
Aku tak ingin apapun
Aku hanya ingin bersamamu
Mencintaimu seumur hidup dan matiku
- Danisha -
Danisha masih di ruang siaran menyelesaikan tugasnya hari ini. Ia sudah berpamitan menutup jam siarannya. Namun, Yogi yang akan bertugas selanjutnya belum terlihat di studio.
Tiba-tiba pintu ruang siaran terbuka. Tampak Yogi masuk dengan napas sedikit tersengal.
" Sorry ya, Al. Ban motorku bocor, " ujar Yogi sembari meletakkan tasnya di bawah meja siaran.
Yogi memanggil Danisha dengan nama Alma, seperti halnya Mala.
" Apes banget ! Tambal bannya lumayan jauh lagi ! " imbuhnya sembari terkekeh.
Danisha pun ikut terkekeh. Lalu ia bersiap pergi dari ruang siaran.
" Santai aja, Gi. Hitung-hitung olah raga, kan, Gi, " sahut Danisha tersenyum tipis.
Kembali Yogi terkekeh sembari memasang headphone di kepalanya.
" Oh ya, besok dah cuti ya, Al ? Duh yang mau jadi pengantin.... " goda Yogi pada Danisha yang akan pergi dari ruangan itu.
" Ish ! Kamu tuh sempat-sempatnya, lho ! On air sana ! " sungut Danisha, bibirnya mencebik. Lalu ia pun keluar ruang siaran.
Yogi terkekeh sebelum kemudian dia mulai on air memberi sapaan kepada para pendengar Radio DG FM.
Danisha masuk ke ruangan penyiar untuk berpamitan pada Kak Ella. Saat ia masuk, Kak Ella sedang berbicara di ponsel dengan seseorang. Ia pun duduk di sofa yang ada di ruangan itu sembari mengambil tumblernya yang berisi air mineral hangat. Disesapnya air hangat itu perlahan untuk membasahi tenggorokannya yang sedikit kering.
Kak Ella melirik Danisha sekilas setelah menyudahi percakapannya di ponsel. Tersenyum menatap gadis itu, sebelum akhirnya membuka suaranya.
" Gimana nih, yang mau married ? Gugup, ya ? " tanya Kak Ella, pertanyaannya meledek.
Danisha berdecak sembari tersenyum simpul.
" Ck ! Kek belum pernah aja sih, Kak ! " sahut Danisha sebal.
Kak Ella terkekeh mendengar jawaban Danisha, lalu duduk di samping gadis yang terlihat resah.
" Dijemput Saka ? " tanya wanita cantik beranak satu itu.
Danisha mengangguk.
" Emang harus, ya, Kak. Calon pengantin dipingit sebelum hari H ? " tanya Danisha kemudian.
Kak Ella tersenyum lebar.
" Aku juga ga paham, sih ! Tapi emang begitu kata orang-orang tua. Ga tau juga apa maksudnya, " jawab Kak Ella mengedikkan bahu.
" Aku dulu juga ngikut aja apa kata orang tua, Danish. Berpikir positif aja, banyakin doa juga, " imbuh Kak Ella.
Danisha menganggukkan kepalanya.
" Iya, Kak. Ini Dian dan lainnya pada kemana, Kak ? Ga keliatan, " ujar Danisha menanyakan keberadaan Dian dan yang lainnya.
" Dian dan timnya lagi nemuin klien. Anak finance tadi diminta nemuin Pak Andre di kantor satunya, " terang Kak Ella.
" Pantes sepi, pada ngilang, " cetus Danisha.
Ponsel Danisha berbunyi. Pesan masuk dari Saka yang mengatakan dia sudah datang dan menunggu di depan studio.
" Kak, aku pulang, ya. Saka udah nunggu di depan. Aku tunggu hari Sabtu ya, Kak. Minta doanya dan makasih banyak buat semuanya, " pamit Danisha.
" Insya Allah, Danish. Kamu jangan terlalu capek, jaga kesehatan, ya, " saran Kak Ella, memberikan pelukan pada Danisha.
Danisha tersenyum dan membalas pelukan dari seniornya.
Setelahnya, Danisha beranjak dari ruangan itu dan berpamitan pada Yogi yang sedang bertugas.
*******
Danisha mengamati Saka yang sedang berbicara di ponselnya. Terlihat serius. Ia hela napasnya dalam, masih mengamati wajah tampan yang 3 hari lagi sah menjadi kekasih halalnya.
Terima kasih ya Allah, telah Kau berikan lelaki hebat ini dalam hidupku. Lelaki dengan ketulusan cinta yang luar biasa tiada cela. Begitu pun dengan keluarganya yang hebat dan penuh kasih sayang. Haruskah aku mengatakan sejujurnya tentang sakitku kepada mereka ? Suara hati Danisha berbicara.
" Bee ? " Saka menggenggam jemari tangan Danisha, membuat gadis itu segera sadar dari kecamuk pikirannya. Ia tersenyum tipis pada kekasihnya dengan sedikit helaan napasnya.
" Maaf, ya. Klien yang nelpon. Udah beres, kok ! " ucap Saka memberi penjelasan.
" Iya, ga apa-apa, " sahut Danisha lembut dengan senyum terukir manis di bibirnya.
Mereka sedang berada di sebuah cafe bernuansa outdoor yang terletak di sebelah timur kota.
" Kok belum dimakan ? " tanya Saka melihat makanan yang tersaji di meja masih utuh dan belum tersentuh. Lalu pandangannya beralih ke Danisha yang terlihat murung.
" Kenapa, Bee ? Capek ? Kepalanya sakit ? " tanya Saka beruntun sembari mengusap lembut jemari kekasihnya.
Danisha menggeleng, lalu tersenyum pada lelaki hebat di hadapannya. Bagaimana aku harus mengatakannya padamu ? gumamnya dalam hati.
__ADS_1
" Ya, udah. Kita makan sekarang, " sahut Saka, tangannya hendak mengambil nasi tetapi langsung ditahan oleh Danisha.
" Biar aku aja, " Danisha mengambil piring dari tangan Saka, kemudian mengambilkannya nasi serta lauk dan sayur yang dipilih calon suaminya.
Saka memperhatikan Danisha yang melayaninya makan. Hatinya sangat bahagia, matanya berbinar dan senyuman manis membingkai wajah rupawannya.
" Makasih, Bee. Aku udah ga sabar kita bisa seperti ini setiap hari. Makan ditemani dan dilayani istri yang sangat kucintai. Rasanya luar biasa dan sempurna, " ucap Saka, menatap calon istrinya.
Danisha tersenyum simpul dengan wajah merona. Namun hatinya terasa nyeri ketika Saka mengucapkan kata sempurna.
Ia teringat perkataan Dokter Aldi tentang efek dari pengobatan yang dilakukannya. Salah satu efeknya adalah pada organ reproduksi, ia akan sulit mempunyai keturunan. Apakah bisa ia dibilang sempurna ? Apakah bisa pernikahan dan rumah tangganya nanti dikatakan sempurna ?
" Kenapa, Sayang ? Makanannya ga enak ? " tanya Saka, melihat Danisha hanya mengaduk makanan di piringnya. Seperti tidak berselera.
Lagi-lagi Danisha hanya tersenyum dengan gelengan kepala. Lalu perlahan, disuapnya sesendok nasi dengan lauk ke mulutnya.
Saka menatap Danisha heran dan penuh tanya. Sedari tadi di mobil pun, Danisha tidak banyak berbicara, lebih banyak diam.
" Lagi mikirin apa, sih ? " tanya Saka lagi, tangannya kembali meraih jemari Danisha dan mengusapnya lembut penuh cinta.
" Bee, tolong jangan begini, dong. Mulai besok kita ga boleh ketemu, please jangan diam dan murung. Kamu ga bahagia ? "
Danisha yang terdiam dan menunduk sontak menegakkan kepalanya mendengar kalimat terakhir Saka.
" Kamu ga bahagia dengan pernikahan ini ? Iya, Bee ? " kembali Saka bertanya penuh penegasan ingin mendapat jawaban dari Danisha yang hanya terdiam.
Danisha menatap sendu lelaki hebatnya. Apa yang harus aku katakan ? Aku bahagia, sangat bahagia dan teramat sangat bahagia. Tapi apa aku bisa bahagia bila aku tidak bisa membuatmu bahagia ? Batin Danisha lirih.
" Aku sangat bahagia karena kamu selalu membuat aku bahagia. Bagaimana bisa aku tidak bahagia, aku punya kamu, yang selalu mencintaiku dan memberikan segalanya untukku. Kamu membuat diriku yang tidak sempurna menjadi sangat sempurna. Allah memberikanku lelaki yang hebat untukku, " ungkap Danisha penuh kesungguhan. Ia menautkan jemarinya dengan jemari Saka, lelaki hebatnya. Susah payah ia bertahan untuk tidak menangis. Saat ini yang ia harapkan adalah mukjizat itu datang kepadanya.
Saka menggenggam erat jemari Danisha. Tersenyum penuh makna pada kekasih hatinya. Ungkapan perasaan kekasihnya sungguh membuatnya tenang dan bahagia.
" Lalu kenapa kok diam dan murung, Bee ? " Saka bertanya lagi, kali ini ia menggeser tempat duduknya mendekati Danisha.
Danisha menghela napasnya singkat. Tersenyum kecil pada Saka dan mengusap lembut rahang kokoh calon suaminya itu.
" Ga ada apa-apa, Sayang. Aku cuma gugup, deg-degan. Selama dua hari besok ga bisa ketemu kamu, " jawabnya lirih.
" Sama, Bee. Aku juga deg-degan dan ga sabar menunggu saatnya hubungan kita dinyatakan sah oleh penghulu, " cetus Saka.
" Semoga semua dilancarkan ya, Bee. Semoga doa-doa kita diijabah Allah. I love you, Sayang, " ucap Saka kemudian.
" Aamiin ya rabbal alamiin... Makasih, I love you ! " sahut Danisha menengadahkan kedua telapak tangan dan mengusapkan diwajahnya, lalu menatap Saka penuh cinta.
Sementara itu, terdengar alunan musik di cafe itu. Lagu yang sudah cukup lama tak didengar Danisha. Namun, masih sangat disukainya.
🎶🎶
Bagaikan tetesan hujan di batasnya kemarau
Menghapus dahaga jiwaku akan cinta sejati
Betapa sempurna dirimu di mata hatiku
Tak pernah ku rasakan damai sedamai bersamamu
Tak ada yang bisa yang mungkinkan mengganti tempatmu
Ooh Kau membuat ku merasa hebat
Karena ketulusan cintamu
Ku merasa teristimewa hanya...
Hanya karena (karena) karena cinta (cinta)
Kau beri padaku sepenuhnya
Buatku selalu merasa berarti
Kini ku merasa hebat
Karena kau yang membuat ku makin kuat
Jantungku bergerak cepat
Semua yang berat bisa lewat
Inikah cinta yang sejati, cinta
Melayang ku terbang berenang di awan
Tak akan kita kan lepas dan jatuh sekarang
Cinta, sang cinta, kita kan terus mencinta
Betapa sempurna dirimu di mata hatiku
Tak pernah ku rasakan damai sedamai bersamamu
Tak ada yang bisa yang mungkinkan mengganti tempatmu
__ADS_1
Kau membuat ku merasa hebat
Karena ketulusan cintamu
Ku merasa teristimewa hanya...
Hanya karena (karena) karena cinta (cinta)
Kau beri padaku sepenuhnya
Buatku selalu merasa ooh....
- Hebat by Tangga -
********
Dokter Ardhy sedang berjalan di lorong rumah sakit ketika berpapasan dengan Suster Indah, perawat asisten Dokter Aldi yang baru saja keluar dari ruang laboratorium.
" Suster Indah ! " panggil Dokter Ardhy.
" Ya, Dok. Bisa saya bantu ? " sahut Suster Indah.
" Dokter Aldi ada di ruangannya ? " tanya Dokter Ardhy.
" Ada, Dok. Dokter Ardhy mau ke ruangan Dokter Aldi ? " tanya balik Suster Indah.
" Iya. Udah ga ada pasien, kan ? "
" Ga ada, Dok. Eh, kebetulan kalau Dokter Ardhy mau menemui Dokter Aldi. Saya titip ini ya, tolong sampaikan ke Dokter Aldi, " ujar Suster Indah sambil menyerahkan beberapa file kepada Dokter Ardhy.
Dokter Ardhy menerima file tersebut.
" Tolong, ya, Dok. Saya terburu-buru, tadi dipanggil Suster Kepala diminta ke ruangannya, " pinta Suster Indah, sebuah senyuman tersungging di bibirnya.
Dokter Ardhy tersenyum simpul.
" Baiklah ! Saya lagi baik hati sekarang, " ucap Dokter Ardhy tersenyum kecil pada Suster Indah.
" Makasih, Dokter. Saya permisi, " pamit Suster Indah yang langsung bergegas meninggalkan Dokter Ardhy.
Dokter Ardhy pun segera beranjak pergi menuju ruangan praktek Dokter Aldi. Matanya menatap file tersebut sekilas. Namun, ada sesuatu yang membuatnya ingin melihat file itu kembali. Pandangannya pun tertuju pada tulisan di file tersebut.
Nn. Danisha Almanita.
Salah satu file yaitu file paling atas yang dipegangnya bertuliskan nama seseorang yang sangat ia kenal. Danisha.
Rasa ingin tahunya pun muncul. Perlahan ia membuka file itu. Wajahnya serius ketika membaca tulisan yang ada didalamnya. Lalu sesaat ia terdiam terpaku. Danisha, gumamnya. Setengah berlari, ia menuju ke ruang praktek Dokter Aldi.
Di depan ruang praktek Dokter Spesialis Bedah Syaraf itu, ia mengetuk pintu dan memberikan salam. Tak lama, terdengar sahutan dari dalam dan Dokter Ardhy pun membuka pintu itu sedikit tergesa.
Dokter Aldi yang masih duduk di kursi kerjanya tersenyum menatap rekannya yang nampak sedikit tersengal napasnya.
" Habis berlari, Dok ? " tanya Dokter Aldi tersenyum simpul.
Dokter Ardhy sudah duduk di hadapan Dokter Aldi. Melihat rekan sejawatnya yang memasang wajah serius, membuat Dokter Aldi ikut serius.
" Ada apa ? " tanya Dokter Aldi, memandang Dokter Ardhy penuh dengan tanya.
Dokter Ardhy menyerahkan file yang dititipkan Suster Indah kepada Dokter Aldi.
" Maaf, Suster Indah menitipkan ini pada saya, minta diberikan kepada Dokter, " ujar Dokter Ardhy.
" Oh ya, terima kasih. Dia dipanggil oleh Suster Kepala tadi, diminta segera datang ke ruangannya. Barusan dia menghubungi ke sini, " tutur Dokter Aldi santai.
Namun, Dokter Ardhy mengambil satu file, milik Danisha.
" Maaf, Dok ! Ini milik Danisha ? " tanya Dokter Ardhy menatap Dokter Aldi serius.
Dokter Aldi sedikit kaget. Matanya sedikit membulat menatap dokter muda di hadapannya. Helaan napasnya terdengar berat.
" Apakah ada yang Dokter sembunyikan ? " tanya Dokter Ardhy kemudian. Kedua alisnya terangkat.
Lagi-lagi Dokter Aldi menghela napasnya dalam. Lalu meletakkan bolpoin dan melepaskan kacamata bacanya.
" Dokter Ardhy membacanya ? " tanya Dokter Aldi.
" Maaf, Dok. Saya tadi benar-benar tidak sengaja melihat file milik Danisha hingga saya membuka dan membacanya. Maaf ! " jawab Dokter Ardhy jujur.
" Saya juga minta maaf. Sebagai dokter yang menangani sakitnya Danisha, meminta pada Dokter Ardhy untuk tidak mengatakan atau menceritakan kondisi Danisha kepada siapa pun. Ini permintaan pasien, " terang Dokter Aldi sembari menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya.
" Maksud Dokter, tidak ada seorang pun yang tahu tentang kondisi Danisha saat ini ? " tanya Dokter Ardhy memastikan apa yang dikatakan Dokter Aldi.
Dokter Aldi mengangguk pasti.
" Termasuk Saka ? " tanyanya lagi.
" Hanya Danisha dan kita yang tahu, " tegas Dokter Aldi.
Dokter Ardhy yang semula duduk tegak, seketika menurunkan bahunya, tubuhnya lemas.
" Tetapi saya sudah meminta Danisha agar mengatakan kepada keluarga dan calon suaminya mengenai kondisi kesehatannya. Jalan satu-satunya adalah operasi, " lanjut Dokter Aldi.
__ADS_1
" Mereka menikah besok, Dokter. Saya tidak yakin Danisha sudah mengatakan tentang kondisinya pada keluarga terutama pada Saka. Dan saya yakin, Saka tidak mengetahui hal ini sampai saat ini, " ucap Dokter Ardhy diikuti helaan napasnya yang panjang.
Tbc