
**Hellooww LOTA Lovers ππ
Happy reading yaa... maaf baru up, sibuk RL n sempat writer's block
Tetap bijak dalam memilih bacaan ya buat adek-adek yg belum 18+. Ada sedikit part 18+, tolong di Skip aja yaa.. βΊοΈππ**
**********
Sejak subuh, Bu Dinda sibuk menyiapkan makanan yang akan dibawanya ke rumah sakit. Hari ini ibu mertua Danisha itu akan pergi ke rumah sakit untuk menjenguk menantu kesayangannya. Tidak ketinggalan dengan suami dan anak sulungnya, Sandra.
Bibi yang membantu Bu Dinda tersenyum menyaksikan majikannya yang terlihat sangat bersemangat menyiapkan makanan kesukaan menantunya.
" Dah beres ! " Bu Dinda tersenyum puas setelah selesai menyiapkan makanan kesukaan untuk menantunya.
" Bi, tolong ini nanti jangan sampai lupa, ya, dimasukkan ke mobil. Saya mau siap-siap dulu. Bibi juga siap-siap, ya, " titah Bu Dinda.
" Baik, Bu ! " Bibi tersenyum dan mengangguk.
Bu Dinda berlalu dari dapur dengan sedikit terburu-buru menuju kamarnya untuk segera bersiap-siap.
Di rumah sakit, Bunda telah berpamitan pada Danisha dan Saka. Bunda harus segera ke toko kuenya karena ada beberapa pelanggan setia yang mencarinya untuk memesan kue. Padahal mereka sebenarnya bisa memesan pada karyawan Bunda tetapi mereka lebih suka memesannya langsung pada Bunda. Ya, begitulah pelanggan, ingin dilayani langsung oleh sang pemilik toko.
Sementara itu, setelah mengantar Bunda sampai di depan kamar, Saka menerima panggilan telepon dari Kak Sandra. Kakak perempuan satu-satunya itu mengabarkan bahwa ia sudah dalam perjalanan ke rumah sakit bersama suami dan anak semata wayangnya, Saskia.
" Siapa ? " tanya Danisha, suaranya terdengar lirih.
" Kak Sandra. Mau ke sini, " jawab Saka setelah mengakhiri pembicaraan via ponselnya. Lalu mendekati Danisha yang terbaring di ranjangnya.
" Mama juga nanti ke sini sama Bibi. Papa mungkin siang nanti, " ujar Saka dengan senyuman terbaiknya.
Danisha tersenyum samar. Tangannya berusaha membuka laci meja di samping ranjang.
" Mau ambil apa, Bee ? " tanya Saka yang langsung meraih tangan Danisha dan membuka laci meja.
Tangan Danisha meraih tasbih dan tafsir Al Qur'an. Saka pun membantu mengambilkannya.
" Makasih, " lirih Danisha.
Mata Danisha mengerjap beberapa kali menatap tafsir Al Qur'an di tangannya. Lalu ia mengucek pelan kedua matanya. Pandangannya sedikit buram melihat tulisan di tafsir Al Qur'an yang dipegangnya.
Saka memperhatikan gerak-gerik Danisha sembari memicingkan mata.
" Ada apa, Sayang ? " tanya Saka akhirnya.
" Ga apa-apa. Kacamataku dimana ? " tanya Danisha kemudian.
Saka pun membuka laci meja dan mengambil kacamata yang diminta oleh Danisha. Lalu diserahkannya pada istrinya yang saat ini memakai jilbab instan berwarna biru muda. Terlihat sangat menawan meskipun wajahnya terlihat pucat.
" Makasih, " jawab Danisha tersenyum tipis menatap suaminya. Setelahnya, ia memakai kacamatanya.
" Alhamdulillah, " ucapnya sangat lirih. Akhirnya tulisan di tafsir Al Qur'an nya bisa ia baca meskipun tidak begitu jelas. Tetapi ia masih bisa membacanya.
Sejurus kemudian, terdengar samar suara Danisha melantunkan ayat-ayat suci Al Qur'an. Kadang ia terbata dan mengulang kalimat-kalimat suci tersebut dikarenakan pandangan matanya yang tidak terlalu jelas.
Saka tersenyum. Ia duduk di samping ranjang mendengarkan suara merdu istrinya mengaji. Saka menarik napasnya dalam. Dua hari lagi. Ya, operasi pengangkatan tumor di kepala Danisha akan dilakukan dua hari lagi. Hati Saka semakin berdebar. Bukan hanya Danisha, ia juga harus menyiapkan hati dan mentalnya.
Perlahan Saka merebahkan kepalanya di tepi ranjang dengan wajah menatap Danisha yang fokus mengaji. Hatinya mencelos, terasa sesak dan nyeri. Perempuan shalihah di hadapannya adalah istrinya yang belum sebulan ia nikahi. Ia belum memberikan banyak kebahagiaan untuk istrinya. Tanpa disadari, air matanya lolos dari pelupuk mata teduhnya.
Danisha terkejut dan berhenti mengaji. Ia melihat wajah Saka yang basah menatapnya dengan tatapan sendu. Tangan Danisha yang bebas infus mengusap lembut wajah suaminya. Menghapus air mata yang membasahi sebagian pipinya.
Saka memegang tangan Danisha dan menciumnya penuh kelembutan dan cinta.
" I love you, " ucap Saka lirih memejamkan kedua matanya dan merasakan kelembutan tangan Danisha di wajahnya. Ia tak ingin kehilangan Danisha seperti dalam mimpinya. Ia harus menepis segala hal buruk yang kemungkinan akan terjadi karena operasi pengangkatan tumor di kepala Danisha.
Dokter Aldi telah memberitahukan padanya mengenai resiko dari operasi yang akan Danisha lakukan. Siap tidak siap, mereka harus menerimanya. Ia percaya mukjizat itu selalu ada dan akan Allah berikan pada hambaNya yang terpilih. Kita sebagai hamba Nya hanya perlu berusaha dan berdoa, berserah diri untuk hasil yang terbaik yang Allah berikan.
*******
Kamar rawat Danisha terlihat ramai siang itu. Tawa dan canda menghiasi kamar VIP yang cukup lengkap fasilitasnya. Pak Rahmat lah yang meminta supaya Danisha dirawat dengan fasilitas VIP, mengingat kondisi penyakitnya yang sangat serius.
Saskia, putri semata wayang Kak Sandra lebih banyak berceloteh di kamar Danisha. Gadis cilik itu bercerita banyak hal mulai dari kucing kesayangannya, teman-teman sekolahnya juga kegiatannya sendiri di sekolah hingga ia merasa mengantuk dan tidur di sisi Danisha.
__ADS_1
Danisha terlihat senang dengan kehadiran keluarga Saka dan juga si Bibi asisten rumah tangga Saka yang sudah seperti keluarga sendiri.
Si Bibi telah mengabdi pada keluarga Saka semenjak masih belum berkeluarga. Saat itu Saka masih duduk di bangku sekolah dasar kelas 2. Keluarga Saka memperlakukannya sangat baik, itu sebabnya ia betah bekerja pada keluarga itu.
" Mbak Danisha, cepetan sehat, ya. Jadi bisa cepet pulang ke rumah dan masak lagi buat Mas Saka, " ujar si Bibi sambil mengupas buah kiwi yang dibawa Kak Sandra untuk Danisha.
" Aamiin... Makasih doanya, Bi. Bibi juga harus sehat, ya. Biar bisa bantu Danish masak, " sahut Danisha tersenyum semringah.
" Kalau Bibi, sih, insya Allah selalu sehat, Mbak. Tiap hari makan empat sehat lima sempurna, lho ! Sama Ibu dimarahi kalau telat makan dan ga minum susu. Kata Ibu, susu itu baik buat tulang, terutama untuk orang tua seperti saya. Eh ! Bener begitu, kan, Bu ? " celoteh Bibi sembari terkekeh, membuat yang lain pun tertawa mendengar celotehan wanita paruh baya itu.
" Bibi makin pinter, ih ! " celetuk Saka sembari terkekeh.
Pak Rahmat yang baru saja datang dan duduk di sofa pun ikut tertawa lebar mendengar celotehan asisten rumah tangganya.
" Bibi paling oke pokoknya ! " seru Bu Dinda mengacungkan jempol kanannya.
" Ibu bisa aja. Kan ibu yang ngajari saya jadi oke, " timpal Bibi dengan kedua jempol diacungkan di depan wajahnya.
Sontak semua tertawa terbahak melihat sikap Bibi yang terlihat lucu.
" Papa nanti langsung pulang, kan ? Maksudnya, ga balik ke kantor lagi ? " tanya Bu Dinda yang duduk di samping suaminya.
" Langsung pulang, Pa. Dah dikasih kode, tuh ! " celetuk Saka dengan senyum jahilnya.
" Husssh ! Orang tua ngomong, nyahut aja ! " sahut Bu Dinda menatap tajam pada putra satu-satunya.
" Ih ! Takuuutttt ! " ledek Saka, yang langsung mendapat cubitan di lengannya.
" Aduh ! Sakit, Sayang ! " Saka meringis kesakitan, menatap Danisha yang baru saja mencubitnya.
" Usil banget, sih, sama orang tua ! " omel Danisha.
" Kalau ga ngusilin Mama, bukan dia, Danish ! Di rumah tuh, udah biasa ! " Kak Sandra menimpali dengan wajah mengejek menatap Saka.
" Sepi di rumah kalau Mas Saka ga usil, Mbak ! " Bibi pun menimpali.
Danisha tersenyum lebar. Ia mengambil potongan buah kiwi yang sudah disiapkan Bibi di atas piring kecil, lalu melahapnya.
" Mau dong, Bee, " rengek Saka manja.
" Sekali-sekali, ga apa kan, Pa.... " sanggah Saka yang duduk di tepi ranjang di sisi Danisha yang berbaring setengah duduk sembari menatap istrinya dengan wajah memelas.
" Maunya ! " Danisha mencebikkan bibirnya.
Saka semakin gemas melihat bibir Danisha yang mencebik, ditatapnya intens wajah pucat istrinya. Sayangnya sedang banyak orang saat ini, ia tidak bisa merayu dan bermanja dengan istrinya.
Danisha yang melihat tatapan suaminya segera mengalihkan pandangannya pada Saskia yang terlelap di sampingnya. Tangannya mengusap lembut rambut hitam gadis cilik berumur 5 tahun itu. Tiba-tiba ia teringat dengan Fitri, bocah cilik anak jalanan yang selalu membuatnya bersemangat dalam menjalani hidup.
******
Kamar tempat Danisha dirawat kembali sepi setelah seluruh anggota keluarga Saka pulang. Kini tinggallah Danisha berdua dengan Saka.
Danisha menatap Saka yang baru saja keluar dari kamar mandi. Ia sangat bahagia karena dicintai dengan tulus oleh lelaki seperti Saka. Namun, di sisi lain ia merasa bersalah karena ia bukan istri yang sempurna. Lihatlah dirinya saat ini. Perempuan tak berdaya, penyakitan dan....
" Kok melamun ? "
Danisha sedikit kaget, suara Saka membuatnya tersadar dari lamunannya.
" Ga, kok ! " sahut Danisha. Ia menundukkan wajahnya.
" Sayang... Ada apa ? " tanya Saka lembut.
" Jadi kapan sidang skripsinya ? " tanya Danisha serius.
Saka tersenyum menatap wajah pucat Danisha. Ia mendekat lalu mencium kening Danisha yang hangat. Cukup lama.
" Mas.... "
Saka melepaskan ciumannya. Ia menangkup wajah Danisha dengan kedua tangannya.
" Istriku yang cantik.... "
__ADS_1
" Gombal ! " sahut Danisha.
" Eh, kok gombal ! Emang istriku cantik, lho ! Luar dalam cantiknya. Istri shalihah, pinter masak, berbakti pada suami, pokoknya istriku ini sungguh perfect ! " puji Saka menatap Danisha dengan senyum menawannya.
" Bohong ! Jujur aja, Mas. Ga usah bicara bohong begitu. Aku istri berbakti ? Yang benar aku istri yang ga bisa melayani suami lahir dan batin. Cantik ? Bohong banget ini ! Aku penyakitan mana ada cantik.... "
Saka menutup bibir Danisha dengan kedua jarinya. Seketika Danisha terdiam, tidak melanjutkan bicaranya.
" Bagiku kamu selalu cantik. Bagiku kamu istri yang sangat sempurna. Aku mencintaimu dengan segenap jiwaku. Selamanya akan begitu. Ga akan pernah berubah, " tutur Saka lembut. Ditatapnya manik hitam Danisha yang juga menatapnya dengan intens dan mata berkaca-kaca.
Untuk beberapa saat mereka terdiam dan saling menatap dengan perasaan yang tidak bisa diungkapkan.
Saka mendekatkan wajahnya. Sekejap kemudian, bibirnya telah menyentuh bibir Danisha. Mengulumnya lembut. Tak ada penolakan, Danisha membalas ciuman suaminya dengan mengusap lembut pipi kiri lelaki hebatnya. Sepasang suami istri itu saling merindukan. Ciuman keduanya semakin mendalam, napas mereka memburu dan saling beradu. Tangan Saka pun tak bisa dikondisikan. Bergerilya menyentuh bagian sensitif milik Danisha. Hingga istrinya mengeluarkan desahan pelan.
Mereka melepaskan ciuman saat keduanya merasa kehabisan oksigen. Kedua kening mereka saling beradu dengan napas yang tersengal.
" Maafkan aku, " ucap Saka lirih, lalu menjauhkan wajahnya dari wajah Danisha dan mengusap wajahnya sedikit kasar sembari beranjak hendak keluar kamar.
" Mas, maafkan aku ! " seru Danisha menatap punggung suaminya yang hendak pergi.
Saka menghentikan langkahnya.
" Ini yang aku maksud aku bukan istri yang berbakti dan sempurna. Aku ga bisa melayani suamiku. Maafkan aku ! " isak Danisha.
Saka terdiam di tempatnya. Mendengar isakan Danisha, ia berbalik dan merengkuh tubuh istrinya ke dalam dekapannya.
" Maaf ! Maafkan aku yang ga bisa mengontrol diriku. Maaf, Sayang ! Kamu ga salah ! Ini salahku ! " Saka mencium puncak kepala istrinya yang tertutup jilbab. Seharusnya ia bisa mengontrol dirinya mengingat kondisi istrinya saat ini.
Danisha menangis di dada bidang Saka. Tidak bisa lagi membendung air matanya. Ia sangat tahu, suaminya tersiksa menahan hasratnya. Beberapa kali berpikir, ia memutuskan akan ikhlas melepas suaminya untuk wanita lain jika memang itu bentuk baktinya pada suami. Untuk kebahagiaan suaminya. Waktu yang dimilikinya tidak akan lama. Ya, ia akan berbicara baik-baik dengan suaminya sebelum operasinya lusa.
" Kapan sidang skripsi ? Aku dengar, schedule kamu ada di minggu ini untuk maju sidang, " lirih Danisha berkata, masih terisak dalam dekapan suaminya
Saka mendorong pelan tubuh Danisha agar ia bisa melihat wajah istrinya. Seulas senyuman membingkai wajah rupawannya. Tangan kokohnya menghapus pipi Danisha yang basah oleh air mata.
" Kata siapa aku maju sidang minggu ini ? " tanya Saka lembut.
" Udah aku bilang, yang terpenting adalah kamu. Kamu selalu menjadi prioritas utamaku. Ga ada yang lain. Aku akan maju sidang kalau kamu sembuh. Karena itu, aku mohon sama kamu, sembuhlah ! Semua orang menyayangimu. Mereka ingin kamu sehat kembali. Mereka sangat mendukungmu, mendoakanmu dan selalu ada untuk kamu. Seperti mereka, aku akan berjuang bersamamu saat ini, Sayang. Nanti setelah kamu sembuh, aku mohon dampingi aku dan berjuanglah bersamaku saat aku maju sidang skripsi. Deal ? " Panjang lebar Saka berkata memberi semangat dan meyakinkan Danisha untuk sembuh terlebih dulu dan setelahnya ia meminta istrinya itu mendampinginya saat maju sidang skripsi.
Danisha tersenyum menatap wajah rupawan yang terlihat serius usai berkata-kata. Sejurus kemudian, Danisha menganggukkan kepalanya tanda setuju.
*******
Keesokan paginya, setelah Dokter Aldi memeriksa Danisha di kamar rawatnya, Danisha meminta Saka untuk mengantarkannya berjalan-jalan di taman rumah sakit.
Awalnya, Saka keberatan mengingat Danisha harus banyak beristirahat untuk menjaga stamina tubuhnya untuk menjalani operasi esok hari. Namun, Dokter Aldi telah memberikan ijin pada Danisha untuk berjalan-jalan di taman supaya perempuan itu bisa rileks, tidak terlalu tegang memikirkan operasinya esok hari.
" Makasih, Sayang, " ucap Danisha saat mereka sudah berada di salah satu taman rumah sakit yang terdekat dari kamar mereka.
Ada beberapa taman yang ada di rumah sakit ini mengikuti beberapa bangunan gedung yang ada.
Saka tersenyum menatap Danisha yang sedang tersenyum indah menatapnya.
" Apa pun untuk kamu, Sayang. Ga perlu berterima kasih, " jawab Saka yang duduk berjongkok di hadapan Danisha yang duduk di kursi rodanya. Kedua tangannya menggenggam kedua tangan Danisha.
" Aku mau duduk di bangku itu sama kamu, " cetus Danisha sambil menunjuk sebuah kursi kayu bangkirai dengan sandaran di dekat kolam ikan.
Saka berdiri dari jongkoknya dan segera mendorong kursi roda Danisha menuju kursi kayu tersebut.
Setibanya di tempat yang diinginkan Danisha, Saka menuntun istrinya turun dari kursi rodanya dan duduk di kursi kayu tersebut. Setelah Danisha duduk, ia pun ikut duduk di samping istrinya.
Saka membiarkan bahu dan lengan kirinya sebagai sandaran tubuh Danisha sembari tangannya merangkul bahu kiri istrinya.
" Makasih, suamiku sayang. " Danisha sedikit mendongak menatap sendu wajah suaminya.
Saka menundukkan kepalanya untuk balas menatap wajah Danisha.
" I love you, Bee, " lirih Saka berkata sembari mencium kening Danisha.
Sungguh, Saka tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaannya saat ini. Ia berusaha keras menyembunyikan kegelisahan hatinya. Ketakutannya tentang mimpi buruknya. Hari ini ia hanya ingin melakukan quality time berdua dengan Danisha. Hanya berdua. Dipeluknya tubuh Danisha dari samping dengan posisi Danisha bersandar di bahu dan lengan kirinya. Tangan kanannya menggenggam tangan Danisha yang berada di pangkuannya. Sesekali ia mengecup kening dan jemari tangan istrinya mesra.
Danisha merasakan kenyamanan yang selalu diberikan Saka. Yang selalu membuat hatinya menghangat karena pelukan dan perlakuan Saka yang penuh cinta dan kelembutan. Ia merindukan saat-saat seperti ini. Danisha memejamkan kedua matanya menikmati kebersamaannya dalam pelukan kekasih halalnya.
__ADS_1
Keduanya hanya diam, menikmati kebersamaan yang mereka rindukan dan sibuk dengan isi hati masing-masing.
Tbc