
Tempat pertama yang dituju Mas Rendra setelah tiba di Surabaya adalah studio Radio DG FM.
Bang Hendra terkejut melihat Mas Rendra yang baru saja masuk ke dalam studio Radio DG FM.
" Wow, Boss ! Ada angin apa ini, tiba-tiba datang ke sini ? " sapa Bang Hendra sembari tertawa lebar.
Mas Rendra terkekeh dengan sapaan Bang Hendra. Ia menyambut tangan Bang Hendra dengan salam khas mereka.
" Apa kabar, Bro ? " tanya Mas Rendra.
" Baik, Boss ! " jawab Bang Hendra singkat.
Dari dalam studio, Kak Ella, Dian dan Mala keluar karena mendengar keributan di depan.
" Kak Ella, Dian, Mala, apa kabar kalian ? " tanya Mas Rendra menyapa tiga orang wanita yang terkejut dengan kehadirannya.
" Baik, Mas, " jawab ketiganya serempak.
Dari dalam ruang siaran, Mas Rendra bisa melihat Andhika yang sedang on air.
" Duduk dulu, Mas, " Kak Ella meminta Mas Rendra untuk duduk.
Mas Rendra tersenyum tipis, lalu duduk di sofa ruang tamu.
" Danisha ? Hari ini off ? " tanya Mas Rendra tiba-tiba.
Keempat orang tersebut saling pandang. Bang Hendra yang duduk di sebelah Mas Rendra pun menatap laki-laki mantan managernya itu.
" Uumm... Danisha off ! " kata Kak Ella cepat sebelum Bang Hendra berbicara.
Bang Hendra spontan menatap Kak Ella dengan mata melebar, membuat Kak Ella salah tingkah.
Mas Rendra mengangguk-anggukkan kepalanya.
" Kok Mas Rendra ga tau kalo Danisha off ? " tanya Dian polos.
" Mas Rendra ga pernah menghubungi Danisha ? " imbuh Mala dengan santainya.
Mas Rendra terdiam dan menunduk. Ia menghela napasnya dalam. Ya, ia menyadari bahwa ia telah mengabaikan Danisha sejak ia tidak di Surabaya.
Bang Hendra yang melihat gelagat Mas Rendra pun mulai angkat bicara. Ia tahu sedikit apa yang terjadi antara mantan managernya dengan teman sejawatnya, Danisha, akhir-akhir ini. Ia merasa mereka butuh berbicara untuk menyelesaikan ketidakjelasan hubungan mereka. Ya, Danisha sedikit bercerita pada Bang Hendra mengenai hubungannya dengan Mas Rendra. Semua tahu, Danisha terkenal dekat dengan Bang Hendra, yang dia anggap seperti abangnya sendiri.
" Danisha sakit. "
Singkat Bang Hendra memberitahu keadaan Danisha.
Sontak Mas Rendra mendongakkan kepalanya menatap Bang Hendra lalu menatap ketiga wanita yang ada di hadapannya.
" Sudah tiga hari ini dia dirawat di rumah sakit. Dia pingsan lagi di kampus, " cerita Bang Hendra.
Mas Rendra berdiri dari duduknya.
" Rumah sakit mana ? " tanya Mas Rendra, wajahnya terlihat tegang dan cemas.
" Rumah sakit yang sama dia dulu dirawat, " jawab Bang Hendra.
" Thank you. Aku pergi dulu, " ucap Mas Rendra bergegas pergi.
" Aku temani, " sahut Bang Hendra.
" Ga perlu, Hen ! " tukas Mas Rendra.
" Aku temani. Aku bebas tugas hari ini, " ucap Bang Hendra.
Tak mau berdebat, Mas Rendra pun mengangguk.
Kak Ella menepuk bahu Bang Hendra.
" Jangan khawatir, Kak. Aku tau apa yang harus aku lakukan, " ucap Bang Hendra pada Kak Ella.
Kak Ella tersenyum dan mengangguk sambil menepuk bahu Bang Hendra sekali lagi.
******
Hampir pukul 5 sore saat Bunda pamit untuk pulang karena harus menemani Kirana yang siang tadi mengeluh tidak enak badan. Sementara Ayah sedang mendapat tugas bekerja ke luar kota.
Saka sedang sibuk dengan laptopnya. Entah apa yang dikerjakannya, Danisha tidak tahu pasti.
Perasaan Danisha sedikit lega setelah membalas pesan Mas Rendra siang tadi. Ia telah mengungkapkan semua isi hatinya, semua yang semestinya dilakukannya. Ia menyadari bahwa dirinya bukanlah orang yang tepat buat Mas Rendra. Perlahan ia paham, dirinya bukan seseorang yang benar-benar berarti bagi Mas Rendra.
Danisha memasang handsfree pada kedua telinganya. Ia memutar musik dari aplikasi musik yang ada di ponselnya, selanjutnya ia pun asyik mendengarkan lagu yang meluncur dari aplikasi musik tersebut.
Saka melirik Danisha. Bibirnya menyunggingkan senyuman sumringah melihat Danisha asyik dengan handsfree di kedua telinganya. Sesekali gadis itu bersenandung. Walaupun suaranya tidak terdengar keras, tetapi senandung dari bibir tipis gadis itu masih bisa didengar oleh Saka.
Saka penasaran, lagu apa yang didengar oleh gadis kesayangannya. Ia menutup laptopnya dan berjalan mendekati Danisha.
Dengan senyuman lebar, ia berkata, " Asik bener, dengerin apa sih ? "
Danisha melepaskan handsfree dari salah satu telinganya.
" Apa ? " tanya Danisha, tersenyum menunjukkan lesung pipinya.
Saka mengambil handsfree yang tadi dilepas Danisha dan dipasangkannya di salah satu telinganya. Ia tersenyum senang, ia suka mendengar lagu ini, Melukis Senja.
πΆπΆ
Izinkan kulukis senja
Mengukir namamu di sana
Mendengar kamu bercerita
Menangis, tertawa
Biar kulukis malam
Bawa kamu bintang-bintang
'Tuk temanimu yang terluka
Hingga kau bahagia
Aku di sini
Walau letih, coba lagi, jangan berhenti
Kuberharap
__ADS_1
Meski berat, kau tak merasa sendiri
Kau telah berjuang
Menaklukkan hari-harimu yang tak indah
Biar kumenemanimu
Membasuh lelahmu
πΆπΆ
Saka meraih tangan Danisha, digenggamnya tangan gadis yang masih terlihat pucat itu. Mereka saling menatap dan saling melempar senyuman dengan handsfree yang masih terpasang di salah satu telinga masing-masing.
" Thank you ya, Ka. Thank you udah slalu ada untuk aku, " ucap Danisha lirih pada Saka.
" It's me, I'm here, " ujar Saka singkat. Kedua matanya tak berpaling menatap Danisha. Semakin hari ia semakin merasakan cinta yang luar biasa pada gadis sederhana di hadapannya.
Tok Tok Tok...!
Suara pintu kamar diketuk membuat mereka spontan menengok ke arah pintu kamar.
" Ya.... " jawab Saka sembari berjalan membuka pintu kamar.
Saka terdiam terpaku saat pintu kamar terbuka.
" Danish, sayang, " Mas Rendra menerobos masuk tanpa mempedulikan Saka yang masih berdiri di tempatnya.
Bang Hendra tersenyum pada Saka dan Saka pun membalasnya, saling memberikan salam khas mereka.
" Apa kabar ? " tanya Bang Hendra.
" Alhamdulillah baik, Bang. Abang gimana ? " tanya balik Saka.
" Seperti yang kamu lihat, baik banget ! " sahut Bang Hendra diikuti kekehannya.
" Sayang, kenapa ga kasih tau aku ? " Mas Rendra meraih tangan Danisha dan hendak meraih kepala gadis itu. Namun, Danisha menghindar, memalingkan wajahnya.
Mas Rendra menatap lekat Danisha.
" Apa kabar, Mas ? " tanya Danisha dengan senyum lesung pipinya.
" Kita ngobrol di luar aja, Bang, " ajak Saka pada Bang Hendra. Keduanya pun keluar dari kamar rawat Danisha.
" Kamu kenapa, sayang ? Kan udah aku bilang ja.... "
" Jangan capek, jangan lupa makan, ikuti apa kata dokter, minum obatnya teratur, " Danisha tersenyum tipis setelah mengatakan itu semua.
" Aku tau, aku bukan anak kecil yang tiap saat harus diingatkan, " imbuh Danisha.
" Maaf ! " ucap Mas Rendra, tak bergeming menatap Danisha. Ia sangat merindukan gadis di hadapannya.
" Untuk ? " tanya Danisha. Ia terdiam sesaat sebelum kemudian melanjutkan ucapannya.
" Mas udah baca kan pesanku. Tak perlu minta maaf, ga ada kesalahan yang Mas buat. Aku bisa paham. "
" Sayang, ini tidak seperti yang kamu pikirkan, " sahut Mas Rendra ingin memberi penjelasan.
" Emang apa yang aku pikirkan ? " tanya Danisha.
" Satu-satunya yang aku pikirkan adalah kita tidak perlu melanjutkan hubungan kita. Ada hati yang lebih pantas dan lebih baik untuk Mas Rendra, " tutur Danisha lembut tetapi tegas.
" Ada hati yang telah sekian lama menunggumu dan ada restu untuk kalian. Aku minta maaf, tidak seharusnya aku ada di antara kalian, " tutur Danisha lirih, berusaha menahan agar air matanya tidak luruh.
Mas Rendra tidak bisa menerima begitu saja keputusan Danisha. Digenggamnya kedua tangan gadis yang masih terlihat pucat itu.
" Sayang, aku mencintaimu. Please, jangan berbicara seperti itu. Aku janji, aku tidak akan bersikap egois lagi. Aku janji akan selalu ada untuk kamu. Kita akan selalu bersama, sayang. Please.... " Mas Rendra merayu dan mengiba pada Danisha.
" Ayana mencintaimu, Mas, " ucap Danisha kemudian.
" Dan kedua orang tuamu menginginkan kalian bersama, " lanjut Danisha tersenyum tulus.
Mas Rendra seketika mengernyitkan dahinya, menatap Danisha sangat lekat.
" Ayana ? Kamu tau Ayana ? "
Danisha mengangguk tegas sembari tersenyum tipis.
Mas Rendra mengusap wajahnya kasar.
" Please, percaya sama aku. Aku dan dia tidak pernah ada hubungan apapun selain teman. Kamu ga usah dengerin apapun tentang dia. Kamu.... "
" Please... semua udah jelas. It's ok, Mas. Aku ga apa-apa. Aku bahagia kamu bisa memenuhi tanggung jawabmu sebagai seorang anak. Aku bahagia kedua orang tuamu merestui kalian. Buatlah mereka bahagia, Mas, " tutur Danisha penuh kelembutan.
Mas Rendra menggelengkan kepalanya.
" Kamu bercanda, sayang. Aku tidak mencintai dia. Aku hanya mencintai kamu, hanya kamu. Maafkan aku, sayang, " Mas Rendra masih terus berusaha meyakinkan Danisha untuk tetap melanjutkan hubungan mereka.
" Maafkan aku, Mas. Aku ingin kita berhenti. Maafkan aku. Aku menyerah sampai di sini. Aku bukan perempuan kuat. Aku rapuh dan aku tumbang. Maafkan aku sekali lagi. Aku harap Mas Rendra bisa mengerti keputusanku. Terima kasih banyak buat semuanya, Mas, " Danisha berkata dengan penuh kelembutan, walaupun suaranya sedikit bergetar.
Mas Rendra menatap Danisha, benar-benar tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
" Apa yang dikatakan Aya padamu ? " tanya Mas Rendra datar.
Danisha tersenyum tipis menatap Mas Rendra, laki-laki yang pernah mengisi ruang hatinya. Ia menggeleng.
" Tidak ada. Dia ga ada bicara apapun. Dia hanya bilang bahwa kalian telah bersama sejak kecil, " lagi-lagi Danisha berkata dan tersenyum dengan lesung pipinya yang tercetak jelas di kedua pipinya. Sungguh, Mas Rendra merindukan senyum lesung pipi gadisnya.
" Aku bisa membayangkan indahnya kebersamaan masa kecil kalian. Alangkah lebih indahnya bila kalian melanjutkan kebersamaan yang telah kalian miliki sebelumnya. Membuatnya menjadi lebih indah untuk kedua orang tua kalian yang seumur hidupnya tidak pernah berhenti mencintai dan menyayangi kalian, " tutur Danisha, tanpa sadar kedua matanya telah basah.
" Akupun sama, ingin membuat hidupku lebih indah dan berarti bersama kedua orang tua dan adikku. Mumpung aku masih diberi kesempatan saat ini untuk membahagiakan mereka. Entah besok, lusa atau nanti. Kita tidak tau kapan Allah akan memberi batas usia kita. Saat ini yang aku inginkan adalah berjuang untuk membahagiakan orang-orang yang aku sayangi, termasuk dirimu, Mas, " lanjut Danisha masih dengan senyum terindah dan terhangatnya.
" Karena itu teruslah bersamaku. Kita akan sama-sama berjuang membahagiakan mereka, " ucap Mas Rendra masih belum menyerah meyakinkan Danisha.
Danisha kembali menggeleng.
" Kita sama-sama berjuang untuk kebahagiaan kita masing-masing, Mas, " Danisha tersenyum manis pada Mas Rendra.
Perlahan Danisha melepas cincin yang pernah Mas Rendra sematkan di jari manisnya. Diraihnya tangan kokoh laki-laki rupawan itu dan diletakkannya cincin sederhana itu di telapak tangan yang dulu senantiasa menggenggam jemarinya.
" Terima kasih pernah bersamaku dengan hari-hari yang indah. Terima kasih karena mencintaiku. Maafkan aku yang lemah dan rapuh, " ucap Danisha dengan senyum manis dan tulusnya.
Mas Rendra terdiam. Hatinya tercabik dengan segala yang diucapkan Danisha. Dunianya seolah runtuh. Gadis yang dicintainya tak ingin bersamanya.
Matanya menatap Danisha nanar.
" Boleh aku bertanya ? "
__ADS_1
" Apa yang ingin Mas Rendra tanyakan ? "
" Apa kamu mencintai Saka ? "
Danisha terkesiap mendengar pertanyaan Mas Rendra.
" Aku ingin jawaban jujur, kamu mencintai Saka ? "
Danisha menghela panjang napasnya.
" Untuk saat ini aku tidak bisa menjawabnya, aku tidak tahu. Tapi jujur, aku menyayanginya. Kami bersahabat udah cukup lama. Maafkan aku, " jawab Danisha, ia tatap kedua manik mata Mas Rendra yang menatapnya tajam.
" Aya ga pernah punya arti buatku, meskipun kami sejak kecil telah bersama, " Mas Rendra menggenggam cincin yang ada di tangannya erat.
" Untuk kamu tau, aku berusaha menjaga hatiku hanya untukmu. Aku hanya memintamu untuk bersabar menungguku, " ucap Mas Rendra kemudian.
" Kapan Mas Rendra memintaku bersabar menunggu ? Adakah ? Tanpa Mas meminta sebenarnya aku telah bersabar menunggu. Menunggu kejujuran darimu. Menunggu kata hai tertulis atau terdengar dari ponselku setiap harinya. Jika aku berarti buatmu, apakah seperti itu ? Tanyakan pada hatimu, Mas Rendra. Benarkah aku mempunyai arti buatmu ? " Entah mengapa Danisha berani mengatakan semua itu. Sebenarnya ia tidak mau mempermasalahkan hal itu. Ia ingin semuanya berakhir dengan baik dan indah, bukan saling mengungkit kesalahan masing-masing.
Mas Rendra terdiam. Ia menyadari, itu memang kesalahannya. Ia egois.
" Maaf, Mas. Lupakan semuanya. Tak seharusnya aku berkata demikian. Maaf, " Danisha tertunduk dan menggigit bibirnya, ia kembali merasakan nyeri di kepalanya.
" Tidak adakah kesempatan buat aku untuk memperbaiki semuanya, Danish ? " tanya Mas Rendra sekali lagi.
" Maafkan aku, Mas, " ucap Danisha singkat.
Mas Rendra berdiri dari duduknya. Ia mendekati Danisha yang berbaring setengah duduk di ranjangnya. Ia meraih tangan Danisha yang bebas infus, lalu digenggamnya lembut. Danisha menunduk, tak ingin menatap wajah Mas Rendra.
" Aku mencintaimu. Jika dengan berpisah membuatmu bahagia, aku akan menerimanya. Maafkan aku yang telah membuatmu menunggu. Berbahagialah. Lekaslah sehat, " tutur Mas Rendra lirih. Lalu dikecupnya puncak kepala gadis yang dicintainya itu.
Danisha masih menunduk, ia pejamkan kedua matanya. Berusaha keras untuk tidak mengeluarkan air mata.
" Assalamualaikum, " pamit Mas Rendra kemudian, berjalan ke arah pintu kamar untuk keluar.
" Waalaikumsalam, " jawab Danisha. Ia mendongakkan kepala memandang kepergian lelaki yang pernah mengisi hari-harinya. Tanpa disadarinya, ia mulai terisak.
Di luar kamar, Saka dan Bang Hendra berdiri dari duduknya ketika Mas Rendra berjalan menghampiri mereka. Namun, tiba-tiba....
BUG !
" Mas Rendra ! " pekik Bang Hendra, terkejut dengan kejadian yang baru saja terjadi di depan matanya yang sangat tiba-tiba.
Saka terhuyung menerima pukulan dari Mas Rendra yang tiba-tiba. Sudut bibirnya terlihat mengeluarkan darah. Disentuhnya sudut bibirnya, ia meringis. Perih dan ngilu.
Saka menatap Mas Rendra tajam sembari mengusap sudut bibirnya yang berdarah dengan ujung jarinya.
Kedua lelaki yang mencintai gadis yang sama itu saling menatap tajam.
" Mas ! ada apa ini ? " tanya Bang Hendra sedikit panik.
" Aku ga suka sama dia, Hen ! " Mas Rendra menunjuk Saka dengan jari telunjuknya rahangnya mengeras.
Saka hanya terdiam mematung menatap lelaki di hadapannya yang baru saja memukulnya.
Mas Rendra mendekati Saka. Bang Hendra dengan segera menghalanginya, menahan tubuh Mas Rendra yang terlihat sedang emosi.
" Kamu ! " Mas Rendra kembali mengarahkan telunjuknya pada Saka, lalu melanjutkan kembali perkataannya.
" Danisha mencintaimu ! Jika kamu tidak bisa membuat Danisha bahagia, biarkan dia pergi dan kembali padaku. Jangan pernah kamu sakiti dia. Jaga dia dengan baik. Jika tidak, jangan salahkan aku bila aku akan kembali mengambilnya darimu. "
Bang Hendra tersenyum, perlahan melepaskan tangannya yang menahan tubuh Mas Rendra setelah mendengar perkataan laki-laki yang baru saja kehilangan kekasihnya.
Saka terkesiap mendengar semua perkataan Mas Rendra. Ia pun tersenyum.
" 24 jam 7 hari aku selalu siap menjaganya sebelum Mas Rendra meminta. Sedetikpun aku tak ingin meninggalkannya apalagi menyakitinya. Dia akan tetap bersamaku. Mas Rendra bisa mempercayaiku, aku akan selalu membuatnya bahagia. Mas Rendra tidak perlu repot-repot mengambilnya kembali dariku. Terima kasih buat semuanya. Terima kasih udah memberikan pukulan ini, aku akan mengingatnya sebagaimana Mas Rendra mengingatkanku untuk selalu membuat Danisha bahagia, " tutur Saka lantang.
Keduanya tersenyum.
" Baiklah ! Aku pamit. Sorry dan tolong jaga dia, " pamit Mas Rendra dengan raut wajah sedikit sendu dan menepuk bahu Saka.
" Insya Allah, Mas ! " ujar Saka singkat.
Bang Hendra pun ikut berpamitan pada Saka dengan salam khas mereka.
" She's yours, Bro ! " bisik Bang Hendra dengan senyum lebarnya.
Saka tersenyum dan memberikan tinjuan kecil ke lengan Bang Hendra.
Mas Rendra melempar kunci mobilnya pada Bang Hendra. Bang Hendra pun buru-buru menangkapnya.
" Kamu yang bawa, Hen ! " perintah Mas Rendra.
******
Di dalam mobil, Mas Rendra hanya terdiam. Sungguh hatinya sakit. Ia sangat mencintai Danisha. Namun, semua itu telah kalah karena keegoisannya. Telah kalah karena situasi dan kondisi nya. Telah kalah karena Aya. Ya, gadis itu yang awalnya membuat kacau semuanya. Ia harus menemuinya besok, gumam Mas Rendra dalam hati.
Di dalam kamar rawat Danisha.
Saka yang baru saja masuk tidak dapat menyembunyikan luka di bibirnya. Danisha terlihat panik, ia memang sedikit mendengar keributan tadi.
" Ka, bibir kamu luka. Ada apa tadi di luar ? Apa yang udah Mas Rendra lakukan padamu ? " cecar Danisha sambil memegang pipi Saka yang sedikit lebam.
" It's ok, sweet girl. Tenanglah, aku ga apa-apa, " sahut Saka. Ia menggenggam tangan Danisha yang ada di pipinya. Dikecupnya sekilas.
Danisha menangis.
" Maafkan aku. Pasti gara-gara aku, kamu jadi terluka, " Isak Danisha.
" Ssstt... luka kecil, sweet girl. Aku ga apa-apa. Makasih udah mengkhawatirkan aku, " ucap Saka, meraih tubuh gadis yang masih terisak dalam dekapannya.
Tbc
***Hellooww LOTA Lovers ππ
Maafkan kalo lama up nya yaa...π
Weekdays aq benar2 mati gaya, weekend nulis pun banyak kali iklan lewat π€§
2k lebih aq nulis nya nih, moga puas ya... π€
Team nya Saka mana yaa... happy kalian π
Ditunggu like n komen nya ya LOTA Lovers π
yg blm kasih rate ditunggu π 5 nya... yg mau vote, Alhamdulillah π€
Jaga kesehatan selalu yaa...
__ADS_1
Banyak terima kasih cinta n sayang buat kalian semua my LOTA Lovers π€πππ***