Love On The Air

Love On The Air
Eps 75 Support Buat Danisha


__ADS_3

Saat ini, Danisha sudah dipindahkan ke kamar perawatan. Kondisinya masih belum siuman. Saka terlihat sangat cemas dan berkali-kali menyalahkan dirinya sendiri.


Bagaimana bisa, dirinya tidak tahu dan tidak peka dengan kondisi istrinya sendiri. Ia terlalu sibuk. Sibuk dengan pekerjaannya, sibuk dengan skripsinya, terutama sibuk dan fokus untuk membuat istrinya bahagia. Ya, ia terlalu fokus untuk membuat Danisha selalu merasa bahagia bersamanya. Hingga melupakan bagaimana kondisi kesehatan Danisha. Ia terlalu bahagia dengan kebersamaan mereka. Sampai-sampai tidak lagi memperhatikan kesehatan istrinya.


Sejak dipindahkan ke kamar perawatan, tangan Saka tak lepas menggenggam tangan Danisha yang bebas infus. Duduk di samping ranjang dan sesekali mengecup tangan istrinya.


" Bee, maafkan aku, ya. Aku bukan suami yang baik. Aku egois. Tidak peka, " lirih Saka.


" Bangun, Bee. Aku udah habiskan bekal makan siangku. Enak banget, Bee. Aku mau kamu masakin lagi. Cepat bangun, dong, Bee. Aku kangen, " rihnya lagi.


" Danish ! "


Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Bunda masuk tergesa diikuti Kirana.


" Bunda ! " ucap Saka. Ia berdiri mencium punggung tangan ibu mertuanya.


Bunda mendekat ke ranjang tempat putrinya berbaring. Mengecup sayang kening putrinya. Kirana duduk di ujung ranjang sembari mengusap lembut kaki sang kakak.


" Kakak kenapa pakai pingsan lagi, sih ! Kakak udah janji kan, ga akan pingsan lagi, " celetuk Kirana sedikit terisak.


" Maafkan Saka, Bun. Saka lalai menjaga Danisha. Maaf. Harusnya Saka lebih peka, " ucap Saka penuh penyesalan.


Bunda tersenyum tipis sembari menatap menantunya.


" Bukan salah kamu. Bunda tau, kamu menjaga Danisha dengan sangat baik. Ini jalan yang digariskan Allah, " tutur Bunda bijak.


" Mmaass.... " rintih Danisha.


" Danish ! "


" Sayang ! "


" Kakak ! "


Saka mendekat mencium kening Danisha penuh kelembutan.


" Ya, Sayang. Aku di sini, " sahut Saka, tangannya menggenggam tangan Danisha.


Perlahan Danisha membuka matanya. Mengerjap pelan beberapa kali untuk mengumpulkan kesadarannya.


" Ini Bunda, Sayang..., " ucap Bunda lirih.


Danisha membuka matanya. Menatap sekelilingnya. Dinding dan atap serba putih dengan ranjang khas rumah sakit. Kemudian ia melihat Saka, suami hebatnya.


" Mas.... " lirihnya.


" Ya, Sayang. Ini aku. " Saka tersenyum dan mengecup kening Danisha sekali lagi.


" Lihatlah ! Ada Bunda juga di sini, " ucap Saka lirih.


Danisha mengalihkan pandangannya. Bisa dilihatnya sang Bunda sedang tersenyum hangat menatapnya.


" Bunda.... "


" Alhamdulillah, Kakak udah sadar, " celetuk Kirana.


Danisha mencoba mengingat kembali yang terjadi padanya. Ya, ia ingat ! Sebelum pandangannya gelap, ia mendengar Bang Hendra memanggil namanya ketika ia berjalan keluar ruang penyiar sebelum kemudian ia pingsan. Danisha menelan salivanya, ia juga mengingat seseorang yang memanggil namanya selain Bang Hendra saat itu.


" Mau minum, Sayang ? " tanya Saka menatapnya sendu.


Danisha menggeleng pelan. Ia menatap Saka lekat. Ia merasa bersalah karena telah membohongi suaminya. Ia merasa bersalah tidak memberitahukan tentang kondisi kesehatannya. Pasti sekarang Saka sudah mengetahui semuanya, tentang penyakitnya. Pandangan matanya beralih ke Bunda. Rasa bersalah semakin ia rasakan. Lalu tiba-tiba Danisha terisak. Bunda, Saka dan Kirana seketika terkejut melihat Danisha menangis.


" Sayang, kenapa ? Ada yang sakit ? " tanya Saka mendekat dan mengusap kepala Danisha penuh sayang dan cinta.


Danisha menggeleng, masih terisak.


" Danish, kenapa, Sayang ? " tanya Bunda.


" Maafkan Danisha. Selalu merepotkan. Maafkan Danisha tidak bisa menjaga diri Danisha. Dan maafkan Danisha yang... menyembunyikan sakit Danisha, " kata Danisha sesenggukan.


" Ssshhh... Sayang... Udah jangan pernah ngomong begitu, ya ? Maafkan aku yang ga peka. Semua salahku, maaf ! " ucap Saka penuh sesal. Sebelah tangannya menggenggam tangan Danisha erat, sementara tangan lainnya mengusap puncak kepala istrinya penuh kelembutan dan cinta.


Danisha semakin terisak menatap Saka. Lelaki di sampingnya ini sungguh sabar. Lelaki hebatnya. Sedikit pun tidak pernah menunjukkan amarah padanya. Pun ia sudah tidak jujur padanya. Bagaimana bisa ia mengecewakannya.


Masih dengan isakannya, Danisha mencoba bangun dari baringnya. Namun ditahan oleh Saka.


" Mau apa, Bee ? Aku naikkan ya, sandarannya. Udah, kamu ga usah bangun kalau masih pusing. Ya, Sayang ? " cegah Saka. Lalu ia menaikkan sandaran ranjang hingga posisi Danisha setengah tegak, duduk bersandar.


Danisha menghapus air mata dengan kedua tangannya.


" Mas, Bang Hendra yang bawa aku ke sini ? " tanya Danisha menatap Saka.


Saka mengangguk pelan.


" Dimana dia ? " tanya Danisha lagi.


" Di luar. Ada Prasta dan juga.... " Saka tidak melanjutkan kalimatnya.


Danisha mengerutkan dahinya menatap Saka yang tidak meneruskan bicaranya.


" Mau kupanggilkan ? " tanya Saka.


" Boleh ? " tanya balik Danisha.


" Tentu aja boleh, Bee, " jawab Saka dengan senyum tipisnya.


" Maafkan aku, Mas, " ucap Danisha lirih.


Saka mengecup kening Danisha.


" Tunggu, ya ? " ujar Saka kemudian.


Ia menarik napasnya dalam sembari berjalan keluar kamar. Ada sedikit rasa nyeri di dadanya. Sedikit kekecewaan hadir di hatinya. Kecewa karena ia merasa istrinya lebih mempercayai teman kerjanya dibanding dirinya, suaminya.


Saat ia menutup kembali pintu kamar rawat Danisha, dilihatnya Mama dan Papanya sedang berjalan tergesa menghampirinya.

__ADS_1


" Ka ! " seru Bu Dinda saat dilihatnya Saka yang baru keluar dari kamar rawat Danisha. Wanita paruh baya itu berlari ke arah putranya.


" Gimana keadaan Danisha ? " tanya Bu Dinda cemas.


" Ma, sabar kenapa ! " celetuk Pak Rahmat.


" Kamu kok ga kasih kabar ke Mama atau Papa. Malah Ardhy yang menelpon Mama, " omel Bu Dinda.


Saka menghela napasnya singkat.


" Maaf ! Saka panik, Ma. Saka baru saja keluar dari ruang dosen waktu Prasta menelpon dan memberitahu Danisha pingsan dan dibawa ke rumah sakit. Saka langsung ke rumah sakit. Ternyata sebelumnya Kak Ella juga menghubungi Saka beberapa kali tapi ponsel Saka silent karena Saka masih bimbingan dengan dosen, " terang Saka.


" Sekarang gimana kondisinya ? Udah sadar, kan ? " tanya Bu Dinda.


Saka mengangguk.


" Alhamdulillah.... " ucap kedua orang paruh baya itu bersamaan.


" Di dalam ada Bunda. Mama dan Papa masuk aja. Saka ada keperluan sebentar, " ujar Saka.


" Tadi ketemu Prasta di bawah, di taman. Sama teman Danisha juga, " celetuk Pak Rahmat sebelum masuk ke kamar rawat Danisha. Sementara sang istri sudah terlebih dulu masuk.


" Iya, Pa, " singkat Saka.


" Ada apa ? Kondisi Danisha serius ? " tanya Pak Rahmat menatap lekat Saka yang tertunduk gelisah. Ya, pria paruh baya itu melihat kegelisahan putranya.


" Sepertinya begitu, Pa. Masih menunggu Dokter Aldi, baru nanti malam datang. " Saka memijit pangkal hidungnya sementara tangan sebelahnya mengusap tengkuknya.


Pak Rahmat mengusap lengan putranya. Ia paham kekhawatiran putranya. Ia sendiri sangat cemas saat mendengar kabar Danisha pingsan. Namun, sebagai orang tua, ia berusaha untuk tetap tenang dan positive thinking.


" Semua penyakit ada obatnya, Nak. Setiap masalah ada jalan keluarnya. Allah menguji hambaNya tidak melebihi kemampuan yang kita punya. Asal kita selalu sabar, tawakkal dan ikhlas. Sebagai laki-laki kamu harus kuat. Kamu adalah imamnya. Bentengnya. Pemimpin, panutan, pegangan dan pelindung bagi istri dan anak-anakmu kelak. Jadi kamu harus kuat. Papa yakin kamu bisa melakukannya. Jangan tunjukkan kesedihan dan kegelisahanmu. Jadilah penyemangatnya. Kami semua akan menjadi penyemangatmu, penyemangat kalian. " Pak Rahmat menepuk-nepuk bahu Saka memberi nasihat dan kekuatan untuk putranya.


Saka menganggukkan kepalanya, tersenyum menatap pria yang menjadi panutannya selain sang Mama.


" Insya Allah, Pa. Doakan Danisha ya, Pa. Doakan Saka juga. Agar kami bisa melewati semua ujian ini, " ucap Saka lugas.


Pak Rahmat tersenyum bangga mendengar jawaban Saka. Lalu, ia berpamitan untuk masuk ke kamar rawat menantunya.


*******


" Sorry, Bro ! " ucap Prasta saat Saka menemui mereka yang sedang duduk di taman rumah sakit.


" Maaf, Ka ! Aku juga tau semuanya tanpa sengaja. Aku ketemu Danisha di sini saat mau pulang dari mengantar paman yang harus rawat inap di sini. Danisha memintaku untuk tidak memberitahu kamu, juga pada semuanya tentang kondisinya. Karena dia bilang, dia yang akan memberitahukannya sendiri padamu dan keluarga besar kalian. Tolong jangan marah padanya. Dia punya alasan kenapa dia ragu untuk memberitahumu, " ungkap Bang Hendra.


" Dia ragu, gelisah dan takut, Ka. Danisha tertekan. Dia tidak ingin kamu, juga keluarga besar kalian sedih dan repot. Dia ingin kamu bahagia, " imbuh Prasta.


Saka mendengarkan semua penjelasan dari Bang Hendra dan Prasta. Sementara matanya juga menatap Mas Rendra yang sedang berbicara di telepon dengan seseorang tak jauh dari tempatnya duduk.


" Dalam rangka apa dia ke Surabaya ? " tanya Saka tiba-tiba, matanya masih tertuju pada lelaki mantan kekasih Danisha.


Bang Hendra paham akan situasinya. Ia hela napasnya dalam sebelum berbicara.


" Soal kerjaan di DG FM, " ujar Bang Hendra.


"' Bukankah dia udah resign ? " tanya Saka, wajahnya terlihat serius ingin tahu menatap Bang Hendra.


" Abang bawa istriku ke sini sama dia ? " tanya Saka tak mempedulikan pertanyaan Prasta.


Prasta menatap Bang Hendra sedikit cemas.


" Iya. Kebetulan aku sedang bersama dia, pas saat itu Danisha pingsan, " jawab Bang Hendra santai.


" Saka ! "


Saka menoleh pada seseorang yang memanggilnya. Distha dan Dokter Ardhy berjalan tergesa ke arahnya.


" Sorry, aku baru datang. Danisha udah sadar ? " tanya Distha cemas.


" It's ok. Iya, dia udah sadar, " sahut Saka tersenyum tipis.


" Ka, kamu yang sabar, ya. Bang Ardhy udah cerita semuanya, " kata Distha sembari mengusap lengan sahabatnya.


Saka tersenyum dan mengangguk.


" Insya Allah. Thanks, ya ! " ucap Saka.


" Bang Hendra, Danisha cari Abang. Dia ingin ketemu Abang, " kata Saka kemudian.


" Kita ke atas, yuk ! " ajak Distha.


" Ga apa-apa, kan, Sayang ? " tanya Distha pada Dokter Ardhy, meminta persetujuan.


" Ga apa-apa, tapi jangan lama-lama, ya, " jawab Dokter Ardhy.


" Siap, Dok ! " sahut Distha.


Mereka pun bergegas naik ke lantai atas menuju kamar rawat Danisha, kecuali Mas Rendra yang masih sibuk menerima panggilan telepon.


Saat tiba di depan kamar rawat Danisha, Dokter Ardhy berpesan untuk tidak terlalu lama mengajak Danisha ngobrol. Mereka pun menyanggupi.


" Assalamualaikum.... "


" Waalaikumsalam.... "


" Sist ! " Distha berlari menghambur memeluk Danisha.


" Kamu pasti kecapekan. Dah dibilang jangan memaksa kalau capek. Kan, jadi gini lagi, " omel Distha.


" Kamu ke sini buat omelin aku atau mau nengok aku ? " sungut Danisha.


" Dua-duanya ! " sahut Distha terkekeh.


" Danish, Bunda keluar dulu, ya. Teman-teman kamu biar enak ngobrolnya, " cetus Bunda.


" Mama sama Papa juga, ya, " sahut Bu Dinda.

__ADS_1


Danisha tersenyum dan mengangguk.


Bunda, Bu Dinda, Pak Rahmat dan Kirana pun keluar kamar untuk memberi ruang pada teman-teman Danisha.


" Bang, makasih banyak, ya. Udah bawa aku ke rumah sakit, " ucap Danisha.


" Sama-sama, Dek. Lagian, udah biasa juga kali ! " ujar Bang Hendra tertawa pelan, diikuti tawa lainnya.


" Pengantin baru, sih ! Nge-gas aja ! " celetuk Prasta.


Distha memutar bola matanya malas mendengar celetuk Prasta.


" Ish ! Apaan sih, Pras ! " sungut Danisha, wajahnya tersipu malu.


" Eh ! Tapi bener, kok, Pras ! " sahut Saka terkekeh, lalu mengedipkan sebelah matanya pada Danisha yang tersipu malu.


" Apaan, sih, Mas ! " Danisha mencubit lengan Saka.


" Duh ! Suka bener, sih, nyakitin suami. Kena azab, lho, Bee ! " gerutu Saka sembari mengusap bekas cubitan Danisha.


Danisha mencebikkan bibirnya.


" Bang, tolong sampaikan maaf ke Kak Ella. Baru masuk kerja lagi, malah bikin repot. Maaf ya, Bang, " ucap Danisha merasa bersalah.


" Santai kenapa, Dek ! Dibilang udah biasa juga. Tenang aja, Kak Ella pasti maklum, " terang Bang Hendra.


" Uumm... Baiklah ! Maaf semuanya. Danisha harus banyak istirahat. Jadi, ngobrolnya udahan dulu, ya. Besok boleh dilanjut lagi, " tukas Dokter Ardhy, menginterupsi obrolan Danisha dan teman-temannya.


" Aku boleh kan, di sini dulu ? " rengek Distha.


" Jangan lama-lama, ya. Trus jangan ajak Danisha banyak bicara. Dia harus banyak istirahat untuk pemeriksaan besok, " ujar Dokter Ardhy mengingatkan.


" Siap, Dok ! " sahut Distha dengan posisi tangan hormat pada Dokter Ardhy.


Akhirnya mereka pun berpamitan pada Danisha dan Saka, kecuali Distha dan Dokter Ardhy.. Saka mengantarkan Bang Hendra dan Prasta keluar.


" Hubungi aku bila kamu butuh sesuatu, Ka. Aku pamit, ya, " ujar Prasta, dipeluknya sahabat baiknya.


" Kamu yang sabar. Percayalah, semua akan baik-baik aja, " lanjut Prasta.


Saka tersenyum dan mengangguk.


" Ya ! Thanks, Bro ! " balas Saka.


" Bang, makasih ya ! Udah menjaga dan menolong istriku, " ucap Saka pada Bang Hendra.


" Sama-sama, Ka. Kami akan selalu support kalian, " jawab Bang Hendra.


" Eheem... Gimana Danisha ? " tiba-tiba Mas Rendra muncul.


Sontak ketiga lelaki yang sedang ngobrol dan berpamitan itu menoleh.


" Baik ! Danisha baik, " sahut Saka.


" Alhamdulillah.... " ucap Mas Rendra. Ia sedikit gugup dan canggung. Saka menatapnya tajam. Ia paham Saka tidak menyukai kehadirannya.


" Semoga Danisha lekas sehat. Aku permisi. Ayo, Hen ! " pamit Mas Rendra, ia menjabat tangan Saka.


" Aamiin... Terima kasih, " jawab Saka singkat menerima jabatan tangan Mas Rendra.


********


Dokter Aldi akhirnya datang juga ke rumah sakit melihat kondisi Danisha, meskipun waktu sudah menunjukkan hampir jam 10 malam.


Setelah diperiksa oleh Dokter Aldi, Danisha pun kembali tidur. Sementara Dokter Aldi berbicara dengan Saka dan Dokter Ardhy yang menemaninya malam ini. Mereka berbicara di luar kamar.


" Mungkin sedikit banyak Dokter Ardhy sudah memberitahumu tentang kondisi Danisha dan menceritakan tindakan apa yang harus dilakukan. Operasi, itu jalan satu-satunya agar tumornya tidak semakin ganas menyerangnya. Secara keseluruhan, fisik Danisha masih bagus. Otaknya masih berfungsi baik. Mata dan telinganya juga baik. Meskipun terkadang dia seperti orang yang linglung dan pendiam. Hal itu memang kondisi yang dialami pengidap tumor atau kanker otak, " jelas Dokter Aldi.


Saka memperhatikan dan mendengarkan penjelasan dari Dokter Aldi dengan serius.


" Maaf, adakah efek samping dari operasi ini ? Setelah operasi, maksud saya. Apakah Danisha bisa sembuh seperti sedia kala dan tidak ada efek samping lainnya setelah operasi ? " tanya Saka.


" Semua prosedur operasi memiliki resiko. Efek samping dan komplikasi mungkin timbul, bisa segera setelah operasi atau beberapa waktu setelahnya. Kami sebagai dokter tentunya akan berusaha melakukan yang terbaik untuk pasien kami. Kita harus tetap yakin dengan campur tangan Tuhan, " terang Dokter Aldi.


" Baiklah, sampai ketemu besok. Kita akan melakukan pemeriksaan lebih detil untuk Danisha. Besok akan saya jelaskan juga lebih rinci mengenai efek samping dan resiko pasca operasi, " lanjut Dokter Aldi, lalu menjabat tangan Saka.


" Baik. Terima kasih banyak, Dok, " ucap Saka tersenyum tipis.


Dokter Aldi tersenyum dan mengangguk, lalu beranjak pergi setelah berpamitan dengan Dokter Ardhy.


Dokter Ardhy menghela napasnya dalam. Ditatapnya Saka yang memandang kepergian Dokter Aldi. Kemudian ditepuknya pundak adik sepupunya pelan.


" Aku juga pulang dulu, ya. Kamu yang sabar. Abang yakin kamu bisa menghadapi ini. Danisha butuh semangat dan dukungan terutama dari kamu. Yakinlah semua akan baik-baik aja. Sampai ketemu besok, " ujar Dokter Ardhy, memberi dukungan untuk adik sepupunya.


Saka menatap kakak sepupunya sembari tersenyum tipis.


" Iya, Bang. Insya Allah dan terima kasih banyak buat semuanya, " sahut Saka.


Dokter Ardhy memeluk Saka dan menepuk pelan punggung adik sepupunya sebelum beranjak pergi.


Saka menghela napas panjang, kemudian masuk ke kamar dimana Danisha sedang tertidur. Ia menatap lekat wajah ayu yang terlihat pucat, menggenggam tangannya penuh kelembutan.


" Aku yakin kamu kuat, Bee. Aku yakin kamu bisa bertahan. Berjuang ya, Bee. Please, bertahan dan berjuanglah untuk kita, Sayang. Kamu udaraku, napasku, rumahku. Kamu segalanya untukku, Bee. Jadi jangan pernah pergi dari aku, " lirih Saka, sedikit terisak. Diciumnya berkali-kali tangan Danisha. Hingga beberapa saat kemudian, ia merasakan lelah dan kantuk yang tak tertahankan lagi.


Tbc


**Hi, LOTA Lovers 💞💞


Maaf baru bisa up, kesibukan RL dan kondisi yang kurang fit bikin mood swing muter2 ga jelas 🙏🙏


Semoga masih setia bersama DanSa n friends yaa... 🤗😘


Sehat selalu untuk LOTA Lovers 💞💞🤗🤗


Ditunggu jejak jempol, komen n dukungannya 🤗😘

__ADS_1


Thank you all 🤗😘💞💞**


__ADS_2