rendra. Entah kenapa ada sedikit desiran singgah di hatinya ketika tadi mereka saling menatap.


Rendra menoleh sekilas ke arah Danisha sebelum ia sampai di mobilnya. Tersenyum dan mengangguk pamit.


" Ayo masuk, sayang, " ajak Saka sembari menggenggam jemari tangan Danisha menuntunnya masuk ke dalam rumah makan. Ada perasaan tak rela gadisnya berlama-lama menatap sang mantan.


******


Di rumah orang tua Rendra. Nay sedari tadi menahan keinginannya untuk menanyakan hubungan kakaknya dengan Danisha, karena bapak dan ibunya bersama mereka berada satu mobil.


Saat Rendra akan memasuki kamarnya, Nay tiba-tiba memanggilnya.


" Mas, tunggu ! "


" Ada apa ? Mas capek, Nay. Besok aja ya kalo mau bahas sesuatu, " ujar Rendra malas.


" Kenapa Danisha jalan sama cowok lain ? " tanya Nay ragu.


Rendra menatap adiknya mendengar pertanyaan soal Danisha. Lalu Rendra masuk ke kamarnya diikuti Nay yang kemudian menutup pintu kamar kakaknya.


" Kenapa, Mas ? " tanya Nay lagi.


" Ga apa-apa, Nay. Udah ga usah dibahas, " ucap Rendra hendak masuk ke kamar mandi.


" Danisha se.. lingkuh ? " tanya Nay ragu.


Rendra berbalik, menatap adiknya dengan tatapan tak suka.


" Udah Mas bilang, ga usah dibahas. Ok ? Mending kamu keluar deh, Nay. Mas capek, " tukas Rendra dengan nada sedikit kesal.


Dengan wajah cemberut, Nay pun beringsut keluar dari kamar sang kakak. Sementara Rendra masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Saat mengguyur tubuhnya dibawah shower, terbayang dengan jelas wajah berlesung pipi milik gadis yang dicintainya. Hingga saat ini, hatinya masih terisi oleh segala pesona gadis itu. Seandainya ia tak egois, seandainya ia bisa mengambil keputusan, mungkin semua masih seperti dulu. Semua salahnya... dan Aya. Ya, Aya sudah mengacaukan segalanya. Rendra terus mengguyur kepala dan tubuhnya dengan air hangat. Mencoba setiap saat melupakan segalanya tentang gadis berlesung pipi itu. Katakanlah, ia belum bisa move on dari Danisha. Walaupun sudah berjalan lebih dari empat bulan lamanya perpisahan mereka.


Tbc


**Hellooww LOTA Lovers 💞💞


Semoga masih setia di sini


Banyak terima kasih, cinta n sayang buat kalian 🤗😘💞💞


Jaga kesehatan selalu 💞💞**

__ADS_1


__ADS_2