
Bunda telah kembali dari musholla dan bersiap untuk ke ruang praktek Dokter Aldi bersama Danisha.
" Kamu ikut kan ? " tanya Danisha pada Saka yang baru saja datang mengambil kursi roda untuk Danisha.
" Aku tunggu di sini ya. Ada Bunda, kamu sama Bunda ya, " ujar Saka dengan senyum manisnya.
" Kenapa ga mau temani aku ? " Danisha bertanya lagi.
" Danish, biar Saka istirahat dulu. Kan ada Bunda, " sahut Bunda.
Saka pun mendekatkan kursi roda di dekat ranjang agar Danisha mudah menjangkaunya. Bunda membantu Danisha turun dari ranjang untuk duduk di kursi roda yang sudah disiapkan Saka.
" Tapi kamu ga kemana-mana, kan ? " lagi Danisha bertanya.
Saka tersenyum, ia berlutut di hadapan Danisha yang sudah terduduk di kursi roda.
" Kan udah kubilang, aku tunggu di sini. Maafkan aku ga bisa temani kamu, ada yang harus aku kerjakan di sini. Semua pasti baik-baik aja, " tutur Saka berusaha membujuk Danisha. Ia tak mungkin menemani Danisha untuk saat ini. Ia menyadari posisinya yang hanya teman Danisha bukan keluarga atau seorang yang penting dalam hidup gadis itu yang berhak tahu tentang kondisi kesehatannya.
Danisha mengangguk dan tersenyum.
" Janji ya, kamu tunggu di sini, " pinta Danisha, ia mengangkat jari kelingkingnya di hadapan Saka.
" Aku janji, sweet girl, " ucap Saka mengaitkan kelingkingnya pada kelingking Danisha dengan senyuman khasnya.
" Ayo kita berangkat, " kata Bunda kemudian.
Saka berdiri dan siap mendorong Danisha yang duduk di kursi roda keluar kamar. Di depan kamar, Bunda mengambil-alih untuk mendorong kursi roda menuju ke ruang praktek Dokter Aldi.
Sebelum Bunda dan Danisha beranjak, ada seseorang memanggil mereka.
" Saka ! Danish ! "
Seketika mereka menoleh ke sumber suara yang memanggil nama mereka.
" Audy ! " ucap Saka.
Danisha tidak dapat melihat jelas siapa yang memanggil namanya. Namun ia masih bisa mendengar Saka menyebut nama Audy. Seketika suasana hatinya berubah.
Audy berlari-lari kecil menuju tempat mereka berdiri.
Dengan napas sedikit tersengal, Audy sampai di hadapan mereka.
" Danish, mau kemana ? " tanya Audy pada Danisha.
" Maaf ya, baru bisa ke sini nengokin, " ucap Audy kemudian.
Bunda tersenyum menanggapi ucapan Audy.
Sementara Danisha pun tersenyum canggung dan berkata, " Ga apa kok, Dy. Thank you udah mau datang nengokin. Minta doa nya ya. "
" Kami mau periksa dulu ya. Kalo ga keberatan, Audy bisa tunggu di sini sama Saka. Atau masuk ke dalam aja ga apa-apa, " ujar Bunda.
" Iya, Tan. Audy tunggu di sini, " sahut Audy ramah.
Bunda dan Danisha pun beranjak menuju ruang praktek Dokter Aldi. Danisha terdiam. Suasana hatinya berubah sedih. Ia merasa, Saka tidak mau menemaninya karena sedang menunggu Audy. Ia hela napasnya dalam.
Sesampainya di depan ruang praktek Dokter Aldi, Bunda mengetuk pintu. Tak lama, perawat membuka pintunya.
" Ah, Ibu. Pas sekali datangnya. Saya baru mau menjemput, tapi Ibu dan nona Danisha sudah datang duluan, " kata si perawat.
" Mari, silahkan masuk. "
" Makasih, Sus. " ucap Bunda.
Mereka berdua pun masuk ke ruangan Dokter Aldi yang sudah menunggunya.
" Siang, Dokter, " sapa Bunda dan Danisha.
" Selamat siang. Apa kabar, Danish ? " tanya Dokter Aldi tersenyum lebar.
" Alhamdulillah, Dokter, " jawab Danisha tersenyum tipis.
Dokter Aldi tersenyum menatap Danisha.
" Ayo, periksa dulu ya, " ujar Dokter Aldi pada Danisha.
Si perawat membantu Danisha berdiri dari kursi roda dan menuntunnya berjalan ke ranjang untuk diperiksa Dokter Aldi.
Selesai memeriksa Danisha, Dokter Aldi kembali duduk di kursinya. Danisha pun kembali duduk di kursi rodanya.
Dokter Aldi menghela napas dalam sebelum memulai penjelasan mengenai hasil medical check up Danisha.
" Jadi begini, hasil serangkaian tes pemeriksaan kesehatan kemarin ditemukan adanya sebuah jaringan abnormal yang tumbuh di otak putri Ibu. "
Dokter Aldi sejenak berhenti bicara. Ia menatap Ibu dan anak di hadapannya bergantian.
" Maksud Dokter ? " tanya Bunda.
" Danisha tau maksud Dokter Aldi, " sahut Danisha, ia menggenggam tangan sang Bunda.
" Tumor otak, maksud Dokter Aldi, Bun. Ada tumor di otak Danish. Benar begitu, Dok ? " cetus Danisha, pasrah.
Dokter Aldi tersenyum menatap gadis berlesung pipi di hadapannya, lalu mengangguk pasti.
" Astaghfirullah... A... Apa itu benar, Dokter ? " Bunda terperanjat kaget dan gugup.
__ADS_1
Sekali lagi Dokter Aldi menganggukkan kepalanya.
" Benar, Bu. Kami juga sudah melakukan biopsi untuk mengetahui jenis tumor dan tingkat keparahan penyakit ini, " jelas Dokter Aldi.
" Apakah penyakit anak saya tergolong sangat parah, Dok ? Apa bisa sembuh ? " cecar Bunda dengan suara sedikit bergetar.
Danisha masih menggenggam tangan sang Bunda. Ia ingin memeluk Bundanya erat, ingin menangis sepuasnya di pelukan Bundanya. Namun, ia menahan semua itu. Sebelumnya ia telah meyakinkan dirinya bahwa semua yang menimpanya adalah takdir yang harus dijalani. Apapun yang terjadi, ia harus ikhlas menerima dan menjalaninya. Allah tidak akan memberi cobaan pada hamba Nya melebihi batas kemampuannya.
" Dari hasil biopsi, tumor nya masih tergolong jinak. Awal stadium 2. Bagaimanapun, kita harus selalu punya harapan dan keyakinan untuk sembuh dari segala penyakit. Saya mempunyai keyakinan, Danish akan sembuh. Asal Danish bersedia mengikuti prosedur pengobatan untuk pencegahan dan penyembuhan penyakitnya. Yang terpenting adalah berdoa memohon kesembuhan pada sang Pencipta. Selain itu, Danish sendiri harus mempunyai semangat untuk sembuh, " jelas Dokter Aldi lebih lanjut.
" Tolong lakukan apapun untuk kesembuhan putri saya, Dok, " pinta Bunda.
" Saya siap, Dokter, " ucap Danisha yakin.
Bagaimana tidak, ia tak sanggup melihat Bunda sedih karena dirinya. Ia bertekad untuk sembuh, tidak ingin membuat kedua orang tuanya sedih dan repot mengurusi dirinya yang sakit. Ia ingin segera menyelesaikan kuliahnya dan meraih masa depannya. Ia tak ingin mengecewakan semua orang yang menyayanginya, yang dengan rela menjaga dan merawatnya selama ia sakit. Ia akan berjuang melawan penyakitnya.
Dokter Aldi tersenyum sumringah. Ia melihat semangat dan keyakinan pada diri Danisha untuk melawan penyakitnya.
" Baiklah. Saya akan atur jadwal pengobatan Danisha. Kami akan memberitahukannya setelah semua siap, " kata Dokter Aldi penuh semangat.
Bunda dan Danisha pun mengangguk tanda menyetujui apa yang disarankan Dokter Aldi.
" Terima kasih, Dokter, " ucap Bunda kemudian sembari mengusap lembut punggung putrinya.
******
Audy dan Saka duduk di kursi yang ada di depan kamar rawat Danisha.
Audy melihat ada kecemasan di raut wajah Saka. Sangat terlihat, meskipun Saka berusaha menyembunyikannya.
" Danish baik-baik aja, kan ? " tanya Audy memecah keheningan diantara mereka.
Saka yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya, seketika memalingkan wajahnya, melihat Audy yang duduk di sampingnya.
" Uumm... ya ! Dia akan baik-baik aja, " jawab Saka tersenyum tipis. Lalu kembali sibuk dengan ponselnya.
Saka sedang berbalas pesan dengan Kak Sandra membahas masalah pekerjaan WO nya. Saka juga sedang chat dengan Dokter Ardhy, sepupunya mengenai Danisha. Terlihat serius dan ada kecemasan pada dirinya.
" Aku tau kamu mencemaskan Danisha. Dia sangat berarti ya, " ucap Audy menyunggingkan senyum tipis di bibirnya.
Saka menghela napasnya dalam. Ia memiringkan tubuhnya menghadap Audy.
" Kami satu sekolah di SMA, satu kelas sejak pertama kali masuk. Aku, Prasta dan Danisha. Kami sangat dekat, " cerita Saka. Sesaat ia berhenti berbicara, tersenyum penuh arti.
" Jika ada yang bertanya, apakah Danish sangat berarti ? Ya ! Dia sangat berarti bagi aku, bagi kami, " lanjut Saka menegaskan.
Audy tersenyum mendengar cerita Saka mengenai persahabatannya. Ada rasa aneh di hatinya mendengar Saka berkata bahwa Danisha sangat berarti baginya. Selanjutnya ia pun paham akan arti hubungannya dengan Saka selama ini. Keduanya kembali terdiam. Saka kembali sibuk berbalas pesan, sedangkan Audy sibuk dengan pikirannya sendiri. Hingga mereka berdua tidak menyadari kedatangan Danisha dan Bunda.
" Lho, kalian kok ga nunggu di dalam, " kata Bunda yang tiba-tiba mengagetkan Saka dan Audy.
Seketika Saka berdiri ketika mendengar suara Bunda dan mendapati kedua ibu dan anak itu sudah berada di hadapan mereka.
Saka menghampiri Danisha. Ia berjongkok mensejajarkan dirinya dengan Danisha dan tersenyum simpul pada gadis di kursi roda itu.
" Cepat sekali periksanya, " Saka berkata sembari menatap gadis manis berlesung pipi di hadapannya.
Danisha tersenyum tipis. Bahkan Saka seperti tidak ingin aku cepat kembali ke sini, batin Danisha. Sekilas ia melirik Audy yang menatap Saka lekat.
" Ayo masuk ! " ajak Danisha kemudian.
" Ah, iya. Biar Saka yang bawa Danisha, Bun, " ucap Saka pada Bunda.
Bunda tersenyum dan mengangguk, membiarkan Saka yang mendorong kursi roda beserta Danisha yang duduk di sana masuk ke kamarnya.
Bunda tersenyum pada Audy dan mengajak masuk gadis cantik itu.
Saka membantu Danisha beranjak dari kursi roda dan naik ke ranjang. Ia tersenyum manis pada Danisha ketika gadis itu telah berbaring di ranjang. Ia membetulkan letak selimut Danisha.
" Makan, ya ? " Saka bertanya pada Danisha. Makanan untuk makan siang sudah diantar perawat tak lama sebelum Danisha dan Bunda datang.
Danisha pun mengangguk. Ia melihat Audy sudah duduk di sofa bersama Bunda.
" Audy. Maaf ya, udah nunggu lama, " cetus Danisha.
" No problem, Danish. Gimana keadaan kamu ? " tanya Audy.
" Alhamdulillah, udah mendingan, " jawab Danisha sembari menerima sesendok nasi dan lauk dari Saka.
Audy menyaksikan bagaimana perlakuan Saka terhadap Danisha. Ia tersenyum getir menyaksikan kedekatan kedua orang temannya itu.
*******
Mas Rendra terlihat uring-uringan di ruang kerjanya. Pesan yang ia kirim ke Danisha semalam, masih belum dibaca gadis yang ia cintai. Ia juga sudah menelpon gadis itu, tetapi berakhir sia-sia. Tidak ada respon dari kekasihnya itu.
" Danish, aku kangen, " Mas Rendra mengusap kasar wajahnya. Ia menekan tombol memanggil nomor ponsel Danisha.
Nomor yang anda hubungi sedang berada diluar jangkauan
" Shit ! " Mas Rendra melemparkan ponselnya di atas sofa.
" Aku harus apa ? Aku tak bisa begini terus. Ok ! Aku ke Surabaya ! " Mas Rendra meraih kunci mobil dan ponselnya, lalu pergi meninggalkan kantor milik kedua orang tuanya.
Pak Brata melihat putranya yang tergesa-gesa pergi meninggalkan ruang kerjanya.
" Rendra ! Ren ! " seru Pak Brata memanggil putranya.
__ADS_1
Mas Rendra menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Pak Brata dengan tatapan datar.
" Rendra permisi, Pak. Maaf, Rendra ada keperluan penting di Surabaya, " ucap Mas Rendra dan tanpa menunggu persetujuan dari sang Bapak, ia pun pergi. Ia tak peduli dengan semua aturan yang dibuat kedua orang tuanya.
Pak Brata terus memanggil putranya, menyuruhnya untuk kembali. Namun, sedikitpun tak digubris oleh Mas Rendra. Mobilnya melaju menuju Surabaya saat itu juga.
Di dalam mobil, Mas Rendra masih berusaha menelpon Danisha. Panggilan terhubung, ia sedikit lega. Ia berharap Danisha segera mengangkat panggilan telponnya.
" Assalamualaikum, " suara lembut yang teramat sangat dirindukannya.
" Waalaikumsalam. Thanks God ! Sayang, kamu dimana ? "
" Kenapa ? "
" Aku kangen. Kenapa tak balas pesanku ? "
" Perlukah ? "
Mas Rendra terdiam sejenak.
" Sayang, aku minta maaf. Aku...
" Sibuk. Sangat sibuk. Banyak yang harus dikerjakan. Aku tau dan aku paham. "
Terdengar helaan napas berat di seberang sana.
" Sayang, please... maafkan aku. "
" Ga perlu minta maaf, Mas. Aku sangat paham posisimu. Sebaiknya, Mas ga perlu menghubungi aku lagi. "
" Sayang... hallo, sayang... please dengerin aku.... "
Tut Tut Tuuuttt....
Sambungan telpon terputus.
Apa ini ? Danisha menutup telpon ? gumam Mas Rendra.
Mas Rendra terlihat gusar. Ia menepikan mobilnya dengan mendadak. Beruntung jalanan tidak terlalu ramai, sehingga tidak mengganggu pengendara lainnya.
Ia kembali menghubungi nomor ponsel Danisha.
Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif.
" Ya Allah ! Apa ini, Danish ! Aku ga bisa begini, sayang. Ada apa denganmu ? " Mas Rendra bermonolog di dalam mobilnya. Ia terlihat kacau.
Sementara itu, setelah memutuskan sambungan telponnya dengan Mas Rendra, Danisha mematikan ponselnya.
Saka yang melihat dan mendengar percakapan Danisha di telpon yang ia yakini bersama dengan Mas Rendra pun terdiam. Ia menatap lekat Danisha yang terlihat murung dan menahan tangisnya.
Danisha berusaha menyembunyikannya, ia tahu Saka memperhatikannya. Ia berusaha tersenyum membalas tatapan Saka. Danisha mengubah posisi tidurnya, ia berbaring miring menghindari tatapan Saka. Entah mengapa ia tak sanggup menahan tangisnya. Danisha terisak pelan dengan posisi berbaring miring. Ia tak ingin Saka melihatnya menangis.
Namun, Danisha salah. Bukan Saka bila tidak mengetahui apa yang Danisha rasakan. Saka yang paling paham akan diri Danisha.
Saka beranjak dari sofa, dihampirinya Danisha. Ia duduk di kursi menghadap Danisha yang berbaring miring. Danisha terlihat buru-buru menghapus air matanya. Saka segera meraih tangan gadis itu, ia genggam tangan gadis satu-satunya penghuni ruang hatinya.
" Menangislah. Tak usah kamu menahan kesedihanmu. Walaupun aku sungguh tak menyukai melihatmu sedih dan menangis. Aku di sini selalu ada untukmu, untuk segala sedih dan bahagiamu, " ucap Saka, mengusap lembut tangan halus dalam genggamannya.
Dengan pandangan nanar karena air mata yang menggenang di pelupuk matanya, Danisha menatap lekat Saka. Ia selalu melihat ketulusan di mata dan di dalam diri sahabat laki-lakinya itu. Ia semakin yakin dengan mimpi-mimpinya beberapa malam terakhir. Sungguh, Allah Maha membolak-balikkan hati.
Saka tersenyum dan mengusap air mata yang luruh dari kedua mata Danisha.
" Aku selalu siap menjadi telinga, jika kau butuh seseorang untuk mendengarkan ceritamu. Bahuku juga selalu siap untukmu bersandar bila kau membutuhkannya. Hatiku pun akan selalu memahami dirimu apapun keadaanmu. Dan ragaku selalu siap menjadi langit yang akan selalu berdiri kokoh melindungimu dari hujan dan badai. "
******
" Sebelumnya, aku minta maaf jika baru membalas pesanmu. Terima kasih atas cinta dan sayang yang telah kau beri untukku. Terima kasih atas waktu yang indah yang telah kau berikan selama kebersamaan kita. Tak perlu kau meminta maaf, karena tak ada kesalahan yang kau buat. Aku sungguh paham dengan posisimu. Akulah yang seharusnya meminta maaf atas semuanya. Ada hati yang lebih dekat dan selalu bersamamu sepanjang hidupmu, jelas itu bukan aku. Lanjutkanlah kebersamaan kalian. Buatlah indah untuk orang-orang yang menyayangi kalian seumur hidupnya. Restunya adalah surga. Maafkan aku yang tidak seharusnya hadir dalam hidup kalian. "
Rendra membaca pesan yang baru saja ia terima dari Danisha. Dadanya terasa nyeri membaca kata demi kata dari kekasihnya.
Saat ini ia berada di rest area jalan tol Malang - Surabaya setelah sebelumnya ia menyesap kopi espresso yang dibelinya di salah satu minimarket di rest area tersebut.
Ia terdiam sejenak di dalam mobilnya dan mencoba mencerna kata demi kata yang baru saja ia baca.
" Aku mencintaimu, Danisha. Maafkan aku, sayang. Aku terlalu pengecut untuk mengambil keputusan. Tidak, aku hanya tak ingin melukai siapapun. Kita harus bertemu, "
Gumam Mas Rendra.
Mas Rendra segera menghidupkan mesin mobilnya dan melajukannya keluar dari rest area menuju Surabaya menemui Danisha.
Tbc
***Hellooww LOTA Lovers 💞💞
So happy to see you here 🤗😘
Maafkan yaa lama baru bisa up, karena RL ku sangat bikin diriku mati gaya, full time 🤧
Semoga ga ada yg nyesek n baper ya.. ðŸ¤
__ADS_1
Jan lupa jejak jempol n komen kalian, yg belum rate karyaku, pls help to Rated first ya.. Vote ? thank you so much 😘
Stay safe n healthy as always LOTA Lovers 🤗😘💞💞***