Love On The Air

Love On The Air
Eps 61 Persiapan Pernikahan


__ADS_3

Danisha menahan supaya air matanya tidak jatuh. Namun perlahan tapi pasti, bulir bening itu pun jatuh membasahi pipinya, menyapu kedua lesung pipinya yang dalam. Ia menahan isak tangisnya. Perlahan ia menghapus air matanya dengan telapak tangannya.


" Maaf ! " ucapnya lagi dengan wajah menunduk. Kepalanya tiba-tiba berdenyut. Perutnya terasa mual. Tubuhnya gemetar. Ia memejamkan matanya dan menarik napas dalam menahan rasa sakitnya.


Saka masih terdiam. Ia merasa kecewa dengan sikap Danisha yang seolah ga mau tahu tentang rencana pernikahan mereka. Salahkah jika ia merasa hanya dirinya yang menginginkan pernikahan ini, sementara Danisha terlihat tidak antusias dan terkesan malas jika membahasnya ?


Saka memutar posisi duduknya menghadap Danisha. Ia menatap gadis pemilik hatinya yang sedang tertunduk dan meremas kedua jemari tangannya.


" Bee, aku ga tau ada apa denganmu. Aku ga apa-apa jika kamu tidak ingin menikah secepatnya. Kita bisa menundanya. It's ok. Ga masalah buatku. Aku akan menunggu, sampai kapan pun kamu siap, " ujar Saka lembut. Namun ada nada kecewa dalam suaranya.


Kali ini Danisha merasakan bukan hanya kepalanya yang nyeri, hatinya pun terasa nyeri, lebih nyeri. Air matanya pun lolos lagi membasahi pipinya. Ia tak bisa lagi menahan isakannya. Bahunya terlihat naik turun dan tubuhnya bergetar. Baru kali ini ia melihat Saka kecewa dan itu karenanya.


Sungguh, ia merasakan nyeri di hatinya karena membuat Saka kecewa. Sekarang saja ia sudah membuat kecewa laki-laki calon suaminya. Bagaimana nanti ? Pikirannya sangat kacau, membuat tubuhnya semakin gemetar dan mual di perutnya.


Saka melihatnya dan terkejut.


" Bee, kamu kenapa ? " tanya Saka memegang bahu kekasihnya yang bergetar.


" Bee... Kamu menangis ? Please, jangan menangis, " Saka duduk bersimpuh di lantai. Kedua tangannya menggenggam erat tangan Danisha yang saling meremas. Pandangannya lekat menatap gadis kesayangannya, calon istrinya.


" Aku minta maaf, maafkan aku, Sayang. Maafkan aku karena terlalu egois dan memaksamu, " sebelah tangan Saka memegang dagu kekasihnya dan mengangkatnya agar melihat dirinya.


Wajah kekasihnya terlihat sudah berderai air mata dan sangat pucat. Hati Saka seperti ditusuk-tusuk belati melihatnya.


Danisha menatap nanar kekasihnya yang juga sedang menatapnya penuh penyesalan. Bibirnya kelu tak bisa berucap. Keduanya saling menatap dan menelisik di kedalaman manik hitam masing-masing. Ada gurat kecewa dan penyesalan di mata calon suaminya. Dan itu karenanya.


Sementara Saka tak melepas pandangannya sedetik pun dari wajah ayu calon istrinya. Ia telah membuat gadis kesayangannya menangis, berderai air mata hingga wajahnya terlihat sangat pucat. Dengan lembut dan penuh cinta diusapnya kedua pipi kekasihnya yang basah untuk menghapus air matanya.


" Maaf ! " Hanya satu kata itu yang terus terucap dari bibir Danisha. Tak henti-hentinya ia meminta maaf pada lelaki yang telah kecewa karenanya.


Saka tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


" Aku yang seharusnya minta maaf. Maaf, ya, " ucap Saka penuh kelembutan. Tangannya masih menggenggam lembut tangan kekasihnya.


Danisha menghela napasnya, ia mengusap matanya yang masih sedikit basah. Setelahnya ia menatap Saka yang masih duduk di hadapannya dengan lutut yang bertumpu di lantai. Sebelah tangannya mengusap lembut wajah Saka yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus terutama di rahang kokohnya.


" Maaf ! Ga seharusnya aku bersikap kekanakan. Maaf udah buat kamu kecewa. Aku hanya tidak ingin merepotkan banyak orang. Tidak ingin menjadi beban semua orang terutama kamu, " jelas Danisha dengan tatapan sendu dan senyuman manisnya.


Saka menutup bibir Danisha dengan jari telunjuknya.


" Jangan pernah ngomong seperti itu lagi, Bee. Aku ga suka, " cetus Saka, lalu menurunkan jari telunjuknya dari bibir Danisha dan kembali menggenggam tangan kekasihnya itu.


Danisha mengangguk, kepalanya masih terasa nyeri. Masih menahan sakitnya, Danisha bangkit dari duduknya dan diikuti Saka yang berdiri.


" Masuk, yuk ! Aku buatin minum dulu. Mau minum apa ? " tanya Danisha sembari berjalan masuk ke rumah. Namun, Saka tak melepaskan genggaman tangannya dari tangan kekasihnya itu. Ia pun mengekori Danisha yang masuk ke dalam rumah.


" Duduk dulu, gih ! Aku ke belakang dulu, " kata Danisha saat mereka berada di ruang tamu.


" Boleh ikut ? " tanya Saka, mengedipkan salah satu matanya.


Danisha tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


Saka mendengus kesal, lalu melepaskan genggaman tangannya dan duduk di sofa dengan wajah cemberut. Danisha terkekeh melihat sikap kekasih sekaligus calon suaminya yang saat ini menampakkan wajah cemberut.


*********


Kak Sandra memperlihatkan beberapa desain undangan pernikahan kepada Saka dan Danisha pagi itu di kantor Kak Sandra.


Pada akhirnya Saka meminta Kak Sandra tidak perlu datang ke rumah karena Saka dan Danisha akan datang ke kantornya keesokan harinya, karena malam itu Danisha merasa tidak enak badan. Ia merasa tubuhnya sangat lelah setelah pengobatan kemoterapi. Tetapi bukan itu yang dikatakannya pada Saka. Ia hanya mengatakan jika ia capek dan ingin beristirahat.


Tentu saja Saka memahaminya. Ia sangat paham jika kondisi tubuh kekasihnya tidak seperti saat dia masih sehat, saat penyakit itu menyerangnya. Ia ingat betul dengan pesan Dokter Aldi dan saudara sepupunya, Dokter Ardhy untuk selalu memperhatikan aktivitas Danisha supaya jangan sampai dia kelelahan. Jika sampai kelelahan, sangatlah mudah segala penyakit menyerang tubuhnya terutama penyakit yang telah dideritanya.


" Jadi kalian mau yang mana, nih ? " tanya Kak Sandra.


Danisha terlihat bingung dengan beberapa desain yang ditawarkan Kak Sandra. Demikian pula dengan Saka. Sudah hampir setengah jam mereka memperhatikan desain-desain undangan yang ada di meja kerja Kak Sandra dan juga foto-foto contoh desain undangan di laptop milik Kak Sandra.


" Gimana, Bee ? Kamu suka yang mana ? " tanya Saka pada Danisha.


Sejak awal Kak Sandra memperlihatkan beberapa desain undangan pilihan Kak Sandra, mata Danisha sudah tertuju pada desain undangan berwarna hijau pastel. Terlihat simpel tapi elegan.


Danisha tersenyum tipis pada Saka.


" Kalau kamu suka yang mana ? " tanyanya pada sang kekasih.


" Kok balik tanya sih, Bee.... " ucap Saka dengan seulas senyuman menatap kekasihnya.


" Aku mau kita barengan tunjuk desain yang kita suka. Hitungan ketiga, langsung tunjuk ya ? " ujar Danisha tersenyum lebar.


" Wait ! Maksudnya, kita sama-sama tunjuk desain undangannya setelah hitungan ketiga, gitu ? " tanya Saka memastikan permintaan sang kekasih hati.


Danisha mengangguk dengan senyum lebarnya. Saka terkekeh mendengar ide kekasihnya. Namun kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya, sebuah senyuman lebar mengembang di bibirnya menampilkan deretan gigi putihnya yang tertata rapi.


" Ok, my Bee ! Let's start it ! " ucapnya dengan sedikit kekehannya. Ia mengusap-usap kedua telapak tangannya.


Kak Sandra menggelengkan kepalanya diikuti dengan tawa kecilnya.


" Aku yang hitung, ya, " celetuk Kak Sandra kemudian.

__ADS_1


" Boleh, Kak ! " sahut Danisha riang. Ia menangkupkan kedua telapak tangan pada kedua sisi pipinya.


Kak Sandra terkekeh melihat sikap adik dan calon adik iparnya.


" Ok, siap, ya ! " Kak Sandra memberi aba-aba.


" Satu.... " Kak Sandra mulai menghitung.


" Dua.... "


" Tiii... Gaaa !! "


Saka dan Danisha pun langsung menunjuk desain undangan yang mereka suka. Seketika terdengar gelak tawa di ruangan Kak Sandra saat kedua tangan calon pengantin itu menunjuk sebuah desain undangan yang sama.



" Cieeeee... kompakan nih ! " ledek Kak Sandra diikuti gelak tawa Saka dan Danisha.


" See ? Kita sehati, Bee. Love you, " ucap Saka meraih tangan kekasihnya dan menggenggamnya dengan senyum dan tatapan penuh cinta.


Danisha tersenyum simpul memperlihatkan lesung pipinya yang dalam sembari menatap Saka tanpa berkata-kata.


" Hilih ! Mulai, deh ! Kalian anggap Kakak obat nyamuk di sini. Baiklah, Kakak ikhlas buat kebahagiaan saudara satu-satunya, " sungut Kak Sandra.


Saka dan Danisha pun tergelak tawa.


" Undangan udah fix. Secepatnya Kakak order buat cetak. Sekarang, konsep akad nikah dan resepsinya gimana ? " tanya Kak Sandra kemudian.


" Danish ga paham, Kak. Kita serahkan sama Kak Sandra aja. Kita percaya sama Kakak yang lebih paham dan expert untuk urusan ini, " tutur Danisha sembari menatap Saka, yang saat itu sedang menatapnya dengan mata teduh dan senyum bahagia yang membingkai wajahnya.


Kak Sandra tersenyum, lalu pandangannya beralih ke adiknya.


" Gimana, Tuan Pangeran ? " tanyanya pada sang adik.


" Kakak udah denger sendiri dari Permaisuri ku. Kita serahin sama Kakak sebagai WO yang expert, " jelas Saka, sebelah matanya mengedip ke arah Kak Sandra lalu beralih ke sebuah wajah berlesung pipi yang telah membingkai hatinya.


" Ok, kalau begitu. Kakak prepare dulu semuanya. Nanti Kakak kabari lagi. Untuk fotografer, gimana ? Jadi Prasta yang pegang ? " tanya Kak Sandra.


" Aku belum dapat kepastian dari Prasta, Kak. Tapi dia udah bilang sanggup, sih. Dia lagi nunggu approval ijinnya dari atasannya, " jawab Saka.


"Paling tidak minggu depan harus sudah fix ya. Kalau tidak bisa, aku mau contact teman lamaku yang sekarang ada di Bandung, " ujar Kak Sandra.


" Ok, Kakakku ! Insya Allah sebelum minggu depan kepastiannya udah ada, " sahut Saka.


" Bagus ! Biar segera kelar semua. Aku ga tahan denger Ibu Suri yang udah cuap-cuap minta ini itu. Kalian tau sendiri, kan ? " omel Kak Sandra sembari sibuk dengan laptopnya.


Saka dan Danisha terkekeh mendengar omelan Kak Sandra. Jemari wanita cantik itu sibuk menari di keyboard laptopnya. Entah apa yang sedang dikerjakannya.


********


" Capek, Bee ? Tidur dulu, gih. Nanti kalau udah sampai aku bangunin, " kata Saka saat dalam perjalanan menuju studio Radio DG FM.


Danisha memiringkan kepalanya, menengok pada Saka yang sedang mengemudikan mobilnya.


" Ga, kok. Uummm... Sayang, ini ada undangan buat kita berdua. Maaf, aku lupa kasih tau, " ujar Danisha sembari menunjukkan sebuah undangan berwarna merah yang baru saja ia ambil dari dalam tasnya.


Saka menautkan kedua alis hitamnya. Tangan kirinya meraih undangan itu, sementara tangan kanannya masih tetap berada pada kemudi.


" Undangan nikah ? Siapa ? " tanyanya beruntun.


Saka pun membaca bagian depan undangan tersebut. Di sana tertera nama Rendra dan Ayana.


" Mas Rendra ? " tanya Saka kembali, nada suaranya sedikit meninggi karena terkejut. Lalu ia menatap Danisha, melihat Danisha menganggukkan kepalanya.


" Aku udah bilang sama calon istrinya untuk datang. Maaf sebelumnya, harusnya aku bilang sama kamu dulu sebelum memutuskan untuk datang atau tidak, " ucap Danisha sembari menatap Saka.


Saka tersenyum. Tangan kirinya meraih tangan Danisha dan tangan sebelahnya tetap sibuk dengan kemudinya.


" It's ok, Bee. Ga masalah, kok. Kamu mau kita datang ? " tanya Saka.


" Kamu bisa ? " tanya balik Danisha.


" Hari Minggu, kan ? Aku pasti bisa. Kamu off siaran ? " tanya balik Saka.


" Kebetulan off , " sahut Danisha.


" Ya, udah. Kita datang, " ujar Saka, tersenyum menatap sekilas pada kekasihnya.


" Tapi acaranya di Malang, Sayang, " kata Danisha, memberitahu pada Saka jika acara pernikahan Mas Rendra dan Ayana diadakan di kota kelahiran Mas Rendra.


" Ga masalah, kan ? Surabaya - Malang dekat, Sayang. Acaranya jam 10 pagi aku lihat. Kita bisa berangkat jam 8 atau jam 9 pagi, " jelas Saka.


Danisha tersenyum menatap Saka.


" Thank you, Sayang. "


" Anytime, Bee. "

__ADS_1


Saka tersenyum, ia melirik Danisha yang masih menatapnya dengan senyumannya yang selalu membuatnya rindu.


********


Distha mematut dirinya di depan cermin. Sudah ketiga kalinya ia berganti pakaian, tetapi belum juga ada yang cocok menurutnya.


" Distha ! Belum selesai juga dandannya ? Udah ditungguin tuh, di depan ! " tiba-tiba Bu Wina, sang Mama masuk ke dalam kamarnya tanpa mengetuk pintu lebih dulu.


" Ish ! Mama kebiasaan, ih ! Ketuk pintu dulu kek ! Bikin kaget aja, deh ! " protes Distha pada Mamanya yang nyelonong masuk ke kamarnya.


" Salah sendiri ga dikunci ! " elak Bu Wina.


" Udah cantik ! Ngapain lagi, sih ? " ujar Bu Wina kemudian yang sudah duduk di tepi ranjang putrinya.


" Cocok ga sih bajunya ? " tanya Distha minta pendapat sang Mama.


" Cocok ! Emang acara kemana, sih ? Kalau cuma jalan di mall trus nongkrong, udah pas itu bajunya. Udah, buruan turun. Kasihan Dokter Ardhy udah nunggu lama, lho ! " ujar Bu Wina sembari berdiri dan menghampiri putrinya yang berada di depan cermin.


Dielusnya rambut panjang putrinya.


" Beneran udah cocok ya, Ma ? " tanya Distha lagi.


" Perfect ! Bukan cuma cocok. Anak Mama cantik banget, " jawab Bu Wina dengan raut bahagia.


Distha tersenyum lalu mencium pipi wanita yang sangat disayanginya.


" Makasih, Ma, " ucap Distha. Lalu diambilnya tas di meja riasnya dan mengajak sang Mama untuk turun menemui Dokter Ardhy.


Setibanya di ruang tamu, Distha langsung berpamitan pada Mamanya untuk pergi. Namun sebelumnya, ia meminta maaf pada dokter muda itu karena sudah menunggu cukup lama. Dokter Ardhy pun paham dan tidak mempermasalahkan hal itu.


Dokter Ardhy berpamitan pada Bu Wina untuk mengajak pergi Distha. Malam ini, mereka akan pergi ke cafe bertemu dengan sahabat-sahabat Distha yang tak lain adalah Prasta, Saka dan Danisha.


Prasta melambaikan tangannya ke arah Distha saat lelaki itu melihat Distha yang berjalan memasuki cafe tempat mereka biasa nongkrong. Distha pun segera membalas lambaian tangan Prasta. Lalu berjalan beriringan bersama Dokter Ardhy menghampiri Prasta.


" Hai, Pras ! Dah lama ya ? " sapa Distha.


" Ga juga kok ! Baru 5 menit duduk nih ! " jawab Prasta.


" Hai, Dokter ! Apa kabar ? " sapa Prasta pada Dokter Ardhy.


" Hai ! Kabar baik, alhamdulillah, " jawab Dokter Ardhy, sebuah senyuman tersungging di bibirnya.


Tak lama kemudian, Saka dan Danisha pun datang menghampiri mereka.


" Wuuiihhh... Calon pengantin kita ! Mana dong, undangannya, " kelakar Prasta.


" Masih perlu undangan ? Ga usah aja, ya. Buat yang lain aja undangannya. Kalian bertiga ga perlu undangan, " tukas Saka yang baru saja duduk di sebelah Prasta diikuti Danisha yang duduk di sebelah Distha tepat di hadapan Saka.


" Bang, ditungguin Mama di rumah. Keknya Mama butuh check tekanan darah, " ujar Saka serius.


" Tante Dinda stress tuh mikiran kamu yang mau nikah ! " sahut Dokter Ardhy mencibir Saka.


" Ga tau tuh ! Heboh banget ! Udah dibilang, santai aja udah ada Kak Sandra yang ngatur. Masih aja rempong ! " keluh Saka.


Prasta terkekeh sambil berkata, " Aku kok ga heran ya, kalau Tante Dinda begitu. Mama kamu tuh emang begitu, suka heboh sendiri. Inget waktu kita liburan di villa kamu ? Heboh banget, kan ? "


" Intinya, Mama cuma ingin yang terbaik buat kita. Itu aja, " timpal Danisha dengan suara lembutnya.


Semuanya mengangguk tanda setuju dengan perkataan Danisha.


" Bro, gimana permintaanku kemarin ? Bisa, kan ? " tanya Saka pada Prasta.


" Gimana, ya ? Aku ga bisa janji. Gini aja, Kak Sandra siapin sendiri aja fotografernya. Aku ga yakin bisa full standby buat motret. Mungkin bisa full standby pas hari H aja, " tutur Prasta.


" Aku fotografer figuran aja, " lanjutnya sambil terkekeh.


" Mentang-mentang udah jadi fotografer di media besar, kamu sekarang dah bisa nolak job, ya ! Gaya ! " cibir Distha.


" Eh ! Ini bukan job lho ! Ini aku jadi relawan, sukarela dan free of charges ! Catat, ya ! " tukas Prasta setelah menyesap espresso nya yang baru saja tersaji di meja.


Mereka berempat memutar bola matanya sambil mendengus kesal mendengar perkataan sombong dari sahabat mereka.


Tbc





***Hellooww LOTA Lovers 💞💞


Saka tuh ga akan pernah bisa nyakitin Danisha, everything I do I do it for Danisha pokoknya, ga da yg lain 😍


Smga Lota Lovers tetap setia di sini ya...🤗


Banyak terima kasih, cinta n sayang dari LOTA buat LOTA Lovers 🤗😘💞

__ADS_1


Jan lupa 3M


Stay safe n healthy for you all 🤗😘💞💞***


__ADS_2