
Danisha sudah masuk ke dalam mobil dengan kondisi masih terisak dan wajah yang pucat. Sementara Saka mengucapkan terima kasih pada Bang Hendra dan Kak Ella.
" Bang, Kak, makasih banyak atas bantuannya. Untung tadi ketemu kalian, " ucap Saka sambil sekilas melihat kondisi Danisha di dalam mobil.
" Iya, Ka. Udah, mending kalian segera jalan pulang. Danisha udah pucat banget itu. Dia bawa obat ? " Bang Hendra terlihat sangat cemas karena ia tahu bagaimana kondisi kesehatan Danisha saat ini. Ia pun tahu penyebab Danisha menangis.
" Harusnya dia bawa obat, Bang. Dia selalu bawa obatnya kemana pun. Ok, Bang, Kak Ella . Aku pamit jalan duluan. Sekali lagi makasih buat bantuannya, " pamit Saka.
Bang Hendra dan Kak Ella pun mengangguk.
" Sama-sama, Ka. Kamu hati-hati bawa mobilnya. Jangan terburu-buru, ya, " pesan Kak Ella.
Saka menganggukkan kepalanya, lalu tersenyum dan masuk ke dalam mobil. Sementara Kak Ella dan Bang Hendra kembali masuk ke dalam gedung.
Dari luar gedung tepatnya di tempat mobil Saka diparkirkan, masih bisa terdengar lantunan lagu Valentine yang di-request Mas Rendra.
Saka masih belum menjalankan mobilnya. Danisha terlihat sudah mulai tenang.
" Sayang, maafkan aku, ya, " ucap Saka meminta maaf. Tubuhnya menghadap Danisha yang duduk setengah berbaring di kursi sebelahnya dengan sebelah tangan menggenggam lembut tangan Danisha.
Danisha memiringkan kepalanya menatap Saka dengan kedua mata yang terlihat masih basah karena air mata.
" Kamu tadi kemana ? Kenapa ninggalin aku ? Padahal kamu sendiri yang memintaku untuk tidak meninggalkanmu, " lirih Danisha, berusaha untuk tidak menangis.
Tadi, ia benar-benar panik dan takut tidak menemukan Saka di dalam gedung itu. Ia mencari di keramaian orang hingga kepalanya pusing dan berdenyut. Pandangannya berputar. Untung ada Kak Ella yang menemaninya, yang kemudian membawanya duduk di kursi di dekat panggung electone.
Saka tertunduk, lalu ia mengusap pipi kekasihnya untuk menghapus sisa air mata yang masih melekat di pipi gadis kesayangannya.
" Maafkan aku, Bee, " lagi Saka mengucap maaf dengan penuh penyesalan.
" Kepalamu masih sakit ? Bawa obatnya ? " tanya Saka kemudian.
" Barusan udah aku minum obatnya, " jawab Danisha lirih. Ya, Danisha meminum obatnya pada saat Saka, Kak Ella dan Bang Hendra sedang berbicara di luar mobil tadi.
" Kita pulang, ya, " cetus Saka, ia menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya meninggalkan gedung itu.
" Tidurlah, Bee. "
" Kenapa tadi kamu meninggalkanku ? " tanya Danisha lagi.
" Aku ke toilet tadi, " sahut Saka berbohong.
" Kenapa pergi begitu aja ? Ga pamit kalau mau ke toilet ? " cecar Danisha tanpa melihat kekasihnya.
" Buru-buru, Bee, " jawab Saka masih fokus dengan kemudinya.
Danisha terdiam, terdengar oleh Saka helaan napas dalam kekasihnya. Ia melirik sekilas kekasihnya yang memejamkan matanya.
Saka bernapas lega. Danisha tidak bertanya lagi.
Untuk cemburu saja hati ini tidak berhak
Namun untuk bersikap biasa saja hati ini juga tidak kuat
Tenanglah, saat ini aku sedang berusaha menyadarkan diri
Untuk tetap memperjuangkanmu
Sebagai satu-satunya teman hidupku
*******
Gedung tempat acara resepsi pernikahan Mas Rendra sudah tidak seramai tadi. Tamu undangan sudah nampak berkurang sedikit demi sedikit. Kedua mempelai juga sudah mulai santai.
Kak Ella yang datang bersama suami dan anaknya baru saja pulang. Sementara Bang Hendra masih tinggal di sana. Ia masih betah duduk sambil menikmati alunan musik dari pemain electone dan penyanyinya. Sepertinya undangan yang hadir tinggal para sanak saudara dari kedua mempelai.
" Daripada bengong dan menatap penyanyi itu, nih lumayan buat ganjal perut, " tiba-tiba seseorang menyodorkan sepotong puding di hadapannya.
" Eh, Boss ! Waduh ! Suatu kehormatan ini, mempelainya mengambilkan tamunya hidangan, " kelakar Bang Hendra diikuti tawa sang mempelai pria, Mas Rendra.
Mas Rendra duduk di samping Bang Hendra. Keduanya menikmati puding coklat dengan fla vanilla. Mengingatkan pada Danisha yang sering sekali membawakan puding buatan Bundanya ke studio.
" Apa dia masih sering bawa puding buatan Bunda ke studio ? " tanya Mas Rendra.
Bang Hendra menoleh ke samping dan menatap Mas Rendra dengan senyum tipisnya.
" Ya, masih, " sahut Bang Hendra.
" Tadi dia kenapa ? " tanya Mas Rendra lagi.
" Ga apa-apa, dia hanya capek di keramaian. Berdiri terlalu lama, " jawab Bang Hendra asal. Ia tak ingin mengatakan yang sebenarnya terjadi.
Mas Rendra menganggukkan kepalanya.
" Apa dia bahagia, Hen ? " tanyanya dengan menunduk, memainkan sendok dan piring kecil tempat puding yang sudah kosong.
" Kenapa ? Harusnya Mas Rendra ga perlu menanyakan itu. Udah ga penting lagi buatmu, dia bahagia atau tidak, " tutur Bang Hendra.
__ADS_1
" Aku tahu, lagu tadi sengaja buat Danisha, kan ? " imbuh Bang Hendra.
" Buat apa ? Berpikir dan bertindaklah realistis, Mas. Kalian berada di jalan masing-masing sekarang. Dia juga sebentar lagi menikah, " lanjut Bang Hendra.
Mas Rendra menghela napasnya berat. Sesak dan nyeri di dadanya setiap teringat Danisha. Hendra memang benar, batinnya.
" Tapi dia bahagia, kan, Hen ? "
Bang Hendra terdiam. Pertanyaan Mas Rendra sulit dijawabnya. Jika dikatakan bahagia, Danisha memang selalu terlihat bahagia walaupun sebenarnya tidak. Jika dikatakan dia tidak bahagia, nyatanya dia terlihat bahagia karena dia tidak ingin orang lain melihatnya tidak bahagia.
" Menurut Mas Rendra ? " tanya balik Bang Hendra.
Mas Rendra menegakkan kepalanya, menatap partner kerjanya di Radio DG FM.
" Entahlah ! Kadang aku melihat sorot matanya begitu bahagia. Tapi seperti ada sesuatu yang disembunyikannya, " jawabnya.
Sebuah senyuman tersungging di bibir Bang Hendra. Memang seperti itulah Danisha, Mas. Gumamnya dalam hati.
" Kembali ke realita, Mas. Kalian mempunyai jalan dan kehidupan masing-masing sekarang. Lepaskan dan relakan semuanya, itu akan lebih baik. Tidak ada yang saling tersakiti dan terluka, " tutur Bang Hendra sembari menepuk bahu Mas Rendra.
Mas Rendra menghela napasnya panjang dan tersenyum getir.
" Akan aku coba, Hen, " ucapnya kemudian.
********
Mobil Saka telah berhenti di depan rumah Danisha. Namun, gadis itu masih terlelap dengan posisi setengah berbaring di kursi depan di samping Saka.
Saka tidak tega membangunkan kekasihnya yang lelap sekali tidurnya. Wajahnya masih terlihat sedikit pucat. Ia pun memposisikan kursinya setengah berbaring, lalu ia pun ikut memejamkan matanya dengan mesin mobil yang masih menyala.
Danisha menggeliat dan mengerjapkan kedua matanya mencoba mengumpulkan kesadaran. Ia terhenyak mengetahui dirinya tertidur di dalam mobil. Ia melihat Saka yang juga tertidur di kursinya. Lalu ia melihat sekitar, mobil Saka berhenti di depan rumahnya.
" Sayang... Bangun ! " Danisha mencoba membangunkan Saka dengan menggoyang-goyangkan lengannya. Namun tak ada tanda-tanda Saka membuka matanya.
Diusapnya lembut jemari tangan Saka. Perlahan Saka membuka matanya. Mengerjap dua kali, sebuah senyuman indah menyambutnya kala kesadarannya sudah terkumpul.
" Hey, Beauty ! " panggilnya pada sang pujaan hati.
" Hey, Handsome ! " balas Danisha tersenyum sumringah, sebelah matanya mengedip.
" Eh ? Please don't do that, Bee ! " sergah Saka sambil menatap gemas gadis yang tersenyum dengan lesung pipinya yang dalam .
" Apa ? " goda Danisha, melirik tajam lelaki rupawan penjaga hatinya.
" Bee.... "
" Apa, sih ? Turun, yuk ! " ajak Danisha manja, tangannya memegang lengan Saka.
" Aku ga sabar buat halalin kamu, Sayang ! " ungkap Saka bahagia.
" Satu lagi ! Lain kali berdandan biasa aja ya, Bee. Jangan terlalu cantik. Aku ga suka banyak laki-laki yang ngeliatin kamu, " pinta Saka posesif.
Danisha menaikkan kedua alisnya diikuti gelengan kepala dan berdecak pelan.
" Udah ga sakit kepalanya ? " tanya Saka kemudian.
" Sedikit, " jawabnya singkat.
Saka tersenyum, " Maaf ya, Bee. "
" Jangan begitu lagi ya, Sayang. Jangan pernah pergi tanpa pamit. Jangan pernah ninggalin aku lagi, " ucap Danisha menatap lekat kekasihnya.
Saka menganggukkan kepalanya pasti. Lalu ia membuka central lock mobilnya setelah melepas seat belt. Keduanya pun keluar dari mobil bersama-sama.
*******
Satu minggu kemudian setelah acara resepsi pernikahan Mas Rendra.
Pagi itu di rumah Saka.
Bu Dinda sibuk di dapur sedang memotong beberapa macam buah untuk dijadikan salad buah.
" Bikin apa, Ma ? " tanya Saka sembari menenggak minuman dingin yang baru saja ia ambil dari dalam lemari pendingin. Ia baru saja selesai jogging di halaman belakang rumahnya.
" Bikin salad buah, " sahut Bu Dinda.
" Kalian jadi beli cincin nanti siang ? " tanya Bu Dinda kemudian sembari menata potongan-potongan buah ke dalam sebuah wadah.
" Belum tau, Ma. Nanti mau ke kantor Kak Sandra dulu, undangannya kemarin belum diambil, " ujar Saka, tangannya mencomot potongan buah apel yang langsung dilahapnya.
" Iya, tuh ! Buruan diambil. Kemarin Mama dan Bundanya Danish sama-sama lupa ga bawa undangannya. Kakakmu juga ga mengingatkan. Maklum orang tua, " terang Bu Dinda sambil terkekeh.
" Jadi, catering nya udah beres ya, Ma ? " tanya Saka memastikan.
" Udah. Tapi menunya mau Mama tambahin. Kemarin di sana Mama disuruh mencicipi lasagna. Enak banget, lho, Ka. Jadi mau Mama tambah lasagna untuk menunya, " tutur Bu Dinda, tangannya sibuk mengaduk potongan buah dengan saus saladnya.
" Terserah Mama dan Bunda. Kita nurut aja, " ucap Saka.
__ADS_1
" Kalau jadi ke toko perhiasan, bilang sama Mama ya. Mama mau ikut, " cetus Bu Dinda sembari memasukkan salad buah ke dalam lemari pendingin yang terletak di ruang makan.
" Kalau mau ikut, ya berangkat pagi lho, Ma. Kan ke kantor Kak Sandra dulu, " ujar Saka.
" Mama nyusul aja, Ka. Mama masih ada urusan sama ibu-ibu kompleks, " cetus Bu Dinda.
" Ya, udah ! " sahut Saka berlari ke lantai atas tempat kamarnya berada.
Di dalam kamar, ia segera melepas kaos singlet gym nya yang sudah basah karena keringat. Lalu ia meraih ponsel yang ada di atas meja yang tadi sedang diisi baterai.
Setelah ponselnya menyala, ia melakukan panggilan video ke nomor Danisha.
" Hai, Bee, " Saka melambaikan tangannya setelah panggilan video nya di terima kekasihnya. Raut bahagia terpancar di wajahnya yang masih berpeluh.
" Sayaaanngg !! Koq ga pake baju, sih ! " pekik Danisha sambil menutup wajah dengan sebelah tangannya.
Saka tergelak tawa melihat kekasihnya yang menutup wajah di layar ponselnya.
" Aku habis jogging dan work out, Bee. Gerah, kaosnya basah karena keringat. Biasakan, nanti juga tiap hari kamu bakal ngeliat aku kek gini, lho ! " celoteh Saka dengan sedikit tawa.
" Ayo, dong... pakai baju dulu, Sayang. Ish ! " rengek Danisha manja, masih menutup wajahnya.
" Ya udah, aku mandi dulu. Kamu udah mandi belum ? "
" Udah, lah ! "
" Kalau belum, kita bisa mandi bareng, " canda Saka terkekeh.
" Apaan, sih ! Jangan mesum ! " sungut Danisha.
" Sapa juga yang mesum, Bee... Mandi bareng maksudnya kita bareng mandinya sekarang, kamu mandi di rumah kamu, aku mandi di sini. Ish ! Sapa yang mesum, hayoo... ! " Saka terkekeh menggoda Danisha.
Spontan Danisha membuka tangannya yang menutupi wajahnya. Sesekali menunduk karena malu melihat Saka yang bertelanjang dada. Terlihat tubuh kekasihnya yang terawat baik karena rajin berolah raga. Apalagi sedikit peluh yang membasahi dada bidang dan perut sixpack nya. Jantungnya berdegup kencang seolah ia habis berlari maraton.
Dengan raut cemberut, bibir tipisnya mengerucut. Membuat Saka semakin gemas.
" Akhir-akhir ini kamu menggoda banget, sih, Bee. Bener-bener ga sabar segera halalin kamu, " ujar Saka menatap lekat wajah kekasihnya yang terlihat cantik alami di layar ponselnya.
Wajah Danisha terlihat merona. Ia tersenyum sumringah.
" Sabar, 20 hari lagi, kan ? Ya, udah. Mandi, gih. Aku tunggu di rumah. Jadi ke kantor Kak Sandra, kan ? "
" Berapa hari ga ketemu, aku kangen banget, Bee. Pengen peluk kamu, " Saka menatap Danisha di layar ponselnya dengan tatapan sendu dan sayu.
" Hush ! Sabar, dong ! Buruan mandi, gih ! Miss you and love you... ! " ujar Danisha melambaikan tangannya dengan senyum sumringah.
Saka tersenyum simpul dan melambaikan tangannya, lalu panggilan terputus.
********
Distha dan Prasta baru saja keluar dari ruangan dosen. Mereka berjalan beriringan menuju tempat parkir.
" Kamu mau langsung kerja, Pras ? " tanya Distha pada Prasta.
" Ya iyalah, Sist. Kamu langsung pulang ? " Prasta bertanya balik.
" Mau ke rumah sakit jemput Mas Dokter. Mobilnya lagi di bengkel, servis bulanan. Jadi nanti antar dia ke bengkel dulu, " jawab Distha gamblang.
Prasta manggut-manggut dan tersenyum tipis.
" Oh ya, Saka atau Danisha ada nelpon kamu ? " tanya Prasta yang baru saja ingat jika ia diminta datang ke rumah Saka besok malam.
" Danisha nelpon tadi, katanya kalau bisa besok malam kita ke rumah Saka. Katanya mau ngomongin acara pernikahan mereka, " ujar Distha.
" Alhamdulillah, ya, Dis. Ga nyangka mereka bisa sampai ke tahap yang sangat penting dalam hidup mereka. Aku salut sama Saka. Perjuangannya membuahkan hasil, " ucap Prasta serius. Namun terdengar nada penyesalan di dalam ucapannya.
" Iya, bener. Kamu yang sabar. Coba lebih mengalah, Pras. Dekati Renata. Kamu rela dia sama laki-laki brengsek itu ? " Distha mencoba memberi dukungan dan saran pada Prasta mengenai hubungannya dengan Renata.
" Aku sedang berusaha ini, Sist. Doain yang terbaik, ya, " ucap Prasta optimis.
Sementara itu, setelah dari kantor Kak Sandra mengambil undangan, Saka dan Danisha pun pergi menuju ke toko perhiasan yang terletak di sebuah mall.
Sebelumnya, Saka menghubungi Bu Dinda, Mamanya, mengabarkan bila mereka sedang meluncur ke toko perhiasan. Namun, rupanya Bu Dinda telah berangkat menuju toko perhiasan yang direkomendasikannya itu bersama Pak Damar.
Saka menggelengkan kepalanya. Sementara Danisha tersenyum geli, ia mendengar percakapan Saka dan Mamanya yang sengaja dipasang mode speaker.
" Itu mertuamu, Bee. Maaf ya, semoga kamu ga kaget nanti, " cetus Saka sembari melirik sekilas Danisha yang masih tersenyum geli.
" Ga, aku ga kaget, kok ! Aku paham Mama gimana. Mama ingin yang terbaik untuk anaknya. Justru aku yang takut, " ucap Danisha, nada suaranya beralih serius.
Saka menautkan kedua alisnya. Lalu melirik Danisha yang terlihat sendu.
" Hey ! Ada apa, Bee ? Kamu takut apa ? " tanya Saka, sebelah tangannya mengusap lembut tangan Danisha, calon istrinya.
" Ga apa-apa, Sayang, " Danisha tersenyum menatap Saka yang tetap fokus dengan kemudinya.
" Jangan takut, Bee. Aku ga akan pernah ninggalin kamu apapun yang terjadi. Maafkan aku waktu itu, ga akan aku ulangi lagi. I love you as always, " tutur Saka meyakinkan Danisha.
__ADS_1
Danisha tersenyum tipis dan terdiam. Bukan itu, Ka. Aku takut, aku bukan yang terbaik buat kamu. Aku takut tidak bisa menjadi menantu yang terbaik untuk Mama, batin Danisha.
Tbc