Love On The Air

Love On The Air
Eps 92 Mual Dan Muntah


__ADS_3

**HAPPY READING YOU ALL πŸ€—**


Danisha tersenyum puas dengan wajah berbinar bahagia ketika dinyatakan lulus oleh Dosen Penguji Skripsi-nya siang itu. Bu Aning, Sang Dosen Pembimbing memeluk Danisha erat mengucapkan selamat pada mahasiswinya yang dikenalnya sangat baik karena aktivitasnya di kampus dan kepeduliannya dengan sesama, selain kecerdasan dan bakatnya di bidang komunikasi publik. Andai wanita berlesung pipi itu tidak terserang penyakit yang mematikan itu, mungkin saat ini ia sudah lulus bersamaan dengan Saka, suaminya. Atau mungkin ia yang malah lebih dulu menyandang gelar sarjana. Mengingat wanita berhijab itu sudah start terlebih dulu menyusun skripsi dibanding suami dan sahabat-sahabatnya.


"Terima kasih banyak atas bimbingannya, Bu Aning. Terima kasih sudah sabar menunggu dan membimbing saya," ucap Danisha pada Bu Aning yang memeluknya sekali lagi sebelum ia meninggalkan ruangan sidang ujian skripsi.


"Sama-sama, Danish. Semuanya tak luput juga dari kerja keras dan kegigihanmu," tutur Bu Aning dengan wajah berbinar, ikut bahagia atas pencapaian mahasiswi kesayangannya.


Keduanya pun beriringan keluar dari ruangan sidang ujian skripsi. Sebelumnya, dua orang dosen pengujinya telah meninggalkan ruangan sidang itu.


"Mas!" seru Danisha begitu dirinya keluar dari ruangan sidang skripsi. Ia menghambur dan memeluk Saka yang saat itu baru saja mengakhiri pembicaraan via ponselnya, hingga lelaki itu sedikit terhuyung saat Danisha memeluknya secara tiba-tiba. Beruntung Saka segera sigap dengan memegang tubuh Danisha untuk menyeimbangkan posisi mereka sehingga tidak sampai terjatuh.


"Whooaah! Hey! Hati-hati, Sayang!" pekik Saka begitu terkejutnya.


"Aku lulus, Sayang!" serunya bahagia, masih memeluk erat tubuh suaminya. Kedua matanya berkaca-kaca.


Saka tersenyum lebar. Matanya menangkap sosok Dosen Pembimbing istrinya, Bu Aning, yang terlihat tersenyum semringah menatap mereka.


"Selamat, Sayang! Tentu saja kamu pasti lulus. Aku tak pernah meragukanmu, Bee," tutur Saka.


"Uummm ... Bu Aning ngeliatin kita, Bee. Kamu ga malu?" bisik Saka sembari mengurai perlahan pelukan mereka.


Danisha pun salah tingkah. Ia menghapus air mata yang perlahan telah membasahi pipinya sembari menunduk malu. Wajahnya terlihat sedikit merona.


Saka menggandeng tangan Danisha mesra, lalu berjalan menghampiri sang Dosen Pembimbing istrinya.


"Maaf, Bu Aning. Terima kasih sekali lagi, Bu," ucap Saka dengan sedikit menundukkan kepalanya. Senyum mengembang di wajahnya yang rupawan.


"Sama-sama, Saka dan Danisha. Semua juga berkat kerja keras kalian. Selamat, ya, semoga kalian berdua selalu berbahagia, membina keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah," tutur Bu Aning lembut dengan seulas senyum bahagia.


"Aamiin ...." jawab Saka dan Danisha bersamaan.


******


"Gimana, Nyonya Dokter?" tanya Danisha pada Distha, sahabatnya yang dalam waktu dekat sah sebagai istri Dokter Ardhy.


"Apanya yang gimana?" tanya balik Distha.


Danisha memutar bola matanya sebal.


"Ya, tentu saja persiapan pernikahan kalian, Sist!" cetusnya sembari menyesap teh manis hangatnya.


Mereka sedang berada di kantin kampus setelah menyelesaikan administrasi terakhir kuliah mereka sebelum wisuda bulan depan.


"Udah! Tinggal fitting terakhir gaun pengantinnya," jawab Distha dengan senyum bahagianya.


"Maaf, ya, aku ga bisa bantu dan menemani kamu mengurus persiapan pernikahan kalian," sesal Danisha, wajahnya terlihat sedih.


Distha mengusap punggung Danisha perlahan. "No problem, Sist. Kami paham situasi dan kondisi kamu," tutur Distha dengan seulas senyumnya.


"Jadi ikut ke butik?" tanya Distha kemudian.


Danisha terdiam, terlihat sedang berpikir. Sesungguhnya ia ingin menemani Distha ke butik untuk fitting terakhir gaun pengantinnya. Namun, ia merasa saat ini kondisi badannya sedang tidak baik-baik saja. Pagi tadi, tiba-tiba perutnya serasa diaduk-aduk dan kepalanya pusing. Hingga akhirnya ia memuntahkan semua isi perutnya. Walaupun yang dimuntahkan hanya cairan bening, karena memang saat itu ia belum menelan makanan apa pun. Hal itu tidak diketahui oleh Saka karena pagi tadi suaminya sedang jogging di taman komplek tempat tinggal mereka.


"Hey, Sist! Kok jadi melamun. Kamu ga apa-apa? Dari tadi pagi kulihat sepertinya kamu kurang sehat, hm? Kalau ga ikut juga ga apa-apa, kok. Lebih baik istirahat aja di rumah," papar Distha, kembali tangannya mengusap punggung sahabatnya.


"Aku ga apa-apa. Baiklah, aku ikut deh! Ya ... sekalian aku mau lihat model kebaya buat wisuda," sahut Danisha riang. Ia teringat jika ia belum menyiapkan baju kebaya untuk acara wisudanya bulan depan.


"Nah, benar itu! Aku juga belum punya kebaya buat wisuda nanti. Cerdas kamu, Sist! Yuk, ah! Sekalian kita lihat dan pilih kebayanya, ya!" seru Distha girang.


Danisha pun tertawa kecil. Mereka pun segera menghabiskan minuman mereka sebelum beranjak dari kantin kampus. Danisha sudah mengirim pesan pada Saka bahwa dirinya saat ini menemani Distha fitting gaun pengantin di butik pilihan Bu Wina, Mamanya Distha.


Sementara itu, Saka masih disibukkan dengan banyaknya pekerjaan hari itu setelah menghadiri meeting dengan dua klien dari luar kota. Ia mendengar beberapa kali bunyi notifikasi pesan masuk. Namun ia abaikan karena ia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya, kemudian bergegas menjemput Danisha.


*******


Danisha berlari ke toilet di butik tempat Distha fitting gaun pengantinnya. Rasa mual yang dirasakannya sejak masih berada di dalam mobil Distha saat perjalanan ke butik sudah tak sanggup ia tahan lagi. Distha yang sedang mematut dirinya di depan cermin dengan gaun pengantinnya, seketika panik melihat sahabat baiknya itu berlari sembari menutup mulut dengan sebelah tangannya. Ia pun mengikuti Danisha yang sudah berada di dalam toilet. Terdengar olehnya suara Danisha yang sedang memuntahkan isi perutnya.


"Sist! Are you ok?" Distha mengetuk pintu pelan dan menanyakan keadaan Danisha dengan cemas.


"Ada apa?" tanya Bu Wina, Mama Distha, yang baru saja datang, diikuti oleh Dokter Ardhy.


"Bang, tolong hubungi Saka segera! Danisha muntah-muntah," pinta Distha penuh kekhawatiran.


"Danisha ada di dalam?" tanya Dokter Ardhy dengan tangan yang menunjuk ke pintu toilet. Distha mengangguk, raut wajahnya terlihat sangat cemas.

__ADS_1


"Buruan telpon Saka, Bang!" suruh Distha sekali lagi.


"Ga perlu! Aku ga apa-apa." Tiba-tiba pintu toilet terbuka. Danisha keluar dengan lemas dan wajah yang pucat.


"Ga apa-apa gimana! Muntah begitu bilang ga apa-apa!" protes Distha.


"Sudah, ayo cari tempat duduk dulu!" sela Bu Wina sembari menuntun sahabat anak gadisnya.


"Ya, kalian duduk dulu. Aku ambil peralatanku dulu," cetus Dokter Ardhy yang bergegas mengambil peralatan medisnya yang selalu ia bawa di mobil.


Sementara Bu Wina, Distha dan Danisha pun menuju ruangan fitting dan duduk di sofa yang tersedia di ruangan itu.


"Maaf. Silahkan diminum air putih hangatnya, Mbak," ucap Asisten pemilik butik sembari menyodorkan segelas air putih hangat pada Danisha.


"Oh ya, terima kasih. Maaf merepotkan," sahut Danisha, tersenyum di sela wajah pucatnya.


"Terima kasih, Mbak," ucap Bu Wina pada wanita cantik Asisten pemilik butik itu.


"Sama-sama, Bu. Saya tinggal dulu. Nanti kalau sudah siap lanjut fitting, bisa panggil saya lagi," ujar wanita cantik itu.


Ketiga orang itu pun mengangguk hampir bersamaan. Pada saat itu juga, Dokter Ardhy muncul dengan membawa tas punggung yang berisi peralatan medisnya.


"Tolong jangan hubungi Saka, Bang. Aku udah baikan, kok. Maaf merepotkan kalian," cetus Danisha dengan senyum tipisnya.


Dokter Ardhy menghela napasnya singkat. Lalu ia berjongkok di hadapan Danisha.


"Baiklah! Tapi boleh kan, aku cek kondisi kamu dulu?" bujuk Dokter Ardhy dengan seulas senyuman.


Danisha mengangguk. Ia pun menurut dengan perkataan Abang sepupu suaminya itu.


Distha pun tersenyum lega. Biasanya sahabat baiknya itu bersikap keras kepala bila harus berurusan dengan dokter atau rumah sakit.


Dokter Ardhy pun mengambil stetoskop dan alat pengukur tekanan darah dari dalam tasnya. Kemudian ia mulai menggunakan stetoskop-nya. Memeriksa detak jantung Danisha, juga memeriksa denyut nadi wanita yang menjadi sahabat baik calon istrinya. Setelah itu, ia memeriksa tekanan darah istri adik sepupunya itu.


"Danish, Tante minta maaf sebelumnya. Danish terlambat datang bulan?" Bu Wina tiba-tiba menyela dengan pertanyaan yang sontak membuat Distha dan Danisha langsung menatap wanita paruh baya itu dengan mata membulat.


Bu Wina menghela napas panjang. "Ya ampun, ini kok pada melotot begitu! Tante cuma bertanya lho, Danish. Siapa tau perkiraan Tante benar. Wajah kamu pucat, mual dan muntah, serta kepala pusing. Tanda wanita hamil itu ... Nah, kalau ditambah kamu telat datang bulan, bisa jadi benar Danish hamil," papar Bu Wina antusias dengan senyum semringah di wajahnya.


"Bukan begitu, Nak Ardhy?" tanya Bu Wina pada calon menantunya.


Dokter Ardhy tersenyum, lalu menatap wanita berhijab yang baru saja selesai diperiksanya.


"Sayang, benar Danish hamil?" sela Distha ingin tahu.


Dokter Ardhy pun berganti menatap calon istrinya, masih dengan seulas senyum di bibirnya.


Distha menatap calon suaminya tanpa berkedip, menunggu jawaban dari dokter tampannya.


"Bisa jadi, sih!" celetuk Dokter Ardhy.


"Kok, bisa jadi? Benar hamil atau tidak, sih?" cecar Distha.


"Makanya tadi Mama nanya ke Danish, apa terlambat datang bulan?" tutur Bu Wina.


Danisha terdiam, tenggorokannya tercekat.


"Tekanan darah kamu rendah sekali, Danish. Maaf, kamu udah terlambat datang bulan?" tanya Dokter Ardhy, yang melihat kegelisahan di raut wajah Danisha.


"Aku kecapekan aja, kok. Ga mungkin hamil. Tau sendiri kan, beberapa bulan terakhir aku sibuk menyelesaikan skripsiku," jawab Danisha, tersenyum samar pada ketiga orang yang bersamanya. Ia tidak ingin Saka tahu kondisinya saat ini. Suaminya itu akan dengan heboh menyuruhnya menggunakan test pack untuk tes kehamilan lalu mengajaknya periksa ke dokter kandungan. Dan ujung-ujungnya kekecewaan yang ia dapatkan. Hal ini sudah tiga kali terjadi. Ia sudah tidak mau lagi melihat suaminya kecewa untuk yang keempat kalinya karena hasil test yang tidak sesuai dengan harapannya.


Distha duduk di samping Danisha dan mengusap lembut punggung sahabatnya. "Iya, makanya sekarang mendingan kamu pulang dan istirahat. Biar Bang Ardhy menghubungi Saka buat jemput kamu. Ya?" Dengan lembut Distha memberi saran kepada sahabat baiknya itu.


"Saka lagi sibuk hari ini. Masih 1 jam lagi jam pulang kerja. Ga apa-apa aku tunggu dia di sini, sekalian aku mau coba kebaya buat wisuda," jawab Danisha santai.


Ketiga orang yang bersamanya pun saling pandang. Keras kepala wanita berhijab itu rupanya tidak pernah hilang.


Bu Wina pun mengedikkan bahunya, lalu tersenyum pada Danisha yang sedang duduk bersandar di sofa.


"Udah, deh! Kalian buruan fitting, gih! Aku udah baikan, kok!" celetuk Danisha sembari mendorong tubuh Distha yang berdiri di hadapannya.


"Bener, ya, ga apa-apa? Trus, kebaya mana yang jadi kamu pilih buat wisuda?" tanya Distha.


"Yang tadi aja," sahut Danisha santai.


"Tadi kamu pilih dua kebaya, kan? Jadi yang mana?" tanya Distha lagi.

__ADS_1


"Dua-duanya, kali!" kelakar Danisha sembari tertawa kecil dan mengedipkan sebelah matanya pada Distha.


"Ish!" cibir Danisha, mulutnya mencebik.


Bu Wina dan Dokter Ardhy tersenyum menyaksikan interaksi dua orang wanita yang bersahabat sejak mereka memakai seragam putih biru itu.


*******


Malam harinya, Danisha sudah berbaring di ranjang, siap untuk tidur. Sementara Saka masih sibuk dengan laptop-nya. Ia terpaksa membawa pekerjaannya ke rumah karena sore tadi ia harus segera menjemput Danisha setelah membaca pesan dari si Abang sepupunya, Dokter Ardhy. Sementara ia belum selesai dengan pekerjaannya hari ini.


Danisha yang berbaring miring menghadap ke tempat dimana Saka sedang menyelesaikan pekerjaannya, memperhatikan suaminya lekat. Sesekali ia tersenyum mengagumi suaminya yang terlihat serius dengan pekerjaannya.


Saka yang merasa diperhatikan pun tersenyum tipis.


"Tidurlah dulu, Bee, kalau emang udah ngantuk," celetuk Saka.


Danisha tersenyum. "Jangan terlalu malam, Mas. Emang ga bisa dilanjut besok di kantor?" tanya Danisha, matanya mulai meredup.


"Harus hari ini selesai, Sayang. Ini dokumen buat meeting besok pagi. Tidurlah dulu, sebentar lagi ini selesai, kok!" jawab Saka sembari tersenyum menatap istrinya yang telah memejamkan matanya.


Pukul 22.00, Saka baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Setelah membereskan semua dokumen pekerjaannya dan mematikan laptop, ia pun beranjak naik ke ranjang. Dikecupnya kening Danisha penuh sayang. Lalu dipandangnya wajah ayu yang selalu membuatnya rindu. Sedikit pucat.


Saka menghela napas pelahan. Dibelainya puncak kepala istrinya lembut. Ia teringat pesan yang dikirim Abang sepupunya sore tadi. Ia pun berbaring miring sembari memeluk Danisha dari belakang. Diusapnya perut rata istrinya pelan dan lembut agar tidak membangunkannya.


Maaf jika aku terlihat terlalu memaksamu, Bee. Aku memang sangat menginginkannya hadir di sini.


Batin Saka bermonolog. Ia semakin mengeratkan pelukannya, mengecup bahu istrinya perlahan hingga ia pun memejamkan matanya karena lelah.


Adzan subuh membangunkan Danisha dari istirahat malamnya. Hembusan napas hangat dapat ia rasakan menerpa keningnya. Ia tersenyum melihat tangan kokoh suaminya melingkar di pinggangnya. Kepalanya mendongak, menatap wajah suaminya yang masih tertidur tenang.


"Sayang ... Bangun, yuk! Salat subuh dulu." Danisha membangunkan Saka dengan tangannya yang mengusap lembut wajah suaminya itu.


Saka mengerjap, mengumpulkan kesadarannya. Setelahnya, ia tersenyum pada Danisha yang sedang menatapnya dengan senyuman manisnya.


"Pagi, Sayang," ucap Saka dengan suara serak khasnya yang baru bangun tidur. Bukan melepaskan pelukannya, ia malah semakin mengeratkan pelukannya, setelah mengecup kening istrinya cukup lama.


"Sayang ... Udah subuh, lho! Ayo bangun, dong! Keburu habis subuhnya. Katanya ada meeting pagi-pagi," celoteh Danisha, kembali membangunkan Saka yang kini memejamkan matanya lagi.


Saka membuka matanya, sedikit mengerjap dan mengurai pelukannya sembari menggeliat meregangkan otot-otot tubuhnya.


"Udah enakan perutnya?" tanyanya kemudian sambil menatap Danisha sayu.


Danisha tersenyum dan mengangguk. Padahal saat ini Danisha merasakan perutnya kembali sedikit mual. Wanita berlesung pipi itu pun beranjak dari posisi baringnya, kini ia sudah dalam posisi duduk di tepi ranjang.


"Jangan diam kalau kamu merasakan kondisimu ga baik ya, Bee. Aku ga mau orang lain lebih tau keadaanmu daripada suamimu sendiri," ungkap Saka, perlahan ia bangun dari baringnya dan kini posisinya juga sudah duduk bersandar di kepala ranjang.


Danisha yang sudah turun dari ranjang menatap Saka yang kembali menggerakkan kedua tangan, kepala dan badannya untuk meregangkan otot-otot tubuhnya. Kemudian lelaki halalnya itu turun dari ranjang dan berjalan menghampirinya. Senyumnya tetap rupawan tersungging indah membingkai wajah bangun tidurnya.


"Urusan skripsi di kampus udah beres semua, kan?" tanya Saka, tangannya meraih pinggang Danisha dan merapatkan tubuh wanita halalnya ke tubuhnya hingga tak ada jarak di antara mereka. Kening mereka pun menyatu. Keduanya bisa merasakan hangatnya hembusan napas masing-masing.


Danisha tersenyum malu, wajahnya merona. Entah kenapa beberapa hari ini ia selalu merasakan debaran jantungnya meningkat saat berdekatan dengan Saka. Terlebih bila mendapat perlakuan yang manis dari suaminya itu. Seperti saat ini, keduanya berada pada posisi yang sangat intim. Danisha merasa seperti jatuh cinta lagi. Bahkan perasaan cintanya pada Saka semakin bertambah, melebihi sebelumnya.


Kening keduanya masih menyatu hingga hidung mancung mereka pun bersentuhan. Saka memiringkan wajahnya, matanya tak lepas menatap bibir mungil nan tipis istrinya. Detik selanjutnya bibirnya sudah menyapu bibir Danisha, memagutnya penuh kelembutan. Tubuh Danisha menegang, desiran hangat menyapu hatinya. Perutnya yang sedikit mual diabaikannya. Ia lebih menikmati perlakuan suaminya saat ini. Hingga Saka melepaskan pagutannya, dengan senyum lebar di wajahnya. Danisha semakin merona, ia pun tertunduk malu.


"Bee ..." gumam Saka dengan suara seraknya.


"Kita ke dokter Obgyn, ya ...." bisik Saka lembut.


Tbc



**Akhirnya Danisha lulus juga kuliahnya. Dia kerja keras tuh biar cepat lulus dan wisuda bareng dua sahabatnya, Distha & Prasta yang udah lulus duluan ☺️ Nah, saking kerja kerasnya, sampai kecapekan gitu, loh! Eeiitttsss, kecapekan benar atau hamil benaran? πŸ€”


Banyak terima kasih buat jempol, komen dan vote nya yaa, tetap stay tune di sini ... menuju story end yaa πŸ€—


Btw, jangan sampai ketinggalan buat pesan Buku Antologi Cerpen Sepucuk Cerita Di Kereta Senja, ada cerpen Imoet juga di sana.


Masa Pre-Order sampai 15 Juni 2021 yaa ... HARGA 40K only (belum termasuk ongkir). Bisa langsung chat Imoet di WA +6282232768817.


Sragen, Blitar, Bandung, Palembang, Riau & Purwodadi udah masuk list nih, yang lain Imoet tunggu yaa 😘


Thank you n Love you πŸ€—πŸ’žπŸ’ž


__ADS_1


__ADS_2