Love On The Air

Love On The Air
Eps 55 Segera Melamarmu


__ADS_3

Saka menggenggam jemari Danisha penuh kelembutan. Menautkan jemari mereka dan berjalan beriringan mesra. Tidak ada suara dan kata di antara mereka. Senyum bahagia terpampang indah pada raut wajah keduanya.


" Kita mau kemana ? " tanya Danisha tanpa melepaskan tautan jemari mereka.


" Ke rumah ya ? Mama minta aku bawa kamu ke rumah. Katanya pengen ngobrol sama kamu, " jawab Saka dengan seulas senyuman di bibirnya.


Danisha menautkan kedua alis cantiknya. Heran dengan apa yang baru saja kekasihnya katakan. Bukannya tiga hari yang lalu ia baru saja menemani Tante Dinda berbelanja yang kemudian dilanjutkan memasak di rumah orang tua kekasihnya itu.


" Tante Dinda.... "


Tiba-tiba Saka menempelkan kedua jarinya ke bibir Danisha, membuat Danisha seketika menghentikan ucapannya.


" Mama, sayang... Mulai sekarang, panggil Mama jangan Tante. Mama protes sama aku, ga mau dipanggil Tante sama kamu, " tutur Saka, wajahnya serius ketika mengucapkan kalimat itu.


" Udah kebiasaan panggil Tante. Kenapa sih, kok ga mau dipanggil Tante ? " tanya Danisha polos.


Mereka sudah sampai di pelataran parkir tempat mobil Saka terparkir.


Saka tersenyum, membukakan pintu mobil untuk gadis pujaan hatinya.


Danisha tersenyum tipis sembari berkata, " Kok ga dijawab ? "


" Masuk dulu Tuan Putriku, aku jawab nanti kalau udah di dalam, " ucap Saka sembari mencubit gemas hidung mancung kekasihnya.


Danisha meringis dan mengaduh lirih. Dengan raut cemberut ia pun masuk ke dalam mobil. Setelah Danisha duduk di dalam mobilnya, ia pun menutup pintu mobilnya dan berjalan memutar menuju sisi mobil lainnya tempatnya mengemudi.


Baru saja Saka duduk di kursi kemudi dan menutup pintu mobilnya, Danisha sudah mencecarnya, meminta jawaban dari pertanyaan yang belum dijawab oleh Saka.


" Jadi, kenapa Tante Dinda ga mau kupanggil Tante ? " tanya Danisha mengulangi pertanyaannya.


Saka menghela napas panjang dan tersenyum, tubuhnya ia miringkan menghadap Danisha yang memasang tampang penasaran karena menunggu jawabannya.


" Mama maunya begitu, katanya masa iya menantu panggil Tante, " jawab Saka tersenyum simpul.


Danisha terbengong mendengar jawaban kekasihnya. Ia tidak salah dengar, kan ?


" Maksudnya ? " tanya Danisha berusaha meyakinkan apa yang baru saja didengarnya.


Saka menyalakan mesin mobilnya.


" Udah, nanti kamu tanya sama Mama sendiri aja, " ucap Saka, tangan kirinya mengusap punggung tangan kekasihnya.


Setelah memasang seat belt nya dan seat belt Danisha, Saka melajukan mobilnya keluar dari area kampus.


*******


Sementara itu, sepeninggal Saka dan Danisha, Dokter Ardhy dan Distha masih duduk di kantin kampus. Suasana kantin mulai sedikit ramai. Para mahasiswa yang mengikuti jam kuliah pagi sudah mulai keluar kelas.


Dokter Ardhy mengusap tengkuknya yang tidak gatal, ia merasa tidak nyaman dengan suasana kantin.


" Kamu beneran ga ada kelas hari ini ? " tanya Dokter Ardhy pada Distha yang sibuk merapikan buku-bukunya.


Distha menoleh menatap Dokter Ardhy dengan seulas senyuman di bibirnya.


" Ga ada. Kenapa ? " tanya balik Distha.


Dokter Ardhy tertegun menatap Distha. Senyuman gadis di hadapannya sungguh membuatnya terpesona. Jantungnya berdetak lebih kencang. Entah mengapa saat ini ia yakin jika ia benar-benar telah jatuh cinta pada gadis di hadapannya.


" Dokter ? " Distha menggoyangkan telapak tangannya di hadapan wajah Dokter Ardhy.


Dokter Ardhy terhenyak, tersadar dari lamunannya.


" Eh, sorry ! Kita pergi dari sini, gimana ? Udah mulai ramai, ga enak juga. Nanti keliatan aku bukan mahasiswa di sini, " ujar Dokter Ardhy setengah berbisik.


Distha terkekeh mendengar sikap dan perkataan Dokter Ardhy.


" Baru sadar ya, kalau bukan mahasiswa di sini, " kekeh Distha.


Dokter Ardhy pun ikut terkekeh. Ia pun berdiri dari duduknya lalu mengambil setumpuk buku milik Distha untuk dibawanya. Kemudian menggamit tangan gadis itu, mengajaknya untuk pergi dari tempat yang sudah terlihat ramai dengan banyaknya mahasiswa yang ingin mengisi perut.


" Ayo ! "

__ADS_1


" Uummm.... " Distha sedikit terkejut dengan pergerakan Dokter Ardhy yang tiba-tiba menggamit tangannya.


Dokter Ardhy menatapnya dengan tatapan memohon, " Please.... "


Distha pun tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti ajakan Dokter tampan itu. Ia menghela napasnya singkat dan tersenyum menatap Dokter Ardhy.


" Okay ! " Distha beranjak dari duduknya dan mengikuti Dokter Ardhy yang masih menggenggam tangannya dan tangan sebelahnya mendekap setumpuk buku milik Distha meninggalkan kantin kampus.


Selama berjalan menuju tempat parkir, banyak pasang mata menatap keduanya, terutama pada Dokter Ardhy.


Siapa coba yang tidak terpesona dengan kehadiran lelaki tampan yang terlihat asing di kampus Distha. Mereka pasti tidak menyangka jika lelaki tampan yang berjalan menggandeng tangannya adalah seorang dokter. Dengan penampilan yang casual, celana jeans hitam dan kaos dengan warna senada yang dibalut dengan jaket jeans soft blue serta topi hitam di kepalanya, sangatlah kontras dengan profesinya yang seorang dokter dengan penampilan jas snelli dan stetoskop setiap kali bertugas.


Distha menatap tangan Dokter Ardhy yang menggandeng tangannya. Ada rasa nyaman dan hangat menjalar di hatinya. Wow ! Kenapa dengan dirinya ? Kenapa dengan hatinya.


Beberapa detik kemudian, Distha tersadar dari lamunannya bertepatan dengan sampainya mereka di tempat parkir.


" Uummm... Sorry, mobilku di sebelah sana ! " ujar Distha, telunjuknya mengarah pada tempat dimana mobilnya diparkir.


" Kita pakai mobil aku aja, ya. Ga apa, kan ? Mobil kamu aman pasti, kan kamu mahasiswa di sini, " cetus Dokter Ardhy.


Distha nampak berpikir sesaat, kemudian ia menganggukkan kepalanya. Eh ?! Kenapa ia jadi penurut dengan laki-laki yang belum lama dikenalnya ? Kenapa dengan dirinya ?


Dokter Ardhy tersenyum senang. Dokter Ardhy menuntun Distha ke arah mobilnya terparkir. Masih menggandeng tangan Distha dan membawa beberapa buku milik gadis itu dalam dekapannya. Sungguh ia tak menyangka bisa begitu perhatian pada gadis sahabat saudara sepupunya.


Sesampainya di tempat mobil Dokter Ardhy diparkir, tanpa basa basi lagi, mereka pun masuk ke mobil. Dokter Ardhy pun melajukan mobilnya meninggalkan kampus setelah keduanya memasang seat belt.


*******


" Kamu udah jalan belum, Ka ? "


" Mama ga sabar banget, sih ! Baru nyampe juga, lho ! " ujar Saka sembari menghela napasnya lalu memutuskan sambungan telepon dengan Sang Mama.


" Nih, ga sabar banget pengen ketemu sama menantunya, " ucapnya kemudian yang langsung mendapat tatapan bingung dari gadis yang duduk di sampingnya.


" Siapa ? " tanya Danisha dengan wajah polosnya.


Astaga ! Kenapa gadisnya terlihat sangat polos dengan raut wajah dan pertanyaan yang ia lontarkan ? ucap Saka dalam hati, ia gemas menatap wajah polos kekasihnya.


Danisha pun mengangguk dengan senyum dan lesung pipinya. Ia pun membuka pintu mobil untuk keluar.


Baru saja ia menutup pintu mobil kembali, Bu Dinda, sudah menyambut kedatangan mereka berdua.


" Akhirnya kalian datang. Mama udah kangen sama anak cantik Mama. Ayo, masuk, " sambut Bu Dinda yang diikuti senyuman bahagia di wajahnya. Danisha pun tersenyum ramah pada Bu Dinda dan mencium punggung tangan wanita yang sangat dihormatinya.


" Apa kabar, Tan ? " tanya Danisha.


" Mama sehat, Sayang. Saka ga bilang ya sama kamu ? " tanya Bu Dinda mengerutkan dahinya dan menatap Saka.


" Udah Saka bilang lah Ma... Ya kan, Bee ? " Saka mengedipkan sebelah matanya pada Danisha.


Seketika Danisha teringat yang dikatakan Saka sebelumnya.


" Ah, iya kok, Tan eh Ma. Maaf, Danish lupa, " ucap Danisha tersenyum malu.


" Gitu, dong ! " Bu Dinda tersenyum senang sembari memeluk bahu Danisha.


Mereka pun berjalan masuk ke dalam rumah besar Bu Dinda.


Di ruang keluarga, Danisha duduk di sofa panjang di samping Bu Dinda. Sementara Saka duduk di single sofa yang berada di samping mereka duduk.


" Mama mau bicara apa, sih ? Keknya serius gitu, " tanya Saka yang juga tidak tahu menahu apa yang ingin Mamanya bicarakan.


" Anak cantik Mama mau minum apa ? " tanya Bu Dinda pada Danisha penuh sayang.


Danisha tersenyum malu mendengar pertanyaan Bu Dinda yang terdengar berlebihan. Sementara Saka memutar kedua bola matanya karena Sang Mama yang mulai terlihat lebay.


" Ma, biasa aja kali panggil Danisha nya. Ga usah lebay gitu. Kira Danisha anak balita aja, deh ! " cetus Saka.


" Ish ! Suka-suka Mama dong, mau panggil menantu Mama. Ya kan, Sayang ? " sahut Bu Dinda tak mau kalah.


Danisha terkekeh mendengar dan melihat ibu dan anak itu adu mulut. Ia sudah terbiasa dengan situasi dan suasana keluarga Saka yang seperti itu sejak masih duduk di bangku SMA. Keluarga yang sangat dekat satu sama lain. Hangat dan penuh canda. Tak jauh beda dengan keluarganya. Meskipun dari keluarga yang terpandang, mereka tidak pernah tinggi hati dan membedakan status sosial mereka dengan yang lain.

__ADS_1


" Air putih ini aja, Ma, " jawab Danisha lembut sambil meraih segelas air mineral kemasan yang tersedia di meja.


" Biar dibuatin Bibi teh hangat, ya ? " tawar Bu Dinda.


Dengan cepat Danisha menggelengkan kepalanya.


" Kita tadi udah minum teh hangat di kantin kampus, Ma. Nanti kalau Danisha ingin, pasti dia bakalan ngomong. Ya kan, Bee ? " tutur Saka.


Danisha mengangguk membenarkan ucapan kekasihnya.


Bu Dinda pun akhirnya mengalah. Lalu tangannya meraih kedua tangan Danisha. Danisha pun tersenyum menerima perlakuan Bu Dinda yang sangat lembut seperti Bundanya.


" Besok malam, Mama sama Papa mau main ke rumah kamu. Tadi Mama juga udah telpon Bunda kamu. Danish ga ada kesibukan, kan ? " kata Bu Dinda serius, masih menggenggam kedua tangan gadis yang sangat dicintai putranya.


Saka sedikit terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya. Tak terkecuali dengan Danisha. Keduanya saling berpandangan bingung. Saka sendiri tidak menyangka, orang tuanya akan secepat ini bertindak. Padahal baru tadi pagi Papanya mengatakan sambil lalu mengenai melamar Danisha. Ia juga tidak meminta kedua orang tuanya untuk melamar Danisha secepat ini. Namun sudah kepalang tanggung, sesungguhnya ia pun senang dengan tindakan yang dilakukan kedua orang tuanya. Ia pun ingin segera mewujudkan keinginannya, mengikat gadis yang teramat dicintainya dalam suatu ikatan suci yang direstui dan diridloi.


" Bee, besok malam free, kan ? " tanya Saka lembut.


" Uummm... sebenarnya, jam siaran Danish besok jam 4 sore. Tapi kalau memang besok malam Mama dan Papa mau ke rumah, Danish bisa minta tukar sama yang lain, " jawab Danisha tenang sembari tersenyum sumringah.


Mendengar jawaban Danisha dan melihat senyum sumringah gadis berlesung pipi itu, sontak raut wajah Saka berbinar bahagia. Demikian pula dengan Bu Dinda. Ia dengan spontan memeluk gadis di sampingnya dan mengecup kening calon menantunya penuh kebahagiaan.


" Terima kasih, Sayang. Udah mau meluangkan waktu untuk Mama dan Papa, " ucap Bu Dinda penuh sayang.


" Danish yang harusnya berterima kasih karena Mama dan Papa berkenan berkunjung ke rumah Danish, " ujar Danisha dengan mata berbinar.


Ada kebahagiaan tersirat di kedua mata bulatnya. Membuat hati Saka semakin berbahagia dan jatuh cinta tiada henti dengan gadis berlesung pipi itu.


Bu Dinda mengusap lembut pipi Danisha sembari tersenyum bahagia. Sejak awal bertemu gadis itu, Bu Dinda selalu menyukainya. Gadis yang sederhana, ramah, cerdas dan sopan. Terlebih lagi, Danisha mempunyai dasar pendidikan agama yang bagus dari kedua orang tuanya. Ia sangat tahu betul, jika putra satu-satunya sangat mencintai gadis yang duduk di sampingnya sejak masih di bangku SMA. Hanya saja, Saka masih belum berani mengungkapkan isi hatinya. Putranya itu memang selalu bersikap sedikit tertutup jika menyangkut soal hati dan perasaan.


Saka menatap kedua wanita yang sangat berarti dalam hidupnya. Baginya, Mama adalah super woman. Wanita terhebat dalam hidupnya. Wanita yang senantiasa menjadi penyemangat dalam hidupnya, yang selalu ada untuknya dalam kondisi apapun. Wanita yang tak pernah berhenti mendoakannya dengan beribu harapan dan kebaikan.


Dan wanita satunya lagi adalah kebahagiaannya. Danisha Almanita, gadis yang telah membuatnya jatuh cinta sejatuh-jatuhnya. Yang telah memenuhi seluruh ruang hatinya. Dia juga penyemangat hidupnya. Pemberi napas dan kekuatan dalam hidupnya. Tempat cintanya berlabuh untuk selamanya. Tak peduli seberapa besar aral melintang, ia tak akan pernah berpaling darinya. Tanpa alasan apapun, ia sangat mencintai gadis itu. Hanya ketulusan dan kesetiaannya yang menjadi alasan dan benteng kekuatan cintanya untuk gadis itu. Forever and ever.


*******


Hari ini, Danisha off siaran. Sesuai yang ia bilang kemarin, ia bertukar jam dan hari siaran dengan Bang Hendra. Lelaki yang sudah Danisha anggap sebagai kakak itu pun tidak keberatan dengan pertukaran jam kerja siaran mereka. Tentu saja, Danisha sangat senang dan berterima kasih padanya.


Sejak siang, Danisha dan Kirana membantu Bunda berkutat di dapur. Mereka mempersiapkan hidangan untuk keluarga Saka yang akan berkunjung ke rumah mereka.


Bunda tahu, kedatangan mereka bukan sekedar untuk berkunjung, tetapi lebih tepatnya akan melamar putri sulungnya. Bunda bahagia, dengan Saka melamar Danisha, menunjukkan jika Saka adalah laki-laki yang bertanggung jawab dan serius menjalin hubungan dengan putri sulungnya. Tentu saja niat baik itu sangat membahagiakan Bunda dan Ayah Danisha. Bunda juga yakin jika putrinya pun akan bahagia dengan niat baik kekasihnya.


Sebelum jam 5 sore, semua masakan dan hidangan lainnya telah siap. Ayah pun sudah pulang dari kantor. Mereka pun bersiap diri untuk menyambut kedatangan keluarga Saka yang rencananya akan datang pada pukul 7 malam.


Usai sholat maghrib, Danisha mulai mematut dirinya di depan cermin. Make up tipis yang natural dan penampilan yang sederhana. Memakai hijab pasmina berwarna coklat susu dan tunik panjang hingga mata kaki berwarna putih dengan aksen rompi transparan menjuntai serta dipadupadankan dengan celana pipa berwarna peach.


" Cantiknya putri Bunda.... " Bunda berdiri di ujung pintu kamar Danisha yang sedikit terbuka.


Danisha tersenyum sumringah. Terlihat ia sangat bahagia.


Bunda berjalan masuk menghampiri putri sulungnya. Danisha menyambut Bu Dinda dengan memeluk sayang wanita yang telah melahirkan dan merawatnya.


" Maaf, Bunda. Danisha baru selesai bersiap. Semua udah disiapin di meja makan, Bun ? " tanya Danisha sembari melepaskan pelukannya.


" Udah, Sayang. Ayah dan adikmu juga udah siap tuh, di ruang tengah. Ayo, ke sana, " ajak Bunda sembari mencubit kecil hidung mancung putrinya.


Danisha meringis kecil, dengan anggukan kepala yang diikuti senyum bahagianya, ia memeluk lengan Sang Bunda dan berjalan beriringan keluar kamar. Mereka akan menunggu kedatangan Saka dan keluarganya di ruang tengah.


Tbc


**Hellooww LOTA Lovers πŸ’žπŸ’ž


Eheeemmm... yang mau dilamar senyum2 terus yaa ☺️


Semuanya terlihat bahagia, berarti setelah ini end dong yaa πŸ€”


Jangan lupa mampir dan baca kisah romansa cinta nya Prasta dan Renata di LOVE AND DREAMS ya LOTA Lovers πŸ€—


Like, Rated n Komen always ditunggu ya... πŸ€—πŸ˜˜


Banyak terima kasih, cinta n sayang buat LOTA Lovers πŸ€—πŸ˜˜πŸ’žπŸ’ž**

__ADS_1


__ADS_2