Love On The Air

Love On The Air
Eps 48 I Would Like To Be Your Man


__ADS_3

Danisha tertidur setelah makan malam dan minum obat. Ia terlihat lelah setelah melewati drama dengan Mas Rendra sore tadi. Cukup lama ia menangis hingga matanya terlihat sangat sembab.


Saka memandang wajah pucat gadis penghuni ruang hatinya. Sungguh, ia tak bisa dan tak mau berpaling darinya. Meskipun ia sendiri masih belum yakin jika gadis yang terbaring sakit di hadapannya ini mencintainya.


Dering ponsel memecah keheningan di kamar itu. Saka beranjak menuju meja sofa tempat ia meletakkan ponselnya. Mama memanggil.


" Assalamualaikum. Ya, Ma. "


" Waalaikumsalam. Ka, masih di rumah sakit ? "


" Iya, Ma. Maaf, Saka belum bisa pulang. Kenapa, Ma ? "


" Danisha, bagaimana ? "


Saka melihat ke arah Danisha yang tidur lelap.


" Lagi tidur, Ma. Efek obat, " Saka menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa.


" Oh ya udah, besok pagi aja Mama telpon lagi ya. Mama dan Papa masih di luar kota, belum bisa nengok Danisha. "


" Iya, Ma. Ga apa-apa, Danish ngerti kok. "


" Udah dulu, kamu jangan lupa makan dan jaga kesehatan juga ya. Assalamualaikum.... "


" Iya, Ma. Mama dan Papa juga jaga kesehatan. Waalaikumsalam. "


Panggilan berakhir.


Saka menghela napas panjang menatap Danisha yang terbaring di ranjangnya. Bunda sudah menceritakan kepadanya mengenai penyakit putri sulungnya berdasarkan hasil serangkaian tes dan pemeriksaan kesehatan yang telah Danisha jalani. Bunda juga mengatakan jika Danisha bersedia melakukan pengobatan sesuai perintah dokter jika ingin segera sembuh. Betapa leganya Saka mendengar cerita Bunda mengenai hal itu. Untuk selanjutnya mereka akan fokus pada pengobatan Danisha.


Malam ini, Saka hanya sendiri menemani Danisha. Bunda harus menemani Kirana, adik Danisha yang sedang tidak enak badan.


Saka menatap Danisha yang tidur lelap. Ia ingat dengan kejadian sore tadi, saat Mas Rendra tiba-tiba memukulnya. Mas Rendra mengatakan jika Danisha mencintainya. Danisha telah memutuskan hubungannya dengan Mas Rendra. Entah mengapa, Saka merasa semua itu Danisha lakukan karena terpaksa. Ada sesuatu hal yang membuat Danisha mengambil keputusan berpisah dengan Mas Rendra.


Hati Saka mengatakan jika Danisha masih mencintai Mas Rendra. Ia terlihat berat melepaskan Mas Rendra. Terbukti setelah kejadian tadi, Danisha terus menangis dan tangisnya baru berhenti setelah makan malam.


" Aku tak akan memaksamu untuk mencintaiku, Danish. Aku tau kamu masih mencintainya. Terlihat jelas di matamu, kamu masih mencintainya. Semua kamu lakukan karena terpaksa, entah karena apa. Tapi aku tetap akan mencintaimu, mungkin sepanjang hidupku aku akan selalu mencintaimu, " monolog Saka. Perlahan ia mencium lembut punggung tangan Danisha.


Sementara di tempat lain, setelah mengantar Bang Hendra ke studio DG FM, Mas Rendra langsung kembali ke Malang.


Rencananya ia akan menemui Aya besok pagi, tetapi ia urungkan. Ia akan pergi menemui Aya malam ini juga dan menanyakan maksud gadis itu yang menghubungi Danisha dan mengatakan perihal dirinya serta keluarganya.


Sebelum berangkat menemui Aya, Mas Rendra sudah menghubungi gadis itu untuk bertemu di cafe miliknya. Dan disinilah mereka sekarang, duduk berhadapan di salah satu tempat duduk di sudut ruangan cafe.


" Tumben nih ngajak ketemu. Ada apa ? " tersenyum manis Aya menatap Mas Rendra yang juga sedang menatapnya dengan raut wajah datar.


" Apa yang sudah kamu lakukan yang aku tidak tahu, Ya ? " tanya Mas Rendra dengan nada sedikit meninggi.


Aya mengerutkan dahinya, ia tidak paham maksud pertanyaan Mas Rendra.


" Maksud kamu ? " tanya Aya.


Mas Rendra menghela napasnya kasar.


" Udah deh ! Kamu ga usah pura-pura ga ngerti maksud pertanyaanku, " sungut Mas Rendra.


" Ren, aku benar-benar ga ngerti maksud kamu. Emang apa yang udah aku lakukan ? " Aya ingin memperjelas maksud dari pertanyaan Mas Rendra.


" Danisha. Apa yang udah kamu katakan pada Danisha ? " tanya Mas Rendra menahan emosinya.


Aya terkejut. Namun ia berusaha bersikap tenang.


" Oh itu... Aku hanya bilang yang sebenarnya padanya, " jawab Aya santai.


" Apa ? Kamu ga berhak mengatakan apapun padanya ! " Mas Rendra mulai sedikit emosi.


Ia menatap tajam gadis cantik di hadapannya.


" Aku berhak, Rendra ! Aku calon istrimu. Ingat itu ! " seru Aya.


" Siapa yang bilang kamu calon istriku ? " tanya Mas Rendra sarkastik.


" Ren, orang tua kita udah sepakat.... "


" Mereka yang sepakat tapi tidak denganku ! " sela Mas Rendra.


Raut wajah Aya menegang.


" Ren, tidak bisakah kita mencoba untuk mengikuti keinginan mereka ? Tidak bisakah kita perlahan mencoba lebih dekat ? " pinta Aya dengan wajah penuh pengharapan.


" Aku muak dengan semua ini, Aya ! Aku ga pernah sedikitpun punya perasaan lebih untuk kamu. Kita hanya teman dari kecil, tidak lebih ! " tukas Mas Rendra menahan emosinya.


Aya menggelengkan kepalanya menatap Mas Rendra yang juga menatap tajam dirinya.


" Aku mau kamu tidak mencampuri urusanku, Aya. Terutama urusan pribadiku. Jangan pernah lagi kamu mengusik hidupku ! " Mas Rendra berdiri dari duduknya dan beranjak pergi tanpa mempedulikan Aya.


" Ren, please... Maafkan aku ! " seru Aya dengan mata mulai berkaca-kaca.


Mas Rendra terus berjalan pergi, mengabaikan seruan Ayana, gadis cantik yang dijodohkan orang tuanya.


Di tempat parkir, di dalam mobilnya, Mas Rendra duduk di belakang kemudi dengan hati kesal menahan emosi.


Semuanya sudah terlambat. Ia telah kehilangan Danisha. Ia telah berpisah dengan gadis yang dicintainya.


" Aaarrrrrggghhhh...! Shit !! " Mas Rendra memukul keras kemudi mobilnya.


Kemudian ia menyalakan mesin mobil dan melajukannya pergi dari cafe miliknya dengan dada yang sesak karena menahan emosinya.


*******


Hari ini Danisha sudah diperbolehkan pulang dan ia harus melakukan pengobatan dengan rawat jalan bersama Dokter Aldi.


Danisha terlihat sumringah ketika Dokter Aldi mengatakan jika ia diperbolehkan pulang. Untuk selanjutnya, Dokter Aldi akan memberikan jadwal rawat jalan untuk pengobatan penyakitnya.


" Nanti saya akan berikan jadwal rawat jalannya di bagian administrasi. Mereka akan memberikannya pada saat penyelesaian biaya administrasi. Ok ya, Danish. Seperti yang sudah kita bahas, selalu berdoa dan semangat untuk sembuh, " jelas Dokter Aldi, memberikan semangat pada Danisha.


" Baik, Dokter. Saya akan patuh dan berjuang untuk sembuh. Terima kasih buat semuanya, Dok, " ucap Danisha dengan senyum sumringah, nampak lesung pipinya yang dalam.


Bunda tersenyum melihat putrinya yang terlihat bersemangat. Demikian pula dengan Saka. Senyum sumringah tampak di wajah rupawan laki-laki yang selalu setia menemani Danisha selama di rumah sakit itu.


" Baiklah kalo begitu, saya permisi, " pamit Dokter Aldi dengan senyum ramahnya.


" Terima kasih, Dokter, " ucap Bunda.


" Sama-sama, Bu, " jawab Dokter Aldi, lalu beranjak pergi diikuti oleh perawatnya.


" Ingat pesan Dokter Aldi ya, sayang, " kata Bunda mengingatkan putri sulungnya.


" Iya, Bunda, " jawab Danisha disertai dengan anggukan kepalanya dan mengacungkan jempol tangannya.


Saka terkekeh melihat sikap Danisha, ia pun mengusap puncak kepala gadis kesayangannya.


" Uummm... Kita jadi ya pergi ke Malang, liat lampion dan naik bianglala ? " tanya Danisha mengedip-kedipkan matanya pada Saka.


" Eh ? " Saka tersenyum lebar.


" Ga sekarang juga kali, " ujar Saka sembari mencubit kecil hidung Danisha.


" Ish ! Sakit, Saka... ! " Danisha meringis memegang hidung mancungnya.


" Lagian, belum juga keluar dari rumah sakit, udah minta keluyuran aja, " celoteh Saka.


" Aku bosan, Ka. Pengen refreshing, " sahut Danisha dengan bibir mencebik.

__ADS_1


Saka dan Bunda tertawa.


" Sehatkan dulu badannya, baru boleh pergi-pergi, " tutur Bunda.


Tiba-tiba ponsel Bunda berbunyi, panggilan telpon dari Ayah.


Tak Lama kemudian, Bunda berkata, " Bunda tinggal dulu ke bagian administrasi ya. Ayah baru sampai dan langsung ke bagian administrasi. "


" Lho, Ayah ga kerja ? Kok jam segini ke sini, Bun ? " tanya Danisha heran.


" Ayah ijin keluar kantor karena kamu keluar rumah sakit sekarang. Bunda tinggal dulu ya, " jelas Bunda.


" Siap, Bunda, " ujar Danisha yang diikuti oleh Saka dengan senyuman dan anggukan kepala.


Setelah Bunda pergi, lagi-lagi Danisha menanyakan pada Saka tentang janjinya mengajak gadis itu melihat lampion dan berlibur di kota Malang.


" Jadi kan liat lampionnya ? " tanya Danisha penuh harap.


" Kan Bunda udah bilang tadi, sehatkan dulu badannya baru boleh pergi-pergi, " jawab Saka sembari menyentil hidung Danisha.


Danisha terkekeh.


" Iya siap, Boss ! " sahut Danisha singkat mengangkat tangannya tanda hormat.


Saka tergelak gemas menyaksikan sikap Danisha yang tidak dapat menyembunyikan kebahagiaannya.


******


Danisha terlihat sibuk menata pakaiannya ke dalam travelling bag nya. Ia juga memasukkan perlengkapan mandi dan lainnya ke dalam tas itu.


Kondisi Danisha kini berangsur membaik dengan rawat jalan yang dilakukannya secara rutin setelah pulang dari rumah sakit. Dan dua bulan setelah pulang dari rumah sakit dengan rawat jalan, Dokter Aldi menyarankan untuk kemoterapi. Danisha pun menurut dan mengikuti saran Dokter Aldi untuk melakukan kemoterapi. Meskipun awalnya ia ragu dan takut. Namun, Saka berhasil menenangkan dan menguatkannya jika ingin segera sembuh dari penyakitnya. Begitu pula dengan kedua orang tua dan sahabatnya, Distha dan Prasta.


Ya, lagi-lagi Saka yang berhasil menundukkan kekerasan hati Danisha.


Saka yang sebelumnya sudah mendengar penjelasan mengenai kemoterapi dari sepupunya, Dokter Ardhy, pun dengan setia menemani Danisha untuk selalu men-support gadis yang teramat dicintainya itu.


Setelah melakukan kemoterapi pertamanya, Dokter Aldi terus memantau perkembangan kesehatan Danisha terutama memantau efek samping kemoterapi pada kondisi fisik dan psikis Danisha. Dan dua bulan setelah kemoterapi, tepatnya seminggu yang lalu saat Danisha kontrol untuk pemeriksaan rutin, Dokter Aldi mengatakan bahwa respon tubuh Danisha sangat bagus. Ditambah dengan resep obat yang diberikan Dokter Aldi untuk diminum rutin oleh Danisha, perlahan kondisi Danisha semakin membaik.


Danisha menanyakan pada Dokter Aldi apakah ia diperbolehkan melakukan perjalanan jauh. Dokter Aldi pun mengatakan jika ia boleh melakukan perjalanan jauh asal tetap memperhatikan kondisi tubuhnya yang sekarang berbeda dengan saat ia masih sehat. Berlibur juga sangat disarankan untuk memulihkan kesegaran tubuh dan pikirannya.


Saka yang pada saat itu ikut menemani Danisha bersama Bunda pun, seketika membuat rencana untuk memenuhi janjinya pada Danisha mengajaknya jalan-jalan ke kota Malang.


" Putri Bunda semangat sekali mau liburan, " kata Bunda menghampiri Danisha di kamarnya.


Danisha tersenyum sumringah pada Bunda.


" Iya, Danisha kan udah lama ga liburan, Bun, " jawab Danisha.


Selesai sudah packing pakaian dan perlengkapan lainnya yang akan ia bawa besok.


Ya, besok Saka mengajaknya pergi berlibur ke Malang. Laki-laki itu tidak melupakan janjinya. Mereka akan pergi bersama keluarga Saka dan juga Prasta serta Distha. Danisha sangat bahagia. Ia sudah sangat ingin melihat lampion dan menghirup udara segar pegunungan.


" Obatnya udah dibawa, sayang ? " tanya Bunda mengingatkan.


" Udah, Bunda, " jawab Danisha.


Bunda sebenarnya juga diajak oleh Bu Dinda untuk ikut serta mereka berlibur bersama di villa milik keluarganya. Namun, Bunda tidak dapat meninggalkan toko kuenya. Disamping karena weekend yang pasti akan ramai pengunjung, Bunda juga sedang ada pesanan kue di hari yang sama dari beberapa pelanggan.


" Bunda boleh bertanya sesuatu, sayang ? " tanya Bunda lembut pada Danisha yang duduk di tepi ranjang bersamanya.


" Ish ! Bunda kenapa sih, pake minta ijin. Mau tanya apa, Bunda ? " jawab Danisha penasaran.


" Bagaimana hubunganmu dengan Mas Rendra ? " tanya Bunda menatap penuh sayang pada putrinya. Beberapa hari setelah pulang dari rumah sakit, 4 bulan lalu, Danisha menceritakan jika ia dan Mas Rendra telah memutuskan untuk berpisah.


Danisha tertunduk, sedetik kemudian ia mendongakkan wajahnya menatap Bunda dengan senyum tipisnya.


" Danish harus ikhlas melepas Mas Rendra, Bun. Bunda pasti paham kan ? Danish tidak bisa dengan hubungan jarak jauh. Danish tidak mau kami selalu ada prasangka buruk dalam hubungan kami, Bun. Lagipula kondisi Danish seperti ini. Danish ingin Mas Rendra bahagia, bukan merepotkannya, " tutur Danisha.


Bunda tersenyum tipis, mengusap lengan putrinya.


Lagi-lagi Danisha tersenyum tipis.


" Danish berusaha melupakan perasaan Danish sama Mas Rendra, Bun. Danish lebih mengikuti kenyataan yang ada, lebih baik kami berpisah. Bunda ga perlu khawatir ya, Danish baik-baik aja. Danish bisa menghadapi semuanya. Perlahan Danish udah bisa mengikis perasaan Danish pada Mas Rendra. Sekarang Danish hanya ingin sembuh, menyelesaikan kuliah Danish secepatnya dan bekerja sebaik-baiknya. Danish hanya ingin doa dan ridlo dari Bunda dan Ayah agar semuanya berjalan mudah dan lancar, " jelas Danisha kemudian sembari memeluk sang Bunda manja.


Bunda pun membalas pelukan putri sulungnya dengan penuh cinta, mengusap kepala sang putri yang sedang menghadapi ujian dalam perjalanan hidupnya.


" Putri Bunda yang cantik ini udah semakin dewasa rupanya. Bunda dan Ayah tak pernah lepas berdoa untuk kalian, putri-putri Bunda dan Ayah. Ridlo Bunda dan Ayah selalu menyertai kalian apapun yang kalian lakukan untuk kebaikan dan kebahagiaan kalian, " tersenyum membelai rambut putrinya dan mengusap-usap punggung putri sulungnya.


Danisha melerai pelukannya dan menggenggam tangan Bunda, mencium sekilas punggung tangan wanita yang telah mengandung dan melahirkannya.


" Terima kasih banyak, Bunda. Maafkan Danish bila Danish selalu membuat repot Bunda dan Ayah. Maafkan Danish belum bisa membahagiakan Bunda dan Ayah, " tangis Danisha pun pecah. Ia tak bisa lagi menahan air matanya supaya tidak terjatuh.


Bunda pun meraih tubuh putrinya ke dalam dekapan hangatnya. Kedua mata Bunda pun berkaca-kaca.


" Sssttt... udah, sayang. Jangan menangis. Putri Bunda kok jadi cengeng, sih ? " ucap Bunda.


Danisha pun menghapus air matanya, lalu tertawa pelan.


" Danish ga cengeng ! Bunda sekarang sering ikut-ikutan Saka deh ! suka banget bilang Danish cengeng, " ujar Danisha, bibirnya mencebik.


Bunda pun terkekeh melihat putrinya mencebikkan bibirnya.


" Iya... anak Bunda ga cengeng kok. Anak Bunda gadis yang kuat dan tangguh, " sahut Bunda sambil mengepalkan tangannya ke atas.


Ibu dan anak itu pun tertawa bersama.


******


Villa keluarga Saka terletak di kota Batu, dekat dengan tempat wisata Selecta. Bangunan dengan 2 lantai yang lumayan besar. Terdiri dari 4 kamar ditambah 1 kamar untuk pembantu. Di lantai bawah ada 2 kamar dan 1 kamar untuk pembantu yang menjaga dan membersihkan villa. Sementara di lantai atas ada 2 kamar. Ada kolam renang yang tidak terlalu besar juga.


" Danish di kamar bawah aja ya, biar ga terlalu capek naik turun, " kata Bu Dinda saat mereka telah masuk ke dalam villa.


" Di atas juga ga apa kok, Tan. Keknya view di atas bagus, " ujar Danisha tersenyum simpul.


" Kamu mau di kamar atas ? " tanya Saka.


" Di bawah aja, Ka. Biar ga naik turun, nanti capek, " sahut Bu Dinda.


" Sesuka Danisha aja, Ma. Ga apa-apa, capek kan bisa istirahat, " ujar Saka sembari mengedipkan sebelah matanya pada sang Mama.


" Udahlah, Ma. Biar mereka pilih sendiri mau menempati kamar yang mana. Lagian Mama kek ga pernah muda aja sih, " imbuh Pak Rahmat tersenyum simpul.


" Tuh, Papa paham. Ini baru Papanya Saka, " sahut Saka berkelakar.


" Ish... mulai deh ! " sungut Bu Dinda dengan wajah cemberut.


Semua tergelak melihat Bu Dinda yang cemberut.


" Ayo, Pras. Bawa tas nya ke atas, " ajak Saka pada Prasta.


" Om, Tante. Kami permisi ke atas dulu, " pamit Danisha dan Distha.


" Hati-hati kalo naik turun ya, Danish. Distha, jagain Danish ya, " kata Bu Dinda mengingatkan.


" Mama lebay ! " seru Saka dari lantai atas.


Bu Dinda mengepalkan tangannya ke arah Saka. Saka pun tergelak, diikuti Danisha, Distha dan Prasta.


" Kalian berdua di kamar ini. Aku dan Prasta di kamar sebelah, " kata Saka setelah meletakkan tas kedua sahabat gadisnya di dalam kamar yang akan mereka tempati.


Danisha berjalan ke arah pintu kaca yang ada di kamar itu.


" Boleh aku buka ? " tanya Danisha meminta ijin pada Saka untuk membuka pintu kaca itu.

__ADS_1


" Buka aja, biar udara segarnya masuk ke kamar, " ujar Saka berjalan menghampiri Danisha dan membuka pintu kaca itu dengan menggesernya. Sliding door itupun terbuka, seketika Danisha bisa merasakan udara dingin dan segar menerpa tubuhnya.


Danisha pun menghirup udara segar sembari berjalan menuju balkon kamar. Ketiga sahabatnya pun mengikutinya.


Distha berdiri di samping kiri Danisha, merangkul bahu sahabatnya.


" Segar ya, Dis, " ucap Danisha sumringah.


" Iya dan dingin, " timpal Distha sembari meletakkan sebelah tangannya ke depan dada.


Danisha mengangguk masih dengan senyuman lesung pipi yang tersungging di bibir tipisnya.


" Udah yuk, masuk. Udah sore, makin dingin udaranya, " ajak Saka.


" Istirahat dulu, habis Maghrib kita jalan. Ayo Danish, " imbuh Saka.


Mereka berempat pun masuk kembali ke dalam kamar.


Setelah sholat Maghrib, Bu Dinda memanggil mereka berempat untuk segera turun dan makan malam.


Saat mereka sampai sore tadi, Bu Dinda sudah meminta Bik Yati, orang yang menjaga dan membersihkan villa untuk memasak beberapa menu masakan untuk makan malam mereka.


Usai makan malam, Pak Rahmat menyarankan agar mereka istirahat saja di villa.


" Ka, sebaiknya ga usah jalan dulu. Istirahat aja dulu, besok baru jalan-jalan. Kasihan Danisha, ingat yang dibilang dokter. Harus banyak istirahat dan jangan capek-capek, " tutur Pak Rahmat.


Danisha tersenyum dan mengangguk, " Iya, Om. "


" Tadi Baik Yati dan suaminya udah siapin jagung, sosis dan beberapa bahan makanan buat bakar-bakar di samping pool. Kita barbeque an aja ya, " ujar Bu Dinda.


" Wiihhh... asik tuh, Tan. Yuk, ah ! " ajak Distha bersemangat.


" Semangat banget kalo soal makan, " kelakar Prasta.


" Ya, dong ! Hehehe... Let's go ! " Distha kembali mengajak sahabat-sahabatnya sembari tertawa girang.


Semua yang ada di ruang makan pun berhambur menuju kolam renang yang ada di samping villa.


******


Danisha duduk sendiri di garden chair yang ada di pinggir kolam renang. Sementara yang lain sedang berkumpul tak jauh dari tempat Danisha duduk. Mereka sedang membakar jagung dan beberapa makanan lainnya. Danisha sudah mengambil sosis dan jagung bakar yang yang sudah matang, yang sekarang ia letakkan di atas meja di hadapannya. Bik Yati juga sudah menyiapkan teh dan kopi di dalam dispenser kecil. Rupanya Saka dan kedua orang tuanya mempersiapkan liburan mereka dengan sangat sempurna.


Danisha menundukkan kepalanya. Ia sangat bersyukur dikelilingi dengan orang-orang yang sangat menyayanginya. Ya, ia sangat bahagia walaupun ada secuil ganjalan mengenai sakitnya. Ia hela napasnya panjang.


" Hey ! Kok melamun. Ada apa ? " Saka tiba-tiba sudah ada di hadapannya, duduk berjongkok menggenggam kedua tangannya.


Bibir Danisha menyunggingkan senyuman yang selalu menampakkan kedua lesung pipinya. Kemudian ia menggelengkan kepalanya.


" Capek ? Pusing ? " tanya Saka menatap Danisha penuh perhatian dan sayang.


Kembali Danisha menggeleng.


" Trus kenapa, hem ? " lagi Saka bertanya, ingin tahu apa yang sebenarnya dipikirkan gadis yang selalu dicintainya.


Prasta dan Distha menghampiri mereka berdua, membawa semua makanan yang sudah dibakar dan siap disantap.


" Saatnya makaaan.... " seru Distha riang.


" Jagung bakarnya, Mbak. Ada rasa manis semanis diriku, ada juga rasa pedas manis seperti hidupku, hiks ! " kelakar Prasta.


" Yang terakhir, cocok bener, Pras ! " timpal Distha.


Danisha tertawa melihat tingkah polah Prasta dan Distha. Demikian pula dengan Saka.


" Ka, duduk sini lah, " kata Danisha meminta Saka duduk di kursi sebelahnya.


Saka pun berdiri dan duduk di kursi sebelah Danisha.


Mereka pun bercanda tawa sambil menikmati makanan yang ada. Hingga tanpa terasa malam semakin larut. Udara semakin dingin. Danisha yang memakai sweater rajut tebal pun masih merasakan dinginnya udara kota Batu. Sesekali ia terlihat menggigil.


Saka melirik jam di tangannya. Hampir jam 10 malam.


" Udah yuk, kita masuk. Udara makin dingin. Danish, yuk masuk. Udah malam juga, kamu harus istirahat, " ujar Saka, tidak tega melihat Danisha yang terlihat kedinginan.


Danisha pun mengangguk. Ia beranjak dari duduknya.


" Kalian duluan, aku masih mau di sini dulu, " ucap Distha, menyeruput kopinya.


" Aku juga masih mau di sini. Kopiku masih penuh, nih ! " imbuh Prasta.


" Ok, kita duluan ya, " pamit Danisha.


Saka dan Danisha pun pergi meninggalkan kedua sahabatnya yang masih ingin menghabiskan kopi hitamnya.


Di ruang keluarga, Saka dan Danisha melihat Bu Dinda dan Pak Rahmat masih asik menonton film action yang diputar di salah satu stasiun televisi.


Saka tersenyum jahil.


" Yang lagi asik pacaran... cieee.... " goda Saka dengan senyuman jahilnya.


" Nih anak bikin kaget aja ! Iya, dong ! Jangan ngiri, lho ! " Bu Dinda tak mau kalah meledek putranya.


" Ga lah ! Sapa juga yang ngiri, Saka ama Danish nganan, kok ! Ya kan, sweet girl ? " Saka mengedipkan sebelah matanya pada Danisha yang ada di sampingnya, diikuti senyuman jahil tersungging di bibirnya yang sempurna.


Danisha terkekeh, lesung pipinya tercetak indah membingkai wajahnya.


" Mama yang ngiri liat kita, sweet girl, " Saka menggenggam mesra kedua tangan Danisha. Keduanya saling berhadapan. Saka menatap Danisha penuh cinta dengan senyuman indah membingkai wajah rupawannya.


" Eh ! Kok jadi situ yang pamer ! " gerutu Bu Dinda.


Danisha tersenyum malu mendengar ucapan Bu Dinda.


" Kita ke atas aja, yuk ! Biarin yang di sini ngiri, " Saka menggamit tangan Danisha dan mengajak beranjak ke lantai atas.


" Pa, liat tuh anakmu ! " keluh Bu Dinda kesal.


Pak Rahmat hanya terkekeh menyaksikan istri dan putranya saling meledek.


" Udah, Mama juga suka ga mau kalah, " tukas Pak Rahmat.


******


Di lantai atas, tepatnya di balkon yang terletak lurus menyambung dengan ruang tengah, Saka dan Danisha berdiri berdampingan berpegang pada pagar balkon. Menatap pemandangan malam di sekitar villa.


Danisha merapatkan kedua tangannya menutup dada. Dingin, itu yang ia rasakan. Namun, ia sangat menikmati udara dan suasana di tempat itu.


Saka melepas jaket varsity nya, lalu ia balutkan di tubuh Danisha.


Danisha sedikit terkejut saat Saka membalutkan jaket ke tubuhnya.


" Makasih, " ucap Danisha singkat, lalu tanpa sengaja pandangan mereka bertemu.


Keduanya terdiam saling menatap. Seperti terhipnotis, keduanya saling mendekat. Saka meraih kedua tangan Danisha yang dingin. Digenggamnya kedua telapak tangan Danisha lembut, ingin memberikan kehangatan. Tiba-tiba hatinya mengatakan kalau ia tak boleh menunggu lagi.


" Sudah hangat ? " tanya Saka, wajahnya sedikit menunduk karena tinggi badan Danisha setinggi leher Saka.


Danisha menunduk dan menganggukkan kepalanya.


Saka berbisik lembut, " I love you with every beat in my heart. I love you for better or worse. I love you yesterday, today, tomorrow and forever. "


Danisha terkejut mendengar bisikan Saka. Jantungnya berdegup sangat kencang. Hatinya berdebar tak karuan. Ia mendongakkan wajahnya, matanya berkaca-kaca bertemu dengan manik hitam Saka.


Saka tersenyum menatap kedua mata indah Danisha, " I would like to be your man, Danisha Almanita. "

__ADS_1


Tbc


__ADS_2