
Sudah lewat tengah malam saat Saka menemui Dokter Aldi yang baru saja memantau kembali kondisi Danisha. Setelah Ayah mertuanya memberikan wejangan dan semangat, ia berusaha tetap tenang menghadapi kondisi Danisha saat ini.
" Dok, izinkan saya melihat dan menemani istri saya di dalam. Saya mohon, " pinta Saka memohon, menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
Dokter Aldi menatap Saka lekat. Memang sesungguhnya tidak menjadi masalah jika Saka menemani Danisha. Toh lelaki muda itu adalah suaminya. Ia memang akan memperbolehkan Saka untuk menemani Danisha dengan harapan Saka bisa mengajak ngobrol Danisha, walaupun hanya satu arah. Bisa jadi ini dapat menstimulasi kinerja otak Danisha yang bisa membuatnya segera tersadar dari tidur panjangnya setelah tindakan operasi.
" Tentu boleh, Saka. Temani istrimu, ajaklah dia ngobrol. Koma bukan berarti tidak bisa mendengar dan tidak bisa merasakan kehadiran orang lain di sekitarnya. Semoga dengan kehadiran kamu dan suara kamu berbicara bisa merangsang otaknya untuk segera bangun dari tidur panjangnya. Silahkan. Kami juga memperbolehkan kedua orang tua Danisha untuk melihat ke dalam, hanya saja secara bergantian dengan mematuhi prosedur yang ada. Baiklah, saya permisi dulu, " terang Dokter Aldi dengan senyum tipisnya sebelum berlalu dari tempat itu.
" Alhamdulillah, terima kasih Dokter. Sekali lagi terima kasih atas pengertiannya, " ucap Saka semringah.
Ayah dan Bunda pun mengucapkan terima kasih pada Dokter Aldi. Bunda mengusap lembut lengan menantunya.
" Masuklah dulu, Nak. Temani Danisha malam ini. Biar Ayah dan Bunda menunggu di sini, " ujar Bunda dengan senyum lembutnya, lesung pipi tercetak di salah satu sisi pipinya.
" Kalau Bunda ingin melihat Danish dulu, silahkan, Bun. Saka akan menunggu, " ujar Saka mengalah. Ia tahu Ibu Mertuanya pasti sangat ingin melihat putrinya yang sedang terbaring lemah tak berdaya usai operasi tersebut.
Bunda tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
" Kamu suaminya. Masuklah ! Bunda dan Ayah bisa nanti melihat Danisha, " tutur Bunda masih dengan senyuman di wajah letihnya.
Ayah pun mengangguk menyetujui yang dikatakan Bunda.
" Makasih, Bunda, Ayah. Saka masuk dulu, ya. "
Bunda dan Ayah mengangguk. Saka pun masuk ke kamar ICU yang ditempati Danisha. Sebelum benar-benar masuk ke kamar tempat Danisha terbaring di ranjang, di dalam sebuah ruangan khusus di tempat itu, ia dibantu seorang perawat memakai pakaian khusus yang steril, tak lupa penutup kepala, masker dan sarung tangan, sesuai prosedur ruangan ICU rumah sakit.
Saka berdiri tepat di pintu masuk kamar Danisha ditempatkan, setelah memakai pakaian khusus dan atribut lengkap sesuai prosedur. Matanya sendu dan sayu menatap tubuh lemah istrinya yang terbaring dengan berbagai peralatan medis di kepala dan tubuhnya. Hatinya mencelos, perih.
Sebelum mendekati Danisha, Saka menghela panjang napasnya dalam-dalam. Perawat wanita tadi memberitahunya agar tidak terlihat sedih karena sedikit banyak dapat mempengaruhi kondisi pasien.
Pelan Saka berjalan mendekati ranjang tempat Danisha terbaring dengan segala peralatan medis di tubuhnya. Tenggorokannya tiba-tiba terasa kering hingga ia sedikit sulit menelan ludahnya. Namun begitu, seulas senyuman terukir di wajahnya yang terlihat lelah.
" Assalamualaikum, Bee, " sapanya lirih di samping ranjang. Bibirnya mendarat di salah satu pipi Danisha dan dikecupnya lembut penuh cinta.
Sesaat menatap wajah ayu dengan mata terpejam itu, lalu diambilnya sebuah kursi yang terletak tak jauh dari ranjang Danisha. Kemudian ia duduk sembari memegang tangan Danisha.
" Sayang.... " ucapnya lirih. Tenggorokannya tercekat.
" Ini aku. Aku di sini, Sayang. Aku menunggumu. Semua menunggumu. Bangunlah, Bee. Aku akan ke kampus segera. Aku akan minta sidang skripsi dalam minggu ini. Sesuai permintaanmu. Buka mata kamu, ya, Sayang. Aku mau melihat senyummu saat pulang dari sidang skripsi dengan berita bahagia, as you wish. Aku rindu, Bee. Aku kangen. "
Susah payah Saka berkata-kata. Dadanya benar-benar terasa sesak. Wanita di hadapannya yang terbaring lemah itu adalah napasnya, sumber oksigennya. Dirinya tak berdaya melihat wanita belahan jiwanya tergolek lemah. Ia berusaha sekuat hati untuk bertahan, tidak akan lemah dan tak akan menyerah. Ia adalah imam dan benteng bagi istri dan anak-anaknya, karenanya ia harus kuat untuk mereka.
Kedua tangannya mengusap pelan jemari Danisha, dengan perlahan dikecupnya jemari lemah itu lama sembari memejamkan kedua matanya. Ia tak ingin dan tak akan lemah atau pun putus asa, tetapi saat ini ia sangat lelah. Matanya terasa berat untuk terjaga. Ia pun terlelap tanpa disadarinya, dengan tangan menggenggam jemari kekasih hatinya.
********
Saka tersentak ketika merasakan jemarinya diremas. Masih dengan mata mengerjap mengumpulkan kesadaran sembari menatap tangannya. Tangan yang berada di bawahnya bergerak, jemari lentik itu meremas tangannya, walaupun tidak begitu kuat tetapi Saka dapat dengan jelas merasakannya.
" Bee ! Masya Allah, Sayang ! " pekik Saka terkejut. Buru-buru ia menekan tombol emergency button di samping ranjang.
Tak lama, beberapa perawat dan tim medis yang menangani Danisha datang. Termasuk Dokter Aldi.
" Dokter ! Ta-tadi tangan Danisha meremas tangan saya, Dok ! " lapor Saka dengan gugup.
" Baiklah ! Tolong, beri kami ruang untuk memeriksanya, ya, " ucap Dokter Aldi tersenyum tipis.
Saka segera menjauh dari ranjang Danisha. Dokter Aldi dan timnya pun memeriksa Danisha. Saka masih dapat melihat Danisha yang diperiksa oleh Dokter Aldi. Ia juga dapat melihat jemari Danisha bergerak pelan dalam beberapa detik. Ia merasa ada secercah harapan untuk istrinya segera tersadar dari komanya.
Ya, Allah. Berikan mukjizat Mu. Sadarkanlah istri hamba dari komanya. Angkatlah penyakitnya, ya, Allah ! Hamba sangat mencintainya. Berikan kebahagiaan untuk kami, ya, Allah !
Dokter Aldi berbalik badan dan menghampiri Saka yang berdiri di ujung pintu kamar dengan mata tertuju pada Danisha yang masih diperiksa oleh tim medis yang menanganinya.
__ADS_1
" Bagus, Saka. Ada perkembangan bagus. Danisha merespon. Walaupun hanya pergerakan tangan. Harus coba lagi untuk memberikan stimulasi padanya lewat suara dan sentuhan yang lebih intens, " terang Dokter Aldi dengan wajah semringah dan terukir seulas senyuman di bibirnya.
" Alhamdulillah, " ucap Saka penuh syukur.
" Jangan putus asa, ya ! Kita terus berusaha. Sering-seringlah mengajaknya ngobrol. Bercerita apa pun yang menjadi kesukaannya atau kenangan yang kalian miliki. Atau ungkapkan apa yang menjadi keinginan kalian di masa depan, yang sudah kalian siapkan sebelumnya. Intinya, bangkitkan motivasi dan harapan kalian berdua terutama harapan-harapan istrimu, " lanjut Dokter Aldi.
" Oh ya, satu lagi dan ini penting. Jangan perlihatkan kesedihan kamu dan keluargamu. Kalian semua harus kuat untuk memberi semangat pada Danisha, " imbuh Dokter Aldi.
Saka menghela napas dalam.
" Baik, Dokter ! Makasih, " ucap Saka kemudian.
Dokter Aldi dan tim medisnya pun beranjak meninggalkan kamar Danisha.
Saka melihat jam di tangannya. Hampir pukul 03.00 dinihari. Ia meraup wajahnya pelan dan memijat pangkal hidungnya. Ia sudah berdiri di samping ranjang Danisha. Ditatapnya lekat tangan dan jemari istrinya. Diam. Tak bergerak lagi.
Untuk beberapa saat Saka menatap wajah Danisha yang masih terpejam kedua matanya.
" Sayang, kamu pasti mendengarku, kan ? Karena itu kamu merespon genggaman tanganku. Maaf, aku ga bisa memelukmu saat ini. Meskipun aku sangat ingin memelukmu. Teruslah memberi respon, Bee... hingga terbuka kedua mata indahmu dan terukir senyum cantikmu. " Saka menjeda kalimatnya. Menggenggam lembut jemari lentik istrinya.
" Aku ke musholla dulu. Kupanggilkan Bunda buat nemenin kamu sementara aku sholat tahajud. Aku akan kembali segera. " Saka berbicara sembari menatap wajah pucat istrinya.
Lalu ia menunduk dan mencium sekilas pipi Danisha.
" I love you, really love you. Forever.... " bisik Saka lirih di telinga Danisha.
Sebelum Saka keluar dari ruangan ICU, ia berbicara pada seorang perawat jaga di ruangan itu untuk minta izin agar Ibu mertuanya diperbolehkan untuk masuk melihat putrinya. Perawat itu pun mengangguk dan tersenyum tanda setuju.
Bunda yang melihat Saka keluar dari ruangan ICU bergegas menghampirinya.
" Gimana, Ka ? Tadi Danish kenapa ? Dokter Aldi dan tim medisnya kenapa masuk dan memeriksa Danish ? Dokter Aldi tadi cuma bilang Danish baik-baik aja, " cecar Bunda pada Saka.
" Bunda, tenang, Bun. Iya, Danish ga kenapa-kenapa. Tadi Danish memberi respon. Tangannya bergerak, Bun. Kata Dokter Aldi itu pertanda baik. Kita harus terus memberi stimulasi pada Danish, Bun. Dokter Aldi bilang, kita harus sering-sering mengajaknya berbicara, " jawab Saka memberikan penjelasan pada Ibu mertuanya yang terlihat cemas.
" Begitu, ya. Alhamdulillah jika begitu keadaannya, " ucap Bunda terdengar senang.
" Iya, Bunda. Saka ke musholla dulu, ya. Ayah di musholla ? " tanya Saka.
" Iya. Bunda boleh masuk ? "
" Tentu, Bun. Saka udah bilang sama perawatnya. Temani Danisha dulu, Saka mau tahajud dulu. Bunda, jangan sedih dan menangis di dalam, ya ? Bunda harus kuat, ga boleh terlihat sedih, " ujar Saka mengingat Bunda untuk tidak terlihat sedih apalagi menangis.
Bunda mengangguk. Saka pun segera beranjak ke musholla. Sementara Bunda bergegas masuk ke ruangan ICU menemui perawat yang berjaga sebelum masuk menemui putrinya.
" Assalamualaikum, putri cantik Bunda, " salam Bunda pada Danisha yang terbaring di ranjang kamar ICU setelah diizinkan dan dibantu perawat mengenakan pakaian khusus yang steril.
Dikecupnya dengan lembut pipi sang putri.
" Bunda di sini, Sayang. Ayah juga ada, tapi masih tahajud di musholla. Suami kamu juga. Yang kuat ya, Sayang. Kami semua menunggumu. Bukalah mata kamu segera. Katanya kamu kangen dengan masakan Bunda. Kangen ingin tidur sama Bunda dan Kirana. Bangun, ya, Nak. "
Wanita paruh baya itu mengusap lembut jemari putrinya. Juga mengusap lengan putri sulungnya itu dengan penuh sayang dan sesekali menatap wajah pucatnya yang terlihat tenang dalam tidur panjangnya.
Tak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Allah selalu bersama hambaNya yang selalu bersabar dan bertawakal padaNya. Sakitmu adalah sebagai penebus dosamu. Insya Allah. Aamiin ya rabbal alamiin....
Doa Bunda di dalam hati.
********
Dokter Ardhy datang ke ruang ICU selepas subuh saat tugasnya sebagai dokter jaga malam sudah sedikit senggang.
Saat ini, ia duduk di kursi ruang tunggu di depan ruangan ICU bersama Saka. Kebetulan Bunda sedang ke toilet. Sementara Ayah sedang di dalam kamar menemani Danisha.
__ADS_1
" Sorry, Ka. Semalam aku tidak bisa menemani kamu. Ada banyak pasien di IGD yang harus ditangani. Kata Dokter Aldi, semalam Danish ada respon. Benar, begitu ? " Dokter Ardhy meminta maaf pada Saka karena tidak bisa ikut menemani Saka semalam. Kakak sepupu Saka itu juga menanyakan perkembangan kondisi Danisha.
" No problem, Bang. Abang kan lagi tugas, " sahut Saka tersenyum tipis.
" Semalam aku tertidur waktu jaga Danish di dalam. Tiba-tiba aku merasakan tanganku diremas. Lalu aku terbangun dan kulihat jari tangan Danish meremas telapak tanganku, " cerita Saka bersemangat.
" Itu bagus. Berarti dia merespon sentuhan tanganmu. Terus aja ajak ngobrol dengan sesekali memberikan sentuhan supaya bisa menstimulasi otaknya selain pemberian obat, " jelas Dokter Ardhy.
Saka mengangguk, " Ya, Bang ! "
" Uummm... Ka ! Danisha pernah ngomong sama abang. Dia ingin kamu segera maju sidang skripsi, " ujar Dokter Ardhy kemudian. Ia berhenti berkata-kata sesaat.
Saka menatap kakak sepupunya dengan memicingkan kedua matanya.
" Dia mau kamu maju sidang tanpa menunggu dia sembuh. Dia minta padaku untuk menyampaikannya padamu karena kamu tidak menuruti keinginannya itu waktu dia mengutarakannya padamu, " lanjut Dokter Ardhy, helaan napas panjang lolos dari mulutnya.
" Entahlah, Bang. Aku ga mau ninggalin dia saat ini, dalam keadaan koma seperti ini, " lirih Saka terdengar bingung.
" Dia sangat ingin kamu segera lulus dan diwisuda. Walau bagaimanapun keadaannya. Dia bilang, dia akan sangat bahagia bila kamu lulus dan ikut wisuda tahun ini. Dia ga ingin jadi penghalang buat kesuksesan dan terutama kebahagiaanmu. " Sedikit tercekat tenggorokan Dokter Ardhy ketika mengucapkan kalimat terakhir.
" Maksud Abang ? "
" Ini keinginan Danisha, Ka. Bukan Abang. Abang hanya menyampaikan apa yang dikatakan Danisha, " sahut Dokter Ardhy pelan.
" Dokter Ardhy benar, Ka ! "
Saka dan Dokter Ardhy sontak menoleh ke arah sumber suara, Bunda.
" Danisha juga bilang seperti itu pada Bunda dan Ayah. Danish tidak mau kamu berhenti hanya untuk menunggu dia sembuh. Ada yang lebih pasti dan nyata di depan mata, Saka. Keberhasilan yang kamu nantikan setelah perjuangan dan kerja keras kamu selama kurang lebih 4 tahun, tinggal selangkah lagi. Pergilah, raih apa yang sudah kamu perjuangkan. Danish akan bahagia bila mendengar kamu sudah berhasil mendapatkan apa yang menjadi hakmu setelah kerja kerasmu. Jangan kamu sia-siakan semua itu, Nak, " tutur Bunda yang sudah duduk di samping kanan Saka. Diusapnya lembut punggung menantunya.
Saka terdiam. Lalu ia berdiri menatap jendela kaca di hadapannya. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku jaket bombernya. Di dalam sana, wanita halalnya. Kekasih hatinya. Belahan jiwanya. Cinta, hidup dan matinya, sedang dalam kondisi koma setelah operasi pengangkatan tumor di otaknya.
" Saka akan ke kampus besok, Bunda. Tidak hari ini. Saka mau menemani Danish hari ini. Saka mau ada di sisi Danish saat dia membuka mata, Bun. Saka ga mau terlewat saat Danish sadar dari komanya. " Saka berkata dengan pandangan mata yang lekat menatap ke dalam kamar ICU tempat Danisha terbaring dengan peralatan medis di tubuhnya.
Dokter Ardhy memberi isyarat pada Bunda ketika Bunda hendak membalas perkataan menantunya.
" Kamu ga percaya pada kami di sini ? Kami akan menjaga Danish dan tak akan meninggalkannya sedetik pun, Ka, " protes Dokter Ardhy yang beranjak dari duduknya dan mendekati Saka.
" Bukan ! Bukan begitu, Bang ! Aku hanya ingin selalu berada di sisi istriku. Hingga dia membuka kedua matanya dan aku ingin dia melihatku saat dia tersadar kembali dari tidur panjangnya, " sanggah Saka.
" Baiklah ! Hari ini kamu ga akan pergi dari sini. Tapi besok, Abang minta kamu ikuti permintaan istrimu. Pergi ke kampus dan pastikan tanggal sidang skripsimu segera mungkin. Jika tidak, aku akan meminta Dokter Aldi untuk mencabut izinmu menemani Danisha di dalam. Tak ada debat lagi, Ka ! " sahut Dokter Ardhy tegas.
Saka menatap kakak sepupunya tajam.
" Kok jadi seperti ancaman ? " tanya Saka menautkan kedua alis hitamnya.
" Karena kamu keras kepala ! Jadi harus pakai ancaman ! " sahut Dokter Ardhy cepat.
Saka terdiam di tempatnya. Helaan panjang napasnya terdengar jelas di telinga Dokter Ardhy.
Tbc
**Hellooww LOTA Lovers 💞💞
Sabar yaaa... Kesabaran Saka masih diuji🤧
Segini dulu, next eps segera aq lempar. Wait ya... 🤗
Jgn lupa LIKE N KOMEN, yg blm Rated, buruan rated 🌟 5 ya Cintaa 🤗😘
Thank you all
__ADS_1
Stay safe n healthy 🤗😘💞💞**