
Dokter Aldi, Dokter Andra dan Dokter Ardhy masuk ke dalam kamar rawat Danisha setelah Saka menjawab salam mereka. Seorang perawat juga ada bersama ketiga dokter itu.
Saka berdiri di sisi ranjang. Ia melihat raut wajah Danisha yang berubah tegang. Perlahan ia memegang lembut bahu Danisha, mengusapnya perlahan, mencoba memberikan ketenangan pada gadis manisnya.
" Selamat malam, Nona Danisha. Kita bertemu lagi, sayangnya dengan kondisi yang sama dengan waktu itu, " Dokter Aldi berkata dengan helaan napas sedikit berat.
" Orang tua Nona dimana ? " tanya Dokter Andra.
" Ayah dan Bunda.... "
" Assalamualaikum.... " Ayah dan Bunda muncul dari balik pintu kamar.
" Waalaikumsalam.... " jawab semua orang yang ada di ruangan itu.
" Ayah, Dokter akan memeriksa kondisi Danish, " ujar Saka.
" Silahkan, Dok, " ucap Ayah.
Dokter Aldi pun mulai memeriksa Danisha. Teliti dan detil sekali.
Dokter Aldi tersenyum pada Danisha setelah memeriksa kondisi nya dengan detil.
" Nona.... "
" Panggil Danish saja, Dokter, " sahut Danisha meminta sang dokter untuk berhenti memanggilnya dengan embel-embel Nona.
Dokter Aldi tersenyum lebar, " Ok, Danish. Saatnya kita berbicara serius. "
" Bagaimana, siap melakukan tes pemeriksaan kelanjutan ? " tanya Dokter Aldi.
Tiba-tiba tangan Danisha menggenggam erat pergelangan tangan Saka. Seketika Saka terkejut dengan sikap Danisha yang mencengkeram erat pergelangan tangannya.
Saka berusaha tenang, mengusap lembut tangan gadis itu.
Dokter Aldi mengetahui hal itu. Beberapa pasiennya memang ada yang bereaksi demikian jika diminta untuk melakukan tes pemeriksaan kesehatan lanjutan.
" Danish, jika ingin lekas sehat, kamu harus segera melakukan tes pemeriksaan yang sebelumnya sudah kami sampaikan, " jelas Dokter Aldi.
Bunda mendekat pada Danisha, merengkuh tubuh putrinya.
" Baik, Dokter. Besok pagi bisa dilakukan pemeriksaannya, " kata Bunda kemudian.
" Baik, Bu. Kami akan menyiapkannya besok pagi. Kami akan jadwalkan jam 10 pagi, " kata Dokter Aldi diikuti dengan senyum simpulnya, merasa lega.
" Baik, Dokter ! " ucap Ayah kemudian.
" Jangan lupa obatnya diminum, Danish. Sampai ketemu besok, " ujar Dokter Aldi sekaligus berpamitan karena masih harus visit ke beberapa pasien lain.
Saka yang sedari tadi terdiam, mengikuti ketiga dokter itu keluar. Namun, sebelumnya ia berpamitan kepada Danisha dan kedua orang tua gadis itu.
" Bang Ardhy ! " seru Saka ketika sampai diluar kamar, menyusul langkah ketiga dokter tersebut.
Dokter Ardhy menoleh, demikian pula dengan kedua teman sejawatnya. Dokter Ardhy mengisyaratkan kepada kedua temannya untuk meninggalkannya.
" Eh, Ka. Ada apa ? " tanya Dokter Ardhy.
" Bisa bicara sebentar ? " tanya balik Saka.
" Soal Danisha ? "
" Iya, Bang. Abang ada waktu ? " tanya Saka lagi.
" Kita ke ruanganku saja ya, " ucap Dokter Ardhy.
Saka mengangguk. Kemudian ia mengikuti Dokter Ardhy menuju ke ruangannya di lantai satu rumah sakit tersebut.
Sesampainya di dalam ruangannya, Dokter Ardhy mempersilahkan Saka untuk duduk.
" Jadi, soal Danisha.... "
" Sebenarnya apa diagnosa sakit Danisha, Bang ? Pemeriksaan lanjutan seperti apa yang harus dijalani Danisha ? " cecar Saka pada sepupunya.
" Sebenarnya aku tak berhak menyampaikan ini. Tapi, aku sudah meminta ijin pada Dokter Aldi siang tadi untuk bisa menyampaikannya padamu. Karena siang tadi aku melihat Danisha sangat percaya sama kamu dan dia sepertinya sangat penurut sama kamu, " tutur Dokter Ardhy sembari tersenyum simpul.
Saka tersenyum tipis.
" Kalian mempunyai hubungan yang sangat spesial sepertinya, " lanjut Dokter Ardhy masih dengan senyuman simpulnya.
" Jadi gimana pertanyaanku tadi, Bang ? " Saka mengingatkan sepupunya akan pertanyaannya soal sakit Danisha.
" Santai dulu, Ka. Kita udah lama banget ga ngobrol. Jadi, Danisha pacar kamu ? " canda Dokter Ardhy.
" Ck, ayolah Bang. Aku lagi ga ingin basa-basi sekarang, " Saka berdecak dan mengalihkan pembicaraan.
Dokter Ardhy terkekeh.
" Kamu ga berubah ya. Masih kek dulu, malu-malu soal cewek. Ckckck.... " Dokter Ardhy geleng kepala seraya berdecak.
" Hilih ! apa bedanya dengan Abang, huh ? Sampai sekarang pun tak juga menikah, " cibir Saka dengan tawa lebarnya.
Dokter Ardhy pun ikut tertawa. Ya, usia Dokter Ardhy sudah hampir kepala tiga, tapi hingga saat ini ia masih juga jomblo alias sendiri.
" Baiklah ! Besok Dokter Aldi akan memeriksa Danisha menyeluruh untuk memastikan diagnosanya selama ini, " jelas Dokter Ardhy.
" Apa diagnosa Dokter Aldi, Bang ? " tanya Saka penasaran.
Dokter Ardhy menatap Saka lekat.
" Tumor otak, " jawab Dokter Ardhy singkat.
Saka terdiam, tubuhnya sedikit lemas. Punggungnya berangsur jatuh di sandaran kursi.
" Ya Allah ! " ucapnya, ia menangkup wajah dengan kedua telapak tangannya.
" Besok ia harus melakukan serangkaian tes. Mulai tes penglihatan, pendengaran dan CT scan serta MRI. Tadi sewaktu memeriksa Danisha, Dokter Aldi menyimpulkan jika penglihatan Danisha sedikit terganggu, " lanjut Dokter Ardhy.
" Terganggu gimana, Bang ? "
" Sedikit kabur, " jawab Dokter Ardhy.
" Benarkah ? Pantas dia kerap mengerjapkan matanya dan sesekali mengusapnya, " kata Saka mengingat sikap dan tingkah Danisha sewaktu bersamanya tadi.
Dokter Ardhy mengangguk. Kembali pandangannya tertuju pada sepupunya. Terlihat sekali jika sepupunya cemas. Wajahnya berubah sendu, ada kecemasan terlihat sangat jelas di wajahnya.
" Saka ! " seru Dokter Ardhy memanggil sepupunya yang sedang termenung.
" I... Iya, Bang ! ' sahut Saka gugup, suaranya sedikit bergetar.
" Kamu kenal Rendra ? " tanya Dokter Ardhy tiba-tiba.
Saka yang sedari tadi terdiam mematung, dengan spontan menganggukkan kepalanya.
" Dimana dia sekarang ? Waktu Danisha sakit beberapa waktu lalu, dia selalu mendampingi Danisha, sangat setia dan over protective. Sampai aku berpikir mereka sudah menikah, " kata Dokter Ardhy, menatap Saka ingin tahu reaksi sepupunya.
Saka hanya diam. Sesaat kemudian ia beranjak dari duduknya.
" Rendra kekasih Danisha, " Saka berkata dengan suara sedikit tercekat.
" Owh begitu... dan kamu mencintai Danisha ? "
Saka menarik salah satu sudut bibirnya.
__ADS_1
" Mencintai tidak harus memiliki, kan ? "
" Whoaah... boleh juga kamu, Ka. Tapi menarik lho ini. Kamu menjaga jodoh orang. By the way, Tante Dinda tau tentang ini ? "
" Orang rumah tau semuanya. Mereka sayang sama Danish, terutama Mama, " sahut Saka.
" Baiklah ! Aku permisi dulu, Bang. Thank you informasinya. Kapan Abang main ke rumah ? Kita main play station lagi. Terakhir kali sebelum Abang pergi bertugas ya dan Abang kalah, " Saka tertawa terbahak.
Dokter Ardhy mendengus kesal.
" Ok, tantangan diterima. Nanti aku hubungi kamu kalo mau ke rumah ya... Nomormu masih tetap dan belum berubah kan ? " sahut Dokter Ardhy dan bertanya tentang nomor ponselnya.
" Masih samalah, Bang. Aku tunggu ya ! Thank you ya, Bang ! " ucap Saka sambil berlalu pergi.
Dokter Ardhy menggelengkan kepala memandang Saka yang berlalu pergi meninggalkan ruangannya.
Kamu hebat, sepupuku. Hatimu seluas samudera, jiwamu kokoh dan tegar bagai langit. Kamu memang anak Tante Dinda dan Om Rahmat. Gumam Dokter Ardhy memuji Saka.
*******
Danisha merajuk karena Bunda dan Ayah mengambil keputusan sepihak mengenai tes pemeriksaan kelanjutan yang disarankan dokter.
" Bunda dan Ayah kok bisa ambil keputusan sepihak tanpa bertanya pada Danish ! Danish ga mau, Bun. Danish tidak sakit apa-apa. Hanya kecapekan. Kenapa ga ada yang ngerti sih ! " sungut Danisha, berbicara terisak.
" Danish, semua demi kebaikanmu. Kamu udah beberapa kali pingsan dan kita harus tahu tentang penyakit kamu sebelum semuanya terlambat. Baik Ayah maupun Bunda ga mau terjadi sesuatu sama kamu. Mengertilah, sayang, " jelas Bunda dengan suara bergetar hampir menangis.
Ayah mendekat pada Danisha, memeluk putri cantiknya.
" Maafkan Ayah dan Bunda, sayang. Bunda benar, ini untuk kebaikan kamu. Kami semua juga takut, tapi Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan hamba Nya. Semua akan baik-baik saja bila kita selalu berdoa dan berserah diri pada Nya. Kamu tidak sendiri, ada Ayah dan Bunda, juga ada Kirana yang selalu menemani kamu untuk berjuang, " tutur Ayah, memeluk dan mencium puncak kepala putrinya dengan penuh sayang.
" Aku juga akan selalu bersamamu, Danish. Distha dan Prasta juga, " celetuk Saka yang baru saja datang.
Kedua orang tua Danisha tersenyum pada Saka yang berjalan menghampiri ranjang Danisha.
" Tuh, Saka dan sahabat-sahabat kamu pasti juga akan menemani kamu. Iya kan, Ka ? " ujar Bunda meyakinkan Danisha.
" Mana mungkin kami meninggalkan Danisha, Bun. Tuan putri ini kan kesayangan kami, " kata Saka, ia mengedipkan sebelah matanya pada Danisha.
Danisha mencebikkan bibirnya.
" Eh ! Jeyeg nya... hahahaha.... " kelakar Saka.
" Dari mana sih ? " tanya Danisha.
" Jalan-jalan sebentar. Obatnya udah diminum ? " tanya Saka.
Danisha menggelengkan kepala.
" Kok belum ? Ini belum makan juga ? Gimana mau sehat sih, kalo ga mau makan dan minum obat, huh ? " Omel Saka, ia hela napasnya dalam.
" Bunda dan Ayah capek dari tadi membujuk dia untuk makan dan minum obat. Katanya nanti aja nunggu Saka, " ujar Bunda sambil memandang Saka, tersenyum tipis dan geleng kepala.
Saka pun tersenyum, meraih sepiring makanan di meja samping ranjang yang disediakan rumah sakit.
" Ayo kamu harus makan. Biar cepat sehat dan pulang ke rumah. Nih, makanannya udah dingin, " Saka menyendok makanan dan memberikannya pada Danisha.
Danisha tersenyum, membuka mulutnya dan menerima suapan yang diberikan Saka.
" Harus dihabiskan, " titah Saka.
Bunda dan Ayah menggelengkan kepala. Saka sangat sabar menghadapi Danisha. Sementara Danisha sangat penurut sama Saka. Mereka tersenyum melihat kedekatan putri mereka dengan Saka.
" Bunda mengabari Rendra ? " tanya Ayah setengah berbisik pada Bunda.
Bunda menggeleng, " Bunda belum mengabari Nak Rendra. Bunda bingung, Yah. Harus mengabari dia atau tidak, " jawab Bunda. Pandangannya tertuju pada putri dan sahabat laki-laki putrinya.
" Sebaiknya jangan kabari Rendra dulu. Benar kata Danisha, dia pasti sibuk dengan perusahaan keluarganya, " tutur Ayah.
Bunda mengangguk. Ada keresahan dalam hati Bunda. Namun, Bunda tak mau memperlihatkannya pada putri dan juga suaminya.
Bunda pun tersenyum dan mengangguk.
" Nah, selesai. Sekarang minum obatnya, " Saka memberikan obat yang diberikan Dokter Aldi dan segelas air putih yang sudah ia tuang sebelumnya dari botol air mineral.
Danisha pun meminum obatnya.
" Makasih, Ka, " ucap Danisha.
Saka tersenyum menatap Danisha. Setiap kali menatap gadis di hadapannya, sulit sekali mengendalikan perasaannya. Rasa sayang dan cintanya semakin bertambah. Ia tahu ini salah. Tak seharusnya ia memupuk semakin dalam perasaannya pada Danisha. Namun ia tak berdaya, ia tak sanggup mengendalikan perasaannya. Semakin ia berusaha menghindar dan membunuh perasaannya, semakin bertambah dalam pula perasaan sayang dan cintanya pada gadis berlesung pipi ini.
" Kamu mau pulang ? " tanya Danisha pada Saka, membuat Saka tersadar dengan diamnya.
Saka menggeleng, " Aku akan menemani kamu di sini. "
" Udah ijin Tante Dinda ? "
" Udah, dong. Mama tau kok, kalo malam ini aku di sini. Udah, bobo ya... biar besok pagi badan kamu segar untuk jalani tes. Ga usah takut, aku akan menemani kamu besok. Ok, sweet girl ? " Saka membetulkan selimut Danisha.
Danisha pun beringsut membaringkan tubuhnya.
Bunda menghampiri putrinya. Menata bantal untuk putrinya tidur. Lalu tersenyum mengusap perlahan kepala putrinya.
" Kedinginan ? " tanya Saka
" Sedikit, " jawab Danisha singkat.
" Aku naikkan suhu nya dikit ya ? "
Danisha mengangguk.
Saka pun mengambil remote AC di meja dan menaikkan suhu AC dua angka.
" Cukup ? " tanya Saka lagi.
Danisha mengangguk. Pandangannya beralih ke sang Bunda.
" Bunda kok ga istirahat ? Tidur sama Danish di sini ya, Bun, " pinta Danisha.
" Tidurlah. Ayah tadi membawa kasur lipat. Kamu ga usah khawatir, " sahut Bunda.
Saka tersenyum melihat Danisha dan Bunda. Kemudian ia beranjak dari duduknya, tapi tangannya ditahan oleh Danisha. Ia menoleh ke arah Danisha dengan seulas senyum di bibirnya.
" Ada apa ? " tanya Saka, senyuman manis ia berikan pada Danisha. Ia mengurungkan niatnya untuk beranjak dari sisi ranjang gadis kesayangannya.
" Please, di sini aja. Jangan pergi, " pinta Danisha.
" Danish, Saka juga butuh istirahat, " cetus Bunda.
" Ga apa-apa, Bun. Saka belum ngantuk juga, " sahut Saka. Ia kembali duduk di kursinya di sisi ranjang.
" Bunda dan Ayah ga istirahat ? Biar Saka jaga Danish di sini, Bunda dan Ayah silahkan istirahat, " kata Saka.
" Iya, Bunda dan Ayah ke musholla dulu ya, belum sholat Isya tadi, " ucap Bunda.
Saka dan Danisha pun mengangguk.
Bunda dan Ayah pun pergi meninggalkan kamar Danisha untuk sholat Isya di musholla rumah sakit.
Saka memandang Danisha yang terbaring di hadapannya. Tangan gadis itu menggenggam tangannya. Hati Saka menghangat. Perlahan sebelah tangannya mengusap punggung tangan Danisha yang menggenggam sebelah tangannya yang lain.
" Udah, bobo ya. Masih sakit kepalanya ? "
__ADS_1
Danisha mengangguk. Pandangan matanya masih kabur. Nyeri kepalanya masih terasa. Ia merasa tenang Saka menemaninya. Ia pun mencoba memejamkan matanya.
Saka kembali menatap wajah pucat Danisha. Aku akan lakukan apapun untuk kamu. Untuk kebahagiaanmu. Tak peduli bagaimana perasaanmu padaku. Tak peduli jika buatmu aku bukan bahagiamu. Aku akan menjagamu. Aku mencintaimu tanpa syarat dan alasan, Danish. Saka bermonolog dalam hatinya. Sedetik kemudian, ia mencium punggung tangan Danisha cukup lama.
*******
Di tempat lain, tepatnya di kota Malang.
Rendra sedang berada di cafe nya, bersama Aya. Gadis berambut panjang itu sedang menikmati makan malam bersama Rendra. Ya, mau tidak mau Rendra membiarkan Aya menemaninya mengunjungi cafenya atas permintaan ibunya.
" Ren, besok temani aku ke butik langganan Ibu ya. Aku mau cari gaun buat acara resepsi pernikahan Yudha, " kata Aya di sela-sela makan malam mereka.
" Yudha ? Yudha sepupu kamu di Surabaya ? " tanya Rendra.
Aya mengangguk lalu menyesap minumannya.
" Bulan depan dia menikah. Lusa aku ke Surabaya, acara lamarannya, " ujar Aya.
Berbicara Surabaya, Rendra teringat Danisha. Sudah satu minggu ia tidak pernah menghubungi gadis itu karena kesibukannya. Danisha pun tidak pernah menghubunginya juga. Siang tadi ia sudah mencoba menghubungi kekasihnya itu, tapi ponselnya tidak aktif.
" Ren, Rendra ! " panggil Saya pada laki-laki maskulin di hadapannya.
" Eh iya ! " Rendra tergagap sesaat, lalu tersenyum pada Aya.
" Gimana kerjaan di kantor Bapak ? Lancar kan ? " tanya Aya serius.
" Ya begitulah. Harus ekstra kerja keras. Besok jam berapa mau ke butik ? Aku harus sesuaikan schedule ku, " ujar Rendra tegas.
" Kamu senggang jam berapa ? Aku ikut schedule kamu aja, " jawab Aya.
" Sore jam 3 gitu, gimana ? "
" Baiklah, " jawab Aya tersenyum.
Setelah makan malam, Rendra meminta Aya untuk menunggunya. Ia akan check laporan keuangan dan segala sesuatunya bersama karyawannya.
Setelah hampir satu jam menunggu, akhirnya Rendra pun selesai dengan urusannya. Ia kembali menghampiri Aya yang saat ini sedang bermain dengan ponselnya.
" Sorry udah menunggu lama. Gimana, langsung pulang ? " tanya Rendra.
" Terserah kamu, Ren. Aku ikut aja, " jawab Aya.
" Baiklah, kita pulang aja, " akhirnya Rendra memutuskan untuk pulang.
Dalam perjalanan pulang, keduanya tak banyak berbicara. Hanya suara musik yang samar terdengar dalam mobil Rendra. Aya memperhatikan Rendra yang sedang fokus mengemudi.
" Jadi, kamu udah melepas pekerjaanmu di radio itu ? " tanya Aya memecah keheningan bicara keduanya.
" Belum sepenuhnya aku lepas, " jawab Rendra.
" Maksudnya ? Kamu masih tercatat sebagai pegawai di situ, begitu ? " tanya Aya penasaran.
" Begitulah. Boss ku memberikan kelonggaran padaku untuk tetap bekerja, menyesuaikan aja. Sebenarnya aku merasa tidak enak dengannya. Tapi dia ga bolehin aku pergi dari perusahaan radionya, " jelas Rendra.
Aya mengangguk-angguk mendengar jawaban Rendra.
" Danisha ? "
Rendra menautkan kedua alisnya dan memalingkan wajahnya menatap Aya dengan heran.
" Kamu tau Danisha dari mana ? " tanya Rendra.
" Dari Nay. "
" Nay ? Nay cerita apa ke kamu ? " cecar Rendra.
" Hey ! Tenang, Ren. Nay ga cerita apa-apa kok. Aku ga sengaja dengar Nay berbicara di telepon. Dia menyebut nama Danisha dan juga kamu. Lalu aku bertanya padanya, siapa Danisha. Dia hanya bilang Danisha teman kamu di radio itu, " jawab Aya tenang.
Rendra terdiam. Pikirannya melayang mengingat Danisha. Siang tadi ia menghubungi gadis yang dicintainya itu, tapi ponselnya sedang tidak aktif. Rendra menghela napasnya dalam, aku merindumu, batinnya.
******
Danisha mengerang lirih, tangannya mencengkeram kuat tangan Saka yang digenggamnya.
Saka tersentak merasakan cengkeraman tangan Danisha yang cukup kuat. Ia yang ketiduran pun terbangun.
" Danish ! Hey, sweet girl ! Kenapa ? " Saka sedikit cemas.
Dilihatnya wajah Danisha seperti menahan rasa sakit.
Erangan lirih keluar dari bibir Danisha.
" Tolong Ka, perutku mual sekali. Aku mau muntah, " lirih Danisha berkata-kata dengan memicingkan kedua matanya.
Saka kebingungan. Dilihatnya Bunda dan Ayah tertidur di kasur lipat yang digelar di lantai.
Saka meraih tas plastik bekas bungkus roti yang ada di meja. Lalu dibuka dan dilebarkannya tas plastik itu, ia sodorkan di dekat wajah Danisha yang sudah berganti posisi duduk.
Saka memijat-mijat tengkuk Danisha dan tak berapa lama, Danisha memuntahkan isi perutnya ke dalam tas plastik. Danisha meringis merasakan pahit di mulutnya. Saka membersihkan mulut Danisha dengan tissue. Danisha terengah memegangi perutnya.
" Udah ? " tanya Saka.
Danisha mengangguk.
Saka membereskan tas plastik berisi muntahan Danisha dan membuangnya di tempat sampah yang ada di dalam kamar mandi.
Lalu ia menata bantal dan sedikit menaikkan kepala ranjang supaya agak lebih tinggi untuk Danisha bersandar.
" Ini minum dulu, " Saka memberikan segelas air putih pada Danisha yang langsung diminum oleh Danisha.
" Makasih, Ka. "
" Mana yang sakit ? " tanya Saka.
Danisha menatap Saka lekat.
" Maafkan aku ya, Ka, " ucap Danisha dengan mata berkaca-kaca.
" Hey, ada apa ? Kenapa minta maaf, ga ada yang perlu dimaafkan. Mana yang sakit, hem ? "
Danisha terus menatap lekat Saka. Keduanya tanpa sadar saling bersitatap, lekat. Tangan Saka menyentuh pipi Danisha.
" Katakan mana yang sakit ? " tanya Saka lembut.
" Ka, maukah kamu menjadi mataku jika suatu saat aku tak bisa melihat ? " tanya Danisha lirih.
Saka tersentak mendengar pertanyaan Danisha. Ditatapnya wajah pucat gadis yang membuatnya jatuh cinta sejatuh-jatuhnya. Hatinya perih.
" Maukah kamu menjadi telingaku saat aku tak bisa mendengar ? "
Pertanyaan Danisha berikutnya membuat hatinya semakin perih. Dadanya sesak. Seketika ia merengkuh bahu Danisha, dipeluknya gadis itu penuh sayang. Ia tak sanggup berkata-kata, tak sanggup menatap manik indah gadis itu.
Tbc
***Hellowww LOTA Lovers ππ
Author coba up story as soon as possible untuk kalian semua π€ semoga suka dan puas membacanya ( ga terasa tangan mengetik sampai 2K lebih π€ )
Jan lupa absen jempolnya ya... komennya juga slalu ditunggu, Alhamdulillah bila ada yg vote n kasih tipsπ€
__ADS_1
Banyak terima kasih, cinta dan sayang untuk LOTA Lovers π€πππ
Tetap jaga kesehatan yaa.. ππ***