
Maaf
Jika karenaku kau marah
Kau pantas mengacuhkanku
Kau pantas mendiamkanku
Aku hanya ingin bercerita denganmu
Tentang rasa
Dan tentang waktu
Berharap segala rasaku tak lagi membuatmu marah
Berharap waktuku cukup untuk menghapus acuh dan diammu
Semoga...
Danisha mendesah pelan memandangi ponsel di tangannya. Ia baru saja menghubungi Saka, 3 kali panggilan namun tak ada jawaban. Ia terlihat gelisah. Sebegitu marah kah dia padaku, hingga mengacuhkan pesan dan teleponku ? gumam Danisha.
Pintu kamar terbuka, Mas Rendra baru saja kembali dari sholat Ashar di musholla rumah sakit. Ia melangkah ke samping ranjang Danisha.
" Ada apa ? " tanya Mas Rendra
" Aku mencoba menelpon Saka, tapi tak ada jawaban. Keknya dia benar marah padaku, " jawab Danisha.
" Lagi sibuk mungkin.. " ucap Mas Rendra datar, terlihat kurang senang bila Danisha membicarakan Saka.
" Empat hari dia ga ada kabar, Mas. Dia tak seperti itu, sesibuk apapun dia selalu kasih kabar. Walaupun cuma pesan singkat. Aku rasa dia benar-benar marah padaku, " tutur Danisha.
" Ka, aku ingin bercerita.. Kamu tau, aku takut Ka.. Aku takut tak punya waktu lama lagi bersama kalian. Aku takut menghadapi semua ini tanpa kalian.. " batin Danisha. Tanpa ia sadari, air mata nya luruh membasahi pipinya.
Mas Rendra terkejut melihat Danisha menangis. Ia pun mengambil kursi dan duduk di samping ranjang Danisha.
" Hey sayang.. kenapa menangis ? Aku salah bicara ? " tanya Mas Rendra bingung.
Danisha menghapus air matanya dengan punggung tangannya.
Mas Rendra meraih tangan Danisha, menggenggam dan mengusapnya dengan lembut. Tersenyum manis pada sang kekasih, ia pun berkata, " Apa yang sedang meresahkanmu, huh ? "
Danisha menatap Mas Rendra, lirih dia berkata, " Aku takut. "
" Takut apa ? " tanya Mas Rendra
Danisha menggeleng. Ia melepaskan tangannya dari genggaman Mas Rendra. Ditundukkan kepalanya dan ia memainkan jemari tangannya. Masih terdengar pelan isakannya. Ia masih memikirkan segala perkataan Dokter Andra tadi pagi. Tumor otak, diagnosis sakitnya.
" Sayang.. dengerin ya.. semua akan baik-baik aja. Aku udah menelpon Ayah, sepulang kerja Ayah dan Bunda akan kemari. Kita akan membicarakannya, " Mas Rendra menenangkan gadis pencuri hatinya.
Danisha menghela napasnya, lalu tersenyum dan mengangguk.
Mas Rendra pun tersenyum menatap wajah pucat Danisha, ia raih kedua tangan sang pujaan hati dan menggenggamnya penuh cinta.
*******
Saka telah sampai di kota Malang. Entah mengapa ia melajukan mobilnya ke kota ini. Ia berhenti di sebuah minimarket untuk beristirahat sejenak. Ia membeli beberapa makanan ringan dan biskuit untuk camilan serta air mineral. Ia duduk di depan minimarket sambil minum kopi panas yang baru ia beli di dalam minimarket dan memikirkan tempat menginapnya malam ini. Sebenarnya bisa saja ia pergi ke villa milik keluarganya tanpa bersusah payah mengeluarkan uang untuk biaya menginap. Namun, villa milik keluarganya bertempat di kota Batu, butuh waktu kurang lebih 1 jam untuk sampai di sana.
Saka menghela napasnya pelan dan menengok jam tangan sport yang melingkar di tangan kanannya, jam 4 sore. Lalu Saka menengok ponselnya, ada pesan masuk dari Distha.
Distha
" Ka, kamu dimana sih ? Kamu tega bener ya sama kita, terutama sama Danisha. Kamu boleh marah Ka, tapi tidak dengan mengacuhkan Danisha. Keterlaluan tau ga ?! "
Saka kembali menghela napasnya, tersenyum tipis. Distha memang begitu, selalu ceplas ceplos. Ia pun mulai mengetik pesan balasan untuk Distha.
Me
" Hai Sista. Maaf ya.. untuk saat ini aku masih belum bisa menemui kalian. Tapi aku baik-baik aja. Tolong bilang ke Danisha begitu. Aku pasti akan menemui kalian nanti. Dan tolong bilang juga pada Danisha, cepat sehat dan tetaplah baik-baik. Thanks Sist. "
Kemudian Saka bangkit dari duduknya dan berjalan ke mobilnya. Setelah berada di dalam mobilnya, ia mencoba browsing di internet mencari hotel terdekat. Setelah menemukannya, ia pun melajukan mobilnya. Namun sebelumnya, ia akan mencari masjid terdekat untuk sholat Ashar baru kemudian menuju hotel yang ia temukan di internet.
Tak lama ia menemukan masjid yang tak jauh dari minimarket tadi. Ia pun segera menepikan dan memarkirkan mobilnya. Dan bergegas menuju ke dalam masjid untuk mengambil wudhu dan sholat. Selang 10 menit kemudian, Saka telah selesai menjalankan ibadahnya. Segera ia menuju mobilnya dan melajukannya ke hotel yang akan dibuatnya menginap malam ini.
*******
Setelah check in dengan petugas hotel dan mendapatkan kunci kamar yang berbentuk kartu pass, ia pun menuju ke lantai 2 tempat kamarnya berada.
Sesampainya di kamar, ia rebahkan tubuhnya sejenak sambil menyalakan televisi di kamar itu. Ia pun mengeluarkan ponsel dari saku celananya, dibukanya dan dilihatnya ada pesan baru dari Distha.
Distha
" Ka, kalo kamu mencintai Danisha, bukan begini caranya. Kumohon Ka, dia gelisah terus mikirin kamu yang ga ada kabar. Gimana dia mau sembuh kalo pikirannya tidak tenang dan itu karena kamu. Setidaknya balaslah pesannya. "
Saka menarik napas panjang, lalu dihembuskannya perlahan. Lalu diketiknya pesan balasan untuk Distha.
Me
__ADS_1
" Baiklah, nanti akan kubalas pesannya. "
Saka beranjak menuju tas ranselnya, ia ambil pakaian dan peralatan mandinya lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Setelah sholat Maghrib, ia berencana akan keluar hotel untuk mencari makan dan berjalan-jalan mencari obyek foto yang sudah lama tak dilakukannya.
Pukul 18.30 saat ini, Saka pun bersiap akan keluar hotel. Dikenakannya jaket varsity nya dan dibawanya tas slempang yang berisi kameranya. Tak lupa dompet dan ponselnya pun ia masukkan ke dalam saku celananya.
Diraihnya kunci mobil dan kartu pass kunci kamarnya, lalu ia berjalan keluar kamarnya, siap bermain dengan kamera kesayangannya.
Di lobby hotel, ponselnya berdering. Panggilan dari Mama, seketika ia menepuk keningnya. Ia lupa belum menelpon sang Mama memberitahu jika ia sudah sampai di Malang.
" Assalamualaikum Ma.."
" Waalaikumsalam, kamu dimana Ka ? Katanya mau ngabarin Mama, kok ga ada ? Jangan bikin Mama khawatir donk.." Bu Dinda berkata tanpa jeda.
" Maaf Ma, Saka baru sampai pas Maghrib tadi. Ini Saka mau keluar cari makan. Saka di Malang, " jawab Saka.
" Di villa ? " tanya Bu Dinda
" Ga, Ma. Saka di kota aja, ga ke villa. Saka keburu capek, " ucap Saka.
" Ya udah kalo gitu, kamu hati-hati ya.. jangan lupa makan, " kata Bu Dinda mengingatkan.
" Siap, Mama sayang.. assalamualaikum.. " jawab Saka dengan tertawa pelan dan pamit menutup teleponnya.
Saka memasukkan ponselnya kembali ke saku celana jeans nya, kemudian berjalan ke tempat parkir dimana mobilnya berada.
Ketika sudah berada di dalam mobilnya, ia menyalakan mesin mobilnya. Ia letakkan tas nya di bangku di samping kirinya.
Tak lupa ia nyalakan audio mobilnya, kemudian mulai melajukan mobilnya ke arah kota.
Terbersit olehnya untuk singgah ke tempat hiburan yang letaknya tak jauh dari hotel tempatnya menginap, Malang Night Paradise. Sejenak ia melupakan makan malamnya. Ia teringat tempat hiburan itu merupakan taman hiburan keluarga dengan menghadirkan taman lampion dan beberapa replika Dinosaurus.
Ia tersenyum simpul dan mengarahkan mobilnya ke arah tempat hiburan itu.
Sesampainya di sana, ia segera membeli tiket masuk dengan antrian yang tidak terlalu ramai. Setelah mendapatkan tiket, ia pun memasuki tempat hiburan itu. Lagi-lagi ia tersenyum sumringah melihat suasana meriah di dalam tempat itu.
Saat ini memang tidak terlalu banyak pengunjung, mengingat saat ini bukan hari libur. Beberapa wahana permainan memang dikhususkan untuk anak-anak, namun ada juga wahana permainan untuk remaja dan dewasa. Saka tersenyum-senyum melihat para pengunjung yang mencoba wahana permainan. Kali ini, ia hanya ingin bermain dengan kamera kesayangannya. Berbagai bentuk lampion dengan lampu warna-warni ada di tempat itu, bersinar cantik membuat tempat hiburan itu semakin meriah penuh warna.
Saka kembali tersenyum melihat hasil foto nya, lampion dengan bentuk bunga berwarna-warni yang ia ambil dari kamera ponselnya.
Sambil melahap kroket kentangnya, ia memandangi lampion-lampion di hadapannya lalu tersenyum tipis. Terlintas olehnya wajah gadis kesayangannya, Danisha. Gadis itu sangat menyukai lampion. Suatu hari nanti, aku ingin membawamu ke sini Danish, gumam Saka dalam hati.
" Mas, bisa minta tolong ambilkan foto kami ? " tiba-tiba seorang gadis menyodorkan ponselnya ke arah Saka.
Saka terhenyak dari lamunannya. Ia tersenyum melihat gadis di hadapannya.
" Owh iya.. bisa bisa, " ucap Saka dan ia pun berdiri. Ia mengikuti gadis tadi menemui temannya yang berdiri tak jauh dari tempat itu.
" Eh, Saka ? Saka kan ? " tanya teman dari gadis yang memintanya memotret tadi.
" I.. Iya. Sorry, siapa ya ? " tanya Saka gugup dan bingung.
" Kamu anak Fikom, temannya Distha kan ? Aku Audy, anak Ekonomi, " jawab gadis itu sambil mengulurkan tangannya.
Saka pun menyalami tangan gadis yang bernama Audy itu.
" Ah iya, hai.. " ucap Saka tersenyum tipis.
" Owh ya kenalin temanku, Kiki, " Audy memperkenalkan temannya, gadis yang minta bantuan Saka tadi.
" Hai, Saka, " ucap Saka menyalami Kiki.
" Kiki. Jadi ga nih kita foto ? " ujar Kiki.
" Ah iya.. tolong ya Ka.. " sahut Audy sambil tersenyum sumringah.
" Ok, ayo.. " kata Saka.
Kedua gadis itu pun mulai berpose dan Saka menjadi fotografer nya untuk beberapa jepretan. Sebenarnya Saka belum mengenali gadis yang bernama Audy itu. Sekilas memang sepertinya ia tak asing dengan wajah gadis itu. Entahlah, namanya juga kampus dengan banyak mahasiswa dari berbagai fakultas dan jurusan.
" Ok, Saka. Makasih banyak ya.. udah bantuin kita foto-foto, " ujar Audy tersenyum senang.
" Oh ya.. kalo gitu aku permisi ya.. Mau terusin makan dan minum ku itu, " kata Saka sambil menunjuk ke mejanya. Ia ingin kembali duduk di tempatnya untuk menghabiskan makanan dan minumannya.
" Kamu ga lanjut jalan-jalan nya ? Bareng yuk kalo mau lanjut, " ajak Audy dengan antusias.
" Eh sorry, silahkan kalo mau lanjut. Aku mau duduk-duduk dulu, " sahut Saka, menolak dengan halus.
" Oh ya, Ka. Kamu sendiri ? Biasanya kalian berempat kemanapun, " tanya Audy penasaran.
Saka tersenyum dan mengangguk. Entah mengapa ia sedikit terganggu dengan kehadiran Audy dan temannya, apalagi dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Audy padanya. Membuatnya tak nyaman.
__ADS_1
Saka kembali menikmati makanan ringannya hingga habis dan menenggak air mineral dalam botol berukuran medium itu. Kedua gadis itu ternyata masih belum pergi. Sementara itu, Saka masih memandangi lampion-lampion itu. Indah sekali. Ia teringat Danisha kembali.
Diraihnya ponsel nya. Ia mencari pesan whatsapp dari Danisha. Dibukanya pesan dari Danisha, ia akan mengirim foto lampion sebagai balasan untuk gadis yang selalu ada di relung hatinya.
Me
" Hai.. Sweet girl βΊοΈ Indah bukan lampion-lampion ini ? Kamu pasti menyukainya. Kamu slalu bilang lampion itu lambang harapan dan kebahagiaan. Smoga sgala harapanmu tercapai dan kebahagiaan slalu bersamamu. Akupun berharap begitu untuk diriku. Baik-baiklah Sweet girl. Maaf.. "
Saka pun mengirimkan pesan balasannya dengan foto lampion pada Danisha. Ia tersenyum senang.
" Hai, Ka. Yuk kita jalan lagi. Di sana spot nya bagus-bagus lho, " ajak Audy kembali, tangannya menunjuk ke tempat lainnya dimana masih banyak spot-spot foto yang bagus lainnya di tempat hiburan itu.
" Uumm.. kalian dulu aja. Aku masih ingin duduk disini, " jawab Saka.
Ia heran, kenapa gadis ini tiba-tiba sok akrab dengannya. Padahal mereka baru saja berkenalan, belum ada 2 jam juga. Saka menarik salah satu sudut bibirnya. Lalu ia menenggak air mineral nya hingga tinggal sepertiganya.
" Beneran ini, kamu ga mau lanjut jalan sama kita ? " Audy masih saja belum menyerah untuk mengajak Saka jalan bareng di tempat hiburan itu.
" Sorry, aku ada keperluan lain. Kalian silahkan menikmati jalan-jalan kalian disini. Permisi.." sahut Saka, tersenyum tipis dan beranjak pergi.
" Saka.. tunggu ! " panggil Audy sambil berjalan cepat menghampiri Saka yang sudah meninggalkan mereka.
Saka menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Mau apalagi sih dia, batin Saka.
" Boleh aku tau nomor ponsel kamu ? " tanya Audy berharap.
" Sorry, aku ga biasa membagi nomor ponsel dengan orang yang baru aku kenal kecuali urusan pekerjaan. Aku duluan ya.." ucap Saka datar dan berlalu meninggalkan Audy yang terdiam sambil menatap Saka pergi.
********
Saka menggeliatkan badan dan mengerjapkan matanya. Bunyi alarm ponselnya membangunkannya. Diraihnya ponsel yang ia letakkan di meja dekat ranjang tidur hotel. Dimatikan alarmnya dan dilihatnya jam di ponselnya, 04.30.
Saka bangun dan duduk di tepi ranjang. Ia menggerak-gerakkan tubuhnya untuk meregangkan otot-otot tubuhnya. Lalu ia pun beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri sekaligus mengambil air wudhu untuk sholat Subuh.
Sementara itu, di rumah sakit tempat Danisha dirawat. Danisha sudah selesai sholat Subuh dan juga sudah membersihkan diri dibantu oleh sang Bunda.
Semalam, Bunda dan Ayah menginap di rumah sakit. Mereka membicarakan mengenai tes dan pemeriksaan kesehatan yang diminta dokter untuk mengetahui diagnosis yang jelas atas sakit Danisha.
Namun, Danisha tidak mau melakukan tes dan pemeriksaan itu sekarang. Ia merasa sudah lebih baik dan ingin beristirahat di rumah. Baik Ayah, Bunda maupun Mas Rendra tidak ada yang bisa membujuk Danisha. Pada akhirnya, mereka semua menuruti kemauan Danisha.
Pagi ini, Ayah akan menemui dokter dan meminta tolong untuk mengijinkan Danisha pulang ke rumah namun tetap dengan berobat rawat jalan.
Pukul 7 pagi ini, Bunda sedang menyuapi Danisha dengan bubur ayam yang dibawa Mas Rendra. Danisha terlihat lebih segar pagi ini.
" Pokoknya Danish mau pulang, Bun. Danish udah sehat kok, udah ga demam lagi, " rengek Danisha.
" Iya.. nanti biar Ayah yang bicara sama dokter. Tapi kamu juga harus janji, ga boleh membantah dan mengabaikan apa yang dibilang dokter, " tutur Bunda mengingatkan putrinya.
" Iya, Danish janji Bun. Insya Allah Danish patuh, " ucap Danisha meyakinkan sang Bunda.
" Ayah sama Mas Rendra kemana, Bun ? " tanya Danisha kemudian.
" Tadi Ayah pergi ke kantin, mau minum teh yang panas katanya. Trus nak Rendra sepertinya menyusul Ayah ke kantin setelah memberikan bubur ayam ini tadi, " jawab Bunda sambil berdiri menata meja di sebelah ranjang.
Setelah sarapan, Danisha meminum obatnya. Lalu diraihnya ponsel yang ia letakkan di dekat bantalnya. Ada pesan masuk, dari Saka ?? Matanya membulat dan berbinar senang. Bergegas ia membukanya, Saka mengirim foto ? tanyanya dalam hati. Penasaran, ia pun membuka file foto itu dan seketika ia tersenyum riang melihat foto yang dikirim oleh Saka. Ah, cantik lampionnya. Saka lagi dimana ya ? gumam Danisha.
Kemudian Danisha membalas pesan Saka tersebut.
Me
Ish.. lampionnya cantik dan indah, Ka.. kamu lagi dimana sih ? Aku mau lihat lampion-lampion itu, Ka.. Aku berharap kamu disini menemaniku bersama Distha dan Prasta. Maaf yaa jika aku membuatmu marah tanpa sengaja.. Aku rindu, Ka.. thank you so much.. π€
Terima kasih
Untuk semua waktumu yang telah menemaniku selama ini
Walau tanpa kuminta dan kau tak pernah bertanya
******
Setelah sarapan di hotel, Saka langsung check out dari hotel itu. Sebelum benar-benar pergi, ia menge-check sekali lagi semua barang yang dibawanya.
Saka bergegas menuju mobilnya yang terparkir di halaman hotel. Setelah memakai seat belt dan menyalakan mesin mobilnya, Saka segera melajukannya ke arah kota Malang. Ia masih ingin menjelajah kota ini dengan kameranya. Sesungguhnya aktivitas ini akan menyenangkan apabila ia lakukan bersama sahabat-sahabatnya.
Tbc
**Hellooww LOTA Lovers ππ
Glad to see you all π€
Maaf mungkin eps kali membosankan
Kita temenin Saka yang lagi potek hati dulu yaa.. berpetualang bersama kamera kesayangannya π
Smoga masih tetap setia dg LOTA story π
Stay safe n healthy all LOTA Lovers π€πππ**
__ADS_1