
**Hai, LOTA Lovers 💞💞
Happy reading & jangan lupa LIKE N KOMEN yess... 😘
Ditunggu juga dukungannya 🤗😉
Semoga puas eps kali ini panjang lho ðŸ¤
Sehat2 slalu yess 🤗😘💞💞**
*******************
Hari operasi pengangkatan tumor di kepala Danisha tiba.
Pagi ini, Danisha terlihat segar dan senyum semringah terpancar dari wajah pucatnya. Ayah dan Bunda yang sudah sejak semalam menginap, saat ini sedang ke kantin untuk sarapan. Danisha sendiri dianjurkan berpuasa selama 12 jam sebelum operasi.
Saka menyesap espresso yang ia dapatkan dari Dokter Ardhy. Kakak sepupunya itu datang membawakannya segelas espresso yang dibelinya di cafe langganannya saat perjalanan ke rumah sakit.
" Mas, jangan sering-sering minum kopi, ya, " celetuk Danisha yang sedari tadi memperhatikan Saka. Suaminya itu sibuk dengan ponsel dan sesekali menyesap espresso nya.
Saka meletakkan ponselnya di meja. Lalu beranjak mendekat ke tempat Danisha berbaring.
" Iya, Sayang. Sesekali aja, kok. Maaf, ya. Tadi ada urusan kerjaan, " ujar Saka dengan sebuah senyuman membingkai wajahnya.
Hari ini, hari yang mendebarkan untuknya. Ia berusaha me-manage hati dan mentalnya untuk menghadapi hari ini, hari operasi pengangkatan tumor di kepala Danisha. Semalaman ia tidak bisa nyenyak tidur. Setelah sholat malam, sekitar pukul 3 dini hari ia baru bisa tertidur pulas. Pukul 5 pagi, Danisha membangunkannya untuk sholat subuh saat Ayah dan Bunda pergi ke musholla.
Saka mencium kening Danisha. Duduk di tepi ranjang menggenggam tangan istrinya.
" Ga sarapan ? " tanya Danisha.
" Itu tadi udah, kan ? Almond cake Mama dan kopi. Cukup kenyang, kok, " jawab Saka tersenyum dan mencium tangan Danisha lembut.
" Jangan suka telat makan, ya. Kopinya dikurangi, " nasihat Danisha, menatap Saka dengan senyum lesung pipinya.
" Yes, Mam ! " sahut Saka.
Danisha terkekeh. Keduanya saling menatap mesra.
" I love you ! " ucap Danisha mesra.
" I love you more, more and more ! " balas Saka mendekatkan wajahnya pada wajah Danisha hingga kedua ujung hidung mereka bertemu dan kening yang beradu.
" Berjanjilah untuk selalu bahagia, Mas. Terima kasih untuk semua cinta yang kau berikan untukku. Terima kasih sudah menemaniku dan menjagaku hingga detik ini. Maafkan aku belum bisa menjadi istri yang sempurna. Maafkan aku yang tidak bisa menjalankan kewajibanku, memberikan hakmu yang seharusnya, " tutur Danisha. Ucapannya terdengar tegar, tanpa ragu dan tak ada isakan.
Saka menutup bibir Danisha dengan kedua jarinya. Namun dengan cepat, Danisha memegang tangan Saka dan menggenggamnya. Kemudian perlahan meletakkannya di dada perempuan yang saat ini mengenakan jilbab berwarna bata itu.
" Please, dengerin dulu aku bicara. Jangan memotong, ya ? " pinta Danisha dengan wajah memohon.
Saka menghela napasnya panjang. Sejatinya, ia tak ingin mendengar Danisha berbicara mengenai hal yang aneh-aneh. Ia hanya ingin menikmati kebersamaan mereka dan berbicara tentang hal-hal positif untuk kesembuhan istrinya.
" Mas ? "
" Ya, Sayang... Baiklah ! Aku dengerin, " ucapnya dengan senyum yang sedikit dipaksakan.
Danisha tersenyum, lalu mencium pipi Saka sekilas.
" Mas... Sejak aku tau penyakitku, aku tau bagaimana hidupku selanjutnya. Waktu itu aku pesimis. Tetapi Dokter Aldi memberiku semangat untuk sembuh. Begitu pun dengan Ayah dan Bunda. Terlebih ada kamu yang selalu menemaniku dan menjagaku di rumah sakit waktu itu. Prasta, Distha, Mama dan Papa. Semua orang begitu menyayangiku, memberiku dukungan untuk melawan penyakit ini. Rasa bahagia saat itu mendengar Dokter Aldi yang memberitahu bahwa kondisiku saat itu telah membaik dan dari hasil CT scan, tumor di kepalaku telah hilang. Kebahagiaanku bertambah saat kamu melamarku dan akan menikahi ku. Selain bahagia, rupanya aku juga takut. Karena beberapa hari setelah kamu melamarku, aku datang pada Dokter Aldi untuk diperiksa karena aku kembali merasakan sakit kepala yang intens. Dan hasilnya seperti yang kau tau. Maaf, jika aku tak pernah memberitahumu. Maaf karena kebohonganku ini. Aku merasa bingung, tidak tau harus bagaimana. Aku dilema. Sungguh, waktu itu aku ingin menolak untuk menikah denganmu mengingat kondisiku dengan penyakit ini. Aku ragu apa aku bisa membahagiakanmu. Namun, saat aku melihatmu yang sangat bersemangat menjelang pernikahan kita, melihat kedua orang tuaku dan kedua orang tuamu yang sangat bahagia. Aku tak bisa menolaknya. Terlebih karena aku sangat mencintaimu. " Danisha menjeda bicaranya, ia menarik napasnya dalam.
" Sayang... Aku juga sangat mencintaimu dan ga akan berhenti mencintaimu. Kamu tau itu, " tukas Saka sembari menatap manik hitam milik istrinya penuh cinta.
" Aku tau, Mas. Aku tau. Aku akan berjuang, Mas. Aku ga akan menyerah dengan penyakitku. Namun, kita ga bisa menolak takdir bila terjadi sesuatu.... "
" No ! Ga akan terjadi apa pun ! Setelah operasi, kamu akan sembuh. Ok ? Kita akan selalu bersama dengan anak-anak kita. Aku udah siapin semua untuk keluarga kecil kita, Bee. Kamu akan segera sembuh ! " sanggah Saka.
" Mas... tolong jangan potong bicaraku ! Dengerin aku ! " Danisha menangkup wajah Saka memintanya untuk mendengarkan bicaranya.
Saka menggelengkan kepalanya.
" Mas, denger ! Aku mau kamu bahagia walaupun tanpa aku. Aku ikhlas kamu memiliki perempuan lain apa pun yang terjadi nanti. Aku ridlo. Satu lagi. Apa pun yang terjadi, setelah aku operasi, tolong segera selesaikan sidang skripsimu. Aku minta kamu maju sidang secepatnya dan wisuda tahun ini. Jangan membantah ! " ucap Danisha serius dan tegas, masih menangkup wajah Saka di hadapannya. Menatap manik teduh suaminya tanpa isakan.
Kedua mata yang bening tanpa air mata itu menatap Saka intens.
Saka memegang kedua tangan Danisha. Dadanya bergemuruh mendengar panjang lebar bicara Danisha. Kegelisahan dan ketakutan kembali menghampirinya. Namun, itu hanya sesaat. Danisha sangat tegar, tidak ada air mata saat dia berbicara. Maka, iapun harus lebih tegar dari istrinya. Seperti yang pernah Papanya bilang, ia adalah imam, benteng, pegangan dan pelindung bagi istri dan anak-anaknya. Ia harus lebih kuat dan lebih tegar, tidak boleh kalah dan menyerah dalam kondisi apa pun.
" Kita berjuang sama-sama, ya, Sayang. Aku yakin semua akan baik-baik saja. Aku bersamamu. Ya ? " ucap Saka, mati-matian ia berusaha mengendalikan hati dan emosinya.
" Janji ya, Mas. Aku ingin kamu wisuda tahun ini. Dan... Aku ikhlas dan ridlo kamu bersama perempuan lain yang bisa membuatmu bahagia. Promise ? Please.... " mohon Danisha penuh pengharapan.
Saka menatap lekat wajah belahan jiwanya. Ia merengkuh tubuh istrinya ke dalam dekapannya. Erat dipeluknya tubuh ringkih istrinya. Mencium puncak kepala istrinya yang tertutup hijab. Merasakan wangi white musk khas istrinya.
" Mas ? Promise ? " Kembali Danisha meminta Saka berjanji.
Lidah Saka terasa kelu. Ia tak sanggup untuk berjanji.
" Sayang... Insya Allah aku akan wisuda tahun ini. Ok ? Sekarang kamu istirahat, ya... Sebentar lagi Dokter Aldi datang, " ucap Saka kemudian. Diciumnya kening Danisha, kedua kelopak mata, lalu hidung mancung istrinya dan terakhir bibir pucat yang selalu menggemaskannya. Cukup lama Saka mengulum bibir Danisha. Hingga suara ketukan pintu mengagetkan keduanya yang sontak melepaskan ciuman mereka.
" Assalamualaikum.... "
" Waalaikumsalam.... " sahut Saka dan Danisha bersamaan.
Ayah dan Bunda masuk sembari tersenyum.
" Maaf ya, Ayah dan Bunda lama. Tadi sekalian sholat Dhuha di musholla, " ujar Ayah sembari mendekat ke ranjang Danisha.
" Ga apa-apa, Yah. Kan ada Saka di sini, " ujar Saka.
" Bee, aku ke musholla dulu, ya. Udah ada Ayah dan Bunda. Mama juga sebentar lagi datang, " kata Saka kemudian.
Danisha mengangguk dengan senyum manisnya. Sebelum beranjak, Saka mengecup kening Danisha, lalu berpamitan pada Ayah dan Bunda.
__ADS_1
********
Di studio radio DG FM, Kak Ella sedang mengobrol bersama Bang Hendra dan Renata. Mereka berencana untuk datang ke rumah sakit untuk memberi dukungan pada Danisha. Kebetulan, Kak Ella sudah selesai bertugas. Renata masih bertugas sampai jam 10 pagi ini. Sedangkan Bang Hendra mendapat giliran tugas siaran malam.
" Kita langsung berangkat setelah aku selesai siaran, ya. Operasinya jam 2 siang ini, kan ? " Renata mengajak rekannya untuk berangkat ke rumah sakit segera setelah ia selesai bertugas.
" Iya, " jawab Kak Ella singkat.
" Ijin si Bos gimana, Kak ? Kakak ya, yang ijin ? " tanya Bang Hendra tersenyum simpul.
" Kamu aja, gimana ? Kan, kamu pawangnya, " sahut Kak Ella terkekeh.
" Eh ! Emang ular, pake pawang ! " tukas Bang Hendra ikut terkekeh.
" Jinak kalau sama kamu, sih ! " sahut Kak Ella asal.
Renata ikut tertawa sembari menutup mulutnya, takut terdengar si Bos.
" Udah, ah ! Aku lanjut on air dulu, " cetus Renata kemudian setelah mengurangi suara tawanya.
Kak Ella dan Bang Hendra pun beranjak keluar ruang siaran. Masih terkekeh akibat obrolan mereka.
Kembali ke rumah sakit.
Saka masih duduk terdiam di dalam musholla. Mulutnya bergumam kalimat-kalimat dzikir penentram jiwa. Jangan bertanya bagaimana perasaannya saat ini. Perempuan yang sangat dicintainya, yang belum sebulan sah menjadi istrinya, saat ini harus berjuang melawan penyakit yang bisa merenggut nyawanya sewaktu-waktu. Ia sendiri sedang berjuang menata hati dan mentalnya.
Terngiang di kepalanya penuturan Dokter Aldi tentang resiko pasca operasi pengangkatan tumor. Lalu permintaan Danisha yang membuat dadanya sesak.
Tak akan kulakukan itu, Sayang. Tidak akan ! Tak akan ada yang bisa membuatku bahagia selain kamu. Please, bertahanlah, Sayang ! Berjuanglah ! Aku takut, Ya, Allah ! Aku sungguh takut ! Tolong angkat penyakit istriku. Berikan mukjizatMu untuknya, Ya, Allah ! Dia kebahagiaanku, napasku dan rumahku !
Batin Saka terus berbicara. Ia berdoa dalam diam. Tak menyadari air matanya jatuh perlahan dari pelupuk matanya. Batinnya terus mengucapkan doa-doa untuk kesembuhan istrinya.
Saka tersentak saat sebuah tangan memegang bahunya. Seketika matanya menatap seseorang yang menepuk bahunya.
" Pras ! "
Terburu-buru ia menghapus air matanya.
Prasta duduk di samping sahabatnya dengan seulas senyuman tipis.
" It's ok, Bro ! Menangislah ! Bahuku selalu tersedia buatmu jika kau butuh bersandar, " ucap Prasta pelan, tangannya masih memegang bahu sahabatnya.
Saka tersenyum, " Thanks, Bro ! "
Dirangkulnya tubuh Prasta setelah mengucapkan terima kasih. Sesaat mereka terdiam. Prasta menepuk pelan punggung Saka.
" Dia akan sembuh, kan ? Dia pasti sembuh, kan, Pras ? Dia ga akan ninggalin aku, kan ? " ujar Saka mencecar Prasta.
Prasta tersenyum tipis sembari menepuk pelan punggung sahabatnya.
" Insya Allah Danisha akan sembuh. Yakinlah pada Allah dengan meminta kesembuhan Danisha padaNya. Kita sudah berikhtiar sebaik mungkin, selebihnya hanya kekuatan doa yang bisa membantu kita, " tutur Prasta menenangkan dan memberi dukungan sahabatnya.
" Tadi aku bertemu Bang Ardhy, katanya Dokter Aldi sebentar lagi akan menemui Danisha. Ayo, kita kembali ke kamar Danisha ! " ujar Prasta sembari berdiri.
Saka menganggukkan kepalanya dan beranjak berdiri. Keduanya pun keluar musholla. Sebelum meninggalkan musholla, Saka mencuci wajahnya terlebih dulu supaya terlihat segar.
********
Saat ini di dalam kamar Danisha, Ayah duduk di tepi ranjang sisi kanan dan Bunda duduk di sisi kiri Danisha.
" Ayah, Bunda. Danish minta maaf ya, selama ini banyak merepotkan. Maaf, Danish belum bisa membahagiakan Ayah dan Bunda. Danish belum bisa menyelesaikan kuliah, belum bisa membuat Ayah dan Bunda bangga. Terima kasih banyak buat semua kasih sayang dan pengorbanan Ayah dan Bunda untuk Danish. Entah seperti apa Danish tanpa Ayah dan Bunda. Danish mempunyai orang tua yang hebat. Danish mohon doa nya ya, Danish mohon Ayah dan Bunda ikhlas apa pun nanti yang terjadi pada Danish. Danish ikhlas. Danish ridlo, " ucap Danisha lirih menatap wajah kedua orang tuanya bergantian.
Ayah tersenyum menatap lembut wajah putri sulungnya. Mencium puncak kepala dan mengusapnya penuh sayang. Sementara Bunda memeluk lengan kiri putrinya dan sesekali mengecup pelipis putri sulungnya.
Kedua orang paruh baya itu terlihat tegar. Mereka tidak ingin memperlihatkan bagaimana hancurnya hati mereka sesungguhnya. Putri yang mereka sayangi mengidap penyakit yang sewaktu-waktu bisa merenggut nyawanya. Sejak mereka tahu penyakit putrinya, mereka sudah menyiapkan dan menata hati mereka untuk tegar dan ikhlas menerima cobaan yang sudah digariskan Allah.
" Ayah, Bunda. Danish titip Saka. Danish ikhlas jika nanti Saka menemukan perempuan lain yang bisa membuat dia bahagia. Danish ingin Saka bahagia. Danish ridlo, " lanjut Danisha serius.
" Aku bahagia sama kamu, Sayang... bukan sama yang lain ! " seru Saka yang tiba-tiba masuk.
" Maaf, Yah, Bunda ! " ucapnya pada Ayah dan Ibu Mertuanya.
Saka mendekat pada Danisha dan mencium kening istrinya.
" Ka, tadi Dokter Aldi sudah kemari. Kemungkinan operasinya maju satu jam, " ujar Ayah.
" Iya, Yah. Tadi Bang Ardhy juga bilang begitu, " ucap Saka membenarkan.
" Hai, Sist ! Semangat, ya ! " Prasta menyapa Danisha dan mengedipkan sebelah matanya.
Danisha terkekeh.
" Makasih, Pras ! Kamu sendirian ? Distha mana ? " tanya Danisha.
" Paling juga sebentar lagi datang. Tadi katanya mau ngembaliin buku ke perpustakaan dulu, " jawab Prasta.
Danisha mengangguk dengan senyuman terukir di bibirnya.
Tak lama kemudian, Distha, Bu Dinda dan Bibi datang. Suasana kamar Danisha pun makin ramai. Banyak tawa di sana. Menghibur dan memberi semangat pada Danisha.
Saka memperhatikan Danisha. Istrinya terlihat bahagia. Wajahnya semringah. Rileks, seolah tak ada beban. Sedari tadi tangannya tak lepas menggenggam tangan Danisha. Jemari keduanya saling bertautan erat. Mereka saling menguatkan.
********
Setelah berganti pakaian khusus untuk operasi dan pemasangan kateter yang dibantu tiga orang perawat, Danisha dipindahkan ke brankar untuk dibawa ke kamar operasi.
Keluar kamar, Danisha yang terbaring di brankar didorong oleh perawat. Saka selalu berada di samping Danisha sejak di dalam kamar.
Dokter Ardhy yang menunggu di luar bersama semua anggota keluarga dan teman Danisha, segera mengikuti para perawat yang membawa Danisha ke kamar operasi. Sepanjang jalan menuju kamar operasi, Ayah dan Bunda tersenyum menatap Danisha. Hal yang sama dilakukan oleh Saka dan semua orang yang menemaninya.
__ADS_1
Ya, sebelumnya, Dokter Ardhy telah berpesan pada semua orang untuk selalu tersenyum di hadapan Danisha. Semua itu semata-mata dilakukan sebagai bentuk dukungan dan memberi semangat pada Danisha agar tidak down menghadapi operasi pengangkatan tumor di kepalanya.
Tiba di depan kamar operasi, Dokter Ardhy meminta para perawat menunggu sebentar sebelum Danisha dibawa masuk.
" Semangat ya, Danish ! Kami menunggu kamu buat mengurus pernikahan kami, " ucap Dokter Ardhy sembari merangkul bahu Distha.
Senyum Danisha mengembang di wajahnya dengan lesung pipi yang makin membuatnya cantik.
Distha tersenyum dan menunduk memeluk Danisha.
" Jangan lupa, kamu orang terpenting dalam pernikahan kami. Kami menunggumu, " ucap Distha setengah berbisik, lalu mengecup pipi kanan dan kiri sahabatnya.
" Sist, aku masih butuh bantuanmu. Tau, kan ? Jadi, aku juga menunggumu ! " Prasta mengedipkan matanya, tersenyum dan menggenggam erat tangan sahabat karibnya.
Danisha terkekeh melihat tingkah lucu dan mendengar perkataan Prasta.
" Hai, Dek ! Project kita belum kelar, ya, inget itu ! Aku masih mau ngerjainnya sama kamu, my best partner ! " Bang Hendra berkata sembari tersenyum lebar dengan tangan mengepal memberi semangat.
" Siap, Bang ! " jawab Danisha singkat.
" Hallo, Alma ! Denger, kan, kata Bang Hendra ? Project kita belum kelar ! Kita akan tuntaskan, kami menunggumu di studio. Ok, Al ? " timpal Kak Ella menunduk dan memeluk Danisha, mengecup pipi anak buah sekaligus rekan kerjanya.
" Tentu saja, Ibu Bos ! " Danisha berkata dengan senyuman manisnya.
" Hai, Say ! Aku masih kangen ngobrol sama kamu. Ngobrol di pantry sambil makan puding. Hehehe... Aku tunggu kedatanganmu, kita ngobrol lagi sampai puas, ya ! " ujar Renata sembari terkekeh, lalu memeluk Danisha cukup erat.
" Jadi, kangen aku atau pudingnya, nih ? " kelakar Danisha terkekeh.
" Bun, nih, yang suka minta dibawain puding, " ujar Danisha pada Bunda, yang diikuti tawa kecil sang Bunda dan lainnya.
" Ish ! Maaf, Bunda. Pudingnya enak, sih ! " ucap Renata pada Bunda tersipu malu.
Danisha melirik Prasta yang terlihat mencuri pandang pada Renata. Demikian pula sebaliknya. Danisha tersenyum simpul.
" Puding buatan Ibunya Prasta juga enak, lho ! Pasti kamu sering makan, kan, Ren ? " tanya Danisha, tersenyum jahil.
" Udah, udah ! Suaminya dah ga sabar tuh, pengen mesraan ma istrinya ! " sindir Prasta.
Saka tersenyum.
" Iya lah... Giliranku, dong ! Kalian ganggu aja, lho ! " sungut Saka.
Ayah dan Bunda mendekat, bergantian memeluk Danisha cukup lama dan mengecup kening serta kedua pipi berlesung dalam milik putrinya.
" Be strong, Sayang ! You have to fight ! " kata Ayah sembari mengepalkan tangan kanannya.
Sementara Bunda hanya bisa tersenyum menatap putrinya.
" Bunda, ingat kan, yang Danish bilang ? Ikhlas, ya ? Tunggu Danish, ya, Bun, " lirih Danisha menahan tangisnya. Entah kenapa, tiba-tiba ia ingin menangis saat melihat Bunda yang terlihat sedih dan cemas.
Bunda menganggukkan kepala dan tersenyum, " Iya, Sayang ! Pasti Bunda tunggu ! Kuat, ya, Nak ! "
" Ya, Bunda. Insya Allah ! " jawab Danisha tegar.
" Anak cantik Mama, " Bu Dinda memeluk dan mengecup kening Danisha lama.
" Mama ! Maafkan, Danish. Minta doa nya ya, Ma. Sampaikan maaf dan terima kasih Danish pada Papa dan Kak Sandra, " ujar Danisha dengan senyum tercantiknya.
" Ya, Sayang. Papa dan Kak Sandra pasti nanti kemari. Kami semua menunggu Danish, ya ? " Bu Dinda menangkup wajah menantunya, tersenyum penuh sayang.
" Makasih, Ma ! " ucap Danisha lirih.
" Mbak Danish ! Ayo, cepat sehat ! Biar Bibi ada temannya ngobrol di dapur, " celetuk Bibi.
" Bibiii... ! Makasih Bibi udah mau datang. Tungguin, ya, Bi.... " pinta Danisha menggenggam tangan si Bibi.
" Iya, iya, Mbak ! Cepat sehat, ya ? " sahut Bibi semringah.
Dua orang perawat menghampiri mereka. Dokter Ardhy pun memberi isyarat pada semua orang yang mengelilingi Danisha untuk segera menyingkir karena sudah saatnya Danisha dibawa masuk ke kamar operasi.
Saka masih diperbolehkan untuk masuk hingga di ruang tunggu pemeriksaan sebelum benar-benar masuk ke dalam kamar operasi.
Berkali-kali Saka menghela napasnya. Dadanya terasa sesak. Namun ia berusaha mengatur napasnya supaya terlihat normal. Berusaha tegar di hadapan istrinya yang akan berjuang melawan penyakitnya.
Perawat menghentikan mendorong brankar Danisha di depan sebuah pintu. Saka yakin, pintu itu adalah pintu masuk kamar operasi.
" Mohon ditunggu sebentar, Pak, Bu, " ujar si Perawat, yang kemudian masuk ke dalam ruangan di depan mereka.
Saka dan Danisha mengangguk.
" Mas.... " Danisha meremas pelan tangan Saka, dingin.
Saka tersenyum menatap Danisha. Diusapnya pipi halus istrinya penuh cinta.
Ya, Allah... Berikan Hamba Mu ini kekuatan dan kelapangan hati saat ini. Hamba yakin jika takdir Mu adalah yang terbaik untuk kami. Hamba sangat mencintai istri Hamba. Hamba mohon berikan yang terbaik untuk istri Hamba, juga untuk Hamba sendiri dan keluarga besar kami. Aamiin ya rabbal alamiin....
Saka tak henti melantunkan doa dalam hatinya. Hanya doa lah kekuatan yang ia miliki saat ini.
Danisha memegang tangan Saka di pipinya.
" Ingat pesanku, ya ? Ikhlas, ya, Mas... Aku ikhlas, aku ridlo, Sayang.... " ucap Danisha mengecup tangan suaminya cukup lama.
Saka menunduk dan mengecup kening Danisha lama. Lalu dikecupnya kedua kelopak mata istrinya, hidung mancung yang selalu disentilnya pun tidak luput dari kecupannya. Yang terakhir, ia mengecup sekilas bibir Danisha.
" I love you, Bee. As always, I love you my princess and I'll be waiting for you on my side, " ucap Saka lirih.
" I love you, my prince. Love you more. Wait me ! " balas Danisha mesra.
Tbc
__ADS_1