
Danisha baru saja selesai mengaji ketika Saka datang dengan salamnya.
" Assalamu'alaikum.... "
" Wa'alaikumsalam, " jawab Danisha dan Bunda bersamaan.
Saka tersenyum dan berjalan mendekati Danisha yang baru saja meletakkan tafsir Qur'an di laci meja samping ranjang.
Danisha meraih tangan Saka lalu mencium punggung tangan suaminya. Lalu Saka membalasnya dengan kecupan lembut di kening Danisha.
" Jadi kapan sidangnya ? " tanya Danisha menatap Saka dengan tatapan yang menuntut jawaban.
Saka menatap Danisha dengan bibir mengerucut.
" Ga kangen, ya ? " tanya Saka manja.
Danisha menautkan kedua alis hitamnya.
" Aku tinggal tadi, ga kangen ? " tanya Saka lagi sembari duduk di tepi ranjang.
" Mas, ih ! Ditanya malah nanya, manja pula ! " gerutu Danisha.
" Manjanya kan sama kamu, bukan sama cewek lain, " sahut Saka, mendekatkan wajahnya pada wajah Danisha.
Seketika tangan Danisha menahan bahu Saka untuk tidak mendekat.
" Mas, ih ! Ada Bunda, malu ! " tegur Danisha setengah berbisik sembari melirik ke arah Bundanya.
" Kangen, Bee.... " rengek Saka manja.
Bunda yang melihat interaksi anak dan menantunya tersenyum geli.
" Bunda tinggal, ya. Mau ke musholla dulu, udah masuk dhuhur, " sela Bunda yang seolah tahu dan paham akan situasi saat itu.
Danisha dan Saka pun mengalihkan pandangan ke arah Bunda yang beranjak dari sofa hendak keluar kamar.
" Tuh, kan, Mas ! " gerutu Danisha, merasa segan dengan sang Bunda karena tingkah suaminya.
" Bunda sholat di sini aja, lah, Bun ! " pinta Danisha kemudian, dengan sedikit merengek.
" Mas ! Sana buruan sholat di musholla ! " Danisha sedikit mendorong tubuh Saka, menyuruh suaminya untuk sholat dhuhur di musholla rumah sakit.
" Udah, Danish ! Saka barusan datang. Bunda pergi dulu, " cetus Bunda membuka pintu dan keluar dari kamar.
" Makasih, Bunda, " sahut Saka santai melempar senyuman manis pada sang ibu mertua.
" Apaan, sih ! " Danisha mengerucutkan bibirnya kesal.
" Bunda paham, lho, Bee ! Bersyukur punya mertua yang sangat pengertian, " ucap Saka sembari menaikturunkan alisnya.
" Tau, ah ! Kamu kenapa, sih, nyebelin gini habis dari kampus ! " omel Danisha.
" Nyebelin tapi cinta ! Ya, kan...? " goda Saka.
" Tuh, kaaann... Nyebelin bener, lho ! " Danisha semakin kesal dengan sikap Saka.
" Ya, deh ! Nyebelin ! " ucap Saka sembari beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah pintu kamar.
Danisha cemberut melihat sikap suaminya yang menurutnya sangat menyebalkan setelah pulang dari kampus.
Ditatapnya punggung Saka yang membuka pintu kamar hingga suaminya itu keluar dan menutup pintu kamar kembali. Tanpa berkata-kata lagi.
Tiba-tiba Danisha merasa bersalah. Kenapa juga dia marah hanya karena tingkah Saka yang manja pada dirinya. Toh, ia istrinya, yang halal baginya dan sudah menjadi kewajibannya untuk melayani apa pun yang diinginkan sang suami.
Sementara Saka sedang berada di luar kamar, tepatnya di depan kamar rawat Danisha. Ia berdiri di dekat dinding pembatas dengan kedua tangan bertumpu di atas dinding pembatas itu. Menatap ke bawah, di sana adalah taman dengan hamparan rumput yang tertata rapi dengan berbagai macam jenis tanaman hias yang hijau.
Saka menghela napas singkat. Tadi ia hanya ingin bercanda supaya Danisha rileks dan tidak merasa bosan. Di samping ia sendiri merindukan saat-saat bersama istrinya. Ia hanya ingin meluapkan perasaannya. Namun yang terjadi justru Danisha tidak menyukai sikapnya dan terlihat marah dengan sikapnya. Ia berusaha memahami istrinya dengan keluar kamar dan membiarkan istrinya sendiri dulu.
Mungkin sikapku memang berlebihan. Maafkan aku, Bee. Aku hanya ingin sedikit melupakan kekhawatiranku. Aku juga rindu kamu, Bee... Aku rindu dengan kebersamaan kita. Aku nyebelin, ya, Bee. Hari ini aku memang nyebelin. Sesungguhnya aku takut, Bee. Aku takut mimpiku benar terjadi. Aku ga akan sanggup bila itu terjadi. Tidak !
Saka bermonolog dalam hatinya sembari mengusap wajahnya kasar, lalu ditangkupkannya kedua telapak tangan menutupi wajahnya.
" Ka...? "
Seseorang menepuk bahunya yang sontak membuat Saka berjengit kaget. Ia melepaskan kedua tangan dari wajahnya sembari memijat pelan pangkal hidungnya, lalu meraup wajahnya kembali.
" Hai, Dis ! " sapanya.
Rupanya Distha yang datang dan menepuk bahunya.
" Danish baik-baik aja, kan ? " tanya Distha cemas.
" Ya, dia baik-baik aja. Kok sendiri ? Prasta mana ? " sahut Saka, ia pun bertanya balik pada Distha.
" Prasta menyusul nanti. Dia lagi jemput ibunya. Kamu kenapa ? "
" Ga... Ga apa-apa. Masuk, yuk ! Danish pasti senang kamu datang, " ujar Saka sembari melangkah mendekati pintu kamar rawat istrinya.
Distha mengerutkan dahinya heran. Ia merasa ada sesuatu dalam diri Saka yang sengaja sahabatnya sembunyikan. Namun ia tidak berani untuk bertanya lebih jauh lagi. Ia merasa waktunya tidak tepat untuk mengajukan banyak pertanyaan pada sahabatnya yang sedang dalam situasi yang rumit. Ya, ia telah mendengar semuanya dari kekasih dokternya yang merupakan kakak sepupu sahabatnya itu.
*******
Danisha terlihat sangat senang dengan kedatangan Distha dan Prasta. Setelah Distha datang dan Bunda kembali dari musholla, Saka pun berpamitan untuk sholat dhuhur di musholla.
Prasta mengikuti Saka yang keluar kamar. Sejak Prasta datang, Saka terlihat tidak bersemangat. Pada saat mereka bercanda tadi, Prasta melihat kecanggungan antara Saka dan Danisha. Saka tidak banyak bicara, sementara Danisha terlihat acuh pada Saka walaupun Prasta masih bisa melihat sesekali Danisha melirik ke arah Saka.
__ADS_1
Sesampainya di musholla, Saka segera melepas sandalnya dan mengambil air wudhu. Sementara Prasta duduk di teras musholla menunggu sahabatnya. Sebelum berangkat ke rumah sakit, ia telah melaksanakan sholat dhuhur di rumah setelah menjemput ibunya dari tempat mengajar.
Beberapa saat kemudian, Saka sudah duduk di samping Prasta.
" Kita ngopi dulu, Bro, " ajak Prasta pada sahabatnya yang terlihat lelah dan tidak bersemangat.
Saka tersenyum tipis dan mengangguk.
" Ayo ! Di cafe depan rumah sakit aja, Pras, " tukas Saka, ia beranjak dan diikuti oleh Prasta.
Setelah sampai di cafe yang berada di seberang rumah sakit, mereka segera memesan kopi dan sedikit camilan sebagai teman ngobrol mereka.
Prasta memperhatikan sahabatnya yang duduk bersandar di kursinya sambil memainkan tempat tusuk gigi yang tersedia di meja.
" What's wrong, Bro ? " Prasta mengawali bicara.
Saka hanya diam, tangannya sibuk memainkan tempat tusuk gigi dan sesekali mengetuk-ngetuk meja.
" Kalian berantem ? " tanya Prasta lagi, karena masih belum ada respon dari sahabatnya.
Saka menghela napas berat.
" Bro, kamu yang sabar. Ayolah, kalian tidak pernah berantem selama ini. Aku tau, semua orang juga tau kalian sedang dalam situasi yang rumit. Kalian sedang mendapat ujian berat. Jangan kalian tambah semakin berat dengan menambah masalah. Apalagi masalah yang sepele, " tutur Prasta bijak.
Saka balas menatap Prasta dengan sedikit senyuman di bibirnya.
" Kamu habis makan apa ? " tanya Saka sedikit mencibir.
" Wooiiii ! Orang lagi serius juga ! " sungut Prasta, mengeluarkan rokok dari saku kemejanya.
Namun, dengan cepat Saka merebut sebungkus rokok dari tangan Prasta.
" Eits ! Bro, apaan, sih ! Kamu mau ngerokok juga ? Kukasih, deh ! Ga perlu ngerebut gitu, " tukas Prasta.
" Aku lagi pusing, Pras. Please, jangan sulut rokok, deh ! " sahut Saka dengan tatapan tidak suka.
Seketika Prasta terduduk lemas sembari menatap sahabat baiknya.
" Satu batang, please ! " Prasta menatap Saka dengan wajah memelas.
" One only ! " cetus Saka dengan mengacungkan telunjuknya.
" Thanks, Bro ! " ucap Prasta tersenyum semringah.
Prasta menyulut rokoknya dan menghisapnya dalam.
" Ga mau cerita ? " tanya Prasta menghembuskan asap rokoknya sembari mengibaskan tangannya menjauhkan asap rokok dari Saka.
" Operasi Danisha insya Allah akan dilakukan 3 hari lagi, " cerita Saka akhirnya.
" Bagus, kan ? Bukankah semakin cepat semakin baik ? Lalu apa lagi ? Danisha ga keberatan, kan ? " cecar Prasta sembari memainkan rokoknya.
" Makasih, Mas, " ucap Saka.
" Sama-sama, Kak. Selamat menikmati, " jawab pelayan laki-laki itu lalu beranjak pergi.
" Aku belum ngomong sama dia, " lanjut Saka, tangannya mengambil kentang goreng dan mengunyahnya.
" Kenapa ? " tanya Prasta bingung.
" Sepulang dari kampus tadi aku ingin mengajaknya bicara soal operasinya, " Saka menjeda ucapannya, menarik napasnya pelan.
Prasta memperhatikan sahabatnya serius, menunggu kalimat selanjutnya.
" Ah, entahlah, Pras ! Aku ga tau apa memang aku yang nyebelin, keterlaluan dan kekanakan atau.... " oceh Saka dengan nada sedikit emosi.
" Wait, wait ! Gimana, nih, maksudnya ? Aku ga paham, " tukas Prasta sambil mematikan puntung rokoknya di asbak yang tersedia di meja.
Saka bingung harus bercerita bagaimana pada Prasta. Ada rasa enggan bercerita karena malu. Pasti sahabat yang duduk berhadapan dengannya mengira dirinya kekanakan dan menyebalkan jika ia bercerita yang sesungguhnya terjadi antara dirinya dan Danisha sepulangnya dari kampus tadi.
Tiba-tiba ponsel Prasta berdering. Prasta segera menjawab panggilan telepon dari Distha.
" Ya, Sist. "
" Kalian dimana ? "
" Di cafe seberang rumah sakit. Ada apa ? " tanya Prasta sembari melihat ke arah Saka yang memperhatikannya serius.
" Pantes lama. Ada Bang Ardhy nyariin Saka. Buruan balik, ya ! "
Prasta menghela napasnya setelah panggilan terputus.
" Danisha kenapa ? Dia ga kenapa-kenapa, kan ? " tanya Saka cemas. Ia buru-buru menyesap kopinya.
" Dicari Bang Ardhy, " ucap Prasta singkat.
" Kok dia ga nelpon ke aku langsung, sih ! " heran Saka.
Prasta mengedikkan kedua bahunya tanda tidak tahu. Ia pun menyesap kopinya hingga habis. Lalu beranjak menuju kasir untuk membayar semua pesanannya.
Setelah beres, mereka pun segera kembali ke rumah sakit.
*******
Saka dan Prasta melihat Dokter Ardhy sedang duduk di luar kamar rawat Danisha bersama dengan Bunda.
__ADS_1
Saka mempercepat langkahnya. Ia terlihat cemas, takut terjadi sesuatu pada Danisha.
" Bang ! " panggilnya pada kakak sepupunya.
Dokter Ardhy pun menoleh pada Saka. Sementara Saka melihat wajah Bunda yang terlihat agak muram tetapi berusaha menyembunyikannya dengan seulas senyuman yang diperlihatkannya.
" Kamu dari mana ? " tanya Dokter Ardhy.
" Ngopi di seberang. Ada apa, Bang ? " tanya Saka cemas.
" Jadi belum kamu sampaikan pada Danish dan juga Bunda ? " selidik Dokter Ardhy.
" Soal operasi, " lanjut Dokter Ardhy.
" Ya, emang belum. Tadi mau bilang tapi.... " Saka tidak meneruskan kalimatnya. Ia melihat Bunda yang menatapnya dengan senyuman tipis.
" Maafkan Saka, Bunda. Saka mau bicara.... "
" Iya, Bunda paham, kok. Udah, ga apa-apa. Bunda setuju kalau operasinya dimajukan. Semoga ini ikhtiar yang tepat untuk Danisha dan bisa mengangkat penyakit ini dari tubuhnya, " lirih Bunda berkata sambil menggenggam tangan menantunya.
" Dokter Aldi menunggu konfirmasi kalian. Ini berkaitan dengan prosedur administrasi rumah sakit. Jika memang kalian setuju operasinya dalam 3 hari ke depan, maka kami akan menyusun schedule persiapan operasinya dan juga tim dokter yang akan menangani, " jelas Dokter Ardhy.
" Baik, Bang ! Insya Allah paling lambat selepas Isya' akan kami konfirmasi, " jawab Saka.
Dokter Ardhy tersenyum dan mengangguk, lalu ia berpamitan untuk kembali ke IGD tempatnya bertugas hari ini.
Bunda pun mengajak masuk menemui Danisha. Di dalam kamar masih ada Distha yang menemani Danisha.
Saka dan Prasta bergantian mencuci tangan di wastafel. Setelahnya, Saka berjalan mendekati Danisha, lalu mencium kening istrinya penuh cinta. Senyuman terbaik ia berikan pada Danisha, membuat perempuan berlesung pipi itu sedikit heran dengan sikap suaminya yang telah kembali peduli padanya. Tidak bersikap acuh lagi seperti tadi.
Saka mengesampingkan egonya. Ia mencoba berdamai dengan situasi yang dihadapinya bersama istrinya. Mereka harus saling menguatkan.
" Udah makan ? " tanya Saka mengusap pipi Danisha dengan senyum membingkai wajah rupawannya.
Danisha menggelengkan kepalanya.
" Nungguin kamu, " jawab Danisha. Tangannya menggenggam tangan Saka yang masih berada di pipinya.
" Lama banget perginya. Ga pamit lagi, " imbuh Danisha.
" Maaf, ya. Diajak ngopi sama Prasta. Mumpung ditraktir, jadi aku mau diajak, " ucap Saka dengan gurauannya yang membuat semua yang berada di sana tertawa.
" Jangan ngeremehin, dong ! Mentang-mentang aku cuma wartawan foto kaleng-kaleng. Tapi masih bisa kan, aku traktir kopi di cafe, bukan warkop, " celetuk Prasta membela dirinya.
" Sombong ! " timpal Distha sembari memukul lengan Prasta.
" Sesekali sombong ga apa daripada minder ! " sahut Prasta santai.
Bunda terkikik geli sembari menggelengkan kepalanya.
" Udah, kan, celotehannya ? " tanya Saka menatap Prasta dan Distha bergantian.
Keduanya pun menutup mulut mereka dengan tangannya masing-masing, membuat Danisha terkikik geli melihat tingkah kedua sahabatnya.
" Sayang... Ada yang ingin aku omongin, " ujar Saka kemudian.
" Bro, kita berdua keluar aja, ya, " celetuk Prasta. Distha pun mengangguk setuju dengan ucapan Prasta.
" Ga, ga perlu, Pras, Dis. Kalian bukan orang lain. Aku ingin kalian pun tau tentang situasi yang saat ini kami hadapi, " tukas Saka. Ia duduk di tepi ranjang berdampingan dengan Danisha. Merangkul bahu Danisha dan sebelah tangannya menggenggam lembut tangan istrinya.
Danisha mengerutkan dahinya, merasa bingung dengan ucapan Saka yang terlihat sangat penting.
" Ada apa, sih ? " tanya Danisha menatap Saka, kemudian beralih ke Bunda yang duduk di tepi ranjang seberang Saka. Lalu menatap Distha dan Prasta bergantian.
Saka menarik napas dalam sebelum memulai bicaranya.
" Sayang... Dokter Aldi bilang, operasi bisa dilakukan dalam 3 hari ke depan. Kamu siap, kan ? " Saka berkata perlahan dan sangat hati-hati.
Danisha terdiam dan bergeming. Sesaat kemudian ditatapnya Bunda yang berada di samping kanannya. Bunda tersenyum dan mengangguk. Kemudian ia beralih menatap Saka yang masih merangkul bahunya. Ditatapnya manik mata suaminya yang selalu membuat teduh hatinya. Ada harapan dan kebahagiaan di kedua manik mata hitam lelaki yang sangat ia cintai.
Danisha menghela napasnya panjang, kemudian tersenyum semringah dan mengangguk pelan.
" Let's do it ! " ucapnya kemudian.
Seketika Saka memeluk erat tubuh Danisha. Dikecupnya kening istrinya berulangkali.
Bunda, Distha dan Prasta pun tersenyum bahagia mendengar jawaban Danisha.
" Kita hadapi ini bersama. Kamu kuat dan pasti sembuh, Sayang. I love you, " ucap Saka kembali mengecup kening Danisha dan memeluknya erat.
" Ya, Mas. I love you, too, " balas Danisha mengusap punggung Saka penuh kelembutan dan cinta. Danisha menenggelamkan wajahnya di bahu Saka. Susah payah ia menahan tangisnya. Namun, tak berhasil. Air mata yang menggenang di pelupuk matanya perlahan luruh.
Saka merasakan bahunya hangat. Kemejanya basah. Perlahan ia mengurai pelukannya, lalu menangkup wajah istri tercintanya sembari menghapus air mata di kedua pipi wanita halalnya. Ia tersenyum menatap kedua manik mata bulat istrinya.
" Hey ! It's ok. Everything gonna be alright, baby ! Aku selalu di sampingmu, bersamamu. Ingat, Bee ! Jangan pernah berpikir untuk pergi atau jauh dari aku. Kita akan selalu bersama. Dengan anak-anak kita. Aku akan mewujudkan keinginanmu naik bianglala. Kamu masih ingin, kan, naik bianglala bersamaku ? "
Danisha mengangguk-anggukkan kepalanya dengan senyuman diantara isaknya.
" Karena itu, kamu harus kuat untuk sembuh, Sayang. Aku janji akan mewujudkan semua keinginan kamu yang tertunda. Aku akan selalu bersamamu, kita akan berjuang bersama, Bee. "
Saka mengecup kening Danisha lama. Danisha pun memeluk tubuh atletis Saka erat.
Bunda terisak menyaksikan anak dan menantunya yang saling menguatkan dan berpelukan.
Begitu pun dengan Distha. Ia terisak pelan sembari menutup mulutnya supaya tak terdengar isakannya.
__ADS_1
Sementara Prasta tak bisa menyembunyikan keharuannya melihat kedua sahabatnya yang begitu tabah dan sabar menghadapi ujian yang bertubi-tubi. Lalu ia pergi keluar kamar dan duduk di kursi yang terletak di depan kamar rawat Danisha.
Tbc