
" Assalaamualaikum, Tante. Ini Danish, terima kasih banyak buat salad dan sandwich nya ya, Tan. Maaf ngerepotin Tante, hehehe .... " sapa Danisha saat panggilan teleponnya diterima oleh Bu Dinda.
" Waalaikumsalam, Danish. Ish ! Anak cantiknya Tante. Cuma salad dan sandwich, ga repot kok, sayang.... Gimana, Danish udah sehat ? Maaf ya, Tante belum bisa nengok Danish. Om nya ga bisa ditinggal, " jawab Bu Dinda dari seberang sana dengan senangnya.
" Alhamdulillah, Tante. Danish udah sehat kok. Iya Tante, Danish paham. Doa Tante aja buat Danish, " ujar Danish.
" Pasti sayang... semoga Danish sehat terus ya... "
" Aamiin... makasih banyak, Tante. Danish tutup telponnya ya, Tan. Saka nya melotot terus nih, Tan. Hehehe... assalamualaikum.... " pamit Danisha.
Danisha terkekeh melirik Saka yang memutar bola matanya.
" Waalaikumsalam, bilang sama Tante kalo Saka berulah ya, Cantik, " kata Bu Dinda dan percakapan telpon pun berakhir.
Danisha meletakkan ponsel Saka di meja kembali sambil cengar-cengir dan berucap terima kasih.
" Mama bilang apa ? " tanya Saka penasaran
" Ga bilang apa-apa tuh ! " jawab Danisha santai.
" Uummm... apa kata dokter ? " tanya Saka kemudian.
" Ga apa-apa. Anemia aja kok. Ga ada yang perlu dikhawatirkan, " jawab Danisha berbohong. Pandangannya tertuju ke bawah, memainkan jemari tangannya, tak berani menatap laki-laki yang menyayanginya.
Saka menghela napas panjang.
" Kenapa sih pake bohong ? "
Saka menatap Danisha lekat.
Seketika Danisha menegakkan kepalanya mendengar pertanyaan Saka. Pandangan mereka pun bertemu.
" Ah iya, maaf. Aku ga ada kepentingan untuk tau kondisi kesehatan kamu, " ucap Saka memalingkan wajahnya. Hatinya mencelos, ia sadar dirinya bukan siapa-siapa lagi buat Danisha hingga Danisha tak mau jujur padanya perihal kondisi kesehatannya.
" A... Aku ga bohong. Kenapa bilang gitu ? Aku ga papa, Ka. "
" Ya udah ! Uumm... Mas Rendra apa kabar ? " tanya Saka ragu. Tenggorokannya sedikit tercekat menyebutkan nama Mas Rendra.
" Hah ? Owh... ba... baik, " gugup Danisha menjawab pertanyaan dari Saka mengenai Mas Rendra. Pasti dia sudah tahu hubungannya dengan Mas Rendra dari kedua sahabatnya, Distha dan Prasta.
" Syukurlah.... " Saka mengangguk-anggukkan kepalanya.
Keduanya terdiam, canggung.
" Eh, makasih foto lampionnya. Di Malang ya ? Pergi sendiri, jahat deh ! " kata Danisha memecah keheningan.
Saka tertawa pelan.
" Kapan-kapan ya kita pergi ke sana bareng Distha dan Prasta. Mau ? "
Kedua mata Danisha berbinar seketika. Wajahnya sumringah mendengar ajakan Saka.
" Mau donk ! Asiikk... beneran ya ? "
" Iya lah... tapi kamu harus sehat dulu lho ! Kalo belum sehat, ga bakalan pergi pokoknya, " tegas Saka.
" Iya iya... ini juga udah sehat kok, " ucap Danisha yakin.
Saka tersenyum dan mengusap kepala Danisha dengan penuh sayang.
" Makasih ya, udah kembali. Maaf, aku tak membalas pesan-pesan dan panggilan teleponmu pada saat kemarin aku sakit, " ucap Danisha lirih sambil menatap laki-laki berambut hitam tebal di hadapannya.
Dengan senyuman yang tersungging di bibirnya, Saka berkata, " Aku akan selalu kembali buat kamu meskipun aku pergi tanpa pamit. Seperti dulu, kamu lupa ? Aku juga minta maaf ya, karena pergi tanpa pamit. "
Danisha menggelengkan kepalanya, tersenyum sumringah.
" Iya, seperti dulu. Aku ga pernah lupa. Kamu pasti kembali selama apapun kamu pergi. "
Ya, Danisha ingat. Semasa SMA, mereka bertiga, Danisha, Saka dan Prasta pernah mengatakan bahwa mereka akan selalu bersama, saling membantu, saling mendukung dan akan selalu ada untuk yang lain.
Pernah suatu kali, sesaat setelah kelulusan SMA, Saka pergi ke luar kota tanpa pamit. Ia pergi menemani papanya urusan pekerjaan yang mendadak. Seminggu lebih Saka pergi tanpa kabar, tetapi begitu kembali pulang, ia segera menghubungi Danisha dan Prasta untuk bertemu dan meminta maaf karena pergi tanpa pamit.
Semua butuh waktu,
Menghargai sebuah proses
adalah hal terbaik yang bisa kita lakukan
******
Sudah 2 hari Mas Rendra tanpa kabar. Pesan pun tak ada, apalagi menelpon. Danisha ingin menghubungi tetapi selalu ia urungkan. Ia takut mengganggu waktu kekasihnya bersama keluarganya. Ia berusaha menerima keadaan, positive thinking.
Siang itu, Danisha meminta Saka untuk mengantarkannya ke studio DG FM. Ia sudah bosan berada di rumah hanya rebahan. Ayah, Bunda dan Kirana melarangnya untuk melakukan pekerjaan rumah. Lagipula, ia sudah merasa lebih baik dan sehat. Ayah dan Bunda pun pada akhirnya mengijinkan putrinya untuk berangkat ke studio Radio DG FM untuk siaran. Sebelumnya, Danisha sudah menghubungi Kak Ella untuk jam siaran nya. Walaupun sebenarnya Kak Ella melarangnya untuk datang siaran, Danisha tetap akan datang ke studio DG FM. Keras kepala, itulah Danisha.
" Makasih ya, Ka. Udah mau antar aku. Kamu langsung ke kantor Kak Sandra ? " Danisha mengucapkan terima kasih pada Saka yang sudah mengantarnya sampai di studio Radio DG FM. Ia tersenyum manis dengan kedua lesung pipinya.
" Iya, langsung ke kantor. Sama-sama, Sweet Girl. Kalau udah selesai, langsung kabari ya... nanti aku jemput, " jawab Saka tersenyum senang.
Danisha mengangkat jempolnya masih dengan senyum lesung pipinya.
" See you, Saka.... " Ia melambaikan tangannya ketika perlahan mobil Saka pergi meninggalkan Danisha di depan studio Radio DG FM.
Danisha menarik napas dan menghelanya perlahan, lalu dilangkahkan kakinya masuk ke dalam studio.
Dilihatnya, Bang Hendra di dalam ruang siaran. Sebelum masuk, ia absen dulu. Ketika Bang Hendra memutar lagu, ia pun masuk ke ruang siaran.
" Hey, Nona. Apa kabarmu, huh ? " Bang Hendra menyapanya sambil tertawa dan memberikan salam khasnya.
Danisha tertawa lebar dan berkata, " Alhamdulillah, Bang. Gimana kabar Bang Hendra ? "
" Baik, alhamdulillah. Jadi, siaran setelah Abang ? " tanya Bang Hendra.
" Maunya begitu, Bang. Aku temui Kak Ella dulu ya.... " ujar Danisha.
" Iyalah... sana laporan dulu. "
Danisha tersenyum sumringah. Ah, senangnya kembali kesini, gumamnya.
Ia pun keluar ruang siaran menuju ruangan penyiar. Tiba-tiba dari arah pantry, ia dikejutkan dengan seruan teman-temannya.
" Daniiish...! "
" Heeeyyyy...! "
Seketika Danisha tertawa senang dan menghambur ke teman-temannya yang tak lain, Renata, Dian dan tentu saja Kak Ella.
Mereka pun berpelukan layaknya boneka Teletubbies.
" Kamu sehat, sayang ? " tanya Kak Ella.
" Alhamdulillah, Kak . Aku sehat, seneng banget kembali kesini. Ya ampuuun... kangen banget lho, " celoteh Danisha.
" Nih ! Aku bawain puding buatan Bunda, " ujar Danisha kemudian sambil menunjukkan bingkisan yang dibawanya.
" Wow... ! puding mangga bukan ? " tanya Renata antusias.
" Mana ada mangga, ga musim lagi, Ren, " celetuk Dian.
" Ada puding coklat dan puding leci, tuh ! " sahut Danisha.
Mereka pun berjalan ke pantry untuk meletakkan puding yang dibawa Danisha.
Danisha menengok ke ruangan Mas Rendra yang tertutup. Ia hela napasnya pelan, lalu terdiam.
__ADS_1
Kak Ella menyadari perubahan sikap Danisha.
" Mas Rendra ga datang hari ini. Kemarin juga ga datang. Mungkin lagi ke luar kota, " kata Kak Ella sambil memegang bahu Danisha.
Danisha tersenyum melihat Kak Ella.
" Iya, Kak. Aku jadi siaran setelah Bang Hendra, kan ? " tanyanya mengalihkan pembicaraan.
" Iya, sayang. Eh, kamu kesini ga naik motor sendiri, kan ? " tanya Kak Ella.
" Diantar Saka, Kak, " jawab Danisha sambil mengambil air minum.
" Trus Saka nya kemana sekarang ? " tanya Dian.
" Ya, udah pergi lah. Dia juga banyak urusan, " jawab Danisha.
" Ok deh. Aku siap-siap dulu ya... selamat menikmati pudingnya. Hehehe.... " lanjut Danisha tertawa pelan.
Danisha beranjak meninggalkan pantry diikuti Kak Ella.
" Kamu sama Mas Rendra baik-baik aja, kan ? " tanya Kak Ella penasaran.
Danisha menoleh dan menatap Kak Ella. Ia tersenyum, " Baik, Kak. "
" Semua disini udah tau hubungan kamu dan Mas Rendra, Danish. "
" Maafkan Danish ya, Kak. Banyak ngerepotin kalian disini selama sakit. Sebenarnya dari beberapa hari yang lalu, Danish udah mau masuk tapi... "
" Iya Kakak tau, Danish. Semua disini paham kok, namanya juga lagi sakit. Ini Mas Rendra ga tau ya kalo kamu kesini ? "
" Iya. Tapi Kakak ga bilang dia kan ? "
" Aku ga bilang sama dia, tapi dia monitor, Danish. Dia bakal tau kalo kamu on air. "
" Ya udah lah, biarin aja. Aku juga butuh udara segar dan suasana lain untuk bisa refresh otak dan tubuhku. Ga melulu di rumah, Kak. Aku udah sehat, jangan terlalu berlebihan mengkhawatirkan aku, " tutur Danisha.
Kak Ella tersenyum menanggapi penuturan Danisha.
" Iya, Kakak paham kok. "
" Danish ke ruang siaran ya, Kak. Thanks, Kak Ella, " ucap Danisha sambil berlalu.
" Anytime, Danish, " jawab Kak Ella tersenyum lebar.
Danisha memasuki ruang siaran dan mengambil on air list form yang ada di meja siaran.
" Mas Rendra ga tau ya kalo hari ini kamu on air ? " suara Bang Hendra mengagetkan Danisha.
" Kenapa emangnya, Bang ? " tanya Danisha ingin tahu.
" Danish, Mas Rendra bilang,.... "
" Dia bilang sama kalian, aku belum boleh siaran sampai waktu yang tidak ditentukan atau tunggu approval dari dia. Begitu kan, Bang ? " Danisha memotong ucapan Bang Hendra sambil terkekeh.
" Ignore aja, Bang. Biarin semaunya dia. Aku hanya ingin me-refresh otakku dan tubuhku yang terlalu lama tak bergerak. Aku ingin sehat dan beraktivitas seperti sebelum-sebelumnya, " lanjut Danisha.
" Kalian ga ada masalah, kan ? "
Danisha menautkan kedua alis hitamnya.
" Ga ada. Kenapa ? "
" Syukurlah. Ok, aku keluar dulu mau cari makan. Welcome back, Tuan Putri, " ujar Bang Hendra terkekeh.
" Ada puding di pantry, Bang. Lumayan buat ganjel perut, " seru Danisha ikut terkekeh.
Bang Hendra menoleh dan mengangkat jempolnya.
Danisha sudah duduk di kursi penyiar saat ini dan bersiap untuk memulai tugasnya setelah satu Minggu lebih ia absen.
Jemarinya telah siap di atas audio mixer tepatnya di tombol fader lagu dan microphone, siap untuk on air.
" 86,7 DG FM. Assalamualaikum DG lovers, selamat siang buat kalian. Haaaiii... bahagia banget Alma Danish hari ini bisa ketemu kalian di siang hari yang ga terlalu terik yaa.. apa namanya, berawan gitu yaa... hehehe... Well, DG lovers... kalian bisa request lagu yang kamu sukai disini yaa... lagu apa aja deh ! Boleh via telepon atau WhatsApp yaa... seperti biasanya... Baiklah, sebelum Alma menerima request kalian, yuk dengerin lagu pilihan Alma berikut ini yaa... cekidot baby... Thank you for loving me by Bon Jovi.
( Fader mic off perlahan bersamaan fader lagu on )
πΆπΆπΆ
It's hard for me to say the things
I want to say sometimes
There's no one here but you and me
And that broken old street light
Lock the doors
We'll leave the world outside
All I've got to give to you
Are these five words when I
Thank you for loving me
For being my eyes
When I couldn't see
For parting my lips
When I couldn't breathe
Thank you for loving me
Thank you for loving me
I never knew I had a dream
Until that dream was you
When I look into your eyes
The sky's a different blue
Cross my heart
I wear no disguise
If I tried, you'd make believe
That you believed my lies
Thank you for loving me
For being my eyes
When I couldn't see
For parting my lips
When I couldn't breathe
__ADS_1
Thank you for loving me
You pick me up when I fall down
You ring the bell before they count me out
If I was drowning you would part the sea
And risk your own life to rescue me
When I couldn't fly
Oh, you gave me wings
You parted my lips
When I couldn't breathe
Thank you for loving me
Thank you for loving me
Thank you for loving me
Oh, for loving me
πΆπΆπΆ
******
Sementara itu, di sebuah rumah mewah di kawasan elit kota Malang. Rendra sedang sibuk di ruang kerja Pak Brata. Ia diminta Bapaknya untuk mempelajari berkas-berkas perusahaan properti keluarganya. Karena itu, ia menunda kepulangannya ke Surabaya.
Rendra memijat pangkal hidungnya. Di tangannya sebuah berkas sedang ia baca dan pelajari. Namun konsentrasinya terpecah. Ia menarik napas kasar.
Pak Brata yang sedang duduk di sofa di samping meja kerjanya dimana Rendra saat ini duduk, memperhatikan putra sulungnya yang terlihat gelisah.
" Istirahat dulu kalo capek, Ren, " tegur Pak Brata.
" Iya, sebentar lagi. Tanggung, Pak, " jawab Rendra sambil terus membaca dan menge-check satu persatu berkas itu. Ia ingin segera menuntaskan semuanya dan segera kembali ke Surabaya.
Sejak kedatangannya di rumah orang tuanya hingga hari ini, ia belum sempat menghubungi Danisha. Begitupun sebaliknya, Danisha juga tidak sekalipun menghubunginya.
Semua yang terjadi tak seperti harapannya. Setelah mengutarakan semua keinginan dan rencananya, memang kedua orang tuanya menyetujuinya tetapi tidak serta merta urusannya selesai dan ia bisa kembali ke Surabaya keesokan harinya. Sang Bapak, Pak Brata, memintanya untuk mempelajari seluk beluk perusahaan keluarganya sebelum ia benar-benar terjun mengambil alih jabatan sang Bapak.
Selain itu, sang Ibu selalu memintanya untuk menemani kemanapun beliau pergi. Hingga tak ada waktu luang untuk dirinya sendiri selama 3 hari di kota kelahirannya ini. Kembali ia menarik napas kasar, dadanya serasa sesak memikirkan Danisha, kekasih hatinya. Ia sangat merindukan gadis berlesung pipi itu.
Ah, waktunya memantau anak-anak on air, gumam Rendra. Ia meraih ponselnya dan headset untuk mendengarkan streaming radio DG FM. Betapa terkejutnya, telinganya jelas mendengar suara yang sangat dikenalnya. Suara dari orang yang sangat dirindukannya saat ini. Suara kekasihnya, Danisha Almanita.
Seketika ia beranjak dari duduknya. Pak Brata pun ikut kaget dibuatnya.
" Ada apa, Ren ? " tanya Pak Brata.
" Oh eh, ga ada apa-apa kok. Pak, Rendra permisi sebentar ya... ada yang harus Rendra kerjakan, " kata Rendra meminta ijin.
" Mau kemana ? "
" Ke kamar sebentar, Pak. "
Baru saja ia akan keluar ruangan itu, tiba-tiba sebuah suara membuat langkahnya terhenti.
" Hai, Ren. Siang, Om. "
" Eh, Aya. Siang, Nak, " jawab Pak Brata.
" Hai, " balas Rendra singkat.
Ya, yang baru saja datang adalah Aya. Gadis berkulit putih dan berhidung mancung teman Rendra semasa sekolah.
" Maaf, permisi sebentar, " ujar Rendra kemudian akan beranjak dari ruangan itu.
" Lho kamu mau kemana, Ren ? Temani Aya dulu gih... " timpal Bu Rima yang baru saja masuk ruangan itu.
" Ada yang harus Rendra kerjakan sebentar Bu, mengenai pekerjaan Rendra di Surabaya, " jelas Rendra sedikit berbohong.
" Ga apa-apa, Tan. Silahkan, Ren. Aku tunggu di sini, ya... " ucap Aya santai.
Rendra mengangguk ragu. Ia pun segera bergegas ke kamarnya. Setengah berlari ia menaiki tangga menuju kamarnya.
Sesampainya di kamarnya, pintu ia tutup dan kunci. Ia berusaha menghubungi nomor ponsel Kak Ella. Namun tidak ada respon. Lalu ia menghubungi nomor ponsel Hendra dan laki-laki yang biasa disapa Bang Hendra itu pun menjawab panggilan telepon nya.
" Yes, Mas. "
" Hen, Danisha on air ? Kak Ella mana ? " tanya Mas Rendra beruntun.
" Kak Ella masih makan. Iya, Danisha on air. "
Di seberang sana, Bang Hendra menjawab dengan santai.
" Hen, Danisha ga apa-apa kan ? Keras kepala banget sih ! Disuruh istirahat aja susahnya minta ampun, " cicit Mas Rendra dengan nada kesal.
" Hehehe... jangan terlalu protektif begitu, Mas. Ga bagus buat hubungan kalian. "
" Tolong aku mau bicara sama Kak Ella, Hen, " ujar Mas Rendra sambil menghela napas kasar.
" Ok, sebentar Mas. "
" Ya, Mas. Ella disini. "
" Kak, maaf. Kakak yang kasih jam on air ke Danisha ? " tanya Mas Rendra sopan.
" Iya, maaf. Dia menelponku semalam bilang kalo dia pengen banget siaran. Bosan katanya, Mas. Dia butuh atmosfer lain untuk me-refresh otak dan tubuhnya. Aku ga tega, sorry. "
Mas Rendra mengusap wajahnya sambil menghela napas panjang.
" Dia ga bawa motor sendiri, kan ? " tanya Mas Rendra khawatir.
" Ga, kok. Lagian mana mungkin orang tuanya mengijinkan dia bawa motor sendiri. She's fine, Mas. She looks happy, no worries. "
Mas Rendra terdiam sejenak mendengar perkataan Kak Ella.
" Ok, kalo ada apa-apa segera hubungi aku ya, Kak. Sorry to bother you again. Oh ya, dia naik ojek online ? "
" Siap, Mas. No problem. Kita disini akan jaga tuan putrimu... hehehe... Dia diantar Saka. "
DEG !
Diantar Saka ?
Tbc
Aya
**Hellooww LOTA Lovers ππ
Welcome back at DG FM, Alma Danish π
Yang kangen Alma Danish siaran, gimana gimana ? Seneng ga ?
Jgn lupa tinggalkan jejak kalian disini ya... like, komen n syukur2 ada yg kasih tip n vote ππ€
Stay safe n healthy as always My LOTA Lovers π€πππ**
__ADS_1