
**HAPPY READING βΊοΈπ€**
Kondisi Danisha semakin membaik setelah ia tersadar dari komanya. Awalnya ia hanya mampu berkedip dan mengerjapkan mata ketika diajak berbicara. Namun, setelah dua minggu sejak terbangun dari tidur panjangnya, kini kondisinya lambat laun mulai terlihat normal kembali. Ingatan dan penglihatannya pun baik dan normal.
Danisha diperbolehkan pulang setelah luka bekas operasi di kepalanya dan pemeriksaan kesehatan lainnya dinyatakan baik oleh Dokter Aldi dan tim dokter lainnya. Meskipun demikian, Danisha diharuskan menjalani rawat jalan untuk pemulihan luka di kepala setelah operasi dan juga pemulihan fungsi otaknya.
Memang semua membutuhkan waktu untuk pemulihan kondisi Danisha kembali normal seperti semula. Semua membutuhkan proses serta kesabaran tentunya. Meskipun demikian, Saka terlihat sangat bahagia. Begitu pula dengan kedua orang tua mereka serta sahabat-sahabatnya. Mereka semakin yakin, Danisha akan segera sembuh seperti semula.
Sudah hampir dua minggu Danisha berada di rumah. Sangat dianjurkan baginya untuk beristirahat dan dilarang untuk melakukan aktivitas yang berlebihan agar tidak mengalami kelelahan yang dapat memicu kondisinya semakin lemah.
Sore itu, Danisha duduk di kursi santai yang sengaja diletakkan Saka di balkon kamar semenjak ia kembali dari rumah sakit. Kursi itu mirip sebuah sofa dilengkapi dengan bantal agar Danisha nyaman saat duduk di sana. Dengan posisi setengah berbaring, ia memandang langit yang perlahan berubah warna dengan semburat cahaya matahari yang perlahan mulai menenggelamkan dirinya. Selama hampir dua minggu ia selalu menikmati sore di balkon kamar sembari membaca buku atau majalah dan mendengarkan musik. Itu adalah salah satu terapi untuk mengembalikan fungsi otaknya setelah operasi pengangkatan tumor di kepalanya.
Seperti saat ini, sore hari yang cerah. Ia menyalakan salah satu aplikasi musik di ponselnya dengan mini speaker yang sengaja Saka beli untuk Danisha. Tentu saja untuk keperluan Danisha mendengarkan musik tanpa headset. Dipilihnya lagu-lagu romantis yang easy listening. Ia menutup buku yang baru selesai dibacanya setelah tiga hari yang lalu ia memulai membacanya. Tidak seperti sebelum dirinya melakukan operasi di kepalanya, satu buku setebal tujuh puluh halaman hanya butuh waktu satu hari untuk membacanya. Menurut Dokter Aldi, hal itu adalah normal karena Danisha masih dalam proses pemulihan fungsi otak setelah operasi pengangkatan tumor.
Danisha memejamkan kedua matanya perlahan, menikmati alunan nada sebuah lagu dari Boyzone yang terdengar romantis liriknya.
πΆπΆπΆ
I don't know, but I believe
That some things are meant to be
And that you'll make a better me
Everyday I love you
I never thought that dreams came true
But you showed me that they do
You know that I learn something new
Everyday I love you
'Cause I believe that destiny
Is out of our control (don't you know that I do)
And you'll never live until you love
With all your heart and soul.
It's a touch when I feel bad
It's a smile when I get mad
All the little things I am
Everyday I love you
Everyday I love you more
Everyday I love you
'Cause I believe that destiny
Is out of our control (don't you know that I do)
And you'll never live until you love
With all your heart and soul
If I asked would you say yes?
Together we're the very best
I know that I am truly blessed
Everyday I love you
And I'll give you my best
Everyday I love you
πΆπΆπΆ
- Everyday I Love You by Boyzone -
"Yes! I'll give you all my best for you as I am truly blessed to have you. Not only everyday, but every second I love you, Bee. Every time in my breath, every single beat of my heart."
Seketika Danisha membuka kedua kelopak matanya saat sebuah kecupan mendarat di pipinya dan kedua tangan kokoh yang memeluknya dari belakang. Ditambah suara mesra seseorang yang sangat dicintainya.
"Mas ... Udah pulang?" Senyum semringah terpancar di wajah dengan lesung pipi cantiknya.
Saka mencium pipi berlesung istrinya sekali lagi. Lalu ia melepas pelukannya dan berpindah tempat, duduk di tepi kursi santai dimana Danisha duduk setengah berbaring.
"Udah, dong! Gimana hari ini, Sayang?" Saka bertanya dengan seulas senyum terbaiknya sembari tangan mengusap lembut wajah sang istri tercintanya.
Danisha menatap Saka dengan senyum manisnya. Tangannya meraih tangan Saka yang mengusap wajahnya.
"Baik. Aku selalu baik bersamamu...." Danisha menjeda kalimatnya yang ia ucapkan secara perlahan.
Saka tersenyum semringah, binar wajahnya menampakkan kebahagiaan.
" Aku semakin baik karena cinta dan sayang yang kau berikan untukku setiap waktu. Terima kasih, aku sangat mencintaimu," imbuh Danisha dengan perlahan dan nada suara penuh cinta. Matanya menatap lekat manik teduh milik suaminya.
Saka mendekatkan wajahnya dengan wajah Danisha, lalu diciumnya bibir Danisha sekilas. Sungguh, Saka sangat bahagia. Danisha terdiam, senyuman manis di bibirnya merekah dengan kedua pipi yang merona bak buah tomat yang merah.
"Aku dari kampus. Persiapan buat acara wisuda dua hari lagi," ucap Saka masih menatap lekat wajah ayu Danisha yang semakin hari terlihat segar.
Seulas senyum terlukis di wajah Danisha.
"Selamat, Sayang. Aku bahagia, pada akhirnya kamu lulus dengan hasil akhir yang hampir sempurna." Danisha menggenggam kedua tangan Saka erat dengan kedua mata yang tak lepas memandang wajah berbinar suaminya.
"Aku ingin mengajakmu makan malam dan ke butik langganan Mama. Bersiap ya, selepas Maghrib kita berangkat. Aku mau mandi dulu." Saka mengecup kening Danisha, lalu beranjak dari duduknya.
__ADS_1
Danisha pun bergegas bangkit dari kursi santainya. "Aku siapkan air mandi dan bajumu dulu ya, Mas."
" Ga perlu, Sayang. Istirahatlah!" sahut Saka.
Danisha tersenyum tipis. "Aku udah banyak istirahat seharian ini. Aku harus tetap bergerak untuk melatih otot-otoku, Mas," sanggah Danisha.
Saka menangkup wajah Danisha dengan senyuman penuh cinta.
"Bee, aku ga mau kamu kenapa-kenapa. Dua hari lagi aku diwisuda. Kamu harus mendampingi aku, Sayang. Jadi jangan capek-capek, ya?"
Danisha tersenyum tipis dan perlahan melepaskan kedua tangan Saka dari wajahnya.
"Ada Mama dan Papa yang akan mendampingi kamu, Mas. Aku ga perlu ikut."
Dahi Saka mengernyit.
"Kenapa? Kamu istriku. Kamu harus mendampingiku, Bee. Selain Mama dan Papa tentunya. Kamu ga mau mendampingi aku?" tanya Saka heran, ada nada kecewa tersirat di dalam pertanyaannya.
"Lihatlah aku, Sayang. Wisuda itu ... hari terbesar dan terbaik ... dalam hidupmu. Aku ... ga mau ... merusaknya dengan kehadiranku yang seperti ini," jawab Danisha, nada bicaranya sedikit terbata.
Terkadang Danisha masih sedikit kesulitan bila terlibat dalam percakapan panjang. Bicaranya akan terbata dan sedikit lama karena ia masih dalam proses pemulihan fungsi otak dan saraf-saraf di tubuh lainnya.
"Merusak apa? Kamu istriku, apa pun dan bagaimanapun dirimu. Jangan pernah bicara seperti itu lagi, Sayang." Saka merengkuh tubuh Danisha dalam dekapannya, mengecup puncak kepala istrinya yang tertutup hijab navy-nya.
Danisha bergeming saat Saka merengkuhnya. Ia merasa kondisinya sangat buruk dan malu bila harus menemani suaminya saat acara wisuda kelulusan dua hari lagi.
Saka mendekap erat tubuh Danisha. Sesekali mengecup puncak kepala perempuan halalnya. Sebelumnya Dokter Aldi telah memberitahukan bahwa operasi pengangkatan tumor akan berdampak pula pada kondisi psikis Danisha. Dia akan merasa menjadi tidak percaya diri dengan kondisinya dan juga mudah tersinggung. Kesabaran Saka benar-benar sedang diuji. Tidak cukup ia harus bersabar ketika Danisha masih dalam kondisi sakit sebelum operasi. Setelah operasi pun, masih saja kesabarannya diuji. Ia harus bisa menahan emosinya.
Danisha membalas pelukan Saka, kedua tangannya melingkar di pinggang lelaki halalnya. Kepalanya bersandar di dada bidang Saka dengan mata terpejam. Sangat nyaman dan hangat.
*********
Hari wisuda kelulusan Saka pun tiba.
Sejak selepas subuh, Danisha sudah menyiapkan segala keperluan Saka untuk wisuda. Kemeja berlengan panjang warna putih polos dengan celana panjang berwarna hitam serta dasi sudah ia siapkan. Tidak ketinggalan sepatu pantofel hitam juga sudah bersih dan mengkilap.
Kemudian Danisha mengambil jubah toga dari dalam lemari dan diletakkannya pada tiang hanger standing yang ada di samping meja riasnya. Ia menghela napasnya dalam, memandang jubah toga milik Saka. Senyuman getir tersungging dari bibirnya. Seharusnya mereka diwisuda bersama. Namun kenyataan telah mengubah semua rencana dan keinginan mereka. Setitik air mata jatuh dari mata bulatnya.
"Bee ...."
Saka yang baru saja keluar dari kamar mandi tiba-tiba sudah berada di samping Danisha sembari mengusak rambutnya yang basah dengan handuk kecil.
Seketika Danisha beranjak dari posisinya, berjalan menuju ranjang tidurnya dengan salah satu tangan menghapus air matanya. Lalu ia tersenyum pada Saka.
"Pakaian udah siap semuanya. Aku siapkan sarapan dan susu dulu ya, Mas," ucap Danisha dengan seulas senyum lesung pipinya yang tak pernah tertinggal.
Saat Danisha akan melangkah menuju pintu kamar, tiba-tiba Saka sudah berdiri di hadapannya menahan langkahnya.
"Ga perlu, Bee. Aku udah minta tolong Bibi buat siapkan sarapan dan susu buat kita. Mungkin sebentar lagi akan diantar ke sini," ujar Saka. Ia pandangi wajah berlesung pipi yang tersenyum padanya. Lalu direngkuhnya tubuh Danisha ke dalam dekapannya. Sungguh, ia sangat mencintai Danisha. Cintanya semakin hari semakin besar dan ia tidak ingin kehilangan perempuan kekasih halalnya.
"Terima kasih, Sayang. Udah kubilang jangan terlalu banyak aktivitas, nanti kamu lelah. Aku bisa siapkan semuanya sendiri," cetus Saka sembari mengusap lembut punggung Danisha.
"Nanti kamu mau berangkat sama Mama dan Papa atau sama Distha dan Prasta, hm?" tanya Saka sembari merenggangkan pelukannya, lalu menatap Danisha lembut penuh cinta.
Danisha tersenyum membalas tatapan Saka yang selalu meneduhkan dan menghangatkan.
Saka tersenyum dan mengangguk. Lalu ia segera bersiap memakai pakaiannya.
"Uummm ... Mas, kalau seumpama aku ga pergi ...."
"Aku juga ga akan pergi!" potong Saka cepat. Ia menghentikan aktivitasnya mengaitkan kancing kemejanya.
"Kamu ga mau pergi ke wisuda suamimu?" Saka berbalik, menatap lekat Danisha.
"Aku ...."
"Ok! Aku juga ga akan pergi!" tegas Saka. Ia melepas kancing kemejanya.
"Mas ... Jangan begitu." Danisha menahan tangan Saka yang melepas kancing kemejanya.
Perlahan ia mengaitkan kancing kemeja Saka satu persatu. Saka sedikit menunduk, memandang wajah Danisha dengan raut heran.
"Kita udah bicarakan ini, Bee. Kamu ga mau hadir di acara wisudaku, aku juga ga akan datang ke sana. Buatku ini ga penting. Yang paling penting dalam hidupku adalah kamu, Sayang!" terang Saka tegas. Satu tangannya menggenggam tangan Danisha yang baru saja selesai mengancingkan kemejanya, sementara tangannya yang lain memegang dagu Danisha agar melihat ke arahnya.
Cukup lama mereka saling pandang dan terdiam.
"Kamu ga malu?" tanya Danisha akhirnya.
"Kenapa aku harus malu? Aku lulus dengan hasil yang baik dan sedikit lebih cepat dari yang lain untuk angkatan kita. Malunya dimana coba, hm?" protes Saka.
"Sombongnya ...." olok Danisha, terkekeh pelan.
"Sorry, bukannya aku sombong, Sayang. Ini kenyataan. Lalu kenapa aku harus malu?" protes Saka lagi
Danisha tersenyum, lalu mengecup sekilas bibir Saka yang membuat lelaki itu tertawa bahagia. Kedua tangan Saka pun meraih pinggang Danisha dan merapatkan tubuh mereka. Danisha sedikit terkejut dengan perlakuan Saka yang tiba-tiba.
"I really love you," ucap Saka, lalu dikecupnya kening, kedua kelopak mata dan kedua pipi Danisha lembut. Kemudian ia mengusak pelan hidung mancung Danisha dengan hidung mancungnya.
"Aku jatuh cinta pada semua yang ada pada dirimu, Sayang. Aku bahagia memilikimu. Aku bahagia bersamamu. Kamu bahagiaku, selamanya akan begitu," ungkap Saka mencurahkan segala yang dirasakannya.
Danisha menatap kedua manik hitam Saka penuh sayang. Kedua mata bulatnya mengerjap dengan senyuman di bibirnya.
"Aku ... juga jatuh cinta ... sejatuh-jatuhnya ... padamu, Sayang. Kamu hidupku, imam ... dan surgaku," balas Danisha pelan dan sedikit terbata.
Keduanya tersenyum dan saling menatap mesra. Saka mengecup bibir Danisha sekilas. Lalu tangannya meraih dasi yang sudah disiapkan Danisha.
"Pasangin, dong!" pinta Saka sambil menyerahkan dasinya pada Danisha yang tersenyum dan meraih dasi tersebut, lalu memasangkannya di leher Saka.
"Manja!" olok Danisha, sudut matanya melirik ke arah wajah Saka yang rupawan.
Saka terkekeh. Ia masih belum melepaskan kedua tangannya dari pinggang Danisha walaupun dasi sudah terpasang rapi di lehernya.
"Datang ya, Bee. Dampingi aku di hari wisudaku. Kamu bagian terpenting dalam hidupku. Wisuda ini ga ada artinya tanpa kehadiran kamu," ucap Saka memohon, tatapan sendu ia layangkan pada istrinya.
Danisha pun tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
Suara ketukan di pintu kamar membuat keduanya berhenti bermesraan.
"Ck! Pasti Bibi ini. Gangguin aja, sih!" gerutu Saka sambil berjalan ke arah pintu.
Danisha menggelengkan kepalanya diikuti senyuman tipis di bibirnya mendengar Saka yang menggerutu.
*******
Acara prosesi wisuda kelulusan Saka berlangsung khidmat. Danisha duduk bersebelahan dengan Distha dan kedua mertuanya. Sementara Prasta sibuk mendokumentasikan acara tersebut.
Bu Dinda dan Pak Rahmat tampak sangat bahagia menyaksikan sang putra yang telah lulus dengan gelar Sarjana Strata-1 nya. Danisha pun demikian. Ia sangat bahagia menyaksikan lelaki hebatnya dengan jubah toga dinyatakan sebagai lulusan terbaik Fakultas Ilmu Komunikasi dengan gelar Magna Cumme Laude, Indeks Prestasi Kumulatif-nya mencapai nilai 3.70.
Distha tersenyum bahagia melihat sahabatnya telah diwisuda dengan nilai yang sangat membanggakan.
"Kamu sangat beruntung, Sist. Dia hebat dan dia suamimu. Dia yang berdiri di sana itu, laki-laki yang sangat mencintaimu. Yang bersedia melakukan apa pun untuk kamu. Dia juga sahabat baikku. Kita sama-sama beruntung, kan ?" celoteh Distha.
Danisha menghela napasnya panjang. Tersenyum tipis dengan mata yang tak lepas menatap Saka di depan sana.
Ya, ia sangat beruntung. Ia sangat bersyukur memiliki suami Saka. Lelaki itu sangat mencintainya. Lelaki yang berdiri di panggung wisuda bersama beberapa wisudawan lainnya itu adalah lelaki yang sangat bertanggung jawab. Lelaki yang memiliki kesabaran tanpa batas. Lelaki hebatnya. Kekasih halalnya.
Monolog Danisha dalam hati.
Beberapa saat kemudian, acara wisuda itu pun berakhir. Riuh suara para wisudawan dan mahasiswa yang hadir di acara itu begitu acara selesai dan para undangan yang rata-rata keluarga wisudawan pun berangsur beranjak dari tempat acara.
Distha menuntun Danisha untuk menemui Saka yang sedang berfoto bersama para dosen dan juga teman-teman wisudawan lainnya. Bu Dinda dan Pak Rahmat pun bersama keduanya menunggu di sudut ruangan.
Dari sudut ruangan itu, Danisha hanya terdiam menatap Saka yang terlihat bahagia dengan tawanya yang lebar. Ia juga bisa melihat Audy, yang juga diwisuda hari itu dan mendapat gelar Cumme Laude dengan Indeks Prestasi Kumulatif mencapai 3.45. Audy terlihat anggun dan cantik.
"Pa, Saka lama banget, sih! Sibuk banget foto-foto dari tadi. Ga nyadar apa, kita nungguin di sini," keluh Bu Dinda.
"Ya, wajarlah, Ma. Namanya juga kelulusan. Anakmu itu kan jadi bintang hari ini. Sabarlah sebentar," ujar Pak Rahmat.
"Danish, sini duduk dulu di sini, Sayang! Nanti capek berdiri terus di situ. Distha, ayo duduk di sini dulu," ajak Bu Dinda pada Danisha dan Distha untuk duduk di kursi yang ada di sudut ruangan itu.
Danisha bergeming. Matanya tidak lepas menatap Saka di depan sana. ia bisa melihat Saka berfoto dengan mahasiswi-mahasiswi adik tingkatnya juga dengan Audy. Entah mengapa, tiba-tiba dadanya sesak.
"Sist, kita duduk di situ, yuk! Di sebelah Tante Dinda itu," ajak Distha, tangannya menunjuk ke arah kursi di sebelah Bu Dinda.
"Danish?" Distha memanggil Danisha dengan dahi berkerut.
Dipegangnya bahu sahabatnya pelan, membuat Danisha berjengit kaget.
"Hah? Ada apa?" tanya Danisha gugup.
"Are you ok?" tanya Distha lagi.
"Hah? Y-ya, ada apa, Sist?" Danisha terlihat gugup.
Lalu Distha menggandeng tangan Danisha dan menuntunnya untuk duduk di kursi bersama Bu Dinda dan Pak Rahmat.
Baru saja mereka duduk, Saka setengah berlari menghampiri mereka.
"Bee ...!" teriak Saka, tanpa mempedulikan beberapa pasang mata yang menatapnya.
"Hai!" Dengan napas sedikit tersengal, Saka menyapa Danisha yang baru saja duduk. Ia pun berjongkok di hadapan Danisha dengan senyum bahagianya.
Danisha balas tersenyum.
"Salam dan sapa Mama dan Papa dulu, Mas," ujar Danisha lembut.
"Ah, iya! Maaf, lupa, Ma, Pa ...!" ucap Saka. Ia berdiri dan mencium punggung tangan kedua orang tuanya. Lalu memeluk keduanya bergantian.
Bu Dinda menyambut pelukan putranya dengan haru.
"Selamat ya, Nak! Semoga ilmu yang kamu dapat selama ini bermanfaat," ucap Bu Dinda haru, memeluk putranya erat.
"Makasih banyak, Ma. Semua karena do'a dan ridlo dari Mama," balas Saka, ia pun mencium pipi kanan dan kiri sang Mama.
Bu Dinda merenggangkan pelukannya, lalu menangkup wajah Saka dan mencium kening Saka penuh sayang.
Saka tersenyum haru.
"Tugasmu selanjutnya sudah menanti. Tanggung jawabmu semakin besar dan lebih berat. Jadilah selalu lelaki yang bertanggungjawab, sebagai imam yang baik untuk istri dan anak-anakmu kelak. Lelaki sejati, lelaki yang baik, yang memberikan cinta yang baik untuk istri dan anak-anaknya. Membawa mereka pada semua hal yang baik dan menjadikan mereka lebih baik," nasihat Pak Rahmat.
Saka menganggukan kepala, lalu memeluk erat pria paruh baya yang sangat ia hormati.
"Makasih, Pa. Makasih buat semuanya, makasih udah menjadi Papa terbaik buat Saka. Memberikan semua yang terbaik untuk Saka. Do'akan Saka ya, Pa, supaya bisa menjadi imam yang baik dan bisa memberikan semua yang terbaik untuk istri dan anak-anak Saka," tutur Saka, tanpa disadarinya matanya basah dan ia terisak pelan.
Danisha pun terharu menyaksikan interaksi antara Saka dan kedua orang tuanya. Air matanya pun luruh mendengar wejangan dari kedua mertuanya.
Kamu lelaki terbaik buatku, Mas. Kamu lelaki terhebat. Semua yang terbaik udah kamu berikan untukku. Kamu lelaki yang sangat bertanggungjawab, imam yang sangat baik untukku. Kamu menjadikanku lebih baik, menjadikanku sempurna dalam kekuranganku. Maaf, sampai detik ini aku tidak bisa memberikan semua hal terbaik yang sama seperti yang kamu berikan untukku.
Tbc
**Hi LOTA Lovers ππ
Selamat menjalankan ibadah puasa π€
Maaf ya, baru bisa up setelah sekian lamanya βΊοΈπ
Banyak kesibukan RL apalagi di bulan puasa begini ya... Lagi riweh juga sama bocah.
Konsen sama sekolah mereka, jd maaf bila ada yg kecewa ππ
Btw, yg mau follow ig aq boleh yaa... @imoet_enra βΊοΈ
Insya Allah aq juga mau nulis di lain platform, boleh mampir n follow aq juga di sana, nanti deh next detail info nya βΊοΈ
__ADS_1
Stay safe n healthy π€πππ**