
Andaikata orang yang jatuh cinta itu boleh memilih, ia pasti akan memilih untuk selamanya tak jatuh cinta ( Ibnu Qayyim Al-Jauziyah )
Danisha merasa berada pada posisi yang sulit. Ia masih ingin memastikan hatinya kembali. Kepada siapa ia akan melabuhkan hatinya.
" Danish.. maaf, aku akan menunggu.. Jika kamu masih belum siap untuk menjawabnya sekarang. It's ok.. yang terpenting kamu sehat dan kamu baik-baik saja. "
Suara Mas Rendra mengagetkan lamunannya.
" Ah iya, maaf Mas. Uummm... Bisakah kita berjalan seperti apa adanya dulu ? Seperti biasanya dulu. Bisakah kita berdua sama-sama meminta petunjuk Allah mengenai takdir kita ? " Danisha berbicara menatap layar ponselnya serius dimana di sana Mas Rendra pun mendengarnya dan menatapnya dengan raut wajah serius dan berharap.
Mas Rendra tersenyum, lagi dan lagi, pesonanya membuat hati Danisha bergetar. Danisha berusaha menata hatinya.
" Tentu, Danish. Hampir setiap hari aku bangun di sepertiga malam ku. Kupanjatkan bait demi bait doa, kusebut selalu namamu dalam setiap doaku. Dan kamu tau, setiap malam pula, kamu yang selalu hadir dalam mimpiku. Salahkah bila aku berharap ? "
Hati Danisha bergetar, bibir nya kelu dan tiba-tiba matanya berkaca-kaca. Sesekali pandangan nya tertunduk, serasa tak sanggup menatap wajah Mas Rendra di layar ponselnya.
Tiba-tiba tubuhnya bergetar, ia tak kuasa menahan air matanya yang jatuh tanpa dikomando. Mas Rendra melihat itu, Ia bingung dan panik.
" Danish, kamu kenapa ? Maafkan aku bila perkataanku melukaimu. A..aku tak bermaksud untuk..."
" Tidak, Mas. Aku ga papa, Mas Rendra ga perlu minta maaf. " Danisha berkata sambil terisak, lalu ia pun melanjutkan perkataannya.
" Aku yang minta maaf. A..aku... " Danisha tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Ia menghapus air mata yang sudah berderai membasahi pipinya dengan jemari tangannya.
Mas Rendra yang menyaksikan Danisha menangis semakin merasa bersalah dan begitu ingin memeluk gadis yang selalu hadir di setiap mimpinya itu.
" Danish, tolong jangan menangis. Aku tak sanggup melihat kamu seperti ini.. "
Danisha tersenyum, ia pun berkata
" Terima kasih, Mas. Terima kasih karena menyebut namaku dalam setiap doamu. Akupun tak pernah lupa menyebut namamu dalam setiap doaku.. Aku minta tolong biarkan saat ini berjalan seperti biasa, apa adanya dan sampai dimana akhir seharusnya. Sampai kita benar-benar yakin akan hati kita. "
Mas Rendra pun mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu berkata
" Ya, tentu, tentu Danish. Baiklah, aku mengerti. Kita akan sama-sama berjuang untuk takdir kita. Dan aku ingin mengatakan padamu apa yang aku rasakan.
Danisha Almanita, I love you.. Really.. love you.."
Ya Allah, apa ini ? Kenapa jantungku berdetak begitu kencangnya, hatiku.. getaran ini makin hebat di dalam sini..
Mas Rendra menatap intens Danisha, hatinya membuncah bahagia telah mengatakan bahwa ia sungguh mencintai Danisha. Walaupun gadis itu belum benar-benar menerimanya sebagai kekasih hatinya.
" Setelah ini, tolong kamu istirahat dan jangan lupa makan serta minum obatnya. Berjanjilah untuk selalu baik-baik saja sayang.."
" Thank you Mas.. Insya Allah aku baik-baik saja.." Danisha berbicara sambil tersenyum manis sekali.
Mas Rendra juga ikut tersenyum. Ia menempelkan dua jari di bibirnya lalu menempelkannya di layar ponselnya, tersenyum penuh cinta.
" See you.. assalamualaikum.. " pamit Mas Rendra menutup panggilan video dengan Danisha.
" Waalaikumsalam Mas, see you.. " jawab Danisha tersenyum penuh makna.
*******
Saka tiba di rumah Danisha tepat ketika Danisha baru saja mengantar Ayah dan Bunda berangkat ke toko kue mereka. Saat itu, Danisha masih berada di teras membersihkan daun-daun kering dari beberapa tanaman yang ada di teras.
" Assalamualaikum, sweet girl.." sapa Saka dengan senyuman menggodanya.
" Waalaikumsalam, tuan muda.." jawab Danisha terkekeh.
" Apaan tuan muda huh ?? " Saka tergelak mendengar Danisha menyebutnya tuan muda.
" Nih, salad buah pesanannya. Spesial buatan ibu mertua, " Saka memberikan paper bag yang didalamnya berisi sekotak salad buah buatan Mama nya dengan gaya menggoda, mengerlingkan sebelah matanya.
Danisha langsung menyambar paper bag tersebut dengan mata berbinar. Spontan ia mencolek pipi Saka dan mengucapkan terima kasih.
Seketika Saka menangkap tangan Danisha, dipegangnya tangan Danisha dan pandangan mata mereka pun beradu.
Tatapan lembut Saka membuat Danisha tertegun.
" Wajah kamu pucat sekali Danish. Badan kamu juga panas. Kamu harus ke dokter, aku antar sekarang, " kata Saka sedikit panik.
" Saka, aku ga papa.. Tadi aku udah minum obat, sebentar lagi pasti turun panasnya, " kilah Danisha.
" By the way, katanya salad nya belum dibuat tadi ? Tukang bohong ih..! " protes Danisha.
" Pas aku bilang tadi memang belum dibuat sama Mama kok ! " sahut Saka.
" Tukang bohong ! " olok Danisha sebal.
" Ish..! kok begitu.. ya ampun.. jeyeg banget sih.. serius Danish, jeyeg ih..! " goda Saka tak kalah
" Biarin, weee..! " Danisha menjulurkan lidahnya.
Saka terkekeh melihat tingkah gadis pujaan hatinya itu. Tangan Saka tiba-tiba menyentuh puncak kepala Danisha yang tertutup jilbab instannya. Perlahan turun ke pipinya. Ia tersenyum hangat pada Danisha.
Seketika Danisha kembali terdiam mematung, ia pun menatap lekat laki-laki rupawan sahabatnya itu.
" Aku sayang kamu, Danish.. "
Eh..
__ADS_1
" Yuk masuk, kita ngobrol di dalam aja, " kata Danisha mengajak Saka masuk dengan senyum yang mempertontonkan kedua lesung pipinya.
Keduanya pun masuk ke dalam rumah, tepatnya di ruang tamu. Sambil menunggu kedatangan Prasta dan Distha tentunya.
" Aku ambil minum dulu yaa.. " ujar Danisha pada Saka.
Tak berapa lama Danisha keluar membawa nampan berisi air mineral dingin dan beberapa camilan yang kemudian ia letakkan di atas meja ruang tamu yang berada di tengah-tengah sofa.
Setelah itu, Danisha pun duduk di sofa dengan helaan napas panjang menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.
" Danish, istirahatlah ! Tidurlah jika lelah, aku temani disini, " kata Saka lembut.
" Aku belum lelah, Ka. "
" Tapi mata dan wajahmu berbicara seperti itu , " tukas Saka.
" Uummm.. Ka, terima kasih banyak ya.. Kamu sungguh mengerti dan selalu paham denganku. Terima kasih udah menjadi teman dan sahabat hingga saat ini.. dan kuharap hingga nanti. Aku juga menyayangimu.. di setiap bait doaku ada namamu, Ka. Semoga kita bisa bertemu dalam doa-doa di setiap sepertiga malam kita, " tutur Danisha dengan seulas senyuman lembutnya.
Saka pun tersenyum sumringah, ditatapnya gadis yang saat ini berada di hadapannya.
" Ya Danish, di setiap sepertiga malam ku, selalu ada nama dan dirimu. Itu kenapa aku yakin mengatakan perasaan ku padamu. It's ok, bila kamu ga mau menjawabnya. Aku juga ingin kita selamanya seperti dulu, seperti sebelum-sebelumnya. "
********
Siang itu, di rumah Danisha terlihat ramai. Bagaimana tidak, gerombolan si jahil yang tak lain sahabat-sahabat Danisha telah datang.
Saka yang lebih awal datang, diikuti Prasta yang ternyata membawa Renata, juga ada Distha yang kedatangannya paling akhir.
" Ren, kamu siaran sore ya ? " tanya Danisha pada Renata yang duduk di samping kanannya.
" Hu um.. Jam 4 sore, " jawab Renata santai.
" Tadi Mas Rendra menelponku, dia nanya schedule ku hari ini dan besok, " lanjut Renata.
" Mungkin dia nyari penggantiku. Aku ga enak sama kalian semua kalo gantiin aku siaran. Aku masih bisa, masih kuat kalo cuma siaran aja, " ujar Danisha.
" Hey, jangan gitu donk. Kamu sakit Danish, harus istirahat. Bang Hendra bisa gantiin kamu, " kata Renata.
" Iya, tadi dia juga kirim pesan. Katanya aku disuruh istirahat seminggu ga papa, dia yang bakal gantiin jam siaranku. Lumayan dapat tambahan duit buat modal nikah, gitu katanya, hehehe... dasar tuh orang.. " ujar Danisha terkekeh mengingat pesan dari Bang Hendra.
" Eh, kalian dah resmi ga ada acara syukuran atau apa kek, " kata Saka mengarahkan pandangannya pada Prasta yang tak henti melirik ke arah Renata.
Prasta yang mendengar perkataan Saka pun langsung menyahut.
" Syukuran apaan ?! " sahut Prasta
" Ya syukuran, makan-makan kek traktir kita. Biar di doain langgeng gitu.. " kelakar Saka.
" Wait ! Tunggu tunggu.. ini apaan sih Distha. Pakai bawa-bawa kerjaan dan Kak Mitha. Eh Dis, aku ga minta pinjam tempat ya.. emang kebetulan aja kali pas lagi di kantor Kak Mitha. Dan aku ga mencuri waktu kerja juga ya.. kerjaanku dah kelar waktu itu.. enak aja sih dikata aku mencuri waktu kerja, " oceh Prasta kesal, tak terima dengan ucapan Distha. Prasta langsung pasang muka cemberut.
Danisha yang melihat dan mendengar segala ocehan sahabat nya tersenyum menahan tawanya. Ia paham, kejahilan sahabatnya mulai keluar. Danisha melirik Renata yang kebingungan dan salah tingkah. Lalu ia melirik ke arah Distha yang duduk di samping kirinya. Disenggolnya lengan Distha, pada saat itu Distha langsung paham ketika Danisha memberikan kode matanya ke arah Renata yang salah tingkah.
" Gimana Ren, kapan nih syukuran resminya ? " goda Distha.
" Eh, kalian bisa kapan ? Kalo hari ini kan ga mungkin. Minggu depan aja gimana ? " tanya Renata sedikit gugup.
" Udah say, biar aja terserah mereka kapan-kapannya. Kita manut aja. Kalian bisa kapan ? Cepat deh, aku hitung sampai 5. Tentukan mulai dari sekarang, kalo tidak, lewat deh keinginan kalian ! " ujar Prasta dengan ancaman.
" Hari Sabtu depan, hari Minggu depan ! " jawab Saka dan Distha bersamaan.
" Haaiisshh ! ga kompak banget sih ! " ujar Prasta yang diikuti tawa Renata dan Danisha.
" Kalo gitu aku dan Renata mau traktir Danish aja lah.. " lanjut Prasta sambil melihat ke arah Danisha dengan mengerlingkan sebelah matanya.
" Eiittsss... ga bisa gitu donk brader ! Kamu ajak Danisha berarti kamu ajak aku pula. Kita sepaket brader, ingat itu ! " sahut Saka sambil menunjuk dirinya dan Danisha kemudian menatap Prasta sambil menaik-turunkan kedua alis hitamnya.
" Eh, maksudnya apa nih ! Danisha dan aku juga sepaket lho ! " seru Distha ga mau kalah.
" Ini apaan sih ! sepaket sepaket.. kek makanan aja.. atau gini aja gimana, pesan makanan via aplikasi aja sekarang ya.. " ujar Prasta dengan senyum jahilnya.
" Ga mauuuu...!! " kompak Saka, Distha dan Danisha berteriak kencang menolak usul Prasta.
Seketika Prasta menutup kedua telinganya mendengar jawaban sahabatnya. Begitupun Renata, ia sedikit berjingkat kaget dengan raut muka mengernyit.
" Woooiii ! biasa aja kali jawabnya, ga usah pakai teriak level 10 gitu ! gilak ya kalian ! " tukas Prasta ikut berteriak.
" Hey ! kamu juga ikut teriak dodol ! " sahut Distha menahan tawanya.
Kali ini Danisha benar-benar tidak bisa menahan tawanya, ia pun tergelak melihat tingkah polah sahabat-sahabat kesayangannya. Melihat Danisha tertawa lepas, keempat orang sahabatnya itu pun ikut tertawa terpingkal-pingkal. Bahkan Renata sampai keluar airmata nya mengingat kekonyolan Prasta dan ketiga sahabatnya.
Hey Sahabat, teruntuk kalian
Tak perlu terlalu terang, hanya cukup ada dan tak kunjung padam
Itulah persahabatan
*******
Setelah 2 hari off siaran, hari ini Danisha akan kembali bertugas di radio DG FM. Meskipun kondisinya masih dirasa belum sehat betul, ia tak ingin mengabaikan jika ia punya tanggung jawab pada banyak orang. Terutama pada instansi tempatnya bekerja.
" Bunda, Danish minta maaf yaa.. ga bisa bantu Bunda di dapur, " kata Danisha sambil memeluk Bunda di ruang makan ketika akan sarapan pagi.
__ADS_1
" Iya sayang.. Wajah kamu masih pucat. Anak Bunda ini keras kepala banget, ga mau periksa ke dokter, " ucap Bunda membalas pelukan putri sulungnya.
" Danish berangkat pagi ? " tiba-tiba Ayah muncul dan duduk bersiap untuk sarapan.
" Iya Yah. On air jam 8 pagi. Kenapa ? " tanya Danisha
" Berangkat sama Ayah aja kalo gitu, " kata Ayah kemudian.
" Danish dijemput Saka, Yah, " ujar Danisha
" Owh ya udah kalo gitu.. Ayah berangkat sendiri nih.." ujar Ayah tersenyum.
Danisha dan Bunda ikut tersenyum. Biasanya Kirana yang selalu berangkat bersama Ayah. Hari ini, Kirana ada pertandingan taekwondo di sekolahnya, karena itu ia berangkat pagi-pagi sekali membawa motor Danisha.
Setelah selesai sarapan dan membereskan meja makan, Danisha kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap. Ayah juga langsung berangkat bekerja setelah sarapan.
Jam 7 kurang 10 menit, Saka sudah tiba di rumah Danisha. Setelah berpamitan pada Bunda, mereka pun berangkat menuju studio radio DG FM.
" Kamu udah sarapan, Ka ? " tanya Danisha
" Udah. Oh ya, ini dari Mama, " kata Saka menyerahkan sebuah paper bag pada Danisha.
" Apa ini ? " tanya Danisha heran.
" Croissant sandwich bikinan Mama, " jawab Saka.
" Huh ?? " Danisha terbengong, mulutnya sedikit terbuka karena kaget.
" Hey, sweet girl. Ish.. malah bengong. Tutup mulutnya donk ! ga mau croissant nya ? " seru Saka.
" I love it, very love it. Thank you Saka, thank you Tante Dinda.. " soraknya kegirangan seperti anak kecil yang mendapat mainan baru. Dicubitnya pipi Saka gemas.
" Eh, kok berani cubit-cubit sih.. awas ya..! kalo ga lagi nyetir aku balas bener deh ! " tukas Saka sedikit terkekeh.
Dalam hati ia merasa bahagia melihat Danisha tertawa dan begitu girangnya pagi ini. Ia juga bahagia dengan perlakuan Danisha padanya.
Sesampainya di studio radio DG FM, Saka mengantar Danisha masuk ke dalam.
Ketika Saka baru saja duduk di sofa ruang tamu, ia disapa oleh Bang Hendra.
" Hai Bro..! Mana tuan putri ? " tanya Bang Hendra.
" Danisha ? Masuk ke dalam tadi Bang, " jawab Saka.
" Udah sehat dia ? Aku udah bilang, ga usah siaran dulu sampai benar-benar sehat. Keras kepala banget dia ya.. " kata Bang Rendra.
Saka tersenyum dan terkekeh
" Keras kepala pakai banget Bang, " ujar Saka setengah berbisik.
" Hayoo.. lagi ngomongin aku yaa..? " tiba-tiba Danisha muncul sambil membawa air mineral.
" Iyaa.. ngomongin tuan putri yang keras kepala, " jawab Bang Hendra tertawa dan berlalu meninggalkan mereka berdua.
" Ya udah, aku tinggal sekarang ya.. kalo udah mau pulang, kabari segera. Jangan lupa makan, " pamit Saka sambil mengelus puncak kepala Danisha.
" Iya.. makasih ya Ka.. kamu hati-hati, " kata Danisha dengan senyum manisnya.
" Assalamualaikum.." salam Saka.
" Waalaikumsalam.." jawab Danisha.
Saka pun bergegas meninggalkan studio DG FM menuju kampus karena ia akan menemui dosen jam 9 pagi ini.
Danisha beranjak dari ruang tamu dan menuju ke ruang penyiar mengambil tasnya setelah mencatat spot iklan yang harus ia putar hari ini di jam siarannya. Ketika keluar dari ruang penyiar, Mas Rendra menghampirinya.
" Hai sayang.. kamu baik-baik kan ? " sapa Mas Rendra.
" Hai Mas, alhamdulillah aku udah baikan, " jawab Danisha sedikit berbohong.
" Yakin kamu baik-baik ? Wajah kamu masih pucat, Danish. Selesai siaran, ke dokter ya ? " Mas Rendra berkata sambil menelisik wajah Danisha.
Danisha tersenyum, " kita lihat nanti ya Mas. Aku siap-siap on air dulu ya.. "
Ketika Danisha akan beranjak menuju ruang siaran, Mas Rendra menahan tangannya.
" Diantar Saka ? " tanya Mas Rendra
" Iya Mas. Ya udah, aku ke ruang siaran dulu Mas, " jawab Danisha santai.
" Danish, I'm jealous.. "
Seketika Danisha menghentikan langkahnya mendengar apa yang baru saja diucapkan Mas Rendra.
Tbc
**Hey LOTA Lovers 😘💞
Alhamdulillah.. akhirnya bisa up lagi.. Maapken, author nya lagi susah ngumpulin mood buat nulis ðŸ¤
Moga tetap setia di Lapak LOTA 😘😘
__ADS_1
Stay safe & healthy LOTA Lovers 😘😘💞💞**