
Setelah 3 hari pulang dari rumah sakit, Danisha harus kembali kontrol ke dokter. Seperti biasa, Mas Rendra selalu setia menemani Danisha selain sang Bunda.
Dalam perjalanan ke rumah sakit, Danisha lebih banyak terdiam. Pandangannya lurus ke depan namun sesekali ia mengalihkannya ke samping melalui kaca jendela mobil.
" Bunda, benar ga papa ya tokonya ditinggal ? " tanya Mas Rendra memecah keheningan seraya melihat Bunda dari kaca spion di hadapannya.
" Iya Nak Rendra, ga papa.. anak-anak di toko udah bisa handle semua dengan baik kok. Lagian ga ada pesanan juga, jadi santai, " jawab Bunda tersenyum santai.
Mas Rendra balas tersenyum menanggapi perkataan Bunda.
" Sayang.. kamu kenapa ? Pusing ? " tanya Mas Rendra pada Danisha karena dilihatnya gadisnya tak bersuara sejak berangkat dari rumah tadi.
" Ga papa, ga pusing kok. Aku baik-baik aja, " sahut Danisha, ia tersenyum tipis pada Mas Rendra.
Mas Rendra pun tersenyum balik pada Danisha. Ia mengusap puncak kepala kekasihnya perlahan.
Mas Rendra melambatkan laju mobil nya ketika akan memasuki pelataran rumah sakit. Ia pun mencari tempat untuk mobilnya parkir.
Setelah mobilnya terparkir dengan benar, mereka keluar dari mobil dan berjalan beriringan masuk ke dalam rumah sakit.
Mas Rendra segera menuju tempat pendaftaran pasien. Karena sudah ada janji sebelumnya dengan dokter Aldi, mereka pun dipersilahkan langsung menuju ke ruangan praktek dokter Aldi. Disana telah ada beberapa pasien menunggu antrian. Danisha mendapat nomor antrian 3.
Mereka bertiga pun duduk di ruang tunggu yang berhadapan dengan ruang praktek dokter.
" Kamu ga papa, sayang ? " tanya Mas Rendra pada Danisha yang sedari tadi diam.
" Ga papa Mas, " jawab Danisha dengan senyuman tipis tapi masih terlihat kedua lesung pipinya.
Mas Rendra menyadari jika saat ini gadis pencuri hatinya ini sedang tidak baik-baik saja. Perlahan ia meraih tangan kekasihnya. Menggenggamnya dengan penuh sayang seolah ingin mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Danisha tersenyum menatap lelaki yang duduk disampingnya dengan helaan napas yang dalam lalu berucap lirih, setengah berbisik, " Terima kasih. "
Mas Rendra mendekatkan wajahnya ke telinga Danisha dan berbisik, " I love you. "
Danisha merasakan jantungnya berdegup kencang namun hatinya menghangat mendengar bisikan Mas Rendra.
Ia membalas genggaman tangan Mas Rendra, menautkan jemari tangannya dengan jemari tangan lelaki rupawan yang duduk di sampingnya.
Setelah beberapa saat menunggu, nama Danisha pun dipanggil. Mereka bertiga pun segera beranjak dari duduknya berjalan memasuki ruang praktek dokter Aldi.
" Selamat pagi, Dokter, " salam Mas Rendra ketika memasuki ruangan prakter dokter Aldi.
" Pagi.. mari silahkan duduk, " jawab Dokter Aldi mempersilahkan mereka bertiga untuk duduk.
" Apa kabar Mbak Danisha ? Sudah sehat kan ya.. " tanya Dokter Aldi pada Danisha.
Danisha sedikit gugup, namun ia segera tersenyum dan berkata, " Alhamdulillah baik, Dok. "
" Masih ada keluhan ? " tanya Dokter Aldi lagi.
" Yaa.. terkadang masih sedikit pusing sih.. jika terlalu lama berdiri. Apa mungkin masih penyesuaian setelah beberapa hari berbaring ya Dok ? " Danisha menjelaskan kondisinya.
" Owh iya.. benar. Bisa jadi memang masih penyesuaian. Mari saya periksa dulu, silahkan.. " Dokter Aldi mempersilahkan Danisha berbaring di ranjang untuk diperiksa.
Beberapa saat kemudian, Dokter Aldi kembali ke tempat duduknya dan Danisha pun turun dari ranjang, kembali ke tempatnya duduk.
" Baiklah, kondisinya cukup baik saat ini. Tapi tetap saya sarankan untuk melakukan tes pemeriksaan seperti yang sudah kami beritahukan sebelumnya, " jelas Dokter Aldi.
" Tapi tidak harus sekarang kan Dok ? Terus terang, saya merasa baik-baik saja dan sehat, " ucap Danisha berusaha mengelak untuk melakukan tes pemeriksaan yang disarankan Dokter Bedah Syaraf di hadapannya ini.
Bunda mengusap bahu Danisha mengisyaratkan untuk tenang.
__ADS_1
" Jadi bisa ya Dok, pemeriksaannya dilakukan lain kali ? " tanya Bunda
" Kalo dari saya, lebih baik segera dilakukan Bu.. tapi jika pasien masih belum siap, kami bisa menunggu hingga pasien benar-benar siap, " tutur Dokter Aldi sambil menatap Danisha dan Mas Rendra.
" Baiklah, Dokter. Sepertinya Danisha masih belum siap untuk melakukan pemeriksaan saat ini, " ujar Mas Rendra meminta pengertian dari Dokter Aldi.
" Ok, untuk sementara saya resepkan obat untuk beberapa hari. Jika nanti ada keluhan lagi, saya minta segera kemari untuk melakukan pemeriksaan, " Dokter Aldi berkata mengingatkan.
Mas Rendra, Danisha dan Bunda pun mengangguk dan mengucapkan terima kasih.
Setelah menerima resep dari Dokter Aldi, mereka pun berpamitan meninggalkan ruangan itu.
******
Saka masih disibukkan dengan kuliah dan pekerjaannya sejak ia kembali dari perjalanannya selama 3 hari.
Saat ini, ia sedang berada di kantin kampus menikmati kopi hitam sambil membalas pesan dari Kak Sandra yang memintanya segera ke kantor seusai kuliah.
" Hai Bro ! Kamu udah kelar kuliah nya ? " tiba-tiba Prasta datang dan duduk di hadapan Saka.
" Hai Brader ! Udah, kamu sendiri baru datang ? Distha mana ? " tanya Saka sambil menyesap perlahan kopinya yang masih panas.
" Distha ga ada kuliah hari ini. Dia lagi antar mamanya, sore nanti dia mrngajak pergi ke rumah Danisha, " jawab Prasta sambil terus menatap dan menelisik wajah sahabatnya.
" Kenapa sih kok ngeliatin kek gitu.. "
" Ga papa. Hanyaa... sejak kamu datang 3 hari yang lalu, kamu ga ada sedikitpun menanyakan Danisha apalagi menjenguknya, " Prasta berkata sedikit kesal dengan Saka.
" Mau kamu gimana sih..?! " tanya Prasta. Ia benar-benar kesal dengan sikap sahabatnya ini.
" Hey.. kamu kenapa sih Pras ?! Datang-datang kok bicaranya ga jelas pakai muka kesal lagi ! " Saka berkata tak kalah kesalnya.
Prasta menghela napas panjang, mencoba tenang menghadapi sahabat yang sudah dianggapnya saudara ini.
Saka terdiam, ia menghela napasnya kasar. Kemudian ia menatap Prasta dengan tatapan tajam.
" Pras, aku pikir kamu ngerti apa yang aku rasakan. Mengetahui kenyataan bahwa orang yang kamu cintai tidak mencintaimu. Mengetahui bahwa orang yang kamu cintai telah memilih orang lain daripada dirimu. Danisha ga butuh aku, Pras.. " sejenak Saka terdiam dengan menghela napasnya panjang.
Lalu ia melanjutkan perkataannya.
" Sorry, aku pergi tanpa pamit dengan kalian. Aku pergi untuk menata hatiku, untuk belajar merelakan. Dan aku sudah merelakan semuanya. Danisha tak akan mencari ku, sudah ada Mas Rendra di sampingnya. Aku bukan bahagianya, Pras. Dan aku merelakan dia bahagia dengan pilihannya. Saat ini aku masih belum bisa menjenguknya. Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Aku harus pergi, Kak Sandra memintaku ke kantornya segera. Sorry Brader.. aku pergi dulu.. assalamualaikum.. " Saka menepuk bahu sahabatnya, lalu beranjak dari tempat itu dengan tergesa.
" Waalaikumsalam.. " jawab Prasta, ia pandangi tubuh Saka yang pergi hingga tak terlihat lagi.
Prasta mengusap wajahnya. Aku tau kamu terluka, Ka. Kamu salah, Danisha mencarimu. Setiap bertemu ataupun menelpon, dia selalu menanyakanmu, gumam Prasta.
*******
Danisha duduk bersandar di sofa panjang di ruang tamu rumahnya setibanya ia dari rumah sakit. Mas Rendra duduk di sofa single di sebelahnya.
Sementara Bunda sedang berada di dapur, sibuk memasak untuk makan siang.
" Mas kok ga ke studio ? Aku ga papa Mas.. berangkat gih.. " ujar Danisha sambil menatap Mas Rendra penuh tanya.
" Aku udah ijin ke Pak Andre hari ini ga ngantor. Gimana, masih pusing ? " ucap Mas Rendra dengan senyumnya yang penuh pesona menentramkan.
" Ga kok, ga pusing. Jangan sering bolos donk, Mas. Ga baik dilihat anak buahnya, " kata Danisha serius.
" Aku ga bolos sayang.. aku minta ijin ke Pak Andre. Kalo bolos itu ga ada pemberitahuan.. " kilah Mas Rendra tersenyum lebar memperlihatkan pesonanya.
Danisha pun tersenyum mendengar Mas Rendra yang berkilah.
__ADS_1
" Besok aku ke studio ya Mas, aku udah kangen siaran, " kata Danisha kemudian yang membuat Mas Rendra menggelengkan kepalanya cepat.
" Ga ! ga boleh ! " sahut Mas Rendra cepat dan tegas.
Danisha seketika menegakkan duduknya. Ia tatap mata bening laki-laki rupawan di hadapannya.
" Please.. " Danisha memohon pada Mas Rendra.
Mas Rendra mendekatkan posisi duduknya dengan posisi duduk Danisha.
" Jangan membantah ya.. Kak Ella kemarin juga udah bilang kan.. fokus sama kesembuhan kamu dulu. Jangan buru-buru siaran, " tutur Mas Rendra lembut memberi pengertian pada kekasihnya.
Danisha berdecak kesal dengan mulut mengerucut.
Mas Rendra terkekeh melihat sang kekasih yang merajuk. Kemudian ia bangkit dari duduknya. Ia mengambil posisi duduk berlutut di lantai di hadapan Danisha sambil menggenggam kedua tangan kekasih hatinya itu.
Danisha sedikit terhenyak dengan tindakan kekasihnya. Ditatapnya lelaki bermata bening itu dengan dahi mengernyit.
" Hey.. jangan marah.. jangan buat aku khawatir. Terima kasih sudah hadir di hatiku. Maafkan kalau hatiku sedikit berantakan. Bantu aku ya.. bantu aku merapikannya, supaya ga berantakan lagi.. " Mas Rendra berkata-kata seraya menatap kekasihnya penuh cinta.
Bibir Danisha menyunggingkan senyuman yang memperlihatkan kedua lesung pipinya. Ia tak mampu berkata-kata, hanya anggukan yang ia berikan pada laki-laki tempat hatinya berlabuh.
" Terima kasih. Uummm.. nanti sore aku pulang ke Malang. Mungkin besok sore baru balik. Berjanjilah kamu akan baik-baik aja selama aku tinggal, jangan buat aku khawatir, " ujar Mas Rendra kemudian.
Danisha kembali menatap mata bening Mas Rendra. Ia menangkap ada kegelisahan di mata laki-laki yang dicintainya, entah kenapa. Haruskah aku bertanya padanya ? batin Danisha.
Mas Rendra mencium tangan Danisha dengan senyum sumringah. Ia menghela napas panjang dan duduk di samping Danisha, masih menggenggam tangan gadisnya. Lalu ia menautkan jemari tangan kanannya dengan jemari tangan kiri Danisha dan disandarkan kepalanya pada sandaran sofa, kemudian ia pejamkan matanya.
Danisha sedikit bingung dengan sikap Mas Rendra. Tubuhnya ia miringkan menghadap Mas Rendra yang memejamkan mata dengan jemari tangan yang masih bertautan dengan jemari tangannya.
Batin Danisha bertanya-tanya tentang kekasihnya.
Kamu pasti lelah
Maafkan aku, membuatmu lelah
Istirahatlah
Biarkan hati dan pikiranmu tenang
Setenang dirimu menghadapi ku
Mas, aku tak tahu apa yang sesungguhnya kamu simpan. Aku melihat ada sesuatu di matamu. Seperti kegelisahan atau apa itu, aku tak tahu. Gumam Danisha seraya mengeratkan tautan tangan mereka.
*******
Saka meletakkan ponsel di atas meja kerjanya. Ia baru selesai menerima panggilan telepon dari Mas Tyo, klien Kak Sandra yang beberapa hari lalu melaksanakan resepsi pernikahan.
Saka duduk bersandar di kursi kerjanya. Ia masih mengingat percakapannya dengan Prasta di kantin kampus siang tadi.
Apa yang dikatakan Prasta tadi siang sedikit membuat hatinya nyeri. Ia memang meninggalkan Danisha yang sedang sakit. Ia mencintai gadis itu tetapi ia meninggalkannya di saat ia terbaring sakit di rumah sakit. Memang seperti pengecut. Tapi bukan itu maksudnya pergi meninggalkannya tanpa pamit. Ia butuh menata hati dan belajar merelakan untuk kebahagiaan gadis yang dicintainya. Melihat secara tiba-tiba dengan kedua matanya sendiri, gadis berlesung pipi itu telah memilih laki-laki lain daripada dirinya saja sudah membuatnya sakit dan marah. Ia tak sanggup untuk menemui dan berhadapan langsung dengannya. Karena itu ia pergi untuk menata hati dan berusaha belajar untuk merelakan, namun bukan menghilang tanpa jejak.
Pada waktu itu, rasanya Saka ingin berhenti. Namun hatinya menyuruhnya untuk berjuang kembali. Maka kembalilah ia sekarang. Ia akan menemui Danisha besok. Ia akan menjadi langit untuk Danisha, yang tetap berdiri walaupun turun hujan. Yang selalu bisa menerima apa adanya. Yang selalu siap menemani hari-hari gadis itu. Menjaganya dan melindunginya. Hati Saka merindu.
Tbc
** Hellooww LOTA Lovers 💞💞
Saka is back 👏
Mas Rendra, what's up ?
__ADS_1
Thank you masih setia stay on LOTA story 🤗😘
Stay safe n healthy as always my LOTA Lovers 🤗😘💞💞**