
" Horeeeee... Kak Danish datang ! "
Teriakan dua bocah perempuan kecil itu membuat Danisha tersenyum lebar dengan jalan yang sedikit cepat. Tak sabar untuk menghampiri dua bocah kecil itu.Sementara Saka yang berada di belakangnya pun ikut tersenyum. Kedua tangannya membawa kantung plastik besar, berjalan dengan perlahan.
Beberapa anak yang usianya di atas kedua bocah tadi, yang sedang berkerumun sambil bernyanyi-nyanyi pun menengok ke arah Danisha dan Saka datang. Menghentikan aksi mereka dan beberapa diantara mereka menghampiri Saka dan Danisha. Senyum merekah menghiasi wajah mereka. Danisha dan Saka pun tak kalah sumringah melihat mereka yang terlihat senang menyambut kedatangan mereka berdua.
" Kak Danish, Fitri kangen, " ucap manja Fitri, bocah kecil berumur 5 tahun yang sedari tadi heboh dengan kedatangan Danisha.
Danisha tertawa melihat tingkah polah si bocah yang menggemaskan. Sembari berjongkok, ia merangkul bocah kecil itu.
" Kakak juga kangen sama Fitri, sama kalian semua di sini, " ujar Danisha, tangannya mencolek hidung mungil si bocah.
" Fitri ga kangen sama Kak Saka, nih ? " goda Saka yang datang setelah membagikan makanan yang mereka bawa kepada anak-anak jalanan di tempat itu.
" Ga ! " sahut Fitri menggelengkan kepalanya.
" Ish ! Kok gitu, ga kangen Kakak ya, sedih nih ! " ucap Saka pura-pura merajuk.
" Kenapa ga kangen sama Kak Saka ? " tanya Danisha dengan senyuman manisnya.
Fitri menggelengkan kepalanya lagi, tersenyum malu-malu pada Danisha dan Saka.
" Fitri udah sering ketemu Kak Saka, jadi sekarang ga kangen. Kangennya sama Kak Danish yang udah lama ga ke sini, " kata Fitri dengan polos.
Danisha mengerutkan dahinya, lalu menatap Saka penuh tanya. Sementara Saka yang mendengar ucapan Fitri dan mendapat tatapan dari Danisha pun tersenyum tipis.
" Oh ya ? Jadi Kak Saka sering ke sini ya... Maafin Kak Danish ya, lama ga ke sini. Kak Danish repot soalnya, " Danisha berkata sembari merapikan rambut bocah kecil itu.
" Iya, Kak. Kan ada Kak Audy yang gantiin Kak Danish. Kak Audy baik juga, sama seperti Kak Danish, " ucap Fitri sembari membuka kotak kue dari Danisha.
Danisha sedikit terkejut mendengar ucapan Fitri yang sangat polos. Ia melirik Saka yang mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Seolah berpura-pura tidak mendengar ucapan bocah kecil yang polos itu.
" Ya udah. Ayo dimakan kue nya. Fitri mau yang mana ? " tanya Danisha mengalihkan pembicaraan.
Kembali hatinya diliputi kegundahan. Ada hal yang mengganggu pikirannya setelah mendengar penuturan Fitri.
Saka melihat Danisha yang sedang membantu Fitri mengupas bungkus kue. Sesekali terlihat mereka tertawa. Sementara dirinya sedang berkumpul bersama beberapa anak jalanan sambil bermain musik dan bernyanyi.
*******
Saka dan Danisha dalam perjalanan pulang setelah puas bercanda dengan anak-anak jalanan. Tak ada pembicaraan di antara keduanya. Hanya suara musik dari audio mobil yang terdengar pelan.
Sekilas Saka melirik Danisha yang melihat ke arah luar jendela mobil. Saka menghela pelan napasnya. Tetap fokus mengendarai mobilnya, ia berdehem pelan. Kembali menatap Danisha.
" Kita langsung pulang atau.... "
" Pulang aja, aku capek ! " sahut Danisha memotong ucapan Saka.
Saka berdehem pelan. Ia pun melajukan mobilnya menuju arah rumah Danisha. Kembali ia melirik kekasihnya yang masih betah melihat jalanan dari arah jendela.
" Ga bosan liat jalanan dari jendela gitu ? Nanti kamu pusing lho, Bee... liat jalanan dari samping gitu, " ucap Saka, mencoba mencairkan suasana dengan sedikit candaan di sela keheningan di antara mereka.
Saka berharap Danisha akan memalingkan wajah cantiknya ke arahnya atau ke arah depan. Namun harapannya meleset. Danisha tetap dengan posisinya.
" Bee...."
Tak ada sahutan dari kekasihnya. Saka menghela napasnya panjang.
Entah mengapa, setelah mendengarkan perkataan Fitri, bocah kecil yang polos itu, Danisha merasa kesal. Kesal pada Saka yang ternyata menyembunyikan sesuatu darinya. Lalu ia teringat dengan obrolan yang didengarnya di kampus. Mereka bilang, Audy masih mengharapkan Saka. Teringat juga olehnya ketika Saka mengajaknya ke acara ulang tahun Audy.
Saka menghentikan mobilnya di depan rumah Danisha. Begitu central lock mobil dibuka, Danisha langsung mbuka seat belt nya, lalu membuka pintu mobil dan keluar. Tanpa menunggu Saka, ia berjalan masuk ke dalam rumah.
Saka segera keluar dari mobil dan berjalan setengah berlari mengejar kekasihnya.
" Bee... "
" Aku capek mau istirahat, " sahut Danisha terus berjalan masuk ke dalam rumah tanpa mempedulikan Saka.
Saka menghentikan langkahnya di teras.
" Ok, aku pulang ! " serunya berpamitan pada Danisha.
Danisha menghentikan langkahnya ketika sampai di ruang tengah rumahnya. Ia bisa mendengar suara Saka yang berpamitan. Kenapa dia ga bicara sama sekali tentang Audy ? batin Danisha. Ia sungguh kesal, dadanya sesak dan ingin menangis.
" Kak ? "
Suara Kirana mengagetkannya. Adiknya telah berdiri di sampingnya sambil memegang bahunya.
Danisha tersenyum lalu berjalan pergi ke kamarnya. Sementara sang adik tertegun dengan sikap sang kakak.
Saka masuk ke dalam mobilnya. Namun dia tak langsung menyalakan mesin mobilnya. Ia duduk di kursi kemudi, menatap jendela kamar Danisha. Baru kali ini Danisha bersikap begitu padanya. Mendiamkannya. Sesak sekali dadanya. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat ini. Apa semua karena perkataan Fitri ? gumamnya dalam hati. Ah ! Mungkin ia memang salah. Tidak pernah menceritakan perihal Audy yang sering mengunjungi anak-anak jalanan bersamanya. Harusnya memang ia menceritakan hal itu pada kekasihnya, bukan dia mendengar dari orang lain terutama dari mulut anak kecil yang memang benar-benar polos. Maafkan aku, Bee... gumamnya lirih.
__ADS_1
Sementara itu, Danisha yang sudah berada di kamarnya sedang duduk di tepi ranjang. Memikirkan semua yang ia dengar dari Fitri. Bocah kecil polos itu mengatakan jika Audy dan Saka beberapa kali datang mengunjungi mereka. Jadi selama ini mereka sering bertemu tanpa sepengetahuannya. Mungkin benar yang dikatakan teman-teman satu fakultas Audy, bahwa Audy mempunyai perasaan lebih pada Saka. Audy mencintai Saka.
Danisha menghela napasnya dalam. Entah kenapa, ia merasa sangat kesal mendengar semua hal itu dari Fitri, bukan dari Saka sendiri. Hatinya merasa sakit, Saka tidak jujur dengannya. Lalu ia teringat lagi dengan obrolan teman-teman Audy. Dikatakan mereka bahwa Saka hanya kasihan dengannya yang sakit-sakitan. Ia dari keluarga biasa sedangkan Saka adalah anak dari seorang pengusaha kaya yang berduit.
Tangan Danisha meremas sprei ranjangnya. Hatinya perih mengingat hal itu. Bahunya bergetar, ia terisak.
Ponsel yang masih berada di dalam tas kesayangan Danisha berbunyi sedari tadi. Danisha mengusap air matanya dengan kedua telapak tangannya. Lalu diraihnya tas yang masih tergeletak di ranjang tepat di samping ia duduk. Tangannya mengambil ponsel yang terus berdering.
" Assalamualaikum, Sist, " sahut Danisha sembari mengusap hidungnya dengan tissue dan sedikit sesenggukan.
" Waalaikumsalam. Danish ? Ka... Kamu kenapa ? "
Suara di seberang sana terdengar cemas.
" Ga apa-apa, Distha. Cuma agak flu, " bohong Danisha pada Distha yang menelponnya.
" Jangan bohong, deh ! Kamu nangis, kan ? "
Sejenak Danisha terdiam, berusaha untuk bersikap tenang.
" Ga, kok ! Ada apa, Sist ? "
" Beneran kamu ga apa-apa ? "
" Iya, I'm ok. Ada apa, sih ? " tanya Danisha penasaran.
" Kamu udah di rumah ? Aku mau ke rumah kamu, "
" Sekarang ? "
" Iyes lah, Sist. Kenapa ? Kamu sibuk, ya ? Kalau sibuk, yaa besok aja deh kalau gitu. "
" Maaf ya, Sist. Besok ketemu di kampus ya ? " ujar Danisha menghindar. Ia tidak ingin bertemu Distha dalam keadaan seperti ini.
" Baiklah, Sist. Sampai ketemu besok, ya... see ya.... "
******
Usai jogging di halaman belakang rumah, Saka segera membersihkan tubuhnya dan bersiap akan ke rumah Danisha. Pagi ini, ia akan menemui Danisha untuk menjelaskan semuanya. Semalam ia tidak bisa tidur nyenyak, memikirkan apa yang telah terjadi. Danisha mendiamkannya. Itu sangat menyiksa dirinya.
Tergesa-gesa Saka menuruni anak tangga, menuju ruang makan untuk sarapan. Saka terkejut mendapati sosok laki-laki muda sudah duduk bersama kedua orang tuanya menikmati sarapan.
" Hai, Ka, " sapa laki-laki itu.
" Ada angin apa nih, pagi-pagi dah kemari, " cetus Saka.
Bu Dinda dan Pak Rahmat tersenyum melihat anak dan keponakannya.
" Kamu sarapan apa, Ka ? " tanya Bu Dinda yang masih sibuk mengolesi roti tawar dengan selai coklat.
Saka mencomot setangkup roti tawar dengan selai coklat yang sudah tersedia di piring saji. Susu coklat sudah disiapkan pula oleh sang Mama.
" Pa, Saka ijin ga ke kantor hari ini ya ? Mau ke kampus dan ada urusan juga, " ucap Saka meminta ijin pada sang Papa tidak masuk kerja.
" Wiiihhh... kebetulan banget nih ! "
Saka menautkan kedua alis hitamnya, menatap lekat saudara sepupunya.
" Apaan, Bang ? " tanyanya kemudian.
" Mau ikut ke kampus kamu. "
Seketika Saka meletakkan roti tawar yang akan disantapnya.
" Apa ? Wait, aku ga salah dengar kan, Bang ? Bang Ardhy mau ikut aku ke kampus ? " cecar Saka penuh tanya.
Bu Dinda tersenyum simpul melihat interaksi keduanya sembari terus menyiapkan roti tawar berlapis coklat kesukaan putranya.
Dokter Ardhy mengangguk dengan mulut yang sedang mengunyah nasi goreng buatan Bu Dinda.
" Ada urusan apaan ? " tanya Saka yang makin penasaran.
" Nanti juga kamu tahu, " ujar Dokter Ardhy santai.
" Sorry, aku masih ada urusan lebih penting pagi ini. Pa, Saka ijin ya, " ucap Saka sembari beranjak dari duduknya setelah roti dan segelas susu telah dihabiskannya.
Pak Rahmat mengangguk.
" Kamu ada apa sih, Ka. Kok buru-buru begitu ? " tanya Bu Dinda.
" Kalau udah begini, apalagi sih Ma kalau bukan soal Danisha, " sahut Pak Rahmat dengan seulas senyuman.
__ADS_1
Saka mengangkat ibu jarinya.
" Eh ! Tunggu dong, Ka ! " sela Dokter Ardhy buru-buru menghabiskan air minumnya.
" Sorry, Bang ! Kali ini aku ga mau diganggu ! Urusan masa depan, hidup dan mati ! " tukas Saka.
Bu Dinda menggelengkan kepalanya melihat anak dan keponakannya yang seringkali adu mulut.
" Papa sarankan, segera lamar Danisha aja, Ka ! " kata Pak Rahmat dengan sebuah senyuman di wajahnya setelah putranya mencium punggung tangannya untuk berpamitan.
Bu Dinda sontak mengalihkan pandangan ke arah suaminya.
Saka pun tertegun menatap sang Papa. Demikian halnya dengan Dokter Ardhy. Ketiga orang tersebut tertegun menatap Pak Rahmat.
" Lho ! Kenapa ? Kok pada bengong ngeliatin Papa ? " tanya Pak Rahmat.
Sejenak hening, tiba-tiba Saka tersenyum sumringah.
" Thank you, Pa. Nanti Saka pikirkan ! " ucapnya bersemangat.
Saka mendekati Bu Dinda dan mencium pipi sang Bunda dengan senyum sumringah.
Dokter Ardhy terbengong menyaksikan semua yang terjadi di depan matanya sebelum kemudian tersadar dan mengejar Saka yang sudah berjalan tergesa-gesa ke mobilnya.
" Ka, tunggu ! Kalau begitu bagi alamat Distha, dong ! " seru Dokter Ardhy.
Saka terdiam, mengurungkan membuka pintu mobilnya dan berbalik menghadap saudara sepupunya. Ia menatap lekat laki-laki berprofesi dokter di hadapannya. Sang Dokter tersenyum dengan tatapan memohon.
" Iya, tapi nanti ! Aku selesaikan urusanku dulu. Aku buru-buru, " ujar Saka datar sembari masuk ke mobilnya. Di dalam mobil, ia tersenyum meledek sepupunya. Ia membuka kaca jendela mobilnya, lalu berkata sedikit berteriak pada Dokter Ardhy.
" Cinta butuh perjuangan, Bang ! Ga semudah yang Abang inginkan ! Bye, Bang Dokter ! " Saka tergelak tawa sembari melajukan mobilnya.
" Eh ! Apaan coba ! Dasar saudara ga ada akhlak ! " seru Dokter Ardhy kesal menatap mobil Saka meninggalkan rumah besar saudara sepupunya.
******
Danisha sedang bersiap untuk berangkat ke kampus ketika Bunda masuk ke dalam kamar putri sulungnya.
" Putri Bunda rajin bener, jam segini udah siap. Mau ke kampus atau siaran ? "
" Mau ke kampus dulu, Bun. Siaran baru nanti sore, " jawab Danisha lesu.
Bunda memperhatikan wajah putrinya. Terlihat lesu dan tidak bersemangat. Bunda tersenyum berjalan mendekati putrinya.
" Saka udah nunggu di depan, tuh ! " ucap Bunda.
Danisha menatap Bunda dengan raut terkejut. Bunda menyipitkan kedua matanya, ikut terkejut dengan reaksi Danisha.
" Ada apa, sayang ? " tanya Bunda yang heran dengan sikap putrinya. Tak seperti biasanya, putrinya terlihat tidak bersemangat ketika Bunda mengatakan Saka sudah menunggunya. Biasanya, Danisha akan bersemangat bila Saka telah datang menjemputnya.
Danisha menggelengkan kepalanya, tersenyum menatap Bunda dan sejurus kemudian mengecup kedua pipi wanita paruh baya itu dengan sayang.
" Danish berangkat, Bunda, " pamit Danisha mencium tangan sang Bunda.
Bunda menghela napasnya pelan. Lalu berjalan mengikuti Danisha yang sudah lebih dulu berjalan.
" Pagi My Bee... " sapa Saka sumringah saat melihat Danisha keluar dari dalam rumah. Penampilan kekasih hatinya selalu mempesona, sederhana tetapi luar biasa. Hatinya selalu menghangat dan berdebar setiap kali menatap wajah penuh pesona dengan lesung pipi yang selalu membingkai wajahnya.
Danisha hanya tersenyum tipis yang terlihat dipaksakan. Karena ada Bunda bersama mereka. Danisha tidak ingin Bunda mengetahui apa yang telah terjadi di antara dirinya dan Saka.
" Berangkat sekarang ? " tanya Saka lembut dengan tatapan dan senyuman penuh cinta.
" Maunya ? " Danisha bertanya balik dengan sedikit ketus.
Tbc
**Hellooww LOTA Lovers 💞💞
Apa lagi ya ini ? Hehehe.... setiap hubungan pasti ada kan kerikil2 kecil yang menjadi aral.
Ujian dalam setiap hubungan cinta itu pasti ada lho !
Tetap setia ya sama kisah mereka 🤗
Jangan lupa mampir n baca kisah Prasta n Renata di LOVE N DREAMS yaa... di sana ada Danisha n Saka juga lho !
Jangan lupa 3M pesan Ibu yaa... Tetap selalu jaga kesehatan 🤗
__ADS_1
Banyak terima kasih, cinta dan sayang buat LOTA Lovers 🤗😘💞💞**