
**HAPPY READING 🤗**
Setelah bertemu saudara sepupunya di bandara, Saka mengajak saudara sepupu yang sudah hampir 3 tahun tidak bertemu itu ke rumah makan favorit saudara sepupunya itu. Andria, saudara sepupu dari pihak sang Mama itu semenjak menikah tinggal di Melbourne mengikuti suaminya yang bekerja di sebuah perusahaan manufaktur di salah satu kota terbesar di Australia itu.
Namun di tengah perjalanan, tiba-tiba Hilman, suami Andria, mendapat sebuah panggilan telpon dari temannya untuk menemuinya di sebuah mall yang ternyata satu jalan dengan arah mereka saat ini.
"Maaf ya, Hun. Rencananya berubah," ucap lelaki bernama Hilman itu pada sang istri, Andria.
"Iya, Sayang. Di mall kan, juga banyak tempat makan. Nanti kita bisa tunggu kamu sambil makan di sana. Gitu kan, Ka?" papar Andria.
"Tentu saja," sahut Saka dengan senyum simpulnya.
Dan di sinilah mereka, di mall tempat Hilman melakukan pertemuan dengan teman lamanya. Sementara Saka mengajak Andria untuk makan di sebuah restoran dengan makanan khas Indonesia.
"Jadi kalian berapa lama di Surabaya?" tanya Saka pada Andria saat mereka sudah duduk menunggu pesanan makanan mereka datang.
"Well, kemungkinan sih, sebulan. Tapi ... Kamu tau sendiri lah, Ka. Suamiku ini kan, hanya karyawan biasa. Jadi cutinya ga mungkin bisa lama. Ini karena kebetulan dia juga ada tugas di sini. Jadi lagi beruntung kita. Berkah banget, gitu!" celoteh Andria. Wanita dengan model rambut bob itu usianya tidak beda jauh dengan Kak Sandra, lebih muda 2 tahun tepatnya.
Saka terkekeh diikuti tawa kecil Andria yang membuat bayi 7 bulan dalam gendongannya terbangun dan sedikit merengek. Andria pun menenangkannya. Bayi perempuan bernama Alana itu bukannya terlelap kembali, ia malah terbangun dengan mata membuka lebar dengan mimik yang lucu. Membuat Saka gemas dan spontan menyentil pipi gembul keponakannya itu.
"Sini, sama Om ya, Al!" ujar Saka. Ia ingin sekali menggendong bayi gembul di hadapannya yang terlihat sangat lucu dan menggemaskan. Tanpa diduga, si baby Alana langsung mencondongkan badannya kepada Saka.
"Nih, gendong! Sekalian belajar, jadi ga canggung lagi kalau nanti kalian punya anak," kelakar Andria, terkekeh kecil.
Saka membalasnya dengan senyuman lebar sembari merengkuh baby Alana ke dalam gendongannya. Dan pada saat yang sama, seseorang menyaksikan peristiwa itu dengan hati yang mencelos dan dada bergemuruh menahan emosinya. Tubuhnya menegang dan tanpa disadarinya air matanya luruh dari tempatnya.
"Oh, ya! Kamu kok, ga ajak istri kamu. Sorry ya, Ka. Kami ga bisa datang di hari pernikahan kalian. Bahkan waktu istri kamu sakit, kami ga bisa datang menjenguknya," ucap Andria penuh sesal.
"Ga apa-apa, An. Yang penting doa dan support kalian untuk kami, udah cukup. Dia lagi ada acara sama temannya. Lagipula, aku tadi kan, dari kantor langsung jemput kamu, Non!" terang Saka dengan seulas senyuman di bibirnya.
*******
Danisha berlari menaiki satu per satu anak tangga menuju kamarnya. Bu Erni yang melihat majikannya datang tidak seperti biasanya bergegas menyusulnya.
"Mbak Danish, kenapa?" tanya wanita paruh baya itu kebingungan.
"Bu Erni, titip Danisha, ya. Dia sedang ga baik, Bu. Saya pulang dulu karena masih ada urusan. Maaf, ga bisa menemani. Danish-nya juga ga mau ditemani bilangnya," terang Distha pada Bu Erni yang berdiri di anak tangga kedua.
Bu Erni menatap Distha diikuti sebuah anggukan. Distha tersenyum, lalu pamit meninggalkan rumah sahabatnya dengan hati yang cemas.
Di dalam kamar, Danisha kembali menangis dengan menelungkupkan wajahnya ke dalam bantal.
Suaminya sedang bersama wanita lain dengan seorang bayi. Siapa wanita itu? Gumamnya.
Dadanya semakin sesak. Perlahan ia menghapus air matanya.
Sepertinya memang ia harus ikhlas menerima kenyataan di depan matanya. Saka sudah terlalu banyak berkorban untuk dirinya. Saatnya membiarkan suaminya mencari kebahagiaannya.
Danisha merasa sangat lelah. Perlahan kedua matanya terpejam, ia tertidur.
Pukul 19.00 saat Saka tiba di rumahnya dan mendapati Bu Erni sedang duduk di teras rumahnya.
"Bu Erni? Ngapain duduk di sini?" tanya Saka heran saat keluar dari mobilnya. Tidak biasanya Bu Erni duduk di teras di jam begini.
Bu Erni tersenyum tipis dan sedikit menundukkan kepalanya.
"Danisha belum pulang?" tanya Saka lagi.
Bu Erni terdiam. Wanita paruh baya itu ragu untuk mengatakan kejadian sore tadi.
"Ada apa? Danisha ga kenapa-kenapa, kan?" cecar Saka yang langsung berpikiran buruk tentang Danisha yang memang sedang tidak baik kondisi badannya.
"Mbak Danish ada di kamar sejak datang sore tadi, Pak. Belum keluar sampai sekarang. Saya udah ketuk-ketuk pintu kamar, memanggilnya untuk makan. Tapi ga ada sahutan sama sekali. Saya khawatir, Pak," jelas Bu Erni sedih.
Dengan gerakan cepat, Saka pun berlari masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke kamarnya di lantai atas.
Ia membuka pintu kamar dengan gerakan sedikit kasar karena panik, takut terjadi sesuatu pada istrinya. Ruangan kamarnya gelap, lampu masih belum dinyalakan. Hanya cahaya dari luar yang masuk lewat jendela kaca.
Saka berjalan perlahan ke tempat saklar untuk menyalakan lampu. Ia melihat istrinya sedang terbaring di ranjang ketika lampu sudah menyala menerangi ruangan kamar itu. Ia menghampiri istrinya, duduk di tepi ranjang memperhatikan wajah istrinya yang terlihat sembab. Perlahan ia menundukkan wajahnya, mencium kening istrinya perlahan dan penuh kelembutan.
"Maaf!" Lirihnya.
Kemudian tangannya mengelus lembut pipi istrinya. Terasa lengket. Sepertinya istrinya baru saja menangis.
"Oh, Sayang! Ada apa denganmu?" Gumam Saka, tangannya mengusap lembut jemari tangan Danisha.
Ia beranjak dari duduknya, mendekat pada kepala Danisha dan kembali mencium kening istrinya, kali ini cukup lama. Hingga membuat Danisha terusik dan membuka matanya perlahan.
"Mas! Udah pulang?" Danisha mengerjap, lalu sedikit menjauhkan dirinya dari Saka.
"Ya, maaf membangunkanmu," ucap Saka menyesal.
Danisha beranjak dari baringnya, lalu turun dari ranjang.
"Aku siapkan air hangat dulu," ujar Danisha.
"Ga usah, Bee!" tolak Saka halus.
"Kalau gitu aku hangatkan makanan dulu," sahut Danisha.
__ADS_1
"Aku udah makan, Bee," lontar Saka. "Istirahatlah!" imbuhnya.
Danisha bergeming. "Oh ya, tentu saja!" Danisha pun beranjak dari tempatnya berdiri. "Aku akan siapkan pakaian gantimu," lanjutnya.
"Bee ...."
"Ok, aku ga perlu siapkan apa pun! Baiklah!" ketus Danisha, dadanya kembali sesak.
"Bee ... Ada apa?"
"Ga ada! Maaf!" Danisha pun bergegas keluar kamar, ia akan ke dapur membuat teh hangat untuk Saka.
Saka menghela napasnya dalam. Ia pun segera ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Di dapur, Bu Erni telah menyiapkan dua cangkir teh hangat di meja makan. Setelah itu, wanita paruh baya itu meminta izin kepada Danisha untuk pulang. Dan Danisha pun mempersilahkannya untuk pulang.
*******
"Mama!" seru Danisha saat mendapati ibu mertuanya berdiri di ambang pintu rumahnya. Bu Dinda tidak sendiri. Bersamanya seorang wanita cantik dengan seorang bayi perempuan yang lucu dan menggemaskan berada dalam gendongannya.
Tunggu! Wanita ini ... Bukankah dia ... Wanita yang dilihatnya kemarin bersama Saka di restoran itu? Lalu untuk apa dia kemari? Bersama ibu mertuanya?
Batin Danisha getir.
"Danish! Eh, kok melamun? Mama ga dipersilahkan masuk, nih!" celetuk Bu Dinda pada sang menantu.
"Oh, iya. Maaf! Silahkan, Ma," ucap Danisha, memberi jalan pada ibu mertua serta wanita yang bersamanya. Sementara wanita cantik itu tersenyum ramah padanya.
Danisha berusaha menetralkan perasaannya yang saat ini sedang berkecamuk. Ia berusaha keras untuk bersikap tenang menghadapi kenyataan yang mungkin saja akan terkuak di pagi hari ini.
"Saka-nya mana?" tanya Bu Dinda yang baru saja duduk di sofa ruang tamu diikuti oleh wanita di sampingnya.
Danisha tersenyum tipis pada ibu mertuanya, sesekali ia melirik wanita yang mengenakan blouse berwarna putih dan celana skinny jeans berwarna biru dongker.
"Saka masih mandi, baru selesai jogging. Sebentar Danisha panggilkan," jawab Danisha.
"Ga usah, Sayang. Oh ya, ini Andria dan baby-nya, Alana." Bu Dinda menunjuk Andria yang duduk di sampingnya dengan Alana masih berada dalam gendongannya.
Danisha mengangguk dan tersenyum kecil, senyum yang dipaksakan.
"Hai, Mbak. Saya ...."
"Danisha, kan? Istrinya Saka?" potong Andria dengan senyum lebarnya.
"Waah ... Ada tamu rupanya!" seru Saka yang tiba-tiba muncul, ia berjalan menuruni anak tangga dengan senyum semringah. Pagi ini hari Sabtu, hari liburnya.
"Mama kok ga bilang kalau ke sini. Pagi-pagi, bawa dua cewek dari negeri orang pula!" kelakar Saka, ia mencium punggung tangan sang Mama dan mengusak rambut Andria, sebelum akhirnya mencium bayi perempuan yang tertidur pulas di pelukan wanita itu.
Ya, Allah! Apa ini? Di depan mataku, suamiku berani berbuat begitu pada wanita lain. Seolah menunjukkan betapa bahagianya mereka.
Gumam Danisha dalam hati.
"Saya siapkan sarapan dulu," pamit Danisha, bergegas ke dapur untuk menyiapkan sarapan, alih-alih menghindar dari interaksi mereka yang membuat hatinya sakit.
"What a beautiful wife! She has the dimples on her cheeks, yeah!" celetuk Andria setengah berbisik, senyuman lebar pun lepas dari kedua sudut bibirnya.
"Cantik, kan? She has everything that makes me so in love with her," ungkap Saka jujur, senyum bahagia terpancar dari wajahnya.
Seulas senyum bahagia juga diberikan Bu Dinda mendengar putra dan keponakannya memuji Danisha, menantu kesayangannya.
"Tentu, dong! Kan, anak cantik Mama ...." timpal Bu Dinda.
Ketiganya pun tergelak tawa. Danisha bisa mendengar gelak tawa mereka dari dapur. Hatinya berkecamuk.
"Udah siap, Mbak," ujar Bu Erni, yang segera membuat Danisha tersadar dari pikiran dan hatinya yang berkecamuk.
"I-iya. Makasih, Bu," sahutnya.
Dan bersamaan dengan itu, Saka, Bu Dinda dan Andria yang menggendong bayinya sudah mencapai dapur. Bayi gembul itu sudah terbangun rupanya dan celotehannya pun meramaikan rumah itu. Danisha tersenyum semringah menatap baby Alana yang terlihat sangat lucu dan menggemaskan. Ia pun berjalan mendekati baby Alana yang masih dalam gendongan Andria.
"Hai, Sayang! Kamu lucu banget, sih!" canda Danisha sembari menyentil pipi gembul baby Alana serta mencium tangan mungilnya.
Saka tersenyum, mendekat pada Danisha. Lalu merangkul bahu istrinya mesra.
"Alana lucu, ya! Ngoceh melulu kalau dia bangun," timpal Saka. Ia mengecup bahu istrinya mesra.
Danisha mengangguk dengan seulas senyum tipisnya.
"Danish udah enakan badannya? Katanya beberapa hari ga enak badan?" cecar Bu Dinda.
Danisha menatap Saka lekat. Pasti suaminya itu yang bilang pada ibu mertuanya soal kondisinya.
"Danish ga apa-apa kok, Ma. Cuma kecapekan," jelas Danisha.
Bu Dinda mengangguk dengan senyum simpulnya. "Jangan terlalu capek, Sayang. Jaga selalu kesehatan kamu, ya?" tutur Bu Dinda sembari mengusap pelan lengan menantunya.
Danisha mengangguk. "Iya, Ma," ucapnya dengan mengulum senyuman.
"Udah, yuk! Sarapan dulu," ajak Saka sembari menggeser kursi di sebelahnya untuk Danisha duduk.
__ADS_1
"Makasih," ucap Danisha, lalu ia pun duduk.
Mereka pun duduk di kursi mengelilingi meja makan, siap untuk sarapan pagi.
"Hai, Kakak ipar cantik! Maaf, ya, aku dan keluargaku tidak bisa hadir di hari kalian menikah. Waktu Kakak ipar cantik sakit pun, kami tidak bisa datang menjenguk. Senang bertemu denganmu. Semoga selalu sehat dan segera mendapat momongan," cetus Andria panjang lebar, nada bicaranya terdengar tulus.
Danisha sedikit terhenyak dengan perkataan Andria yang tiba-tiba. Raut wajahnya tampak bingung.
"Kakak ipar?" tanyanya, bingung.
"Ah, iya! Mama lupa bilang tadi. Andria ini anak sulung Tante Dini, adik Mama yang tinggal di Semarang.
Danisha terbengong dengan sendirinya mendengar perkataan ibu mertuanya. Lalu pandangannya beralih pada Saka yang duduk di sebelahnya.
Saka melemparkan senyuman manisnya. "Andria ini udah hampir 3 tahun tinggal di Melbourne, ikut suaminya yang kerja di sana. Dia curang, ga datang di hari pernikahan kita. Tapi datang di hari pernikahan Bang Ardhy," sindir Saka.
Andria pun spontan mencebik. "Eh, Dodol! Tapi aku kan, udah kirim kadonya meskipun ga datang! Aku juga udah minta maaf, lho!" sungutnya, sembari memberikan potongan biskuit kepada putrinya.
Danisha tersenyum. "Maaf, ya ... Dan terima kasih buat perhatiannya," ucapnya. Ia menyesal telah berprasangka buruk pada saudara sepupu suaminya. Dan tentu saja ia juga merasa sangat bersalah karena berprasangka buruk pada suaminya sendiri.
"Si Hilman kemana? Tumben kamu dilepas," celetuk Saka, yang membuat Danisha tersadar dari lamunannya.
"Ish! Sembarangan kalau ngomong! Emang aku binatang?" protes Andria, wajahnya merengut.
Saka tergelak tawa, diikuti tawa kecil Bu Dinda serta gelengan kepala.
"Danish, jangan heran ya. Mereka ini sejak kecil emang seperti ini. Berantem mulu. Ini ditambah si Ardhy bakal makin ramai," sahut Bu Dinda, menghela napasnya singkat.
Danisha tertawa kecil. Matanya tak lepas menatap tingkah baby Alana yang menggemaskan. Tanpa disadarinya tangannya mengusap perutnya dan berdoa dalam hati supaya apa yang diinginkannya dan suaminya, segera hadir di dalam rahimnya.
******
Malam harinya, Danisha sedang membereskan dapur setelah mereka menyelesaikan makan malam. Sementara Bu Erni sudah pulang setelah beres menyiapkan makan malam. Sedangkan Saka asyik menonton televisi di ruang keluarga.
Saat baru saja menyelesaikan pekerjaannya, dimana ia mengambil dua botol air mineral untuk dibawanya ke kamar dan mematikan lampu dapur, ia memekik cukup keras karena tiba-tiba saja sebuah tangan meraih pinggangnya.
"Mas!" teriaknya.
Tawa kecil Saka terdengar menggema di rumah yang hanya ada mereka berdua.
"Kenapa, hm?" Seringai kecil tersungging di bibir Saka. Ia semakin mengeratkan kedua tangannya memeluk Danisha dari belakang.
Danisha tersenyum sambil menghela napas.
"Kaget, Mas!" serunya. Danisha terkikik geli saat Saka mencium bagian belakang telinganya.
"Mas ...."
"Hmm ...." gumam Saka, menelungkupkan wajahnya di bahu Danisha. Matanya terpejam menikmati wangi white musk istrinya.
"Jangan gini, dong!" elak Danisha.
"Maunya begini?" Saka menggigit kecil daun telinga Danisha, yang spontan membuat tubuh Danisha meremang.
"Mas, ih!" desisnya.
"Kenapa?"
Kali ini Saka mengubah posisinya tanpa melepaskan tangannya di pinggang Danisha. Posisi keduanya kini berhadapan, saling menatap. Sangat intim. Wajah Danisha merona bak tomat yang matang sempurna, membuat Saka tersenyum bahagia.
"I love you so much," bisik Saka mesra, keningnya bertaut dengan kening Danisha.
Danisha menelan salivanya. Ia merasakan napas hangat beraroma mint menguar dari mulut Saka dan itu semakin membuatnya merapatkan tubuhnya pada tubuh Saka.
Ya Allah, aku sangat mencintai laki-laki ini. Tolong jagalah hati dan cinta kami selalu.
Lirih Danisha berdoa dalam batinnya.
"Bee ... Maafkan aku, ya. Maaf karena aku egois. Maaf ya, Sayang," ucap Saka, kedua tangannya menangkup wajah istrinya dengan tatapan sendu penuh cinta.
Danisha terpaku pada kedua manik hitam Saka yang meneduhkan. Ia tenggelam di dalam sana. Isak tangisnya tiba-tiba menyeruak di antara keheningan mereka.
"Aku yang seharusnya meminta maaf. Aku berdosa pada suamiku. Maafkan aku, Mas. Aku udah berprasangka buruk padamu, suamiku. Tak seharusnya aku bersikap begitu. Aku juga udah tak patuh padamu, suamiku. Maafkan aku!" ungkap Danisha, isak tangisnya semakin keras. Tubuhnya bergetar. Lalu dipeluknya erat tubuh suaminya, hingga dua botol air mineral di tangannya pun seketika terjatuh. Danisha menumpahkan tangis dan penyesalannya di dada bidang suaminya. Saka menengadahkan wajahnya, menghirup udara sedalam-dalamnya lalu dihembuskannya perlahan. Kedua tangannya mendekap tubuh istrinya erat. Mengecup puncak kepala istrinya.
Marahmu bisa menghancurkanku. Sedihmu membuatku pilu. Tawamu selalu membuatku rindu. Bahagiaku adalah kamu. Ya Tuhan, hidupku penuh warna bersamamu.
Tbc
**Tuh, kan ... ga lama toh berantemnya hehehe
Saka mana bisa marah sama si Danisha. Danisha pun begitu, kalau Saka udah bersikap manis spt itu, pasti dia dah klepek-klepek ðŸ¤
Tetap stay tune ya LOTA Lovers 💞, mgkn 1-2 episode lg, bakalan End kisah mereka.
Btw, tepat hari ini 06.06.2021 Imoet udah jadi author di sini selama 365 hari. Woww! tepat 1 tahun yg lalu! Karya pertama yg Imoet tulis adalah kisah DanSa ini.
So, jgn lupa, tinggalkan jejak kalian
RATED, LIKE, KOMEN. Mau vote juga? silahkan LOTA Lovers, thank you so much yaa 🤗 and Love you 😘💞💞**
__ADS_1