
Saka berjalan terburu-buru ke tempat parkir kampus. Audy sudah menunggunya di tempat mobil nya diparkir.
" Sorry, ya... udah lama nunggunya ? " tanya Saka ketika sudah sampai di tempat mobilnya diparkir
" Belum lama kok, " jawab Audy tersenyum simpul.
" Tadi ketemu teman-teman di kantin. Sorry ya, Dy, " ucap Saka.
" It's ok kok, ga masalah, " sahut Audy.
Saka membuka pintu mobilnya dan masuk ke bangku kemudi, demikian pula Audy, masuk ke bangku di samping kemudi.
" Kita mau kemana sih ? " tanya Audy penasaran.
" Udah ngikut aja, nanti kamu juga bakal tau. Tapi kita makan dulu ya... ada ide, makan di mana yang enak ? " ujar Saka dengan mulai melajukan mobilnya perlahan karena masih berada di lingkungan kampus.
" Uummm... dimana ya ? Aku ngikut kamu aja deh ! Makan apa aja boleh, " cetus Audy sambil tersenyum tipis.
" Ok ! Kita makan sop buntut mau, kan ? " celetuk Saka.
Ah, Danisha ! Makanan kesukaan Danisha, sop buntut. Maafkan aku, Danish. Saka bergumam dalam hati, teringat pada Danisha. Hatinya berdesir indah melafalkan nama gadis manis yang dicintainya.
" Boleh deh, sop buntut. Hehehe.... " jawab Audy sambil melirik Saka yang tiba-tiba diam tapi tetap fokus dengan jalanan. Hanya saja, wajahnya berubah sedih.
" Saka ! Ka ! " seru Audy.
Saka tersentak mendengar seruan Audy. Ia memandang Audy sekilas.
" Eh ! I... iya... Dy. Ada apa ? " tanya Saka gelagapan.
" Kamu ga apa-apa ? Kok melamun sih ! " tanya Audy ingin tahu.
" Aku ? Melamun ? Masa sih ? " ujar Saka pura-pura tidak mengerti maksud pertanyaan Audy.
Audy tersenyum tipis.
" Iyaa... kamu kok tiba-tiba diam kek ada yang dipikirin gitu, " cetus Audy.
" Iya kah ? "
" Iya... so, kita makan sop buntut ? " tanya Audy.
" Kamu mau yang lain ? " Saka bertanya balik.
" Uummm... pilihan kamu bagus juga. Aku juga suka sop buntut kok, " sahut Audy dengan senyum sumringah.
" Ok, kalo begitu. Fix sop buntut ! " putus Saka sambil melihat Audy sekilas. Gadis disampingnya tersenyum simpul.
Mobil Saka berhenti di sebuah kedai yang cukup terkenal di kotanya. Keduanya pun turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam kedai itu.
Setelah mendapatkan tempat duduk yang nyaman, seorang pelayan datang memberikan buku menu dan secarik nota pemesanan menu.
Audy pun mengambil nota pemesanan dan bolpoinnya.
" Menu spesial di sini memang sop buntut ya, Ka, " tanya Audy, karena ia belum pernah sekalipun singgah di kedai ini.
" Ada sop buntut, sop iga dan nasi campur sih yang banyak dipesan orang. Kamu mau yang mana ? Aku sop buntut aja deh ! " ujar Saka.
" Kalo gitu aku mau coba sop buntut juga, " cetus Audy.
" Aku minum jeruk nipis hangat ya, Dy. Kamu minum apa ? " tanya Saka
" Aku minum teh manis hangat aja, " jawab Audy.
Audy pun menuliskan satu per satu pesanannya. Setelah itu, Saka memanggil seorang pelayan untuk memberikan nota pemesanan tersebut.
Kembali Saka teringat Danisha. Biasanya kalo mereka makan di kedai ini, Danisha lah yang menuliskan pesanan mereka.
" Jadi, kamu sering ya singgah kemari ? " tanya Audy.
" Begitulah ! " jawab Saka singkat.
" Sama keluarga ? " lagi Audy bertanya seolah benar-benar ingin menyelidik.
" Ga juga sih ! Seringnya sama teman-teman, " cetus Saka.
" Owh... sama Distha, Prasta dan Danisha ? " tebak Audy.
Saka mengangguk tanda tebakan Audy benar.
" Trus habis ini kita mau kemana sih, Ka ? "
" Ke sana, " jawab Saka, tangannya menunjuk sebuah tempat, tepatnya di jembatan.
Audy mengernyitkan dahinya, bingung.
Pesanan telah datang diantar pelayan.
" Selamat menikmati, Kak, " ucap si pelayan.
" Makasih, Mbak, " jawab Saka dan Audy.
" Yuk, kita makan dulu biar ga keburu dingin, " ujar Saka.
Mereka pun melahap makanan pesanan mereka. Audy tersenyum tipis, memang enak rasa sop buntutnya.
" Hmm... enak bener ini, Ka, " ucap Audy sambil terus melahap sop buntutnya.
" Alhamdulillah, kalo kamu cocok, " jawab Saka tersenyum tipis.
" Emang kalo ke sini, kalian selalu pesan sop buntut ? " tanya Audy.
" Ya ga sih ! Tapi emang paling seringnya kita pesan sop buntut atau sop iga. Kalo Danisha suka banget sama 2 menu itu. Sama kek aku. Kalo Prasta sukanya sop buntut atau kalo bosan dia pesan nasi campur. Kalo Distha seringnya nasi rawon atau ayam goreng Kalasan, " jelas Saka, ia terlihat bersemangat menceritakan makanan kesukaan sahabat-sahabatnya.
Audy manggut-manggut dan tersenyum simpul mendengar cerita Saka.
" Keknya kapan-kapan aku mau coba menu lain kalo singgah ke sini, " tukas Audy yakin.
" Mungkin kita bisa ke sini sama mereka. Keknya asyik ramai-ramai ya, Ka, " lanjut Audy dengan senyum lebarnya.
Saka mengangguk dan tersenyum sambil menyeruput minumannya.
******
Distha mengantarkan Danisha ke toko kue Bundanya sebelum ke studio untuk siaran.
Sebelumnya, Danisha sudah memberi kabar pada Mas Rendra bahwa Distha akan mengantarkannya ke studio.
" Kamu hati-hati ya, sayang. Salamku buat Bunda ya, " ucap Mas Rendra di telepon
" Iya, Mas. Insya Allah disampaikan. Mas udah di studio ? " tanya Danisha
" Udah dari 1 jam yang lalu. Makanya buruan datang, aku kangen.... "
" Sekarang makin sering ngegombal. Udah ya... ini udah mau sampai toko Bunda. See you, Mas. "
Danisha mengakhiri panggilan teleponnya. Pada saat bersamaan, Distha juga menghentikan mobilnya di halaman toko kue Bunda.
Mereka berdua pun bergegas masuk dan langsung disambut oleh sang Bunda.
__ADS_1
" Ini pesenannya, nanti masukkan kulkas lagi biar enak pas dimakan, " ujar Bunda memberikan puding mangga dan leci yang akan ia berikan pada Nay.
" Makasih banyak ya, Bunda, " ucap Danisha.
" Bun, kalo masih ada stock, bisa bawain buat Mamanya Distha ? " tanya Danisha kemudian.
" Owh iya, Bunda lupa. Padahal udah Bunda packing lho ! Hehehe... Ini sayang. Maaf ya, Distha. Bunda lupa, maklum udah tua... " tukas Bunda terkekeh.
" Ah, Bunda masih muda dan selalu cantik, lho ! Makasih banyak, Bunda. Mama pasti suka, " ucap Distha senang.
" Ya udah, Bun. Kita langsung pamit ya... makasih banyak, Bunda. Assalamualaikum, " pamit Danisha dan Distha.
" Waalaikumsalam, hati-hati ya... salam buat Nak Rendra ya, Danish, " sahut Bunda.
Mereka berdua pun segera masuk mobil dan meluncur ke jalanan yg padat menuju studio DG FM.
" Hubungan kamu sama Mas Rendra gimana, Sist ? " tanya Distha tiba-tiba, masih dalam perjalanan ke studio DG FM.
" Baik-baik aja, so far. Kenapa sih kok tiba-tiba nanya begitu ? " tanya balik Danisha.
" Ya ga apa-apa... Adiknya Mas Rendra seangkatan sama kita ya ? "
" Iya... Kenapa sih Dis ? "
" Ga kenapa-kenapa, Danish. Cuma nanya, ga boleh ? "
" Ya ga apa-apa lah ! Dis, aku boleh tanya ? "
" Ck, ini lagi, mau tanya apa ? " Distha sedikit memberengut.
" Uummm... Saka sekarang dekat sama teman SMA kamu ya ? Siapa sih namanya, yang anak ekonomi itu ? " tanya Danisha yang sangat penasaran.
" Audy ? "
" Owh Audy ya namanya. Aku kapan hari ketemu mereka di toko buku. Kemarin di kampus juga ketemu, pas mereka baru turun dari mobil, " cerita Danisha, suaranya sedikit berubah sedih.
Distha menyadari perubahan sikap Danisha ketika membicarakan Saka dan dia tahu sebenarnya bagaimana perasaan sahabatnya itu. Namun dia juga paham ada batasan-batasan yang tidak bisa dia terjang, mencampuri urusan hati sahabatnya.
" Kamu menyapa mereka ? " tanya Distha yang terpancing rasa penasarannya.
Danisha menggelengkan kepalanya.
" Ga ! Mereka ga melihatku, " jawab Danisha.
" Kok ga disapa ? " tanya Distha lagi.
" Ga lah ! Takut mengganggu, mereka kelihatan asyik berbicara. "
" Uummm... Saka tadi kita ajak ngobrol ga mau karena ada janji sama Audy kali ya ? " Danisha semakin bertanya-tanya ingin tahu sejauh mana hubungan mereka.
" Mungkin, " sahut Distha singkat sambil menepikan mobilnya di depan studio DG FM.
" Sorry, aq ga bisa ikut masuk ke dalam. Aku langsung pulang ya ? Thank you pudingnya, " ucap Distha sambil mencium pipi kanan dan kiri Danisha.
" Aku yang harusnya say thank you, udah kamu antar ke sini. Salam buat Mama dan Kak Mitha ya.... " sahut Danisha dengan tersenyum manis pada Distha.
" Salam buat Mister Rendra, ya... Assalamualaikum...." pamit Distha sambil terkekeh dan melambaikan tangan.
" Waalaikumsalam... hati-hati, Sist, " seru Danisha.
Setelah mobil Distha melaju pergi, Danisha pun bergegas masuk ke dalam studio.
Belum lagi ia membuka pintu, tiba-tiba pintu terbuka dan di depannya berdiri laki-laki tegap rupawan yang sangat dikenalnya.
" Hai, sayang ! " sapa Mas Rendra.
" Mas ngagetin aja ih ! " ucap Danisha dengan tangan memegang dada.
Suasana sangat ramai di dalam studio. Tumben, pikir Danisha.
" Tumben ramai. Nay mana, Mas ? " tanya Danisha.
" Biasa di dalam ruanganku. Ini apa ? "
" Puding dari Bunda buat Nay, " jawab Danisha tersenyum.
" Ck, Bunda kok repot sih ! Kamu udah baca pesan dari Hendra ? "
" Apa ? Aku belum check ponselku. Kenapa, Mas ? " tanya Danisha.
" Tuh orangnya di dalam. Kamu tanya dia langsung aja, " cetus Mas Rendra sambil berjalan menuju ruangannya sambil membawa puding dari Danisha.
" Apaan sih ! " gerutu Danisha sambil berjalan menuju ruangan penyiar.
" Bang, ada apa ? " tanya Danisha pada Bang Hendra.
" Pasti belum baca pesanku ya... Aku tukar siaran hari ini ya, Non. Kamu siaran besok, hari ini kamu off, " jelas Bang Hendra.
" Yaaa... tau gitu aku ga ke sini, Bang, " sungut Danisha.
" Sorry, aku besok ada urusan mendadak. Ga apa kan ? Lagian, kesayangan kamu mau ngajak jalan tuh ! Dah, buruan sana jalan ! " tukas Bang Hendra sambil tertawa.
Danisha buru-buru ke ruangan Mas Rendra.
" Hai, Nay ! Itu pudingnya dari Bunda. Masukkan kulkas dulu gih ! Biar enak pas mau dimakan, " ujar Danisha yang duduk di sofa tempat Nay duduk.
" Iya, makasih ya, Mbak. Aku taruh kulkas dulu deh ! " kata Nay berjalan menuju pantry untuk meletakkan pudingnya ke dalam kulkas di sana.
" Sayang udah makan belum ? " tanya Mas Rendra.
" Belum. Eh tadi Bang Hendra bilang, katanya mau ngajak jalan ? Kemana ? " tanya Danisha penasaran.
" Jalan sekarang aja yuk, sekalian cari makan trus ngantar Nay, " ajak Mas Rendra.
" Ayo mumpung masih belum terlalu sore, sayang, " rayu Mas Rendra yang saat ini sudah duduk di sebelah Danisha.
" Mau kemana dulu ? " tanya Danisha lembut.
" Kencan, " bisik Mas Rendra tersenyum nakal.
Danisha menautkan kedua alisnya.
" Kita belum pernah kencan lho, sayang. Hmm ? " cetus Mas Rendra.
" Ayo, Mas. Sekarang aja. Temanku tadi udah bilang kalo dia udah jalan, " celetuk Nay berdiri di dekat pintu.
" Emang mau kemana, Nay ? " tanya Danisha.
" Ketemu teman, Mbak. Baru tau kalo dia ada di Surabaya, karena dia melihat story WA ku yang aku bilang lagi liburan di Surabaya. Trus dia langsung chat tadi pagi dan minta ketemuan. Hehehe.... " cerita Nay dengan tawanya yang sumringah.
" Nanti Mbak Danish dan Mas Rendra nge drop aku aja di Mall tempat kami janjian. Setelah itu ditinggal aja ga apa kok. Kalian kencan sendiri aja, " Nay mengedipkan sebelah matanya menggoda sepasang kekasih itu sambil berlalu pergi setelah mengambil tas nya.
" See...! Nay udah tau kok ! " Mas Rendra juga mengedipkan sebelah matanya. Lalu ia menggenggam tangan kekasih hatinya. Dipandangnya wajah sang kekasih dengan sendu.
" Ada hal yang mau aku bicarakan. Aku mau bicara berdua denganmu serius dan ga mau ada yang mengganggu. " ucap Mas Rendra lirih.
Entah kenapa hati Danisha berdesir. Seolah ucapan laki-laki yang membuatnya jatuh cinta itu benar-benar ada sesuatu yang serius.
Danisha tersenyum, " Ok, let's go. "
__ADS_1
Keduanya pun beranjak dari duduknya. Mas Rendra menutup laptop dan membereskan mejanya. Setelah itu, mereka berdua pun berpamitan kepada seluruh kru yang ada di studio.
" Hen, thank you ya. Kita duluan, " ujar Mas Rendra pada Bang Hendra, mereka berdua saling beradu tangan sambil tersenyum lebar.
" Sama-sama, Bro ! " jawab Bang Hendra.
******
Setelah mengantar Nay bertemu dengan temannya, Mas Rendra mengajak Danisha mencari tempat makan.
" Mau makan apa, sayang ? " tanya Mas Rendra.
" Apa aja deh, Mas. Aku ngikut aja, " jawab Danisha tersenyum.
" Ok ! " Mas Rendra pun melajukan mobilnya ke sebuah rumah makan Jepang.
Dalam perjalanan dari Mall setelah mengantar Nay, di sebuah traffic light dekat jembatan tempat anak-anak jalanan, Danisha melihat Saka dan Audy. Mereka sedang bercanda dengan beberapa anak jalanan. Mata Danisha tak lepas menatap mereka. Saka tertawa lepas bercanda dengan Audy dan teman-teman pinggiran mereka.
Bunyi klakson membuat Danisha tersadar dari diamnya. Sekilas kembali dilihatnya sahabat laki-lakinya yang telah mulai menjauh darinya itu.
Mungkin dia lebih bahagia bersama Audy sekarang, batin Danisha dengan helaan napas panjang. Pandangannya pun beralih lurus ke depan.
" Kenapa, sayang ? Pusing ? " tanya Mas Rendra menggenggam tangan Danisha.
" Sedikit, " singkat Danisha menjawab.
" Mungkin karena belum makan. Sabar ya, " ujar Mas Rendra.
Danisha tersenyum dan mengangguk.
Mas Rendra balas tersenyum dan mengusap lembut pipi gadisnya yang berlesung.
Sementara itu, Saka dan Audy terlihat sedang menikmati kebersamaan mereka dengan anak-anak jalanan yang terpaksa menjadi pengamen atau berjualan makanan kecil dan minuman, juga ada yang berjualan majalah dan koran. Audy tampak tidak canggung sama sekali berinteraksi dengan mereka.
Di tempat itu, Saka baru mengetahui jika Audy piawai memainkan gitar maupun ukulele.
Selain memainkan gitar, Audy juga menunjukkan suara merdunya. Saka benar-benar terpukau melihat aksi Audy.
Gadis berbakat, cantik dan humble, gumam Saka dalam hati. Ia tak memungkiri jika ia mulai merasa nyaman bersama gadis itu. Namun di sebagian relung hatinya masih saja ada gadis lain yang teramat dicintainya.
" Hai ! Kok melamun ? " tiba-tiba Audy sudah berada di hadapannya.
Saka tersenyum simpul, " Ga kok ! Terkejut aja melihat gadis cantik pandai bermain gitar sambil bernyanyi. Suara yang merdu. "
Audy terkekeh, " Apa coba ? Ngeledek banget ih ! Seneng aja main sama mereka, melihat mereka tertawa seolah tak pernah terpikirkan kehidupan berat yang mereka jalani. " Audy memandangi anak-anak jalanan itu dengan tatapan sendu.
Saka memandang gadis di hadapannya sambil tersenyum. Audy terpaku dengan tatapan manis Saka. Keduanya saling menatap, sibuk mencari sesuatu pada masing-masing manik mata mereka.
Tolong jangan menatapku seperti itu, Ka. Kamu membuatku ga bisa melepasmu, batin Audy. Hatinya bergemuruh hebat.
Apakah aku mulai menyayangimu ? Aku merasa nyaman bila berada di dekatmu, bila bersamamu. Saka berbicara dalam hati, mencoba mencari dan meyakinkan hatinya.
******
Mas Rendra membawa Danisha ke salah satu restoran Jepang. Dan saat ini, mereka sedang menikmati hidangan Suki.
Sesekali Mas Rendra menyuapi Danisha. Begitupun sebaliknya.
Mas Rendra menatap kekasih nya intens. Danisha merasa ada sesuatu dengan Mas Rendra, entah apa itu. Ia meletakkan sumpit yang dipegangnya. Kemudian menatap balik laki-laki mempesona di hadapannya.
" Uummm... tadi katanya mau bicara serius ? Bicara apa ? " tanya Danisha penasaran.
" Sayang, aku mencintaimu dan aku serius. Aku sungguh-sungguh dan aku tidak main-main dengan perasaanku, " Mas Rendra mengawali bicaranya. Ia sungguh bingung bagaimana seharusnya berkata.
" I know ! Aku juga mencintai kamu, Mas, " ucap Danisha serius, membuat Mas Rendra segera meraih sebelah tangan gadisnya dan mengecupnya lembut dan lama.
Lalu tiba-tiba dan entah bagaimana, Mas Rendra memasangkan cincin di jari manis Danisha yang membuatnya benar-benar terkejut.
" Mas ! " pekik Danisha dengan suara tertahan, takut semua orang di tempat itu mendengarnya.
Mas Rendra tersenyum.
" Ini berlebihan, Mas. "
" No, sayang ! Ini hanya cincin biasa. Aku hanya ingin kamu selalu mengingatku jika... " Mas Rendra tidak melanjutkan ucapannya.
" Jika apa ? " tanya Danisha cepat.
" Jika... kita sedang tidak bersama, " jawab Mas Rendra lirih dan sedikit gugup.
" Emangnya Mas mau pergi ? " tanya Danisha sedikit ragu. Mata beningnya menatap Mas Rendra ingin penjelasan.
" Uummm... Sayang, aku... " Mas Rendra berhenti sejenak, bibirnya seolah tidak mau untuk mengatakan apapun.
" Mas mau pergi ? " Sekali lagi Danisha bertanya dan suaranya semakin lirih, sedikit bergetar.
Mas Rendra pun beranjak untuk duduk di samping Danisha. Perlahan ia pun berbicara.
" Sayang... aku harus kembali ke Malang, " akhirnya Mas Rendra mengatakannya. Tenggorokannya terasa kering tiba-tiba.
Danisha menundukkan kepalanya, entah harus bagaimana. Ia pandangi cincin pemberian kekasihnya yang telah melingkar di jarinya.
" Maafkan aku. Tapi aku mau kita tetap menjalani hubungan ini karena aku mencintaimu, aku mau tetap bersamamu. Aku serius dengan hubungan kita, " jelas Mas Rendra sambil menggenggam tangan Danisha.
" Sayang, please... look at me. "
Perlahan Danisha menegakkan kepalanya menatap Mas Rendra.
" Kenapa ? " pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Danisha.
" Aku mempunyai kewajiban yang harus aku kerjakan untuk orang tuaku. Tolong kamu jangan berpikir terlalu jauh untuk alasanku kembali ke kota kelahiranku, " tutur Mas Rendra.
" Lalu DG FM ? " tanya Danisha lagi.
Mas Rendra menghela napasnya dalam.
" Untuk sementara aku tinggalkan. Aku udah berbicara dengan Pak Andre, beliau memaklumi, " ucap Mas Rendra.
" Kita akan tetap jalani semuanya, sayang. "
" LDR ? "
" Ya ! Malang Surabaya tidak jauh, sayang. Kita bisa ketemu kapanpun. "
" Boleh tau kewajiban apa itu yang harus Mas kerjakan ? Jujur, banyak yang ingin aku tau tentang Mas. Selama ini aku ga pernah tau, siapa Mas sebenarnya. Maksud aku tentang keluargamu, " bibir Danisha tiba-tiba lancar berkata-kata.
' Aku tau Nay itu adikmu pun baru beberapa hari lalu. Selama ini kamu tidak pernah sepenuhnya terbuka dan jujur padaku, Mas, " lanjut Danisha.
Tbc
**Hai LOTA Lovers 💞💞
Maafkan baru bisa up 🙏 kehidupan RL buatku ga bisa berkutik 🤧
Next mungkin akan slow up tapi tetap akan diusahakan up sesegera mungkin 😁
Jan lupa di Fave ya.. tinggalkan jejak jempol kalian, rate n komen... Alhamdulillah bila ada yg mau vote 🤭
Oh ya, Prasta dan Renata udah punya lapak sendiri yaa.. Jan lupa mampir dan tinggalkan jejak kalian untuk mereka di LOVE AND DREAMS 😘
__ADS_1
Banyak terima kasih, cinta dan sayang buat kalian my LOTA Lovers 🤗😘💞💞**