Love On The Air

Love On The Air
Eps 77 Segera Operasi


__ADS_3

Sore harinya, Saka menepati janjinya mengajak Danisha berjalan-jalan di taman rumah sakit. Bunda yang baru saja datang pun akhirnya menunggu di dalam kamar.


Saat ini mereka sudah berada di taman. Saka duduk di bangku taman, sementara Danisha duduk di kursi rodanya.


Saka tersenyum melihat wajah semringah Danisha. Wajah pucat dengan mata sayu, tapi tetap terlihat cantik dengan lesung pipi yang dalam selalu membingkai wajahnya. Wajah dan senyum yang kini selalu dilihatnya di saat pagi ia membuka mata, dan di saat malam ketika ia akan memejamkan mata.


Danisha adalah kebahagiaannya. Oksigen untuknya bernapas. Rumahnya untuk pulang. Teringat kembali mimpi buruknya semalam. Tidak ! Itu tak akan terjadi ! Segera Saka menepis bayangan mimpi buruknya semalam.


Danisha tersenyum-senyum lebar membuat Saka mengerutkan dahinya. Lalu ia mengalihkan pandangan mengikuti pandangan mata Danisha. Di bagian lain taman yang tak jauh dari mereka duduk, ada sekelompok anak-anak sedang membentuk sebuah lingkaran, bermain dan bernyanyi. Dari beberapa anak, ada yang menggunakan kursi roda juga. Di sana juga ada tiga orang yang mengenakan pakaian perawat. Dua orang perawat perempuan dan seorang perawat laki-laki yang juga sedang memainkan gitar di tangannya. Mereka terlihat gembira, bertepuk tangan sambil bernyanyi.


" Mas, kita ke sana, yuk ! " ajak Danisha dengan jari telunjuk mengarah ke sekelompok anak-anak itu.


" Mau ke sana ? Mengganggu tidak, Sayang ? Takutnya kita datang ke sana malah mengganggu mereka, " ujar Saka.


" Kita ke sana dulu, Mas. Nanti kita permisi dulu, " sahut Danisha.


Saka mengangguk, lalu bangkit dari duduknya dan mendorong kursi roda Danisha menuju kerumunan sekelompok anak-anak itu.


" Permisi, " ucap Saka dengan seulas senyum hangat di bibirnya.


Seorang perawat perempuan menoleh.


" Eh, Mbak Danisha ? "


" Suster Indah ? "


Perawat perempuan itu ternyata Suster Indah, asisten Dokter Aldi.


" Maaf, Sus. Apa kedatangan kami mengganggu ? " tanya Danisha ragu.


" Tentu saja tidak, Mbak Danish ! Mau join sama kami ? Ayo ! " ajak Suster Indah semringah.


Danisha menatap Saka dengan wajah memohon.


" Boleh, ya, Mas ? " tanya Danisha manja.


Saka tersenyum dan mengangguk.


" Tentu, Sayang ! " sahut Saka sembari memberikan senyum terbaiknya dan mengecup kening Danisha penuh cinta.


Danisha terlihat bahagia. Selanjutnya, mereka berdua pun bergabung bersama Suster Indah dan sekelompok anak-anak yang kemudian diketahui sebagai pasien di rumah sakit itu. Mereka, para pasien yang mengidap penyakit serius, yang sudah lama dirawat dan melakukan pengobatan di rumah sakit itu.


Mereka bermain tebak-tebakan. Yang salah menebak akan dihukum. Lalu mereka juga bernyanyi dengan iringan gitar yang dimainkan perawat laki-laki, teman Suster Indah. Beberapa kali, Saka juga turut memainkan gitar mengiringi mereka bernyanyi.


Saka melihat senyum dan tawa lepas Danisha. Terlihat wajah pucatnya berbinar bahagia. Ia pun tersenyum bahagia melihat belahan jiwanya yang terlihat begitu bahagia.


Sudah hampir waktu maghrib, mereka pun mengakhiri permainan dan pertemuan mereka sore itu. Mereka pun berpamitan dengan saling memberikan semangat satu sama lain.


" Suster Indah ! " panggil Danisha.


" Ya, Mbak ! " sahut Suster Indah dengan senyum hangatnya.


" Pertemuan seperti ini setiap hari ? " tanya Danisha, ingin tahu.


Suster Indah tersenyum simpul menatap Danisha.


" Tidak juga, Mbak. Tapi sering juga, sih, kita mengadakan pertemuan seperti ini. Paling tidak dua hari sekali, " jawab Suster Indah sembari membereskan beberapa mainan yang dipakai oleh beberapa anak kecil tadi.


" Di taman ini ? " tanya Danisha lagi.


" Uummm... Ga selalu di sini, sih. Kadang juga di ruangan. Bergantian begitu, Mbak, " terang Suster Indah.


" Boleh saya join ? " tanya Danisha kemudian.


Suster Indah tersenyum, pandangan matanya beralih kepada Saka yang berada di belakang Danisha memegang kursi roda siap mendorongnya. Saka membalasnya dengan sebuah senyuman dan anggukan.


" Tentu saja, Mbak Danish. Dengan senang hati, " jawab Suster Indah tersenyum lebar.


" Asiiikkk ! Terima kasih, Suster ! " seru Danisha girang.


Suster Indah dan Saka terkekeh melihat ekspresi Danisha yang terlihat sangat gembira.


" Baiklah, Suster. Kami permisi kembali ke kamar. Terima kasih banyak sudah diijinkan untuk bergabung dan bermain bersama, " ucap Saka berpamitan.


" Sama-sama. Saya juga permisi, selamat sore, " pamit Suster Indah, tersenyum pada Saka dan Danisha lalu beranjak pergi meninggalkan pasangan suami istri itu.


Danisha memegang salah satu tangan Saka yang mendorong kursi rodanya. Saka menautkan kedua alis hitamnya.


" Ya, Sayang ? Ada yang kamu inginkan ? " tanya Saka sembari mendorong kursi roda Danisha.


Danisha menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


" Makasih, Sayang. Udah nemenin aku main bersama mereka, " ucapnya bahagia, tangannya mengusap lembut tangan Saka yang berada di bagian belakang kursi roda, mendorongnya menuju kamar tempatnya dirawat.


" Anytime, My Honey Bee...! " balas Saka tersenyum dan mengecup puncak kepala istrinya penuh cinta dan sayang.


*******


Bunda bersiao-siap akan pulang setelah mendapat telepon dari Kirana yang memberitahu kalau ada tamu di rumah yang sedang menunggunya. Padahal sudah hampir jam 8 malam. Tetapi, tamu yang datang tetap ingin menunggunya. Bunda bilang, tamunya adalah ibu-ibu pengurus pengajian yang akan memesan kue untuk acara pengajian di masjid kompleks.


" Maaf, ya, Ka. Bunda ga bisa nemenin Danish malam ini. Padahal Bunda udah siap bawa pakaian ganti ini, " sesal Bunda sembari menunjuk tas yang dibawanya.


" Ga apa-apa, Bun. Kewajiban Saka menjaga Danish. Bunda ga perlu khawatir. Ini tanggung jawab Saka. Maaf, kalau Saka merepotkan, ya, Bun, " ucap Saka dengan senyum tipisnya.


Bunda menghampiri Saka dan mengusap lengan menantunya.


" Jangan ngomong begitu. Bunda yang seharusnya minta maaf. Kami membuat repot kamu dan keluargamu. Makasih udah menjaga dan merawat Danish dengan sangat baik. Makasih udah menerima Danish dengan segala kekurangannya. Bunda dan Ayah sangat bersyukur punya anak menantu seperti kamu. Makasih, kamu udah merelakan waktu dan mungkin masa muda kamu yang seharusnya tidak seperti ini, " ungkap Bunda dengan sedikit terisak dan mata berkaca-kaca.


" Bunda... Semua ini udah kewajiban dan tanggung jawab Saka. Saka sangat mencintai Danish. Kebahagiaan Saka adalah membuat Danish bahagia, Bun. Kenapa Bunda berpikir begitu ? Saka bahagia, sangat bahagia, Bunda. Saka bahagia Danish menjadi istri Saka. Saka bahagia setiap hari bisa bersama Danish. Kami bahagia, Bunda. Saka harap Bunda dan Ayah juga bahagia. Danish akan sembuh, insya Allah, semua akan baik-baik aja. Kita harus selalu bahagia dan semangat untuk Danisha, Bunda. Seperti yang dikatakan oleh Dokter Aldi, " terang Saka, ia menggenggam tangan ibu mertuanya dengan senyum optimisnya.


Bunda menghapus air mata yang mulai jatuh dari pelupuk matanya, lalu tersenyum hangat pada menantunya.


" Ya ! Bunda selalu ingat itu. Baiklah, titip Danish, ya. Bunda pulang dulu, besok pagi Bunda yang akan jaga Danish. Katanya kamu ada keperluan ke kampus, kan ? " pamit Bunda.


" Iya, Bunda. Tas pakaiannya biar di sini aja, Bun. Besok kan Bunda balik ke sini lagi, " ujar Saka.


Bunda mengangguk sembari mengambil ponselnya yang berbunyi. Kirana menelpon.


" Ka, Bunda pulang, ya. Kiran udah di depan, " ucap Bunda.


" Iya, Bun. Hati-hati, ya, Bun. Maaf, Saka ga bisa antar, " sahut Saka sembari membukakan pintu untuk Bunda.


" Iya, titip Danish. Assalamu'alaikum. "


Saka tersenyum dan mengangguk, " Wa'alaikumsalam. "


Saka menutup pintu kamar setelah Bunda pergi. Kemudian, ia berjalan mendekati ranjang dimana Danisha terbaring di sana.


Danisha tertidur setelah sholat isya'. Sebelumnya ia telah makan malam dan minum obatnya. Saka mengecup lembut kening Danisha. Ditautkannya jemari tangannya dengan jemari milik Danisha, lalu dikecupnya lembut.


Besok pagi, Saka harus ke kampus mengurus keperluan sidang skripsinya. Ia telah menerima informasi dari pihak administrasi kampus mengenai jadwal sidang skripsi. Dan ia telah dijadwalkan untuk maju sidang pada akhir minggu depan. Jika memungkinkan, ia akan meminta jadwal sidangnya dimundurkan.


Untuk saat ini, ia harus fokus pada kesehatan Danisha, istrinya. Ia tak ingin kecolongan lagi setelah kejadian sebelumnya dimana ia tidak tahu menahu mengenai penyakit yang kembali menyerang tubuh istrinya.


Kamu ga akan sendiri, Sayang. Ada aku yang selalu bersamamu. Akan menemanimu berjuang untuk kesembuhanmu. Kamu harus kuat, ya, Bee. Demi aku, demi kita, Sayang.


********


Saat Saka baru saja memarkirkan mobilnya di kampus, ponselnya berbunyi.


" Hallo, Dok. Selamat pagi. "


" Pagi, Saka. Maaf, apa saya mengganggu ? "


Rupanya Dokter Aldi yang menelepon.


" Tidak, Dokter. Saya baru sampai di kampus. Ada apa, ya, Dok ? Danisha baik-baik aja, kan ? "


" Oh, ya. Danisha baik. Tekanan darahnya udah stabil. Saya mau memberitahu, operasi Danisha bisa dimajukan. Kemungkinan dalam 3 hari ke depan. Apakah bisa diterima ? "


Saka yang mendengarkan dengan serius semua perkataan Dokter Aldi pun dengan spontan mengangguk.


" Tentu, Dokter. Apakah itu sudah pasti, Dok ? "


" Jika memang kalian siap dan setuju operasi dilakukan 3 hari lagi, saya akan masukkan ke schedule. Gimana ? "


Saka terdiam sesaat.


" Bisa saya bicarakan dengan Danisha terlebih dulu, Dok ? Malam ini akan kami beri keputusannya, " ucap Saka kemudian.


" Baiklah. Saya tunggu segera konfirmasinya, ya. Saya harap operasi bisa dilakukan segera, Saka. "


" Ya, Dokter, " sahut Saka singkat.


" Saya paham, Danisha pasti butuh waktu untuk menyiapkan hati dan mental untuk operasi ini. Tidak mudah memang. Tapi semua demi kebaikannya. Kita harus ikhtiar, bukan ? "


" Ya, Dokter. Itu pula yang akan saya bicarakan dengan istri saya, " ujar Saka.


" Ok, Saka. Saya tunggu, ya. Selamat pagi. "


Dokter Aldi mengakhiri panggilan teleponnya.


" Ok, Dok. Pagi dan terima kasih. "

__ADS_1


Saka menghela panjang napasnya. Sesaat ia terdiam menatap wajah ayu Danisha yang dijadikannya wallpaper ponselnya.


Siap tidak siap, cepat atau lambat, kita akan sampai di titik ini. Kita harus hadapi ini. Ini adalah ikhtiar kita selain doa yang tak pernah putus. Kamu wanita kuat, Sayang. Kamu wanita hebatku. Aku dan kamu selamanya akan saling menguatkan. Bismillah dengan ridlo Allah, semuanya akan baik-baik saja. Aamiin... Lirih Saka berkata. Ia masih berada di dalam mobilnya.


Beberapa saat kemudian, Saka keluar dari mobilnya. Ia berjalan menuju ruang dosen pembimbingnya.


Saat mendekati ruangan dosen, ia melihat Prasta dan Distha berjalan menghampirinya.


" Ka ! " seru kedua sahabatnya.


Saka tersenyum dan membalas sapaan mereka. " Hai ! "


" Namamu ada, tuh, di situ! " kata Distha menunjuk pada papan pengumuman yang ada di depan ruang dosen.


Saka mengangguk dan tersenyum.


" Jadi, siap maju minggu depan ? " tanya Prasta.


Saka menatap Prasta dan Distha bergantian. Lalu ia tertunduk dan menghela dalam napasnya.


Distha mengerutkan dahinya. Prasta pun demikian.


" Aku siap maju sidang. Tapi aku ga siap ninggalin Danisha saat ini, " ungkap Saka lirih. Tatapan matanya sayu dan terlihat lesu. Lelah karena kurang tidur.


Prasta tersenyum tipis dan menepuk bahu sahabatnya.


" Danisha lebih penting. Sidang skripsi masih bisa diatur, " dukung Prasta.


" Yup ! Kamu ambil keputusan yang tepat, Ka. Kita berdua juga mau bilang sama kamu, lebih baik menunda sidang skripsi dulu, " timpal Distha.


" Thanks ! Tolong bantu aku untuk support Danisha. Danisha butuh kalian. Bantu kami, ya, " pinta Saka.


" Ayolah, Ka ! Tanpa kamu minta, kami selalu ada buat kalian, " sahut Distha memukul pelan lengan Saka.


" Hilih ! Dah biasa, kali ! Kek baru sekarang aja, minta tolongnya ! " kelakar Prasta sembari mencebikkan bibirnya.


" Kampr*t ! " sungut Saka, tangannya memukul pelan lengan Prasta diikuti tawa lebar ketiganya.


" Aku ke sana dulu, ya, " ujar Saka, telunjuknya mengarah pada ruangan dosen yang menjadi tujuan utamanya.


" Ok. Kita tunggu di kantin, ya, " cetus Prasta.


" Aku langsung balik ke rumah sakit setelah ini selesai, " kata Saka memberitahu, lalu beranjak pergi.


" Ok, nanti kita nyusul ke sana, Bro ! " seru Prasta.


Saka hanya mengangkat ibu jarinya sambil terus berjalan tanpa menengok ke belakang.


" Semoga semuanya akan segera membaik, " kata Distha lirih sambil memperhatikan Saka yang berlalu meninggalkan mereka.


Prasta menghela napasnya panjang.


" Kamu juga mau ke rumah sakit, kan, Bu Dokter ? " tanya Prasta, menggoda Distha.


" Ya, dong ! Ada janji sama Pak Dokter ! " oceh Distha membalas candaan Prasta sambil berlalu meninggalkan cowok dengan rambut yang diikat asal itu.


" Ck ! Ada janji sama Pak Dokter, " cibir Prasta menirukan ocehan Distha. Lalu ia merotasikan bola matanya jengah dan berlari mengejar Distha yang telah berjalan cukup jauh meninggalkannya.


********


" Ka ! " seru Dokter Ardhy yang melihat Saka berjalan masuk ke dalam rumah sakit. Ia sendiri baru saja keluar dari ruang IGD.


" Hai, Bang ! Lagi tugas ? " tanya Saka.


" Begitulah ! Gimana Danisha ? Dokter Aldi bilang, kemungkinan besar operasinya maju, lebih cepat, " ujar Dokter Ardhy. Wajahnya serius menatap Saka.


" Danish baik so far. Iya, operasinya bisa maju dalam 3 hari ke depan. Aku juga baru diinfo Dokter Aldi pagi tadi, " terang Saka.


" Distha bilang kamu memundurkan sidang skripsi. Benar ? " selidik Dokter Ardhy.


" Benar, Bang. Prioritas utama adalah Danisha saat ini. Aku ga mau kecolongan lagi. Tentu saja aku juga ga mau menunda pengobatan Danisha. Sidang skripsi bisa kapan pun, " jelas Saka pada kakak sepupunya.


Dokter Ardhy tersenyum pada adik sepupunya.


" Abang senang kamu udah mengambil keputusan yang tepat. Sekarang tinggal kamu meyakinkan Danisha untuk melakukan operasi secepatnya. Ga mudah emang. Menyiapkan hati dan mental sangatlah penting untuk menghadapi penyakit serius ini, " dukung Dokter Ardhy.


" Abang yakin kalian kuat. Terutama kamu, harus selalu kuat dan sabar. Mungkin Abang gampang ngomong kek gini. Tapi hanya ini yang bisa Abang lakukan buat kalian. Abang selalu ada buat kalian, apa pun dan kapan pun kalian butuh sesuatu, insya Allah Abang selalu ada dan siap membantu, " lanjut Dokter Ardhy sembari merangkul bahu Saka erat.


Saka tersenyum simpul.


" Makasih banyak, Bang. Makasih untuk supportnya. Danisha sangat membutuhkan support kita. Baiklah, aku harus segera menemui Danisha. Aku akan memberitahunya mengenai schedule operasi yang maju 3 hari lagi, " ucap Saka membalas rangkulan kakak sepupunya.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2