
**Happy reading Beloved Readersπ€**
Btw, yg mau follow ig Imoet boleh yaa @imoet_enra.
Yg pengen ngobrol sama Imoet juga boleh PC koq π€**
#########
"Jadi ... Benar yang dikatakan Bang Hendra ...." Danisha menghela napasnya dalam, lalu menatap Prasta yang sibuk memainkan korek api dengan tangannya.
"Kamu ketemu Bang Hendra?" tanya Prasta balas menatap Danisha.
Danisha menggeleng. "Terakhir aku ketemu Bang Hendra juga teman-teman DG FM sewaktu baru keluar dari rumah sakit. Dah lama, lebih dari 6 bulan yang lalu. Renata juga tidak pernah menghubungi aku sejak itu." Sekali lagi Danisha menghela napasnya.
"Lalu rencana kamu apa?" tanya Danisha kemudian.
Prasta mengedikkan bahu. "Entah!" Prasta menggelengkan kepalanya pelan sembari tersenyum getir.
"Maaf ya, Pras. Aku ga bisa memenuhi janjiku," sesal Danisha.
"Hei! Santai, Sist. It's ok! Aku ga apa-apa!" cetus Prasta meyakinkan Danisha. Ia tersenyum simpul.
Danisha tersenyum.
Ah, Renata! Kita belum sempat bertemu dan ngobrol di pantry studio. Tapi kamu udah pergi. Ga ada kata-kata pamit pula.
Danisha bermonolog dalam hatinya. Ia kangen dengan teman seprofesinya. Ia juga kangen dengan studio. Kangen ingin siaran lagi di sana.
"Kalian kenapa?"
Prasta dan Danisha terhenyak dengan kehadiran Distha. Gadis itu duduk di bangku sebelah Danisha sambil memandangi kedua sahabatnya bergantian.
"Kamu kenapa ga cerita soal Renata?" tanya Danisha pada Distha meminta penjelasan pada gadis yang baru saja duduk di sampingnya.
Distha mengerutkan dahinya. Menatap Danisha dan Prasta bergantian.
"Eh! Udah, Sist. Ga usah dibahas lagi. Ok?" celetuk Prasta.
Distha menatap Prasta dengan tatapan horor. Sementara Prasta membalasnya dengan mengedikkan bahunya dan bibir mencebik. Lalu Distha beralih menatap Danisha dengan tersenyum samar.
"Sorry, Sist. Bukan ga mau cerita, tapi waktu itu kondisi kamu sedang tidak memungkinkan buat dengar hal-hal seperti ini. Sorry, ya?" terang Distha, perasaan bersalah terdengar dalam kalimatnya.
Danisha menghela napasnya, lalu mengulum sebuah senyuman. "Iya, sih. Maaf, ya ... Semua jadi ga sesuai harapan semenjak aku sakit. Maaf, udah banyak merepotkan kalian," sesal Danisha.
"Hei! Udah kubilang, ga usah dibahas lagi. Udah ga penting! Yang terpenting sekarang, semoga kita bertiga bisa diwisuda bareng, bisa lulus bareng! Ok, Ladies?" cetus Prasta penuh semangat. Meski di dalam hatinya ia merasakan sebaliknya.
Renata, gadis yang selalu dicintainya itu memilih pergi ke Jakarta untuk mengejar mimpinya. Meskipun sebenarnya di antara mereka memang sudah tidak memiliki hubungan sebagai sepasang kekasih lagi, tetapi Prasta masih berharap pada gadis itu untuk bisa kembali bersamanya. Mewujudkan semua hal dan mimpi mereka yang tertunda. Namun, kenyataan berkata lain. Renata pergi meninggalkan Surabaya. Lebih menyakitkan, gadis itu pergi bersama Bian.
Danisha dan Distha mengembangkan senyumnya.
"Ya, semoga. Bismillah, doa-in aku, ya?" Harap Danisha, lesung pipinya pun nampak sempurna begitu bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman.
"Pasti!" sahut Distha dan Prasta kompak.
"Tapi jangan terlalu memaksa, Sist. Jangan terlalu keras berpikir dan bekerja. Ingat kondisi kamu," tutur Prasta.
"Yup! Kali ini aku sepakat sama dia! Kalau butuh bantuan, call us," imbuh Distha, jari telunjuknya diangkat dan menunjuk ke arah Prasta.
"We're ready 24 hours for you," sahut Prasta dengan senyum simpulnya.
************
Setelah puas mengobrol di kantin kampus, ketiga orang sahabat itu memutuskan untuk pulang.
Sembari berjalan menuju tempat parkir, Danisha mencoba menghubungi Saka kembali setelah tiga kali menghubungi suaminya itu tidak ada respon.
"Gimana? Masih belum diangkat juga?" tanya Distha pada Danisha yang terlihat cemas.
"Ga biasanya dia begini," kesah Danisha.
"Lagi meeting kali," celetuk Prasta berusaha menenangkan Danisha.
"Mestinya udah kelar meetingnya. Sebelum berangkat tadi, dia bilang ada meeting jam 10.00 pagi. Setelah itu free ga ada meeting lagi," terang Danisha.
"Aku antar aja kalau gitu." Distha menawarkan bantuan untuk mengantar sahabat baiknya itu.
"Ga usah, Sist! Beda arah. Biar aku tunggu sebentar. Kalau 10 menit tidak juga datang, aku naik taksi online aja," tolak Danisha halus.
"Trus, kamu mau nunggu di sini? Udah jam 14.00 lewat ini, Sist. Udah, yuk! Kamu chat dia aja, bilang kalau pulang sama aku," ujar Distha sedikit memaksa.
Prasta pun berusaha melakukan panggilan telepon pada Saka. Sama, tak ada respon. Chatnya juga belum dibaca oleh sahabat baiknya itu. Prasta berdecak, mulai terlihat kesal. Sudah lima kali dia menghubungi sahabat baiknya itu, tapi tak ada respon.
"Sepertinya lebih baik kamu pulang sama Distha deh, Sist!" cetus Prasta akhirnya.
"Saka udah bilang kalau mau jemput aku jam 14.00. Mungkin dia udah di jalan. Aku tunggu aja, deh! Mungkin jalanan macet," keukeuh Danisha.
Prasta dan Distha berpandangan.
"Kalau kalian mau pergi sekarang, ga apa-apa. Aku bisa tunggu Saka di pendopo. It's ok!" Danisha tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
"Baiklah! Aku temani kamu," cetus Distha akhirnya.
Sebenarnya Prasta juga ingin tinggal, ikut menunggu sampai Saka datang. Tetapi, pekerjaannya menuntut deadline segera. Karenanya ia tidak bisa menemani Danisha saat itu.
"It's ok, Pras! Pergilah, nanti kamu terlambat sampai kantor," ujar Danisha meyakinkan Prasta kalau ia akan baik-baik saja.
Prasta tersenyum. "Maaf ya, Sist. Aku pergi dulu. Berhati-hatilah!" pamit Prasta dengan sedikit berat hati.
Danisha kembali mengirim chat pada Saka. Tanda ceklis dua dan masih berwarna putih, belum berubah biru. Danisha menghela napas dalam. Sementara Distha menyaksikan Danisha yang terlihat sangat cemas. Lalu ia memegang tangan Danisha, bermaksud untuk menenangkan sahabat baiknya.
__ADS_1
"Kamu tenang, Danish. Sebentar lagi Saka pasti datang," tutur Distha dengan seulas senyuman.
Pada saat bersamaan, seseorang memanggil nama kedua wanita yang saat ini sedang duduk di sebuah bangku di pendopo kampus.
"Distha! Danish!"
Keduanya pun serempak memalingkan pandangan pada sumber suara. Audy.
"Hai, Dy!" sahut Distha dengan senyum lebarnya.
Audy menghampiri kedua wanita itu dengan senyum manisnya.
"Apa kabar, Danish?" tanya Audy.
"Alhamdulillah, baik. Kamu, apa kabar?" Danisha balas tersenyum.
"Alhamdulillah, baik juga. Lagi ngapain?" tanya Audy.
"Biasa, nunggu jemputan," jawab Distha terkekeh pelan.
"wh ... Nunggu Saka, ya? By the way, gimana persiapan Saka sejauh ini, Danish?" celetuk Audy.
Danisha dan Distha saling berpandangan. Tidak paham dengan perkataan Audy.
"Maksudnya?" tanya Danisha bingung.
"Persiapan apa?" Distha pun ikut bertanya.
Audy mengerutkan dahinya, menatap Danisha dan Distha bergantian.
"Ke Australia. S-2?"
Seketika raut wajah Danisha berubah, sedikit menegang. Ia menundukkan kepalanya. Ada perih ia rasakan di dalam dadanya. Namun, ia berusaha bersikap tenang. Ia menatap Audy dengan senyum yang samar. Distha menyadari itu.
"Owh ... Iya ... Masih prepare." Gugup Danisha mengatakan itu, tenggorokannya seperti tercekat, susah menelan salivanya.
"Kamu sendiri, ngapain ke kampus, Dy? Bukannya kamu udah kerja, ya?" cecar Distha.
"Owh ... Aku juga lagi prepare. Mengurus beberapa dokumen buat ke Australia," jawab Audy, wajahnya semringah.
"Wah, senangnya dapat melanjutkan S-2 ke Aussie. Beasiswa pula! Congratz, ya." Distha memuji dan memberi selamat pada Audy.
Danisha bergeming, tetapi sesaat kemudian ia tersenyum tipis.
"Selamat, Audy," ucap Danisha.
"Thanks!" sahut Audy singkat.
"Lalu pekerjaan kamu gimana, Dy?" tanya Distha lagi.
Audy menghela napas panjang. "Mau ga mau aku harus memilih, Distha. Jadi, aku tinggalkan pekerjaanku. Kesempatan emas ga bisa begitu aja aku lewatkan," tutur Audy.
"Saka pasti juga berpikir begitu, kan? Ini kesempatan emas yang mungkin ga akan datang dua kali," imbuhnya.
Aku bahkan tidak tahu jika suamiku mendapat beasiswa S-2 ke Australia.
"By the way, aku harus pergi, nih! Sampai ketemu lagi, ya ... Salam buat Saka ya, Danish," pamit Audy.
Danisha mengangguk, tersenyum samar karena ia mulai merasa tak percaya diri.
"See ya!" Distha dan Danisha melambaikan tangan ketika Audy mulai beranjak meninggalkan mereka.
"Distha, aku pulang naik taksi aja. Udah sore, lebih baik kamu cepat pulang," celetuk Danisha tiba-tiba.
"Ga bisa! Aku antar kamu pulang, ayo!" Distha menggamit tangan Danisha dan sedikit memaksa sahabatnya itu mengikutinya.
"Distha ... Dis ...." Danisha berusaha untuk menolak ajakan Distha, mencoba melepaskan tangan Distha yang menggenggam erat pergelangan tangannya.
Tiba di tempat parkir mobilnya, Distha melepaskan genggaman tangannya. Lalu ia membuka pintu mobil dan meminta Danisha untuk masuk ke dalam mobil Nissan Juke putih miliknya.
"Masuklah! Aku antar kamu pulang sekarang," ucap Distha pelan. Ia menyadari sahabatnya sedang tidak baik-baik saja saat ini. Ia harus berusaha sabar menghadapi dan menenangkannya.
Danisha tidak mau berdebat dengan sahabatnya. Ia pun menuruti perkataan Distha, masuk ke dalam mobil gadis calon istri Dokter Ardhy itu.
Distha pun masuk ke dalam mobil setelah Danisha duduk di samping kursi kemudi. Mesin mobil pun dinyalakan dan Distha melajukannya dengan kecepatan sedang menuju rumah Danisha.
"Kamu udah menghubungi Saka? Uummm ... Kirim pesan maksudnya," tanya Distha, melirik Danisha sekilas.
"Udah," jawab Danisha berbohong. Baru saja ia memasang mode silent pada ponselnya.
"Danish ...."
"Tolong, aku lagi ga ingin ngobrol. Sorry!" Danisha memotong perkataan Distha. Pandangannya tertuju pada luar jendela mobil.
Distha pun terdiam seketika, lalu ia fokus pada jalanan di hadapannya. Namun tidak dipungkiri, ia mencemaskan Danisha. Obrolan mereka dengan Audy menimbulkan banyak pertanyaan di hati Distha.
*******
Danisha masuk ke dalam rumah setelah mobil Distha melaju pergi dan tentu saja sebelumnya Danisha mengucapkan terima kasih pada sahabat baiknya itu yang telah mengantarkannya pulang.
"Eh, Ibu udah pulang," sapa Bu Erni saat Danisha berada di dapur untuk mengambil air minum.
"Bu Erni ... Berapa kali dibilang, jangan panggil saya begitu. Ga enak didengar lho, Bu. Rasanya kok aneh gitu, ya," ujar Danisha diikuti tawa kecilnya, mengingatkan Bu Erni tentang panggilan yang diberikan padanya.
Bu Erni tersenyum lebar. "Udah kebiasaan lho, Bu."
"Panggil nama saya aja, Bu. Emang saya udah keliatan seperti ibu-ibu, ya?" seloroh Danisha.
"Eh? Mana mungkin saya panggil nama aja, ga sopan itu namanya!" sahut Bu Erni.
__ADS_1
Danisha mengulum senyuman di bibirnya.
"Ya, udah. Panggil Mbak aja, ya? Setuju?" pinta Danisha.
"Siap, Bu eh Mbak Danish! Hehehe ...." jawab Bu Erni dengan mengangkat ibu jarinya.
Danisha tertawa kecil, lalu ia permisi pada Bu Erni untuk pergi ke kamar.
Sementara itu, Saka sedang mengemudi untuk menjemput Danisha. Ia sangat terlambat menjemput istrinya. Meeting dadakan dengan klien dari Semarang nembuatnya tertahan dan terlambat menjemput istrinya. Sialnya lagi, ia tidak memberi kabar pada istrinya. Ia terlihat gusar karena beberapa kali Danisha tidak menjawab panggilan teleponnya.
Maafkan aku, Bee. Aku benar-benar lupa tidak memberimu kabar tadi. Kamu pasti marah.
Sesal Saka dalam hati.
Sesampainya di kampus, tampak agak sepi, tidak seramai kalau pagi hingga siang. Tanpa sengaja ia berpapasan dengan beberapa teman satu jurusannya. Namun ia harus kecewa karena mereka bilang bahwa Danisha sudah pulang satu jam yang lalu.
Saka meraup wajahnya gusar. Ponsel yang masih digenggamnya berdering. Prasta memanggilnya.
"Pras! Danisha dan Distha udah ga ada di kampus," cerocos Saka begitu ia menerima panggilan telepon dari Prasta.
"Yaa ... Berarti udah pulang, kan? Mungkin Distha yang antar Danish pulang. Kamu udah telepon Danisha?"
"Ga ada respon!" sahut Saka terdengar putus asa.
"Ck! Salah sendiri, dihubungi ga bisa tadi! Terimalah akibatnya!" Terdengar kekehan Prasta di seberang sana.
"Kampret!" umpat Saka.
"Coba kamu hubungi Distha." Prasta memberi saran.
"Ok, deh! Bye!" Saka mengakhiri panggilan teleponnya sepihak.
Lalu dicarinya kontak Distha, setelah itu panggilan telepon pun ia lakukan ke nomor ponsel Distha.
"Distha, Danisha sama kamu?"
"Udah aku antar pulang tadi. Bukannya Danisha udah chat kamu kalau pulang sama aku?" tanya Distha bingung.
Saka bernapas lega.
"Owh, baiklah! Thanks ya, Sist!"
Saka menghela napasnya panjang. Sedikit lega karena Distha sudah mengantar Danisha pulang. Namun, ia juga sedikit resah karena rasa bersalah pada istri tercintanya. Dengan segera, ia menuju ke mobil yang diparkirnya di dekat pendopo kampus.
Perjalanan menuju rumah terasa lama kali ini. Lumayan macet karena saat ini termasuk jam sibuk alias jam pulang kantor. Saka ingin segera sampai di rumah dan menjumpai Danisha. Setelah kurang lebih 45 menit mengemudi, Saka menghentikan mobilnya di depan rumah dan sengaja memarkirkannya di luar karena ia berniat untuk mengajak Danisha keluar malam nanti.
"Assalamu'alaikum ...." Saka membuka pintu dan mengucapkan salam bersamaan.
"Wa'alaikumsalam." Bu Erni muncul dari arah dapur.
"Danisha dimana, Bu?" tanya Saka.
"Ada di kamar, Pak," jawab Bu Erni.
Saka mengangguk dan tersenyum.
"Tolong buatkan kopi untuk saya ya, Bu. Seperti biasa, gulanya dikit aja," titah Saka. Bu Erni pun mengangguk.
Saka melangkah menaiki tangga menuju kamarnya. Di depan pintu kamar, Saka menghela napas panjang sebelum membukanya.
"Assalamu'alaikum ...." ucapnya sembari membuka pintu kamar dan memasukinya. Namun, tak dilihatnya Danisha di dalam kamar. Kemudian matanya tertuju pada kamar mandi. Terdengar gemericik air dari dalam sana. Ia pun tersenyum.
Duduk di sofa sambil melepas kancing lengan kemejanya, lalu menggulungnya hingga batas siku. Baru saja Saka menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa, pintu kamar mandi terbuka. Saka tersenyum melihat istri tercintanya. Namun Danisha hanya sekilas menatapnya. Saka menelan ludahnya kelat. Ia tahu Danisha sedang marah padanya karena kesalahan yang telah dilakukannya.
"Sayang ...." panggil Saka mesra saat Danisha menghampirinya dan mencium punggung tangannya. Saka pun menahan tangan Danisha dan memberikan kecupan di kening istrinya.
"Maaf, ya ... Tadi ...."
"Iya, ga apa-apa. Mas mau minum apa?" Senyum tipis ia berikan pada suaminya.
Belum lagi Saka menuntaskan kalimatnya, Danisha sudah menyelanya. Membuat Saka semakin merasa bersalah.
"Sudah kuminta Bu Erni membuatkan kopi. Sayang ...."
"Mau mandi sekarang?" sela Danisha lagi.
"Iya, aku mandi dulu." Saka tidak ingin berdebat. Segera ia berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah lengket karena keringat. Cuaca hari ini cukup membuat gerah. Ditambah dengan sikap datar Danisha, membuat dadanya sesak, susah sekali untuk menghirup udara yang bebas tersedia di muka bumi ini.
Kini Danisha duduk di meja riasnya. Dipandanginya pantulan dirinya di cermin. Rambutnya tidak sepanjang dulu. Ia tersenyum samar. Lalu ia teringat obrolannya dengan Audy. Beasiswa S-2 ke Australia. Audy memang gadis yang pintar, bertalenta dan tentu saja, cantik. Pantas mendapatkan beasiswa itu. Sementara dirinya? Ia menghela napasnya dalam, kembali ia merasakan kepercayaan dirinya runtuh. Menurut Audy, Saka juga mendapatkan beasiswa itu. Tapi, kenapa ia tidak tahu itu?
**********
Saka menautkan kedua alisnya saat keluar dari kamar mandi. Ia tak melihat keberadaan Danisha di kamar. Dengan tergesa ia memakai pakaiannya yang telah disiapkan Danisha di atas ranjang. Setelahnya, ia keluar kamar mencari keberadaan Danisha.
Sementara di dapur, Bu Erni baru saja selesai menyiapkan kopi yang diminta Saka. Danisha juga baru saja selesai menyiram tanaman di taman belakang. Ia berjalan sedikit tergesa saat melihat Bu Erni hendak membawa kopi untuk Saka.
"Bu, sini, biar saya yang bawa," seru Danisha.
"Ga usah, Sayang. Aku mau minum kopi di belakang sama kamu." Tiba-tiba Saka muncul di dapur dengan seulas senyuman. Tangannya meraih nampan berisi segelas kopi yang dibawa Bu Erni. Kemudian berjalan mendekat pada Danisha, tangan kirinya merangkul bahu istrinya dan mendaratkan sebuah kecupan di kening wanita tercintanya itu.
Danisha terpaku dengan perlakuan Saka. Hatinya bergetar dan sungguh berbunga-bunga. Ia pun mengikuti Saka yang menggandeng mesra tangannya berjalan ke taman belakang.
Sementara Bu Erni tersenyum melihat sikap mesra Saka pada istrinya. Pasangan muda yang serasi dan selalu terlihat mesra kapan pun dan di mana pun.
Tbc
**Hi, LOTA Lovers ππ
Kira2 Danisha beneran marah ga sih? Saka nya berusaha mengambil hati Danisha, hehehe ... kira2 berhasil ga ya? π€
__ADS_1
Jgn lupa kasih hadiah buat DanSa ya ... vote juga boleh banget π€
Banyak terima kasih, cinta dan sayang buat kalian π€πππ**