Love On The Air

Love On The Air
Eps 93 Emosi Danisha


__ADS_3

**HAPPY READING YOU ALL 🤗**


Danisha tercekat mendengar ajakan Saka.


"Sore nanti kita ke dokter Obgyn, ya? Aku ...."


"Kita salat dulu, Mas. Keburu habis subuhnya," potong Danisha dengan senyum yang sedikit dipaksakan.


Saka balas tersenyum dan mengangguk. Keduanya segera mengambil air wudhu untuk salat subuh berjamaah.


"Jam 4 sore nanti Dokter Nana ada jadwal praktek, Bee. Aku akan izin pulang setelah makan siang," ucap Saka usai salat subuh.


Sementara Danisha yang sedang merapikan perlengkapan salat hanya terdiam, ia merasakan perutnya kembali mual.


"Lain kali aja, Mas. Aku ga apa-apa, kok," kelit Danisha lembut.


Saka menghela napasnya dalam. Tidak mudah membujuk Danisha bila ia sudah mempunyai kemauan.


"Mau sarapan apa, Mas?" tanya Danisha selanjutnya, mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Apa aja, Bee ...." jawab Saka, ia berjalan mendekati istrinya yang sedang memakai jilbab instannya di depan cermin riasnya.


"Kamu mau kemana? Udah ... Istirahat aja, Bee. Biar Bu Erni yang siapin sarapannya. Aku semalam udah bilang Bu Erni buat siapin sarapan pagi ini, kubilang kamu sakit," tutur Saka, kedua tangannya memegang kedua bahu Danisha dari belakang sembari menatap istri cantiknya melalui cermin rias di hadapannya.


"Mas berlebihan, ih! Orang aku ga apa-apa juga!" tukas Danisha, ia berbalik dan menatap Saka dengan raut yang merengut.


"Kamu pikir aku ga tau, tadi di kamar mandi kamu muntah lagi, kan?" cecar Saka, wajahnya terlihat serius.


"Cuma dikit, aku ga apa-apa. Biasa kalau lagi sikat gigi sering begitu, Mas," kilah Danisha sembari berjalan hendak keluar dari kamar. Namun baru beberapa langkah, ia berhenti karena pertanyaan Saka.


"Bee, kamu udah telat haid, kan?" tanya Saka, ia berjalan menghampiri Danisha yang berhenti mematung tak jauh dari pintu kamar. Kini ia berdiri tepat di hadapan Danisha, menatap lekat istrinya yang masih bergeming dengan wajah masih sedikit pucat.


"Siklus haidku kan, emang ga teratur, Sayang," timpal Danisha dengan seulas senyum manisnya.


"Udah, ah! Aku bikin minum dulu, ya. Mau kopi, susu atau teh? Sebaiknya Mas mandi dulu, udah siang. Katanya ada meeting pagi ini?" imbuh Danisha.


Saka menahan lengan Danisha. "Kita ke Dokter Nana sore ini!" putus Saka menatap lekat Danisha. Lalu berlalu ke kamar mandi.


"Mas, tunggu!" seru Danisha, menyusul Saka.


Saka mengurungkan menutup pintu kamar mandi. "Apa? Mau sekalian mandi bareng?" tanyanya dengan seringai kecil di wajahnya.


Danisha mencebikkan bibirnya.


"Aku lupa, nanti aku ada janji ketemu sama Distha," ujarnya.


Saka mengerutkan dahinya. "Mau apa dan kemana?" cecar Saka yang berdiri di tengah pintu kamar mandi.


"Menemani Distha antar undangan buat teman-teman SMP," jawab Danisha.


Saka menghela napas singkat. "Ga usah pergi. Nanti aku bilang sama Distha, dia pasti paham," tukas Saka.


"Ga bisa gitu, Mas. Aku ga enak udah janji dari minggu lalu. Lagipula ga bisa dong, batalin acaranya mendadak gini," sanggah Danisha.


"Bee, kamu lagi ga sehat. Kita tetap akan pergi ke Dokter Nana, selesai acara kamu. Titik!" tegas Saka.


"Kenapa harus ke Dokter Nana? Aku cuma kecapekan. Bang Ardhy juga udah periksa aku kemarin, ga ada yang serius, kok!" protes Danisha, nada bicaranya mulai meninggi.


Saka yang akan menutup pintu kamar mandi pun seketika urung dan terdiam menatap Danisha lekat.


"Iya, kamu cuma kecapekan. Makanya harus istirahat. Kita ke Dokter Nana juga mau memastikan kondisi kamu benar-benar baik-baik saja. Itu aja, Bee," sahut Saka, ia sedikit menahan emosi yang mulai tersulut karena keras kepala istrinya.


"Cuma memastikan aku baik-baik saja, kenapa harus ke Dokter Nana? Siklus haidku ga beraturan karena aku kecapekan. Bukan karena aku hamil. Seperti yang sudah-sudah, hasilnya selalu negatif. Aku ga mau kamu kecewa lagi," cerocos Danisha, mulai kesal hingga bicaranya sudah menyebut aku-kamu.


Saka terhenyak dengan semua yang didengarnya. Ia pun berjalan menghampiri istrinya. Matanya berubah sendu menatap wajah berlesung pipi yang selalu membuatnya rindu.


"Aku tau kondisiku. Kemungkinan terbesar aku ga bisa memberi keturunan buat kamu dan keluargamu. Maaf karena udah mengecewakan kamu berkali-kali. Untuk kali ini, please ... Aku ga mau periksa ke dokter Obgyn lagi. Aku ga sanggup melihat kamu menelan kekecewaan lagi karena hasil yang negatif, ga sesuai yang kamu harapkan," oceh Danisha. Suaranya mulai bergetar karena menahan tangis dan emosi.


"Kalau kamu sangat menginginkan anak dalam waktu dekat ini, aku ikhlas ...."


"Kamu ngomong apa, sih? Kecewa apa? Ga bisa memberi keturunan, apa sih ini? Omongan kamu melantur kemana-mana!" potong Saka, ia pun mulai emosi. Ia menghela napasnya panjang dan batinnya beristighfar untuk meredam emosi yang sudah menyerangnya. Sesaat keduanya terdiam.


"Baiklah. Terserah kamu," lirih Saka mengalah. Ia pun berbalik badan dan berlalu masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


Sementara Danisha terduduk lemas di sofa. Menangis. Ia terisak dengan kedua telapak tangan menutup wajahnya. Berusaha menekan suara tangisnya agar tidak terdengar. Beberapa saat kemudian, ia tersadar dari tangisnya. Dihapusnya pipinya yang basah dengan kedua telapak tangannya dan tidak lupa dibersihkannya dengan tissue yang tergeletak di meja. Lalu ia pun menghela napasnya dalam. Jam di dinding kamarnya sudah menunjukkan pukul 06.20, ia harus segera menyiapkan sarapan untuk Saka. Detik berikutnya, ia bergegas keluar kamar menuju dapur.


********


Pada akhirnya Saka mengalah setelah melewati perdebatan panjang dengan Danisha untuk memeriksakan kondisi kesehatannya ke Dokter Obgyn rekomendasi Abang sepupunya, yang sudah beberapa kali mereka datangi.


Sarapan paginya bersama Danisha pun terasa canggung. Tak banyak pembicaraan seperti sarapan pagi biasanya yang selalu penuh canda dan romantisme. Keduanya lebih banyak diam, walaupun Danisha masih melayani Saka dengan baik di meja makan. Bahkan istrinya itu menyiapkan bekal untuk makan siangnya di sebuah lunch box. Bu Erni pun merasakan hal yang sama. Namun wanita paruh baya itu bisa apa. Sesekali ia memperhatikan kedua majikannya yang terlihat canggung dan diam.


Saka sudah tiba di kantornya setengah jam yang lalu. Namun pikirannya tidak bisa fokus pada pekerjaannya. Masih satu jam lagi agenda meeting dengan kliennya. Dokumen yang dikerjakannya semalam sudah siap di file dokumen berwarna putih di sudut mejanya. Ia masih memikirkan apa yang terjadi antara dirinya dan Danisha pagi tadi.


Apa aku egois? Apa aku salah?


Batinnya terus mengucapkan dan menanyakan hal itu.


Terngiang pula lontaran kalimat yang diucapkan istrinya.


Ah! Mungkin benar aku egois! Mungkin memang aku salah! Aaarrrrggghhhh ...!


Geramnya dalam hati.


Di lain tempat, Distha sedang bersiap hendak menjemput Danisha dan pergi bersama untuk bertemu dengan teman-teman masa SMPnya. Undangan pernikahannya yang akan ia bagikan pun sudah siap di dalam sebuah paper bag untuk dibawanya.


"Distha! Ada Prasta tuh, nungguin kamu!" Bu Wina, sang Mama meneriakinya dari lantai bawah.


Distha mengerutkan dahinya.


Prasta? Ngapain lagi tuh, anak! Gumamnya.


Gadis itu pun segera meraih tas kesayangannya dan paper bag berisi undangan dengan gerakan cepat, lalu bergegas turun untuk menemui Prasta sebelum berangkat ke rumah Danisha.


"Sist! Ganggu sebentar, ya," ucap lelaki tampan bertubuh tinggi yang sedang duduk di sofa ruang tamu rumahnya.


"Ada apa?" tanya Distha penasaran.


"Aku nitip ini buat Bang Ardhy, ya." Prasta menyerahkan sebuah amplop coklat berukuran besar kepada Distha, yang kemudian diterima dengan baik oleh Distha. Namun raut wajahnya terlihat bingung dan juga ... Penasaran!


"Apa ini?" tanya Distha, mengernyitkan dahinya.


"Kasih aja ke Bang Ardhy. Dia udah tau, kok! Dari kemarin aku hubungi, susah banget nyambungnya. Pasti lagi sibuk," tutur Prasta, bibirnya menyunggingkan senyuman manis pada Distha.


"Kamu mau kemana?" tanya Prasta.


"Ada janji sama Danisha dan teman-teman SMP. Kamu ga kerja?" tanya Distha balik.


"Kerja, dong! Oh ya, bukannya Danisha lagi ga sehat kemarin?" tanya Prasta.


"Iya, tapi katanya udah membaik. Aku menelponnya pagi tadi," jawab Distha.


"Alhamdulillah... Baiklah! Aku pamit. Sampaikan salamku pada Danisha, ya," pamit Prasta kemudian. Ia berdiri dari duduknya diikuti oleh Distha yang juga bangkit dari duduknya.


Keduanya keluar rumah bersamaan setelah berpamitan pada Bu Wina, Mamanya Distha.


"Pras!" panggil Distha pada Prasta yang sudah duduk di atas motornya.


"Jangan lupa besok, ya!" seru Distha mengingatkan.


"Siap!" sahut Prasta, mengangkat dua ibu jarinya ke atas.


Distha tersenyum dan membalas dengan mengangkat satu ibu jarinya. Distha masuk ke dalam mobilnya dan Prasta pun melajukan motornya meninggalkan kediaman orang tua Distha.


*******


Meeting berjalan lancar meskipun Saka terlihat kurang fokus. Pak Rahmat menyadari sikap putranya saat meeting berlangsung tadi.


Saka kembali disibukkan dengan pekerjaannya setelah meeting dengan salah satu klien besar perusahaan keluarganya. Berkutat dengan laptop-nya, ia membalas beberapa email yang belum di-follow up-nya.


Pintu ruangan terbuka, sosok lelaki paruh baya masuk dengan senyum tersungging di bibirnya. Saka mengalihkan pandangannya pada sosok yang menjadi panutannya.


"Papa!" serunya.


"Sibuk?" tanya Pak Rahmat.


"Yaaah, lumayan. Papa ada keperluan sama Saka? Ada yang bisa dibantu?" cerocos Saka yang kali ini menegakkan duduknya dan menatap sang Papa lekat.

__ADS_1


Pak Rahmat duduk di kursi di seberang Saka, posisi mereka berhadapan.


"Pekerjaan kamu ada masalah?" tanya Pak Rahmat serius menatap sang putra.


Saka menggelengkan kepalanya. "Ga ada, sih! Menurut Papa?" tanya balik Saka.


"Hari ini kamu terlihat gelisah dan ... Kurang fokus!" sahut Pak Rahmat to the point.


"Begitu, ya?" Saka tersenyum tipis menanggapi perkataan Papanya.


"Danisha gimana? Udah lama kalian ga datang ke rumah. Kakak kamu pun sama. Mama kamu ngomel karena rumah sepi, kalian ga ada yang datang beberapa minggu ini," ungkap Pak Rahmat.


"Danisha baik, cuma kemarin agak kurang enak badannya. Maaf, Danisha sibuk dengan skripsinya beberapa bulan ini. Insya Allah minggu depan kami akan datang," terang Saka sembari menghela napasnya dalam.


"Ya-ya ... Papa paham. Wisuda Danisha jadi bulan depan?"


Saka mengangguk. "Iya, Pa. Tepatnya dua minggu lagi," jawab Saka.


"Ah, iya! Seminggu lagi udah ganti bulan, ya," timpal Pak Rahmat sembari terkekeh pelan.


"Pernikahan Bang Ardhy juga sebentar lagi lho, Pa!" cetus Saka.


"Ya, ampun! Iya, ya ... Papa hampir aja lupa!" pekik Pak Rahmat. Ia teringat permintaan istrinya untuk membelikan tas yang akan dipakainya di hari pernikahan keponakan dokternya itu.


"Kenapa? Mama minta dibelikan apa lagi?" cecar Saka, ia hapal betul dengan kelakuan sang Mama bila bersangkutan dengan pesta.


"Biasalah, Mama kamu! Papa pergi dulu, ya!" Pak Rahmat pun beranjak meninggalkan ruangan Saka.


Saka menghela napasnya panjang. Ia pun kembali teringat Danisha. Dilihatnya jam yang melingkar di tangan kanannya, lima menit lagi jam makan siang. Saat ini istrinya itu pasti sedang happy bersama Distha dan teman-teman SMP-nya. Lalu ia mengambil lunch box yang diletakkannya di meja kecil di samping meja kerjanya. Bekal makan siang yang telah disiapkan istrinya tadi pagi, sayur capcay dan lauk kesukaannya, daging sapi bumbu lada hitam. Ia pun segera membuka lunch box-nya dan tanpa menunggu lama, ia mulai menyuapkannya ke dalam mulutnya. Ia sangat menikmati makan siangnya kali ini.


*******


Saka menggerutu setelah mendapat telpon dari Abang sepupunya, siapa lagi kalau bukan Dokter Ardhy. Dokter yang sebentar lagi akan melepas masa lajangnya itu menyuruhnya untuk menjemput saudara sepupu mereka di bandara jam 3 sore ini. Saka berdecak kesal. Namun, mau tidak mau ia harus mengikuti perintah Abang sepupunya itu karena sang Abang masih sibuk dengan acara seminarnya. Ia pun segera meluncur ke bandara menjemput saudara sepupu mereka yang datang dari Australia.


Sementara itu, Danisha dan Distha baru saja mengakhiri pertemuan mereka dengan teman-teman semasa SMP keduanya. Distha juga telah memberikan mereka undangan pernikahannya yang akan berlangsung tiga minggu lagi, setelah acara wisuda kelulusannya.


"Kita langsung pulang?" tanya Distha saat berjalan keluar dari area foodcourt tempat mereka bertemu dengan teman-temannya.


"Uummm ... Aku mau lihat-lihat sepatu dulu, ya," ajak Danisha.


"Boleh. Udah bilang Saka?" tanya Distha, mengingatkan sahabatnya untuk memberitahu suaminya bahwa ia tidak langsung pulang, melainkan masih ada keperluan lain.


Danisha tersenyum simpul. "Udah," bohong Danisha.


Distha pun mengangguk dan tersenyum mendengar jawaban sahabatnya. Namun tiba-tiba saja Danisha menghentikan langkahnya. Berdiri kaku melihat seseorang yang sangat dikenalnya sedang bersama seorang wanita cantik dan ... Seorang bayi dalam gendongannya! Mereka terlihat sangat akrab, bahkan menurut Danisha terlihat mesra.


Tidak! Tidak mungkin! Bukan! Itu bukan dia!


Sangkal Danisha dalam hati.


"Danish! Ada apa? Kok berhenti?" berondong Distha. Gadis itu pun mengalihkan pandangannya mengikuti arah pandangan sahabatnya. Setelahnya, matanya membulat karena terkejut.


Tiba-tiba Danisha menggenggam pergelangan tangan Distha dan menariknya untuk bergegas pergi dari tempat itu. Dadanya sesak, hingga tubuhnya bergetar dan tangisnya tumpah. Ia terus berjalan cepat menarik tangan Distha. Sesekali ia menghapus pipinya yang basah.


"Sist! Tenangkan dirimu!" Distha mencoba menenangkan sahabatnya. Namun sepertinya hal itu tak membuat Danisha berhenti berjalan dan menangis.


"Danish!" seru Distha dengan suara lebih keras dan menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba, membuat genggaman tangan mereka terlepas seketika. Danisha pun berhenti berjalan.


"Aku mau pulang," lirihnya di tengah isak tangis yang belum juga berhenti. Diusapnya air mata yang membasahi wajahnya dengan telapak tangannya. Bahkan kerudung pasmina-nya pun basah terkena air matanya.


Distha menghampiri Danisha, lalu membawa tubuh sahabatnya itu ke dalam dekapannya. Gadis itu menghela napasnya dalam sembari mengusap lembut punggung sahabatnya.


"Ok, kita pulang, ya. Aku antar kamu pulang. Tapi janji, kamu berhenti menangis. Malu kan, dilihat banyak orang," tutur Distha lembut.


Danisha mengangguk dalam pelukan Distha. Perlahan ia mengendurkan pelukannya. Lalu memejamkan kedua matanya dan menghela napas panjang sembari beristighfar dalam hatinya. Sekali lagi, dihapusnya air mata yang sudah membasahi wajahnya.


"Kita pulang!"


Tbc


***Dududuuuhhh ... kamu kenapa lagi sih, Danish ... Kok berantem lagi 😔


Thank you yg udah kasih jempol, komen n vote

__ADS_1


ditunggu terus komennya yaa ... 🤗😘💞💞


Be save n healthy yaa 😘💞💞***


__ADS_2