Love On The Air

Love On The Air
Eps 68 Sah Satu Kamar


__ADS_3

Saka tak berkedip menatap Danisha yang berjalan menghampirinya. Tatapannya terkunci dengan tatapan mata indah Danisha, yang beberapa menit lalu sah menjadi istrinya. Ia terpesona, tak ingin beralih pandangan ke arah lain. Hanya ingin memandang istrinya yang luar biasa sempurna.


Cantik luar biasa, batin Saka.


Prasta yang saat itu bertugas sebagai juru foto, telah mengabadikan momen-momen penting selama acara berlangsung. Saat melihat sahabatnya terpaku dan terpesona menatap Danisha, Prasta pun berjalan mendekati sahabatnya itu.


" Eheemm... Bro, acara belum selesai, " bisik Prasta di telinga sahabatnya.


Seketika itu juga, Saka tersadar dari keterpakuannya. Melirik ke arah Prasta sembari tersenyum dan balas berbisik.


" Bro, Danisha luar biasa cantik, kan ? "


" Iya lah, Bro ! " sahut Prasta membenarkan pujian Saka pada Danisha.


Danisha telah sampai di hadapan Saka. Keduanya masih saling menatap dengan senyum sumringah karena bahagia.


Prasta kembali mengabadikan momen pertemuan Saka dan Danisha dengan beberapa jepretan kameranya.


Kak Ella sebagai pembawa acara kemudian memberitahukan bahwa acara selanjutnya adalah penyerahan mahar yang diikuti penyematan cincin pernikahan.


Kak Sandra menyerahkan mahar berupa seperangkat alat sholat, Al Qur'an dan satu set perhiasan yang dikemas cantik sedemikian rupa kepada Saka. Kemudian Saka memberikan mahar pernikahan itu kepada Danisha, istri cantiknya, dengan senyuman yang membingkai wajah rupawannya.


Benar kata Kirana, Saka terlihat sangat tampan. Mengenakan outfit setelan jas abu-abu dan kemeja putih sebagai dalamannya dengan dasi berwarna senada dengan jas yang dipakai. Apalagi dengan senyuman yang selalu mengembang di wajahnya. Membuat semua wanita terpesona menatapnya, termasuk Danisha.


" Terima kasih, " ucap Danisha lirih, lalu mencium punggung tangan Saka, suaminya.


Setelahnya, Saka memasangkan cincin pernikahan di jari manis Danisha. Begitupun sebaliknya, Danisha memasangkan cincin pernikahan mereka di jari manis Saka. Begitu cincin terpasang di jari manis Saka, lelaki itu langsung menggenggam kedua tangan istrinya dan mengecup lembut kening wanita yang telah sah sebagai istrinya itu cukup lama. Ada perasaan lega menyelimuti dirinya selain bahagia. Kecupan itu dibalas Danisha dengan mencium punggung tangan Saka lembut dan penuh cinta.


Prasta memotret momen tersebut dengan perasaan yang bahagia pula. Kedua sahabatnya telah resmi menjadi sepasang suami istri.


Para undangan dan semua orang yang hadir di tempat itu pun bertepuk tangan menyaksikan momen indah yang terkesan romantis tersebut.


" Selamat untuk kedua mempelai, Saka dan Danisha yang telah resmi sebagai suami istri. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah, " ucap Kak Ella sebagai pembawa acara.


Setelah itu, Saka dan Danisha melakukan sungkem kepada kedua orang tua mereka, juga kepada Kak Sandra dan suaminya sebagai saudara tertua Saka.


Danisha terisak saat Ayah dan Bunda memberinya wejangan. Demikian pula saat kedua mertuanya memberikan wejangan padanya. Ia tak bisa membendung air matanya.


" Baiklah ! Bapak, Ibu dan para undangan yang kami hormati. Selanjutnya, silahkan menikmati hidangan yang telah disajikan oleh kedua mempelai. Silahkan menikmati dengan santai dan bebas, " kata Kak Ella setelah acara sungkem selesai, diikuti seulas senyuman dari bibirnya.


Acara pun berganti santai. Para undangan bebas memilih dan menikmati hidangan yang disediakan di meja prasmanan.


Sementara Saka dan Danisha diminta untuk menempati kursi pelaminan sederhana yang disiapkan oleh kru WO Kak Sandra yang ditempatkan di pojok teras depan rumah Danisha.


Saka menggandeng mesra Danisha, sesekali lelaki itu memeluk pinggang Danisha dengan posesif. Mereka masih berdiri di pelaminan untuk menerima ucapan selamat dari para tamu undangan. Namun, sesekali mereka juga duduk di kursi pelaminan bila tidak ada tamu yang menghampiri mereka untuk bersalaman atau meminta foto bersama.


Saka menatap lekat Danisha yang duduk di sampingnya. Danisha yang merasa sedang diperhatikan pun balas menatap Saka dengan menautkan kedua alis indahnya.


" Apa sih, Sayang ? Kok ngeliatin begitu ? " tanya Danisha.


" Ga... Ga apa-apa ! " sahut Saka menghela napasnya panjang, seulas senyum mengembang dari bibirnya.


" Kamu udah jadi milikku. Kita sudah sah sebagai suami istri. Seperti mimpi, I love you, " ucap Saka kemudian sembari menatap lekat kedua manik hitam istrinya.


Danisha balas tersenyum menatap suaminya yang berwajah sendu walau senyum rupawannya tak lepas dari wajah tampannya.


" Aku juga berasa mimpi, Sayang. Terima kasih. " Danisha mengeratkan genggaman jemari mereka. Saka pun mencium jemari istrinya penuh kemesraan.


" Wooiiii...! Entar aja kenapa mesra-mesraannya ! Di sini bukan cuma kalian berdua. Tuh ! masih banyak tamu, " celetuk Prasta sembari tertawa kecil dan tangannya menunjuk ke arah tamu undangan.


Saka merotasikan bola matanya dan Danisha tersenyum malu mendengar ucapan Prasta.


" Bro, tugas kamu belum selesai, lho ! Udah sana, makan dulu trus lanjutkan tugasmu. Dilarang mengganggu pengantin ! " cetus Saka.


" Whooaahh... Kalian ngumpul di sini ga ngajak-ngajak, sih ! " celetuk Distha yang datang bersama Dokter Ardhy.


" Duh ! Tambah satu eh dua pengganggu, deh ! " sungut Saka.


" Ish ! Kok gitu sih, Ka ! Anyway, congratulation buat kalian berdua, semoga samawa dan cepat ngasih keponakan buat kita, ya ! " ucap Distha sumringah.


" Makasih, Sist. Semoga kalian berdua cepat menyusul. Ya kan, Dok ? " Danisha tersenyum membalas ucapan Distha dan melihat Dokter Ardhy yang menatapnya penuh tanya.


" Eh ! Dia sekarang abang sepupu kamu, Bee. Panggil dia Abang ! " timpal Saka dengan jari menunjuk pada Dokter Ardhy yang tersenyum simpul mendengar ucapan Saka.


Dokter Ardhy menatap Danisha, senyumnya samar. Teringat kembali yang dibacanya dari medical file milik Danisha di rumah sakit serta apa yang dikatakan oleh Dokter Aldi.


" Selamat buat kalian berdua. Doakan kami segera menyusul, " ucap Dokter Ardhy masih dengan senyum samarnya.


Dokter Ardhy beranjak dari pelaminan, sementara Distha masih ingin menggoda Danisha dan Saka. Sesekali Prasta memainkan kameranya, mengabadikan momen kebersamaan mereka secara candid.

__ADS_1


Dari tempat duduknya, Dokter Ardhy menyaksikan keempat orang sahabat itu tertawa lepas dan terlihat kebahagiaan di wajah mereka. Sembari menyesap minumannya, Dokter Ardhy mengamati Danisha. Istri dari adik sepupunya itu terlihat bahagia. Namun, Dokter Ardhy bisa menangkap samar kerisauan di wajah wanita yang sangat dicintai oleh adik sepupunya itu.


Helaan napas panjang lolos dari mulut dokter muda itu. Ia ingin memberitahu Saka mengenai kondisi Danisha. Namun itu bukan haknya. Ia juga sudah berjanji pada Dokter Aldi yang bertanggung jawab pada Danisha sebagai pasiennya, untuk tidak mengatakan kepada siapa pun mengenai kondisi kesehatan istri adik sepupunya itu.


*******


Para tamu undangan sudah banyak yang meninggalkan acara di rumah Danisha. Memang tidak banyak tamu yang diundang di acara akad nikah, hanya beberapa orang tetangga, teman dekat dan tentu saja keluarga besar Danisha dan Saka. Lain halnya dengan acara resepsi yang akan dilaksanakan malam nanti di rumah Saka. Akan banyak tamu undangan terutama dari relasi Pak Rahmat, teman-teman Bu Dinda juga teman-teman kuliah serta teman kerja Danisha dan Saka.


Danisha duduk sembari memijat pangkal hidungnya. Kepalanya terasa sedikit nyeri dan pusing. Sementara Saka sedang berbincang dengan Papa dan sanak saudaranya yang datang dari Jakarta.


" Istirahat saja, Danish. " Tiba-tiba Dokter Ardhy ada di hadapan Danisha.


" Ini, makan dulu. " Distha pun tiba-tiba datang, menyodorkan sepiring makanan berisi sedikit nasi, daging sapi lada hitam dan sup asparagus di sebuah mangkuk kecil pada Danisha.


" Makanlah. Kamu terlihat pucat. Jangan sampai sakit, acara kalian masih berlanjut sampai nanti malam, " terang Dokter Ardhy.


" Iya, Bang. Makasih udah diambilin makanannya, Sist, " ucap Danisha tersenyum tipis pada sahabat dan kakak sepupu suaminya.


Danisha mulai menyuap makanan sesendok demi sesendok ke dalam mulutnya. Distha yang duduk di sampingnya tersenyum. Sementara Dokter Ardhy mengamati Danisha dengan sedikit cemas.


" Kalau udah, mending langsung masuk dan istirahat aja, Sist, " saran Distha pada Danisha.


" Iya, Danish. Tamunya juga udah pada pulang, kan ? " timpal Dokter Ardhy.


" Hai ! Makan apa, Bee ? " Saka muncul tiba-tiba yang langsung merangkul bahu Danisha dan mengecup pelipis istrinya.


Danisha tersenyum malu.


" Mau ? Enak, lho ! " tawar Danisha.


" Kamu suapi, ya ? " pinta Saka.


Danisha pun mengambil sesendok nasi dan lauk lalu disuapnya ke mulut Saka.


Saka mengecap makanan yang baru saja disuapkan Danisha.


" Hu um, enak, nih ! " sahut Saka, mulutnya masih mengunyah sisa-sisa makanan yang disuap istrinya.


" Ka, bawa Danisha masuk buat istirahat. Nanti sore kalian harus bersiap lagi untuk resepsi, " saran Dokter Ardhy sembari memegang bahu adik sepupunya.


Saka tersenyum lebar menampilkan gigi putihnya yang berderet rapi.


" Iya lah, Bang. Aku juga mau istirahat berdua sama istriku, bebas gangguan, " ujar Saka mengedipkan sebelah matanya.


" Aduh ! Abang, nih ! " sungut Saka, tangannya memegang kening dengan wajah yang cemberut.


" Ayo, Sayang. Kita pulang aja. Lama-lama aku ikut ngeres kalau deket dia, nih ! " gerutu Dokter Ardhy mengajak Distha pulang.


Distha terkekeh melihat kekasih dan sahabatnya beradu mulut.


" Ya, udah. Aku pulang dulu, ya, biar kalian bisa beristirahat, " ucap Distha berpamitan.


" Makasih banyak, ya... Hati-hati di jalan. " Danisha pun berdiri dan memeluk Distha.


Setelah Distha dan Dokter Ardhy pergi dan Danisha sudah selesai makan, Saka mengajak Danisha untuk masuk dan beristirahat.


" Kamu belum makan, kan ? " tanya Danisha.


" Makan dulu, ya. Aku ambilkan. "


Saka yang sudah menggandeng mesra istrinya pun tersenyum menggoda.


" Makan di kamar aja, " sahut Saka menatap lekat Danisha, istrinya. Debaran di hatinya tak bisa berhenti bila berdekatan dengan kekasih halalnya.


Ah, rasanya ia tak percaya ! Gadis berlesung pipi yang dicintainya sejak masih sekolah di SMA, kini telah sah menjadi istrinya.


" Aku ambilkan dulu, Sayang, " ujar Danisha hendak beranjak mengambilkan makanan.


" Eiitts ! Ga usah, Bee. Nanti aja. Ayo ke kamar ! " ujar Saka setengah berbisik. Tatapan matanya sendu dan sayu.


Danisha tersenyum tipis, lalu mengangguk.


Keduanya pun beranjak menuju kamar Danisha.


Di ruang tamu, Bu Dinda dan Bunda serta beberapa saudara sedang berbincang.


" Ini dia pengantinnya ! " seru Bu Dinda senang.


" Mama pulang dulu, mau istirahat. Nanti sore kita ketemu lagi, " kata Bu Dinda kemudian.

__ADS_1


" Iya, Ma, " jawab Danisha mencium punggung tangan Mama mertuanya.


" Kopor Danisha udah dibawa ya, Ma ? " tanya Saka.


" Udah, kok ! Udah beres, " jawab Bu Dinda.


Lalu Bu Dinda dan sanak saudara Saka pun berpamitan pulang.


Setelah mengantar kepulangan keluarga Saka, mereka pun segera masuk ke dalam kamar Danisha yang sudah dihias sangat indah dan harum. Kamar pengantin mereka.


Saka tersenyum melihat ranjang tidur yang telah disulap cantik dengan tirai berwarna putih di samping kanan dan kirinya. Tak lupa hiasan bunga-bunga mawar bergantung di atas ranjang yang berbalut sprei putih. Mulai hari ini dan seterusnya, mereka berdua akan berada dalam satu kamar dan berbagi ranjang tidur tentunya.


Dilepasnya jas yang sedari tadi membuatnya gerah dan ia letakkan di kursi yang ada di kamar itu. Kemudian ia duduk di tepi ranjang sembari membuka kancing lengan kemejanya, lalu menggulungnya hingga batas lengan. Sejurus kemudian pandangannya tertuju pada meja rias yang terletak di samping kanan ranjang, tepat di hadapannya.


Danisha sibuk melepaskan satu per satu hiasan yang ada di kepalanya. Saat akan melepas hijabnya, ia mengurungkan niatnya. Tiba-tiba Saka sudah berada di belakangnya. Menatap mesra melalui cermin di hadapan mereka.


Danisha pun seketika menatap Saka melalui cermin. Pandangan mereka sama-sama terkunci. Perlahan tangan Saka menyentuh hijab yang masih melekat di kepala istrinya. Dengan perlahan pula ia membantu melepasnya.


Danisha terdiam. Tubuhnya kaku tak bergerak. Hanya matanya menatap Saka yang melepas hijabnya perlahan melalui cermin riasnya. Jantungnya berdetak semakin kencang.


Saat hijabnya sudah hampir terlepas semua, Danisha memegang tangan Saka lembut supaya berhenti melepas hijabnya. Masih menatap intens lelaki tegap melalui cermin riasnya. Kemudian kedua tangan Danisha segera melepas semua hijabnya. Tampak rambut hitam Danisha yang dicepol ke atas, memperlihatkan leher putih jenjang miliknya.


Saka terpaku, tubuhnya menegang dan berusaha menelan salivanya. Terlebih saat Danisha perlahan bangkit dari duduknya. Dengan spontan, tubuh lelaki itu mendekat dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Danisha, kekasih halalnya.


" I love you, Bee, " ucapnya lirih, diciumnya bahu Danisha yang masih berbalut kebaya dengan lembut. Disandarkannya dagunya di bahu istrinya dengan mata terpejam.


Danisha tersenyum bahagia. Ia mengusap lembut kedua tangan suaminya yang menempel di perutnya. Sesungguhnya ia sangat ingin segera merebahkan tubuhnya. Kepalanya masih terasa nyeri, ia belum meminum obatnya.


" Sayang.... " panggilnya pada Saka.


" Heeemmm.... " sahut Saka lirih masih dengan mata terpejam.


" Lepasin dulu tangannya. Aku mau ganti baju dulu, " ujar Danisha lembut.


Saka membuka matanya dan tersenyum pada wajah ayu yang dilihatnya di cermin rias. Lalu menghela napasnya sangat dalam sebelum kemudian melepas pelukannya.


" Aku kangen, Bee. Dua hari ga ketemu kamu rasanya seperti sudah bertahun-tahun ga ketemu, " ucap Saka kemudian.


" Jangan ngegombal ! " sahut Danisha sedikit terkekeh.


" Hari ini kamu luar biasa, Bee. Aku pangling, aku makin jatuh cinta sama kamu, " kembali Saka melontarkan pujian pada istrinya.


" Kamu juga luar biasa tampan, I love you ! " Danisha mengedipkan kedua matanya.


" Kamu mulai menggodaku, Bee ? Heeemmm ? " Tiba-tiba Saka mengecup pipi Danisha sekilas.


Danisha melotot, lalu berbalik badan menghadap Saka, membuat dada Saka semakin bergemuruh.


" Mau aku lepasin bajunya ? " goda Saka, tatapan matanya mulai sayu.


" Stop, Mas ! " seru Danisha cepat dengan tangan memegang dada bidang Saka menahannya supaya tidak mendekat.


Saka mengerutkan dahinya. Ia tidak salah dengar, kan ?


" Kamu bilang apa tadi, Bee ? " tanya Saka memastikan.


" Hah ? Bilang apa emang ? " tanya balik Danisha, bingung.


Saka kembali mendekat, Danisha bergerak mundur dan langkahnya terhenti karena tubuhnya menatap meja riasnya.


Tok...! Tok...! Tok...!


Tbc





**Hellooww LOTA Lovers πŸ’žπŸ’ž


Nulis ini koq deg2an gitu... saking bahagianya mereka udah Sah ☺️❀️


Semoga suka yaa...πŸ€—


Yg penasaran dengan resepsi mereka, tetap setia di sini yaa... 😘


Oh ya, LOTA Lovers, buruan update MT/NT dengan versi terbaru ya, buat kasih hadiah n vote LOTA DanSa (Danisha Saka) πŸ€—πŸ™

__ADS_1


Banyak terima kasih, cinta n sayang buat kalian yg setia di sini πŸ˜˜πŸ’žπŸ’ž


Stay safe n healthy πŸ€—πŸ˜˜πŸ’žπŸ’ž**


__ADS_2