
Dokter Aldi keluar dari ruang radiologi rumah sakit dengan membawa sebuah amplop. Ia berjalan menuju ruangannya. Ketika akan membuka pintu ruangannya, Dokter Ardhy memanggilnya.
" Dokter Aldi ! "
Dokter Aldi pun menoleh ke arah suara yang memanggilnya.
" Hai, Dok ! " jawab Dokter Aldi sembari membuka pintu ruangannya.
Mereka berdua pun masuk ke dalam ruangan Dokter Aldi.
" Kok belum pulang, Dok ? Ada jadwal jaga malam ? " tanya Dokter Aldi pada Dokter Ardhy sembari duduk di kursinya.
" Kebetulan tidak ada. Habis buat laporan pasien, Dok, " Dokter Ardhy tersenyum menjawab pertanyaan Dokter Aldi.
" Hasil tes Danisha ? " tanya Dokter Ardhy kemudian.
Dokter Aldi menghela napasnya, lalu tersenyum tipis pada teman sejawatnya itu.
" Begitulah, " singkat Dokter Aldi menjawab.
" Semalam sepupu saya menanyakan, apakah nyeri kepala Danisha bisa berpengaruh pada penglihatannya, " cerita Dokter Ardhy.
" Dokter jelaskan ? " tanya Dokter Aldi.
" Ya, tentu. Dari hasil tes, bagaimana penglihatan gadis itu ? " tanya balik Dokter Ardhy.
" Masih bisa diobati. Keseimbangan tubuhnya sudah mulai terganggu, tetapi masih bisa diobati. Semoga pasien bisa mengerti keadaannya dan bisa diajak kerjasama untuk kesembuhannya, " tutur Dokter Aldi.
" Gadis itu sangat dekat dengan sepupu saya. Dia sangat mendengarkan apa perkataan sepupu saya. Semoga dia bisa membantu penyembuhan Danisha, " ujar Dokter Ardhy penuh harap.
" Boleh tahu, stadium berapa ? " tanya Dokter Ardhy lebih lanjut.
" Awal stadium 2. Tapi aku optimis dia sembuh. Orang-orang terdekatnya sangat support. Itu sangat diperlukan selain obat, " jelas Dokter Aldi.
Dokter Ardhy mengangguk-anggukkan kepalanya.
" Baik, Dok. Saya permisi dulu. Terima kasih, " ucap Dokter Ardhy dengan senyuman tipis di bibirnya.
Dokter Aldi mengangguk.
" Sampai ketemu besok, " ujar Dokter Aldi.
******
Danisha terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara ponselnya yang ia letakkan disamping bantal.
" Assalamualaikum. "
" Waalaikumsalam. Maaf, betul ini dengan Danisha ? " suara di seberang sana
" Betul, saya Danisha. Maaf dengan siapa ya ? " Danisha mencoba mengingat suara di seberang sana. Namun, ia tak bisa menebak siapa yang menelponnya.
" Hai, Danisha. Saya Ayana. Pasti kamu bertanya-tanya, siapa saya karena kamu tak mengenal saya. "
Suara di seberang sana memperkenalkan namanya. Danisha memang tidak pernah mengenal suara dan nama si penelpon.
" Bisa langsung aja, ada keperluan apa ? " Danisha heran dan bingung.
" Kamu kenal Rendra, kan ? "
Deg ! Sedikit kaget Danisha mendengar nama itu dari seorang wanita yang tak dikenalnya.
" Rendra siapa ? " tanya Danisha.
" Rendra, manager Radio Dirgantara FM. Kamu pasti mengenalnya kan ? Sayangnya dia udah ga di Surabaya lagi. Dia kembali ke Malang, ke tempat kelahirannya. Atas keinginan orang tuanya, ia harus mengurus bisnis orang tuanya. Selain itu.... "
" Sebenarnya, apa tujuan Mbak menghubungi saya ? " potong Danisha tanpa basa basi.
" Saya ingin memberitahukanmu, Rendra kembali ke Malang bukan hanya untuk mengurus bisnis orang tuanya. "
" Tolong katakan untuk apa Mbak menelpon saya ? Hanya ingin mengatakan semua tentang Rendra ? Mbak siapa ? " cecar Danisha sedikit kesal. Tak tahukah, hari ini ia sangat lelah setelah beberapa jam melakukan serangkaian tes pemeriksaan kesehatan.
" Saya tau kamu adalah kekasih Rendra. Perkenalkan, saya Ayana. Kedua orang tua kami telah menjodohkan kami. Sejak kecil kami bersama. Maafkan saya,.... "
" Saya tau maksud Mbak. Baiklah, silahkan lanjutkan kebersamaan kalian. Mbak ga perlu risau, saya bukan siapa-siapa, " tutur Danisha menahan segala rasa sesak di dadanya.
" Danisha, maafkan saya. Saya hanya ga bisa menolak keinginan orang tua saya. Saya.... "
" Mbak ga perlu minta maaf. Justru saya yang harusnya meminta maaf. Saya paham, " ujar Danisha yang memotong kalimat Ayana lagi.
" Maaf, saya harus istirahat. Assalamualaikum, " pamit Danisha kemudian.
Dimatikannya ponselnya. Ia hela napasnya panjang, lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan kamar. Ayah, Bunda dan Saka kemana ? pikirnya.
Tiba-tiba ia teringat kembali dengan wanita penelpon tadi. Sesak ia rasakan, ada nyeri di hatinya. Lalu ia terisak, tak dapat menahan lagi air matanya.
Sejak Mas Rendra mengatakan akan kembali ke kota kelahirannya, Danisha meragukan hubungan mereka. Hanya sekali laki-laki itu menghubunginya ketika dia baru tiba di kota kelahirannya. Hari-hari berikutnya tidak ada kabar dari laki-laki itu. Seolah lenyap ditelan bumi. Seolah dirinya tidak pernah ada dalam hidupnya.
Kemudian ia memilih untuk tak lagi mengharapkan laki-laki itu kembali di sisinya. Ia hanya selalu berdoa memohon yang terbaik untuk mereka berdua. Mimpi-mimpi yang ia alami beberapa malam seolah memberikan jawaban padanya. Ia telah pasrah. Dan malam inilah jawaban sebenarnya.
Danisha mengusap air matanya. Masih terisak, ia mencoba memejamkan matanya. Berbaring dengan posisi miring dan selimut menutupi hingga lehernya.
Terdengar pintu kamar dibuka. Danisha memejamkan matanya berpura-pura tidur. Dirasakannya sebuah tangan menyentuh wajahnya. Lembut dan menghangatkan. Ingin Danisha membuka matanya, bangun dan memeluk laki-laki yang sekarang selalu menemaninya. Namun ditahannya semuanya. Ia tak mau menangis hanya karena kejadian tadi. Ia sudah memilih dan memutuskan. Tidak perlu disesali, apalagi ditangisi.
Saka duduk di kursi yang ada di samping ranjang setelah mengusap wajah gadis yang selalu dicintainya.
Ia baru saja dari kantin rumah sakit dan menghubungi Prasta serta Distha. Ia menunggu kedatangan dua sahabatnya itu yang sudah dalam perjalanan.
Sementara Ayah dan Bunda pulang ke rumah karena besok Ayah harus bekerja setelah mengambil satu hari cuti dan Bunda harus menyiapkan semua keperluan Ayah untuk bekerja besok pagi.
Saka meraih botol air mineral yang ia selipkan di tas ranselnya. Dibukanya tutup botol dan diteguknya air mineral yang sudah tinggal setengah botol hingga tandas. Lalu dibuangnya di tempat sampah kecil yang ada di depan kamar mandi.
" Assalamualaikum.... "
" Waalaikumsalam, " jawab Saka. Ia berbalik melihat siapa yang baru saja datang. Ia tersenyum senang pada kedua sahabatnya.
" Tidur ? " tanya Distha berbisik hampir tak terdengar oleh Saka dengan tangan menunjuk ke arah Danisha yang terbaring di ranjang.
Distha menghampiri sahabatnya yang terbaring, lalu mengecup kening sahabatnya. Diusap-usapnya bahu Danisha perlahan.
" Sorry, tadi siang ga bisa ke sini. Mendadak aku harus menjemput si bocil karena Kak Mitha ada meeting sama dia tuh, " jelas Distha dengan pandangan mengarah ke Prasta yang duduk di sofa dengan wajah lesu.
__ADS_1
Saka mengangguk dan tersenyum simpul. Ia berjalan menghampiri Prasta yang berwajah lesu, tidak seperti kesehariannya.
" Kamu kenapa ? " tanya Saka pada sahabatnya yang duduk malas, menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa.
" Hah ? Aku kenapa ? " spontan Prasta menegakkan kepalanya menatap Saka yang duduk di sebelahnya.
" Iya, Brader. Ada apa ? Lesu banget ga kek biasanya, " kembali Saka bertanya.
" Ga ada apa-apa. Agak capek aja, Bro. Tadi dari kampus langsung meeting, trus ngantar Ibu ke rumah saudara. Lalu di sinilah aku, " jelas Prasta diakhiri dengan kekehan khasnya.
Saka ikut terkekeh dan memberikan tinjuan kecil ke lengan sahabatnya.
" Kalo butuh teman cerita, kita siap dengerin, Brader. Jangan kau pendam sendiri bila ada masalah. Walaupun pada akhirnya kami tidak bisa banyak membantu, setidaknya kami selalu siap dan bersedia mendengarkan dan berbagi bahu untuk bersandar, " tutur Saka tegas.
" Thanks, Bro, " jawab Prasta singkat.
" So, gimana keadaannya ? Hasil tes nya udah keluar ? " tanya Prasta kemudian, setengah berbisik sembari melihat ke arah Danisha.
Hela napas dalam Saka menunjukkan kecemasan.
" Masih menunggu hasil tes nya. Mungkin besok Dokter Aldi akan memberitahukan hasilnya. Semoga semuanya baik-baik aja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan, " ujar Saka sembari meremas jari jemarinya.
Prasta memperhatikan itu.
" Seperti ada yang kamu cemaskan. Ada apa ? " tanya Prasta.
" Kita bicara di luar aja, " ajak Saka. Ia beranjak dari duduknya menghampiri Distha.
" Dis, aku dan Prasta keluar sebentar. Titip Danish, ya, " pamit Saka.
" Ok. Jangan khawatir, " angguk Distha.
Saka dan Prasta pun keluar kamar. Mereka duduk di kursi yang ada di depan kamar rawat Danisha.
" Semalam aku berbicara dengan Bang Ardhy. Menurutnya 80% diagnosa awal Dokter Aldi benar, " tutur Saka.
" Apa diagnosa nya ? " tanya Prasta ingin tahu.
" Tumor otak, " jawab Saka singkat. Ia tertunduk setelah mengatakan itu.
" Ya Allah ! Benar begitu ? Tapi masih belum pasti, kan ? Hasil tes pemeriksaannya belum ada. Semoga itu ga benar, Ka. Semoga sakit Danish hanya anemia biasa, " ujar Prasta penuh harap.
" Iya, bismillah. Semoga semua baik-baik aja, " Saka menghela napasnya panjang sebelum kemudian melanjutkan bicaranya.
" Pras, aku sangat mencintainya. Bahkan saat ini aku semakin mencintainya. Aku tak bisa menghentikan perasaanku padanya. Aku tau ini salah, tapi aku tak bisa berhenti mencintainya. Aku ingin memperjuangkannya. Walaupun nanti pada akhirnya aku terluka, aku tak peduli. Aku ingin membuatnya bahagia, Pras. Dia kebahagiaanku. Aku tak kan pernah merasa terluka jika dia bahagia, " Saka bertutur dengan suara sedikit bergetar.
Prasta menepuk-nepuk bahu Saka, memberi dukungan pada sahabatnya.
Malam ini Prasta dan Distha juga menginap di rumah sakit. Mereka akan menemani Danisha bersama. Memberi dukungan pada sahabatnya agar selalu bahagia.
Friendship is not about who you've known the longest...It's about who walked into your life, said " I'm here for you " and prove it
*******
Pukul 02.00 dini hari saat Saka merasakan ada yang mengusap rambutnya. Ia membuka matanya perlahan, mengerjap beberapa kali untuk mengambil penuh kesadarannya.
Sebuah senyuman berlesung di pipi menyambutnya. Senyuman indah yang menghangatkan hati. Senyuman yang tak pernah dilihatnya sejak gadis ini pingsan dua hari lalu. Senyuman dari gadis yang semakin dicintainya.
" Ada apa ? " bisik Saka
Danisha menggelengkan kepalanya.
Saka berdiri dari duduknya. Membetulkan selimut Danisha.
" Itu Distha dan Prasta ? " tanya Danisha berbisik.
" Iya, " jawab Saka singkat sembari menganggukkan kepalanya.
Danisha tersenyum lebar, raut wajahnya sangat bahagia. Ia melihat Distha tidur di sofa, sedangkan Prasta tidur di kasur lipat milik Bunda. Keduanya tidur sangat pulas.
" Thank you. Makasih karena udah ada di sini menemaniku, " ucap Danisha lirih.
" Bobo lagi ya... Masih jam 2 lho. Mau minum ? " tawar Saka.
" Udah, nih ! " Danisha menunjukkan botol air mineral yang ada di samping bantalnya.
Saka tersenyum.
" Ya udah. Sekarang bobo lagi, " titah Saka.
Sekali lagi, ia membetulkan selimut Danisha.
" Aku udah terbangun dari jam 12 tadi. Ingin tidur lagi setelah minum, tapi mataku ga bisa terpejam, " ucap Danisha.
Kembali pikirannya teringat pada wanita yang menelponnya. Lalu ia teringat sosok laki-laki yang membuatnya merasakan cinta.
" Ada yang kamu inginkan ? " tanya Saka.
Lagi-lagi Danisha hanya menggeleng. Dadanya sesak. Ia ingin menumpahkan segala yang membuat sesak dadanya. Ia ingin menghubungi Mas Rendra, mengatakan jika tak ada yang perlu dilanjutkan lagi diantara mereka. Namun semuanya tertahan, Danisha meragu.
" Danish... apa yang kamu pikirkan ? Kenapa diam ? " Saka bertanya pada Danisha yang sedari tadi diam dan pandangannya kosong.
Danisha menatap Saka, ia hela napasnya dalam, sebelum kemudian ia memejamkan matanya. Ia gamit jemari Saka untuk digenggamnya.
Saka tersenyum, diusapnya jemari tangan Danisha dengan lembut. Danisha merasakan tenang dan nyaman dengan usapan jemari Saka. Ada rasa aneh di hatinya saat ini. Gelenyar dan desiran di hatinya semakin hari semakin terasa ketika berdekatan dengan Saka, terutama saat Saka menggenggam jemarinya.
Saka berbisik lirih, " Aku mencintaimu selamanya. " Dan dikecupnya jemari tangan Danisha dengan lembut.
Aku menemukanmu di setiap malamku
Aku mencarimu di setiap terangku
Agar engkau tahu
Di hatiku hanya ada dirimu... Cintaku
*******
Keesokan harinya, di kamar rawat Danisha terdengar ramai dengan gelak tawa. Ayah dan Bunda datang pagi-pagi sekali membawa banyak makanan. Setelah sarapan bersama, Ayah pamit untuk berangkat ke kantor.
Bunda tersenyum sumringah melihat putrinya banyak tawa hari ini. Sahabatnya berkumpul menemaninya dari semalam.
__ADS_1
" Pras, kamu ke kampus ? " tanya Saka.
" Ga, sih. Tapi jam 9 aku harus ke kantor Kak Mitha. Ada job dadakan, " kata Prasta, terlihat tak bersemangat.
" Kamu kek ga semangat gitu, Pras. Biasanya kalo ada job semangat warbiasah, " sahut Distha. Dari kemarin dia merasa ada yang aneh dengan Prasta. Seolah ada sesuatu yang sedang dia pendam. Sahabatnya itu terlihat agak pendiam beberapa hari ini. Tak banyak bicara seperti kesehariannya.
" Renata apa kabar, Pras ? " tanya Danisha. Ia kangen dengan teman-teman kerjanya di studio DG FM.
" Owh, Renata baik. Dia baik, " jawabnya singkat dan gugup. Ia tersenyum tipis, sangat tipis, hampir tak terlihat ia tersenyum.
" Nanti kalo kamu ke sini, ajak Renata ya, Pras, " pinta Danisha.
Prasta hanya mengangguk.
Selain Distha yang merasa aneh dengan sikap Prasta, Saka pun merasakan hal yang sama. Namun, mereka tak ingin membahasnya saat ini. Tak ingin menambah pikiran Danisha. Karena mereka sangat tahu bagaimana Danisha jika mengetahui sahabatnya sedang dirundung masalah. Ia tak akan berhenti memikirkan dan membantu hingga semua terselesaikan.
Pukul 08.30 pagi, Prasta dan Distha berpamitan. Semalam mereka memang pergi bersama dengan mobil Distha. Motor Prasta ada di rumah Distha. Sebelum ke kantor Kak Mitha, Prasta mengambil motornya dulu di rumah Distha. Setelah itu, ia akan berangkat dari rumah Distha ke kantor Kak Mitha.
Danisha terlihat sedih. Sahabat-sahabatnya akan pergi.
" Jangan sedih dong, Sist. Besok kita ke sini lagi. Senyum dong.... " hibur Distha.
" Iyaa... besok aku free setelah jam 2 siang. Aku ke sini deh ! " timpal Prasta.
" Bener lho ya... Ga ada yang bohong, " ujar Danisha masih dengan wajah sedihnya.
" Siap, Tuan Putri ! " seru Distha dan Prasta kompak.
Danisha terkekeh, lalu ia merentangkan kedua tangannya ingin memeluk Distha.
" Ok, kita pulang dulu ya. Baik-baik ya, Sist. Pangeranmu masih di sini, jadi kamu jangan sedih, " pamit Distha yang diakhiri dengan kekehan kecilnya.
" Pangeran kodok ! " kelakar Prasta.
Seketika mereka tertawa mendengar kelakar Prasta dan lengannya pun menjadi sasaran tinju dari Saka.
Sementara itu di ruang praktek Dokter Aldi.
" Suster, tolong siapkan berkas dan hasil medical check up pasien Danisha ya, " titah Dokter Aldi pada perawat yang sekaligus asistennya.
" Baik, Dok. Dokter akan visit ke kamar atau melakukan pemeriksaan di ruangan ini ? " tanya si perawat sembari menyerahkan berkas-berkas yang diminta Dokter Aldi.
" Di sini, Sus. Terima kasih dan tolong kasih tahu mereka ya, untuk datang ke sini jam 11.00. Hari ini pasien tidak banyak, kan ? "
" Kebetulan tidak banyak untuk hari ini, Dok. Jam 11.00 ok, Dok. "
" Baiklah, Sus. Tolong kasih tahu mereka ya. "
" Baik, Dokter. Saya permisi, " pamit si perawat.
Dokter Aldi pun bersiap untuk memulai prakteknya hari ini.
Perawat asisten Dokter Aldi masuk ke kamar Danisha.
" Permisi, maaf hari ini Dokter Aldi akan melakukan pemeriksaan pada nona Danisha di ruang prakteknya jam 11.00, " perawat itu memberitahukan pesan Dokter Aldi pada Danisha.
" Begitu ya, Sus. Jadi Dokter Aldi tidak visit ke sini ? " tanya Bunda.
" Benar, Bu. Oh ya, ruang praktek Dokter Aldi ada di lantai 2, keluar dari lift langsung belok ke kiri ya, Bu, " ujar si perawat.
" Baik, Suster. Terima kasih informasinya, " ucap Bunda.
" Kalo begitu, saya permisi, " pamit si perawat sambil tersenyum.
Bunda balas tersenyum dan mengangguk.
" Danish, Saka. Bunda mau sholat Dhuha di musholla dulu ya. Bunda tinggal dulu, ya, " pamit Bunda.
" Iya, Bun. Silahkan, " Saka tersenyum dan mengangguk.
Setelah Bunda keluar kamar, Danisha meraih ponselnya. Dilihatnya ada beberapa pesan, sedikit kaget dia melihat ada pesan dari Mas Rendra. Hatinya berdebar, antara ingin dan tidak membuka pesan dari laki-laki yang membuatnya bimbang.
Saka sedang membalas pesan Kak Sandra, sekilas ia melirik Danisha yang terlihat murung dan gelisah. Setelah mengirim pesan balasan pada kakaknya, ia meletakkan ponselnya di atas meja di samping ranjang.
" Kok sedih, ada apa ? " tanya Saka sedikit mencondongkan kepalanya untuk lebih dekat melihat wajah Danisha yang sedikit menunduk.
" Ga ada apa-apa, " jawab Danisha singkat.
Saka menghela napasnya.
" Kamu ga ngasih tau Mas Rendra, kalo kamu sekarang ada di rumah sakit ? " tanya Saka.
Danisha menggeleng, " Ga perlu. Dia sibuk, " jawab Danisha singkat.
" Lalu kenapa wajahmu murung ? " tanya Saka lagi.
Danisha terdiam. Ia mendongakkan kepalanya menatap Saka yang juga sedang menatapnya. Kedua manik mata mereka bertemu. Sejenak mereka saling diam dan saling menatap.
" I love you, " ucap Saka lirih. Sekali lagi, Saka mengucapkan tiga kata itu pada Danisha.
Sungguh, ia tak dapat menahan dirinya untuk tidak mengatakannya ketika menatap Danisha.
Danisha hanya diam, ia mendengar ucapan Saka. Dalam tidurnya, ia kerap mendengar Saka membisikkan kalimat itu padanya. Dan saat ini ia benar-benar menyadari, sesungguhnya hatinya bukan untuk Mas Rendra. Mimpi-mimpinya setiap malam akhir-akhir ini semakin meyakinkan dirinya, ada seseorang yang benar-benar lebih mencintainya. Seseorang yang benar-benar membuatnya merasa dicintai dengan ketulusannya.
Danisha tersenyum manis pada Saka.
" Thank you for loving me. Thank you for everything you've done for me, " ucap Danisha tersenyum dengan lesung pipinya.
Tbc
***Hellooww LOTA Lovers ππ
Danisha udah mulai aq buat sadar nih... yg menanti-nanti Danisha sadar akan cinta Saka, seneng donk π
Ah, happy to see you my LOTA Loversππ
Terus sabar menanti up story LOTA ya..
Jan lupa jejak kalian ditunggu, like n komen. Ada yg mau vote, thank you so much ππ€
Keep stay safe n healthy my LOTA Lovers π€πππ***
__ADS_1