Love On The Air

Love On The Air
Eps 54 Mencintaimu Adalah Kebahagiaanku


__ADS_3

Tiba di kampus, Saka dan Danisha masih dalam diam. Selama perjalanan tak ada sepotong pembicaraan di antara keduanya. Saka tersiksa.


Saat baru saja memarkirkan mobilnya, ia tidak langsung membuka central lock pintu mobil. Walaupun Danisha sudah melepaskan seat belt nya. Sejenak Saka terdiam setelah melepas seat belt nya.


" Tolong jangan diam. Jika aku salah, tegurlah aku, Bee... Please, jangan diam. Aku ga bisa seperti ini, " lirih Saka berkata, wajahnya tertunduk sembari menghela napasnya dalam ingin mengusir rasa sesak di dadanya.


Danisha masih terdiam duduk mematung. Menunggu Saka berbicara mengenai Audy. Satu detik, dua detik... Lima detik berlalu. Saka masih diam.


" Maafkan aku, Bee... Maaf bila aku salah. Tolong jangan seperti ini, " Saka meraih tangan kanan Danisha, menggenggamnya penuh kelembutan.


Perlahan, Danisha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Saka. Hal itu membuat Saka sangat terkejut. Ditatapnya Danisha lekat. Wajah cantik kekasihnya terlihat datar, tak ada senyum yang biasanya selalu ada membingkai wajahnya. Hati Saka semakin terasa nyeri.


" Sayang.... "


" Tolong buka kunci nya, aku mau keluar, " ucap Danisha datar.


" Bee.... "


Danisha menghela napas dalam. Entah hanya perasaannya saja atau memang ini menjadi kesenangan baru Saka, seringkali Saka memarkirkan mobilnya di tempat parkir dekat fakultas ekonomi.


" Please, aku udah ditunggu Distha, " ucapnya lagi.


" Bicara dulu padaku, Bee. Please... Aku minta maaf. Kamu bisa hukum aku apa aja, asal jangan mendiamkan aku, " tutur Saka dengan suara mengiba.


Danisha memalingkan wajahnya ke arah Saka. Ia dapat melihat raut sedih dan bingung di wajah kekasihnya. Ditatapnya manik hitam kekasihnya, hatinya menghangat. Selalu ia temukan kehangatan dan ketulusan di kedua manik hitam kekasihnya.


Saka menatap lekat wajah sendu pengisi ruang hatinya. Ingin sekali ia merengkuh gadis di hadapannya ke dalam dekapannya, memeluknya penuh kehangatan cinta.


Kedua manik mata mereka saling beradu pandang. Saling menatap penuh kehangatan dan cinta. Namun keduanya terdiam tanpa kata, hanya saling menatap.


" Sayang... Tolong jangan begini, " pinta Saka lirih.


Danisha tertunduk diam sesaat, lalu ia mengangkat wajahnya menatap Saka. Bibirnya sedikit bergetar ingin berkata-kata.


" Benarkah kamu mencintai aku ? " akhirnya lolos juga pertanyaan itu dari bibir Danisha sudah sedari tadi ingin ia lontarkan. Suaranya sedikit bergetar.


Saka terkejut mendengarnya. Ia tidak tahu kenapa kekasihnya menanyakan hal yang sesungguhnya tak perlu ditanyakan. Seakan kekasihnya meragukan perasaannya setelah semua yang mereka alami dan telah ia lakukan.


" Kamu meragukan aku, Bee ? Kamu meragukan perasaanku ? " tanya balik Saka. Ia mulai berpikir, apakah kekasihnya tidak bahagia bersamanya ?


Jari-jari Saka mengetuk-ngetuk kemudi, sementara kepalanya membuat gerakan naik turun.


" Kenapa diam ? Kamu tidak perlu kasihan padaku dengan berpura-pura peduli dan mencintaiku. Aku tidak ingin menjadi penghalang jika kamu ingin bersama dia, " Danisha berkata-kata dengan suara yang bergetar.


Sakit sekali telinga dan hati Saka mendengar perkataan kekasihnya. Ia tak menyangka hal itu keluar dari bibir gadis yang sangat dicintainya. Ia ingin marah, tetapi ia tak bisa. Ia hanya diam, kedua tangannya menggenggam erat kemudi mobilnya. Kepalanya tertunduk dengan rahang mengeras. Ia menghela napasnya dalam.


" Kenapa kamu meragukan aku, Bee ? Sakit, Bee. Kamu meragukan perasaanku. Aku mencintaimu, teramat mencintaimu dan hanya mencintaimu, selamanya ! " ucap Saka yang kemudian mengangkat kepalanya menatap Danisha lekat.


Danisha pun terdiam, kedua matanya terpaku menatap wajah teduh lelaki yang dicintainya.


" Kamu bahkan tidak jujur padaku. Lalu untuk apa mencintaiku ? Salah jika aku ragu ? " tukas Danisha.


" Ok, aku minta maaf. Ini hanya soal kemarin yang dibilang Fitri, kan ? Aku minta maaf jika aku tidak membicarakannya denganmu. Aku salah, harusnya aku bilang sama kamu mengantarkan Audy ke tempat mereka. Aku hanya tidak ingin mengganggu kamu yang sedang sibuk dengan skripsi dan siaran. Aku juga tidak ingin kamu berpikir yang tidak-tidak. Tapi semuanya justru membuat kamu salah paham. Aku sungguh minta maaf, aku salah ! Please, jangan mendiamkan aku, Bee.... " jelas Saka, berusaha tenang berbicara dengan kekasihnya.


" Dan tolong, jangan ragukan aku dan perasaanku. Kita udah bahas ini sebelumnya. Kamu bilang penghalang, penghalang apa ? " Saka menatap Danisha, menelisik kedua manik mata bulat milik kekasihnya. Ia ingin mencari jawaban dari pertanyaannya.


Danisha menundukkan kepalanya, ia tak sanggup menatap mata teduh milik sang kekasih. Ia ingin sekali mengatakan jika ia tidak ingin lelaki di hadapannya itu pergi bersama perempuan lain selain dirinya. Ia tidak ingin kehilangan lelaki penjaga hatinya yang selalu memberinya kehangatan dan kenyamanan penuh cinta.


" Bee, Sayang... Bicaralah, Bee... Kamu tau, semalaman aku tidak bisa tidur nyenyak karena kamu mendiamkan aku. Sesak di sini, Bee. Jantungku berhenti berdetak rasanya. Mencintaimu adalah hidupku, Bee. Kebahagiaanku. Dan kebahagiaanku adalah membuatmu selalu bahagia, " lanjut Saka, tangannya meraih jemari tangan Danisha. Digenggamnya lembut jemari tangan kekasihnya.


Perlahan Danisha mengangkat kepalanya. Kedua matanya sudah tak sanggup menahan genangan air matanya. Ia menangis, kedua pipinya basah oleh air mata. Masih dengan isakannya, ia menatap nanar kekasihnya.


Saka terkejut melihat pemilik hatinya menangis. Diusapnya lembut air mata di kedua pipi kekasihnya.


" Maafkan aku, Sayang. Maaf udah buat kamu menangis. Maaf ya, Bee.... " ucapnya penuh sayang dan kelembutan.


Hati Danisha menghangat dengan segala kelembutan dan cinta yang diberikan oleh lelaki di hadapannya. Bodohnya ia yang meragukan perasaan dan ketulusan kekasihnya.


" Makasih, sayang. Maafkan aku udah meragukan kamu. Maafkan aku udah berprasangka buruk padamu. Dan maafkan aku udah mendiamkanmu, " tutur Danisha masih dengan isakan tangisnya.


" Ssssttt... It's ok, Bee. Aku yang salah dari awal. Harusnya aku menceritakan semuanya padamu. Berhentilah menangis, jeyeg tuh ! " ucap Saka dengan sedikit gurauan.


Danisha memukul dada bidang kekasihnya sembari terkekeh.


" Tapi kamu janji ya. Janji kamu ga akan pergi berdua lagi sama dia atau sama perempuan lainnya kecuali sama aku, " pinta Danisha.

__ADS_1


" Kalau sama Distha juga ga boleh ? Trus sama Mama ? Kak Sandra ? " goda Saka.


" Mulai kan, ngeselin ! Kecuali mereka dong ! " sahut Danisha.


" Jadi... jealous nih, ceritanya ! " goda Saka lagi.


" Ish ! Kamu sekarang ngeselin banget, sih ! " Danisha memukul dada bidang Saka.


Saka terkekeh senang berhasil menggoda serta membujuk kekasihnya yang sedang kesal.


Dengan wajah masih cemberut, Danisha mengambil beberapa tissue yang ada di dashboard mobil dan mulai mengusap hidung serta mengeringkan wajahnya yang basah karena air matanya. Setelah itu ia mengambil bedak dari dalam tasnya dan mulai memoles wajah ayunya dengan bedak compact di tangannya perlahan.


Saka tersenyum menyaksikan semua aktifitas kekasihnya.


" Udah belum ? " tanya Danisha sembari menghadap Saka yang tidak melepas senyuman dari wajah teduhnya.


" Calon istriku selalu cantik dan menawan walaupun tanpa bedak dan make up, " ujar Saka memuji, mengedipkan sebelah matanya dengan senyum menggoda.


" Ish, gombal banget sih ! " Danisha tersipu, wajahnya merona.


Saka terkekeh senang melihat wajah merona kekasihnya. Segera, aku akan halalin kamu, Bee... gumamnya dalam hati.


*******


Distha keluar dari perpustakaan begitu mendapat pesan dari Danisha jika sahabatnya itu sudah berada di kantin bersama Saka.


Terburu-buru ia berjalan menuju kantin kampus hingga ia tidak menyadari salah satu buku yang dipegangnya terjatuh.


Seseorang tersenyum simpul dengan kepala menggeleng melihat punggung Distha yang terus berjalan setengah berlari.


Sesampainya di kantin kampus, Distha langsung menuju tempat duduk dimana Danisha dan Saka telah menunggunya. Kantin terlihat sepi karena saat ini jam kuliah sedang berlangsung.


" Kirain kamu lupa ada janji sama aku, Sist, " cetus Distha dengan napas sedikit tersengal. Ia mengambil tempat duduknya dan meletakkan tas dan beberapa bukunya di sudut meja.


" Maaf deh, telat. Ada urusan tadi, " sahut Danisha sembari melirik Saka yang tersenyum simpul.


" Sorry, Distha. Tadi ada yang merajuk karena jealous gitu, jadi harus membujuknya cukup lama, " timpal Saka menggoda dan sekilas melirik Danisha yang duduk di sampingnya.


" Ish ! Apaan ! " Danisha mencubit kecil lengan Saka.


Danisha mengerucutkan bibirnya sebal.


Distha terkekeh menyaksikan sepasang kekasih yang juga sahabatnya itu saling meledek.


" Ehem ! Beneran Danish cemburu ? Sama siapa ? " Distha sengaja ikut menggoda sahabatnya.


Danisha makin cemberut.


" Kalau masih terus dibahas, aku pergi nih ! " ujar Danisha kemudian.


" Widih ! Napa sih, Sist ! Lagi sensi betul ! " Distha terus meledek sambil terkekeh.


" Jadi, ada apa ini kamu minta ketemu ? " tanya Danisha kemudian.


Distha memandang Danisha dan Saka bergantian. Ia sedikit ragu untuk berkata-kata. Kedua sahabatnya pun saling berpandangan bingung dan heran.


" Ada apa sih ? " tanya Saka.


" Uummm... Ga ada apa-apa, kok ! Cuma kangen kalian aja, sih ! " cetus Distha yang sontak membuat Danisha berdecak kesal.


" Ck ! Ada apa sih, Sist ? " Danisha kembali bertanya karena penasaran.


" Oh ya, tadi di perpustakaan aku dapat buku yang kamu cari. Sebentar.... " ujar Distha yang kemudian mencari buku yang ia maksud. Dipilahnya beberapa buku yang ia letakkan di sudut meja satu per satu. Ia bingung tak menemukan buku yang ia cari. Padahal jelas tadi sudah ia bawa bersama buku-buku yang lain. Lalu ia mencarinya di dalam tas. Juga tak ditemukannya. Ia mendesah kasar.


" Kok ga ada, ya ? "


" Kenapa ? " tanya Saka ikut heran.


" Mana bukunya ? " Danisha pun bertanya dengan sedikit bingung.


" Ga ada. Apa mungkin jatuh ya ? " ucapnya bingung.


" Kamu cari buku ini ? "


Suara seseorang mengagetkan ketiganya. Mereka pun menengok ke asal suara.

__ADS_1


" Dokter Ardhy ? "


" Abang ?? "


Ketiga orang itu pun sangat terkejut dengan kehadiran Dokter Ardhy yang tiba-tiba.


Dokter Ardhy tersenyum simpul dan dengan santai duduk di samping Distha.


" Makanya kalau jalan dan membawa banyak buku yang hati-hati, Non, " kata Dokter Ardhy sambil mengacak puncak kepala Distha.


Distha salah tingkah. Wajahnya merona menerima perlakuan Dokter Ardhy.


" Eh, makasih Dok ! " ucap Distha malu dan salah tingkah.


Sementara Danisha dan Saka saling berpandangan melihat sikap kedua orang di hadapannya.


" Abang kok bisa sampai di sini, sih ! Jam segini lho, ga tugas apa ! " cetus Saka pada saudara sepupunya.


" Ga boleh aku kemari ? Untung lho aku yang nemu buku itu, aku kembalikan langsung. Yang nemu orang lain kali ga dikembalikan. Kena denda perpustakaan plus ganti bukunya kan.... " tukas Dokter Ardhy.


" Iya, makasih banyak ya, Dok, " ucap Distha sekali lagi.


Dokter Ardhy tersenyum manis membalas ucapan Distha, " Sama-sama. "


Keduanya saling menatap dengan senyuman termanisnya.


Jantung Distha berdetak kencang. Hatinya berdesir menatap senyuman dari makhluk indah di sampingnya.


Dokter Ardhy tak ingin melepaskan pandangannya dari wajah merona milik gadis di hadapannya. Wajah yang menarik apalagi dengan kedua pipi yang merona, membuatnya gemas ingin mencubitnya.


" Bee, kita pergi aja yuk ! Kita ga dianggap di sini, " Saka berdiri dan menggenggam jemari tangan Danisha mengajaknya pergi dari tempat itu.


Suara Saka menyadarkan kedua orang yang saling memandang dan mengagumi itu. Mereka terlihat salah tingkah dan tersipu malu.


Danisha tersenyum nyengir dan mengikuti kekasihnya beranjak dari tempat itu.


" Sist ! Eh, kok pergi sih ! " seru Distha memanggil Danisha yang sudah berlalu dari hadapan mereka sembari melambaikan tangannya.


Dokter Ardhy tersenyum sumringah.


" Masih ada kuliah ? " tanya Dokter Ardhy kemudian.


" Hah ?? " Gugup Distha menanggapi pertanyaan laki-laki berkharisma di sampingnya.


Dokter Ardhy terkekeh. Sungguh menggemaskan gadis yang telah membuat hatinya gelisah beberapa hari ini.


" Kok ketawa ? " sungut Distha dengan bibir mengerucut.


Tawa dokter tampan itu semakin lebar. Ia tidak bisa lagi menahan tawanya.


" Kamu lucu banget, sih ! Bibir kamu bikin gemas kalau begitu, " Dokter Ardhy tergelak tawa.


Distha segera menutup mulut dengan kedua tangannya. Kedua bola matanya membulat begitu mendengar perkataan Dokter Ardhy.


Spontan Dokter Ardhy mengacak puncak kepala Distha. Jantung Distha seakan ingin melompat keluar dengan perlakuan dokter tampan saudara sepupu sahabatnya.


Tbc





**Hellooww LOTA Lovers 💞💞💞


Apa kabar kalian ?


Pasti pada nungguin Saka ngelamar Danisha ya... sabar yaa, biar mereka berjuang dulu lah... cinta butuh perjuangan kata Saka 🤭


Jangan lupa mampir di kisah Prasta n Renata ya LOTA Lovers, judulnya LOVE AND DREAMS, seru juga lho !


Banyak terima kasih, cinta n sayang buat LOTA Lovers 🤗😘💞💞**


__ADS_1


__ADS_2