Love On The Air

Love On The Air
Eps 71 Memulai Kehidupan Baru


__ADS_3

Danisha mengerjapkan kedua matanya. Ia merasakan kepalanya berdenyut sakit. Ia terus mengerjapkan matanya, berusaha mengumpulkan seluruh kesadarannya.


Sembari memegang kepalanya ia membuka matanya. Sedikit terkejut dengan pemandangan di depan matanya yang baru saja terbuka. Mencoba mengingat kembali apa yang telah terjadi. Lalu ia tersenyum setelah berhasil mengingat apa yang terjadi.


Nyeri di kepalanya ia abaikan saat mendapati dirinya dalam pelukan Saka Abimanyu, kekasih halal dan imamnya. Nyaman dan hangat.


Cup.


Tanpa disadarinya, kecupan lembut mendarat di keningnya. Cukup lama.


" Assalamualaikum, istriku. "


Suara serak Saka mengagetkannya. Lelaki itu semakin mengeratkan pelukannya.


" Waalaikumsalam, suamiku, " jawab Danisha lirih.


" Terima kasih telah memberikan hakku. I love you more, " ucap Saka masih dengan suara serak khas bangun tidur, lalu kembali mengecup kening Danisha dengan penuh cinta.


" Sama-sama, Sayang. Udah menjadi kewajibanku, " balas Danisha, tangannya mengusap rahang kokoh Saka dengan lembut sembari menatap wajah teduh suaminya yang mengukir sebuah senyuman bahagia di bibirnya.


Tiba-tiba Danisha meringis, nyeri di kepalanya semakin dirasanya. Ia pun menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Saka. Tidak ingin Saka melihatnya kesakitan. Ia menggigit bibirnya menahan sakit. Namun, tanpa disadarinya, tangannya meremas bagian pinggang kaos tanpa lengan Saka.


Saka menyadari remasan tangan Danisha di kaosnya. Ia raih tangan Danisha dan di genggamnya, kemudian mengecupnya lembut. Sementara Danisha memejamkan kedua matanya dan menggigit bibirnya, berusaha mengusir rasa sakit di kepalanya.


Tak lama hembusan napas Saka terdengar teratur. Danisha sedikit lega. Namun, ia bingung hendak beranjak dari ranjang untuk meminum obatnya. Saka memeluknya cukup erat hingga ia sulit untul bergerak. Ia takut gerakannya akan membangunkan suaminya. Maka yang bisa dilakukannya saat ini adalah diam. Menunggu saat yang tepat untuk beranjak.


Beberapa menit kemudian, Danisha menjauhkan tangan Saka yang memeluk pinggangnya dengan hati-hati. Lalu ia pun bergerak perlahan turun dari ranjang untuk mengambil tasnya sebelum menuju ke kamar mandi. Sekali lagi dilihatnya Saka. Suaminya itu nampak tertidur pulas. Danisha tersenyum, tetapi masih dengan menahan rasa sakit di kepalanya. Sekali lagi Danisha meringis, menggigit bibirnya.


Lalu dengan sangat perlahan dan hati-hati, ia bangkit dari duduknya. Tiba-tiba pandangannya berputar. Ia mencari sesuatu untuk dijadikannya pegangan. Bertumpu pada tepian ranjang, ia beringsut dan berjalan perlahan serta hati-hati menuju meja rias dimana tasnya berada. Diambilnya dompet pouch berisi obat-obatan dari dalam tasnya dan sebotol air mineral di meja rias, lalu ia berjalan perlahan menuju kamar mandi.


Ia bernapas lega saat tiba di depan pintu kamar mandi. Dengan sangat hati-hati, ia membuka pintu kamar mandi. Sebelum menutupnya kembali, ia melihat Saka yang masih tertidur dengan posisi yang sama. Lalu ditutupnya pintu kamar mandi dengan sangat hati-hati, agar tidak membangunkan suaminya.


Di depan wastafel, Danisha menghela napasnya dalam. Setelah meminum obatnya, ia duduk di kloset untuk sedikit menenangkan dirinya, sebelum kemudian membersihkan tubuhnya dan mengambil air wudhu untuk menunaikan kewajiban sholat fajar sebelum subuh datang.


*******


Saka meraba sisi ranjang sebelahnya berbaring. Merasa tak menemukan seseorang yang dicarinya, ia pun membuka kedua matanya. Mengucek matanya perlahan dan diedarkannya pandangan ke seluruh ruangan.


" Astaghfirullah... Sayang ! Kamu kenapa tidur di situ... ! " seru Saka bergegas turun dari ranjang menghampiri Danisha yang duduk di atas sajadah bersandar pada dinding kamar dengan bantal sofa sebagai tumpuan punggungnya. Matanya terpejam dengan tubuh masih berbalut mukena dan tasbih di tangannya.


" Sayang, Bee ! " panggil Saka, mengusap lembut pipi Danisha dan sebelah tangannya lagi memegang tangan istrinya.


Lalu diciumnya kening istrinya lembut, membuat Danisha seketika mengerjapkan matanya. Ia merasakan sentuhan hangat di keningnya. Masih sedikit terkejut dengan perlakuan Saka.


" Hey ! Kok tidur di sini, Sayang ! Ga bangunin aku, hum ? " ujar Saka lembut, ikut duduk di sajadah yang beralaskan karpet Turki bergaya vintage berwarna charcoal.


Danisha tersenyum menatap Saka yang duduk bersila di hadapannya sembari membetulkan letak duduknya.


" Ga tega mau bangunin. Suamiku terlihat amat lelah, " ungkap Danisha.


" Banget, Sayang ! Kan abis kerja keras semalam, " sahut Saka mengedipkan sebelah matanya.


" Ish ! Genit banget, tau ! " sungut Danisha, mencebikkan bibir tipisnya.


" Genitnya cuma sama kamu, Sayang.... " tukas Saka, tangannya menyentil hidung mancung istrinya.


Pada saat bersamaan, terdengar adzan subuh berkumandang.


" Udah adzan. Buruan mandi, gih ! Aku ingin sholat bareng imamku, " ujar Danisha kemudian.


Bibir Saka menyunggingkan senyuman sembari menatap Danisha, lalu kepalanya mengangguk. Sedetik kemudian, ia bangkit dari duduknya yang diikuti oleh Danisha.


" Mau pakai air hangat ? " tanya Danisha sembari melepas mukenanya.


Saka menggeleng cepat sembari berjalan ke kamar mandi.


Setelah melepas mukena dan merapikannya, Danisha menyiapkan pakaian ganti Saka. Nyeri di kepalanya sudah berangsur hilang, tidak sesakit tadi.


Berjalan ke pintu balkon, Danisha menggeser pintu yang terbuat dari kaca setelah sebelumnya membuka kunci pintu tersebut. Udara pagi menerpanya dan dihirupnya dalam. Sejuk dan segar. Berdiri di tepi pagar balkon, ia menyaksikan sisa-sisa pesta resepsinya semalam. Ia tersenyum bahagia saat mengingat kejadian semalam. Dekorasi pesta resepsi semalam masih belum sepenuhnya dibongkar. Dekorasi pelaminan masih utuh, hanya kursi pengantin dan kursi kedua orang tua yang sudah tidak ada di tempatnya.


Tiba-tiba sepasang tangan kokoh telah melingkar di pinggangnya. Membuatnya sedikit kaget, hingga spontan memukul tangan yang memeluknya dengan mesra.


" Mas, ih ! Bikin kaget mulu, sih ! " gerutu Danisha.


Saka terkekeh pelan, memeluk Danisha dan meletakkan dagunya di bahu sang istri.


" Lagian, subuh-subuh melamun ! Mikirin apa, sih ? " sahut Saka sembari mencium lembut bahu Danisha.


" Mana ada melamun. Aku cuma menghirup udara segar saat subuh, " terang Danisha, ia letakkan kedua tangannya di atas kedua tangan Saka yang memeluknya.


" Kamu bahagia, Sayang ? " tanya Saka kemudian.

__ADS_1


" Sangat bahagia dan teramat sangat bahagia, " jawab Danisha. Ia merebahkan kepalanya ke dada bidang Saka. Sesaat merasakan hangatnya pelukan sang suami dari belakang tubuhnya.


" Yuk, ah ! Subuhan dulu. Mas udah wudhu ? " ajak Danisha sembari mengurai tangan Saka yang memeluknya, lalu berbalik badan menghadap Saka.


" Udah, tadi. Tapi mau wudhu lagi, " sahut Saka tersenyum lebar.


Danisha menghela napasnya panjang sembari tersenyum miring.


" Ya, udah. Ayo, masuk. Keburu habis subuhnya. " Danisha menggandeng tangan Saka, menggiringnya masuk ke dalam kamar untuk segera menjalankan sholat subuh bersama.


********


Usai sholat subuh, Danisha dan Saka masih berada di dalam kamar. Bergelung di bawah selimut di ranjangnya. Saka membiarkan lengan kokohnya sebagai bantal untuk kepala Danisha sambil memeluk bahu istrinya.


Tadinya, Danisha ingin keluar kamar dan akan menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga Saka. Namun, Saka melarang dan menahannya untuk tidak keluar kamar. Ia ingin menikmati waktu berdua bersama Danisha.


" Semalam Audy cantik, ya, " kata Danisha tiba-tiba, membuat Saka mengerutkan dahinya.


" Udah cantik, pintar dan berbakat. Aku dengar.... "


" Ssshhh... ! " Saka menempelkan jari telunjuknya ke bibir Danisha sebelum istrinya itu melanjutkan bicaranya.


" Kenapa ? " tanya Danisha.


" Please, aku ga suka kamu ngomongin orang lain apalagi perempuan lain saat kita sedang berdua, " jelas Saka, tersenyum lembut dengan tatapan teduhnya.


" Masa, sih, Audy orang lain. Bukannya kamu berteman akrab sama dia, " sahut Danisha, wajahnya sedikit merengut.


" Hanya teman biasa, Bee. Cemburu ? " goda Saka.


" Ish ! Ga, kok ! " sanggah Danisha.


Saka tersenyum lebar, lalu ia sedikit bangkit dari tidurnya. Menatap lembut perempuan halalnya, diciumnya bibir tipis mengerucut di hadapannya sekilas.


" Kalau bibirmu terus begitu, aku bakalan terus menciumnya, lho ! Beneran ini, Bee ! " canda Saka dengan senyum jahilnya.


Danisha mendorong dada Saka perlahan, membuat jarak di antara mereka. Lalu ia bangkit dari baringnya. Membetulkan ikatan rambutnya dan mengambil jilbab instan, lalu dipakaikan di kepalanya.


" Aku mau ke dapur, bantuin Mama dan Bibi, " ucapnya kemudian, beranjak dari ranjang.


" Sayaaaang.... " Secepat kilat Saka melompat dari ranjang dan menghadang langkah Danisha.


" Mas, ih ! Bikin kaget aja, deh ! " pekik Danisha sembari memegang dadanya.


Saka tersenyum lebar. Lalu meraih kedua tangan Danisha.


" Marah ? " tanya Saka, menatap lembut wajah sendu istrinya.


Danisha menggelengkan kepalanya. Seulas senyuman manis terukir di bibirnya.


" Ga, Sayang... Aku mau ke dapur, udah siang. Mas mau minum apa ? " tawar Danisha.


" Bibi pasti udah siapin, Sayang. Udah deh, kita di kamar aja. Aku masih pengen berduaan sama kamu, " ucap Saka manja, lalu tangannya bergerak meraih tubuh Danisha ke dalam dekapannya.


" Eh ? " Danisha mendorong tubuh Saka pelan, sedikit membuat jarak dengan suaminya.


Saka mencondongkan kepalanya mendekat ke wajah sang istri. Danisha terkesiap dan memundurkan kepalanya ke belakang. Kedua tangannya menahan dada Saka supaya tidak semakin mendekat.


" Cium dulu, dong ! " rayu Saka.


" Manja ! " secepat kilat Danisha mencium pipi Saka.


" Kok ? " protes Saka.


" Kenapa lagi ? " gerutu Danisha


Tok... Tok... Tok... !


Spontan keduanya menoleh ke arah pintu kamar mereka.


" Saka, Danish ! " Suara Bu Dinda dari balik pintu kamar.


" Ya, Ma. Sebentar... ! " sahut Saka, lalu berjalan ke arah pintu kamar yang diikuti oleh Danisha.


Saat pintu telah dibuka Saka, senyuman sumringah dari wajah wanita paruh baya yang melahirkannya menyapa dengan hangat.


" Maaf kalau Mama mengganggu. Kalian mau sarapan di kamar atau sarapan bareng Mama dan Papa di bawah ? " tanya Bu Dinda sembari melihat Saka kemudian beralih ke Danisha.


" Di kamar aja. "


" Di bawah, Ma. "

__ADS_1


Sahut Saka dan Danisha bersamaan. Seketika Saka menatap Danisha dengan pandangan mata melebar, lalu perlahan tatapannya berubah sendu dan mengiba.


Bu Dinda menautkan kedua alisnya mendengar jawaban putra dan menantunya. Sedetik kemudian terkikik geli.


" Dasar anak bandel ! " olok Bu Dinda sambil menoyor kening putranya.


Danisha spontan tersenyum geli dengan kejadian di depan matanya.


" Mama, sakit ! Ish, suka banget sih, nyakitin anaknya ! " Saka mengaduh sambil memegang keningnya.


" Bener yang dibilang Ardhy. Otak kamu sekarang isinya aneh-aneh dan mulai ngeres ! " lontar Bu Dinda.


" Ma, pengantin baru, gitu ! Dimaklumi, dong ! Katanya pengen cepat nambah cucu, " protes Saka.


Seketika Danisha mencubit pinggang Saka sembari berdecak.


" Aduh ! Kamu kok ikut-ikutan Mama, sih ! Ga Mama, ga istri, sama-sama suka menganiaya ! " omel Saka, wajahnya meringis merasakan cubitan Danisha.


" Wek ! " Danisha menjulurkan lidahnya sambil berlalu keluar kamar.


" Ayo, Ma ! " Danisha menggamit tangan Bu Dinda mengajaknya pergi meninggalkan Saka.


Bu Dinda tersenyum mengejek ke arah Saka. Lalu merangkul bahu Danisha meninggalkan putranya yang terbengong melihat istri dan Mamanya pergi.


" Untung sayang, nih ! " dengus Saka kemudian menyusul kedua wanita tercintanya.


********


Rendra POV


❀️ My Danish ❀️


" Maafkan aku. Ada hati yang harus kujaga saat ini. Terima kasih masih mengingatku. Tetapi aku akan sangat berterima kasih bila kita bisa saling melupakan dan menjaga hati kita dan hati pasangan kita masing-masing. Maaf dan selamat berbahagia πŸ™‚πŸ™. "


Balasan pesanmu itu seperti sebilah pisau yang menggores dadaku. Perih dan sakit. Membuatku sulit untuk bernapas. Lalu aku memutuskan untuk hadir di acara pernikahanmu walaupun tanpa undangan.


Namun, saat tiba di depan rumahmu dengan dekorasi khas pernikahan pagi itu, aku memilih hanya diam di dalam mobil. Nyaliku tiba-tiba menciut, hilang sudah keberanianku bertemu denganmu dan kedua orang tuamu. Ternyata aku memang seorang pengecut.


Dari tempat yang cukup tersembunyi, aku bisa melihat prosesi akad nikahmu dan Saka. Menyaksikanmu sah menjadi milik lelaki lain hari itu, sungguh menyakitkan buatku. Aku tak pernah berhenti mencintaimu hingga detik ini. Maafkan aku yang belum bisa benar-benar melepasmu dari hatiku. Pun dengan senyum indahmu. Tak pernah lekang dari hati dan pikiranku.


Semua yang telah terjadi karena keegoisanku. Terlebih karena aku pengecut, tak berani mengambil keputusan untuk hubungan kita. Aku telah mengabaikanmu, menyakitimu. Aku paham mengapa kamu lebih memilih dia yang selalu ada untukmu, melindungimu.


Kamu terlihat sangat bahagia, juga sangat cantik dengan kebaya pengantinmu. Sayangnya, kamu bukan pengantinku. Tidak akan pernah menjadi pengantinku.


Hendra menghubungiku, mengajakku pergi bersama ke acara resepsi pernikahanmu malam itu di rumah Saka. Tapi aku menolak. Aku tak sanggup menyaksikanmu bersanding dengan lelaki lain. Kembali aku egois. Egois karena aku menikahi perempuan lain dan kamu tidak mempermasalahkan itu. Sementara, aku sangat tidak ingin kamu menikah dengan lelaki lain. See, betapa egoisnya aku.


Kata demi kata pesanmu masih terekam jelas di otakku. Kamu ingin kita saling melupakan dan menjaga hati, terutama hati pasangan kita. Sayangnya, hatiku hanya terisi olehmu. Hatiku tidak bisa untuk yang lain. Walaupun itu perempuan yang baru saja aku nikahi. Menyentuhnya pun aku enggan.


Aku benar-benar sedang tidak tahu arah, Danisha. Aku limbung di tengah keegoisanku. Aku sekarat di tengah kebahagiaan yang sedang kamu rasakan. Aku tidak tahu harus kemana arah hidupku. Semangatku adalah kamu, tujuan hidupku adalah dirimu. Lalu apa yang bisa aku lakukan sekarang jika kamu tidak bersamaku.


Kucoba lakukan seperti yang Hendra sarankan. Berdamai dengan keadaan. Merelakan semuanya untuk memulai kehidupan baru dengan seseorang yang ada di sampingku saat ini. Semoga aku bisa, Danisha. Selamat berbahagia, Sayang.


POV End


Tbc


**Hellooww LOTA Lovers πŸ’žπŸ’ž


Maaf baru up πŸ™πŸ™ Emak-emak ini lagi sibuk dg RL, 3 bocah dg segala kerempongannya 🀭 juga sibuk dg kerjaan RL lainnya menyangkut masa depan kami tentunya. Eh, koq curhat πŸ€­πŸ™


Maaf juga kalo eps kali ini membosankan πŸ™πŸ™


Oh ya, LOTA Lovers... sambil nunggu LOTA up, mampir yaa di karya my best friends di bawah ini, dijamin seru n tdk mengecewakan.


Jangan lupa untuk slalu tinggalkan jejak kalian yaa.. RATE 🌟 5, LIKE N KOMEN juga DUKUNGANNYA ☺️


Banyak terima kasih, cinta dan sayang untuk LOTA Lovers πŸ€—πŸ˜˜πŸ’žπŸ’ž**








__ADS_1


__ADS_2