Love On The Air

Love On The Air
Eps 44 Cemas


__ADS_3

Cukup lama Danisha dalam rengkuhan Saka. Tak ada suara dari keduanya. Keduanya saling merasakan debaran dalam dada masing-masing. Ada kehangatan yang mereka rasakan.


Danisha memejamkan kedua matanya. Biarlah seperti ini dulu. Hangat dan nyaman.


Apapun akan aku lakukan untukmu sebelum kamu memintanya. Kamu adalah kebahagiaanku. Saka bergumam dalam hati, mendekap tubuh Danisha sembari memejamkan mata.


" Kamu belum jawab pertanyaanku, Ka. "


Tiba-tiba Danisha berbicara meskipun lirih tapi masih terdengar jelas di telinga Saka.


" Perlukah aku menjawabnya, sweet girl ? Tanpa kamu bertanya dan kamu meminta, aku selalu ada untukmu. Menjadi apapun untukmu dan melakukan apapun hanya untukmu, untuk kebahagiaanmu, " tutur Saka mengusap lembut kepala gadis kesayangannya, gadis yang selalu ada di hatinya.


Danisha tiba-tiba mengeratkan pelukannya, membenamkan wajah pucatnya dalam dada Saka. Tak sadar air matanya luruh. Saka merasakan hangat dan basah di dadanya. Ia melerai pelukannya. Ditangkupnya wajah pucat di hadapannya.


" Hey ! Ada apa ? Kenapa menangis ? " Diusapnya air mata yang sudah membasahi kedua pipi berlesung milik gadis itu.


Keduanya saling menatap. Danisha menggelengkan kepalanya. Ia menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang, kepalanya kembali terasa nyeri. Pandangan matanya sedikit kabur dan berputar. Ia meringis, dipejamkan matanya sembari menggigit bibirnya menahan sakit.


Saka melihatnya dan ia bisa merasakan jika Danisha sedang kesakitan. Digenggamnya jemari tangan gadis itu. Ingin memberi kekuatan. Dadanya ikut nyeri.


" Apa yang kau rasakan ? Mana yang sakit, Danish ? Katakanlah ! " tanya Saka dengan sangat cemas.


" Aku di sini, sweet girl. Aku di sini, " ucap Saka mendekatkan tubuhnya pada Danisha. Tubuh gadis itu terbujur lemas.


Ayah dan Bunda terbangun mendengar suara Saka yang sedikit keras dan terdengar cemas.


" Ada apa, Saka ? " Ayah mendekat ke ranjang anak gadisnya.


" Danish kenapa, sayang ? " tanya Bunda mendekati Danisha


Saka menekan tombol darurat yang ada di atas kepala ranjang.


" Apa yang Danish rasakan, sayang ? " tanya Bunda mengusap lembut kepala berhijab putrinya. Bunda mulai terlihat sangat cemas.


" Sakit, kepala Danish... " pelan Danisha berkata sembari merintih.


" Ka, jangan pergi ya... jangan tinggalkan aku, " ujarnya lagi.


Saka menggenggam jemari Danisha.


" Aku di sini, Danish. Ga kemana-mana. "


Tak berapa lama, seorang perawat datang.


" Bisa dibantu ? " tanya perawat itu.


" Suster, apakah ada dokter jaga saat ini ? Dia mengeluh kepalanya sakit. Bisa minta tolong dipanggilkan dokter ? " tanya Saka pada perawat itu.


" Ada Dokter Ardhy malam ini. Sebentar ya, saya panggilkan dulu, " jawab si perawat.


" Ah iya, Sus. Tolong bilang sama Dokter Ardhy ya, pasien Danisha membutuhkan pertolongan, " ujar Saka sedikit lega karena dokter jaga malam ini adalah sepupunya.


Perawat itu pun berlalu. Tak berselang lama, masuklah Dokter Ardhy bersama dua orang perawat.


" Dokter, tolong anak saya, " kata Ayah.


" Kenapa, Ka ? " tanya Dokter Ardhy pada Saka.


" Ia mengeluh kepalanya sakit, Bang, " jawab Saka .


Dokter Ardhy pun memeriksa Danisha. Lalu ia meminta perawat untuk menginjeksi Danisha melalui infusnya dengan resep dari Dokter Aldi.


Dokter Ardhy tersenyum pada Saka. Ia sungguh salut pada sepupunya yang berbesar hati dan sangat mencintai gadis yang menjadi kekasih laki-laki lain.


" Sudah, tenanglah. Kami sudah injeksi dengan obat anti nyeri. Sebentar lagi dia akan tertidur tenang, " tutur Dokter Ardhy sambil merangkul Saka.


Saka tersenyum, " Thank you, Bang ! " ucap Saka lirih.


" Ayo, antarkan aku keluar, " ujar Dokter Ardhy menatap Saka.


Saka mengangguk.


" Bun, Yah. Saka antarkan Dokter Ardhy sebentar, ya, " pamit Saka pada Bunda dan Ayah Danisha.


Kedua orang tua Danisha pun mengangguk.


" Saya permisi, Pak, Bu, " pamit Dokter Ardhy pada kedua orang tua Danisha seraya tersenyum ramah.


" Terima kasih banyak, Dokter, " ucap Ayah.


Dokter Ardhy tersenyum dan mengangguk. Lalu berjalan beriringan dengan Saka menuju keluar kamar.


" Kita ngopi di kantin ya... ada yang ingin aku sampaikan padamu, " cetus Dokter Ardhy.


" Ada apa, Bang ? Bisa katakan sekarang ? " tanya Saka penasaran. Ia cemas dengan kondisi Danisha.


" Ayolah, kita ke kantin, " ajak Dokter Ardhy dengan senyuman dan merangkul bahu sepupunya.


Akhirnya Saka pun bersedia dengan ajakan sepupunya. Mereka berjalan ke kantin tanpa bersuara karena saat itu sudah masuk tengah malam.


******


Sesampainya di kantin rumah sakit, Dokter Ardhy memesan kopi hitam dan mengambil beberapa snack untuk teman ngobrol.


" Jadi gimana, Bang ? Kondisi Danisha mengkhawatirkan, ya ? " tanya Saka tanpa basa-basi.


Dokter Ardhy tersenyum pada Saka.


" Kamu tau, Ka. Danisha sangat beruntung memiliki kamu, " ujar Dokter Ardhy.


" Sayangnya, aku bukan bahagianya. Sudahlah, Bang. Aku mau tau gimana kondisi Danisha sesungguhnya, " kata Saka serius.


" Kita bisa tahu setelah pemeriksaan menyeluruh, Ka. Tapi melihat kondisi sakit kepalanya yang mulai kerap dia rasakan, aku menduga 80 persen diagnosa Dokter Aldi benar, " jelas Dokter Ardhy sembari menyesap perlahan kopi hitam yang sudah tersaji di meja.


" Lalu pengobatan dan penyembuhannya bagaimana, Bang ? " tanya Saka


" Karena itu pemeriksaan menyeluruh itu harus dilakukan untuk mengetahui seberapa parah penyakitnya. Ada di stadium berapa penyakitnya, baru bisa ditentukan bagaimana pengobatan dan penyembuhannya, " jelas Dokter Ardhy kembali.


Saka terdiam. Ia menyesap kopi hitamnya. Rasanya ia tak percaya mendengar semuanya. Ia teringat pertanyaan Danisha padanya yang berkaitan dengan mata dan telinga.


" Bang, apakah penyakit ini berpengaruh pada penglihatan dan pendengaran ? " tanya Saka kemudian.


" Iya, Ka. Terutama pada penglihatan, gangguan keseimbangan. Nyeri di kepala bisa sangat mengganggu keseimbangan tubuh terutama penglihatan, " jawab Dokter Ardhy. Ia menatap sepupunya ingin tahu reaksi dari sepupunya.


Saka menghela napas dalam. Ada rasa sesak di dadanya.

__ADS_1


" Apa bisa mengakibatkan kebutaan ? " tanya Saka lagi, lidahnya sedikit tercekat saat menanyakan hal ini.


" Iya. Jika tumornya termasuk ganas dan sudah menyerang saraf mata. Namun, selama masih tergolong jinak dan belum menyerang saraf mata, Insya Allah hal itu tak akan terjadi. Minimal masih bisa dilakukan pencegahan dengan pengobatan yang benar, " jelas Dokter Ardhy.


" Support dari orang-orang terdekat sangat dibutuhkan buat penderita tumor, Ka. Terutama dari keluarga dan teman-teman penderita. Kita yang sehat harus terlihat tegar dan bisa selalu menghibur mereka. Jangan sekali-kali kita menjadi rapuh dan putus asa di hadapan mereka. Kamu paham kan maksudku ? " Dokter Ardhy memberikan nasihat pada Saka bagaimana menghadapi penderita tumor.


Saka mengangguk. " Iya, Bang. Aku paham, " jawab Saka, lalu menyesap sisa kopi hitamnya.


" Tante Dinda dan Om Rahmat sehat kan ? " tanya Dokter Ardhy, menanyakan kabar kedua orang tua Saka.


" Alhamdulillah, sehat, Bang. Pakdhe dan Budhe juga sehat, kan ? " Saka balik menanyakan kedua orang tua sepupunya itu.


" Alhamdulillah, sehat, " jawab Dokter Ardhy tersenyum simpul.


Ponsel Saka bergetar di saku celananya. Ia mengambilnya, panggilan telpon masuk dari Bunda. Segera ia menggeser tombol hijau di ponselnya.


" Assalamualaikum, Bunda. Ada apa, Bun ? " Nada cemas terdengar dari suara Saka.


" Waalaikumsalam, Ka. Danish, Danish cari-cari kamu. "


" Danish terbangun, Bun ? "


" Iya. Dia nyariin kamu, Ka. "


" Masih sakit kepalanya, Bun ? "


" Bunda kurang tau. Tadi Bunda tanya, Danish ga jawab. Dia cari kamu. "


" Iya. Sebentar Saka balik, Bun. Assalamualaikum. "


Setelah mematikan ponselnya, Saka berdiri dari duduknya.


" Danish terbangun ? Masih sakit kepalanya ? " tanya Dokter Ardhy.


" Kurang tau, Bang. Ditanya ga jawab. Aku balik duluan ya, " ujar Saka.


" Ya udah, kita sama-sama balik lah, " sahut Dokter Ardhy sembari tersenyum.


Mereka pun beranjak dari kantin. Saka kembali ke kamar rawat Danisha dan Dokter Saka kembali ke ruang UGD melanjutkan tugas jaganya malam ini.


Saka membuka pintu kamar rawat Danisha perlahan.


" Assalamualaikum, " salam Saka lirih.


" Waalaikumsalam, " Ayah, Bunda dan Danisha bersamaan menjawab salam Saka.


Saka tersenyum mendekat ke ranjang Danisha.


" Hey, ada apa ? Masih sakit kepalanya ? " tanya Saka mengusap lembut kepala Danisha.


Danisha menggelengkan kepalanya perlahan.


" Kamu dari mana ? " tanya Danisha lirih.


" Maaf, tadi aku ngopi di kantin. Maaf, ya, " Saka menggenggam jemari Danisha, meminta maaf karena pergi tidak berpamitan.


Danisha mengangguk, tersenyum pada Saka yang duduk di sebelah ranjangnya.


" Kenapa terbangun ? Kamu harus tidur, biar besok pagi badan segar untuk lakukan pemeriksaan. Tidur ya, " Saka mengusap lembut jari jemari Danisha.


Saka tersenyum dan mengangguk. Lalu ia membetulkan selimut Danisha.


" Dingin ? Kalau masih terasa dingin, aku besarkan lagi temperaturnya. "


Danisha menggeleng.


Saka tersenyum.


" Bunda dan Ayah mau ke musholla dulu ya, " Bunda berpamitan akan ke musholla untuk sholat malam.


" Silahkan, Bun. Biar Danisha sama Saka, " ucap Saka.


" Makasih ya, Ka. Maaf merepotkan, " kata Bunda mengusap bahu Saka.


" Bunda, ini Saka lho. Bukan orang lain. Sangat tidak repot, Bun, " tutur Saka tersenyum ramah pada Bunda.


" Ya udah, Bunda tinggal dulu ya. Assalamualaikum. "


" Waalaikumsalam, " jawab Saka dan Danisha.


" Ok, saatnya tuan putri harus tidur sekarang, " ujar Saka membetulkan selimut Danisha sekali lagi.


" Makasih ya, Ka, " ucap Danisha menatap Saka dengan senyuman di wajah pucatnya.


Sesaat Saka terpaku dan menatap Danisha, bibirnya menyunggingkan senyuman.


" I love you, " ucap Saka lirih, masih menatap wajah pucat Danisha dengan tatapan penuh sayang.


Sedetik kemudian, Saka menggenggam jemari tangan Danisha.


Aku bahagia meskipun hanya dengan menggenggam tanganmu


Aku bahagia karena mencintaimu


Senyum dan tatapanmu mempesona seperti senja, yang membuatku jatuh cinta kepadamu


Selamanya hanya kamu


*******


Keesokan paginya, Danisha sudah bersiap untuk medical check up lengkap. Jam 5 pagi tadi, perawat sudah mengambil sampel darah Danisha setelah sebelumnya di check suhu badan dan tekanan darah.


Saka masih mandi saat makanan untuk sarapan pagi Danisha datang. Bunda hendak menyuapi Danisha, tetapi putrinya menolak.


" Nanti dulu, Bun. Nunggu Saka selesai mandi, " kata Danisha.


" Sama Bunda aja ya, sayang. Kasian Saka semalaman jagain kamu. Biarin dia istirahat dulu, " tutur Bunda lembut.


" Danish mau nunggu Saka, Bun, " rengek Danisha.


" Danish ! Jangan begitu, ah ! Biar Saka istirahat dulu. Sekarang makan sama Bunda ! " bujuk Bunda sedikit kesal.


" Putri Ayah kenapa lagi nih. Mau Ayah suapi ? " tanya Ayah lembut.


Danisha menggeleng.

__ADS_1


" Mumpung makanannya masih hangat, segera dimakan. Ayo sini, Ayah suapi, " cetus Ayah mengambil piring yang sudah berisi lauk dan nasi. Sementara sayur ditempatkan di mangkuk sendiri.


Pintu kamar mandi terbuka, Saka keluar dengan penampilan yang segar. Ia melihat Danisha dengan raut cemberut, bibirnya mengerucut. Entah kenapa lagi, pikir Saka menggelengkan kepalanya.


Setelah membereskan pakaian di tasnya, Saka menghampiri Danisha yang sedang disuapi Ayah.


" Biar Saka yang suapi, Yah, " ujar Saka meminta piring makanan Danisha pada Ayah.


" Udah, kamu istirahat dulu di sofa itu. Semalam.pasti tidak nyaman tidurnya, " ujar Bunda.


" Saka ga apa-apa, Bun, " ujar Saka.


" Mau aku suapi ? " tanya Saka pada Danisha yang langsung dibalas anggukan oleh Danisha karena masih mengunyah makanan. Mata bening gadis itu berbinar-binar.


Ayah dan Bunda hanya bisa menghela napas panjang melihat sikap putrinya yang sangat manja pada Saka. Bahkan, dengan Rendra yang dibilang kekasihnya, Danisha tidak bersikap seperti itu.


Bunda berpikir, sudah saatnya Mas Rendra diberitahu mengenai sakitnya Danisha. Namun, Ayah mencegahnya semalam ketika Bunda mengutarakan niatnya untuk memberitahu Mas Rendra.


Saka mengambil tissue yang ada di meja dan membersihkan dagu Danisha yang terkena kuah sayur. Semakin dekat dengan Danisha semakin membuatnya jatuh cinta. Ia menjauh saja membuatnya tak bisa berhenti mencintai gadis berlesung pipi ini. Apalagi sekarang yang selalu berdekatan, bahkan tanpa jarak. Hatinya tak bisa berbohong, ia ingin memiliki gadis ini. Namun, ia sadar bahwa gadis yang dicintainya sudah menjadi milik laki-laki lain.


Setelah beberapa kali suapan, akhirnya Danisha menyelesaikan sarapannya. Saka membersihkan mulut Danisha dan memberikan segelas air minum pada gadis kesayangannya. Lalu ia menyiapkan beberapa obat yang harus diminum Danisha pagi itu. Danisha pun tanpa banyak alasan meminum obat yang sudah disiapkan Saka.


Biasanya, Danisha berdebat lebih dulu dengan Ayah dan Bunda ketika saatnya meminum obat.


" Ka, ayo kita sarapan dulu di kantin, " ajak Ayah.


" Trus Danisha ditinggal sendiri ? " tanya Danisha sembari mencebikkan bibirnya.


" Saka nanti aja sarapannya, Ayah. Ayah dan Bunda duluan aja sarapannya. Saka mau makan roti ini saja, " ujar Saka menunjuk roti sisir yang masih utuh dalam bungkusannya.


" Ga apa-apa, Ka. Biar Bunda yang jaga Danish. Udah, kamu temenin Ayah sarapan, gih, " kata Bunda sembari berjalan mendekati ranjang tempat Danisha berbaring.


" Aku temenin Ayah sarapan dulu ya. Ga lama kok, " kata Saka berpamitan pada Danisha.


Danisha hanya diam. Kemudian dengan sedikit terpaksa ia menganggukkan kepalanya.


Saka dan Ayah pun pergi ke kantin untuk sarapan.


*******


Pukul 10 pagi, Danisha sudah bersiap menjalankan tes pemeriksaan bersama Dokter Aldi. Walaupun sebelumnya ada drama yang dibuat Danisha. Ia tak ingin melakukan tes pemeriksaan itu. Namun, siapa lagi kalau bukan Saka yang berhasil membujuknya.


Saka pun menemaninya walaupun harus menunggu di luar ruangan radiologi.


Sementara itu di studio radio DG FM, Kak Ella baru saja duduk di kursi kerjanya di ruangan penyiar ketika Tomi memberitahunya ada tamu yang mencari Danisha.


" Siapa, Tom ? " tanya Kak Ella heran, tak biasanya ada yang mencari Danisha kecuali sahabat-sahabatnya yang sudah sangat dikenal Kak Ella.


" Ga tau ya, Kak. Aku juga ga pernah tau orangnya. Cewek, Kak, " ujar Tomi.


Kak Ella segera beranjak dari duduknya untuk menemui tamu yang mencari Danisha.


" Bisa dibantu, Mbak ? " tanya Kak Ella pada perempuan yang duduk di sofa ruang tamu. Kak Ella mengernyitkan dahinya, mengingat-ingat barangkali pernah kenal atau bertemu dengan perempuan di hadapannya.


" Selamat siang. Danisha nya ada ? " tanya perempuan berambut panjang itu.


" Iya, siang. Danisha nya kebetulan ga ada. Maaf, Mbaknya siapa ya ? Siapanya Danisha ? " cecar Kak Ella pada perempuan itu. Fix, ia tak mengenal perempuan di hadapannya itu.


" Uumm... Saya saudaranya Danisha. Saudara jauh sih... Kalo boleh tau, Danisha nya kemana ya ? Saya hubungi ponselnya ga aktif, " ujar perempuan itu.


" Maaf, nama Mbak siapa ya ? " tanya Kak Ella penasaran.


" Oh ya, saya Ayana, " jawab perempuan itu.


" Iya, saya Ella, teman Danisha di sini. Kalo boleh tau, ada perlu apa ya Mbak Ayana mencari Danisha ? " tanya Kak Ella.


" Hanya ingin ketemu, udah lama ga ketemu. Saya coba menelpon ke ponselnya tapi nomornya udah ga aktif, " ucap perempuan bernama Ayana itu.


Kak Ella terdiam, ia berpikir apa ia harus mengatakan yang sebenarnya tentang Danisha ?


" Danisha dari kemarin off siaran. Ada pesan mungkin buat Danisha ? Insya Allah nanti saya sampaikan, " tutur Kak Ella.


" Bisakah saya tau nomor ponsel Danisha ? " tanya Ayana.


Kak Ella terdiam sejenak. Lalu ia berkata, " Maaf, Mbak Ayana mungkin bisa datang kembali ya ? "


" Kebetulan saya tinggal di luar kota, Mbak. Jadi tidak setiap saat saya di Surabaya. Bisakah saya tau nomor ponsel Danisha ? " tanya Ayana sekali lagi.


" Baiklah, " Kak Ella pun mengambil kertas memo dan bolpoin. Lalu ia membuka kontak di ponselnya dan menuliskan nomor Danisha di kertas memo itu.


" Ini. Tapi saya rasa nomor ponselnya untuk saat ini sedang tidak aktif, Mbak, " Kak Ella memberikan kertas memo itu pada Ayana.


" Terima kasih banyak. Kalo begitu saya permisi. Sekali lagi terima kasih, " ucap Ayana sambil berlalu keluar studio.


Sementara di luar studio, Mala baru saja datang dan memarkirkan motornya. Lalu ia berbincang sebentar dengan Tomi yang tak lama kemudian Tomi pergi setelah Mala memberikan sejumlah uang untuk membelikan pesanan Mala.


Perempuan bernama Ayana itu pun mendekati Mala.


" Maaf, temannya Danisha ? " tanya Ayana pada Mala.


" Iya. Maaf, Mbak siapa ya ? " tanya balik Mala.


" Saya saudaranya Danisha. Emang Danisha off ya, ga kerja ? "


" Lho, Mbaknya ga tau ? Danisha kan sedang sakit. Udah 2 hari ini dia dirawat di rumah sakit, Mbak, " cetus Mala begitu saja tanpa berpikir panjang.


" Apa ? Danisha dirawat di rumah sakit ? Rumah sakit mana ya ? Kok saya ga tau, " ujar Ayana dengan raut wajah serius.


Mala pun menceritakan perihal Danisha yang sakit. Ayana mendengarkan dengan serius.


" Jadi begitu ya. Ok kalo begitu, mungkin saya harus jenguk dia ke rumah sakit, " ucap Ayana.


Tbc




***Hellooww LOTA Lovers 💞💞


Bahagianya diriku bisa up story ini... Really really sorry karena baru bisa up 🙏🙏 kesibukan RL diriku bener2 bikin mati gaya 🤧 Maaf lagi kalo belum bisa dapat feel nya ya hiks 🤧😔


Tetap ditunggu ya jejak jempol n komen kalian... 😘💞


Stay safe n healthy LOTA Lovers 💞💞

__ADS_1


Love U as always 🤗😘💞💞***


__ADS_2