
Bu Dinda melambaikan tangannya pada putra dan calon menantunya saat keduanya memasuki sebuah cafe bernuansa modern yang berada di sebuah mall. Bu Dinda meminta bertemu di cafe karena sudah waktunya untuk makan siang. Wanita paruh baya tersebut tidak ingin terjadi sesuatu pada calon menantunya karena terlambat makan.
" Sayang, mau pesan apa ? " tanya Bu Dinda pada Danisha ketika putra dan calon menantunya itu sudah duduk di kursi di hadapannya.
" Cuma Danisha yang ditawari, akunya ga, ya ? " protes Saka, mendengus pelan.
" Ish ! Ga boleh protes ! Harusnya kamu sebagai laki-laki dan calon suaminya yang nawari Danisha, ladies first ! " celetuk Bu Dinda.
Danisha terkekeh melihat ibu dan anak yang beradu mulut.
" Udah, Ma. Harusnya Danisha yang nawari Saka dan Mama. Bukan sebaliknya, maaf, " tukas Danisha, jemarinya menggenggam jemari Saka menatapnya penuh sayang.
" Ma, nikahnya bisa besok aja ? " kelakar Saka sembari menaikturunkan kedua alisnya.
Seketika Danisha mencubit tangan Saka yang digenggamnya.
" Auww ! " Saka meringis kesakitan.
Bu Dinda memutar bola matanya, lalu menggelengkan kepalanya.
" Jangan dengerin dia, Danish. Sekarang kalau ngomong suka asal ! " sungut Bu Dinda.
" Kok asal, sih ! Lebih cepat kan lebih baik ! Daripada timbul fitnah, hayoo... ! " protesnya lagi.
" Lagian, administrasi juga udah beres, kan ? Tinggal tanggalnya minta dimajukan. Udah, kan ? " lanjutnya.
" Emang yang mau nikah cuma kamu, gitu ? Ga bisa seenaknya juga kali, Ka ! Catering, tenda, dan sebagainya, gimana ? " sanggah Bu Dinda.
Danisha tersenyum geli melihat calon suaminya dan calon ibu mertuanya masih beradu mulut, tidak ada yang mengalah.
" Yaaa... acara resepsinya nanti-nanti aja. Yang penting sah dulu, gitu. Akad nikah di KUA aja. Ya, kan, Bee ? " Saka masih saja tak mau kalah, mencoba bernegosiasi dengan sang Mama.
" Sayang, seharian ini kamu cerewet banget ! Udah, ga usah ngomong macem-macem. Sekarang buruan pesen makan, trus kita ke toko perhiasan, selesai, kita pulang. Keburu sore. Ya, kan, Ma ? " cetus Danisha serius.
Saka menatap Danisha intens. Ah ! Aku benar-benar ingin kita segera halal, Bee. Aku ingin setiap hari di dekatmu, bersamamu, memelukmu, menciummu dan....
" Auuww ! Mama kok main jitak aja ! Sakit, nih ! " Saka meringis kesakitan sembari mengusap-usap keningnya.
" Sayang, sakit nih ! " rengeknya manja pada Danisha.
" Biarin aja, Danish ! Pikirannya pasti kemana-mana tadi. Iya, kan ? " sungut Bu Dinda kesal.
Lagi-lagi Danisha terkekeh, sangat lucu melihat adu mulut antara ibu dan anak itu. Namun, tak urung ia mengangkat tangannya dan mengusap lembut kening kekasihnya.
" Love you, Bee.... " ucap Saka dengan wajah yang dibuat semanis mungkin.
Bu Dinda memutar bola matanya, kesal dengan kelakuan putra satu-satunya. Kemudian dilambaikan tangannya memanggil pelayan. Mereka pun memesan makanan dan minuman yang diinginkan.
*******
" Sayang, ini bagus lho ! " kata Bu Dinda, menunjukkan sepasang cincin pada Danisha yang terbuat dari emas putih yang terlihat sangat mewah karena dilapisi berlian di sekelilingnya.
Danisha menatap sepasang cincin itu dengan takjub. Buatnya, cincin itu sangat mewah dan sangat berlebihan jika dipakainya.
" Coba aja dulu, ya, " sahut Saka yang duduk di sebelah Danisha.
Seketika Danisha menoleh pada Saka yang sudah mengambil cincin itu yang berdesain untuk wanita.
" Ga usah, Sayang. Ini terlalu mewah dan mahal. Kita cari yang lain aja boleh ? " ucap Danisha.
" Kamu ga suka ? " tanya Bu Dinda.
" Bukan, Ma. Ini terlalu berlebihan. Danisha mau yang simple aja. Boleh ? " ungkap Danisha, berharap calon ibu mertuanya tidak tersinggung dengan permintaannya.
Bu Dinda tersenyum dan mengangguk.
" Tentu saja boleh, Sayang. Kan Danisha dan Saka yang pakai cincinnya, jadi kalian berhak memilih yang kalian suka. Mama cuma kasih saran aja, " tutur Bu Dinda mengusap lengan Danisha penuh sayang.
" Makasih, Ma, " Danisha tersenyum sumringah.
Lalu pandangannya berkeliling menatap berbagai model cincin pernikahan yang tersusun rapi di sebuah etalase.
" Mbak, minta tolong yang itu ya, " Danisha menunjuk sepasang cincin emas putih dengan desain crown untuk cincin wanita yang terlihat lucu, simple tetapi tampak elegan. Desain cincin pria nya juga sangat simple.
Karyawan toko perhiasan itu pun mengambilkan cincin yang dimaksud Danisha.
__ADS_1
" Silahkan, Mbak, " kata si karyawan dengan seulas senyuman.
Danisha tersenyum meraih sepasang cincin itu.
" Bagus, ga ? " tanyanya pada Saka sembari menunjukkan sepasang cincin itu.
" Bagus dan simple. Cincin wanita nya, cantik, lucu, unik, kek kamu, " ujar Saka lembut, tangannya memegang cincin berdesain crown dan meraih tangan kiri Danisha, lalu memasangkannya di jari manis calon istrinya itu. Pas sekali masuk di jari manis Danisha.
Wajah Danisha merona, tersenyum malu. Ia memandang jari manisnya dengan cincin yang baru saja disematkan calon suaminya.
" I love you, " bisik Saka di telinga Danisha sembari memeluk mesra pinggang calon istrinya.
Demi apa, hati Danisha berbunga-bunga mendengar bisikan tiga kata indah dari bibir sang kekasih yang tinggal menghitung hari sah menjadi suaminya. Entah, saat itu Danisha merasa teramat sangat bahagia mendengar pernyataan cinta dari Saka. Padahal bukan hanya sekali Saka mengucapkan kata cinta padanya. Perasaannya membuncah penuh bahagia. Senyuman dengan lesung pipi terus mengembang membingkai wajah ayunya.
" Cantiknya.... " puji Bu Dinda saat melihat cincin di jari manis calon menantunya.
" Mama suka ? " tanya Danisha memperlihatkan cincin crown yang melingkar di jari manisnya.
" Iya, Sayang. Cantik, cocok banget di jarimu, " puji Bu Dinda sekali lagi.
" Buat kamu ini juga dicoba dulu, Ka. Ukurannya udah pas belum, " ujar Bu Dinda mengingatkan untuk mencoba cincin untuk Saka.
" Eh, iya lupa. Sini, Sayang. Aku pasangkan, " Danisha mengambil cincin pria pasangan cincinnya tadi. Lalu dipegangnya jemari kanan Saka dan disematkannya di jari manis kekasihnya.
Mereka sedikit kaget juga, cincin itu pas di jari manis Saka.
" Pas banget, Bee ! " seru Saka gembira.
" Pas bener, Sayang ? " tanya Danisha tak percaya. Dipegangnya jari manis Saka, dilihatnya dan diutak-atik nya cincin yang melingkar di jari manis kekasihnya.
" Sepertinya emang pas, ya, " ucapnya pelan.
" Emang pas kok, Bee, " kata Saka yakin, sebuah senyuman tersungging di bibirnya.
Bu Dinda tersenyum bahagia melihat putra dan calon menantunya yang terlihat bahagia dan selalu mesra.
Di seberang toko perhiasan, seorang gadis sedang memperhatikan mereka. Menatap sendu sejoli yang terlihat mesra dan bahagia dengan raut kecewa. Sebelum akhirnya ia berlalu dari tempat itu dengan senyum getir dan sesak di dadanya.
Ternyata memang benar yang didengarnya. Saka dan Danisha akan menikah. Kembali ia tersenyum getir. Seharusnya ia sudah menyadari, sejak awal kedekatan mereka hanyalah sebagai teman biasa, tidak lebih. Kini ia benar-benar harus menghapus perasaan cintanya pada laki-laki itu. Melupakan semua kenangan yang pernah diberikan laki-laki itu, meskipun akan sangat sulit baginya.
********
Danisha sedang membantu Bu Dinda di dapur, menyiapkan hidangan makanan dan beberapa camilan untuk makan malam dan berkumpulnya sahabat Saka di rumahnya. Selain itu, mereka akan membicarakan mengenai acara akad nikah dan resepsi pernikahan keduanya.
" Danish, biar Mama dan Bibi yang menata makanannya. Kamu istirahat aja. Dari tadi siang kamu belum istirahat, " titah Bu Dinda.
" Ga apa-apa, Ma. Danish biasa bantu Bunda kek gini di rumah, kok, " ucap Danisha tersenyum simpul.
" Bee, udah, biar Mama dan Bibi yang urus. Tuh, Distha udah datang, ada di ruang tamu, " tukas Saka yang tiba-tiba muncul di dapur.
" Distha sama Ardhy, Ka ? " tanya Bu Dinda, tangannya sibuk menata makanan di meja makan.
" Iyalah, Ma. Bang Ardhy sekarang mana bisa jauh dari Distha, " celoteh Saka sembari terkekeh.
" Halah ! Kek kamunya ga begitu juga, Ka ! " sahut Dokter Ardhy yang sudah berdiri di belakang Saka bersama Distha.
" Hai, Tante ! " sapa Distha pada Bu Dinda diikuti mencium punggung tangan wanita paruh baya itu. Dokter Ardhy pun melakukan hal yang sama.
" Eh, Bang ! Emang iya, lho ! Aku ga bisa jauh dari calon istriku. Makanya aku buru-buru segera halal, biar tiap hari deketan ! " ujar Saka membenarkan ucapan Dokter Ardhy. Tangannya langsung memeluk posesif pinggang Danisha.
Semua yang mendengarnya pun mendengus dan memutar bola matanya jengah.
" Kalian ini kok berdiri aja, ayo duduk ! Kita mulai makan malamnya, " tiba-tiba Pak Rahmat, Papanya Saka datang dan mengambil tempat duduk.
" Prasta mana, Sayang ? " tanya Danisha pada Saka.
" Masih di depan. Tadi lagi telpon, " jawab Saka.
Dan tak lama kemudian, Prasta datang yang langsung mencium punggung tangan Bu Dinda dan Pak Rahmat serta menyapa semua yang sudah duduk untuk memulai makan malam mereka.
Usai makan malam, mereka melanjutkan perbincangan di teras belakang rumah dengan suasana yang lebih santai.
Kak Sandra baru saja datang dan langsung bergabung dengan yang lain di teras belakang yang terdapat gazebo.
__ADS_1
" Jadi fix, kalian minta acara resepsinya outdoor, ya dan tempatnya di halaman depan. Kamu yakin, ga sewa tempat aja ? " tanya Kak Sandra ingin memastikan sekali lagi tempat resepsinya.
Saka yang duduk di sebelah Danisha menatap gadis itu, ingin meyakinkan tempat resepsi pernikahan mereka.
" Iya, Kak. Di sini. Aku rasa halaman depan cukup luas buat acara resepsinya, " ucap Danisha yakin.
Saka tersenyum simpul menatap calon istrinya. Tangannya tak lepas dari tangan Danisha. Kedua jemari tangan sejoli itu saling bertautan, saling mnggenggam penuh cinta dan tidak ingin terlepas sedetik pun.
" Pras, kamu bener ga bisa ya bantuin Kakak ? " tanya Kak Sandra pada Prasta.
" Maaf, Kak. Prasta ga bisa bantu full. Hanya dapat cuti sehari pas hari H. Kakak udah dapat fotografer belum ? Barangkali belum dapat, aku bisa kasih recommend teman aku, " jelas Prasta.
" Baiklah, Pras. Kebetulan Kakak ada teman, udah Kakak hubungi dan dia bilang 90 persen bisa, " jawab Kak Sandra.
" Foto pre wedding, gimana ? " tanya Kak Sandra menatap bergantian pada Saka dan Danisha.
Danisha menggelengkan kepala.
" Danish, boleh Kakak kasih saran ? " tanya Kak Sandra lagi.
" Iya, Kak. Silahkan, " jawab Danisha.
" Kakak ingin kalian foto berdua sekali aja. Di studio atau outdoor juga ga apa-apa. Buat dipasang di jalan masuk tempat acara. Gimana ? "
Saka hanya diam. Ia tak ingin memaksa Danisha untuk mengikuti keinginannya atau keinginan keluarganya. Biarlah gadis itu yang menentukan sesuai keinginannya.
Danisha mengangguk. Saka bernapas lega melihat anggukan sang calon istri.
" Prasta bisa bantu, ya ? " tanya Kak Sandra pada Prasta.
Prasta terlihat berpikir sejenak.
" Kalau cuma motret sih, bisa ! Asal jangan sekalian editing dan printing, Kak, " jawabnya kemudian.
" Begaya banget sekarang ! Baru kali ini lho, dia nolak job ! " celetuk Distha.
" Eh ! Kan udah dibilang ini bukan job ! Kalau job aku pasang tarif, Non ! Masa iya tega sama sahabat sendiri pasang tarif ! " sanggah Prasta.
Semua tergelak mendengar Distha dan Prasta yang mulai berdebat.
" Dok ! Buruan nikahin dia, gih ! Biar makin pinter dia ! " lanjut Prasta.
Bantal kecil yang ada di pangkuan Distha pun melayang ke wajah Prasta.
" Tuh ! Perasaan kamu makin galak, deh, Sist. Perlu penyaluran keknya ! " ledek Prasta lagi.
" Kamu tuh yang perlu penyaluran ! Oleng ditinggal Renata yang udah punya pacar lagi. Sok-sok an ninggalin tapi begitu tau ada cowok lain, kelimpungan sendiri ! Wek ! " balas Distha ga mau kalah sambil menjulurkan lidahnya.
Semua yang melihat dan mendengar mereka berdebat dan saling olok tergelak tawa. Dokter Ardhy terkekeh melihat wajah Distha. Digenggamnya tangan Distha untuk menenangkan.
" Tenang, Pras. Acara Saka dan Danisha beres, kita nyusul segera ! Cuma aku takut kamu ngiri trus bunuh diri ! " ucap Dokter Ardhy dengan nada meledek di akhir kalimatnya.
Mereka semakin tergelak tawa mendengar ledekan Dokter Ardhy pada Prasta.
" Cih ! Tidak semudah itu Ferguso ! Bunuh diri itu dosa, Bro ! Aku anak baik, aku anak kuat karena ibuku rajin dan cerdas ! " protes Prasta.
" Wooiiii ! Apaan, sih ! Apa hubungannya coba sama ibu ?! " seru Distha sembari terkekeh.
" Ada dong ! Ibu ku rajin dan cerdas, waktu aku baby diberi ASI dan imunisasi. Jadi aku anak kuat ! Paham, Sist ? " terang Prasta yang diikuti gelak tawa semua orang yang berada di tempat itu.
Duh, Prasta ! Apaan coba ??
Tbc
Ini nih 2 orang yang hobby gelud
**Hellooww LOTA Lovers 💞💞
Semoga sukaa... dan tetap setia nungguin kisah mereka yaa
Thank you n banyak cinta n sayang utk kalian 🤗😘💞💞**
__ADS_1