Love On The Air

Love On The Air
Eps 62 Resepsi Pernikahan Rendra


__ADS_3

Di sebuah balkon kamar, tampak seorang lelaki sedang duduk di sebuah kursi malas menatap langit yang penuh bintang. Sesekali ia menghela panjang napasnya. Meredam gejolak dalam hatinya. Mencoba mengikhlaskan semua yang terjadi dalam hidupnya. Termasuk melepaskan dan merelakan cintanya.


Besok adalah hari pernikahannya. Ia sama sekali tidak mempedulikan kesibukan yang terjadi di rumahnya. Ia ingin sendiri.


Ia meraih ponsel yang diletakkannya di atas meja kecil di samping kursi. Menatap wallpaper di layar ponselnya. Ia tersenyum getir menatap wajah berlesung pipi di layar ponselnya.


Aku masih mencintaimu, Danisha. Maaf untuk semua yang terjadi. Maaf untuk semua yang telah kulakukan padamu. Aku bahagia bila kamu bahagia. Dan aku yakin kamu bahagia bersama Saka. Mungkin aku tak akan bisa berhenti mencintaimu, maafkan aku. Gumamnya lirih sedikit bergetar. Ia terisak tanpa suara.


Ya, lelaki itu adalah Rendra.


Tiba-tiba ponselnya bergetar, panggilan telepon masuk dari Aya. Ia berdecak kesal diikuti helaan napas kasar.


" Hallo, " ucapnya datar.


" Ren, kamu lagi ngapain ? "


" Ada apa ? "


" Ga ada apa-apa, sih. Cuma kangen sama kamu. Aku deg-degan, Ren. "


Rendra terdiam sembari memejamkan matanya.


" Rendra ? "


" Aya, lebih baik kamu istirahat. Aku juga mau istirahat, " ujar Rendra kemudian.


" Kamu kenapa sih, Ren. Besok kita resmi sebagai suami istri. Tapi sikap kamu.... "


" Apalagi ? Semua mau kalian udah aku ikuti. Udah, kan ? " Rendra mulai kesal.


" Bahkan kalian tidak pernah sekalipun menanyakan pendapat dan perasaanku. Sekarang, aku hanya tidak ingin diganggu. Jadi tolong hargai sekali ini permintaanku, " lanjut Rendra kesal, lalu mematikan sambungan teleponnya.


Ia mendengus dan mengusap kasar wajahnya. Kembali ia menatap wajah ayu di layar ponselnya. Sanggupkah aku melewati semua ini ? Sulit bagiku untuk melepaskan cinta ini. Maaf, jika aku masih mencintaimu. Ucapnya dalam hati.


********


Saka terpaku menatap Danisha yang berdiri di hadapannya. Gadis berlesung pipi yang sebentar lagi resmi menjadi pendamping hidupnya itu terlihat sangat cantik, anggun dan tentu saja luar biasa menawan. Dengan balutan gamis dan hijab soft blue serta clutch berwarna putih senada dengan sepatu heels nya, gadis itu terlihat sangat anggun dan mempesona siapa saja yang melihatnya.


" Hai ! Sayang ? Eh, kok melamun gitu ! " seru Danisha sembari menggoyang-goyangkan telapak tangannya di hadapan wajah kekasihnya.


Saka mengerjapkan matanya, baru tersadar ia terhipnotis penampilan sang kekasih yang luar biasa mempesona.


Tersenyum menatap lekat kekasihnya, ia berujar, " Kamu cantik banget, Bee. "


Danisha balas menatap lekat lelaki yang tampil dengan setelan jas berwarna abu-abu dengan kemeja hitam sebagai dalamannya. Senyuman dengan lesung pipi mengembang di wajah Danisha.


" Kamu juga sangat tampan, " pujinya pada sang kekasih hati.


" Iya, dong ! Calon suaminya siapa dulu ? " Saka mengedipkan sebelah matanya pada Danisha.


" Emang calon suami siapa, sih ? " Danisha mengerjapkan kedua matanya, membalas pertanyaan kekasihnya.


Seketika Saka menyentil gemas hidung mancung kekasihnya.


" Menggoda banget ! " bisiknya.


" Apa, sih ? Jadi berangkat ga, sih ? " tanya Danisha dengan senyum sumringah.


" Duh, yang mau ketemu mantan. Ga sabar banget keknya, " ujar Saka, ada nada tidak suka.


" Kok gitu, sih ? " sahut Danisha.


" Ya, gitu, kan ? " timpal Saka.


Danisha menghela napas panjang. Menatap Saka yang berdiri dengan raut tidak suka.


" Ga usah berangkat aja, ya, kalau gitu. Aku ganti baju dulu, " ucap Danisha kemudian. Saat akan melangkahkan kakinya, tangan kokoh Saka menahannya.


" Ayo berangkat, " ucap Saka sembari tersenyum.


Kembali Danisha menghela napasnya, menatap sang kekasih. Lalu ia tersenyum, sebelah tangannya mengusap lembut pipi kekasihnya.


" Aku ga apa-apa kalau kita ga jadi berangkat. Ga usah khawatir, " kata Danisha lembut.


" Kita berangkat. Ayo, keburu siang. Calon istriku udah tampil cantik begini, " ajak Saka dengan sedikit candaan.


Danisha terkekeh.


" Bener ? " tanyanya sekali lagi untuk meyakinkan.


Saka mengangguk dengan pasti dan dibalas dengan senyuman yang mengembang di wajah Danisha.


Setelah berpamitan pada Ayah dan Bunda, mereka pun berangkat menuju kota Malang, menghadiri resepsi pernikahan Mas Rendra dan Ayana.


*******


Kurang lebih satu setengah jam mereka menempuh perjalanan dari Surabaya menuju gedung tempat resepsi pernikahan Mas Rendra di kota Malang.


" Bee, aku mencintaimu dan aku ga mau kehilangan kamu, " ucap Saka sebelum turun dari mobil ketika mereka baru saja tiba di tempat acara yang mereka tuju. Tangannya menggenggam erat tangan Danisha, sementara raut wajahnya terlihat gelisah.

__ADS_1


Danisha mengerutkan dahinya, heran dengan sikap Saka, kekasih hatinya.


" Sayang, ada apa ? Kamu kenapa ? " tanya Danisha heran.


" Jangan tinggalkan aku ya, Bee, " pinta Saka lagi.


" Sayang, aku di sini. Ga akan kemana-mana. Kenapa sih, kok ngomongnya gitu ? " Danisha semakin heran dan ingin tahu alasan dari perkataan Saka.


" Ga apa-apa. Ayo, turun ! " ajak Saka kemudian.


Keduanya pun segera turun dari mobil dan berjalan memasuki gedung tempat acara resepsi dilaksanakan.


Sudah banyak tamu yang datang. Di pintu masuk, antrian para tamu undangan sudah mengular untuk mengisi buku tamu sebelum masuk ke dalam gedung.


" Bee, lain kali jangan terlalu cantik kalau berdandan, " bisik Saka pada Danisha.


Danisha terheran mendengar bisikan Saka.


" Banyak yang ngeliatin kamu, terutama yang laki-laki, " lanjutnya.


Danisha mencubit kecil pinggang Saka yang membuat laki-laki itu berjengit dan meringis merasakan cubitan kekasihnya.


" Mana ada, sih ! Kamu aja yang ngada-ngada. Jangan bersikap lebay, " sahut Danisha berbisik pula.


" Aku semakin takut masuk ke dalam sana, Bee, " ucap Saka lagi, masih berbisik.


" Apa sih, Sayang. Udah, ah ! " tukas Danisha, ia genggam tangan kekasihnya erat.


Saka tersenyum, ia mengeratkan tautan jemarinya dengan jemari kekasihnya.


Mereka terus berjalan maju mendekati para penerima tamu untuk mengisi buku tamu.


Setelah mengisi buku tamu dan diberi secarik kertas untuk mengambil souvenir dan secarik kertas lagi untuk photo booth, mereka pun masuk ke dalam gedung.


Mereka masih harus bersabar dengan antrian panjang menuju pelaminan untuk mengucapkan selamat pada kedua mempelai.


" Aku semakin takut, Bee, " bisik Saka lagi. Kali ini, ia merangkul pinggang Danisha. Terlihat sangat posesif.


" Apaan sih, Sayang. Please deh, jangan aneh-aneh ! " cetus Danisha ikut berbisik.


" Tuh, kan ! See ? Mas Rendra udah tau keberadaan kita, eh, keberadaan kamu. Dia ngeliatin kamu terus. Matanya ga lepas dari kamu. Aku ga suka, Bee, " katanya, nada suaranya benar-benar terdengar tidak suka dan posesif sekali.


Danisha memutar kedua matanya jengah.


Ia menatap ke arah pelaminan tempat kedua mempelai berada. Ayana, mempelai wanita itu terlihat sangat cantik dengan balutan kebaya modern. Lalu pandangannya beralih pada mempelai lelaki, Mas Rendra.


Pada saat yang sama, Mas Rendra juga menatapnya. Mereka beradu pandang. Mas Rendra menatap sendu pada mata bulat Danisha. Danisha sedikit kaget saat Saka tiba-tiba mengeratkan pelukan di pinggang rampingnya.


" Belum liat. Mereka datang ? " tanya balik Saka sembari mengedarkan pandangannya ke penjuru gedung.


" Kak Ella dan Bang Hendra yang pasti datang. Kalau yang lain aku ga tau, sih, " jawab Danisha. Sesekali matanya melihat ke atas pelaminan dan tanpa sengaja bertemu pandang dengan mata hitam Mas Rendra.


Tiba saatnya Danisha dan Saka naik ke atas pelaminan untuk memberi ucapan selamat pada kedua mempelai.


Mas Rendra tersenyum menatap Danisha yang diikuti Saka berjalan menghampirinya.


" Congratz, Mas. Semoga sakinah, mawadah, warahmah, " ucap Danisha pada Mas Rendra dengan menangkupkan kedua telapak tangannya.


" Danish, makasih atas kedatangannya. Maafkan, aku, " ucap Mas Rendra lirih, terdengar nada penyesalan.


Di sampingnya, Ayana tampak tak suka. Ia pun menyela obrolan mereka.


" Danisha, kamu menepati janji, ya. Terima kasih kedatangannya dan silahkan segera dicicipi hidangan dari kami. Akhirnya kami resmi sebagai suami istri, " kata Ayana menyela obrolan Danisha dan Mas Rendra. Ia bergelayut manja pada lengan sang suami.


Danisha tersenyum tipis.


" Selamat Mbak Ayana. Sakinah, mawadah, warahmah, ya, Mbak. Alhamdulillah, saya bisa menepati janji saya. Terima kasih, " ucap Danisha memberi selamat pada Ayana.


" Selamat, Mas Rendra. Semoga langgeng sampai maut memisahkan, " ucap Saka sembari bersalaman dengan Mas Rendra yang hanya bisa tersenyum tipis, terlihat dipaksakan.


" Ini siapa ? " tanya Ayana tiba-tiba. Matanya menatap Saka dengan tatapan ingin tahu.


" Oh ya, saya Saka, Mbak. Calon suami Danisha, " ucap Saka tegas. " Selamat, ya, " lanjutnya dengan senyum miring di bibirnya sambil menatap Ayana, lalu menggamit tangan Danisha dengan segera dan kembali memeluk pinggang kekasihnya dengan posesif berlalu dari tempat itu.


Mas Rendra menyaksikan semua itu dengan dada yang sesak. Hatinya sakit apalagi ketika Saka mengatakan bahwa dia adalah calon suami Danisha.


Aya melihat tatapan suaminya pada Danisha dan ia sangat tidak menyukainya.


" Danisha cepet juga dapat penggantimu. Terlihat seperti perempuan gampangan ! " ujarnya berbisik di telinga suaminya.


Ucapan Aya membuat hatinya semakin sakit dan ingin marah pada perempuan di sampingnya yang belum sehari sah menjadi istrinya. Namun, ia harus menahan emosinya. Tidak ingin membuat keributan di acara tersebut.


Saka memperhatikan sikap Danisha yang sesekali melihat ke arah pelaminan saat mereka menikmati makanan yang disuguhkan di acara itu. Sesekali ia juga mengalihkan pandangannya pada Mas Rendra yang masih sibuk menerima ucapan selamat dari para tamu undangan. Namun, sesekali lelaki itu terlihat menatap Danisha dengan tatapan penuh rindu.


Saka menghela napasnya dalam. Nafsu makannya tiba-tiba hilang. Piring yang masih berisi makanan itu ia letakkan di keranjang yang sengaja disediakan untuk tempat piring atau gelas kotor.


Danisha melihat itu.


" Bee, itu makanan belum habis kok piringnya udah ditaruh di situ ? " tanya Danisha, ia mengerutkan dahinya.

__ADS_1


" Udah kenyang ! " jawab Saka, lalu ia berjalan ke sebuah meja tempat air mineral tertata rapi di sana. Diambilnya segelas air mineral, lalu diminumnya hingga tandas tak bersisa. Suasana hatinya sedang tidak baik. Dilihatnya Danisha yang berdiri sekitar 10 langkah darinya. Kekasihnya sedang berbincang dengan seseorang yang dikenalnya, Kak Ella.


Beberapa saat ia masih berdiri di tempatnya, sembari terus memperhatikan kekasihnya yang berbincang dengan Kak Ella. Kemudian ia melangkah pergi mencari udara segar, suasana yang semakin ramai membuatnya tidak nyaman. Dadanya semakin sesak ketika mengingat Danisha yang berkali-kali kepergok mencuri pandang pada Mas Rendra.


" Saka ! Ngapain di sini ? Danisha mana ? "


" Hai, Bang ! Danisha di dalam, aku lihat tadi sama Kak Ella, " jawab Saka sedikit terkejut bertemu Bang Hendra yang sedang merokok di luar gedung.


" Ada apa ? " tanya Bang Hendra lagi, sepertinya tahu jika kekasih temannya itu sedang tidak baik-baik saja.


" Ga apa-apa, Bang ! Ramai banget di dalam, " sahutnya sambil memijat keningnya.


" Bukan karena cemburu ? " tebak Bang Hendra.


" Hah ? Ya bukan lah, Bang ! Bisa aja, Abang ini ! " Saka terkekeh menanggapi ucapan Bang Hendra.


" Jangan pernah ragukan Danisha, Ka. Jangan pernah meragukan hubungan kalian. Rendra sudah beristri, ga mungkin Danisha berpaling padanya lagi. Lagi pula, kalian sebentar lagi akan menikah juga, kan ? " tutur Bang Hendra menasehati.


" Danisha mencintai kamu. Dia ingin membuat kamu bahagia dan sangat tidak ingin mengecewakan kamu. Jangan merusak semua yang sudah kamu perjuangkan selama ini. Kamu mengerti, kan ? " imbuhnya lagi sembari menghisap rokoknya.


Saka tertegun mendengar penuturan Bang Hendra. Helaan panjang napasnya membuat Bang Hendra menoleh padanya sambil tersenyum tipis.


" Makasih Bang, untuk nasehatnya, " ucap Saka sembari menepuk bahu Bang Hendra.


" Ya ampun, kalian di sini rupanya. Ka, Danisha kebingungan nyariin kamu, tuh. Dia mengeluh pusing. Cepat sana ! Dia duduk di dekat panggung electone, " tiba-tiba Kak Ella muncul memberitahukan jika Danisha mencari dirinya.


Saka bergegas masuk, mencari Danisha di tempat yang ditunjukkan Kak Ella. Benar saja, ia melihat Danisha duduk sembari memijat kening dan pangkal hidungnya.


Saat Saka menghampiri Danisha, sang penyanyi di acara tersebut menyampaikan kepada para tamu undangan bahwa sang mempelai meminta dinyanyikan sebuah lagu. Tanpa banyak kata, musik pun terdengar dan sang penyanyi pun menyanyikan lagu dengan penuh penghayatan.


🎢🎢🎢


If there were no words


no way to speak


I would still hear you


If there were no tears


no way to feel inside


I'd still feel for you


and even if the sun refused to shine


even if romance ran out of rhyme


you would still have my heart


until the end of time


you're all I need, my love, my valentine


.......


🎢🎢🎢


" Bee ! Kamu ga apa-apa ? Maaf, udah ninggalin kamu, " ucap Saka cemas.


Danisha masih menunduk. Ia mendengarkan lagu yang saat ini dinyanyikan penyanyi itu. Ingatannya melayang pada saat itu. Ia terisak pelan. Kepalanya berdenyut, sakit.


" Bee ! " Saka bersimpuh di hadapan Danisha yang duduk.


" Maafkan aku, Bee. Maaf ! Mana yang sakit, Sayang ? Ok, kita pulang sekarang ! " racau Saka.


Ia memegang tangan dan bahu Danisha menuntunnya untuk berdiri dan segera meninggalkan tempat itu.


Bang Hendra dan Kak Ella juga menghampiri mereka. Kak Ella membantu membawakan clutch milik Danisha. Bang Hendra meminta kunci mobil Saka untuk membantunya membuka pintu mobilnya. Sementara Saka fokus pada Danisha.


Mas Rendra melihat kejadian itu. Melihat gadis yang dicintainya meninggalkan tempat acara resepsi pernikahannya saat lagu yang sengaja dimintanya khusus untuk Danisha masih terdengar. Ia ingin menghampirinya, tetapi itu tak mungkin. Masih ingatkah kamu dengan lagu ini, Danish ? bisiknya dalam hati.


Tbc




**Hellooww LOTA Lovers πŸ’žπŸ’ž


Saka posesif n jealous tuh ! Danisha tampil cantik sih yaa ☺️


Btw, Danisha nangis karena kepalanya sakit ato karena lagu Valentine itu sih πŸ€”


Mas Rendra masih cinta hohohoho.. gmn donk ya 🀧 Namanya perasaan ga bisa dipaksain juga sih, hati susah berpaling ya Mas apalagi udah cinta 🀭


Kek Author yg jg udah cinta sama kalian semua πŸ˜˜πŸ’ž


Thank you yg slalu setia ikuti kisah ini πŸ€—πŸ˜˜

__ADS_1


Stay safe n healthy πŸ€—πŸ˜˜πŸ’žπŸ’ž**


__ADS_2