
Danisha duduk di sofa ruang penyiar. Kepalanya disandarkan ke sandaran sofa sembari memejamkan matanya. Kepalanya masih terasa berat. Padahal obat dari Dokter Aldi sudah diminumnya.
Sesaat ia teringat dengan kehadiran Mas Rendra di studio, bersama Nay dan... Ayana ! Gadis itu sangat cantik, calon istri Mas Rendra. Sangat cocok bersanding dengan Mas Rendra.
" Dek ? Hey, kamu kenapa ? "
Suara Bang Hendra mengagetkan Danisha. Seketika Danisha membuka matanya dan melihat keberadaan Bang Hendra di ruang penyiar. Laki-laki itu sudah duduk di kursi lipat di hadapannya.
Danisha beringsut menegakkan badannya. Lalu memamerkan senyum lesung pipinya pada Bang Hendra.
" Abang ga pulang ? " tanya Danisha santai pada Bang Hendra.
" Pertanyaan Abang belum kamu jawab, eh malah balik nanya, " cetus Bang Hendra.
Danisha terkekeh sembari menatap Bang Hendra yang cemberut.
" Hilih, Abang ngambek ? Aku ga apa-apa, Bang. Napa, sih ? Lucu tau ga, Bang ? " ujar Danisha masih dengan kekehannya. Ia menutup mulutnya menahan tawa ketika Bang Hendra menatapnya dengan kesal.
Danisha mengangkat jari manis dan jari tengahnya, tanda damai. Namun ia masih terkekeh pelan.
" Pangeranmu udah datang, tuh ! " kata Bang Hendra kemudian.
" Hah ? Kok ga bilang dari tadi sih, Bang ! " sungut Danisha.
Perlahan Danisha berdiri dari duduknya. Walaupun nyeri di kepalanya sudah berangsur menghilang, tetapi tiba-tiba perutnya terasa sedikit mual. Ia berjalan perlahan beranjak meninggalkan ruangan penyiar. Sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu, ia melihat Bang Hendra yang membereskan mejanya.
" Bang, makasih ya ! Aku pulang dulu. Besok aku off, jangan kangen ya ! " kelakar Danisha yang berhenti di luar pintu ruangan.
Seketika Bang Hendra memutar kedua bola matanya dan menatap Danisha dengan tertawa lepas.
" Dasar ! Ntar aku bisa disleding sama Pangeranmu kalau sampai aku kangen kamu ! " seru Bang Hendra masih dengan tawa lepasnya.
Danisha ingin tertawa tetapi ia tahan karena perutnya terasa mual. Ia pun buru-buru pergi ke toilet. Tas yang dibawanya pun ia letakkan sembarang di atas meja yang ada di ruang tengah studio Radio DG FM.
Bang Hendra mengerutkan dahinya melihat hal itu.
" Danish ! Eh, kenapa kamu, Dek ? " seru Bang Hendra sembari berjalan cepat keluar ruangan hendak menyusul Danisha. Namun diurungkannya ketika ia melihat Danisha memasuki toilet.
Selang beberapa menit, Danisha keluar dari toilet. Ia tidak segera beranjak. Disandarkannya tubuhnya di dinding bagian luar toilet sambil memejamkan matanya.
" Dek ? Are you ok ? " Bang Hendra mendekati Danisha yang masih berdiri bersandar di dinding toilet dengan mata terpejam.
Tak ada sahutan. Salah satu tangan Danisha terangkat dan kepala gadis itu mengangguk pelan.
Bang Hendra membalikkan badannya dan buru-buru menghampiri Saka yang duduk di ruang tamu.
" Ka, Danisha ! " seru Bang Hendra.
" Ada apa dengan Danisha, Bang ? " tanya Saka heran.
" Aku kurang tau dia kenapa. Sepertinya dia sakit, " ujar Bang Hendra khawatir.
" Aku ga apa-apa kok, Bang, " tiba-tiba Danisha muncul dengan senyum sumringah.
Bang Hendra berbalik badan dan mendapati Danisha yang berjalan menghampiri mereka. Senyum sumringah membingkai wajahnya. Berbeda sekali dengan yang dilihatnya di toilet tadi. Gadis itu tampak lesu dan pucat. Namun sedetik kemudian Bang Hendra seolah menyadari sesuatu. Ia pun balas tersenyum pada gadis yang sudah dianggapnya seperti adiknya sendiri.
" Kita pulang sekarang ? " tanya Saka kemudian.
Danisha mengangguk dan tersenyum pada Saka. Setelah berpamitan pada Bang Hendra dan Kak Ella yang masih on air, keduanya pun pergi meninggalkan studio Radio DG FM.
*******
Saka melirik Danisha yang duduk menyandarkan kepalanya pada sandaran jok mobil sambil ia tetap fokus mengemudikan mobilnya.
Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Perlahan ia menghela napasnya sebelum kemudian ia mulai bersuara.
" Kamu ga apa-apa, Bee ? "
Danisha melihat ke arah Saka dan tersenyum.
" Ga apa-apa. Kenapa ? "
" Ga ada yang ingin kamu omongin ? " tanya Saka lagi, matanya memandang lurus ke jalan, fokus mengemudi.
Danisha menautkan kedua alis hitamnya, merasa heran dengan pertanyaan kekasihnya.
" Maksudnya ? " tanya balik Danisha.
" Yaa... kali ada sesuatu yang ingin kamu omongin. Kamu ceritain sama aku, " cetus Saka.
Danisha berpikir sebentar. Ia kurang paham dengan arah bicara kekasihnya. Namun ia merasa ada sesuatu yang tersimpan dibalik pertanyaan kekasihnya.
__ADS_1
Danisha menghela napas dalam. Ia pandangi kekasihnya yang fokus dengan kemudinya.
" Ada apa, Sayang ? " tanya Danisha lembut.
" Bener, ga ada yang ingin kamu ceritain sama aku ? " pertanyaan Saka masih tetap sama.
Danisha semakin bingung.
" Kamu kenapa sih, Ka ? " tanya Danisha akhirnya, sedikit kesal.
Perlahan Saka menepikan mobilnya dan berhenti di pinggir jalan. Lebih baik ia mengeluarkan uneg-uneg yang mengganjal di hatinya sekarang. Tanpa mematikan mesin mobilnya, ia memiringkan badannya menghadap Danisha yang duduk dengan tatapan yang bingung.
" Waktu aku datang ke studio, aku melihat Mas Rendra tadi, " ujar Saka serius, menatap wajah Danisha yang sedikit pucat.
Ditatapnya wajah serius kekasihnya, menelisik manik hitamnya yang tajam.
" Lalu ? "
Saka berdecak.
" Mau apa dia ke studio ? Ada keperluan apa ? " cecar Saka.
Danisha semakin heran dengan pertanyaan dan sikap kekasihnya. Ada apa dengan kekasihnya ? Kenapa jadi kepo begini ? batin Danisha.
" Sayang, pertanyaan kamu aneh, lho ! Kepo banget, ya ? " ujar Danisha, mencoba mencandai kekasihnya yang terlihat kepo.
" Bee, aku nanya serius. Dia nemuin kamu ? " Saka semakin ingin tahu.
Danisha menganggukkan kepalanya beberapa kali.
" I.. Iya. Nemuin Bang Hendra, Kak Ella juga. Dia datang ga sendiri tadi, " jawab Danisha polos.
" Kamu ketemu dia dimana ? Dia ngomong apa ? " lanjut Danisha. Kali ini ia yang ingin tahu dan mencecar Saka.
Saka mengerutkan dahinya menatap kekasihnya yang sekarang berganti mencecarnya.
" Dia bilang kamu makin cantik. Dia masih cinta sama kamu. Dia menyesal melepaskan kamu, " sungut Saka sembari memegang kemudi mobilnya dan menatap lurus ke jalanan di depannya.
" Hah ? Masa sih ? Dia bilang gitu ya ? Trus kamu bilang apa ? " tanya Danisha penasaran.
" Ya... Ya kubilang, kamu emang makin cantik. Kubilang aku makin cinta sama kamu. Dan kubilang aku ga akan melepaskan kamu, karena kamu sebentar lagi jadi istri aku ! " sahut Saka tegas, melirik kekasihnya dengan menaikkan salah satu alisnya.
Danisha terbengong mendengar perkataan lelaki yang dicintainya. Ia pandangi wajah kekasihnya yang menatap lurus ke jalanan di depan mobil mereka yang berhenti. Sesaat terdiam, tiba-tiba bibir Danisha tertarik ke samping membentuk sebuah senyuman dan lesung pipi membingkai wajahnya.
Mendengar ucapan kekasih hatinya dengan suara yang lembut, seketika Saka mengalihkan pandangannya pada si empunya suara. Menatap wajah ayu berlesung pipi dengan mata berbinar bahagia. Dadanya bergemuruh hebat, perasaannya membuncah bahagia.
" Kita nikah besok ! "
" Hah ?! "
********
" I love you ! "
Distha mengerjapkan matanya mendengar laki-laki di sampingnya membisikkan sebuah kalimat ajaib di telinganya.
Tangan laki-laki itu menggenggam erat tangan Distha. Hangat. Dapat Distha rasakan kehangatan dari genggaman tangan laki-laki yang duduk di sampingnya.
Distha masih terdiam, tidak berani menengok ke samping dimana ia mendengar bisikan kalimat ajaib di telinganya beberapa menit yang lalu. Ia hanya terdiam merasakan hangatnya genggaman tangan laki-laki di sampingnya.
" Seriously, I love you ! "
Lagi, ia mendengar bisikan lembut kalimat ajaib itu dan detik selanjutnya, laki-laki itu mengecup punggung tangannya.
Bagaikan disengat aliran listrik, tubuh Distha menegang, matanya mengerjap beberapa kali. Jantungnya berdetak kencang tidak beraturan.
" Aku jatuh cinta padamu, Distha. Hari ini kuyakinkan diriku untuk mengatakannya padamu. Aku jatuh cinta padamu setelah kita bertabrakan di koridor rumah sakit waktu itu. Sejak saat itu, hati dan hari-hariku telah terisi dirimu. I love you, Distha ! "
Laki-laki itu yang tak lain adalah Dokter Ardhy, menatap lembut wajah Distha yang bingung. Menanti jawaban dari gadis tomboy yang selalu menarik di matanya.
" Distha ? " Dokter Ardhy memanggil nama Distha yang masih terdiam dengan pikirannya sendiri.
" Eh, iya ! Maaf ! " Distha semakin salah tingkah. Canggung dan kikuk menghadapi situasi seperti saat ini.
Benarkah yang didengarnya tadi ? Dokter Ardhy menyatakan cinta padanya ? Benarkah ? tanyanya dalam hati.
" Aku serius, Distha. Aku mencintaimu ! " tegas Dokter Ardhy menyatakan perasaannya.
" A... Aku... Benarkah ? Benarkah Dokter Ardhy jatuh cinta setelah kita tabrakan di rumah sakit ? Masa sih, Dok ? " ujar Distha gugup dan ragu.
Dokter Ardhy berdecak pelan sambil terkekeh. Ia pandangi lekat wajah bersih gadis pujaan hatinya. Ingin sekali ia merengkuh tubuh gadis di hadapannya untuk membuktikan bahwa ia bersungguh-sungguh menyatakan perasaannya.
__ADS_1
" Apa perlu aku mengucapkannya sekali lagi biar genap lima kali aku menyatakan perasaanku padamu untuk beberapa menit hari ini ? It's ok, sih. Ga masalah. Kalau perlu tiap detik sepanjang hari aku akan mengucapkannya di hadapan kamu, " tutur Dokter Ardhy tanpa ragu dengan mata yang berbinar dan seulas senyuman bahagia di wajahnya.
" Eh, bukan begitu maksud aku. Maaf, Dok. Aku... Aku tak bisa menolaknya. Dan aku tak kan mungkin menolak perasaan Dokter. Aku ga mau menolaknya ! Aku cinta Dokter Ardhy, cinta bener ! Ga bohong, sumpah ! " gugup Distha berkata-kata hingga bicaranya tidak terkontrol dan membuat Dokter Ardhy tidak bisa menahan tawanya. Dokter muda dan tampan itu pun tergelak tawa dengan spontan mendengar jawaban dari Distha.
Dan masih dengan gelak tawanya, Dokter Ardhy memeluk tubuh Distha erat sembari mengucapkan terima kasih berulangkali.
" Terima kasih, terima kasih, terima kasih, Distha. Terima kasih banyak, alhamdulilah.... "
Tanpa mempedulikan sekitar, keduanya saling membalas pelukan. Dokter Ardhy ingin mengecup kening Distha, tetapi ia tersadar jika saat ini mereka berada di tempat ramai tepatnya di food court sebuah mall.
********
Danisha kembali merasakan nyeri di kepalanya. Setelah sholat subuh, ia hanya berbaring di ranjangnya. Kebetulan hari ini jadwal siaran off dan tidak ada janji dengan dosen di kampus, jadi ia bisa sedikit santai di rumah.
Hari ini jadwal Danisha kontrol periksa ke Dokter Aldi. Obat dan vitamin yang diberikan Dokter Aldi sisa untuk ia minum hari ini saja. Ia sudah membuat janji dengan Dokter Aldi untuk ketemu jam 8 pagi ini.
Danisha akan menemui Dokter Aldi sendiri. Ia tidak ingin Ayah dan Bunda tahu jika sakitnya kambuh. Ia juga tidak ingin Saka tahu. Sangat kebetulan, hari ini Saka harus pergi ke luar kota menemani Papanya untuk suatu pekerjaan. Jadi Danisha bisa leluasa untuk pergi menemui Dokter Aldi seorang diri.
Sementara Kirana telah berangkat ke sekolah, Ayah berangkat bekerja dan Bunda berangkat ke toko kue, Danisha sudah bersiap untuk berangkat ke rumah sakit menemui Dokter Aldi.
Dan saat ini, Danisha telah berada di ruang tunggu rumah sakit tepatnya di depan ruang praktek Dokter Aldi.
" Mbak Danisha, mari masuk. "
Asisten Dokter Aldi mempersilahkannya masuk ke ruangan Dokter Aldi.
" Makasih, Suster, " jawab Danisha.
" Pagi, Dokter, " sapa Danisha dengan seulas senyuman di bibirnya.
" Pagi, Danish. Kamu sendiri ? Bunda dan Saka ga nemenin ? " Dokter Aldi menyapa Danisha yang datang sendiri, menatap heran karena gadis itu datang tanpa ditemani Bunda atau Saka, kekasihnya.
" Bunda sibuk di toko kue, Dokter. Saka sedang ke luar kota hari ini, " jawab Danisha santai.
Dokter Aldi pun mengangguk-anggukkan kepala mendengar jawaban Danisha.
" Baiklah. Sejak kapan nyeri itu datang lagi, Danish ? " tanya Dokter Aldi kemudian.
" Udah hampir seminggu ini, Dok. Hilang timbul, " jawab Danisha.
" Beberapa waktu lalu, saya bertemu Saka. Dia bilang kamu sangat sibuk beberapa minggu ini. Tolong jangan memaksakan diri, Danish. Kondisimu berbeda dengan yang lain. Ayo, berbaringlah. Saya akan periksa kamu, " titah Dokter Aldi.
Danisha pun beranjak dari duduknya dan berbaring di ranjang pemeriksaan dibantu oleh asisten Dokter Aldi.
" Dokter, boleh saya meminta sesuatu ? " tanya Danisha sebelum Dokter Aldi memeriksa tekanan darahnya.
Dokter Aldi mengerutkan dahinya. Ia menghentikan aktivitasnya dan menatap Danisha dengan tatapan heran. Selama menangani Danisha sebagai pasiennya, ia sudah memahami bagaimana sifat gadis itu. Hubungan mereka sebagai dokter dan pasien pun terbilang dekat, selayaknya sebagai keluarga. Apalagi kehadiran Dokter Ardhy sebagai saudara sepupu Saka semakin mendekatkan hubungan dokter dan pasien itu.
" Ada apa ? "
Senyum mengembang dari bibir Danisha sebelum ia mengucapkan sesuatu. Ia menghela napas dalam.
" Saya minta tolong jangan katakan pada siapa pun kalau saya menemui Dokter terutama mengenai keluhan saya ini, " ucap Danisha menatap Dokter Aldi dengan raut memohon.
Dokter Aldi menatap Danisha lekat. Ia menghela napasnya panjang, tersenyum simpul pada Danisha.
" Kamu masih saja keras kepala, ya. Saya heran lho, dari mana sifat keras kepalamu. Selama mengenal Ayah dan Bundamu, saya tidak pernah menemukan sifat itu pada mereka. " Dokter Aldi menghela napasnya lagi sembari menggelengkan kepala dan tersenyum pada Danisha.
" Saya mohon ya, Dokter. Tolong rahasiakan semuanya, jangan katakan pada siapa pun terutama pada kedua orang tua saya dan juga, Saka serta keluarganya, " pinta Danisha sekali lagi.
" Untuk saat ini, mungkin saya bisa mengikuti keinginanmu. Tapi entah nanti, saya tidak bisa berjanji selamanya, " ucap Dokter Aldi. Ditatapnya gadis pasiennya itu dengan senyum tipisnya.
Tbc
**Hellooww LOTA Lovers 💞💞
Maaf baru up ya, hari berat buat aku karena kondisiku lagi ga sehat benar. Jadi terbawa sama Danisha. Smga tidak berat buat Danisha yaa...
Btw, Saka cemburu tapi Danisha bisa banget ya bikin Saka akhirnya klepek2 ga jadi marah 😁
Ihiiiyyy Distha jadian sama Dokter Ardhy 🤭 Saking gugupnya dia sampe ga terkontrol gitu ngomongnya 😁
Thank you yg udah setia ngikuti kisah mereka
__ADS_1
Like, rate n komen slalu kutunggu yaa.. 😘💞
Banyak terima kasih, cinta dan sayang buat kalian LOTA Lovers 🤗😘💞💞**