
Bunda dan Kirana tiba di rumah sakit dengan taksi online. Segera mereka menuju kamar Danisha dirawat yang sebelumnya sudah diberitahukan oleh Mas Rendra.
Saat itu, Danisha sedang diperiksa tekanan darah dan suhu tubuhnya oleh perawat.
" Assalamualaikum.. " Bunda dan Kirana mengucapkan salam akan masuk ke kamar Danisha.
" Waalaikumsalam.. " jawab Danisha dan Mas Rendra bersamaan.
" Bundaaa...." manja Danisha memanggil nama sang Bunda.
" Anak Bundaa.. " Bunda menghampiri Danisha dan memeluk serta mencium kedua pipi putrinya.
Begitupun dengan Kirana.
" Kakak.. kok bisa sih pingsan di studio.." kata Kirana dengan raut wajah khawatir.
" Nak Rendra, terima kasih banyak sudah membawa Danisha ke rumah sakit dan menjaganya. Maaf merepotkan, " ucap Bunda pada Mas Rendra.
" Sama-sama Bunda, sudah tugas saya.. Bunda ga perlu khawatir, " ujar Mas Rendra tersenyum ramah.
" Nak Rendra pasti masih banyak keperluan. Sebaiknya nak Rendra pulang, biar Bunda dan Kirana yang menjaga Danisha. Sekali lagi maaf udah merepotkan nak Rendra, " kata Bunda kemudian.
" Kebetulan saya ga ada keperluan lain Bunda. Saya hanya mau pulang sebentar untuk mengganti pakaian dan kembali kesini untuk menjaga Danish, " tutur Mas Rendra sopan.
" Nak Rendra pasti capek dan perlu istirahat. Sebaiknya, nak Rendra pulang saja. Besok kan masih harus kerja. Katanya ga perlu khawatir.. jadi biarlah Danisha kami yang jaga. Nak Rendra ga perlu khawatir dan repot bolak balik ke rumah sakit. Ya nak..? " jelas Bunda.
" Betul kata Bunda, Mas. Mas Rendra pulang aja dan beristirahat. Udah ada Bunda dan Kirana juga, Ayah juga pasti sebentar lagi kesini, " bujuk Danisha sambil tersenyum pada Mas Rendra.
" Baiklah, saya pulang dulu. Dan begini saja, lihat kondisi nanti, apa saya akan kembali atau tidak. Begitu ya Bunda ? Karena saya ada keperluan dengan Ayah dan Bunda. Ada yang ingin saya bicarakan dengan Ayah dan Bunda, " ujar Mas Rendra serius.
Bunda mengernyitkan dahinya, menatap Mas Rendra penuh tanya lalu tersenyum ketika laki-laki muda di hadapannya itu tersenyum penuh makna padanya.
" Baiklah, Nak. Bagaimana baiknya saja, terima kasih banyak ya.. " ucap Bunda akhirnya.
Mas Rendra menghampiri Danisha, lalu tersenyum dan menatap Danisha dengan tatapan lembutnya.
" Aku pulang dulu ya.. jangan bandel dan membantah apa kata Bunda, " pamit Mas Rendra pada Danisha.
" Siap Boss..! Hehehe... terima kasih, Mas hati-hati ya.. " ujar Danisha tersenyum manis pada laki-laki menawan tempat hatinya kini berlabuh.
Mas Rendra mengusap puncak kepala Danisha sambil tersenyum, kemudian berpamitan pada Bunda dan Kirana.
Setelah Mas Rendra pergi, Bunda mendekati Kirana. Ia ingin menanyakan kondisi putri sulungnya.
" Apa kata dokter, sayang ? " tanya Bunda."
" Danish ga papa Bun, hanya anemia dan tekanan darah Danish rendah, " jawab Danisha tenang agar Bunda nya tak khawatir.
" Ada yang mau diceritakan lagi ke Bunda ? " tanya Bunda lagi.
" Apa ya Bun ? " Danisha balik tanya, bingung dengan pertanyaan Bundanya.
" Mas Rendra ? " Bunda menekankan nama Mas Rendra.
" Owh, Mas Rendra... " Danisha menghentikan kalimatnya.
" Kakak udah jadian sama Mas Rendra ya.. ? " sahut Kirana memotong kalimat kakaknya.
Danisha tersipu malu. Ia memandang Bunda dengan tatapan manisnya.
" Benar yang dikatakan adikmu ? " Bunda bertanya dengan raut wajah sedikit serius.
" Benar, Bunda.. maafkan Danisha ya Bun.." kata Danisha jujur.
Bunda tersenyum pada Danish, mengusap pipi putri nya yang masih terlihat pucat.
" Anak Bunda udah dewasa, udah mengenal cinta. Kamu mencintai nya ? " tanya Bunda seolah memastikan bahwa putrinya telah benar-benar jatuh cinta.
Danisha mengangguk pelan kemudian memeluk sang Bunda.
Bunda pun balas memeluk sambil mengelus kepala dan punggung sang putri.
" Ish, udah punya pacar ga boleh manja gini donk.. " ledek Bunda sambil terkekeh.
Kirana ikut terkekeh pula.
Danisha melepaskan pelukannya. Lalu menatap adiknya yang ikut terkekeh.
" Hey.. kamu ngapain ikut tertawa gitu.. ngeledek kakak.. awas lho ya ! " ucap Danisha mengancam.
" Ish, udah punya pacar jangan suka marah lah Kak.. Kiran senang tau, Kakak punya pacar. Biar Kakak ada yang antar jemput, ada yang jaga in. Jadi kita ga khawatir lagi sama Kakak yang kadang suka pingsan dadakan, " celoteh Kirana, masih terkekeh.
" Eh, emang kamu khawatir sama Kakak ? " tanya Danisha sambil menautkan kedua alis hitamnya.
" Ya iyalah kakakku yang cantiiikk... peluk donk.. Sayaaang kakak.. " Kirana merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Danisha.
Danisha pun menyambut pelukan sang adik satu-satunya. Keduanya tertawa, diikuti tawa sang Bunda.
Tak ada keluarga yang sempurna
Meskipun kita sering berbeda pendapat, bahkan tak saling berbicara satu sama lain
Namun pada akhirnya, keluarga tetaplah keluarga
Selalu ada cinta dan kasih sayang di dalamnya
*******
" Assalamualaikum.. Danish kamu terlalu banget ya.. Ga kasih kabar sama aku kalo lagi dirawat di rumah sakit."
Distha menelepon Danisha selepas Maghrib. Tanpa basa basi, ia menggerutu di telepon.
" Waalaikumsalam.. Ya Dis, ngomongnya pelan-pelan aja donk.. " jawab Danisha terkekeh pelan.
" Ya habis kamu gitu deh ! Prasta yang kasih tau aku sore tadi, maaf aku belum bisa jenguk kamu. Insya Allah besok kelar kuliah ya.. "
" Iya sista, aku ga papa kok. Santai aja.. "
" Owh iya Danish, dari sore tadi aku ga bisa menghubungi Saka. Nomornya diluar jangkauan terus. Dia udah jenguk kamu ? "
" Masya Allah, aku lupa. Dari siang tadi aku ga ada buka dan check ponsel ku, Dis. Masa iya nomornya ga bisa dihubungi ? Low bat kali atau lagi sibuk kerjaan."
" Mungkin juga.. ya udah deh, nanti aku coba hubungi dia lagi. Udahan dulu ya sista.. banyak-banyak istirahat dan jangan lupa makan, supaya cepat sehat. Bye Danish, salam buat Bunda dan Ayah ya.. wassalamu'alaikum.."
Distha mengakhiri panggilan teleponnya.
Bunda dan Ayah belum kembali dari sholat Maghrib di musholla rumah sakit.
Lalu Danisha meminta tolong Kirana untuk mengambilkan ponselnya yang ada di dalam tasnya. Setelah Kirana memberikan ponselnya, Danisha mulai membukanya dan dilihatnya ada delapan kali panggilan telepon dari Saka, juga beberapa pesan dari sahabatnya itu.
Danisha menarik napas panjang, dibukanya pesan dari Saka.
__ADS_1
Saka
10.10
" Belum selesai meeting nya ? "
10.50
" Gimana, sweet girl ? "
11.20
" Masih belum kelar juga ? "
11.40
" Aku langsung jemput kamu ya.. kalopun belum kelar, aku tunggu ga papa.."
Ya Allah.. maafkan aku Ka. Seharian aku ga buka ataupun check ponselku. Ck, dia pasti marah padaku, batin Danisha.
Kemudian, ia mencoba menghubungi nomor Saka. Di luar jangkauan. Tiga kali Danisha menghubungi nomor Saka, tetap sama, berada diluar jangkauan.
Akhirnya Danisha memutuskan mengirim pesan saja.
Me
" Ka, maaf yaa.. aku ga buka dan check ponselku seharian ini. Sekarang aku berada di rumah sakit. Siang tadi aku pingsan di studio. Tapi aku ga papa kok, kamu jangan khawatir. Maaf ya Ka.. kamu lagi dimana sekarang Ka ? "
Pesan yang dikirim Danisha hanya bercentang satu. Danisha mendesah, kamu pasti marah sama aku ya Ka, batin Danisha kembali.
Danisha pun menghubungi Prasta menanyakan keberadaan Saka. Namun, Prasta memberitahukan bahwa dia sendiri juga tidak bisa menghubungi sahabatnya itu mulai siang tadi.
Kirana yang memperhatikan kakaknya pun, bertanya ada apa dengannya yang terlihat gelisah.
" Ga papa, Dek. Distha dan Prasta baru aja kasih tau kakak, Saka ga bisa dihubungi dari siang tadi. Ini tadi kakak hubungi juga, tapi
tidak bisa, nomornya diluar jangkauan, " cerita Danisha.
" Mungkin lagi benar-benar sibuk Kak Saka nya. Dicoba lagi besok aja, Kak, " ujar Kirana sambil berjalan ke toilet.
Danisha mengangguk. Ia pun merubah posisinya dari duduk bersandar menjadi berbaring. Tiba-tiba kepalanya kembali nyeri, agak sakit, sedikit membuat pandangannya berkunang-kunang.
Pintu kamar terbuka, terlihat Ayah dan Bunda masuk. Di belakang mereka, terlihat Mas Rendra berjalan santai dengan menenteng paper bag. Senyuman manis tersungging dari bibirnya. Ah, menawan sekali dia, batin Danisha.
" Assalamualaikum.. " salam Ayah, Bunda dan Mas Rendra.
" Waalaikumsalam.." jawab Danisha lirih.
" Lho Mas Rendra kok bisa sama-sama Ayah dan Bunda..? " tanya Danisha kemudian.
" Tadi ketemu di musholla, pas selesai sholat, " jawab Bunda tersenyum.
" Pantas lama baliknya, ngobrol dulu pasti, " kata Danisha.
Mas Rendra meletakkan paper bag di atas meja dekat ranjang dimana Danisha terbaring.
" Apa itu, Mas ? " tanya Danisha
" Kue, mau ? " tawar Mas Rendra
" Masih kenyang. Perutku ga enak, sedikit mual, " keluh Danisha.
" Dokter nya udah visit belum ? " tanya Mas Rendra.
" Kenapa ? Nyeri lagi ? Obatnya udah diminum ? " tanya Mas Rendra khawatir.
" Udah kok. Ga papa, ga usah khawatir. Aku mau tidur, " jawab Danisha sambil memejamkan matanya.
Mas Rendra tersenyum.
" Tidurlah, aku di sini menjagamu, " ucap Mas Rendra duduk di samping ranjang Danisha sambil menggenggam lembut tangan sang kekasih.
" Bun, Kirana pulang dulu ya.. Ayah jadi pulang atau ikut menginap di sini ? " Kirana pamit pada Bunda untuk pulang karena besok harus sekolah dan memastikan pada Ayah, apa akan ikut pulang atau menginap untuk menjaga Danisha.
" Ayah pulang sama kamu, Kiran. Besok kan Ayah juga harus kerja, " jawab Ayah, berdiri berjalan ke arah Mas Rendra dan Danisha.
" Nak Rendra, Ayah dan Kiran pulang dulu. Apa tidak sebaiknya nak Rendra juga pulang ? Besok kan harus kerja, " ujar Ayah.
" Bolehkah saya menjaga Danisha, Ayah ? Saya ga tenang jika tak bersama dia saat ini, " kata Mas Rendra sopan.
" Baiklah, Ayah percaya sama kamu, Nak. Tolong jaga anak Ayah ya.. terima kasih banyak untuk semuanya, " tutur Ayah.
Mas Rendra mengangguk dan tersenyum mendengar ucapan Ayah.
Ketika tak sengaja bertemu di musholla saat sholat Maghrib tadi, Mas Rendra sudah berbicara pada kedua orang tua Danisha untuk meminta ijin menjalin hubungan dekat dengan putri sulung mereka. Dan mereka berdua memberikan lampu hijau atas hubungan mereka bahkan merestui bila memang hubungan mereka akan berlanjut ke jenjang yang lebih serius alias menikah.
Ayah dan Kirana pun pulang, Bunda mengantarkan mereka keluar kamar.
Mas Rendra kembali duduk di samping ranjang Danisha. Dibetulkannya letak selimut Danisha.
" Permisi.."
Mas Rendra mengalihkan pandangan ke pintu kamar.
" Ya, mari silahkan dokter, " jawab Mas Rendra.
Masuklah dokter dan seorang perawat untuk memeriksa Danisha. Tapi bukan Dokter Ardhy yang siang tadi memeriksa Danisha.
" Sayang, bangun.. Dokter mau periksa kamu dulu.. " Mas Rendra membangunkan Danisha untuk diperiksa dokter.
Danisha mengerjapkan matanya, pandangannya masih samar namun ia bisa melihat seorang dokter dan perawat di samping ranjangnya selain Mas Rendra.
" Ah maaf Dokter, " ucapnya kemudian.
" Permisi.. saya Andra, dokter spesialis penyakit dalam yang menangani anda. Maaf, saya periksa dulu ya Nona Danisha, " kata Dokter Andra.
" Silahkan, Dok. "
" Di catatan medis, keluhannya sering pusing, nyeri kepala dan pingsan. Apa juga sering mual, muntah dan pandangan kabur serta berkunang-kunang ? " tanya Dokter Andra.
Mas Rendra yang selalu berada di samping Danisha, melihat ke arah Danisha, ingin mendengar jawaban dari kekasihnya itu.
" I..iya Dokter, " jawab Danisha lirih dan sedikit gugup.
" Sudah lama ? sejak kapan ? " tanya Dokter Andra lagi.
Tiba-tiba Bunda masuk ke kamar dari mengantar Ayah dan Kirana.
" Maaf.. saya ibunya Danisha, " ucap Bunda.
Dokter Andra tersenyum dan mengangguk. Lalu ia kembali mengulang pertanyaannya.
__ADS_1
" Jadi sejak kapan keluhan-keluhan tersebut anda rasakan ? "
" Sudah lama sih, Dok. Cuma saya ga inget tepatnya, kira-kira 4 bulan yang lalu, " jawab Danisha ragu-ragu.
Mas Rendra spontan menggenggam tangan Danisha.
Ya Allah, sudah 4 bulan Danisha mengalami dan menahan rasa sakit nya, batin Mas Rendra.
" Setelah minum obat yang diresepkan, apa yang dirasakan, apakah ada perkembangan lebih baik yang dirasakan ? " lagi Dokter Andra bertanya.
Danisha terdiam sejenak. Apa ia harus jujur menjawabnya ?
" Sayang, kok diam. Bilang aja apa yang kamu rasakan saat ini. Supaya Dokter Andra bisa mendiagnosis sakit kamu dengan benar, jadi ga salah kasih obatnya, " tutur Mas Rendra lembut.
" Uummm.. iya Mas. Kepala saya masih terasa nyeri dan pandangan sedikit berkunang-kunang, Dok. Perut rasanya mual, " jawab Danisha lagi.
" Ok, baiklah. Besok check darah lagi dan kita lihat perkembangannya lagi setelah hasil lab keluar. Saya permisi, terima kasih, " ucap Dokter Andra tersenyum dan berjalan keluar kamar.
" Terima kasih, Dokter, " ucap Mas Rendra dan Bunda.
Setelah dokter Andra dan perawat keluar dari kamar, Mas Rendra dan Bunda menghampiri Danisha.
" Maaf ya.. selama ini aku ga tau jika kondisimu ga baik. Kamu menahan rasa sakitmu 4 bulan dan aku tak tau, " Mas Rendra berkata dengan rasa sesal sambil menggenggam tangan kekasihnya.
Bunda menghela napas panjang.
" Bukan salah nak Rendra. Danish yang keras kepala, ia tak pernah mau periksa ke dokter. Semoga anak Bunda baik-baik aja dan cepat sehat setelah keluar dari rumah sakit, " kata Bunda mencium kening putrinya dan tersenyum sayang.
" Danish memang ga kenapa-kenapa kok, Bun. Cuma anemia.. Danish janji bakal makan yang banyak yang bergizi, biar cepat sehat. Mas, jangan sedih gitu ah.. aku ga papa.. ga usah khawatir.. I'm ok.." kata Danisha dengan senyuman manisnya.
Mas Rendra menatap lembut gadis berwajah pucat yang sudah menjadi kekasihnya dengan senyuman menawannya. Ia menganggukkan kepalanya.
" Ok, sekarang beristirahatlah lagi. Aku mau ke musholla, sholat isya dulu, " ujar Mas Rendra.
" Bunda, saya permisi mau sholat isya dulu, " pamit Mas Rendra.
" Iya, Nak. Silahkan, " kata Bunda.
*******
Sementara itu, sejak sore tadi Saka mematikan ponselnya. Saat ini, ia sedang berada di kamarnya. Ia menyalakan musik dengan keras didalam kamarnya. Duduk di ranjang tidurnya, ada gitar, laptop dan kamera serta beberapa foto tergeletak di tempat itu.
Ia duduk terdiam, kedua tangannya disilangkan di dadanya. Raut wajahnya sedih dengan pandangan kosong lurus ke depan. Ia masih tak bisa melupakan kejadian siang tadi yang dilihatnya di depan matanya, masih terasa sesak dan nyeri dada nya.
Saka benar-benar merasa terpuruk saat ini. Ia hanya ingin sendiri. Merenungi semua yang terjadi padanya. Ia ingin menata hati agar bisa menerima kenyataan yang dihadapinya. Ia ingin menata hati nya agar saat kembali tak melukai dan menyakiti orang yang sangat dicintainya.
πΆπΆ
Cinta sejati yang bisa
Memberi tanpa harus menerima
Dia membawa damai dan bahagiakan jiwa
'Tuk semua manusia
Hanya cinta sejati yang bisa
Bertahan tanpa mengenal waktu
Takkan pernah sirna bagai karang di samudra
'Kan abadi 'tuk selamanya
Seperti itulah cintaku untuk dirimu
Tulus dan apa adanya
Datang dari sebuah rasa sucinya hati
Atas nama cinta sejati
Dan bila engkau telah mengerti
Berapa besar artinya cinta
Hingga setiap napas yang mengalir di tubuhmu
Ada cinta dari Yang Kuasa
Seperti itulah cintaku untuk dirimu
Tulus dan apa adanya
Datang dari sebuah rasa sucinya hati
Atas nama cinta sejati
Setiap napas di tubuhmu
Karena cinta dari Yang Kuasa
Seperti itulah cintaku untuk dirimu
Tulus dan apa adanya
Datang dari sebuah rasa sucinya hati
Atas nama cinta sejati
πΆπΆ
Cinta Sejati by Element
Aku mencintaimu tanpa alasan,
tanpa kenapa, tanpa tetapi,
dan tanpa pertanyaan lainnya
Hanya mencintaimu, itu saja..
Tbc
**Hellooww LOTA Lovers ππ
Semoga selalu happy n enjoy membaca story LOTA yaa π
Selalu banyak terima kasih, cinta dan sayang untuk kalian My LOTA Lovers πππ
__ADS_1
Jangan lupa full rated β5 buat LOTA, like n leaved comment yaa... ππ€
Stay safe n healthy as always π€πππ**