
Pagi harinya, Danisha terlihat sibuk di dapur setelah sholat subuh. Sementara Saka sibuk melanjutkan mengerjakan revisi bab terakhir skripsinya di kamar.
Awalnya, Saka melarang Danisha untuk membantu Bibi di dapur. Namun, Danisha tidak mengindahkan perkataan Saka. Ia ingin memasakkan sesuatu dan menyiapkan bekal makan siang untuk suaminya. Hari ini, ia ingin sekali menyiapkan segala keperluan suaminya.
Sejak sebelum subuh, Danisha sudah bangun dari tidurnya. Melaksanakan kewajibannya yakni sholat subuh dan setelahnya ia menyiapkan pakaian kerja Saka termasuk membersihkan dan menyemir sepatu kerja Saka. Ia juga membereskan pakaian-pakaian Saka yang telah dicuci dan disetrika oleh Bibi. Selain itu ia juga membereskan dan merapikan kamar, terutama buku-buku milik suaminya.
" Eh, baunya enak banget. Anak cantik Mama masak apa ? " Tiba-tiba Bu Dinda datang menghampiri Danisha.
" Mama ! " Danisha tersenyum menyapa sang Ibu Mertua.
" Pagi bener udah masak. Kok ga minta Bibi aja yang masak, " cetus Bu Dinda sambil mengusap punggung menantunya.
" Ini tadi udah dibantuin Bibi, kok, Ma. Sebentar lagi matang sup iga nya, " sahut Danisha.
" Lah yang ini dagingnya mau dimasak apa ? " tanya Bu Dinda.
" Mau Danisha masak bumbu lada hitam, Ma, " jawab Danisha dengan senyum manisnya.
" Waaah... Enak, nih ! " sahut Bu Dinda sambil tersenyum lebar.
Danisha tersenyum. Ia bahagia Ibu Mertuanya terlihat bahagia. Kapan lagi ia bisa memberikan kebahagiaan kepada orang-orang yang dicintainya.
" Lho, ini ada buncis daging cincang juga ? Bi, ini Bibi yang masak ? " tanya Bu Dinda.
Si Bibi yang sedang mencuci peralatan dapur pun menoleh pada sang majikan.
" Bukan, Bu. Semua Mbak Danish yang masak, " jawab si Bibi sembari tersenyum simpul dan menatap Danisha sekilas.
Bu Dinda mengerutkan dahinya, menatap Danisha yang sedang sibuk menumis bumbu. Wanita paruh baya itu merangkul bahu menantunya.
" Dari jam berapa kamu masak ? Kok semua udah matang jam segini. Udah, itu biar Bibi aja yang lanjutin. Kamu istirahat, ya. Jangan capek, Sayang, " tutur Bu Dinda.
" Nanggung, Ma. Ini udah mau selesai. Tinggal nunggu dagingnya matang dan empuk. Udah, kok, " ujar Danisha, tersenyum dengan lesung pipinya.
Bu Dinda menatap sendu Danisha yang menata masakan yang sudah matang di meja makan. Menghela napasnya panjang sembari tersenyum tipis, ia berjalan mendekati Danisha.
" Danish, biar Mama dan Bibi yang siapin semuanya di meja makan. Kamu istirahat, ya. Mama ga mau kamu kecapekan. " Kembali Bu Dinda meminta Danisha untuk istirahat dari aktivitasnya.
" Mama... Danish ga apa-apa. Danish udah biasa di rumah, masak sama Bunda tiap pagi, " terang Danisha, lalu melanjutkan menata masakan dan peralatan makan.
" Bee... ! "
Danisha menoleh pada suara yang sangat dikenalnya. Lalu tersenyum pada lelaki yang sangat dicintainya.
" Baunya enak banget. Masak apa, sih ? " Saka bertanya sambil melihat masakan yang tertata rapi di atas meja makan.
" Wow...! Ini makanan kesukaanku semua. Udah lama banget Mama ga masak sup iga. Eh, ini ada buncis daging cincang juga, " ujar Saka. Ia pun langsung duduk dan mengambil piring.
Bu Dinda tersenyum menyaksikan putranya yang sangat antusias melihat makanan yang tertata di meja makan.
" Mas, tunggu Papa dulu, " cetus Danisha.
" Incip dikit, Bee, " sahut Saka, tangannya mengambil sesendok buncis daging cincang dan diletakkan di atas piringnya. Kemudian, ia mengambil sedikit dan dimakannya sayur itu.
" Enak. Enak banget ! " ucap Saka dengan mulut yang sibuk mengunyah.
" Tau ga, siapa yang masak ? " tanya Bu Dinda berdiri di dekat putranya duduk.
" Emang siapa yang masak ? Tapi... Ini bukan masakan Bibi, deh ! " cetus Saka.
" Emang bukan Bibi yang masak, Mas. Coba Mas Saka tebak, siapa yang masak ? " ujar si Bibi terkekeh pelan.
Tiba-tiba Danisha muncul dari dapur membawa piring saji di tangannya yang berisi daging sapi lada hitam, masakan terakhirnya.
" Silahkan.... " ucap Danisha setelah meletakkan masakan terakhirnya di atas meja makan.
" Sayang, kamu yang masak ? " tebak Saka ragu.
" Cobain, nih ! Daging sapi lada hitam, kesukaan kamu, " pinta Danisha.
Saka tersenyum, mengambil garpu dan sepotong daging masakan Danisha. Disuapnya ke dalam mulut dan dikunyahnya perlahan. Matanya melebar dan menatap Danisha dengan wajah sumringah.
" So delicious, Sayang. " Saka berdiri dari duduknya dan langsung mengecup pipi Danisha.
" Mas ! Malu, ih ! " seru Danisha, wajahnya tersipu malu.
" Ada apa ini pagi-pagi udah rame aja, " celetuk Pak Rahmat yang muncul dengan membawa tas kerjanya.
Bu Dinda tersenyum dan menghampiri Pak Rahmat yang baru saja duduk di kursinya.
" Eh, ini Bibi tumben masak banyak macamnya, " ujar Pak Rahmat melihat masakan yang tersaji di meja makan.
" Maaf, Pak. Bukan saya yang masak. Semua Mbak Danish yang masak, " sahut Bibi dengan senyum simpulnya.
" Waaahh... Bener yang dibilang Bibi ? " tanya Pak Rahmat menatap Danisha.
" Enak banget, lho, Pa. Saka bener-bener ga salah pilih istri, " puji Saka, mengedipkan sebelah matanya pada Danisha.
Wajah Danisha seketika merona, malu dengan pujian Saka.
" Iyaa... Papa tau ! Ya, udah. Ini boleh ga, dimakan sekarang ? " canda Pak Rahmat.
" Tentu saja boleh, Pa, " jawab Danisha dengan senyum sumringah.
Mereka pun duduk di kursi masing-masing untuk sarapan pagi bersama, menikmati masakan Danisha.
********
Saka memperhatikan Danisha yang sedari tadi sibuk membereskan barang-barang di kamar mereka.
" Bee... Udahan dong, beres-beresnya. Katanya siaran jam sepuluh, " ujar Saka, mendekati Danisha yang membereskan barang-barang milik Saka untuk ditata di dalam laci meja riasnya.
" Iya, ini udah selesai, " ucap Danisha sembari menutup laci meja riasnya.
Saka meraih kedua tangan Danisha. Menatap perempuan halalnya.
" Sedari subuh kamu ga berhenti beres-beres, lalu masak. Jangan capek, Bee. " Saka berkata sembari menangkup wajah Danisha yang terlihat sedikit pucat.
Danisha tersenyum sumringah. Dipegangnya kedua tangan Saka yang menangkup wajahnya.
" Sudah kewajibanku sebagai seorang istri, Sayang. Ga ada yang perlu dikhawatirkan. Oh ya, semua jam tangan ada di laci pertama itu. Trus obat-obatan dan vitamin kamu, aku letakkan di laci kedua. Buku-buku kamu udah aku susun di rak sebagian dan ada yang aku letakkan di meja sebelah rak itu, " kata Danisha, tangannya menunjuk ke tempat rak buku dan meja di dekat tempat sholat, di pojok kanan kamar.
Saka memperhatikan penjelasan yang diberikan Danisha dengan kedua alis yang bertautan.
" Dasi udah aku susun di lemari paling kiri dan kaos kaki di laci paling bawah. Ok ? " terang Danisha. Ia mencium sekilas pipi Saka lalu beranjak ke kamar mandi untuk cuci muka dan bersiap berangkat.
Saka tertegun, diam terpaku di tempatnya berdiri. Sesaat kemudian, pandangannya menyapu sekeliling kamar. Terlihat rapi sekali. Sejak ada Danisha, kamarnya terlihat sangat rapi. Semua barang tertata rapi di tempatnya.
Saka membuka laci pertama meja rias Danisha. Beberapa jam tangan miliknya dan milik Danisha berjajar rapi di laci itu. Lalu, ia membuka laci kedua. Persediaan obat dan vitamin tersimpan rapi di sana. Sebuah senyuman terukir di wajahnya.
" Ada apa, Mas ? Cari sesuatu ? " tanya Danisha yang baru saja keluar dari kamar mandi. Wajahnya terlihat lebih segar.
Saka menatap Danisha lekat. Meraih pinggang istrinya untuk dipeluk.
__ADS_1
" Aku mencintaimu, " ucap Saka kemudian. Diciumnya bibir Danisha sekilas.
Danisha menatap Saka dengan tatapan sendu.
" Mas.... " lirih Danisha. Tenggorokannya tercekat, berusaha menelan saliva nya.
" Maukah kamu berjanji padaku ? " tanya Danisha kemudian.
" Janji ? Janji apa ? " tanya balik Saka.
" Jawab dulu, mau kan berjanji ? " tanya Danisha lagi.
" Apa pun yang kamu mau, Bee. Insya Allah akan aku ikuti. Aku bersedia melakukan apa pun mau kamu, " jawab Saka tanpa ragu.
Danisha mencium bibir Saka lembut. Saka membalas ciuman Danisha. Menyesap bibir manis istrinya. Sesaat kemudian, keduanya melepaskan ciuman mereka.
" Mas, apa pun yang terjadi padaku nanti, berjanjilah untuk tetap selalu bahagia. " Danisha berkata dengan suara sedikit bergetar.
" Hey ! Kamu ngomong apa, sih ? Aku bahagia bersama kamu, Bee. Ga akan terjadi apa-apa, Sayang. " Saka menangkup wajah Danisha dengan kedua tangan kokohnya, lalu mendekap tubuh istrinya penuh sayang.
Danisha menenggelamkan wajahnya ke dalam dekapan Saka. Ia mengeratkan pelukannya. Merasa hangat dan sangat nyaman. Ia ingin berlama-lama dalam dekapan suaminya.
" Aku ingin kamu selalu bahagia, Mas. " Danisha berkata dalam dekapan Saka.
" Aku sangat bahagia, Sayang, " sahut Saka tegas.
" Kamu harus bahagia, ya, Mas. Walaupun tanpa aku.... "
" Apa, sih, Bee ! Kita akan selalu bersama. Aku bahagia bersama kamu, Bee. Ga ada hal lain yang membuatku bahagia. Cukup bersama kamu selamanya, itu bahagiaku, " ucap Saka memotong ucapan Danisha.
Saka semakin mengeratkan pelukannya. Mencium puncak kepala Danisha berkali-kali. Rasanya tak ingin melepaskan pelukannya. Ingin tetap seperti itu sepanjang hari.
" Aku rela bila suatu saat nanti, kamu bersama perempuan lain yang bisa membuatmu bahagia, " cetus Danisha tanpa ragu.
Seketika Saka melonggarkan pelukannya dan menatap mata Danisha lekat.
" Kamu kenapa ? Jaga ucapan kamu, Bee. Ga akan ada perempuan lain. Cukup kita berdua. Mau hari ini, besok, selamanya. Sampai kapan pun, bahkan di akhirat nanti Insya Allah kita akan bersama. Jangan lagi kamu bicara seperti itu, Sayang, " jelas Saka dengan suara yang tegas. Lalu dibawanya Danisha ke dalam dekapannya lagi.
" Kita tidak tau kemana takdir akan membawa kita, Mas. Aku bukan perempuan sempurna. Tapi aku ingin menjadi sempurna dengan melihatmu selalu bahagia, jika suatu saat nanti kita dipisahkan, " ucap Danisha lagi.
Saka memeluk erat tubuh Danisha.
" Tidak akan ! Kita akan selalu bersama, Bee. Insya Allah dunia dan akhirat, kita akan selalu bersama. Aku sangat mencintaimu, Sayang. Tolong jangan mengatakan hal buruk tentang kita. Apa pun yang terjadi, kita akan selalu bersama. Selamanya, Sayang, " tegas Saka, mengecup puncak kepala Danisha penuh cinta.
" Ayo, bersiap ! Udah jam 8, " ucap Saka kemudian sembari mengurai pelukannya. Ditatapnya wajah ayu Danisha. Sang pemilik wajah pun mengangguk samar dan segera bersiap merapikan diri.
*********
Hampir pukul 12.00 saat Renata masuk ke dalam ruang siaran untuk menggantikan Danisha bertugas.
" Danish, kamu kenapa ? " tanya Renata. Gadis itu memegang bahu Danisha yang sedang memegang kepalanya sesaat setelah berpamitan pada pendengar Radio DG FM.
Danisha mendongakkan kepalanya, menatap Renata dan tersenyum tipis.
" Ga apa-apa, Ren. Biasa, pusing dikit, " jawab Danisha sembari bangkit dari duduknya perlahan.
" Beneran ga apa-apa ? " tanya Renata sekali lagi.
Danisha menganggukkan kepalanya, lalu berjalan keluar ruangan. Tiba-tiba Danisha merasakan tubuhnya lemas. Ia berjalan perlahan-lahan menuju ruangan penyiar.
Sesampainya di sana, ruangan kosong. Ia mencari keberadaan Kak Ella. Dilihatnya ruangan marketing pun kosong. Danisha duduk di sofa dan mengambil ponselnya.
Me
Danisha mengirim pesan yang ditulisnya pada Saka. Dipandangnya wallpaper ponselnya. Foto pernikahan mereka. Ia tersenyum. Entah kenapa hari ini tubuhnya tiba-tiba terasa lemas. Ia memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Saat bangkit dari duduknya, pandangan Danisha berputar. Ini yang sangat tidak ia sukai. Membuat perutnya mual. Perlahan-lahan ia berjalan keluar ruangan.
" Dek ! "
" Danisha ! "
Samar Danisha mendengar suara memanggil namanya. Suara Bang Hendra. Dan satu lagi, suara itu, Mas Rendra ?
Langkahnya terasa berat. Kakinya lemas dan ia tidak sanggup lagi menopang tubuhnya.
" Dek ! Ya, Allah ! "
" Danisha ! "
Bang Hendra segera menangkap tubuh Danisha yang limbung.
" Danisha ! Danish, bangun ! Ini aku, Danisha ! Bangunlah, Sayang ! "
" Kita bawa ke rumah sakit, Mas ! Ayo, cepat ! " seru Bang Hendra. Tangannya mengangkat tubuh Danisha dan berjalan cepat menuju ke luar studio.
" Hen ! Lho, Danisha kenapa ? " Kak Ella muncul tiba-tiba dengan kebingungan melihat Danisha dalam gendongan Bang Hendra.
Renata yang berada dalam ruang siaran pun keluar saat melihat kegaduhan dari kaca pembatas ruangan.
" Kak, Danisha kenapa ? " tanya Renata panik.
" Kak, tolong kabari Saka. Aku dan Mas Rendra langsung ke rumah sakit, " seru Bang Hendra meminta tolong pada Kak Ella.
Dengan sekali anggukan, Kak Ella mengambil ponselnya dan mulai menghubungi Saka. Tak ada jawaban. Kak Ella kembali menghubungi nomor Saka. Masih sama, tak ada jawaban.
Renata pun segera mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Prasta. Ia tidak peduli dengan tanggapan mantan kekasihnya nanti.
" Ha...lo ? "
" Hallo, Pras ! Danisha ! "
" Danisha ? Danisha kenapa ? Ata ? "
" Danisha dibawa ke rumah sakit ! Dia pingsan ! Tolong kamu hubungi Saka, ya. Kami udah hubungi beberapa kali tapi ga diangkat telponnya. Please ! "
" Hah ? Ya, Allah ! Ok, ok ! "
" Iya, makasih ! " Renata mengakhiri panggilan teleponnya.
" Prasta ? " tanya Kak Ella.
Renata mengangguk.
" Semoga tidak ada yang serius dengan Danisha, " ucap Renata.
Kak Ella mengangguk. Ia juga sudah mengirim pesan pada Saka mengenai Danisha yang pingsan dan dibawa ke rumah sakit.
" Aku tadi sempat nanya ke Danisha, apa dia baik-baik aja. Dia bilang ga apa-apa cuma sedikit pusing, " terang Renata.
• Aku juga bingung, pas masuk udah liat Hendra menggendong Danisha dan Mas Rendra yang berlari keluar, " imbuh Kak Ella.
" Emang Kakak dari mana ? " tanya Renata.
__ADS_1
" Kami bertiga dari meeting sama Pak Andre di cafe pojok itu. Bang Hendra dan Mas Rendra balik duluan. Aku masih nunggu pesanan makanan ini, " terang Kak Ella menunjuk bungkusan yang dibawanya dan menghela napasnya singkat.
Renata manggut-manggut mendengar penjelasan Kak Ella.
" Mas Rendra mau balik ke sini lagi, Kak ? " tanya Renata penasaran.
Kak Ella mengedikkan bahunya.
" Ga tau juga, Ren. Ga paham aku apa mau tuh orang. Hanya saja, dia punya saham di sini, " ungkap Kak Ella.
" Mas Rendra ? Punya saham di Radio DG FM ? " tanya Renata tak percaya, terkejut mendengar kabar dari Kak Ella.
Kak Ella menganggukkan kepalanya beberapa kali sambil menatap Renata.
Renata menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Benar-benar kejutan, batin Renata.
********
Saka melajukan mobilnya dengan cepat saat Prasta menelponnya, memberitahu jika Danisha pingsan dan dibawa ke rumah sakit. Pikirannya kacau. Ia tancap gas mobil sekencang-kencangnya menuju rumah sakit.
" Ya, Allah. Tolong jaga istriku. Aku sangat mencintainya, " monolog Saka sambil mengemudikan mobilnya kencang, ingin segera sampai di rumah sakit.
Sementara di rumah sakit, Bang Hendra dan Mas Rendra duduk di ruang tunggu IGD. Danisha sedang diperiksa di ruang IGD.
" Ada apa dengan Danisha, Hen ? " tanya Mas Rendra, wajahnya terlihat sangat cemas.
Bang Hendra diam.
" Hen, please ! Kasih tau aku, apa yang sebenarnya terjadi pada Danisha. Dari raut wajahmu aku bisa menebak, ada hal serius yang terjadi pada Danisha, " cecar Mas Rendra.
" Bang ! "
" Bro ! Kamu.... "
" Renata yang kasih tau, " sahut Prasta.
" Mas, " sapa Prasta pada Mas Rendra.
" Prasta ! "
Sontak ketiga orang itu mengalihkan pandangannya pada sumber suara.
Dokter Ardhy terlihat berlari menghampiri mereka.
" Sorry, aku baru saja selesai praktek. Tapi sudah ditangani, kan ? " Dokter Ardhy menatap ketiga orang lelaki di hadapannya.
" Ya, sudah, Dok ! " jawab Bang Hendra.
" Baiklah ! Aku akan check ke dalam. Aku udah menghubungi Dokter Aldi, malam ini dia segera balik, flight tercepat katanya. Aku minta, kalian tenang kalau Saka datang, " tutur Dokter Ardhy.
" Ada apa sebenarnya ? " tanya Mas Rendra bingung sekaligus panik.
" Aku tinggal, ya.... " pamit Dokter Ardhy, berjalan tergesa masuk ke ruang IGD.
" Hen ! Ada apa, sih ? Kenapa kalian terlihat sangat serius sekali ? " cecar Mas Rendra.
Bang Hendra menatap Prasta seolah meminta persetujuan untuk mengatakan yang sebenarnya pada Mas Rendra. Prasta mengangkat salah satu tangannya dan mengangguk. Untuk apa ditutupi, toh sekarang mereka di rumah sakit. Sedang menunggu hasil check up Danisha. Pikir Prasta.
" Tumor otak stadium 3, " ucap Bang Hendra lirih menatap Mas Rendra yang sedari tadi serius menunggu penjelasan Bang Hendra.
Seketika Mas Rendra terduduk lemas mendengar ucapan Bang Hendra. Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
Bang Hendra melihat Saka memasuki pintu masuk rumah sakit.
" Pras ! " panggil Bang Hendra pada Prasta dan memberikan isyarat pandangan ke arah pintu masuk rumah sakit. Prasta pun segera berjalan menghampiri Saka yang terlihat sangat panik dan kacau.
" Mana Danisha, Pras ? Dia ga apa-apa, kan ? Dia pasti baik-baik aja, kan, Pras ? " Saka mencecar Prasta yang mencoba menenangkannya.
" Tenang, Ka. Danisha pasti baik-baik aja. Dokter sedang memeriksanya. Ada Bang Ardhy di dalam. Kamu tenang, ya. Ayo, duduk dulu. " Prasta menggiring Saka untuk duduk, berusaha menenangkan sahabatnya.
Saka mengurungkan niatnya untuk duduk saat melihat keberadaan Mas Rendra. Kedua lelaki yang mencintai gadis yang sama itu saling menatap.
" Ka.... " sapa Mas Rendra tersenyum canggung.
Saka mengabaikan sapaan Mas Rendra. Ia duduk di kursi berjarak 4 kursi dengan Mas Rendra.
Pintu ruang IGD terbuka. Seorang dokter wanita keluar dari sana, diikuti Dokter Ardhy. Saka berdiri dan menghampiri dokter itu.
" Dok, bagaimana keadaan istri saya ? " tanya Saka cemas.
Dokter wanita itu menatap Dokter Ardhy.
" Istri anda baik-baik saja. Sebentar lagi siuman. Saya permisi, " ujar dokter wanita itu.
" Makasih, Dok, " ucap Dokter Ardhy tersenyum tipis.
" Ka, tenang dulu. Danisha baik-baik aja di dalam, " kata Dokter Ardhy pada Saka.
" Tidak ada yang serius, kan, Bang ? " tanya Saka sedikit tenang.
" Dokter Aldi baru datang nanti malam. Kamar Danisha sedang disiapkan. Segera setelah kamar siap, Danisha akan dipindahkan ke kamar, " jelas Dokter Ardhy.
" Bang, tolong jujur sama aku. Apa penyakit Danisha makin parah ? " tanya Saka serius, menatap tajam saudara sepupunya.
Dokter Ardhy balas menatap Saka dan menghela napas singkat. Benar dugaannya. Danisha belum mengatakan tentang kondisinya pada Saka.
Dokter Ardhy mengangguk pelan.
Saka mengusap kasar wajahnya.
" Abang tau ? "
" Yaa... Aku tau tanpa sengaja waktu melihat catatan kesehatan Danisha yang dititipkan asisten Dokter Aldi.
" Oh ya ? Abang tau tapi Abang ga kasih tau aku ? " Saka menatap tajam saudara sepupunya.
Prasta mendekati Saka yang mulai terlihat emosi.
" Ka, Dokter Ardhy ga bermaksud begitu. Kita udah....
" Kita ? Jadi kalian tau ? Kalian semua tau ? Bang ? " Saka menatap Prasta lalu berganti menatap Bang Hendra.
Bang Hendra berdiri menghampiri Saka.
" Cukup ! " teriak Saka. Ia mengusap kasar wajahnya berulangkali.
Dadanya sesak. Saudara sepupunya tahu tentang kondisi kesehatan istrinya, juga teman-temannya. Lalu, dirinya ? Ia suaminya, tidak tahu sama sekali. Suami macam apa ? Tidak peka sama sekali !
Tiba-tiba ia teringat percakapan mereka pagi tadi. Juga segala perilaku Danisha. Tidak ! Danisha akan baik-baik aja ! Tidak akan terjadi apa pun padanya !
Tbc
__ADS_1