Love On The Air

Love On The Air
Eps 72 Menangis Di Bahu Prasta


__ADS_3

Danisha sedang menyiapkan pakaian kerja Saka di kamar. Hari ini, Saka memulai kembali bekerja setelah hampir satu minggu cuti untuk menikah. Sementara Pak Rahmat sudah dari hari kemarin masuk kantor.


Danisha memakai kerudung segiempatnya di depan cermin rias sembari duduk. Hari ini ia akan pergi ke toko kue Bunda. Ia sangat rindu pada Bunda. Setelah itu, ia akan pergi ke rumah sakit. Ingin memeriksakan kondisi kesehatannya.


" Istriku cantik banget, sih ! " celetuk Saka yang baru saja keluar dari kamar mandi. Mencium pipi istrinya dengan lembut dan sayang.


" Jangan berdandan terlalu cantik, ya, Bee. Ga usah pake lipstik aja, " imbuhnya.


Danisha menghela napasnya singkat sembari menatap Saka dari pantulan cermin riasnya. Sementara lelakinya itu hanya mengedipkan sebelah matanya dengan santai. Dengan hanya berbalut handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhnya, Saka berbalik badan berjalan menuju ranjang tempat dimana Danisha meletakkan pakaian kerjanya.


" Aku cuma ke toko kue Bunda, lho ! Ga pergi ke kondangan atau jalan-jalan ke mall, Sayang, " sahut Danisha sembari berdiri dan merapikan kerudung serta pakaiannya.


Saka berjalan mendekati Danisha dengan seulas senyuman terbaiknya.


" Aku tau, Bee. Serasa ga rela kamu pergi keluar rumah sendiri. "


Saka berbicara dengan tatapan sendu. Kancing kemejanya belum terkait di tempatnya. Dada bidang dan perut sixpack nya terekspos jelas di depan mata Danisha.


" Kamu juga. Jangan suka memperlihatkan tubuh kamu kek gini di depan banyak orang. Aku ga rela, " ujar Danisha merengut. Kedua tangannya meraih kancing di bagian atas kemeja yang dipakai Saka. Lalu mengancingkannya satu per satu hingga tubuh terawat suaminya tertutup sempurna.


Saka tersenyum sumringah menatap wajah merengut Danisha. Kedua tangannya memeluk pinggang istrinya. Lalu mengecup kening perempuan berlesung pipi itu lembut.


" Thank you, Sayang. Cuma kamu kok, yang bebas melihat dan menyentuh tubuhku, " ucap Saka sedikit berbisik.


" Aku mau tiap hari begini, Bee. Kamu yang mengancingkan kemejaku, " bisik Saka lagi. Wajahnya sedikit menunduk, mendekat ke wajah Danisha. Sementara Danisha hanya terdiam tak bergerak. Matanya sayu menatap manik mata Saka.


" I love you. " Bibir Saka mengecup lembut bibir pink Danisha. Memag*tnya perlahan. Menyesap manis bibir tipis istrinya. Lalu melepaskan pagutannya dengan perlahan pula.


Danisha tersenyum, menangkup wajah Saka dengan kedua tangannya.


" I love you more, Suamiku, " balas Danisha, lalu mencium bibir Saka sekilas.


" Duh ! Jadi malas pergi kerja, Bee ! " gerutu Saka malas.


" Eh... Ga boleh gitu, Sayang ! Semangat, dong, buat masa depan keluarga kita, " sahut Danisha.


" Kamu bikin aku betah di rumah, Bee. Weekend kita ke Batu, ya ? " ajak Saka antusias.


" Sama Mama ? " tanya Danisha sumringah.


" Kok sama Mama, sih ! Berdua, Sayang... Kita kan, belum bulan madu, " terang Saka.


" Ga perlu bulan madu, Mas. Jangan boros, deh ! Kita harus menabung, " tukas Danisha.


" Ke Batu kan, mau nabung juga, " sahut Saka sembari mengusap perut rata Danisha. Lalu ia berjongkok dan mencium perut istrinya.


Danisha menautkan kedua alisnya.


" Semoga Allah segera menghadirkan buah cinta kita di sini, ya, Bee, " ucap Saka kemudian, tangannya mengusap lembut perut Danisha dan menciumnya sekali lagi.


Danisha terpaku mendengar ucapan sekaligus doa dari Saka. Aamiin, batinnya lirih.


Perlahan tangannya terangkat, dengan sedikit gemetar mengusap rambut setengah basah suaminya. Danisha ingin menangis, tetapi ditahannya. Ia tidak ingin lemah dan cengeng, apalagi di depan suaminya. Semua akan baik-baik saja. Ia tak boleh menyerah. Ya ! Ia harus melawan penyakitnya ! Demi suami dan keluarga besarnya. Tekad Danisha.


********


Saka menghentikan mobil CRV nya di halaman toko kue Bunda.


" Kok udah rame aja parkirannya, Bee. Masih pagi ini, baru jam 8 lebih dikit. Emang tokonya buka lebih pagi sekarang ? " tanya Saka heran. Memang toko kue Bunda buka jam 8 pagi. Namun, biasanya jam 8 pagi masih sepi pelanggan.


" Biasanya kalau gini ada banyak pesanan. Ayo, turun. Katanya mau bawa puding sama roti sisir, " ujar Danisha sembari membuka pintu mobil setelah melepas seat beltnya.


Saka pun mengikuti Danisha turun dari mobil dan melangkah beriringan masuk ke toko kue sang Bunda.


Saat membuka pintu toko, Danisha disambut beberapa karyawan Bunda dengan senyuman sumringah.


Danisha dan Saka pun membalas senyuman mereka. Sementara Danisha melihat sang Bunda yang juga ikut sibuk melayani pelanggan setianya.


Danisha menghampiri sang Bunda setelah melihat Bunda selesai melayani pelanggannya.


" Bunda, " sapa Danisha lalu mencium punggung tangan wanita paruh baya itu dengan takzim, lalu dipeluk dan diciumnya kedua pipi wanita yang telah melahirkannya.


" Eh, Sayang. Kok pagi sekali datangnya, " ucap Bunda sembari menatap putri sulungnya.


" Bunda, " sapa Saka, mencium punggung tangan ibu mertuanya yang disambut senyuman hangat Bunda.


" Kalian udah sarapan ? " tanya Bunda.


" Udah, kok, Bun. Mama ga akan bolehin kita pergi kalau belum sarapan, " jawab Danisha dengan senyum manisnya.


" Bunda tau sendiri, kan, gimana Mama, " imbuh Saka.


Mereka bertiga pun tertawa bersama.


" Iya, iya ! Mama kamu selalu begitu. Namanya orang tua ya begitu, Sayang, " tukas Bunda dengan seulas senyuman.


" Puding yang Danish pesan kemarin udah ready, kan ? " tanya Danisha kemudian.


" Udah, dong ! Ada di kulkas belakang. Tunggu, ya ! " ujar Bunda hendak beranjak pergi ke dapur. Namun, ditahan oleh Danisha.


" Udah, Bun. Biar Danish yang ambil sendiri. Tuh ! Pelanggan Bunda masih banyak, " cetus Danisha sambil menunjuk para pelanggan yang berdatangan.


Bunda tersenyum dan mengangguk.


" Makasih, Bunda. Udah ngerepotin, " ucap Saka.


" Cuma puding, kok. Ga repot sama sekali. Bunda tinggal dulu, ya, " sahut Bunda, kemudian beranjak menghampiri para pelanggan kuenya.


Tak berapa lama, Danisha telah kembali dengan paper bag di tangannya dan menghampiri Saka yang duduk di kursi tak jauh dari pintu yang menghubungkan toko dengan ruangan menuju dapur.

__ADS_1


" Ini, Sayang. Roti sisirnya mau ? " Danisha memberikan paper bag berisi puding pada Saka sekaligus menawarkan roti sisir yang dijual di toko kue Bunda.


Saka membuka paper bag yang diberikan Danisha dan melihat isinya.


" Banyak bener pudingnya, Bee. Ini udah cukup. Roti sisirnya buat di rumah aja. Aku berangkat, ya... Udah siang, " jawab Saka, bangkit dari duduknya.


" Ya, udah. " Senyuman manis terukir di bibir Danisha.


Keduanya pun menghampiri Bunda.


" Bun, maaf. Saka berangkat ke kantor dulu, " pamit Saka, diciumnya punggung tangan ibu mertuanya.


" Hati-hati, ya, " pesan Bunda.


" Ya, Bun. Titip Danish, kalau bandel jewer aja, Bun, " celoteh Saka, telunjuknya menyentil hidung Danisha gemas.


" Ish ! " sungut Danisha.


Bunda tersenyum menyaksikan interaksi putri dan menantunya.


" Assalamualaikum, Bunda ! " salam Saka, lalu bergegas pergi yang diikuti oleh Danisha.


Sesampainya di tempat parkir mobilnya, Saka segera membuka central lock dan membuka pintu mobilnya. Meletakkan paper bag di kursi sebelah kursi kemudinya. Lalu keluar lagi.


" Udah ? Gitu aja ? " tanya Saka sebelum masuk ke dalam mobilnya. Dilihatnya Danisha berdiri di samping bagian depan mobil.


Danisha tersenyum geli melihat raut wajah Saka yang merengut. Lalu dihampirinya lelaki hebatnya itu, ia cium punggung tangannya.


Saka pun tak menyia-nyiakan kesempatan, dikecupnya kening istrinya. Kedua pipi yang mencetak lesung pipi indah istrinya itu pun tak luput dari sentuhan bibir lelaki itu.


" Mas ! Malu, diliat banyak orang, ish ! " gerutu Danisha, matanya ke sana kemari melihat lingkungan sekitarnya.


" Ya, udah. Kalau di sini malu, nanti malam di kamar aja, ya ? " canda Saka dengan jahilnya.


" Mulai, deh ! Udah, berangkat, gih ! Telat, tuh ! " perintah Danisha mendorong Saka masuk ke dalam mobil.


Saka tertawa lebar sembari duduk di kursi kemudinya dan menyalakan mesin mobilnya.


" Jangan bandel, ya, Bee... Aku pulang jam 4 sore, kabari kalau mau dijemput sebelum aku pulang. Love you, Bee ! " pamit Saka dengan melambaikan tangan kanannya sebelum melajukan mobilnya.


Danisha menganggukkan kepala dengan senyuman masih membingkai wajah ayunya. Tangannya pun membalas lambaian Saka.


" See ya, Sayang. Love you, too ! " sahut Danisha.


Memandang mobil yang dikemudikan suaminya pergi meninggalkan toko kue Bunda, Danisha hela napasnya dalam.


Hari ini, kembali ia tidak jujur pada suaminya. Ia akan pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kesehatannya, walaupun bukan dengan Dokter Aldi, karena dokternya itu sedang ada tugas ke luar kota. Ia telah membuat janji dengan Suster Indah sebelumnya, agar dibantu untuk sekedar memeriksa tekanan darahnya serta penebusan obatnya yang telah habis.


*******


Di sinilah Danisha sekarang. Berada di ruangan Dokter Aldi bersama Suster Indah, yang sedang mengukur tekanan darah Danisha.


" Iya, Suster. Itu kenapa beberapa hari ini pandangan saya berputar, Sus. Nyeri di kepala saya juga datang lagi, " ungkap Danisha.


" Dokter Aldi berpesan pada saya, agar Mbak Danisha segera ambil keputusan untuk operasi. Lebih cepat lebih baik, Mbak, " ucap Suster Indah.


Danisha tersenyum getir sambil memperhatikan Suster Indah yang membereskan alat pengukur tekanan darah.


" Iya, Sus. Segera setelah Dokter Aldi datang, saya akan ambil keputusan, " kata Danisha lirih.


Suster Indah tersenyum dan mengangguk.


" Mari saya antar ke apotek untuk menebus resepnya, " ucapnya kemudian.


" Baik, Suster, " sahut Danisha balas tersenyum.


Mereka pun segera menuju apotek untuk menebus resep obat Danisha.


Setelah membantu Danisha menyerahkan resep obat pada petugas apotek, Suster Indah berpamitan untuk kembali bertugas.


Ketika Danisha selesai menebus obatnya dan hendak pergi dari tempat itu, tiba-tiba Danisha dikejutkan dengan suara yang memanggil namanya.


" Danisha ! "


" Danish ! "


Sontak Danisha menoleh dan terkejut melihat dua orang yang tadi memanggilnya, Dokter Ardhy dan Prasta. Danisha tersenyum canggung, digenggamnya erat obat yang baru saja ditebusnya.


Prasta melihat sekeliling. Lalu dilihatnya kedua tangan Danisha yang menggenggam sesuatu.


" Saka nya, mana ? " tanya Prasta, matanya menatap Danisha dan sesekali celingukan mencari orang yang dicarinya.


Danisha terlihat kebingungan menjawab pertanyaan Prasta. Sekilas ia melirik Dokter Ardhy yang terdiam menatapnya.


" Di kantor, kan masih jam kerja ini, Pras. Kamu sendiri ngapain di sini ? " jawab Danisha sembari mencoba mengalihkan pembicaraan.


" Kamu ke sini sendiri ? Ngapain ? Itu apa yang kamu genggam ? " cecar Prasta, tangannya menunjuk ke tangan Danisha yang menggenggam obat yang baru saja ditebusnya.


Danisha gelagapan dengan cecaran pertanyaan Prasta. Sementara Dokter Ardhy masih menatap istri adik sepupunya itu sembari sesekali menarik napasnya singkat.


" Uummm... Kamu ada kerjaan di sini atau lagi periksa, Pras ? " Danisha balik bertanya, masih berusaha mengalihkan pembicaraan.


" Ada kerjaan dikit, sih. Tapi udah kelar. Kamu ngapain, sih ? Nebus obat ? " Prasta masih berusaha mendapatkan jawaban dari Danisha.


" Kita ke ruanganku aja. Biar enak ngobrolnya, " celetuk Dokter Ardhy kemudian.


" Baiklah ! Ayo, Danish ! " sahut Prasta.


Dokter Ardhy pun berjalan menuju ruangannya diikuti Prasta. Namun tidak demikian dengan Danisha. Ia tertegun menatap punggung kedua orang lelaki yang telah berlalu dari hadapannya.

__ADS_1


Ia bingung harus bersikap bagaimana dan apa yang akan ia katakan pada mereka.


" Danish, ayo ! " seru Prasta yang menghentikan langkahnya, menunggu Danisha yang masih diam di tempat.


Danisha pun menghela napasnya panjang. Sepertinya ia tidak bisa menghindar lagi, terlebih dengan Dokter Ardhy. Sepertinya kakak sepupu suaminya itu mengetahui tentang penyakitnya.


" Eh, iya ! " sahut Danisha berjalan mendekati Prasta, lalu mereka berjalan beriringan menuju ruangan Dokter Ardhy yang tak jauh dari apotek rumah sakit.


Setelah memasuki ruangan praktek Dokter Ardhy dan duduk di kursi yang tersedia di ruangan itu, mereka bertiga terdiam sesaat. Dokter Ardhy mengambil dua gelas air mineral dan diberikannya pada Prasta dan Danisha.


Dokter Ardhy menghela napasnya singkat sebelum memulai bicara.


" Saka tidak tau, kan, kamu ke rumah sakit ? " tanya Dokter Ardhy santai.


" Tau, kok ! Dia tau, " sahut Danisha cepat terdengar gugup.


Dokter Ardhy tersenyum simpul. Kenapa kamu masih saja menyembunyikannya, Danish ? Batin Dokter Ardhy.


" Aku sangat kenal saudara sepupuku itu. Kalian juga pasti sudah sangat mengenalnya, kan ? Dia ga mungkin membiarkan kamu pergi sendiri, Danisha, " cetus Dokter Ardhy.


Prasta mengangguk membenarkan ucapan Dokter Ardhy.


" Pasti, Dok. Saka ga bakalan biarin Danisha pergi sendiri, " yakin Prasta.


" Tolong jangan sembunyikan semuanya, Danisha. Ini serius ! Bukan maina-main ! " kata Dokter Ardhy kemudian. Nada bicaranya sangat serius.


" Sembunyikan ? Sembunyikan apa ? Ada apa, sih ? " cecar Prasta menatap Dokter Ardhy lalu beralih menatap Danisha.


Danisha terdiam seketika. Sesekali menundukkan kepalanya.


" Danish ? Apa yang kamu sembunyikan ? " tanya Prasta, pandangan matanya tertuju pada Danisha yang tertunduk.


" Sebenarnya ada apa, Dok ? Please, kalian jangan bikin bingung, " ujar Prasta.


Danisha mengangkat kepalanya, menatap Dokter Ardhy dengan tatapan mata mengiba. Ia ingin Dokter Ardhy tidak mengatakan apapun pada Prasta.


" Dokter Aldi menunggu kabar darimu secepatnya. Aku mengenal Dokter Aldi, prediksinya jarang sekali meleset. Jadi, ikuti saran Dokter Aldi. Segera, Danisha. Sebelum semua terlambat. Kamu harus yakin dan melawannya. Jangan lemah ! Kami semua mendukungmu, selamanya akan selalu bersamamu. Ya ? Terbukalah ! Jangan sembunyikan apapun lagi. Ini serius. Demi kamu sendiri, demi Saka yang sangat mencintai kamu. Demi keluarga besarmu, " tutur Dokter Ardhy memberikan saran pada Danisha.


" I... Ini ada apa, sih, sebenarnya ? " tanya Prasta bingung.


" Danisha harus segera dioperasi, " jawab Dokter Ardhy cepat. Dokter muda itu sudah tidak tahan untuk mengatakan hal sebenarnya.


Sontak Prasta terkejut dan menatap Danisha ingin mencari kebenaran seperti yang dikatakan dokter kekasih sahabatnya itu.


" Benar, Danish ? " tanya Prasta.


Danisha menatap Prasta nanar. Prasta pun seketika menurunkan bahunya, lemas. Lalu tatapannya beralih pada Dokter Ardhy.


" Jadi, penyakitnya datang lagi ? Tapi, bukankah waktu itu kondisi Danisha sudah dikatakan baik-baik aja setelah kemoterapi yang dibantu dengan konsumsi obat-obatan ? " tanya Prasta pada Dokter Ardhy.


" Ya, tapi penyakit ini memang unik, Pras. Bisa saja kembali menyerang setelah kondisi pasien membaik dalam kurun beberapa waktu. Semua terjadi karena banyak faktor. Terutama kondisi tubuh atau sistem imunitas tubuh pasien sudah tidak sebaik sebelum penyakit ini menyerang. Jika kondisi tubuh sering kelelahan, segala penyakit bisa saja menyerang, apalagi penyakit ini. Jalan terbaik adalah operasi untuk mengangkat tumor itu supaya tidak menyebar ke organ lainnya, " terang Dokter Ardhy.


Prasta mendengarkan semua penjelasan Dokter Ardhy dengan sangat serius. Sementara Danisha hanya terdiam menunduk sambil memainkan jemarinya.


Prasta memegang bahu Danisha, matanya menatap sendu pada sahabatnya yang masih tertunduk diam.


" Kenapa kamu ga cerita ? Kenapa harus kamu sembunyikan ? Apa gunanya kami, sahabatmu dan keluargamu. Lebih lagi kamu ga cerita pada Saka, suamimu. Ini serius, Danisha ! " ujar Prasta.


Danisha mengangkat kepalanya. Ada genangan air di pelupuk matanya yang siap jatuh. Ia menatap Prasta dan bahunya mulai bergerak naik turun. Ia terisak. Perlahan bulir bening itu jatuh dari pelupuk matanya. Ia menangis.


" Maaf ! " ucap Danisha singkat, suaranya bergetar karena tangisannya.


Prasta meraih kepala Danisha dan disandarkan di bahunya. Membiarkan sahabatnya itu menangis di sana.


" Menangislah ! Tumpahkan semuanya di bahu sahabatmu ini. Udah cukup kamu memendam sendiri rasa sakit dan gelisahmu. Maafkan aku, maafkan kami yang tidak peka dengan kondisimu, " ujar Prasta menenangkan sahabatnya, diusapnya puncak kepala Danisha perlahan.


Tangisan Danisha semakin terdengar keras. Dokter Ardhy menundukkan kepalanya. Ada kelegaan yang ia rasakan setelah berbicara dengan Danisha dan mengungkapkan semuanya pada Prasta. Sekarang tinggal memikirkan bagaimana mengatakan semuanya pada Saka.


Masih terisak, Danisha mengangkat kepalanya dari bahu Prasta. Ia hapus air mata dengan telapak tangannya.


" Makasih, Pras, " ucapnya sesenggukan.


Prasta tersenyum simpul.


" Kamu kek sama orang lain aja, bilang makasih. Kita sahabat, saudara. Ya, kan ? " cetus Prasta.


Danisha tersenyum di tengah isakannya, lalu mengangguk perlahan.


" Mau aku bantu bicara sama Saka ? " tawar Prasta.


Danisha menatap Prasta dengan seulas senyuman, lalu menggelengkan kepalanya.


" Biar aku aja. Aku ga mau dia mendengarnya dari orang lain, " ujar Danisha.


" Kalau begitu, segeralah bicara dan beritahu Saka dan keluargamu. Jangan ditunda lagi. Yakinlah semua akan baik-baik saja. Kami semua bersamamu, " saran Dokter Ardhy serius.


Danisha mengangguk, " Ya, Bang ! "


Tbc


**Hellooww LOTA Lovers 💞💞


Semoga masih setia di sini yaa...


Jan lupa slalu tinggalkan jejak kalian di sini.


LIKE N KOMEN ya LOTA Lovers... 🤗 Yg belum kasih rate, buruan rate 🌟 5 yaa... DUKUNGANNYA juga slalu ditunggu 🤗😘


Stay safe n healthy 🤗

__ADS_1


Banyak terima kasih, cinta n sayang buat kalian 🤗😘💞💞**


__ADS_2