Love On The Air

Love On The Air
Eps 56 Undangan


__ADS_3

Malam itu menjadi malam yang sangat membahagiakan bagi keluarga Danisha dan Saka. Terlebih bagi sepasang kekasih itu. Meskipun malam itu kedua orang tua Saka belum melamar Danisha secara resmi, Saka sangat bahagia. Di hadapan seluruh anggota keluarga mereka, Danisha bersedia menerima Saka sebagai calon suaminya saat lelaki itu menyatakan perasaan dan niat tulusnya ingin melanjutkan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius, yakni pernikahan. Kedua orang tua Saka juga menyampaikan bahwa mereka sangat bahagia jika Danisha bisa menjadi menantu mereka.


Kedua orang tua Danisha pun menyambut dengan baik dan penuh kebahagiaan atas niat baik Saka dan keluarganya. Mereka juga bahagia dengan hubungan kedua putra putri mereka yang akan berlanjut ke pernikahan. Itulah yang diharapkan dari kedua keluarga tersebut.


Mereka ingin mengadakan pesta pertunangan untuk kedua putra putri mereka, tetapi Saka dan Danisha menolaknya. Bagi mereka hal itu merupakan pemborosan dan tanpa pesta pertunangan pun tidak masalah bagi mereka. Yang terpenting adalah saat dimana hubungan mereka telah dinyatakan sah secara agama dan negara. Hal itu yang akan sangat berarti bagi mereka.


Setelah makan malam bersama dan berbincang santai beberapa saat, keluarga Saka, Pak Rahmat, Bu Dinda dan Kak Sandra beserta suami dan anak semata wayangnya pun pamit untuk pulang.


Danisha dan keluarganya mengantarkan mereka sampai di pintu pagar.


" Saka menyusul ya, Ma. Mau bantuin Bunda beres-beres, " ucap Saka.


" Beneran bantuin Bunda lho ya, awas kalau macam-macam sama anak cantik Mama, " sahut Bu Dinda.


" Bilang aja masih pengen berdua sama Danish. Pake alasan bantuin Bunda segala, " cibir Kak Sandra.


" Ish, ya jelas dong. Masa ga boleh pengen berduaan sama calon istri, " tukas Saka tak mau kalah. " Auww ! Sakit, Bee.... " Saka berjengit kaget dengan cubitan Danisha di pinggangnya. Dengan raut meringis kesakitan, ia merangkul bahu kekasihnya.


" Maaf, Sayang. Bener kok mau bantuin Bunda, tapi masa sih ga dikasih bonus habis bantuin, " ujar Saka sembari menaikturunkan kedua alis hitamnya.


" Ya Allah, anakku ! Jangan kegenitan kamu ! " tegur Bu Dinda.


" Yeee... genit sama calon istri doang lho, Ma, " jawab Saka masih tak mau kalah.


" Udah, kita ga bakalan pulang ini kalau masih saling olok, " cetus Pak Rahmat.


Semua tertawa terbahak menyaksikan adu mulut antara Saka, Bu Dinda dan Kak Sandra. Setelah berpamitan sekali lagi, kedua orang tua dan keluarga Kak Sandra pun pulang meninggalkan rumah Danisha.


******


Saka duduk di teras rumah Danisha setelah membantu membereskan sisa-sisa perjamuan dan kunjungan keluarganya di rumah itu. Menatap langit malam yang cerah bertabur bintang, senyum bahagia tersungging di bibirnya.


" Kok senyum-senyum sendiri, sih ! " ujar Danisha yang baru saja datang menghampiri kekasih hatinya dengan membawa secangkir teh hangat dengan setoples snack.


Pandangan Saka pun beralih pada gadis pemilik seluruh hatinya. Kedua matanya memancarkan binar bahagia menatap kekasih hatinya. Ia teramat bahagia, hidupnya serasa begitu sempurna setelah gadis cantik dengan lesung pipi di hadapannya bersedia menerimanya sebagai calon suami.


" Apaan, sih ? Kok ngelihat aku sambil senyum-senyum gitu. Ish ! " cetus Danisha yang sudah duduk di kursi di sebelah Saka.


" Aku bahagia, Bee. Sangat bahagia memiliki kamu, " ucap Saka lembut sembari menggenggam tangan kekasihnya.


Kedua bola mata Danisha berbinar bahagia. Seulas senyuman dan lesung pipi yang dalam menghiasi wajah ayu nya. Saka terus menatap wajah ayu kekasihnya, tak ingin berpaling sedetikpun.


" Aku juga bahagia. Aku bersyukur memiliki kamu. Kamu menjadikan sempurna setiap hal dalam hidupku, " balas Danisha dengan mata berkaca-kaca.


Saka mengubah posisi nya hingga menghadap lurus ke arah Danisha. Ia menautkan jemarinya dengan jemari Danisha. Lalu tangan sebelahnya menyentuh pipi kekasihnya lembut.


" Kenapa nangis ? Aku mencintaimu, Bee. Selamanya, " ucap Saka tegas tanpa ragu.


Danisha menatap wajah teduh di hadapannya. Tersenyum bahagia dengan mata yang berkaca-kaca. Ia genggam tangan Saka yang masih menempel di pipinya.


" Terima kasih untuk kesempurnaan dan kebahagiaan yang telah kau berikan untukku. Terima kasih telah menjagaku sepenuh hati sejak dulu. Terima kasih karena menerimaku dengan segala keadaanku. Terima kasih, karena mu aku bisa memahami bagaimana cinta itu sesungguhnya. Kau telah menyempurnakan cinta yang kumiliki dengan segala kelebihan dan kekurangan kita berdua. I'm very lucky to have you, I love you so much, " tutur Danisha dengan suara lirih dan sedikit bergetar.


Wajah rupawan lelaki itu semakin berbinar bahagia mendengar ucapan dan pernyataan cinta dari gadis yang sangat dicintainya. Senyum bahagia seketika terukir di bibirnya.


" Jangan pernah ragukan perasaanku ya, Bee. I so much in love with you. Love you as always. Forever and ever. "


Saka mengecup kedua tangan Danisha penuh cinta dan sayang.


*******


Distha tersenyum menatap ponselnya. Saat ini, ia sedang berada di kantin seorang diri. Duduk sendiri sembari menyantap pisang goreng dan sibuk membalas chat di ponselnya.


My Doc


" Pagi, Distha πŸ’— Jangan lupa sarapan biar semangat kerjain skripsinya. Sampai ketemu sore nanti πŸ€—πŸ’—πŸ’— "


Tersenyum simpul, jarinya mengetikkan kata demi kata di ponselnya.


Me


" Pagi, Dok. Thank you salam pagi dan πŸ’— nya. Bikin semangat, lho ! Hehehe... Met tugas ya, Dok. See yaa.... "


Tanpa disadari Distha, seseorang telah duduk di hadapannya, menyaksikan tingkah polahnya yang senyum-senyum sendiri.


" Senyum-senyum sendiri pertanda jatuh cinta, nih ! "


Sontak Distha berjengit kaget mendengar suara seseorang yang terdengar sangat dekat di telinganya.


" Astaga ! Bikin kaget tau ga, sih ! " sungut Distha.


" Widih ! Perasaan bicaraku ga teriak, deh ! Kamunya aja yang terlalu sibuk dan asyik dengan chat di ponsel. Dapat chat dari siapa, sih ? " tukas Prasta menatap Distha sembari menautkan kedua alis hitamnya.


" Mau tau aja, sih ! Rahasia ! " sahut Distha, bibirnya mengerucut mencibir Prasta.


" Ya, udah. Bodo amat, Dis ! Emang aku pikirin ? " olok Prasta. " Skripsimu sampai mana ? " lanjut Prasta.


" Lanjut, dong ! Judul dah di acc, kok. Kamu sendiri gimana ? "


" Hahaaayyy ! Sama, dong ! Lanjuuttt ! " seru Prasta sembari mengangkat salah satu tangannya yang kemudian disambut oleh tangan Distha, keduanya melakukan high five.


Keduanya pun tersenyum girang dengan apa yang sudah mereka capai saat ini.


" Malam minggu kita hang out, yuk ! Kangen hang out bareng, " cetus Prasta sembari mengunyah pisang goreng yang ia comot dari piring milik Distha.


" Malam Minggu, ya ? Uummm... gimana, ya ? " Distha tampak berpikir. Ia teringat Dokter Ardhy yang mengajaknya nonton film malam Minggu besok.

__ADS_1


" Nanti aku liat dulu, ya. Saka dan Danisha udah kamu kasih tau ? "


" Belum, sih. Nanti aku chat Saka, deh ! By the way, aku mau cabut dulu. Takut telat. Kamu udah selesai atau masih ada mata kuliah ? " tanya Prasta sebelum kemudian menenggak air mineral dalam botol yang dibawanya.


" Ada mata kuliah 1 doang, jam 10. Kamu hati-hati, jangan ngebut, " ujar Distha.


" Ok. Bye, Sist ! " pamit Prasta, melambaikan tangannya pada Distha.


Distha menganggukkan kepalanya kemudian menyeruput es teh tawarnya.


*******


Siang itu di Radio DG FM, Danisha sedang bertugas siaran. Sesaat lagi, tugasnya selesai. Ia sedang memilah beberapa lagu yang telah di request oleh beberapa pendengarnya. Sisa 2 buah lagu yang akan diputar, setelah itu ia bebas tugas. Ia ingin istirahat sebentar di studio. Sejak pagi, ia merasakan nyeri di kepalanya lagi. Sebenarnya sudah beberapa hari ini nyeri itu datang dan hilang ketika ia meminum obat dari Dokter Aldi.


Danisha sengaja menyembunyikan rasa sakitnya yang entah mengapa tiba-tiba datang lagi. Ia tidak ingin semua orang mencemaskannya di saat semua sedang merasakan kebahagiaan.


Ponsel miliknya bergetar. Dilihatnya nama kekasih hatinya terpampang di layar ponselnya. Ia tersenyum senang.


" Assalamualaikum.... "


" Waalaikumsalam. Bee, aku mungkin agak terlambat ya. Masih ada beberapa kerjaan yang harus aku selesaikan. Ga apa, kan ? "


" Hu um. Ga apa, Sayang. Ga usah terburu-buru, selesaikan semuanya dulu. Ok, aku mau nutup on air dulu. Jangan buru-buru ya. "


" Miss you, Bee. I love you.... "


" Love you too, assalamualaikum.... "


" Waalaikumsalam. "


Danisha memasukkan ponselnya ke dalam tas yang ia letakkan di bawah meja CD player. Sesaat ia memegang kepalanya. Obat dari Dokter Aldi sudah diminumnya. Ia hanya butuh untuk memejamkan matanya dan mengistirahatkan tubuhnya, setelah itu semua akan baik-baik saja.


Danisha duduk di kursi penyiar dan mulai berpamitan pada pendengar.


Dua buah lagu siap diputarnya sebagai lagu penutup. Hatinya sedang bahagia, sangat bahagia. Hingga ia kuat untuk menahan dan menutupi rasa sakitnya.


🎢🎢🎢


Oooh... (Kumau dia)


Kuharap semua ini bukan sekedar harapan


Dan juga harapan ini bukan sekedar khayalan


Biarkan kumenjaganya sampai berkerut dan putih rambutnya


Jadi saksi cintaku padanya


'Tak main-main hatiku


Apapun rintangannya kuingin bersama dia


Hanya dia yang s'lalu ada kala susah dan senangku


Kumau dia, walau banyak perbedaan


Kuingin dia bahagia hanyalah denganku


🎢🎢🎢


By Andmesh - Kumau Dia


Sembari bersenandung, Danisha membereskan meja siaran dan keperluannya. Tanpa disadarinya seseorang sedang mengawasinya dari jendela kaca ruang siaran.


Lelaki itu tersenyum menatap gadis berhijab yang selalu mempesonanya. Hingga detik ini, di hatinya masih ada gadis itu. Rasa itu masih sama, tak pernah berubah. Keadaanlah yang mengubah semuanya. Ia tertunduk dan menghela napasnya berat.


" Lho, Mas Rendra ?? "


Mas Rendra menegakkan kepalanya, terkejut mendengar suara yang memanggil namanya.


" Hai, Kak ! Sorry, aku langsung masuk ga permisi dulu. Kak Ella, apa kabar ? " sapa Mas Rendra, seulas senyuman ia berikan.


" Baik, dong ! It's ok. Mas Rendra, apa kabar ? " tanya balik Kak Ella, pandangannya beralih ke dalam ruang siaran dimana Danisha berada lalu kembali menatap Mas Rendra.


" Baik, alhamdulillah. Uummm... yang lain mana, Kak ? "


" Ada di dalam, Mas. Sorry, mau ketemu Danisha ? " tanya Kak Ella ragu sembari melirik dan menunjuk ke arah ruang siaran.


Mas Rendra mengusap tengkuknya. Lalu menghela napasnya perlahan sebelum mengucapkan sesuatu.


" Aku mampir dari nengok rumah, Kak. "


" Eh, ada si Boss ! Kapan datang ? " Bang Hendra tiba-tiba muncul dari ruangan dalam studio Radio DG FM dan langsung memberikan jabatan khas mereka.


" Baik, Hen, " sahut Mas Rendra sembari terkekeh.


Saat itu Danisha hendak keluar dari ruang siaran. Ia terkejut ketika dari jendela kaca ruangan itu melihat siapa yang datang.


Kak Ella masuk ke ruang siaran, tersenyum ke arah Danisha yang berdiri mematung.


" Kenapa ? " tanya Kak Ella.


" Dia mau apa, Kak ? " Danisha balik bertanya.


Kak Ella sudah duduk di kursi penyiar, menghadap meja audio mixer dan mikrofon. Ia akan bertugas siaran untuk jam berikutnya.

__ADS_1


" Katanya tadi mampir aja, " jawab Kak Ella santai.


Lalu Danisha tersenyum tipis dan berpamitan pada Kak Ella keluar ruang siaran. Kak Ella balas tersenyum dan mengangguk.


Mas Rendra yang saat ini sudah duduk di sofa ruang tamu bersama Bang Hendra menengok ke arah pintu ruang siaran yang terbuka. Dilihatnya sosok gadis yang masih dicintainya keluar dari ruang siaran.


Mas Rendra berdiri dari duduknya. Menatap Danisha dengan senyum yang canggung. Pun sebaliknya dengan Danisha. Ia berdiri mematung dengan senyum tipisnya. Kecanggungan tercipta di antara keduanya.


" Hey ! Kok berdiri di situ aja sih, Dek ! " seru Bang Hendra.


Pandangan Danisha beralih ke Bang Hendra yang berdiri di samping Mas Rendra.


Tersenyum pada Bang Hendra, Danisha berjalan menghampiri mereka.


" Apa kabar, Mas ? " tanya Danisha saat dirinya sudah berhadapan dengan lelaki masa lalunya.


Mas Rendra tersenyum, masih canggung. Ia masih merasakan desiran di hatinya manakala gadis itu menyapanya. Seberat ini melepaskan seseorang yang benar-benar dicintai.


" Baik. Kamu apa kabar ? " tanya balik Mas Rendra.


" Alhamdulillah, baik, " singkat Danisha menjawab.


" Kita duduk lah, biar ngobrolnya lebih enak, " sahut Bang Hendra sembari terkekeh pelan.


Keduanya pun ikut terkekeh dan mereka pun mengambil tempat duduk di sofa yang tersedia di ruang tamu studio.


Tiba-tiba Kak Ella memanggil Bang Hendra dari ruang siaran dengan membuka sedikit pintu ruang siaran. Bang Hendra pun mendekat dan ikut masuk ke dalam ruang siaran.


Danisha mengerutkan dahinya menyaksikan Bang Hendra masuk ke dalam ruang siaran.


" Kuliah kamu, gimana ? "


Danisha mengalihkan pandangan ke arah Mas Rendra.


" Baik, Mas. Pekerjaan Mas Rendra, bagaimana ? "


" Baik, " jawab Mas Rendra singkat, masih menatap lekat gadis di hadapannya. Ia merindukan gadis ini. Ingin bicara banyak dengannya.


Danisha tersenyum dengan lesung pipinya, mengangguk-anggukkan kepalanya.


" Maafkan, aku, " ucap Mas Rendra lirih namun terdengar nada penyesalan di sana.


Danisha mengerutkan dahinya menatap Mas Rendra yang saat ini tertunduk diam.


" Maaf ? Untuk apa ? " tanya Danisha.


Mas Rendra menegakkan kepalanya. Menatap dengan tatapan sendu dan penuh penyesalan.


" Maafkan untuk semua yang telah kulakukan padamu. Aku sungguh menyesal dan a.... "


" Permisi... Eh, Danisha ! Apa kabar ? "


Tiba-tiba Nay muncul dari pintu masuk dan berjalan menghampiri Danisha. Di belakangnya seseorang mengikutinya dan berjalan mendekati tempat duduk Mas Rendra.


Danisha berdiri dan tersenyum pada Nay.


" Kabar baik, Nay. Alhamdulillah. Kamu apa kabar ? "


" Alhamdulillah, baik. "


" Kebetulan kalau gitu ya, Ren. Mumpung ada Danisha, sekalian aja kita kasih undangannya, " ujar gadis cantik yang datang bersama Nay, yang saat ini duduk rapat di samping Mas Rendra.


" Uummm... Kamu mau siaran atau udah selesai, Danish ? " potong Nay mengalihkan pembicaraan.


" Kita pulang sekarang aja, Nay. Biar ga kesorean sampai rumah, " timpal Mas Rendra sembari berdiri hendak beranjak dari tempat itu.


" Wait dong, Ren. Aku sama Nay baru juga datang, " sahut gadis itu.


" Kita juga belum pernah bertemu, kan ? Hai, Aku Aya, Ayana, " ucap gadis cantik itu menyodorkan tangannya pada Danisha.


Danisha sedikit terkejut, tetapi ia bisa menutupi keterkejutannya dengan membalas sapaan Ayana.


" Hai, Mbak. Saya Danisha, " Danisha menyambut tangan Ayana dengan senyuman ramahnya.


Mas Rendra menatap kedua gadis cantik berbeda usia itu.


Sedangkan Nay menatap Mas Rendra bingung. Ia tahu, kakaknya tidak menginginkan kejadian di hadapannya terjadi. Ia jadi merasa bersalah.


" Udah yuk, Mas, Mbak. Kita pamit pulang sekarang, " ujar Nay menarik tangan Ayana.


" Sebentar, Nay. " Ayana mengambil sesuatu dari dalam tas branded nya.


" Ini buat kamu. Datang, ya, " ucapnya kemudian sembari menyodorkan sebuah kartu undangan berwarna merah dengan tulisan emas di dalamnya.


Danisha menerima undangan itu. Seulas senyuman ia berikan pada Ayana.


" Terima kasih banyak. Insya Allah kami akan datang, " ujar Danisha, sekilas ia melirik ke arah Mas Rendra yang memasang wajah datar.


Tbc


**Hellooww LOTA Lovers πŸ’žπŸ’ž


Mas Rendra muncul ☺️ kemarin ada yang nanya kabarnya Mas Rendra. Semoga ga penasaran lagi ya...


Jan lupa mampir dan baca kisah Prasta dan Renata juga, ga kalah seru n bikin baper lho ☺️

__ADS_1


Selalu ditunggu like, rate n komennya yaa... aq pen tau n kenal sama LOTA Lovers yg udah baca n like apalagi yg vote 😘 dari kota mana kalian, usia n statusnya... ditunggu ya gaess πŸ€—πŸ˜˜


Banyak terima kasih, cinta dan sayang buat LOTA Lovers πŸ€—πŸ˜˜πŸ’žπŸ’žπŸ’ž**


__ADS_2