
Mobil Saka berhenti tepat di depan rumah Danisha. Saka memperhatikan gadis di sampingnya yang terlelap. Ia menghela napas panjang dan tersenyum menatap wajah gadis manis berlesung pipi itu. Perlahan ia membangunkannya. Digoyangkannya bahu Danisha perlahan.
" Hey, Sweet Girl... Danish... bangun donk... dah sampai nih ! "
Danisha membuka matanya perlahan.
" Dah sampai ya ? " Danisha bangun dan menggerakkan tangan dan badannya untuk meregangkan otot tubuhnya.
Saka tersenyum lebar memperhatikan Danisha dengan segala tingkahnya.
" Kamu mampir kan ? turun yuk ! " ajak Danisha pada Saka.
Saka mengangguk dan tersenyum.
" Senyum dulu donk... dari tadi aku ga liat senyummu. Cemberut mulu ! " kelakar Saka.
Danisha pun tersenyum dan terkekeh pelan.
" Nah ! gitu donk ! Ini baru bidadariku, " ucap Saka tertawa.
Mereka pun turun dari mobil. Baru saja mereka akan memasuki halaman rumah Danisha, terdengar suara klakson mobil.
Danisha tertegun sejenak memperhatikan mobil yang tak asing baginya berhenti di seberang rumahnya. Lalu turunlah sosok yang ia rindukan beberapa hari ini.
" Mas Rendra... " pelan Danisha berucap nama laki-laki itu. Senyum sumringah menghiasi wajahnya.
Saka pun terdiam menyaksikan siapa yang datang dan gadis di sampingnya begitu sumringah melihatnya. Ada rasa sesak menyergap dadanya. Ia berusaha menetralkan perasaannya dan bersikap tenang dengan ikut tersenyum pada laki-laki pemilik bidadarinya.
" Sayang... " panggil Mas Rendra lembut penuh cinta. Sekarang ia sudah berada persis di depan Danisha, menggenggam kedua tangan Danisha dan menyentil ujung hidung mancung gadis manis itu. Danisha terkekeh pelan. Rasa kesal dan kecewa yang tadi dirasakannya tiba-tiba menguar lenyap entah kemana.
Hati Saka ngilu seolah tersayat sembilu menyaksikan adegan sepasang kekasih itu. Ia layangkan pandangannya ke arah lain sembari sesekali memainkan kunci mobilnya.
" Eheemm ! " Saka berdehem lumayan keras mencairkan suasana, membuat kedua orang yang saling merindu itu seketika sadar jika ada orang lain bersama mereka.
" Uummm... sorry. Kalo begitu... aku pulang dulu ya... " ujar Saka gugup dan canggung. Setelah dipikirnya tadi, lebih baik dia segera pulang supaya tidak mengganggu sepasang kekasih itu.
" Masuk dulu yuk, Ka. Minum teh dulu, " sahut Danisha menoleh ke arah Saka. Kedua manik mata mereka saling bertemu dan bersitatap.
Mas Rendra sepertinya menyadari yang terjadi. Ia pun bersuara dengan deheman yang lumayan keras pula.
" Ehemm...! Iya, Ka. Ga masuk dulu ? " ujar Mas Rendra berbasa-basi karena sesungguhnya ia tak ingin ada yang mengganggu kebersamaannya bersama Danisha.
Saka berusaha tenang dan bibirnya menyunggingkan senyuman.
" Lain kali aja. Udah sore juga. Aku pulang ya, Danish, Mas. Assalamualaikum.... " pamit Saka, ia melangkah pergi menuju mobilnya.
" Waalaikumsalam... thank you, Saka. Salam buat Mama dan Papa ya, Ka. Jangan ngebut Ka, " seru Danisha.
Saka menoleh sesaat dan melambaikan tangannya.
Di dalam mobil sekilas ia menyaksikan gadis bidadarinya berjalan bergandengan tangan dengan kekasihnya masuk ke dalam rumah.
Tak perlu kau cemburu
Bukankah seperti ini yang kau mau
Merelakan hatimu yang utuh merindu
Nyeri dan ngilu bagai tersayat sembilu
Hanya untuk dia, cinta dan bahagiamu
*******
Bunda datang membawakan minuman dan beberapa camilan dalam toples untuk Mas Rendra di ruang tamu. Sedangkan Danisha masih di dalam kamar membersihkan diri dan menjalankan kewajiban seorang muslim di waktu Ashar.
" Bunda repot-repot. Apa kabar, Bunda ? " Mas Rendra memberi salam mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.
" Ga repot kok, Nak. Alhamdulillah Bunda sehat. Bagaimana dengan Nak Rendra sendiri ? "
" Alhamdulillah sehat, Bun. Ayah belum pulang ya, Bun ? "
" Belum, mungkin sebentar lagi. Bunda tinggal ke belakang ya... silahkan dinikmati, Nak, " Bu Dinda pamit masuk ke dalam ketika Danisha sudah rapi menghampiri mereka di ruang tamu.
Tampak segar penampilan Danisha dengan gamis rumahan bermotif batik berbahan kaos perpaduan warna hitam dan coklat susu dengan jilbab instan polos berwarna coklat susu.
Mas Rendra tak berkedip menatap kekasih hatinya yang tak dijumpainya beberapa hari ini. Ia teramat rindu dengan gadis berlesung pipi di hadapannya.
" Jadi, selama aku ga ada, tiap hari diantar jemput Saka ? " tanya Mas Rendra menyelidik.
" Begitulah ! " singkat Danisha menjawab.
" Tanpa minta ijin dulu ? " lagi Mas Rendra bertanya.
" Emang harus ? " Danisha balik bertanya.
" Yaa... mestinya begitu donk ! " jawab Mas Rendra ga mau kalah.
" Mas ke mana aja beberapa hari ini ? Ga ada kabar, semua orang di studio bingung nyariin, " sungut Danisha.
Mas Rendra terdiam menatap kekasihnya. Manik mata hitam itu menatap lekat pada mata bening gadis pujaan hatinya. Kilatan rasa kecewa dapat ia lihat di sana.
" Maafkan aku. Banyak urusan yang harus aku selesaikan di Malang, " jelas Mas Rendra dengan tatapan sendu.
" Aku tau Mas sibuk. Tidak bisakah sekedar kirim pesan singkat ? Kenapa pesan-pesan dan panggilan telepon Kak Ella dan Bang Hendra diabaikan ? " Danisha menumpahkan kekesalannya, memberondongnya dengan pertanyaan pada laki-laki penuh pesona di hadapannya.
Mas Rendra tersenyum tipis. Ia beranjak dari tempatnya duduk, berpindah duduk di samping Danisha.
" Aku rindu, " bisik Mas Rendra di telinga Danisha.
Seketika hati Danisha berdebar kencang mendengar bisikan Mas Rendra. Namun, ia segera sadar saat ini ia sedang ingin menumpahkan kekesalannya.
" Ga usah ngegombal deh ! " celetuk Danisha.
" Eh ! siapa yang ngegombal. Sungguh lho, sayang. Sejak kapan kekasihku suka marah-marah kek gini, huh ? " sahut Mas Rendra seraya menautkan jemari mereka dan menggenggamnya penuh cinta.
" Sejak Mas pergi ke Malang yang lebih banyak diam tak ada kabar. "
" Kangen ya ? "
" Udah deh, Mas. Gimana, udah menghubungi Kak Ella atau Bang Hendra ? " tanya Danisha mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
" Udah, sayang... sesuai permintaan tuan putriku. "
" Dan mulai hari ini ga ada yang boleh antar jemput kamu selain aku. Ga ada Saka lagi, " tegas Mas Rendra.
" Ga bisa gitu, donk ! " kilah Danisha.
" Bisa donk ! " sahut Mas Rendra.
" Apaan sih, Mas. Aku ga mau begitu dan aku ga suka. "
" Aku juga ga mau dan ga suka kamu diantar jemput Saka tiap hari. Titik. "
" Sejak kapan Mas posesif gini ? "
" Sejak aku mencintaimu ! " Mas Rendra menatap lekat kedua mata Danisha.
" Ck ! "
Ponsel Mas Rendra di atas meja berbunyi. Sekilas Danisha bisa melihat siapa yang menelpon Mas Rendra. Ibunya.
" Aku permisi sebentar. Iya, Bu.... " Mas Rendra berjalan keluar menuju teras.
" Maafkan Rendra, Bu. Iya, nanti Rendra akan menelpon Aya. Iya, iya... waalaikumsalam. "
Mas Rendra kembali masuk dan duduk di samping Danisha.
" Siapa ? " tanya Danisha pura-pura tidak tahu.
" Ibu, " jawab Mas Rendra singkat.
" Aku pulang dulu ya. Besok aku jemput jam berapa ? " tanya Mas Rendra.
" Aku besok siaran jam 4 sore. Mas besok, pagi kan ke kantor, ga usah jemput ga papa.... "
" Mau dijemput Saka ? " potong Mas Rendra.
" Boleh ? " Danisha balik bertanya dengan ekspresi polosnya.
" Big No ! " tegas Mas Rendra.
******
Seminggu berlalu, para kru Radio Dirgantara FM saat ini mulai sibuk dengan event anniversary mereka. Selama 3 hari berturut-turut, Radio DG FM mengadakan beberapa program on air khusus dalam rangka ulang tahun radio itu. Puncak acara ulang tahun akan diadakan secara off air di sebuah cafe.
Besok adalah hari dimulainya event perayaan ulang tahun DG FM. Mereka akan memberi apresiasi kepada para pendengar dengan suguhan program request lagu-lagu kesayangan pendengar. Selain itu, mereka juga akan memberikan kuis di tengah-tengah program on air mereka yang bersifat on the spot, yakni kuis muncul di jam siaran yang tidak pasti. Sehingga para pendengar harus selalu memantau dan mendengarkan radio DG FM sepanjang waktu bila ingin mengikuti kuis dengan hadiah-hadiah yang menarik.
Saat ini, para kru DG FM terutama para penyiar sedang meeting mempersiapkan pelaksanaan acara on air dalam rangka ulang tahun radio itu.
" Renata, besok pagi siap on air ya.. setelah itu Andhika. Pokoknya sesuai sama schedule yang Kakak print out kemarin ya... Danish sama Hendra, duet jam 2 siang sampai jam 4 sore lho.... "
" Kak, Mala jangan dikasih malam donk... Ada acara keluarga di rumah, " Mala meminta jam siarannya diubah.
" Gimana, Andhika mau ga tukar sama si Mala ? " Kak Ella memberi opsi ke Andhika untuk tukar jam siaran dengan Mala.
" Ok ! ga masalah, Kak. Atur aja , " jawab Andhika.
" Baiklah ! La, selepas Renata ya... bisa kan ? " putus Kak Ella.
" Siap, Kak. Thanks, " jawab Mala.
Bang Hendra tersenyum kecut mendengar perkataan Kak Ella
" Gini amat nasib anak rantau. Hehehe.... " celetuk Bang Hendra yang membuat semua tertawa terbahak.
" Lumayan Bang, over 2 jam. Katanya mau buat modal nikah, " kelakar Renata.
Sontak semua yang ada di ruangan itu pun tertawa kembali.
" Hilih ! yang sebentar lagi mau dilamar, hahaayy...! " terkekeh Bang Hendra membalas kelakar Renata.
" Widih, Bang Hendra ! apaan sih...? " sahut Renata
" Udah udah... beres ya semuanya. Jangan lupa prepare buat besok. Aku tutup meeting nya, thank you all, " Kak Ella mengakhiri meeting mereka.
Danisha hendak keluar ruangan meeting ketika Bang Hendra menyentuh bahunya.
" Danish ! Jaga kesehatan kamu, jangan dipaksain kalo capek, " saran Bang Hendra.
Danisha tersenyum simpul.
" Pasti, Bang ! " jawab Danisha.
" Tuh ! dah dicari pangeranmu, " goda Bang Hendra, sambil menunjuk ke arah Mas Rendra yang berjalan ke arah mereka.
Danisha terkekeh dan mencubit lengan Bang Hendra gemas.
" Auuww ! Ish sakit tau ! " Bang Hendra mengaduh.
" Syukurin ! suka banget godain orang, heran deh ! " sungut Danisha.
" Hen, jangan bercanda kelewatan sama kekasih orang ya, " ujar Mas Rendra yang sudah berdiri di hadapan mereka.
" Emang kenapa, Boss ? Masih kekasih kan, belum istri. Hahaha.... " seloroh Bang Hendra.
" Udah, ga usah diladeni kelakuan manusia satu ini, Mas, " timpal Danisha.
Bang Hendra terbahak sambil berlalu pergi.
" Makan, yuk ! " ajak Mas Rendra.
" Aku mau langsung pulang, " kata Danisha.
" Iya, tapi makan dulu, ya ? "
" Sekalian pulang ya, Mas. "
Mas Rendra tersenyum dan mengangguk.
******
" Mau makan apa, sayang ? " tanya Mas Rendra di dalam mobil.
__ADS_1
" Apa aja, Mas, " jawab Danisha.
" Hmm... apa ya ? " Mas Rendra mulai berpikir.
Danisha tersenyum melihat kekasih nya fokus menyetir sambil berpikir.
" Mas, ga usah mikir serius gitu hanya soal makan, " ujar Danisha.
" Kita ke cafe nya Pak Andre aja ya ? " tanya Mas Rendra.
" Boleh, Mas, " jawab Danisha.
Ponsel Mas Rendra berbunyi.
" Ya, Nay. "
" ...... "
" Apa ? " seru Mas Rendra, sontak membuat Danisha memalingkan wajahnya menatap kekasihnya itu dengan dahi mengernyit.
" Uummm... ya udah. Kamu tunggu di situ. Kira-kira 15 menit lagi Mas sampai situ. "
Mas Rendra mengakhiri percakapan teleponnya.
" Sayang, kita ke stasiun dulu ya. Kamu ga apa-apa kan ? " tanya Mas Rendra.
" Iya, Mas. Emangnya siapa yang di stasiun ? " tanya Danisha.
Mas Rendra tersenyum memandang Danisha.
" Nanti kamu tau, " jawab Mas Rendra membuat Danisha penasaran.
Sesampainya di stasiun dan memarkirkan mobilnya, Mas Rendra dan Danisha pun turun. Mereka berjalan beriringan memasuki stasiun.
Siapa Nay ? batin Danisha, penasaran.
Seorang gadis dengan rambut kuncir kuda, mengenakan outfit celana jeans navy dan blouse bergaris berwarna senada melambaikan tangannya ke arah mereka. Mas Rendra tersenyum pada gadis itu.
Ketika mereka sudah saling berhadapan, Mas Rendra mengacak rambut gadis itu.
" Dasar, anak manja ! Ga bilang-bilang kalo mau kemari. Udah pamit belum sama Ibunda Ratu dan Baginda raja, huh ? " kelakar Mas Rendra.
" Ish ! Ya pasti pamit lah... emang ga ada rencana sih. Tiba-tiba kepikiran Mas aja. Eh, ini ? " Nay menunjuk Danisha ingin dikenalkan.
" Owh iya, kenalin ini Danisha, " kata Mas Rendra memperkenalkan Danisha pada Nay.
Danisha mengulurkan tangannya berjabat tangan dengan gadis yang bernama Nay itu.
" Danisha " ucapnya memperkenalkan diri.
" Nay, " jawab Nay tersenyum tipis menatap Mas Rendra meminta penjelasan.
" Calon kakak ipar kamu, " bisik Mas Rendra di telinga adiknya. Senyuman nakal tersungging di bibirnya.
" Oh I see... " Nay mengangguk-anggukkan kepalanya dengan pandangan tak lepas dari Danisha.
Danisha merasa gugup dan kikuk dipandangi Nay.
" Udah, Nay. Ayo kita pergi dari sini. Udah lapar nih ! " ajak Mas Rendra kemudian. Ia merangkul gadis bernama Nay, sesekali mereka bercanda dan tertawa.
" Danish ! Kok malah diam disitu. Kamu ga apa-apa kan ? " Mas Rendra menghampiri Danisha yang masih diam berdiri di tempat tadi.
" Hah ? Eh iya, sorry, " Danisha berjalan mengikuti Mas Rendra yang berjalan di depannya bersama Nay. Ia menghela napas panjang. Kenapa dadanya terasa sesak. Ia berjalan perlahan agak menjauh dari mereka.
Ketika akan menyeberang ke tempat parkir, Danisha tak menyadari ada mobil yang melaju dari arah sebelah kanan.
Ciiieetttt... suara rem mobil mendecit, hampir menabrak tubuh Danisha.
Danisha terhenyak seketika menyadari tubuhnya berada di tengah jalan dan hampir tertabrak mobil. Ia terdiam, sepertinya ia shock dengan apa yang baru saja dialaminya.
" Daniiisshh... " teriak Mas Rendra, berlari menghampiri Danisha yang masih berdiri di tengah jalan dan membawanya ke pinggir jalan.
" Maaf, maaf, " Mas Rendra meminta maaf kepada pengemudi mobil sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.
Sang pengemudi mobil mengangguk dan meminta maaf pula. Sejurus kemudian, mobil itu melaju pergi.
" Sayang ! Danish, kamu ga papa, sayang... ! " Kedua tangan Mas Rendra menangkup wajah gadis pujaan hatinya yang pucat dengan perasaan sangat khawatir.
Mas Rendra pun meraih tubuh kekasihnya itu dalam pelukannya. Ia peluk erat kekasihnya sembari mengusap kepala dan punggung kekasihnya.
" Maafkan aku, sayang. Maaf, " lirih Mas Rendra berkata-kata maaf.
Nay yang berdiri di samping kakaknya menjadi ikut merasa bersalah. Seandainya tadi mereka bertiga berjalan beriringan mungkin hal itu tidak akan terjadi.
" Maafkan Nay, " sesal Nay lirih.
Danisha berusaha mengurai pelukan Mas Rendra. Tubuhnya masih bergetar dan jantungnya berdebar karena kejadian itu. Kemudian ia tersenyum pada kakak beradik itu dan berkata, " Aku tidak apa-apa. Ayo ! "
Danisha pun berjalan cepat menuju mobil Mas Rendra yang diparkir. Mas Rendra dan Nay pun menyusulnya.
Setengah berlari, Mas Rendra menyusul kekasihnya.
" Sayang ! Tunggu donk ! " seru Mas Rendra.
Danisha telah sampai di tempat mobil Mas Rendra diparkir. Ia menunggu Mas Rendra membuka pintu mobil yang terkunci.
Kunci pintu mobil baru saja dibuka secara otomatis.
" Sayang, kamu marah ? " tanya Mas Rendra memegang bahu kekasihnya sebelum masuk ke dalam mobil.
" Aku ga marah. Maaf ya bikin kaget kalian, " ucap Danisha, tubuhnya masih bergetar karena shock.
" Sayang, ini Nay, adikku satu-satunya, " Mas Rendra berkata sembari memeluk pinggang Danisha.
Tbc
**Hey, LOTA Lovers 💞💞
Apa kabar kalian ? semoga selalu sehat ya...🤗😘
Jangan lupa selalu tinggalkan jejak kalian, rate, like, komen n syukur2 ada yg vote ya ðŸ¤
__ADS_1
Banyak terima kasih, cinta dan sayang buat My LOTA Lovers 💞💞
Stay safe n healthy as always 🤗😘💞💞**