Love On The Air

Love On The Air
Eps 35 Kangen vs Cemburu


__ADS_3

Jangan cemburu yang bukan pada tempatnya


Jika tetap memaksa, maka rasakan dan nikmatilah sesaknya


Danish diantar Saka ?


Seketika Mas Rendra bangkit dari posisi duduknya mendengar perkataan Kak Ella bahwa Danisha diantar Saka ke studio.


" Hallo, Mas... Mas Rendra. "


Suara Kak Ella memanggil-manggil Mas Rendra.


" Ah ! Sorry, Kak. Baiklah, nanti aku akan hubungi Danisha langsung. Thank you, Kak Ella. "


Mas Rendra menutup teleponnya. Ia terdiam sambil menggenggam ponselnya. Hatinya gelisah dan sesak. Ia pandangi ponsel yang sudah menampilkan nomor kontak Danisha. Ia bimbang akan menghubungi Danisha atau tidak.


" Aaarrrrggghhhhh... ! " erang Mas Rendra. Entah perasaan apa yang sedang mendera hatinya. Kesal, marah, gemas, rindu, semua berkumpul jadi satu di hatinya.


Lalu ia mulai berpikir, seandainya nanti ia harus kembali tinggal di rumah orang tuanya. Bagaimana hubungannya dengan Danisha ? Bisakah mereka menjalani long distance relationship ? Bisakah ? Baru 3 hari saja sudah membuat perasaan dan hatinya kacau balau tak menentu.


Mas Rendra menarik napas panjang dan dalam. Bagaimana ia akan menjelaskan pada kekasihnya mengenai situasi dan kondisi dirinya yang harus kembali dan tinggal di kota kelahirannya. Entahlah.


Tok tok tok....


Suara ketukan pada pintu kamarnya membuyarkan segala lamunannya.


" Ren... Rendra... Kamu ngapain, Nak ? Ayo makan dulu, kasihan Aya menunggu, " suara Ibunya dari balik pintu kamarnya.


Sebenarnya ia enggan kembali turun ke bawah menemui Aya. Namun, ia tak sanggup menolak kemauan sang ibu.


" Iya, tunggu sebentar, " jawab Mas Rendra malas.


Mas Rendra membuka pintu kamarnya. Bu Rima berdiri di hadapannya sambil tersenyum.


" Ayo makan dulu. Kasihan Aya nungguin dari tadi, " ajak Bu Rima.


" Rendra belum lapar, Bu. Nanti aja Rendra makannya. Ibu dan yang lain duluan aja, " ujar Mas Rendra malas.


" Jangan gitu donk... ga enak sama Aya. Ayo, Nak, " Bu Rima menggamit tangan putranya dan memaksanya untuk ikut turun ke bawah guna makan siang bersama.


Mas Rendra tak bisa menolak, apapun bila Ibunya sudah bicara, maka itu adalah perintah yang tidak bisa ditolak.


Di meja makan, Aya sudah duduk di kursi di samping tempat duduknya.


" Ayo Nak Aya, silahkan. Hanya begini menu nya. Ini menu kesukaan Rendra lho, " Bu Rima berkata sambil tersenyum menatap Aya dan Mas Rendra bergantian.


" Oh iya ya, Tan. Aya masih ingat kok, Rendra suka banget sama semur daging dan balado udang. Iya kan, Ren ? Eh sini piringnya, aku ambilkan ya... " tanpa menunggu persetujuan Rendra, Aya sudah mengambil piringnya dan mengisinya dengan nasi.


" Udah cukup. Biar aku ambil sendiri lauknya. Thanks, " Rendra segera meraih piring berisi nasi dari tangan Aya.


" Ok, " jawab Aya singkat sambil tersenyum.


Mereka pun menikmati makan siang dengan keheningan. Dan Rendra buru-buru menyelesaikan makan siangnya, ia ingin segera kembali ke kamar untuk menelpon Danisha.


" Aku udah selesai. Aku permisi dulu mau melanjutkan pekerjaanku di atas, " pamit Rendra.


" Ren, duduk dulu kenapa ? Kita ngobrol sebentar dulu, " sahut Bu Rima.


Rendra pun kembali duduk.


" Apa kabarmu, Aya ? " tanya Mas Rendra basa basi.


" Baik, Ren. Kamu masih kerja di Surabaya yang radio itu ya ? Apa sih nama radionya, aku lupa, " ujar Aya.


" Iya, masih. Radio DG FM. "


" Owh iya sih... sorry, lupa. Pasti asyik ya kerja di radio gitu. Owh iya... mumpung kamu masih di sini, aku kemarin dapat info dari teman-teman SMA, nanti malam mereka mau meet up lho. Datang yuk.... " celoteh Aya.


" Tuh, kebetulan kan kamu disini. Pergi gih sama Aya reunian sama teman-teman sekolah kalian. Benar tidak, Pak ? " Bu Rima menimpali perkataan Aya dengan ekspresi senangnya.


" Maaf, sepertinya tidak bisa. Bu, Rendra harus kembali ke Surabaya sore ini, " jawab Mas Rendra menghindar.


" Tunggu, Ren. Urusan Bapak dan kamu belum selesai lho, " tukas Pak Brata.


" Itu bisa dipending dulu kan, Pak. Minggu depan Rendra kesini lagi kok, " tawar Mas Rendra.


" Rendra... " seru Bu Rima lembut.


" Baiklah baiklah... aku akan ikut Aya. Sudah kan ? Sekarang aku mau kembali ke atas menyelesaikan pekerjaanku. Jam berapa aku harus jemput kamu, Ya ? " Rendra berkata berusaha menahan emosinya.


" Jam 18.30 aja, Ren. Makasih Rendra, " ucap Aya tersenyum senang.


" Ok, permisi. "


Sesampainya di kamar, Rendra menggeram mengeluarkan emosi yang ditahannya sedari tadi.


" Baiklah, mungkin ini juga kesempatanku untuk bicara berdua dengan Aya dan menegaskan bahwa kita hanya berteman. Just it, " gumam Mas Rendra.


******


Danisha masih berkutat dengan tugasnya. setelah sholat Dhuhur, ia kembali ke ruang siaran. Saat ia sedang memilih lagu request dari pendengar, ia mendengar ponselnya berbunyi. Segera ia ambil tas nya dan mengambil ponselnya. Panggilan video dari Mas Rendra. Ia ragu-ragu akan menerimanya atau tidak. Namun sejurus kemudian ia menggeser tombol hijau di layar ponselnya.


Tampak wajah Mas Rendra di layar ponselnya. Tersenyum penuh pesona dan kehangatan. Ia pun ikut tersenyum, menampakkan kedua lesung pipinya.


" Assalamualaikum, My Danish.... "


" Waalaikumsalam, Mas.... "


" I miss you... kenapa masih keras kepala, huh ? Kamu membuat jantungku berdebar tak karuan sayang... kaget pas tadi denger suara indahmu. "


" Masa iya kangen, gombal ! Sapa juga yang keras kepala sih ! Aku udah sehat, ga perlu khawatir, Mas, " kilah Danisha mode cemberut.


" Eh, kok gombal ! Seribu persen aku kangen pake banget ! Jadi ga kangen aku ? Bener ya... janji kalo kamu baik-baik aja. "


" Kalo kangen kenapa baru nelpon sekarang ? Janjinya kemarin mau kasih kabar begitu sampai rumah. Tapi bohong kan ? "


Mas Rendra menghela napasnya panjang, ia merubah posisinya dari rebahan menjadi duduk bersila di ranjangnya. Dengan wajah sendu, ia pun berkata


" Maafkan aku, sayang. Aku sangat sibuk begitu sampai disini. Banyak yang harus aku kerjakan. Maaf ya, please.... "


" Mas, nanti telpon lagi ya... Aku mau on air. "


Danisha memotong pembicaraan mereka karena harus on, lagu yang diputar akan segera berakhir.


" Ck, putar lagu lagi donk ! Aku masih ingin memandang wajah cantikmu dan berbicara denganmu, sayang... please.... "


" Eh, udah 3 lagu tadi aku putar... "


" Bodo amat ! Putar satu lagu lagi, it's ok. "


" Aku ga mau dibilang seenaknya disini, Mas. Hanya karena kita mempunyai hubungan dekat. Kak Ella bilang semua udah tau mengenai kita, " tutur Danisha.


" So what ? Aku pun udah cerita sama Pak Andre soal kita. "


Mas Rendra terkekeh, santai menanggapi perkataan Danisha.


Danisha menghela napasnya kasar.


Dengan terpaksa, Danisha memutar satu lagu lagi.


🎢🎢🎢


'Ku selalu mencoba untuk menguatkan hati


Dari kamu yang belum juga kembali


Ada satu keyakinan yang membuatku bertahan


Penantian ini 'kan terbayar pasti

__ADS_1


Lihat aku, sayang, yang sudah berjuang


Menunggumu datang, menjemputmu pulang


Ingat selalu, sayang, hatiku kau genggam


Aku tak 'kan pergi, menunggu kamu di sini


Tetap di sini


Jika bukan kepadamu aku tidak tahu lagi


Pada siapa rindu ini 'kan kuberi


Pada siapa rindu ini 'kan kuberi, oh


Lihat aku, sayang, yang sudah berjuang


Menunggumu datang, menjemputmu pulang


Ingat selalu, sayang, hatiku kau genggam


Aku tak 'kan pergi, menunggu kamu di sini


Di sini


🎢🎢🎢


Mas Rendra terkekeh pelan mendengar lagu yang diputar Danisha.


" Kenapa ketawa ? " tanya Danisha heran.


" Kamu bikin aku makin kangen, sayang. I know you miss me too... wait me please, my dear**.... "


Bibir Danisha kelu, tak sanggup berkata-kata. Ia hanya bisa tersenyum, senyuman paling manis dan menghangatkan untuk laki-laki di layar ponselnya yang sangat dirindukannya.


" Sayang... ke studio ga bawa motor sendiri kan ? "


" Tentu aja ga lah, Mas. Mana mungkin Ayah dan Bunda kasih ijin bawa motor. "


" Trus, naik ojol ? atau taksi online ? "


" Iyaa... taksi online nya Saka... hehehe.... "


Danisha terkekeh. Namun tidak dengan Mas Rendra. Wajahnya berubah datar mendengar Danisha berkata demikian.


" Kenapa ga naik taksi online sih ? Oh iya sih, kamu lebih suka diantar Saka kan.... "


Danisha segera menyadari apa yang terjadi. Ia menatap wajah kekasihnya di layar benda pipih itu, ekspresi cemburu.


" Maaf ! " ucapnya.


" Tak bisakah kamu pergi dengan taksi online bila aku tak ada ? "


" Mas, tunggu ya, aku on dulu. Atau mau ditutup dan disambung nanti ? " Danisha memotong pembicaraan karena lagu yang diputar akan berakhir.


" Ga, aku tunggu, jangan dimatiin. "


Danisha mengangguk. Ia letakkan ponselnya yang masih menyala menjauh dari microphone.


( Fader lagu off perlahan bersamaan fader mic on )


" Masih bersama Alma Danish di 86,7 DG FM. Ok, barusan kalian dengar Anji dengan judul lagunya Menunggu Kamu.


Thank you buat Arga yang udah request lagu ini.


Next, dari WhatsApp, ada Dara yang ingin dengerin lagunya Tiara Andini, Terlanjur Mencinta.


Juga ada Viko, hai Viko, pendengar setia DG FM nih. Viko request lagu dari Mr. Big, To Be With You. Baiklah DG Lovers, here they are for you.... "


( Fader mic off bersamaan dengan fader lagu on )


🎢🎢🎢


Aku t'lah tau kita


Tapi mengapa kita


Selalu bertemu


Aku t'lah tau hati ini


Harus menghindar


Namun kenyataan


Ku tak bisa


Maafkan aku terlanjur mencinta


Senyuman itu hanyalah menunda


Luka yang tak pernah kuduga


Dan bila akhirnya


Kau harus dengannya


Mengapa kau dekati aku?


Kau membuat semuanya indah


Seolah takkan terpisah


Aku t'lah tau kita


Memang tak mungkin


Tapi mengapa kita


Selalu bertemu


Aku t'lah tau hati ini


Harus menghindar


Namun kenyataan ku tak bisa


Maafkan aku terlanjur mencinta


Bila memang hatimu untuk aku


Salahkah 'ku berharap


Berharap kau memilih diriku,


Cinta


Tapi mengapa kita selalu bertemu


Aku t'lah tau hati ini harus menghindar


Namun kenyataan ku tak bisa


Maafkan aku terlanjur mencinta


🎢🎢🎢


Danisha menjauhkan microphone dari bibirnya. Ia meraih ponsel yang masih menyala panggilan videonya. Ditarik napasnya dan dihelanya perlahan.

__ADS_1


" Hai ! Masih marah ? " Danisha memulai bicaranya. Di layar ponselnya, ia mendapati kekasihnya cemberut.


" Salah ya kalo aku marah, kekasihku diantar cowok yang jelas-jelas suka padanya. Yes, I'm jealous. "


" Mas, dia Saka, sahabatku. Mas juga mengenalnya baik kan.... " pelan nada bicara Danisha, mencoba memberikan pengertian pada sang kekasih.


" I know ! tapi dia menyukaimu. "


" Mas, bisa kita lanjutkan nanti aja obrolan ini ? Keknya ga bakalan selesai kalo cuma berdebat yang ga ada ujung pangkalnya deh. "


Danisha mulai kesal, entahlah.


" Baiklah, nanti malam aku telepon lagi. See you.... "


Bicara Mas Rendra bernada datar dan panggilan video dimatikan.


Danisha memandangi ponsel di tangannya.


Apa ini ? Dua hari tak ada kabar, tiba-tiba begini aja. Marah ga jelas, batin Danisha kesal. Ya, dia benar-benar kesal. Baru kali ini ia benar-benar merasa kesal dengan Mas Rendra.


" Hey ! kok ngelamun sih ! " Renata muncul tiba-tiba menepuk bahu Danisha.


" Eh, Ren. Udah mau pulang ? Dijemput Prasta kan ? " tanya Danisha.


" Iya, udah on the way dia. Kamu kenapa ? "


" Entahlah ! Mendadak mood hilang. Eh, gimana kemarin event nya Kak Mitha ? Pasti seru dan sukses kan.... "


" Alhamdulillah, seru dan rame lho ! Kalo ada kamu pasti lebih seru kemarin. "


" Masa sih ? Untung ada kamu yang bisa gantiin aku, Ren. Aku ga enak sama Kak Mitha, " ucap Danisha sedih.


" Udah beres juga, Danish. Ya udah, aku pamit ya... Aku tunggu Prasta di depan aja. Buru-buru mau ke kantor Kak Mitha. Bye, Danish, " pamit Renata.


" Bye, Ren. Take care yaa.... "


******


Sebuah mobil melaju di jalanan kota Malang di malam yang sudah mulai sepi. Di dalamnya seorang laki-laki rupawan mengenakan setelan kaos putih dipadu dengan kemeja denim hijau daun dan celana denim berwarna beige sedang fokus di belakang kemudi. Di sampingnya duduk seorang wanita cantik berhidung mancung. Tak ada pembicaraan diantara keduanya, hening. Hanya terdengar suara musik lamat-lamat dari audio mobil.


Mereka tak lain Mas Rendra dan Aya, dalam perjalanan pulang dari acara reuni dengan teman SMA nya.


" Uummm... kamu jadi balik ke Surabaya kapan ? " tanya Aya, suaranya memecah keheningan diantara mereka.


" Harusnya sore tadi. Mungkin besok siang, " jawab Rendra.


" Aya, bisa kita bicara sebentar ? " tanya Rendra kemudian.


" Emang ini tadi kita ga bicara ya ? " Aya tersenyum mencoba bercanda untuk mencairkan suasana yang sedikit kaku.


" Ya bukan gitu maksudku, " sahut Rendra tersenyum tipis.


Mas Rendra menepikan mobilnya di sebuah tempat angkringan yang ada di pinggir jalan tak jauh dari komplek perumahan tempat tinggal mereka.


" Ga keberatan kan kita bicara di sini ? " tanya Mas Rendra.


" It's ok, Ren, " jawab Aya santai.


Setelah memesan beberapa makanan ringan dan kopi, mereka pun duduk lesehan yang disediakan di tempat itu.


" Gimana kerjaan kamu, Ya ? " tanya Mas Rendra memulai pembicaraan.


" Biasa aja sih... begitu-begitu juga, " jawab Aya seraya tersenyum dan mengangkat bahunya.


" Lama ya kita ga ngobrol, " ujar Mas Rendra.


" Kan sejak kamu kerja di radio itu, Ren. Kamu sibuk kerja dan kuliah. "


Mas Rendra terkekeh, " Iya betul. "


Mas Rendra berhenti bicara sejenak, kemudian ia melanjutkan bicaranya, " Eh, kita pergi berdua kek gini, cowok kamu ga marah ? "


Aya terkekeh mendengar perkataan Mas Rendra.


" Ada-ada aja sih kamu, Ren. Cowok mana ? "


" Seriously, gadis secantik kamu belum ada cowok ? " sindir Mas Rendra sambil menyesap kopinya yang baru beberapa menit lalu datang.


" Seriously, Ren, " Aya berkata singkat sambil menatap Mas Rendra.


" Aya, sebelumnya aku minta maaf dan aku to the point aja ya soal hubungan kita berdua. Kita adalah teman, tidak ada hubungan lainnya. Aku tau, kedua orang tua kita berusaha untuk menjodohkan kita. Kamu tau, kan ? " tutur Mas Rendra serius.


Aya menatap Mas Rendra sendu. Ia merapikan rambutnya yang terkena semilir angin. Ia menyesap kopinya perlahan. Sebelum berbicara, ia hela napasnya perlahan.


" Kenapa kalo mereka menjodohkan kita, Ren ? " tanya balik Aya, ingin tahu alasan Rendra yang sepertinya menolak rencana kedua orang tua mereka.


" Jadi kamu menyetujui rencana mereka ? "


" Ren, kita bisa apa ? Aku tak pernah bisa menolak keinginan mereka, " tukas Aya.


" Kalo gitu, aku minta maaf bila aku menolak rencana mereka, " ujar Rendra tegas.


" Kenapa ? "


" Karena kita teman, Aya. Aku ga punya perasaan lebih padamu selain sebagai teman, " jawab Rendra tegas.


" Hanya itu ? Aku rasa kita bisa mencoba untuk lebih dekat dan bersama lebih dari sekedar teman. "


" Sorry to say, aku ga bisa. "


" Kita belum mencoba, Rendra. Setidaknya kita mencobanya lebih dulu, " sahut Aya, berusaha membujuk Rendra.


" Aku ga bisa coba-coba mengenai hati dan perasaan, Aya. Maaf. Keduanya telah kuberikan pada seseorang. "


Aya terhenyak mendengar penuturan Rendra. Ada nyeri menelusup di hatinya. Gadis itu menunduk, berusaha menetralkan rasa nyeri di hati nya. Untuk beberapa saat, keduanya terdiam.


Gadis berbalut dress berbahan batik tulis Pekalongan itu pun akhirnya membuka suaranya.


" Jadi itu alasannya. Kenapa tidak jujur sedari tadi ? Dia di Surabaya ? "


Mas Rendra menyesap kembali kopinya dan berdehem. Ia menatap gadis berhidung mancung di hadapannya. Dapat ia lihat guratan kecewa di wajah dan senyumnya.


" Maafkan aku, Aya. Aku harap kamu bisa mengerti. "


" Do you love her ? "


" Sure ! " jawab Rendra singkat.


" Apa aku mengenalnya ? " tanya Aya lagi.


Rendra menggelengkan kepalanya, " Tidak. "


Aya menghela napas panjang.


" Well, udah malam. Kita pulang, " tukas Aya mengajak Rendra pulang.


Tbc


**Hellooww LOTA Lovers πŸ’žπŸ’ž


Maaf ya... mood author lagi ga jelas 🀧


Maaf jika kurang dapat feel nya & bikin boring πŸ™


Semoga tetap suka & slalu setia bersama LOTA πŸ˜˜πŸ€—


Jan lupa tinggalkan jejak kalian, like & komen. syukur2 ada yang vote 🀭


Banyak terima kasih, cinta dan sayang untuk kalian My LOTA Lovers πŸ€—πŸ˜˜πŸ’žπŸ’ž

__ADS_1


Stay safe & healthy as always**


__ADS_2